Desa Jimbung, Jadi Lumbung Padi Indonesia

 Desa Jimbung, Jadi Lumbung Padi Indonesia
Para petani Desa Jimbung sedang menanam padi. (foto: teguh)

Jayakarta News – Banyak petani yang memutuskan berhenti jadi petani. Alasannya sederhana. Hasil panen pertanian tidak bisa menutup biaya produksi pertanian. Bahkan bukan tidak mungkin banyak yang mengalami kebangkrutan. Seperti petani bawang, saat musim tanam,  harga bawang melambung tinggi. Giliran pas panen harga bawang jatuh. Konon karena banjirnya impor bawang dan jenis sayuran yang lain.

Fakta di lapangan, hasil panen jauh lebih rendah dari biaya produksi. Tak heran kalau banyak petani yang bangkrut. Sementara kehidupan harus berlanjut. Sehingga banyak yang hijrah ke Jakarta dan alih profesi menjadi sopir taksi atau ojek online.

Hingga kini sulit mencari model desa pertanian yang ideal. Layak menjadi rujukan. Kecuali salah satu desa di Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Desa itu adalah Desa Jimbung, Kecamatan Kalikotes, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Desa Jimbung salah satu desa pertanian yang  paling sukses di Indonesia. Dalam setahun, desa Jimbung menghasilkan sedikitnya panen padi rata-rata 8.880 ton dari 222 hektare sawah.

”Luas lahan sawah di desa Jimbung seluas 222 hektar ditambah 12 hektar yang tidak produktif. Yang 12 hektar itu menjadi tidak produktif gara gara gempa Yogya tahun 2006.  Keduabelas hektare itu selalu terendam air sehingga tidak memungkinkan untuk ditanam padi,” ungkap Soleman Ketua Gabungan Kelompok Tani (GAPOTAN) desa Jimbung, Senin (3/9).

Seorang juru kamera sedang mengabadikan kisah sukses pertanian Jimbung. (foto: ist)
Soleman, Ketua Gapoktan Jimbung. (foto: teguh)

Menurut pria kelahiran tahun 1955 itu, sukses pertanian itu berkat sistem pertanian berpindah, dari sistem kovensional ke sistem pertanian modern. Hampir seluruh petani di desa Jimbung telah  menggunakan perlatan tani modern seperti traktor roda dua, traktor roda empat, pompa air untuk irigasi dan mesin penanam. Ketersediaan alat – alat pertanian modern berkat adanya UPJA ( Unit Pelayanan Jasa Alsintan) yang memberikan bantuan kepada ketua kelompok tani di desa Jimbung.

“Dengan menggunakan traktor membajak sawah cukup butuh waktu 2 jam untuk setiap patok. Setiap patok luasnya sekitar 2.000 meter persegi. Pendeknya dalam sehari satu hektare sawah sudah siap untuk ditanam bibit padi. Dulu kalau menggunakan kerbau bisa seminggu,” ungkap Soleman yang juga merangkap sebagai Ketua RW 19 desa Jimbung.

Keberadaan UPJA sangat membantu petani untuk mendapatkan alat-alat pertanian. Para kelompok tani hanya membuat proposal lalu ditujukan kepada Ketua UPJA. Nantinya pihak UPJA yang akan memperjuangkan bantuan alat pertanian tersebut dari Dinas Pertanian.

“Jadi saya bikin proposal. Nanti ditujukan kepada pihak UPJA. Dulu melalui Penyuluh Pertanian Lapangan. Kalau beli traktor sendiri sekitar 15 juta. Nanti penggunaan bantuan traktor itu diatur, ” tutur Soleman.

Berkat UPJA sistem pertanian di Jimbung  berubah menjadi sistem pertanian modern. Berkat alat alat yang modern juga setahun bisa panen padi setahun tiga kali. Dengan hasil setiap hektar minimal 9 ton/ hektare dan maksimal 11 ton/hektare.

“Memang biaya produksi masih cukup tinggi. Sampai panen biaya yang dikeluarkan untuk satu hektar sebesar Rp 8 juta. Sementara harga jual gabah kering panen Rp 4200. Dirata-ratakan setiap petani yang mempunyai sawah satu hektar mendapat penghasila  Rp 30 juta tiap tiga bulan. Atau Rp 10 juta aetiap bulan, papar Soleman.

Soleman dan keluarga. (ist)

Panorama Indah

Kelebihan lain desa Jimbung, selain mempunyai persawahan yang subur juga mempunyai pemandangan indah. Desa Jimbung mempunyai bukit Patrum yang sangat indah. Juga ada hamparan rawa yang lebih menyerupai danau. Sayang dari sektor ini belum dikelola secara maksimal. Ke depan dengan keberhasilan di bidang pertanian akan sanggup mendongkrak industri pariwisata.

Selain itu hamparan sawah yang hijau ada juga sawah yang menguning siap dipanen salah satu pemandangan yang menetramkan. “Untuk padi yang ditanam di desa ini seperti padi jenis Pandan wangi, Rojo Lele dan Mentik Wangi, ” ujar Soleman.

Bagi siapa saja yang menyukai petualangan berkunjung ke desa Jimbung bisa menjadi salah satu pilihan yang menarik. (teguh)

Panorama Bukit Potrum, tak jauh dari Desa Jimbung. (foto: teguh)
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *