Kabar
Antara Ilmu dan Ngelmu
Gde Mahesa
“Ngelmu iku kelakone kanti laku ” yang berarti bahwa ilmu itu diperoleh melewati proses.
Pitutur tersebut ada dalam Serat Wulangreh karya Sri Susuhunan Pakubuwono IV, Raja Surakarta.
Jika ditelisik secara etimologi, konsep ngelmu nampak mirip dengan kata ‘ilmu’ yang bermakna pengetahuan. Namun, dalam istilah Jawa, ngelmu lebih merujuk pada bentuk spiritual dari ilmu yang tidak hanya intelektual, tetapi juga intuitif.
Antara ilmu dan ngelmu terdapat perbedaan yang sangat mendasar. Ilmu merupakan pengetahuan yang sistematis, disusun berdasarkan metode tertentu. Sedangkan ngelmu hanya dapat diketahui berdasarkan ketajaman batin serta penghayatan pribadi, bukan dengan aktivititas otak atau pikiran.
Dalam masyarakat Jawa ilmu dibagi menjadi tiga yaitu ilmu katon, ilmu karang, dan ilmu klenik.
Ilmu katon adalah pengetahuan yang bisa langsung kita dapatkan dari kemampuan inderawi. Seperti ilmu bercocok tanam, membuat bangunan, dan kegiatan kecil sehari-hari yang kita dapatkan bisa dari melihat. Selain itu ilmu-ilmu yang berbentuk tulisan yang kita dapatkan di lembaga-lembaga pendidikan juga termsuk dalam ilmu katon.
Sedangkan ilmu karang tergolong ilmu yang sudah mengerahkan kekuatan ketajaman batin untuk membaca segala sesuatu di alam termasuk tanda-tandanya atau kadang kita kenal dengan “titen”. Ilmu yg tidak tertulis tetapi tergantung bagaimana pencapaian seseorang yang terkadang dikatakan ngarang-ngaranh dari sebuah pertanda seperti pergantian musim bahkan peristiwa alam yang akan segera terjadi.
Dalam ilmu karang ada ajaran yang tidak selayaknya digunakan seperti telik, tenung, santet, gendam, dan lain sebagainya.
Sering terjadi hal yang salah kaprah bahwa ilmu-ilmu hitam itu masuk dalam tataran klenik. Sejatinya ilmu klenik merupakan ilmu yang tinggi. Klenik sendiri berarti sesuatu yang sangat tersembunyi atau dalam istilah lain bisa dikatakan ghaib, yang mana kadang kita sering terjebak dalam pemahaman makhluk ghaib sejenis jin, setan, serta para sahabat dan kroninya.
Dalam tradisi “mistisisme” Jawa terdapat banyak ajaran ngelmu yang cukup variatif. Ajarannya ada dalam tradisi kanuragan, mantra, dan sebagainya. Pada dasarnya ekspresi ngelmu kental akan nuansa magis dan laku spiritual. Menariknya hal tersebut hanya bisa dipelajari oleh orang yang memilki dimensi spiritual. Pada intinya ngelmu berkaitan dengan ajaran mistisisme Jawa yang diperoleh dengan penuh penghayatan batin.
Ngelmu lebih dari sekadar pengetahuan. Ia melibatkan proses batin, laku (perbuatan), dan pengalaman spiritual untuk mencapai pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan, juga menekankan pentingnya kebijaksanaan dan integritas dalam mengamalkan pengetahuan tersebut, ngelmu adalah proses panjang dalam mencari dan menginternalisasi pengetahuan, yang melibatkan laku, olah batin, dan spiritualitas untuk mencapai pemahaman yang lebih utuh dan bijaksana.
Karena panjangnya proses, jadi tak perlu buru-buru dalam menangkap, sruputtt kopi pahitnya dulu…. bullll bullll klepussss
