Chew Kin Wah Abdullah, Aktor M’sia yang Laris Bermain Film di Indonesia

 Chew Kin Wah Abdullah, Aktor M’sia yang Laris Bermain Film di Indonesia

 

 

 

DIA berwarganegara Malaysia, tapi belakangan laris mencari pundi-pundi di Indonesia. Chew Kin Wah Abdullah, tidak hanya bermain film saja, namun dia juga mengukir prestasi di ajang Festival Film di Republik ini. Dari Festival Film Tempo hingga terakhir FF Piala Maya, yang baru saja usai digelar di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta.

“Assalammualaikum…terima kaseh…saya sudah dikenalkan dengan keelokan alam Sumba oleh sutradara Ernest Prakasa,” kata Kin Wah membuka pidatonya setelah menerima tropi penghargaan sebagai Aktor Pendukung Terbaik di FF Piala Maya, belum lama ini.

Dia diganjar penghargaan atas seni perannya yang sangat baik di film ‘Cek Toko Sebelah’ yang disutradarai Ernest Prakasa.

Sebagai mualaf, dia termasuk orang yang ramah dan berendah hati. Meski lebih fasih bercakap-cakap dalam bahasa Inggris, Kin Wah belakangan mulai berani berbahasa Indonesia campur bahasa Melayu.
Dia tahu, mayoritas masyarakat Indonesia beragama Islam. Makanya, dia merasakan Indonesia seperti ‘rumah ke dua’ bagi dirinya dan tidak ada sekat lagi karena dimana saja, di lokasi syuting apa pun, Kin Wah diterima baik. Disela-sela kepadatannya syuting film, dia menyempatkan diri beribadah.

“Saya ada keluarga di sini, di Sumba, di Indonesia. Juga malam ini, di Piala Maya, semua anak-anak saya, Dari Ernest Prakasa, Dion Wiyoko sampai pemain komika lain hingga kru film. So, semua keluarga saya di Indonesia,” ungkap Kin Wah yang berdialek bahasa Melayu campur bahasa Inggris.

Malam usai menerima penghargaan Piala Maya di Jakarta, Kin Wah harus balik ke Kuala Lumpur, Malaysia, esok harinya. “Saya dah cukup lama syuting di Jakarta, hampir 2 minggu. Tajuk filmnya ‘Dim Sum’. Saya dah kangen sama keluarga saya di Malaysia,” ucap Kin Wah yang juga bermain elok di film ‘My Stupid Boss’ produksi Indonesia yang seluruh syutingnya di Malaysia.

Dalam film ‘Cek Toko Sebelah’, Kin Wah berperan sebagai koh Afuk, pria keturunan Tionghoa yang berusia sekitar 60 tahun. Koh Afuk memiliki toko kelontong yang sangat laris dan berharap tokonya kelak dilanjutkan anaknya, Erwin (Ernest Prakasa).

Cerita Koh Afuh skenarionya ditulis Ernest Prakasa dan Jenny Jusuf berdasarkan realitas etnis Tionghoa di Indonesia.

“Cek Toko Sebelah ceritanya sederhana tapi kaya makna. Keluarga adalah pesan utamanya. The family unit itu penting sekali. Menghidupi keluarga dan hidup jujur adalah falsafah orang-orang etnis Tionghoa di Indonesia. Di Malaysia, Singapura dan di negara mana pun, sama saja, walau dalam bentuk berbeda.” papar Kin Wah yang mempelajari gestur tubuh dan cara gerak engkoh-engkoh pemilik toko kelontong.
Pantaslah, Kin Wah memperoleh penghargaan dari FF Piala Maya 2017.

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *