Dua Deputi, Satu Hati

 Dua Deputi, Satu Hati

Pelantikan Dr Raditya Jati, S.Si, M.Si dan yang kedua, Jarwansyah, S.Pd, M.A.P, M.M. oleh Kepala BNPB Letjen TNI Ganip Warsito SE., MM di Gedung Serbaguna Sutopo Purwo Nugroho, Graha BNPB, Kamis (10/6)— foto BNPB

JAYAKARTA NEWS – Dua nama ini terkukuhkan menjadi sosok penting di lingkungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Yang pertama adalah Dr Raditya Jati, S.Si, M.Si dan yang kedua, Jarwansyah, S.Pd, M.A.P, M.M.

Mereka menjadi pejabat teras BNPB setelah Presiden Joko Widodo menandatangani Surat Keputusan untuk menduduki jabatan eselon 1.

Raditya Jati diberhentikan dari jabatan Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) dan diangkat menjabat Deputi Bidang Sistem dan Strategi. Sedangkan Jarwansyah, diberhentikan dari jabatan sebelumnya Direktur Dukungan Sumber Daya Darurat, dan diangkat menjadi Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi.

Keduanya dilantik oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Ganip Warsito SE., MM., di Gedung Serbaguna Sutopo Purwo Nugroho, Graha BNPB, Kamis (10/6).

Foto BNPB

“Selamat bertugas dan mengemban amanah di tempat yang baru. Kerja keras saudara sangat menentukan BNPB yang lebih berprestasi ke depannya,” ujar Ganip dalam upacara pelantikan dan pengambilan sumpah yang dilakukan dengan memperhatikan protokol kesehatan.

Radit dan Filosofi Semar

Raditya Jati adalah pria kelahiran Yogyakarta, 8 Oktober 1969. Setahun setelah lulus Fakultas Geografi UGM tahun 1995, Radit memantapkan hati menjadi abdi negara sebagai Pegawai Negeri Sipil di lingkungan BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) saat Kepala BBPT dijabat Prof Dr Ing BJ Habibie.

Tahun 1996 – 2014 Radit malang melintang di berbagai penugasan dan jabatan di BPPT, hingga posisi terakhir sebagai Wakil Manager NEONET (Nusantara Earth Observation Network)-BPPT. Tahun 2014 sekaligus penanda masuknya Radit ke lingkungan keluarga besar BNPB dengan penugasan pertamanya sebagai Kepala Sub Direktorat Pencegahan di lingkungan Direktorat PRB (Pengurangan Risiko Bencana).

Sebagai “priyayi” Yogya, Radit kental dengan tradisi dan budaya Jawa. Salah satu contoh adalah kekagumannya terhadap tokoh pewayangan yang bernama Semar. Dalam dunia “pakeliran” wayang Jawa, Semar digambarkan sebagai “dewa yang mewujud menjadi makhluk jelata”. Sebagai Dewa, ia berjuluk Batara Ismaya, lalu turun menjadi punokawan dengan nama Semar.

Wujudnya digambarkan sebagai lelaki tua dengan perut yang besar, rambut putih. Tidak proporsional sebagai manusia. Akan tetapi, ia adalah sosok yang berbudi luhur. Pengetahuannya tentang hakikat dunia mikro dan makro, menjadikan Semar sebagai sumber “piwulang” (ajaran), utamanya tentang kebaikan.

Karakter yang lurus, menempatkan Semar tidak segan mengoreksi para “bendara” atau majikannya, yakni para ksatria Pandawa, manakala mereka melenceng. Jangankan Lima ksatria Pandawa, Semar dalam beberapa lakon, juga tak segan naik ke Kahyangan tempat pada dewa bertahta dan melabrak para dewa ketika dewa-dewa berbuat salah.

“Ada banyak tokoh, tapi memang tokoh Semar yang paling saya sukai,” ujar Radit, saat akhir Mei lalu menyaksikan pembukaan pameran “Semar Ngruwat Jagad” karya pelukis Sohieb Toyaroja, di galeri Kunstkring, Menteng, Jakarta Pusat.

Selain semua nilai kebaikan yang melekat pada sosok Semar, Radit juga menilai bahwa Semar pun menebar ajaran yang bersifat everlasting, masih kontekstual hingga hari ini. Ia menyebut contoh karakter kepemimpinan “hasta brata”.

Foto BNPB

“Panjang jika diuraikan, tapi intinya adalah ajaran kepemimpinan yang menyerap delapan (hasta) unsur alam, seperti bumi, matahari, api, samudera, langit, angin, bulan, dan bintang. Masing-masing terdapat makna yang dalam,” ujar doktor ilmu lingkungan UGM – Sandwich Fakultas Geography and Planning, Utrecth University (2012) itu.

Satu-satunya dari Alas

Kisah Jarwansyah tak kalah unik. Untuk diketahui, lelaki kelahiran Banda Aceh 30 Agustus 1970 itu, kecil dan tumbuh besar di Kampung Alas, Aceh Tenggara. Orang Alas biasa disebut “kute”. Tak pelak, Jarwansyah adalah kute pertama yang berhasil menduduki jabatan eselon 1.

“Ya, sepertinya begitu. Setahu saya ya baru saya yang bisa sampai jabatan ini. Semoga ini menjadi inspirasi bagi warga Alas untuk lebih semangat mengabdi dan mengejar prestasi,” ujar Jarwansyah, suatu hari.

Foto BNPB

Lika-liku perjalanan sebagai ASN, dilalui Jarwansyah dengan zig-zag. Bayangkan, ia tercatat pertama-tama menjadi PNS sebagai seorang guru tahun 2001. Karenanya, NIP-nya adalah NIP Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang Kemendikbud). Tugas pertamanya adalah sebagai guru SMEAN di Aceh Tenggara.

Profesi guru, paralel dengan ijazah S-1-nya sebagai lulusan FKIP Universitas Syiah Kuala Banda Aceh jurusan Dunia Usaha Akuntansi. Tak lama menjalani profesi “Oemar Bakrie”, Jarwan ditarik ke Pemda Aceh Tenggara dan memuncaki karier sebagai Kepala Bappeda tahun 2007 sampai 2012.

Tidak berhenti sampai di situ, Jarwansyah mutasi ke Pemprov Nanggroe Aceh Darussalam akhir tahun 2012, dengan posisi sebagai Kepala Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA). Dalam bahasa lain, bisa saja kita sebut sejatinya Jarwansyah pernah menjabat “Kepala BNPB kecil” (tingkat provinsi).

Tupoksi yang ia jalankan, antara lain melaksanakan penanggulangan bencana secara terintegrasi, meliputi pra, saat tanggap darurat dan pasca bencana. Selain, melaksankan koordinasi komando pelaksanaan penanggulangan bencana, koordinasi perumusan kebijakan dan program bidang pencegahan dan kesiapsiagaan, peralatan dan lotistik, serta rehabilitasi dan rekonstruksi.

Lalu pada tahun 2014, menjadi tahun bersejarah, ketika Jarwansyah mendapat tawaran pindah ke BNPB Pusat, dengan posisi Kepala Subdit Bantuan Kesehatan dan Air Bersih. “Kantor BNPB masih di Jalan Juanda. Ruang kerja saya atapnya bolong-bolong,” katanya mengenang kesan pertama menjadi pejabat di “Pusat”.

Dua-puluh tahun berkarier di BNPB, kariernya terus berkembang, dan melejit saat kepemimpinan Kepala BNPB, Letjen TNI Doni Monardo. Ia pernah mendapat tugas komandan tanggap darurat bencana gempa bumi tektonik di Bener Meriah dan Aceh Tengah tahun 2013 dan sederet tugas dalam menangani bencana nasional maupun daerah lainnya di tanah air.

Dua profil singkat pejabat BNPB yang baru saja dilantik, menyiratkan semangat kerja tekun dan kerja keras. Lebih dari segalanya, kerja dari hati. Sinergi hati dua deputi yang baru, niscaya akan memperkokoh BNPB. Selamat!*** (egy dan roso)

Digiqole ad

Related post

1 Comment

  • Saya sangat senang klo bpk Doni monardo diangkat sebagai komisaris di lingkungan pak Erick thohir..tq

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *