“Bambang Ekalaya” Malam ini Memotong Ibu Jarinya

Menjejak usia yang ke-54 tahun, Teater Alam Yogyakarta kembali naik panggung. Hari ini, Rabu 5 Agustus 2026 pukul 19.30 bertempat di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), kelompok teater yang didirikan Azwar AN (1937 – 2021) itu mementaskan karya anggotanya sendiri, Agus Leyloor yang berjudul “Bambang Ekalaya”.

Naskah aslinya berjudul “Si Bambang Ekalaya”. Leyloor, sapaan akrab Agus Prasetiya ini, menulisnya tahun 2006 untuk keperluan ujian akhir Program Pascasarjana di ISI Yogyakarta.

“Jadi, naskah Bambang Ekalaya itu berbasis riset. Pilihan lakon ini, menurut saya kontekstual dengan gonjang-ganjing ijazah palsu Jokowi,” ujar Leyloor, dalam obrolan santai di halaman Grya Abhipraya, Yogyakarta baru-baru ini.

Meski berlatar belakang cerita pewayangan, tetapi Leyloor menarasikannya dalam bahasa keseharian, bahkan cenderung jenaka. Benar-benar tipikal penulisnya yang terkenal ‘ndagel’.

Agus “Leyloor” Prasetiya

Di tempat terpisah, sutradara Meritz Hindra menuturkan ihwal ketertarikannya memainkan Bambang Ekalaya guna merayakan 54 tahun Teater Alam. “Bisa dibilang ini karya sendiri, karena Agus Leyloor adalah anggota Teater Alam, sekalipun kemudian mendirikan kelompok sendiri dan aktif mengajar di jurusan teater ISI Yogyakarta,” tuturnya.

Ia antusias menyutradarai lakon ini, dan mendedikasikannya untuk almarhum Azwar AN. Meritz lalu mengilas balik pertautannya dengan Azwar AN.

“Bermula tahun 1972. Ketika itu saya masih di Asdrafi, mendapat kabar bahwa Azwar AN salah seorang dedengkot Bengkel Teater baru saja keluar dari grup teater yang didirikannya bersama W.S. Rendra, dan akan mendirikan grup teater sendiri,” kenangnya.

Meritz dan kawan-kawan Asdrafi, antara lain Yoyok Aryo dan Ganti Winarno, akhirnya datang ke Jl. Sawojajar nomor 25, ke rumah yang ditempati Azwar AN. Benar, sampai di rumah Azwar AN mereka disambut dengan baik, dan langsung ditawari ajakan membuat grup teater. Tanpa berpikir panjang mereka sepakat dan berkomitmen.

Tepat tanggal 5 Januari 1972 Teater Alam berdiri. Pendirinya tujuh orang yang sebagian besar dari Asdrafi. Mereka adalah Azwar AN, Yoyok Aryo, Hendra Cipta, Abdul Kadir, Ramidi Rogojampi, Ganti Winarno, dan Meritz Hindra. Satu-dua minggu setelah didirikan bergabunglah sejumlah nama lain, seperti Bambang Darto, Kunthil, Saif Bakham, Nanok Haryono, Kuswadi, Wahyu dan lain-lain.

Meritz Hindra

Refleksi Moral

Kembali ke konteks pementasan Bambang Ekalaya. Sepakat dengan Agus Leyloor sang penulis naskah, Meritz juga menganggap lakon ini ada relevansinya dengan situasi negeri ini. “Tapi saya menggarapnya tidak terlalu ‘wayang banget’, meski tetap berbau wayang,” tuturnya.

Relevansi cerita, tidak melulu menggaris-bawahi ihwal ijazah atau formalitas dunia pendidikan. Meritz justru mengagungkan sikap pemuliaan guru oleh Ekalaya. Dalam tradisi Islam –dan agama lain—guru diposisikan sebagai orang tua kedua yang membimbing akal dan jiwa, sehingga adab terhadap guru ditempatkan sangat tinggi.

Meritz menyitir sejarah Jepang. Pasca kekalahan Jepang dari Sekutu 14 Agustus 1945, negara itu dalam kondisi luluh lantak, setelah Hiroshima dan Nagasaki dibom atom. Hal pertama yang dilakukan Kaisar Hirohito adalah mengumpulkan para jenderalnya.

Alih-alih menanyakan jumlah sisa tentara atau senjata, ia justru bertanya, “Berapa jumlah guru yang tersisa?” Peristiwa ini menandai titik balik penting di mana Jepang menempatkan pendidikan dan guru sebagai fondasi utama kebangkitan bangsa dari reruntuhan perang.

Sekilas Cerita Ekalaya

Kisah Bambang Ekalaya (yang dalam pewayangan Jawa sering juga disamakan dengan tokoh Palgunadi dari kerajaan Paranggelung) adalah salah satu cerita yang paling mengharukan sekaligus tragis dalam wiracarita Mahabharata.

Ekalaya adalah seorang pangeran dari kaum Nishada (kaum pemburu atau masyarakat pinggiran) yang memiliki tekad luar biasa untuk menguasai ilmu memanah (dhanurveda). Ia bercita-cita menjadi murid Resi Drona (Dronacharya), guru perang para kesatria Pandawa dan Kurawa atau trah Bharata.

Namun, karena latar belakang sosialnya, Resi Drona (biasa juga disebut Resi Durna) menolak menerima Ekalaya sebagai murid secara langsung demi menjaga status sosial dan eksklusivitas para pangeran istana. Meskipun ditolak, Ekalaya tidak putus asa.

Ia pulang ke hutan, membuat sebuah patung tanah liat yang menyerupai Resi Drona, dan menganggap patung itu sebagai gurunya. Berkat ketekunan, disiplin, dan rasa hormat yang tinggi, Ekalaya berlatih seorang diri di depan patung tersebut hingga akhirnya menjadi pemanah ulung yang kesaktiannya setara—bahkan dalam beberapa versi disaingi—dengan Arjuna, murid kesayangan Drona.

Suatu hari, ketika Resi Drona dan para Pandawa sedang berburu di hutan, anjing pemburu milik Arjuna tersesat dan menggonggong kepada Ekalaya. Ekalaya, yang sedang berkonsentrasi penuh, melepaskan anak panah tanpa melihat sasaran dan berhasil membungkam gonggongan anjing tersebut dengan rentetan anak panah yang menutupi mulut si anjing tanpa melukainya sedikit pun.

Arjuna terkejut melihat kehebatan pemanah misterius itu dan merasa khawatir posisinya sebagai pemanah terbaik di dunia akan tergeser. Resi Drona pun mendatangi Ekalaya dan terkejut mengetahui bahwa Ekalaya mencapai tingkat keahlian itu hanya dengan “berguru” pada patungnya.

Mengingat janjinya kepada Arjuna bahwa tidak boleh ada pemanah lain yang melebihi kehebatan Arjuna, Drona meminta tanda guru (daksuhina) berupa ibu jari (jempol) tangan kanan Ekalaya. Tanpa ragu-ragu dan diliputi rasa hormat yang mutlak kepada sang guru, Ekalaya memotong sendiri ibu jari kanannya dan mempersembahkannya kepada Drona. Akibatnya, kemampuan memanahnya menurun drastis.

KRU dan MANAJEMEN

Stage Manager: Dinar Saka

Pemeran: Dr Drs Hajar Pamadi, MA, Anastasia, Nano Asmorodono, Nobi Pristianti  Dewi, Oka Swastika Mahendra, Sutra Fidana, Jamil AN, Eko Pamulihono, Wiji Jhoe, Anto Azis, Junior FLK.

Penari: Isti M, Kristina R, Retno Azis, Puri, Yoanariris, Saptowati, Carla, Ridwan Rizaldi, Rama Miki, Dhimas Duta, Rozak.

Pemusik: Nanang Garuda, Buteng Swami Ahimsa, Miftah Rizak, Mamad.

Artistik: B’djo Ludiro (setting & property), Eddy Subroto, Siti Amini (penata kostum), Alexander Deska (penata cahaya), Nanang Garuda (penata musik), Isti M, Eko Pamulihono (penata tari).

Dokumentasi: Rakhmat Supriyono, Bambang Wartoyo (foto), Joni Asman (video).

Pengarah: Dr Drs Hajar Pamadi, MA (Hons), Roso Daras, Drs HM Satriya Wibawa, M.Un

Manajemen: Ir Ena Azmita Azwar (Ketua), Dra A. Sri Hestutiningsih (Sekretaris), Naning Kartaatmaja, SKM (Bendahara), Erny Aznita Azwar (Usaha Dana). (erde)

Jemèk Kawanku

SENO GUMIRA AJIDARMA

_________________________________________

© 1976 PANG WARMAN

Catatan menyambut 1000 hari
meninggalnya Jemèk Supardi (1953-2022)

__________________________________________

© 1975 PANG WARMAN

Memang seperti bayang-bayang baur dari album tua: duduk di bawah, saya (kedua dari kiri), bersama Gatinyo (di kanan saya, entah di mana dia sekarang), Deded Er Murad (di kiri saya, almarhum) dan di ujung kiri saya Meritz Hindra. Berdiri berbaju putih adalah Azwar AN, almarhum, pemimpin Teater Alam, dan di sebelahnya, merokok, adalah almarhum Jemèk Supardi—saat itu pun di katalog pementasan manapun, namanya sudah Jemèk Supardi.

Namun pada 1975, ketika Pang Warman memotret kami semua, Jemèk bukanlah legenda sebagaimana sering disebut dan dituliskan—dan sebagai bukan legenda itulah saya lebih suka mengenal dan mengenangnya.

Foto itu mengembalikan suasana, ketika sejumlah orang dipertemukan kesamaan semangat dan keyakinan, bahwa berkesenian adalah cara hidup terbaik, paling baik, bagaikan tiada lagi yang lebih baik—dan karenanya dalam situasi seperti apapun, gagal maupun tak gagal, tidak ada yang perlu sampai kepada penyesalan.

Sesadar itukah Jemèk? Sejauh saya mengenalnya, Jemèk adalah jenis manusia yang hidup sepenuhnya dengan naluri. Dengan nalurinya itulah dia hidup, mengembangkan diri tanpa konsep apapun, tanpa terlalu peduli indah tak-indah, baik-buruk, hitam-putih, benar-salah. Bagaikan berada “di luar kebudayaan”—meski yang “di luar” inilah yang menghela kebudayaan ke depan.

Satu-satunya konsep yang selalu diucapkannya dengan bahasa terbatas adalah, “Saya ini belajar, belajar, saya tidak tahu kesenian, jadi saya belajar.” Saat itu, di Kampung Sawojajar, tempat Teater Alam berada, saya, 17 tahun, dan Jemèk, 22 tahun, sama-sama belajar.

Siapakah Jemèk? Saya katakan, saya mengenalnya bukan sebagai legenda, tetapi sejak belia ia sudah melegenda sebagai Pardi Kamprèt yang bertelanjang dada dan berkalung katapel.

Legenda kecepatan menyambar buah dalam kegelapan, yang diterapkan di kuburan Belanda dan terminal bis ini, dan pernah membuatnya digelandang massa sepanjang jalan, sesekali disampaikannya dalam pergaulan kami.

Cara menceritakannya sambil lalu di antara berbagai kegiatan kami, seingat saya selalu dalam senyuman dan nada geli. Jadi legenda Jemèk Supardi tidak berlaku bagi saya, tapi kalau legenda Pardi Kamprèt iya—dan sungguh suatu legendalah itu, seperti pernah saya tuliskan sebagian, dalam katalog pertunjukan menyambut ulang tahun Jemèk ke-50.

Jemèk dalam fotografi Pang Warman,
untuk membuat ilustrasi pada katalog pementasan.

(© 1976 PANG WARMAN)

Namun menyambut 1000 hari meninggalnya Jemèk, saya ingin mengingat yang lain. Itulah kenangan ketika pada suatu hari telepon-genggam saya berbunyi, dan seseorang menelepon dari Yogya.

“Mas, kami mau bikin antologi puisi, dan kami meminta Jemèk Supardi ikut menulis puisi di buku itu.”

“Baguslah,” kata saya.

“Tapi kami diminta menyampaikan pesan.”

“Pesan apa?”

“Kami diminta menyampaikan pertanyaan Jemèk, apakah dia boleh menulis puisi.”

“Hah? Apa?”

“Ya, apakah dia boleh menulis puisi?”

Tentu saya katakan boleh. Namun karena saya bukan “godfather” puisi, terpikir mengapa Jemèk harus bertanya kepada saya, apakah dirinya layak menulis puisi.

Saya berhasil menghindari kesimpulan, bahwa Jemèk mengira saya sangat mengerti puisi, alih-alih, Jemèk menganggap saya sangat mengerti dirinya.

Saya kira terlalu lama saya mendapat kesimpulan itu. Kami sudah terpisah terlalu lama, dan bagaimana Jemèk memandang saya sangatlah menyentuh. Mungkin keterlaluan bahwa kesadaran saya datang terlambat.

Beberapa kali dalam berbagai acara di Yogya, Jemèk memang selalu muncul. Seingat saya makin lama makin eksentrik dan merdeka, dan saya menyukainya.

Saya selalu teringat satu peristiwa dalam suatu diskusi lèsèhan di Yogya. Seorang penanya dengan retorika-teatrikal berusaha memojokkan saya, yang di mana pun biasa kadang-kadang terjadi. Jadi bagi saya itu biasa—tapi tidak bagi Jemèk.

Jemèk, yang dalam diskusi apapun selalu berada “di luar diskusi”, entah ngobrol sendiri atau merokok di luar, mendengar nada tinggi yang “non-intelektual” itu, langsung berdiri. Ia segera masuk ruangan, untuk melihat siapa yang berbicara keras—roman mukanya jelas terganggu, dan tampak siap untuk “melakukan sesuatu”.

Saya teringat kembali adegan itu, setelah menerima telepon yang menyampaikan pesan perkara layak tidaknya Jemek menulis puisi. Seperti menggarisbawahi kedekatan yang tidak selalu tersadari.

***

Maka perjumpaan terakhir saya dengan Jemèk di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, mungkin setahun atau dua tahun sebelum pandemi 2020, menjadi perjumpaan yang sama sekali bukan kebetulan.

Jemèk ke TIM mencari saya. Ya, sengaja mencari saya, tapi tidak pergi ke belakang, ke Institut Kesenian Jakarta (IKJ), tempat saya terikat oleh suatu tugas.

Ia datang begitu saja ke TIM, langsung ke kios buku Jose Rizal Manua di pojok bawah pohon, dan tetap berada di sana, karena katanya Jose berkata, “Nanti pasti lewat.”

Memang benar saya lewat, dari belakang ke tempat parkir mobil, karena harus pergi ke tempat lain.

Saya baru mau masuk mobil ketika Jemèk datang berkelebat—dan saya begitu terpesona dengan penampilannya yang penuh percaya diri. Rambut panjang, sangat panjang, terpilin rapi dengan pengikat warna-warni, berpadu T-shirt dan celana jean—tetapi matanya! Mata itu berkaca-kaca …

“Saya hanya mau menemuimu,” katanya, tentu dalam bahasa Jawa.

Kami mengobrol sebentar, saya bahkan memotretnya (sayang belum saya dapatkan kembali). Saya berusaha tidak terpengaruh oleh matanya yang berkaca-kaca, dalam arti saya mengingkari perasaan saya sendiri.

Lantas kami berpisah.

Baru kemudian, setelah saya sadari betapa saya tidak akan pernah bertemu Jemèk lagi, saya merasa bahwa saat itu sebetulnya Jemèk berpamitan—dan untuk selamanya saya merasa kehilangan …

“Pulang ke Uttara”, Yogya,

Selasa, 20 Mei 2025. 19:25.

Kami berdua dalam katalog “Sandiwara”,
produksi Bukan Teater Alam,
Sonobudoyo, Yogyakarta, 11 Agustus 1976.

(© 1976 PANG WARMAN)
Nama Jemèk dalam publikasi “Sandiwara”, 1976,
sebelum kelak menjadi legenda.
Versi utuh katalog “Sandiwara”
(© 1976 PANG WARMAN)
Jemèk Supardi.
(© 2018 Bambang Wartoyo)

“Oidipus” Wafat (Lagi)

In Memoriam: Gege Hang Andhika

YOGYAKARTA, JAYAKARTA NEWS – Suasana duka menyelimuti jagat teater Yogyakarta, dan nasional. Aktor senior Teater Alam, Gege Hang Andhika meninggal dunia, Kamis (Legi), 7 September 2023 pukul 19.40 WIB, dalam usia 74 tahun.

Terbersit di benak saya, “Oidipus” wafat (lagi). Gege sangat identik dengan tokoh Oidipus. Sejumlah repertoar Teater Alam yang mementaskan drama Yunani karya Sophokles itu (hampir) selalu menempatkan sosok Gege sebagai pemeran Oidipus. Tak heran jika tokoh Oidipus begitu lekat dengan almarhum.

Ia sosok yang humble dan mudah bergaul. Sebagai senior, Gege terkadang bahkan tidak menyadari senioritasnya. Ia bisa lekas akrab dengan siapa pun, termasuk para juniornya di komunitas Teater Alam.

Menarik garis waktu lebih ke belakang. Melihat sosok Gege, seketika teringat suaranya yang serak-serak-seksi, ditambah wajahnya yang tampan membuat Gege bak primadona Teater Alam. Status biologis sebagai adik kandung Titiek Azwar, istri Azwar AN pendiri Teater Alam, adalah salah satu faktor mengapa Gege ikut tertarik terjun ke dunia teater.

Gege Hang Andhika. (foto: bambang wartoyo)

Bengkel Teater

Sejak tahun 1971 ia bahkan sudah diajak kakak ipar, Azwar AN masuk Bengkel Teater pimpinan W.S. Rendra. Di Bengkel Teater itulah ia mulai belajar teater. Pengalaman pertamanya pentas bersama Bengkel Teater adalah “Mini Kata” yang disutradarai Rendra.

“Mastodon dan Burung Kondor”, salah satu karya drama fenomenal Rendra, dipentaskan pertama kali di Yogya tahun 1973. Gege ikut pula dalam pementasan itu.

Lalu ia juga terlibat pementasan “Kisah Perjuangan Suku Naga. Sebuah naskah drama bernuansa kritik terhadap pemerintah (Orde Baru) oleh Rendra.

“Pentas terakhir saya bersama Bengkel Teater adalah lakon ‘Pangeran Hunberg’, Desember 1975. Saat itu bang Azwar sudah keluar dari Bengkel Teater, dan mendirikan Teater Alam,” ujarnya suatu hari.

Benar. Azwar keluar dari Bengkel Teater akhir 1971, dan mendirikan Teater Alam awal 1972. “Saya bertahan di Bengkel Teater sampai tahun 1976. Tahun itu Rendra memutuskan hijrah ke Jakarta. Saya memutuskan bertahan di Yogya,” kata Gege.

Keputusannya tidak ikut hijrah ke Jakarta bersama Rendra dan Bengkel Teater-nya, disusul langkah ringannya menuju markas Teater Alam di Jl Sawojajar, Yogyakarta.

“Antara Bengkel Teater dan Teater Alam, tidak jauh berbeda. Cara melatih Bang Azwar sama kerasnya dengan Rendra. Disiplin adalah hal utama yang beliau tanamkan,” kata Gege ketika mengenang Azwar.

Di Teater Alam, ketika itu, sudah bercokol nama-nama seperti Meritz Hindra, Yoyok Aryo dan Ganti Winarno. Sejumlah nama lain, di antaranya Yoyok Aryo, Hendra Cipta, Abdul Kadir, dan Ramidi Rogojampi. Lebih junior dari mereka, ada Bambang Darto, Kunthil, Saif Bakham, Nanok Haryono, Kuswadi, Wahyu, dan lain-lain.

Banyak repertoar besar yang diproduksi Teater Alam, banyak pula peran besar yang jatuh ke pundak Gege. Tahun 1978 misalnya, ia terlibat pementasan “Hamlet” (William Shakespeare). Ia pula yang berperan sebagai Hamlet.

Foto kenangan tahun 2020, sebelum pementasan Oidipus. Dari kiri: Meritz Hindra, Roso Daras, Azwar AN, dan Gege Hang Andhika. (foto: Teater Alam)

Disangka Edan

Tahun yang sama, Teater Alam juga mementaskan karya Shakespeare yang lain, yang berjudul “Machbet”. Lagi-lagi, Gege pula yang berperan sebagai tokoh Machbet, seorang prajurit hebat Skotlandia yang menjadi raja setelah membunuh raja sebelumnya, Duncan.

“Saya banyak mendapat peran utama, termasuk di lakon Oidipus,” kata Gege. Beberapa kali Teater Alam melakonkan Oidipus, salah satunya penciptaan rekor tahun 1999 saat Teater Alam mementaskan Trilogi Oidipus: Oidipus Rex, Oidipus di Colonus, dan Oidipus Antigone. “Itu pentas teater terpanjang yang pernah ada,” kata Gege, dengan mata menerawang.

Gege tak bisa melupakan kenangangan pentas marathon dari pukul 20.00 hingga 05.00 subuh. Termasuk kenangan terindah sekaligus terlucu saat ia menemani Nining, istri tercintanya belanja ke pasar Beringharjo. Selagi istrinya berbelanja, Gege berada di belakangnya dengan mulut komat-kamit menghafal dialog.

Seorang pedagang, sambil meladeni Nining, tak kuasa melempar tanya, “Bu, maaf, suaminya ‘gini’ ya?” kata si pedagang sambil menyilangkan jari telunjuknya di depan jidat. “Miring”, maksudnya.

Mendapat pertanyaan seperti itu, Nining spontan tertawa ngakak, alih-alih marah. Dengan sabar, Nining pun menjelaskan, “Oh, dia sedang menghafal naskah drama. Sebentar lagi mau pentas di Purna Budaya, dan dia aktor utamanya. Kalau besok pas pentas, njenengan nonton yaaaa….”

Gege Hang Andhika, dalam peran Oidipus. (foto: Teater Alam)

“Aja Mendem”

Sebagai orang “titer”, Gege termasuk “alim”. Biarpun banyak temannya akrab dengan minum-minuman keras dan mabuk-mabukan, Gege nyaris tidak pernah. “Saya lebih senang merokok dan ngomong jorok, dibanding mabok,” kata Gege sambil terkekeh, suatu hari.

Usut-punya-usut, Gege memegang betul nasihat kakak iparnya, Azwar AN. “Gege! Kamu harus rajin, jujur, displin, dan aja mendem! Kalau kamu suka mabuk, jangankan di Jakarta, di Yogya saja tidak bakal laku (sebagai aktor),” begitu nasihat mendiang Azwar.

Terbukti, Gege berhasil melakoni dunia seni peran, termasuk merambah dunia film dan sinetron dengan baik. Bahkan, hari-hari akhir, ia aktif juga di KFT (Karyawan Film dan Televisi).

Hingga akhir hayatnya, Gege tidak pernah jauh dari Teater Alam. Bahkan tahun 2020, di usia yang sudah menginjak kepala 7, ia masih prima memerankan Oidipus pada pentas 18 Januari 2020 di Taman Budaya Yogyakarta.

Pada kegiatan-kegiatan tahunan Teater Alam, Gege pun turut serta menyumbangkan waktu, tenaga, pikiran, dan semangat untuk membersamai para juniornya. Pada pentas Teater Alam terakhir, Opera Ikan Asin (OIA), 15 Agustus 2023 lalu, Gege sempat hadir di TBY, meski tidak bisa bertahan lama, karena kondisi fisiknya yang mulai lemah.

Innalihahi wa inna ilaihi roji’un, lelaki bernama lengkap Andhika Sugirman Irsyad itu pun wafat pada usia 74 tahun, Kamis (legi) 7 September 2023 pukul 19.40. Malam itu, jenazah disemayamkan di Rumah Duka Panembahan PB 2/110, sebelum esok harinya, Jumat (8/9/2023), dimakamkan di Taman Makam Pakuncen, usai shalat Jumat.

Almarhum meninggalkan anak dan menantu, Febri Maulana Budiwan, Muhammad Reza Setiawan & Luthfiana Irmasari, Novita Dyah Wulandari & Oki Pralambang. Serta cucu-cucu: Ibrahim Muflih S, Lakeisha A.S., M. Naladipa V.P., dan M. Narendra V.P. (*)

Catatan Kenangan
Roso Daras
Jurnalis, Anggota Teater Alam

Puntung Kok Ditantang…

Kisah di Balik Rencana Pentas “Opera Ikan Asin” Teater Alam

YOGYAKARTA, JAYAKARTA NEWS – Pementasan “Opera Ikan Asin” oleh Teater Alam di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta, tinggal menunggu hari. Hari Selasa, tanggal 15 Agustus 2023 pukul 19.00 sudah banyak ditandai sebagai hari yang tak boleh dilewatkan.

Bahkan, gemanya sudah sampai Ibu Kota. Tak sedikit pecinta teater Jakarta menyatakan akan berangkat ke Jogja, menyaksikan pertunjukan teater yang memainkan naskah N. Riantiarno hasil adaptasi dari lakon The Threepenny Opera, karya Bertolt Brecht.

Eugen Berthold Friedrich Brecht, dikenal sebagai praktisi teater Jerman, penulis naskah, sekaligus sastrawan yang lahir di Augsburg, Jerman 10 Februari 1898, wafat di Berlin Timur 14 Agustus 1956. Kutipan menarik yang pernah diucapkannya adalah, “Seni bukanlah cermin yang digunakan untuk merefleksikan realitas, melainkan sebuah palu untuk membentuknya.”

Yang menarik dikulik adalah, apa alasan sutradara Puntung CM Pudjadi memilih lakon itu untuk memperingati 51 tahun Teater Alam. “Awalnya karena ada yang ‘menantang’…,” cetus Puntung, yang nyantrik di Teater Alam asuhan mendiang Azwar AN sejak akhir 1974, diajak sohibnya, Yoyok Coa Ong (alm).

Lhadalah… siapa gerangan yang berani “menantang” Puntung?

Diuber Pertanyaan

Ia pun mengisahkan peristiwa di sebuah seminar teater di Sonobudoyo Yogyakarta. Dirinya tampil sebagai salah satu narasumber mewakili dan atas nama Teater Alam.

Saat sesi tanya-jawab ada peserta bertanya, “Mengapa selama ini Teater Alam selalu mementaskan lakon klasik seperti Oedipus, Promoteus, dan lain-lain. Jarang sekali memainkan lakon sekarang, realis tapi booming.”

Puntung menangkis, lakon-lakon seharari-hari, dan naskah-naskah komedi sudah sering dipentaskan TA. Ia menyebut contoh “Obrok Owok-owok, Ebrek Ewek-wek” (Danarto), “Dokter Gadungan” (Moliere, terjemahan Asrul Sani), “Pinangan” (Anton P. Chekov), dan masih banyak lagi.

Si penanya ‘nguber’, “Tapi kenapa tidak menggarap naskah yang sekarang booming seperti karya Arifin C. Noer, N. Riantorno, dan lain-lain?”

Puntung yang juga aktif di Dewan Teater Yogyakarta (DTY) pun berkilah, “Bersama DTY saya beberapa kali menggarap karya Arifin C. Noer seperti ‘Tengul’, dan ‘Opera Kecoa” karya Riantoarno, serta beberapa naskah lain.”

Si penanya belum menyerah. Ia mendesak, “Yang saya tanya, kenapa Teater Alam tidak?”

Puntung pun menjawab, “Sekali waktu, Teater Alam akan garap naskah karya Arifin C Noer atau Nano Riantiarno.” Setelah jawaban itu, si penanya puas dan tidak mengejar Puntung lagi.

Terjawab sudah. Jadi pemilihan naskah Opera Ikan Asin lebih karena “tantangan”? “Ya, kurang lebih begitulah,” jawab Puntung.

Sajian yang Berbeda

Antara Arifin C Noer dan Riantiarno, Puntung kembali menimbang. Jika pilihannya jatuh pada naskah Arifin C Noer, dibutuhkan banyak pemain yang memiliki bekal akting cukup. “Dan itu sulit, karena banyak teman Teater Alam sudah pindah kemana-mana,” kata Puntung

Sementara, jika memilih naskah Riantiarno, relatif tidak butuh terlalu banyak pemain berkualifikasi “mahir akting”. Apalagi jika yang dipilih naskah jenis opera.

Ia bersama Ronny AN, Sekretaris Perkumpulan Teater Alam yang juga putra sulung mendiang Azwar AN itu pun memutuskan naskah Opera Ikan Asin. Kolosal, komedi, booming, melibatkan penyanyi, pemusik, penari, dan berjenis opera. Sebuah sajian yang berbeda dengan karya-karya Teater Alam sebelumnya.

Sebagai naskah komedi tetapi terbilang tua, Puntung menyikapinya secara proporsional. “Yang jelas, klasik atau modern esensinya harus bisa ‘ditonton’ dan bisa diikuti ceritanya. Dalam menyutradarai saya selalu sadar tugas membuat tontonan yang bisa dicerna berbagai kelas,” tuturnya.

Bertolt Brecht (foto: wikipedia)

Ia lalu mengutip prinsip Bertolt Brech. Bahwa sebagai sutradara, Brecht menyukai penonton yang tidak terikat atau diasingkan dari pertunjukan itu sendiri. Tujuannya agar menjaga emosi sehingga memungkinkan mereka melihat pertunjukan apa adanya. “Itu yang disebut ‘V-Effect’, atau ‘Verfremdungseffekt’, sebuah perkembangan baru dalam sejarah teater,” kata Puntung.

Pesan Moral

Alfian Syahmadan Siagian dalam “jurnalcikini.ikj.ac.id” menyebut konsep itu sebagai konsep “Brechtian”. Sebuah konsep yang menggagas bahwa seluruh apparatus pertunjukan, termasuk penonton dituntut untuk berjarak. Konsep inilah yang oleh masyarakat luas dikenal sebagai verfremdungseffekt.

Verfremdungseffekt sendiri dapat dimaknai sebagai keterasingan, keberjarakan, atau alienasi. Seluruh apparatus pertunjukan diharapkan “tidak terlibat” secara emosional dengan apa yang terjadi di atas panggung. Luaran yang diharapkan adalah penonton-penonton yang kritis yang akan merenungkan hasil tontonan mereka untuk kemudian menggagas sebuah perubahan sosial, politik, ekonomi dan budaya.

Benar. Naskah Opera Ikan Asin memang sarat pesan moral. Tentang keadilan dan ketidakadilan. Tentang ketimpangan sosial. Tentang dunia durjana yang berkelindan dengan praktik penegakan hukum yang semena-mena, dibumbui bisnis lendir dunia prostitusi berpacu dengan kemiskinan.

“Ini tontonan yang menarik. Dan yang pasti, pertunjukan Opera Ikan Asin akan jadi pembeda dengan pertunjukan-pertunjukan sebelumnya. Di sisi lain, inilah jawaban saya atas tantangan peminat teater yang menghendaki Teater Alam mementaskan naskah-naskah kekinian yang booming,” papar Puntung.

Lantas, bagaimana konsep pementasan yang ia usung? Apa yang membedakan dengan Opea Ikan Asin garapan Teater Koma (Riantiarno)? Lalu, apa yang menjadi daya tarik, sehingga penonton wajib nonton?

Puntung menjawab, “Itu sajalah, saya masih capek, kurang tidur dan siap-siap latihan sebentar lagi.” (rr)

“Opera Ikan Asin” Racikan Teater Alam

YOGYAKARTA, JAYAKARTA NEWS – Teater Alam Yogyakarta kembali berkarya. Tanggal 15 Agustus 2023, kelompok teater besutan alm Azwar AN itu akan menampilkan “Opera Ikan Asin”, arahan sutradara kawakan, Puntung CM Pudjadi.

Naskah drama yang satu ini memang istimewa. Bahkan memiliki nashab panjang, Asalnya adalah naskah berjudul Die Dreigroschenoper atau dalam bahasa Inggris The Threepenny Opera, karya Bertolt Brecht.

Berthold Brecht (10 Februari 1898 – 14 Agustus 1956) adalah penyair dan penulis naskah drama Jerman. Pada saat Hitler berkuasa, Brecht melakukan perlawanan menentang ideologi Nazi. Karena diawasi Gestapo (polisi negara), ia melarikan diri ke Amerika Serikat. Pada akhir Perang Dunia II, Brecht kembali ke Jerman sampai akhir hayatnya.

Die Dreigroschenoper atau The Threepenny Opera pertama kali dipentaskan di Theater am Schiffbauerdam, Berlin 31 Agustus 1928, diiringi gubahan musik Kurt Weill. Kurt Julian Weill (2 Maret 1900 – 3 April 1950) merupakan komponis berkebangsaan Jerman. Dia dilahirkan di Dessau, meninggal di New York City, dan merupakan komposer kampiun untuk dunia panggung.

Beruntung ada N Riantiarno. Pentolan Teater Koma Jakarta yang kemudian menyadur naskah Brecht dan memberinya judul “Opera Ikan Asin”, lalu mementaskannya pada tahun 1983. Naskah yang sama, dipentaskan lagi tahun 1999. Terakhir, Teater Koma menyuguhkannya kembali Maret 2017 bertepatan peringatan 40 Tahun Teater Koma.

Nano mengubah latar peristiwa dari London abad 19 menjadi Batavia abad 20, pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Kisahnya berpusat pada Mekhit alias Mat Piso, Raja Bandit Batavia yang justru dijadikan pahlawan oleh masyarakat.

Kenapa Brecht menulis cerita berlatar belakang London, Inggris? Sebab, Brecht pun mendaur ulang cerita itu dari lakon yang lebih lawas berjudul The Beggar’s Opera karya John Gay sekira tahun 1728 di London.

Meski begitu, keseluruhan tema sama, yaitu kritik sosial terhadap golongan kapitalis, yang naskahnya mendapat penyesuaian latar waktu dan tempat sesuai zaman. “Maka, saya pun mengadaptasinya kembali dengan latar belakang kota Yogyakarta tempo dulu,” ujar Puntung, sang sutradara.

Opera Ikan Asin bercerita tentang Si Raja Bandit Batavia, Mekhit alias Mat Piso yang menikahi Poli Picum tanpa restu ayahnya, Natasasmita Picum, juragan pengemis se-Yogyakarta. Picum mengancam Kartamarma, asisten kepala Polisi yang juga sahabat Mekhit, bahwa para pengemisnya akan mengacaukan upacara penobatan Gubernur Jenderal yang baru. Terpaksa Mekhit ditangkap, dia akan digantung tepat saat upacara penobatan, tapi saat tali menjerat leher, datang surat keputusan dari Gubernur Jenderal yang isinya membebaskan Mat Piso dari segara tuduhan.

Sebuah lakon tentang era yang penuh ketidakjelasan. Raja Bandit dijadikan pahlawan oleh masyarakat. Para petinggi hukum bersahabat dengan para penjahat kakap, sogok-menyogok menjadi budaya Bahkan hukum pun bisa disandera oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan pribadi. Sebuah zaman dimana titah penguasa bisa memutar balik keputusan pengadilan.

Aktor kawakan Meritz Hindra tengah berlatih “Opera Ikan Asin”, yang akan pentas di TBY Yogyakarta, 15 Agustus 2023. (foto: teater alam)

Terus Berkarya

Pementasan kali ini, melibatkan sekitar 70 pemain. Beberapa nama besar aktor teater Alam turun gunung. Mereka antara lain Meritz Hindra, Hadjar Pamadhi, Anastasia, Jack Sofian, Eddy Subroto, dan lain-lain. Dalam penyutradaan, Puntung dibantu dua astrada: Ronny AN dan Bambang KSR.

Pimpinan Produksi, Erna Azmita AN mengatakan, sejak bangkit dari tidur panjangnya di tahun 2018, Teater Alam tidak pernah berhenti berkarya. Tahun 2018, memperingati usia ke-47, Teater Alam mementaskan “Montserrat” (8/12/2018) dengan sutradara Puntung CM Pudjadi. Selain pementasan, juga peluncuran buku Trilogi Teater Alam setebal (total) 900 halaman racikan Roso Daras dan Prof Yudiaryani.

Tahun 2019, Teater Alam bekerjasama dengan ISI Yogyakarta mementaskan “Pusaran” (“A Streetcar Named Desire”), dengan sutradara Prof Yudiaryani.

Tahun 2020, Teater Alam kembali mementaskan karya Sophocles “Oedipus Rex” dengan sutradara Azwar AN dan Meritz Hindra.

“Tahun 2021, tepatnya 27 Desember 2021, Azwar AN, pendiri Teater Alam, wafat,” ujar Nana, panggilan akrab putra kedua Azwar AN, yang kini memegang estafet sebagai Ketua Perkumpulan Teater Alam itu.

Tahun 2022, bertepatan 50 tahun Teater Alam, sebuah kepanitiaan di bawah pimpinan Prof Yudiaryani, menggelar lima karya dengan tagline “Karya Emas, Kerja Keras, Loyalitas”. Acara yang dihelat Oktober dan November 2022 itu antara lain Pementasan Fragmen, Workshop, Seminar, Pameran, dan Kuliner. (rr)

Erna “Nana” Azmita AN, pimpinan produksi Opera Ikan Asin. (foto: ist)

Tiga Fragmen Drama di Satu Panggung Teater Alam

JAYAKARTA NEWS – Tiga fragmen drama menutup rangkaian ulang tahun ke-50 Teater Alam, Yogyakarta. Panggung Taman Budaya Yogyakarta, Kamis (17/11) malam menampilkan fragmen “Pusaran” (Streetcar Named Desire) karya Tennessee Williams, Oedipus (Sophocles), dan Montserrat (Emmanuel Robles).

Di luar tiga fragmen tersebut, panggung TBY juga menjadi ajang praktik pentas peserta Workshop Teater. Mereka menampilkan karya “Bondol”.

Disaksikan Yani Saptohudoyo, pematung Yusman, seniman, budayawan Yogyakarta dan masyarakat umum lainnya, sajian tiga fragmen tadi mendapat applaus meriah hadirin.

Fragmen Pusaran menampilkan permainan apik dari Ninit, Alexa, dan Vikii dengan penata busana Erlina Panca. Sutradara Prof Dr Yudiaryani, MA menggarapnya dengan segar. Drama semi-musikal ini pernah dimainkan Teater Alam berkolaborasi dengagn ISI Yogyakarta di Concert Hall Gedung Taman Budaya, Senin – Selasa, 22 – 23 Juli 2019.

Lalu Oedipus. Malam itu, tokoh Oedipus diperankan Eko Pamulihono. Nomor ini terbilang “lekat” dengan Teater Alam. Lakon ini sudah beberapa kali dimainkan.

Di tahun 1981, dipentaskan di Gedung Grha Dirgantara Yogyakarta dalam acara Syawalan PWI-SPS Yogyakarta, 24 Agustus. Tahun yang sama diusung ke Pasar Seni Jaya Ancol, pada 27-28 Agustus, dan pada 15 September dimainkan di Gedung Purnabudaya. Sutradara dari pertunjukan tersebut adalah Tertib Suratmo.

Lantas pada tahun 1986, lakon ini dipentaskan di beberapa kota dalam muhibah ke Malaysia, dengan sutradara Azwar AN. Tahun 1991, Oedipus juga dimainkan di Lampung.

Pada tahun 1999, Teater Alam secara mengejutkan mementaskan trilogi Oedipus dalam satu malam, yang berdurasi 10,5 jam di Purnabudaya, dengan sutradara Azwar AN. Pementasan terakhir Sabtu, 18 Januari 2020 di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta.

Ronny AN dan Meritz Hindra dalam fragmen “Montserrat”. (foto: rakhmat s)

Meritz Jadi Azwar

Fragmen ketiga, Montserrat, digarap apik oleh sutradara Meritz Hindra. Dibuka dengan penampilan Meritz yang uring-uringan karena para cantrik Teater Alam belum juga datang latihan. Datang Azis yang langsung disuruh menyapu tempat latihan. Muncul Dinar Saka, Jamilan, Ronny AN.

Menirukan gaya mendiang Azwar AN, aktor kawakan Meritz menyuruh para cantriknya untuk latihan Montserrat. Saat Ronny sudah duduk di kursi sebagai Montserrat, Dinar menyerukan “camera on” sambil berlari meninggalkan stage. Panggung black-out, lalu lighting menyala.

Meritz sebagai Kolonel Isquierdo. Berdialog dengan Kapten Zuazola (Jamilan) dan Kapten Antonanzas (Azis). Saat Isquerdo (Meritz) membujuk Montserrat (Ronny) untuk membuka rahasia persembunyian  Simon Bolivar, tiba-tiba saja Ronny lupa dialog dan minta bantuan Dinar Saka (astrada) untuk melihat contekan dialog dalam naskah. Fragmen Montserrat menjadi “gerr” dengan garapan ala latihan.

Fragmen “Pusaran”. (foto: rakhmat s)

Pak Bondol

Sajian terakhir adalah pentas teater hasil wokrshop tanggal 9 Oktober 2022. Tiga senior Teater Alam menjadi mentor pada workshop tersebut. Meritz Hindra memberi materi keaktoran, Puntung CM Pudjadi memberi materi penyutradaraan, dan Wahyana Giri MC memberi materi penulisan naskah teater.

Para peserta terdiri atas siswa-siswa dari sekolah-sekolah yang ada di kota Yogyakarta. Malam itu, mereka menampilkan drama pendek berjudul “Bondol”.

Dikisahkan, Pak Bondol, adalah seorang tukang tambal ban yang sedang bersantai di teras rumah. Mendadak ia disuruh istrinya ke pasar untuk membeli beras. Pak Bondol pun pergi ke pasar naik sepeda. Ia bersepeda dengan ugal-ugalan, sehingga mengganggu emak-emak di pinggir jalan, dan puncaknya menabrak seorang pedagang sayur dan membuat sayur sayur itu jatuh berceceran. Konflik pun terbangun antara penjual sayur dan Pak Bondol. Sebuah kisah komik yang menarik.

Sajian menarik ketiga fragmen dan satu lakon drama pendek tadi, menjadi lebih apik dengan penataan musik oleh Dr Memet Chairul Slamet. Pentolan kelompok musik etnik-kontemporer Gangsadewa ini pula yang selama ini menata musik pada tiga pementasan Teater Alam terakhir: Montserrat, Pusaran, dan Oedipus.

Selain itu, Bambang Nursinggih senior Teater Alam yang lain, setia menggawangi urusan kostum dan make up pemain. Pesannya selalu kepada para aktor-aktris adalah, “Setelah make up, dilarang merokok!”

Azwar AN Award

Pada malam puncak peringatan HUT ke-50 Teater Alam, juga dilangsungkan penganugerahan “Azwar AN Award” kepada empat tokoh Teater Alam yang memiliki loyalitas serta dedikasi dan jasa besar bagi kelangsungan hidup Teater Alam.

Award pertama, diberikan kepada Bambang Darto. Ia adalah Anggota teater Alam yang telah menunjukkan loyalitas dedikasi dan kerja keras mengembangkan Teater Alam hinggga akhir hayatnya.

Award kedua diberikan kepada Yono Gandem. Dia adalah anggota Teater Alam yang menunjukkan loyalitas tanpa batas. Di samping jasanya menjadi Ketua Teater Alam selama 25 tahun tanpa cela. Jejaknya bahkan diikuti oleh beberapa putranya yang menjadi anggota Teater Alam, mengikuti jejak sang ayah.

Award ketiga diberikan kepada Tertib Suratmo. Ia adalah salah satu pelatih, sutradara, sekaligus artistic Teater Alam yang memiliki loyalitas sangat besar. Bukan saya loyalitas persahabatan dengan Azwar AN, tetapi juga Teater Alam sebagai sebuah lembaga.

Dan award keempat, diberikan kepada Prof. Drs .H. Amri Yahya. Tokoh Lukis batik yang merupakan sahahabat Azwar AN sekaligus sahahabat Teater Alam. Amri Yahya merupakan salah satu Pembina dan Pengarah Teater Alam semasa hidupnya. Penghargaan diterimakan oleh Adwi Prasetyo putra Amri Yahya.

Azwar Tersenyum

Ketua Panitia Pelaksana HUT Teater Alam ke-50, Prof Dr Yudiaryani, MA dalam pidato di awal menyampaikan terima kasihnya kepada Dinas Kebudayaan Provinsi DIY, Paniradya Kaistimewan Yogyakarta, Museum Sonobudoyo, Taman Budaya Yogyakarta, dan para pihak yang telah memungkinkan acara berlangsung dengan baik.

“Arwah bang Azwar AN di atas sana, tersenyum melihat kiprah dan tekad kita melanjutkan semangatnya dalam melestarikan teater,” ujar Guru Besar Teater ISI Yogyakarta, itu.

Sementara itu, Ketua Komunitas Teater Alam, Erna Azmita, AN juga menyampaikan terima kasih yang sama. Sebelum menutup secara resmi rangkaian acara Ulang Tahun Emas Teater Alam, Nana –panggilan akrabnya—mengajak semua anggota Teater Alam tetap menunjung tinggi pesan mendiang papah Azwar, “Hidup-hidupilah teater, jangan mencari hidup dari teater.” (rr)

“Ritus Patembayan” Dulu, Kuliner Kemudian

50 Tahun Teater Alam

JAYAKARTA NEWS –  Mungkin bukan yang terbesar, tetapi Pameran Seni Rupa “Ritus Patembayan” jelas bukan sembarang event. Tak kurang dari 125 pelukis dari Yogyakarta dan kota-kota lain di Indonesia turut serta ambil bagian. Tak hanya itu, lima palukis maestro juga memajang karyanya.

“Fine Art Exhibition” ini berlangsung 14 – 18 November 2022 di Taman Budaya Yogyakarta. “Tema Ritus Patembayan juga memiliki filosofi luhur. Sesuai dengan pemangku hajat, yaitu komunitas Teater Alam yang tengah memperingati ulang tahun yang ke-50. Ulang tahun emas,” ujar Chamit Arang, koordinator event, kepada pers hari ini (13/11).

Ritus Patembayan adalah sebuah upacara yang menyelaraskan suatu kebersamaan dan kegembiraan dalam bentuk wujud syukur kepada Yang Maha Kuasa. “Tidak banyak komunitas teater yang mampu melewati usia setengah abad. Karena itu, kami mensyukurinya dengan multi karya. Pameran ini adalah salah satunya,” tambah Chamit.

Pameran menampilkan karya perupa dari wilayah Yogyakarta dan beberapa kota lain, antara lain dari Solo, Rembang, Pekalongan, Klaten, Magelang, Purworejo, Temanggung, Banten, Kediri, Madiun, Tulungagung, Surabaya, Banyuwangi, dan Bali.

Selain itu, panitia juga mengundang pelukis-pelukis senior untuk menyemarakkan 50 tahun Teater Alam, seperti : Kartika Affandi, Amri Yahya (alm.), Widayat (alm.), Soenarto PR (alm.), Soeharto PR (alm.) dan pelukis senior lainnya.

Fashion dan Kuliner

Di tempat terpisah, Penanggung-jawab Program Pameran-Fashion-Kuliner, Panitia HUT ke-50 Teater Alam, Elizabeth Naning Kartaatmaja mengatakan, selain pameran seni-rupa, juga akan dibarengi sejumlah kegiatan lain yang tak kalah menarik. Di antaranya fashion show dan festival kuliner “Sedut” (Sedulur Teater).

Untuk fashion, selain lomba peragaan busana motif shibori untuk anak, remaja, dan dewasa, juga ada peragaan busana tokoh-tokoh dalam sejumlah lakon teater yang pernah dimainkan Teater Alam. Di antaranya lakon Oedipus, Montserrat, Pusaran (A Streetcar Named Desire), dll.

“Dijamin meriah. Mulai 14 sampai 18 November kami juga mengadakan sejumlah workshop industri kreatif, seperti membatik kaos, melukis batu, shibori, dan lain-lain. Area TBY akan dipenuhi aneka stand kuliner yang sudah kami kurasi untuk kepentingan keberagaman menu dan cita-rasa,” ujar Naning yang dibantu anggota timnya: Rere dan Syam Chandra. (rr)

“Ketidakpastian” Kata Kunci Seni Pertunjukan

Seminar “Reposisi Seni Pertunjukan di Era Disrupsi” HUT ke-50 Teater Alam

JAYAKARTA NEWS – Dunia seni pertunjukan menghadapi kenyataan tentang “ketidakpastian”. Itulah tantangan terkini dunia seni pertunjukan. “Tidak saja di Indonesia, tetapi juga dunia,” ujar Dirjen Kebudayaan, Kemendikbud, Hilmar Farid, Ph.D saat tampil sebagagi keynote speaker Seminar “Reposisi Seni Pertunjukan di Era Disrupsi”, di Museum Sonobudoyo Yogyakarta, Selasa (25/10).

Hilmar menyambut baik tema seminar yang diselenggarakan dalam rangka memperingati HUT Teater Alam ke-50 itu. Sekalipun, bagi Hilmar, tema “disrupsi” bukan tema baru. Akan tetapi, faktanya, semua elemen kehidupan memang mengalami persoalan disrupsi. Mengalami dampak disrupsi, baik sosial maupun ekonomi.

Dirjen Kebudayaan yang sejarawan itu mengajak peserta seminar untuk sebelumnya memahami terlebih dulu apa itu disrupsi dan apa yang menyebabkan disrupsi. Selama ini, kita cenderung hanya fokus pada urusan teknologi, padahal teknologi adalah salah satu bagian dari disrupsi yang bersifat multidimensional.

Saat ini, disrupsi yang terjdi jauh lebih besar dampaknya terhadap dunia kesenian kita. Bukan hanya teknologi tapi bagaimana lansekap produksi bergeser dan berubah drastis. “Jadi di sini bukan tentang panggung pertunjukan, tapi disrupsi yang terjadi pada panggung pertunjukan,” ujar pria kelahrian Bonn, Jerman itu.

Tiga Elemen

Dirjen Kebudayaan menyitir terbitnya sebuah publikasi PBB yang memotret sebuah kondisi yang begitu kompleks yang disebut “ketidakpastian baru”. Jadi kata kuncinya “ketidakpastian”. Ada tiga elemen yang menjadi sumber ketidakpastian.

Pertama, perubahan pada bumi kita, lingkungan kita, iklim kita. Alhasil, kita merasakan adanya cuaca ekstrem, banjir bandang, kekeringan yang berakibat pada gagal panen, gagal menangkap ikan, dan dampak buruk yang lain.

Kedua, transformasi sosial yang cepat dan mendasar. Sebuah perubahan yang signifikan. Ketiga, polarisasi sosial. “Nah, siapa yang harus bertanggung jawabatas ketidakpastian itu? Kita semua. Ingat, krisis serupa tidak saja terjadi di Indonesia bahkan di Eropa dan belauhan dunia yang lain,” tegas Hilmar.

Ia berharap seminar mengarahkan konteks kea rah sana. Ke arah tiga elemen ketidakpastian yang secara nyata kita hadapi. Sebab, itu semua akan berhubungan langsung dengan dunia seni pertunjukan.

Reposisi di era disrupsi, menurut Hilmar Farid, adalah bagaimana kita merespon keadaan. Merespon perubahan-perubahan yang sangat cepat. Misalnya dimulai dari respon terkait konten, kreasi, konsep, baik di tingkat teks yang ingin disampaikan. Narasi apa yang hendak diangkat untuk menyampaikan isi. Terakhir, memikirkan bentuk virtual, skema distribusi, dan lain-lain. “Kita tempatkan reposisi seni pertunjukan dengan mempertimbangan konteks tadi,” tegasnya.

Seni pertunjukan juga diharap tidak tenggelam dalam platform digital, termasuk media sosial. Lebih dari itu, sebuah karya seni pertunjukan harus bisa ikut memaknai dan mempengaruhi keramaian media sosial yang ada dalam platform digital.  “Perlu kerja cerdas, kreatif, dan kekinian,” ujarnya. (rr)

“Memindah” Uluwatu ke Yogyakarta

JAYAKARTA NEWS – Di Uluwatu, Bali terdapat sebuah seni pertunjukan berupa tari kecak yang sangat fenomenal. Dalam satu hari, dilangsungkan dua kali pertunjukan. Setiap pertunjukan, dihadiri tak kurang dari 1.000 penonton. Per penonton, membayar tiket Rp 150.000.

Itu artinya, dalam satu hari pertunjukan, Tari Kecak Uluwatu bisa meraup pendapatan Rp 300 juta. “Pertanyaannya, bisakah kita menghadirkan seni pertunjukan sejenis yang ada di Uluwatu ke Yogyakarta? Bapak-ibu semua yang bisa menjawab,” ujar Aris Eko Nugroho, SP, M.Si., Paniradya Pati Kaistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Aris mengemukakan hal itu saat menyampaikan pidato pembukaan Seminar “Reposisi Seni Pertunjukan di Era Disrupsi” yang berlangsung di Auditorium 2, Museum Sonobudoyo, Yogyakarta, Selasa (25/10). Seminar dalam rangka memperingati ulang tahun Teater Alam ke-50 itu didukung oleh Dinas Kebudayaan Provinsi DIY, Dana Keistimewaan, Museum Sonobudoyo, dan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta.

Aris Eko Nugroho, SP, M.Si., Paniradya Pati Kaistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (kedua dari kiri), bersama para narasumber seminar: Puntung CM Pudjadi (paling kiri), Prof Hj Yudiaryani, MA (kedua dari kanan), dan Dr Seno Gumira Ajidarma (kanan). (foto: nana)

Serba Kebetulan

Sebelumnya, Aris mengemukakan beberapa hal yang disebutnya sebagagi “serba kebetulan”. Ulang tahun Teater Alam ke-50 dirayakan, bertepatan dengan momentum pengukuhan Ngarso Dalem (Sri Sultan Hamengku Buwono X) sebagai Gubernur Provinsi DI Yogyakarta. Pengukuhan pun dilakukan tanggal 10, bualn 10, jam 10 lebih 10 menit.

“Bertepatan momentum dasawarsa jumenengan Ngarso Dalem, ada 373 event kami gelar dari tanggal 10 Agustus sampai dengan 10 September, baik di tingkat provinsi, kabupaten/kota, hingga ke lapis masyarakat terbawah,” tambah Aris seraya menambahkan, “dan itu semua menggunakan Dana Keistimewaan.”

Berkat itu pula, Provinsi DIY menempati ranking tertinggi indeks kebudayaan di Tanah Air tiga tahun berturut-turut. Ini sebuah kebanggan. “Kami berharap bisa dipertahankan melalui pelestarian dan pengembangan seni budaya, salah satunya melalui seminar yang kita selenggarakan pagi hari ini. Bagaimana menyinergikan akademisi dan praktisi,” katanya.

Pembinaan seni dan budaya dilakukan secara sistematis. Aris menyebutkan, tahun 2019 misalnya, dilakukan pembinaan yang massif untuk dunia pewayangan. Tahun 2020 pembinaan terkait keris. Kemudian tari, dan teater pun ada. “Tantangan kita ke depan adalah bagaimana menjaga kekompakan. Kami yakin, acara ini dihadiri tokoh seniman yang luar biasa, semoga bisa melahirkan resolusi dan rekomendasi dalam memajukan kebudayaan di Yogyakarta,” harap Aris.

Adaptasi

Aris Eko Nugroho juga menyinggung ihwal sajian seni pertunjukan berbasis digital. Tentu perlu pembelajaran baru. Pihaknya bekerja keras bagaimana menampilkan seni pertunjukan berbasis digital yang selaras dengan disiplin pemeriksaan keuangan negara.

Ditambahkan, kemajuan teknologi harus dikuti oleh para pelaku seni pertunjukan. Termasuk dalam penyajian karya seni yang beradaptasi dengan keadaan. “Dulu seni pertunjukan identuk dengan panggung. Saat ini harus bisa beradaptasi dengan teknologi. Bagaimana menampilkan seni pertunjukan berbasis teknologi,” tegasnya.

Di akhir sambutannya, Aris berharap seminar “Reposisi Seni Pertunjukan di Era Disrupsi” bisa merumuskan langkah ke depan. Langkah dan strategi pelestarian budaya, terutama dalam adaptasi teknologi dan tatanan baru. “Kemajuan teknologi dan dampak yang terjadi, juga bisa menjadi dasar rumusan seminar ini,” harap Aris. (rr)

Reposisi Seni Pertunjukan di Era Disrupsi, Diseminarkan

JAYAKARTA NEWS – Dunia seni pertunjukan termasuk dunia yang mengalami gonjang-ganjing dihantam bandai pandemi. Lebih dua tahun harus vakum tak berkegiatan. Sebagian survive karena kreativitasnya. Sebagian lagi mati suri. Tidak sedikit yang hilang tanpa jejak.

Sadar akan hal itu, Panitia Peringatan 50 Tahun Teater Alam menggelar seminar bertajuk “Reposisi Seni Pertunjukan di Era Disrupsi”. Seminar berlangsung Selasa, 25 Oktober 2022 di Museum Sonobudoyo, Yogyakarta.

“Kegiatan ini didukung Dinas Kebudayaan Provinsi DIY, Dana Keistimewaan, Museum Sonobudoyo, dan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta,” ujar Silvia Purba, selaku panitia pelaksana seminar.

Seminar yang berlangsung mulai pukul 08.30 – 16.00 WIB itu dibuka oleh Paniradya Pati Kaistimewaan DIY, Aris Eko Nugroho, SP, M.Si. Sebagai keynote speaker, Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Hilmar Farid, Ph.D.

Ada lima pembicara tampil dalam seminar tersebut. Mereka adalah, Prof. Dr. KH. Buya Syakur Yasin, M. A (Budayawan), Dr. Seno Gumira Ajidarma, S.Sn, M. Hum (Institut Kesenian Jakarta, Senior Teater Alam),  Prof. Dr. Hj. Yudiaryani, M.A. (Institut Seni Indonesia Yogyakarta), Puntung CM Pudjadi (Sutradara & Senior Teater Alam), serta Melati Suryodarmo (Artist & Pendiri Studio Plesungan).

Jalannya seminar dipandu oleh moderator Dr. Nur Iswantara, M.Hum dan Surya Farid Sathotho, S.Sn. M.A. “Karena keterbatasan tempat, kami menyediakan fasilitas live streaming melalui kanal youtube Dinas Kebudayaan Provinsi DIY. Dengan begitu, peserta yang tidak bisa hadir di museum Sonobudoyo bisa mengikuti lewat live streaming,” tutur Silvia.

Abstraksi

Berikut adalah abstraksi materi seminar dari para penyaji.

1. Pergeseran Jejak Dramaturgi yang Diperluas”Oleh Prof. Dr. Yudiaryani, M.A

ABSTRAK

Artikel Dramaturgi Media Baru (Dramaturgi Yang  Diperluas Dan Peran Teknologi Digital) berusaha meneliti perluasan pemahaman tentang dialog dramaturgi dengan masa lalunya yang kaya dan bervariasi. Dramaturgi Media Baru (DMB) mengeksplorasi bagaimana sebuah pertunjukan mengkomunikasikan maknanya, dan bagaimana mempertimbangkan konteks sosial yang lebih luas. DMB adalah istilah yang diperkenalkan oleh Marianne Van Kerkhoven (2009) untuk menggambarkan hibriditas bentuk pertunjukan kontemporer setelah 1980-an dan untuk menjelaskan bagaimana DMB mengeksplorasi  titik-titik persoalan estetika dan politik melalui metode yang berbeda dengan teater modern. Istilah ‘baru’ dalam DMB menunjukkan adanya dramaturgi yang diperluas dalam kaitannya dengan konteks definisi dan praktik dramaturgi kontemporer. DMB memiliki nilai-nilai pendekatan dramaturgi  yang  memperhitungkan kondisi unik multimedia dan komunikasi interaktif. DMB berlangsung pada pertengahan tahun sembilan puluhan, dengan adanya prosedur penciptaan dengan prasyarat teknologi untuk penggunaan online dan offline interaktif. DMB  merujuk  pada berbagai bidang aplikasi seluas-luasnya, yaitu dari seni ke bisnis dan dari sains hingga hiburan. Berbagai pendekatan dramaturgi mencerminkan  diferensiasi  dan keragaman ini.  Hasil penelitian adalah kumpulan bahan yang mencerminkan kekayaan kreatif produksi interaktif.

Redefinisi dan perluasan dramaturgi  mengerucut ke dalam rumusan persoalan, yaitu bagaimana bentuk DMB adalah sebuah bentuk dramaturgi yang diperluas, dan bagaimana DMB menghasilkan konten multimedia dan komunikasi seacara nonlinear.

Tujuan penelitian adalah pertama, mengkaji dampak DMB secara internasional dan mengembangkan citarasa penonton; kedua, mengkaji dramaturgi yang ‘diperluas’ untuk mengamati keterkaitan antara kerja produksi teater dan disiplin ilmu lainnya, seperti sejarah seni, praktik multimedia.

Metode penelitian menggunakan metode penelitian deskripsi kualitatif. Metode kualitatif adalah mencari makna di balik data dengan teknik analisis interpretatif dan menyeluruh. Teknik pengumpulan data dengan obsevasi partisipan, wawancara mendalam, pengamatan dan catatan lapangan, serta penggunaan dokumen. Sifat data kualitatif adalah multidimensi dan kaya, sehingga berbagai disiplin ilmu secara paralel meneliti bagian-bagian penelitian, dan kemudian bagian-bagian dieksplanasi secara dekonstruktif agar interpretasi tidak kontradiktif. Hasil yang diperoleh adalah pengembangan fondasi teoritis untuk menjembatani aspek negatif komunikasi antarkultural dan jender dalam seni pertunjukan. Signifikansi teoritis terhadap nilai praktik penciptaan adalah pengembangan teori Dramaturgi Media Baru yang diterapkan dalam praktik penciptaan teater kontemporer.

Kata kunci : dramaturgi media baru, dramaturgi yang diperluas, dramaturgi interaktif,  , teater kontemporer

2. Dari dulu hingga kini, berteater itu berjuang. oleh Puntung CM Pudjadi

3. Reposisi Industri Pendidikan dan Penguatan Karakter Bangsa oleh Prof. Dr. KH Buya Syakur

 4. Teater dalam Dua Reposisi Oleh Dr. Seno Gumira Ajidarma, S.Sn., M.Hum

 Teater modern mengalami dua kali reposisi dalam sejarahnya; pertama, akibat munculnya film; kedua, akibat pandemi – kemiripan bahasa media dibedakan oleh realitas sosialnya.

5. Matinya Makna Menghidupkan Monster yang Mustahil Oleh Melati Suryodarmo

Pada abad ke 21 ini, disrupsi teknologi akan terus bersaing dengan kecepatan pengetahuan manusia tentang teknologi. Tingginya kecepatan produksi dan persaingan industri teknologi internet dalam era Industri 4.0 tidak terhentikan dan tidak bisa diperkirakan dampaknya dalam waktu pendek ini. Pandemi telah memberi ruang pada pemanfaatan yang ekstrem atas disrupsi teknologi. Pandemi telah nyata berdampak atas keberlangsungan produksi di bidang kesenian pada umumnya, dan khususnya bagi para pelaku seni yang wahananya adalah panggung. Para pelaku seni tertantang untuk mencari peluang untuk menanggapi kondisi tersebut dengan mencoba bersinggungan dengan pemanfaatan teknologi digital untuk menghadirkan karyanya, baik melalui proses alih wahana maupun interdisipliner. Berbagai pencanggihan pemanfaatan teknologi dilakukan para pencipta seni untuk mencapai metode dalam menyajikan karya bagi khalayak.

Sebagai seniman yang menggunakan tubuh sebagai medium utama dalam berkarya, para penari, aktor dan seniman performans menghadapi pertanyaan tajam dan eksistensial tentang fungsi kehadiran tubuhnya dalam karya di masa depan.  Saya akan berbagi cara pandang untuk melihat hubungan kehadiran tubuh, realitas, perspektif kebudayaan dan pengaruh disrupsi teknologi dalam praktik seni pertunjukan.

6. Bondres Clekontong Mas: Seni Pertunjukan yang Adaptif dan Fleksibel

Oleh: I Wayan Dana

Jurusan Tari Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Abstrak

Bondres adalah sebagai sebutan tokoh-tokoh rakyat jelata, yang karakternya mempresentsikan masyarakat pada umumnya. Pada mulanya tokoh ini hadir sebagai simbol kehidupan masyarakat dalam seni pertunjukan dramatari topeng di Bali. Pemainnya dilalukan oleh pemeran yang mampu mengekspresikan berbagai karakter melalui ungkapan tata rias-busana, gerak, tembang, humor, vokal-dialog sesama Bondres maupun berkomunikasi langsung dengan penonton serta para awak pemusik yang mengiringnya.

Dalam perjalanan waktu dramatari topeng di Bali, kini Bondres mampu menjadi genre seni pertunjukan yang mandiri, adaptif, fleksibel, seperti Bondres Clekontong Mas. Seni pertunjukan Bondres ini sebagai media pendidikan etis dan estetis dapat dikaji melalui pengungkapan sistem lambang seperti melalui kata-kata, nada bicara, mimik (ekspresi muka), gestur (aksi tubuh), gerak, make-up (rias muka), kostum, gaya rambut, properti, setting (latar pembangun suasana), lighting (tata cahaya), musik, dan efek suara, sehingga menarik serta kocak di atas panggung, yang juga memanfaatkan kehadiran teknologi. Kehadiran Bondres ini, mencipta homor dengan rias muka atau topeng berkarakter lucu, muka atau wajah manusia yang tidak lengkap, melalui ungkapan gerak ‘kejutan’ tak terduga, aneh dan tidak biasa serta menghadirkan sesuatu yang kontradiktif dengan kenyataan menjadi daya pikat dan energi sebuah sajian seni pertunjukan

Bondres Clekontong Mas terdiri dari I Komang Dedi Diana berperan sebagai Tompel, I Ketut Gede Rudita berperan sebagai Sokir, dan I Nyoman Ardika berperan sebagai Sengap. Trio Bondres ini memiliki ciri khasnya masing-masing, baik dari segi karakter maupun penampilannya. Tompel terinspirasi dari karakter topeng Bali yang diciptakan oleh leluhur terdahulu, Sokir terinspirasi maupun teredukasi dari tokoh-tokoh yang ada di dunia pewayangan, dan Sengap terinspirasi dari senior Bondres Bali seperti Lolak dan Dolar dalam pertunjukan Drama Gong Bali. Ketiganya berkolaborasi, berinovasi, kreatif dan proaktif mengahadapi perubahan dunia seni pertunjukan serta cepat menyesuaikan diri saling melengkapi dan mampu memancing gagasan-gagasan ke-kini-an.

Kata kunci: Bondres Clekontong Mas, Seni pertunjukan, Adaptif, dan fleksibel

7. SOLUSI TEPAT DALAM MEMPERSIAPKAN PERTUNJUKAN ANSAMBEL MUSIK GESEK

Oleh: Dr. R.M. Surtihadi, M.Sn.

ABSTRAK

Tujuan penulisan artikel ini memberikan solusi bagi pemain violin yang akan memainkan viola untuk melengkapi ketiadaan pemain viola dalam sebuah acara pertunjukan musik gesek. Jumlah pemain violin di Indonesia secara umum lebih banyak dibandingkan pemain viola. Instrumen gesek yang terdiri dari violin, viola, cello dan kontrabass merupakan sebuah kelompok string section dalam keluarga instrumen gesek. Bilamana dalam sebuah formasi ansambel gesek tidak lengkap, sudah barangtentu akan terjadi kejanggalan formasi yang akan disajikan. Salah satu cara untuk memecahkan masalah tersebut diambil inisatif beberapa pemain violin disarankan untuk ganti instrumen memainkan viola agar dapat mengisi kekosongan pemain viola. Namun hal ini tidak mudah, karena membutuhkan waktu dan kemampuan pemain violin berdaptasi memainkan viola, baik secara teknis memegang instrumennya maupun teknis membaca notasi viola. Metode yang digunakan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus pada pemain violin. Hasil penelitian ini dapat dilihat keberhasilan pemain viola yang diambilkan dari pemain violin telah mempelajari teknik membaca notasi viola dengan baik sehingga pertunjukan ansambel gesek dapat dilaksanakan dengan lancar. 

Kata kunci: Solusi, Pertunjukan, Ansambel Musik Gesek