“Art Exhibition: Well Done” Tampilkan 3 Perempuan Pelukis Beda Gaya

 “Art Exhibition: Well Done” Tampilkan 3 Perempuan Pelukis Beda Gaya

Watie Respati, Judul; Menembus batas cahaya. 2022, 1,5 m x 2 m.

JAYAKARTA NEWS – Tiga perempuan pelukis menggelar karya lukis terbaiknya di galeri IndieArt House, Tirto Nirmolo Kasihan, Bantul, DI Yogyakarta. Karya-karya mereka akan dihadirkan pada 26 Februari sampai 9 Maret 2022.

Ada15 lukisan yang dipamerkan yang masing-masing memiliki gaya dan konsep yang berbeda. Lukisan-lukisan itu karya Erica Hestu Wahyuni, Watie Respati, dan Lully Tutus. Kegiatan Art Exhibition tersebut bertajuk “Well Done”.

Ada hal menarik dari tampilnya trio perempuan pelukis Jogja itu. Mereka mendapat apresiasi dari kurator senirupa nasional, Mikke Susanto. Dosen senior Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta ini menilai bahwa mereka orang-orang “berharga”.

“Erica multifokus, Watie multiefek, Lully multidimensi,” ujar Mikke dalam buku katalog Art Exhibition: Well Done.

Menurut Mikke bahwa Erica, Watie, dan Lully Tutus. Ketiganya memiliki gaya lukisan yang berbeda. Selain itu, memiliki konsep melukis yang jelas tidak memungkinkan masuk ke dalam wadah yang sama. Ketiganya memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda. Jika tak salah duga, mereka bertiga tentu mengerami masalah dan gaya hidup yang berbeda-beda pula.

Dalam pandangan Mikke, gaya lukisan Erica dekoratif naïve yang memiliki pengertian bahwa unsur visual yang dibangun merupakan bagian dari upaya untuk menghias ruang secara dominan. Dalam lukisannya tidak menampakkan adanya volume objek dan perspektif. Semua objek dilukiskan secara datar dan tampil sebagai titik fokus.

“Lebih tepatnya multifokus. Artinya Erica sering membagi kanvasnya dalam kotak-kotak bernarasi. Secara khusus pula pikiran Erica memakai cara pandang atau pendekatan visualisasi anak-anak. Kanvas diperlakukan olehnya sebagai ‘taman bermain’. Pada sisi lain, Erica sangat bersemangat melukis untuk meniadakan ruang kosong,” ujarnya.

Watie Respati lain lagi. Ia lebih menekankan gaya Abstraksi (meskipun sesekali gaya realistiknya terkadang mengedepan). Istilah Abstraksi sesungguhnya masih membingungkan, dan sering digunakan secara salah kaprah. Secara ketat ‘abstraksi’ adalah upaya menyederhanakan sebuah objek dan masih berkenaan dengan unsur dasar objek.

Watie Respati, Judul: Sunyi yang terberkati. 2022, 90 x 100 cm

Banyak karya-karya seni non-Barat disebut abstrak, sebagai sebuah bentuk representasi tubuh manusia dan binatang. Kalau dilihat lebih jauh, gaya Abstraksi memiliki beberapa arti: proses atau perbuatan memisahkan detil objek melalui warna, garis dan tekstur, dan metode untuk mendapatkan pengertian melalui penyaringan terhadap gejala atau peristiwa. Dalam seni rupa, proses ini kerap menjadi jalan untuk menangkap secara sederhana dari sebuah objek/ peristiwa/gejala.

“Demikianlah lebih kurang menjelaskan lukisan-lukisan Watie yang kaya warna, kaya goresan dan tentu menjadi kaya akan eksplorasi makna,” tambah Mikke.

Sedang karya Lully Tutus, menurut Mikke, lukisan-lukisannya bergaya dekoratif naïve. Dekat dengan gaya Erica. Yang membedakan adalah cara ia membentuk world view. Pikiran Lully tetap memandang dunia kebanyakan dengan pikiran manusia dewasa. Karya lukisannya jelas meniadalan volume objek, namun masih memiliki perspektif. Gambaran objek hidup seperti manusia dan hewan dikerjakan secara anatomis. Seolah-olah dunia yang dihadapinya terdiri dari aneka fantasi visual. Objek-objek yang dilukis tak berhenti hanya yang tampak.

“Lully mampu menggabungkan realitas (anatomis) dengan realitas (non-inderawi) secara koheren melalui gaya dekoratifnya. Sepertinya Lully mewartakan di balik realitas terekam kehidupan non-real yang kaya warna, sekaligus kaya dimensi. Saya senang menyebut karya Lully memiliki kekayaan dimensi dan fantasi. Sebut saja paling pas multidimensi,” ujar Mikke.

Dari ketiga gaya yang ditampilkan ini, lanjut Mikke, dapat dimaknai kehadiran mereka tidak semata-mata ingin memberitakan world view atau gaya pribadi yang digeluti. Jauh lebih dari itu, perbedaan gaya menyiratkan eksistensi mengenai proses pengambilan atau eksekusi gaya. Para perempuan ini tidak malu, bahkan percaya diri untuk berbeda. Mereka tahu risiko atas pilihan gaya. Mereka paham bahwa melukis bukan sekadar menorehkan keberanian, tetapi juga menorehkan konsistensi, setidaknya tentang gaya yang dipilihnya. (*/pr)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.