Connect with us

Kolom

Air, Manusia, dan Takdir Peradaban

Published

on

Oleh Brigjen Purn MJP Hutagaol

Pada 20 Oktober 2025, di hadapan Kabinet Merah Putih, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pesan mendasar:

> “Air adalah sumber kehidupan bangsa. Tanpa air yang bersih dan cukup, tidak ada ketahanan pangan, tidak ada kesehatan, dan tidak ada masa depan.”

Kalimat sederhana ini bukan sekadar arah kebijakan, tetapi pesan peradaban.

Manusia lahir dari setetes air, hidup karena air, dan sering kali diuji bahkan dihukum oleh air yang tak dijaga.

Dalam sejarah, air bah Nabi Nuh menjadi penyuci bumi, sementara tsunami Aceh mengingatkan manusia bahwa alam bukan musuh, melainkan pengingat agar manusia tak melampaui batas. Kini air yang sama kita bendungi, perdagangkan, dan kotori — seolah air hanyalah komoditas, bukan anugerah.

Filosofi para Mpu Nusantara menegaskan hakikat air sebagai lambang rasa dan keseimbangan.

Mpu Tantular mengingatkan lewat “Bhinneka Tunggal Ika” — air dari sungai-sungai berbeda tetap menyatu di muara.

Mpu Kuturan mengajarkan Tri Hita Karana — harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.

Mpu Prapanca menggambarkan pemimpin adil sebagai air yang mengalir jernih, memberi kehidupan tanpa pilih kasih.

Air, bagi mereka, adalah simbol kebijaksanaan dan keadilan.

Lihatlah suku Mohana di Pakistan dan suku Bajo di Indonesia.

Keduanya hidup sederhana, namun menyimpan kebijaksanaan besar:

> “Air bukan milik manusia; manusia hanyalah tamu di atasnya.”

Mereka memahami pasang surut, arus, dan kehidupan laut bukan dari teori, melainkan dari pengalaman turun-temurun yang membentuk kearifan ekologis.

Mereka tahu kapan laut beristirahat, kapan ikan bertelur, dan kapan manusia harus menahan diri.

Air bagi mereka adalah guru yang sabar — mengajarkan keseimbangan, kesabaran, dan kejujuran. Mereka tidak membangun tembok melawan alam, tapi membangun jiwa yang seirama dengan alam.

Kini, di zaman modern, air bukan sekadar sumber kehidupan, tapi juga sumber kekayaan.

Sebotol air bermerek lebih mahal dari satu liter bahan bakar. Sebagian besar berasal dari air tanah hasil sumur bor — dari sumber alam yang seharusnya dijaga.

Industri air bisa menghidupi, tapi juga menghancurkan, bila tak disertai etika dan keseimbangan.

Presiden Prabowo benar: air adalah kedaulatan masa depan.

Barangsiapa menguasai air, ia menguasai pangan, energi, dan keberlanjutan bangsa.

***

PESAN DAN PELAJARAN UNTUK KITA SEMUA

Air adalah sumber kehidupan yang tak tergantikan.

Sawah yang menghijau, ladang yang subur, ikan yang berenang di sungai — semuanya bergantung pada air yang bersih dan cukup.

Namun kita sering lupa:

setiap sampah yang dibuang ke sungai, setiap limbah yang tak diolah, adalah pengkhianatan kecil terhadap kehidupan itu sendiri.

Suku Mohana dan Bajo tidak kaya harta, tapi kaya kesadaran.

Mereka hidup dengan prinsip sederhana namun dalam:

> “Kalau air dijaga, hidup akan menjaga kita.”

Mereka tidak menimbun, tidak mengeksploitasi, tapi bersyukur atas setiap tetes kehidupan.

Maka pesan untuk kita semua:

Jaga air, jaga kehidupan.

Jangan cemari sungai dan mata air.

Hargai setiap tetes air, karena di situlah masa depan anak cucu kita mengalir.

Air mengajarkan kita untuk lembut tanpa lemah, mengalir tanpa kehilangan arah, dan menyegarkan tanpa membeda-bedakan.

Barangsiapa menjaga air, ia sedang menjaga bangsanya.

Barangsiapa merusak air, ia sedang mengeringkan jiwanya sendiri.

Begitulah pelajaran dari suku Mohana, dari Bajo, dan dari nurani kita sendiri.

Air adalah guru yang diam — tapi selalu bicara pada mereka yang mau mendengar. (*)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement