Massa Kontra Semen, Gunakan Mushola untuk Selfie

 Massa Kontra Semen, Gunakan Mushola untuk Selfie

HARI ini, beredar pemberitaan tentang kasus pembakaran mushola di komplek pabrik Semen Rembang, Kecamatan Bulu. Berita yang disebar oleh pihak yang kontra atas pembangunan paabrik semen milik BUMN itu, cenderung menyesatkan dan provokatif. Selain tidak sesuai kondisi di lapangan, mereka seperti tidak pernah berkaca diri.

Triningsih, warga setempat yang selama ini dikenal pro pabrik semen, justru menyoal kejadian tahun 2014, saat massa kontra mengobrak-abrik dan membubarkan acara istighosah yang diadakan masyarakat pro pabrik semen. “Rekaman video masih ada. Orang-orang atau pelakunya masih hidup dan tampak dalam video itu. Tindakan mereka jauh lebih parah,” tegasnya.

Dikatakan lebih parah, mengingat yang dikabakan terjadi pembakaran mushola, sungguh-sungguh kebohongan yang membayakan persatuan umat Islam di Rembang. Yang sebenarnya terjadi, dan itu juga disaksikan oleh lima orang warta kontra yang ada di lokasi, adalah aksi perobohan tenda oleh massa pro, didahului pembongkaran blokade jalan, yang dilakukan massa kontra.

Urut-urutannya, massa membongkar blokade jalan. Kemudian mereka bersepakat bersama-sama membongkar tenda pro semen, dilanjutkan merobohkan tenda kontra, dengan maksud supaya ke depan tidak ada lagi sarana provokasi dari pihak luar. Nah, tak jauh dari tenda kontra, dibangun bangunan dari kayu yang dinamakan mushola.

Di dalamnya diisi mukena, sarung, peci, dan kitab suci Alquran. Triningsih bersaksi, bahwa tempat itu hanya sekali dipakai sholat, yang itu pun untuk tujuan selfie. Setelah itu, bangunan yang jauh dari layak untuk disebut mushola itu, tidak pernah sekalipun dipakai untuk beribadah warga kontra yang ada di tenda. Jadi, “mushola” itu hanya untuk selfie dan kebutuhan menyebar informasi menyesatkan ke media sosial. Tidak ada aktivitias sholat berjamaah, pengajian, dan lainnya.

Triningsih bahkan lebih jauh menyoal perilaku mereka yang cenderung manjuah dari kehidupan yang islami. Ibu-ibu yang dulu berhijab, sekarang melepas jilbab dan setiap ikut demo, mengenakan caping, kebaya, dan kain khas arahan massa binaan aktivis antek asing, Gunretno.

Nah, bangunan itu memang termasuk yang dirobhkan massa. Akan tetapi, segenap isi di dalamnya, berupa mukena, sarung, peci, sajadah, telah diamankan terlebih dahulu dan disimpan di pos security. Warga tolak semen pun turut menyaksikan perobohan itu. Yang mengherankan, mengapa kemudian yang muncul di pemberitaan versi mereka adalah “terjadi pembakaran mushola di pabrik semen Rembang?” Sungguh sebuah pemutarbalikan fakta yang menyesatkan dan membahayakan kesatuan umat beragama.

Para aktivis pimpinan Gunretno yang baru pulang dari Singapura jumpamkap. Kebathilan tidak akan bisa mengalahkan kebenaran,” ujar Tri. ***e

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *