Semangat Mencerdaskan Anak Bangsa di Kampung Cina

 Semangat Mencerdaskan Anak Bangsa di Kampung Cina

Murid kelas 2 SD Sinar Kasih sedang belajar dengan guru Rita Eudia (Foto: Istimewa)

JAYAKARTA NEWS“Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia”. (Nelson Mandela)

Apa yang dikatakan Nelson Mandela, pejuang anti-apartheid itu, tentu saja benar dan telah dibuktikannya sendiri. Ia menjadi orang pertama yang mengenyam pendidikan dalam keluarganya. Tidak gampang baginya untuk melalui semua proses itu.

Sebagai tokoh pejuang melawan diskriminasi kulit hitam, Mandela pun terpaksa meringkuk di balik jeruji besi.  Semua perjuangannya ditulis dalam buku yang berjudul “Walk to Freedom”. Ia berhasil menjadi Presiden pertama kulit hitam di Afrika Selatan, 1994-1999, dan membebaskan dunia kulit hitam dari “penjajahan”.

Di pojokan Kota Bogor, tepatnya di Kampung Cina, Tajurhalang,  ada juga tokoh pendidikan bernama Dirk Frans Alfonso Sahetapy yang akrab dipanggil Pak Denny. Memang tidak sebesar Mandela, tapi pria yang mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan itu, juga mempunyai keprihatinan yang dalam akan kebutuhan pendidikan di lingkungan tempat tinggalnya.

Warga  di sekitar tempat tinggalnya  sebagian besar hanya tamat SD, bahkan banyak juga yang tidak tamat. Begitu pun anak-anak mereka, umumnya tidak mendapatkan pendidikan yang layak sejak usia dini. Semua dikarenakan kondisi ekonomi.

Dirk Frans Alfonso Sahetapy atau Pak Denny (paling kiri) bersama para murid Sinar Kasih saat memperingati Hari Guru Nasional (25/11’2022). (Foto: Istimewa)

Menjawab kebutuhan ini, Denny bersama istrinya, Merlita Misseyer, berjuang membangun Sekolah Gratis atau sekolah yang tidak berbayar. 

Sekolah itu diberi nama Sekolah Sinar Kasih. Semua muridnya bebas uang sekolah, bebas uang gedung. Orang tua yang ingin anaknya sekolah tetapi tidak mempunyai dana untuk pendidikan, tidak perlu kuatir untuk menyekolahkan anaknya di Sekolah Sinar Kasih.

Sekali lagi, Dirk Frans Alfonso Sahetapy memang bukan Nelson Mandela.  Tetapi setidaknya, dia telah melakukan bagiannya untuk mencerdaskan segelintir anak bangsa, anak Indonesia.

Dia peduli akan kebutuhan masyarakat di tempat tinggalnya di Kampung Baru atau yang akrab disebut Kampung Cina, RT 01/09, Desa Tajurhalang, Kecamatan Tajurhalang, Kabupaten Bogor, yakni dapat menikmati pendidikan sejak usia dini. 

Dari Pengalaman Sebagai Guru

Diawali pada  2007,  ketika itu Denny mengajar SD di sebuah sekolah swasta, masih di lingkungan tempat tinggalnya. Ia mengajar di kelas 2 SD. Selama menjadi guru SD kelas 2, dari  2007 hingga 2009, dia melihat banyak muridnya belum layak berada di kelas itu. Anak-anak ini ternyata belum siap masuk SD.

“Mereka belum bisa pegang pensil dengan benar, belum bisa membaca dan menulis huruf misalnya, sehingga menimbulkan kesulitan untuk guru-guru SD memberikan pelajaran,” ujar Denny mengenai pengalaman mengajar selama dua tahun di sekolah tersebut.  Mau tidak mau  Denny pun harus mengajar mereka seperti murid TK, mulai dengan cara memegang pensil, bagaimana membaca dan menulis.

Denny saat mengajar Bahasa Inggris di kelas V SD (Foto: Melva Tobing)

Denny prihatin melihat kondisi tersebut. Anak-anak tidak mendapat pendidikan selayaknya di usia mereka. Menurutnya, ini disebabkan faktor orang tua yang belum menganggap  pendidikan di usia dini itu sangat penting.

Bagi Denny, anak-anak harus mempunyai kesempatan belajar mengenal alat tulis dan menggunakannya. Belajar mengenal huruf, belajar merangkai kata. Belajar hitung-hitungan agar mereka siap masuk SD.

Bagaikan tunas yang baru tumbuh, demikianlah dari pengalaman mengajar, terbersit kerinduannya membuka sekolah untuk anak usia dini, yaitu Taman Kanak-kanak. Menurutnya, sekolah ini sangat dibutuhkan bagi anak-anak tetangganya yang tidak mempunyai kesempatan untuk belajar.

Namun untuk membuka sekolah, tentu saja Denny harus memperhitungkan kondisi warga setempat. Denny melihat ada dua kondisi penting yang harus diperhatikan.

Merlita mengajar di kelas IV SD (Foto: Melva Tobing)

Pertama, keadaan mental warga yang  belum menjadikan pendidikan sebagai kebutuhan. Sebagian besar warga hanya tamat SD. Dari 250 warga saat itu, yang kuliah hanya 2 orang dan tamat SMA hanya beberapa. Selebihnya tamat SD dan tidak tamat SD. Pendidikan belum menjadi kebutuhan utama bagi para tetangganya.

Kedua, keadaan ekonomi warga. Pendapatan yang pas-pas-an dari hasil pekerjaan yang kadang tidak menentu. Jika harus keluar biaya sekolah, akan terasa berat. Mereka berpikir, biaya untuk bayar sekolah TK, tentu mahal. Biaya itu lebih baik digunakan untuk membeli makanan ternak peliharaan mereka. Memelihara ternak (babi) menjadi salah satu mata pencaharian warga.

Kesimpulan Denny terhadap kondisi warga setempat, banyak orang tua yang belum menyadari pentingnya pendidikan. Mereka lebih mengutamakan mencari uang untuk memberi makan hewan ternaknya dibandingkan untuk membiayai anak-anak bersekolah. Keadaan ini pun memicu pernikahan dini, banyak anak buta huruf, dan perekonomian penduduk di bawah standar.

Murid SMP Kelas 7, belajar Bahasa Indonesia dengan Ibu Guru Mega (Foto: Melva Tobing)

Dengan kenyataan tersebut, Denny memutuskan sekolah yang akan dibangunnya tidak akan memberatkan warga. Jika banyak sekolah Taman Kanak-kanak berbiaya cukup tinggi,  Denny bertekad membangun sekolah gratis. 

Tunas itu pun berkembang. Tekad sudah bulat, Denny pun mendirikan TK gratis. Ia bertekad, sekolah yang akan dibangunnya harus mampu membuat  warga meringankan langkah mereka membawa anak-anaknya belajar.

Diawali Ruang Belajar yang Disekat-sekat 

Dua belas tahun sudah Denny memberikan pendidikan tanpa berbayar. Dia menjalankan dengan setia bersama istrinya, tentu juga dengan air mata. Namun pengorbanan selama ini telah membuahkan hasil. “Tidak mudah meyakinkan warga agar memberikan anak-anaknya kesempatan mengenyam pendidikan yang layak,” kisah Denny kepada Jayakarta News di Sekolah Sinar Kasih, baru-baru ini.   

Kelas TK A dengan Ibu Guru Lia (Foto: Melva Tobing)

Membuka sekolah gratis dimulai dengan membuat yayasan sebagai ‘payung’nya, yaitu Yayasan Sinar Cahaya Kasih yang selesai pada Juli 2010 dan  Sekolah Sinar Kasih pun resmi berdiri sebagai sekolah gratis atau sekolah tak berbayar.  

Sasaran yang dituju  anak-anak dengan usia masuk tingkat taman Kanak-kanak. “Kami hanya berpikir  anak-anak itu bisa sekolah dan belajar di Taman Kanak-kanak agar mereka siap masuk SD,” tutur Denny.

Sekolah ini pun berjalan dengan motto “Kasih untuk menjangkau dan memajukan sesama umat manusia” dan berharap agar siswa-siswi mempunyai keseimbangan ilmu, iman, dan pengabdian diri kepada Tuhan serta sesama manusia.

“Biarpun tidak berbayar, kami tetap mengacu pada kurikulum dan program pendidikan dari pemerintah,” ujar Denny memberikan keyakinan kalau pendidikan yang dijalankan tidak asal-asalan.

Denny mengawali sekolah gratis dengan tekad bulat. Tanpa gedung, tanpa kelas, tanpa peralatan memadai. Apa adanya saja.

Kelas TK B dengan Ibu Guru Lian (Foto: Melva Tobing)

Denny yang juga seorang Pendeta di Gereja GPII Antiokhia Tajurhalang, Bogor, bersama istri dan kedua anaknya tinggal di ruang belakang gereja. Di gedung gereja yang tidak besar ini para murid TK belajar. Ruang yang digunakan adalah ruang ibadah berukuran 5 meter x 9 meter.

Penggunaan ruangan bergantian untuk ibadah dan sekolah.  Untuk ibadah digunakan pada Sabtu dan Minggu. Sementara untuk sekolah, digunakan Senin sampai Jumat. Jika akan digunakan untuk belajar,  setelah ibadah Minggu, ruangan pun segera diberi sekat-sekat dari papan triplek. Ruangan dibagi menjadi tiga kelas dan digunakan Senin hingga Jumat untuk 52 murid TK, sebagai siswa awal Sekolah Gratis ini. 

Pada Jumat siang, setelah selesai jam pelajaran,  triplek-triplek tersebut dibongkar. Meja dan kursi para murid disusun di belakang ruangan.  Ruangan pun kembali menjadi tempat ibadah gereja.  Begitu seterusnya, dan kondisi ini berjalan hingga 2017.

Membuka SD Hingga SMK

Pada awal sekolah, tenaga pendidik hanya 5 orang. Merlita sendiri terjun sebagai tenaga pendidik dan dibantu empat orang temannya,  Rosdiana Lase, Erlina Hulu, Ibu Aritonang dan Vivi Telaumbanua. Bersama-sama mereka mengajar dan mendidik para siswa TK dan Kelompok Bermain.

Murid kelas V SD dengan Ibu Guru Rosdiana Lase (Foto: Istimewa)

Berjalan hampir satu tahun, sebelum siswa TK lulus, beberapa orang tua murid memohon agar pihak sekolah membuka SD.  Maka pada 2011 Sekolah Sinar Kasih membuka pendidikan selanjutnya, yaitu tingkat SD. Para murid TK yang telah lulus bisa meneruskan pendidikannya di sekolah tersebut.

Setelah berjalan 3 tahun, Denny dan Merlita menyewa  rumah warga di sekitar tempat tinggal mereka untuk proses belajar mengajar murid SD. “Kami menyewa tempat, selain karena tidak dapat menampung siswa yang ada saat itu, juga sebagai salah satu syarat mendapatkan ijin dari pemerintah,” urainya.

Menyewa tempat hanya berlangsung sekitar 2-3 tahun. Setelah itu para siswa kembali belajar di gereja. Tidak hanya tempat ibadah yang digunakan sebagai kelas, juga ruang lainnya, seperti konsistori  yang disekat-sekat pula untuk belajar. Kondisinya sangat memprihatinkan.

Namun dengan semangat Denny dan Merlita terus bergerak maju. Beberapa pihak pun memberikan bantuan agar mereka bisa mengembangkan sekolahnya sehingga Sekolah Sinar Kasih memiliki tempat belajar yang layak.

Pada  2019, SMP Sinar Kasih dibuka dengan jumlah siswa 14 orang.  Kemudian pada 2021, dibuka tingkat SMK jurusan TKJ (Teknik Komputer Jaringan) dengan 8 siswa.

Terhitung sampai saat ini  Sekolah Gratis Sinar Kasih sudah berdiri selama 12 tahun. Unit yang diselenggarakan terus bertambah, dari TK sampai dengan SMK. Jumlah murid saat ini berkisar 150 siswa dari kelompok bermain hingga SMK dengan total guru 29 orang.

Para guru  juga menganut kerja tanpa pamrih, tanpa tendensi “bayaran” karena memang itu bukan tujuan utama. Sejak awal mereka sudah tahu, tidak ada gaji besar di sekolah gratis ini.

Murid SD belajar IT dengan guru Lenny Johana Pattiasina (Foto: Istimewa)

Mereka memberikan pengajaran kepada anak bangsa di tempat ini agar bisa mendapat pendidikan yang layak. Itu hal penting yang ingin dicapai para pendidik di sekolah gratis ini. Mereka berkomitmen mengajar dengan baik, mengabdikan dirinya, mengajar dengan dedikasi tinggi.

Mungkin banyak orang akan tercengang jika melihat berapa setiap bulannya yang mereka dapat. Setiap guru berbeda. Ada yang hanya mendapatkan Rp200 ribu per bulan sebagai pengganti transport. Ada yang mendapatkan Rp 500 ribu dan Rp. 700 ribu. Tidak ada guru yang mendapatkan lebih dari satu juta rupiah setiap bulannya. Namun, semangat dan komitmen para guru jelas terlihat. Dan ini tentu menjadi modal bagi para murid untuk menghargai kesempatan belajar yang diberikan.

Seperti yang dikatakan Yohanes Tarigan, Kepala Sekolah SD di Sekolah Sinar Kasih, para guru bukan hanya berusaha memberikan pendidikan yang baik tapi juga memberikan teladan hidup yang baik. “Dengan harapan suatu hari nanti dari sekolah Sinar Kasih akan muncul orang-orang yang bukan hanya cerdas tapi juga memiliki hati yang baik dan mau berkorban bagi orang lain serta memberikan dampak positif bagi dunia ini,” ujar Yohanes.

Kerinduan Orang Tua

Jumlah murid yang belajar di sekolah ini jelas menggambarkan  kalau pendidikan sudah mulai menjadi bagian penting bagi penduduk Kampung Cina. “Sekarang ini sudah banyak orang tua yang jauh-jauh hari sudah  mendaftarkan anaknya untuk masuk TK Sinar Kasih,” ujar Merlita dengan suara riang.

Pentingnya pendidikan, telah dirasakan Yanih. Ibu berusia 48 tahun ini memasukan putranya, Reyhan, ke Sekolah Sinar Kasih. Kini Reyhan telah duduk di kelas 2 SD. Sementara pendidikan Yanih, tidak tamat SD. Kondisi ekonomi orang tuanya saat dia kecil tidak memungkinkan dirinya menikmati pendidikan.

Yanih berharap anaknya tidak seperti dirinya. “Saya tidak tamat SD. Orang tua nggak ada uang untuk sekolahin saya. Waktu itu,  Kalau kita nggak bisa bayaran di sekolah, kita disuruh pulang. Sekarang, saya berharap anak saya bisa sekolah yang tinggi,” tutur Yanih kepada  Jayakarta News.

Murid juga diajar memberi dukungan untuk Korban Gempa Cianjur (Foto: Istimewa)

Yanih sangat bersyukur dengan adanya sekolah tidak berbayar ini. Dia berharap putranya bisa terus melanjutkan pendidikannya di sekolah ini.  

Begitu juga dengan Herni. Perempuan berusia 44 tahun ini hanya mengenyam pendidikan sampai kelas 4 SD. Namun saat ini dia merasakan bahwa pendidikan sangat perlu bagi anaknya, Julian yang kini kelas 3 SD. “Semoga anak saya bisa terus sekolah, biar lebih baik hidupnya,” harap Herni yang mengakui sangat terbantu dengan sekolah tidak berbayar ini.

Sementara itu, Erce, ibu dengan 11 anak ini juga memasukan dua anaknya sekolah di Sinar Kasih. Perempuan yang berusia 47 tahun ini pun tidak sempat mengenyam pendidikan. “Saya cuma kelas 6 SD, nggak tamat,” ujar Erce.

Diakui Erce, tidak semua anaknya mau ke sekolah. Hanya anak ke-9 dan ke-10 yang ingin sekolah. Kedua anak Erce yang sekolah di Sinar Kasih kini telah duduk di kelas 7 (1 SMP) dan kelas 2 SD.  Erce merasa sangat terbantu dengan adanya sekolah tidak berbayar ini. 

“Saya jadi bisa sekolahin anak saya. Biar pun cuma dua orang yang mau sekolah, tapi saya senang sekali. Semoga mereka bisa sekolah yang tinggi, jangan seperti saya,” ujar Erce perlahan dengan mata berkaca-kaca.

Tantangan dan Harapan

Menjalankan sekolah tidak berbayar, tentu bukan hal mudah. Banyak tantangan yang dihadapi. Baik mengenai perijinan yaitu Perijinan Lingkungan dan Perijinan Operasional Sekolah.

Perjuangan mendapatkan ijin pun berhasil. TK mendapatkan ijin operasional pada 2015 dan SD mendapatkan ijin operasional di tahun 2019. “Yang paling menggembirakan, pada September 2021, SD Sinar Kasih mendapatkan ijin Operasional dengan Akreditasi B. Ini tentu suatu prestasi yang membanggakan,” ujar Denny lagi.   

Para guru dan murid SMP Sinar Kasih (Foto: Istimewa)

Kondisi keuangan pun menjadi tantangan lainnya. Namun, ketetapan langkah Denny membuka sekolah gratis ini, disambut beberapa pihak yang juga memberi perhatian untuk pendidikan. Beberapa pihak memberikan bantuan untuk sekolah ini. Saat ini sudah ada gedung sekolah yang menampung semua murid.

Keberadaan sekolah ini memang patut diapresiasi. Ia hadir dengan bersahaja, di tengah dunia pendidikan (utamanya swasta) yang berlomba-lomba membesarkan nama, membangun gedung dan ruang kelas ber-AC, mengincar murid berprestasi, serta menyasar kaum the have.

Di tengah kesederhanaannya, sekolah ini fokus pada lingkungan. Berpikir dan bekerja untuk membangun SDM di sekitar untuk memahami makna pentingnya pendidikan. Membangun jati diri dan membangun karakter bangsa. 

Merlita dan Denny, membangun dalam kesederhanaan (Foto: Istimewa)

Melalui sekolah tidak berbayar ini, Sekolah Sinar Kasih di Kampung Cina Tajurhalang, Bogor, akan muncul orang-orang baik yang berdedikasi membangun lingkungannya, membangun negara dan bangsanya melalui pendidikan yang berpihak kepada rakyat miskin. Sebagaimana yang telah dilakukan Denny dan Merlita.***(Melva Tobing)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.