Mahasiswa Kampus Mengajar Dampingi Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah Inklusi 

 Mahasiswa Kampus Mengajar Dampingi Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah Inklusi 

Mahasiswa bertugas di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kemayoran 13 Pagi, Jakarta Pusat dalam Pelaksanaan Program Kampus Mengajar angkatan 4 (Kemendikbud)

JAYAKARTA NEWS – Pelaksanaan program Kampus Mengajar angkatan 4 yang sudah selesai masa penugasannya banyak meninggalkan jejak dan cerita baik di berbagai sekolah sasaran, termasuk di antaranya adalah mahasiswa yang bertugas di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kemayoran 13 Pagi, Jakarta Pusat.

Penugasan di SDN Kemayoran 13 Pagi yang juga merupakan sekolah inklusi adalah salah satu wujud nyata keterlibatan mahasiswa Kampus Mengajar dalam upaya memberikan pemerataan pendidikan kepada peserta didik yang merupakan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Di sekolah ini terdapat sekitar 10 siswa ABK yang ikut dalam proses pembelajaran sehari-hari. Demikian dikutip dari Laman Kemendikbud, Senin (12/12).

“Di sekolah kami, sejak awal memang tidak ada kelas khusus atau bimbingan khusus untuk para peserta didik ABK. Namun, kami selalu menitipkan pesan kepada setiap guru di kelas agar bisa memahami kebutuhan khusus mereka sambil memberikan perhatian khusus agar peserta didik tersebut bisa terus mengikuti pembelajaran,” ujar Vera Meyliana, Wakil Kepala Sekolah SDN Kemayoran 13 Pagi, yang juga merupakan guru pamong bagi mahasiswa peserta Kampus Mengajar.

Vera bercerita, rata-rata peserta didik yang merupakan ABK adalah anak-anak yang mengalami keterlambatan belajar dengan kemampuan Intelligence Quotient (IQ) yang rendah. Keterbatasan tenaga pendidik serta belum adanya pemahaman yang cukup mengenai teknis pengajaran khusus yang bisa membantu pembelajaran murid ABK juga menjadi salah satu kendala yang dialami oleh sekolah.

Kehadiran mahasiswa Kampus Mengajar angkatan keempat yang mulai bertugas sejak Agustus lalu menjadi angin segar bagi pelaksanaan pembelajaran di sekolah tersebut, terutama pada aspek pendampingan khusus bagi murid yang berkebutuhan khusus. Melalui konsultasi dengan guru dan orang tua murid, para mahasiswa kemudian mengadakan program kelas tambahan yang dikhususkan bagi para peserta didik yang berkebutuhan khusus.

“Para mahasiswa meminta izin untuk melaksanakan kelas tambahan demi memberikan pendampingan khusus bagi murid ABK. Kami kemudian memberikan izin kepada mereka untuk mengadakan kelas tambahan ketika jam sekolah sudah selesai,” cerita Vera.

Tidak hanya memberikan kelas khusus, mahasiswa Kampus Mengajar juga berinisiatif membuat media pembelajaran kreatif untuk mendukung proses pembelajaran. Dengan metode yang lebih segar dan kreatif, kehadiran mahasiswa di sekolah disambut dengan penuh sukacita baik oleh para murid, guru, hingga orang tua murid. Sambutan yang hangat ini juga diamini oleh Tegar Ananda Pradana, ketua kelompok mahasiswa program Kampus Mengajar yang bertugas di SDN Kemayoran 13 Pagi.

“Alhamdulillah kami mendapatkan sambutan yang sangat hangat dari guru, murid, dan orang tua murid. Kami juga berdiskusi erat dengan guru dan kepala sekolah untuk seluruh program yang kami jalankan. Semoga program ini bisa berdampak dan meningkatkan kemampuan literasi numerasi seluruh murid, khususnya murid yang berkebutuhan khusus,” ungkap Tegar.

Pada saat yang bersamaan, Tegar dan kawan-kawannya juga merasakan manfaat mengikuti program Kampus Mengajar dalam hal mengasah kemampuan soft skills mereka, termasuk kemampuan komunikasi, cara berpikir analitis, serta pemecahan masalah. Menuju akhir dari periode penugasan Kampus Mengajar angkatan 4, Tegar dan kawan-kawan berharap kehadiran mereka bisa meninggalkan jejak baik bagi sekolah.

Sejak diluncurkan pada tahun 2020, program Kampus Mengajar telah berhasil menugaskan lebih dari 70.000 mahasiswa menjadi mitra guru dalam upaya mengakselerasi peningkatan kemampuan literasi dan numerasi di lebih dari 13.700 SD dan SMP yang tersebar di seluruh Indonesia.***/uli

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.