Akshaya Hotel Karawang Tawarkan New Year Eve 2020 – Black Glamour

Jayakarta News – Sambut tahun baru, Hotel Akshaya Karawang menyiapkan acara spesial “New Year Eve 2020 – Black Glamour”. Acara yang diselenggarkan di Poolside Akshaya Hotel, dimulai pukul 18.30 WIB, Selasa (31/12/2019).

Penawaran itu menjadi menarik karena berbeda dengan kebanyakan hotel yang menaikkan tarifnya di acara malam tahun baru, hotel Akshaya justru memberi harga spesial. Misal, untuk superior dari harga Rp 900 ribu menjadi Rp 788 ribu.

Sedangkan, kamar type Deluxe dari Rp 1 juta menjadi Rp 888 ribu. Sementara kamar favorit Deluxe Pool Room, dari harga Rp 1,2 juta menjadi Rp 988 ribu. Sayang, saat berita ini dirilis, tipe kamar ini sudah “sold”.

Harga spesial tersebut sudah termasuk fasilitas menginap satu malam berikut sarapan pagi untuk dua orang. Di samping, berbagai pernak hiburan dan kebutuhan merayakan pergantian tahun. Misal, makan malam BBQ untuk dua orang, kesempatan memenangkan doorprize, serta menikmati live music dari Oreokustik serta Live DJ Mytha Vee & Frvme.

Jika Anda tertarik, silakan ajak keluarga, sahabat, teman atau orang-orang terkasih menikmati kemeriahan menyambut Tahun Baru 2020 di Akshaya Hotel Karawang. (*)

Snowbay Waterpark Punya Cara Mudah Berlibur Sesuai Budget

Jayakarta News – Menghadapi musim libur kali ini, sepertinya kita sudah harus mempunyai “plan” untuk menentukan kemana kita harus “refreshing” bersama keluarga dan orang tercinta. Berlibur sejenak dan keluar dari zona kesibukan yang sudah kita hadapi sepanjang tahun.

Namun sering terjadi masalah pada kita ketika budget yang kita punya ternyata tidak mencukupi atau bahkan tidak sesuai untuk dapat mengakomodir plan liburan seperti apa yang kita idamkan. Jangankan keluar kota, liburan di tempat yang dekat saja seakan dapat menghabiskan seluruh bonus akhir tahun anda.

Untuk itu Snowbay Waterpark punya solusinya!!!. Anda tidak perlu lagi pusing dan banyak menggesek kartu kredit anda untuk dapat menikmati liburan bersama keluarga anda. Datang saja langsung ke Snowbay Waterpark di Taman Mini Indonesia Indah.

Liburan kali ini Snowbay Waterpark mengusung tema “JOY OF SNOWY HOLIDAYS” dimana musim liburan ini kami punya banyak sekali agenda acara diantaranya: Live music & performance dari SB MUSIC, Duo Tabiel (Tata Gabriel), Etnic Dnacer dari Sanggar NY Edutainment, Live Perkusi dari RAKUSI SMUN 1 Tambun, Lifeguard Attraction, Santa & Mascot Parade, Games seru dan bagi-bagi banyak hadiah tentunya.

Dan jangan lupa Snowbay Waterpark juga kini punya wahana baru yang seru abis untuk berwisata air seperti: Snowbay Kids Pool, sebuah kolam renang anak yang di design sesuai dengan imajinasi dan kreativitas bermain anak, The Cruise, sebuah kolam renang dengan sensasi kedalaman yang diperuntukkan bagi orang dewasa, Sirius Hall, sebuah entertainment hall yang menjadi pusat pertunjukan indoor di Snowbay Waterpark, Hurricane, Tube Coaster, Flush Bowl, Wave Pool, Thypoon River, dan masih banyak lagi.

Semuanya dapat anda nikmati selama musim liburan yaitu dari tanggal 20 Desember 2019 sampai dengan 5 Januari 2020 mendatang. Selain itu juga anda akan dimanjakan dengan banyaknya promo dan diskon akhir tahun untuk pembelian tiket masuk dan penyewaan seluruh fasilitas yang ada di Snowbay Wayerpark. Dan yang tidak kalah menarik lainnya adalah, Snowbay akan bagi-bagi banyak Giftaway berupa tiket masuk Snowbay gratis, Voucher Hotel, Voucher Resto, Merchandise menarik dari Snowbay dan masih banyak lagi hadiah lainnya.

Jadi gak ada lagi istilah “budget gak cukup dan kehabisan uang” pada liburan kali ini. Datang aja langsung ke Snowbay Waterpark dan manjakan keluarga anda dengan liburan yang terjangkau dan menyenangkan. (*/mel)

Wisata Oksigen di Boon Pring

Jayakarta News – Bagi mereka yang ingin menikmati suasana sejuk di daerah pedesaan, datang saja ke Boon Pring, sebuah tempat kawasan wisata edukatif yang terletak di Desa Sanankerto, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Hawanya sejuk dan bersih, karena memang terletak di perbukitan kawasan Turen, paling ujung.

Dulu namanya Andeman dan menjadi singgahan orang-orang menengah termasuk pada zaman Belanda. Selain suasana yang sejuk di kiri kanan sampai ke atas banyak ditumbuhi tanaman bambu (orang jawa menyebut pring), kondisinya juga cukup aman.

Desa wisata, Boon Pring, yang terletak di kampung anyar ini terus berbenah diri untuk menjadikannya tempat wisata unggulan, yang tidak kalah dengan tempat wisata lain. Pengelola dalam hal ini Badan Usaha Desa (Bundes) mencoba memberikan sentuhan-sentuhan agar wisatawan yang datang krasan dan akan datang kembali untuk menikmati suasananya.

Tempatnya dingin, sejuk dan asri serta masih “perawan” sehingga menyenangkan para pengunjung yang datang ke tempat tersebut. Banyak wahana yang bisa dinikmati dan oleh pengelola dibagi menjadi 3 bagian, yakni wahana modern, wahana pendidikan, dan hutan bambu.

Bagi wisatawan, juga disediakan gazebo-gazebo untuk menikmati indahnya pemandangan serta sejuknya suasana. (foto: poedji)

Menurut Jamaludin, mewakili Kades Sanankerto Subur SE, di Boon Pring masih kaya oksigen dibandingkan tempat lain yang sudah penuh dengan polusi. “Ini suguhan kami kepada bapak dan ibu yakni oksigen,” katanya saat memberikan sambutan dihadapan para pengunjung termasuk koresponden Jayakarta News, Kamis (28/11).

Luas boon pring ini sekitar 36,8 hektare dan penuh dengan tanaman bambu. “Kami beruntung mematuhi pesan dari kakek buyut yang mengatakan agar masyarakat peduli lingkungan sehingga sampai kini masih bisa dipertahankan dan tidak rusak,” tuturnya.

Di lokasi ini pula ada 5 mata air di mana 2 di antaranya cukup unik. Yang pertama mata air akan mati manakala datang musim penghujan dan sebaliknya mengeluarkan air jika musim kemarau datang. Kedua adalah mata air yang menurut keyakinan kalau dibasuhkan ke muka maka yang bersangkutan kelihatan tambah muda.

Ditambahkan pula, saat ini boon pring yang dikelola oleh badan usaha milik desa (Bundes) ini mempunyai 65 spesifik bambu. Namun setelah didatangkan ahli untuk melihatnya justru jumlahnya ada 72 jenis.

Pihaknya kini bekerja sama dengan dinas-dinas terkait agar tanaman bambu itu tetap lestari. Bahkan ada beberapa instansi yang menyumbang spesifik lain yang nantinya akan bertambah banyak.

Untuk itulah pihaknya merencanakan akan memperkenalkan boon pring menjadi museum tanaman bambu satu-satunya di Indonesia dengan catatan sudah memiliki lebih dari 100 spesifik tanaman bambu.

Begitu tiba di lokasi maka aka ada tulisan besar “Boon Pring” dengan latar belakang telaga yang menyediakan berbagai kendaraan air seperti sepeda air, bebek air dan perahu. Sementara di sebelah kiri ada kolam renang anak-anak.

Kemudian kita bisa menyusuri melalui jalur kanan yang di tepinya ada puluhan bedak-bedak yang menjajakan makanan dan minuman serta souvenir khas Malang. Mereka adalah para pedagang binaan yang sudah terdaftar di bawah manajemen pengelola.

Di objek wisata Boon Pring ini juga disediakan Kawasan Pasar Rayat, yang antara lain menjual aneka oleh-oleh khas Malang. (foto: poedji)

Kalau kita turun ke sebelah kiri ada tempat singgah berupa gazebo-gazebo dan juga ada taman-taman indah dengan tanaman hias di sekelilingnya. Pengelola juga memelihara puluhan burung merpati yang “lucu” bercengkerama sembari mencari makan.

Sementara itu di kolam juga ada ikan-ikan yang terlihat jelas berenang kesana kemari. Kalau pengunjung ingin lebih jelas lagi bisa membeli makanan di bedak-bedak tempat menjual makanan minuman.

Dengan makanan ikan tersebut pengunjung bisa bercengkerama dengan ikan-ikan itu dengan menebarkan makanan ke tengah kolam. Akan terlihat ikan-ikan berpacu dengan teman-temannya untuk merebut makanan yang dilempar tadi.

Harga tiket di sana juga tidak terlalu mahal karena panitia telah menetapkan Rp 10 ribu untuk dewasa dan Rp 5 ribu untuk anak-anak. Tapi kalau bermain dengan fasilitas yang disediakan pengelola yakni naik bebek air misalnya harus membeli tiket lagi.

Jumlah pengunjung cukup banyak terutama pada hari Minggu atau hari besar lainnya. Kebanyakan yang datang di tempat ini secara rombongan. (poedji)

Di salah satu sudut, pengelola Boon Pring juga menanam aneka jenis tanaman hias. Bagus sebagai spot selfie. (foto: poedji)

Berjanjilah di Air Terjun Janji

Jayakarta News – Hampir semua objek wisata berupa air terjun, memiliki narasi menarik yang melatarbelakanginya. Acap kali berupa mitos, cerita turun-temurun, atau sejarah yang belum terverifikasi.

Seperti objek yang satu ini: Air Terjun Janji. Objek wisata yang terletak di Desa Marbun Toruan, Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Sumatera Utara juga menyimpan “sesuatu” di balik namanya yang unik.

Kehadiran air terjun Janji, menggenapi keindahan Danau Toba dan sekitarnya. Sebab, di sekitar kawasan telaga vulkanis terbesar di dunia ini, tidak hanya menyimpan pesona hamparan air tenang nan biru saja, melainkan tampak juga keindahan-keindahan dari gugusan barisan gunung, bebukitan batu, dan beberapa air terjun yang sangat mempesona.

Air terjun ini termasuk salah satu tujuan kunjungan peserta Kemah Pers Indonesia (KPI) yang diselenggarakan di Pulau Sibandang, 14 – 16 November 2019. Para peserta KPI bersama Camat Muara Josua Napitupulu, beberapa personil kepolisian dan TNI hari itu menuju Air Terjun Janji menggunakan kapal KM Sari Roma yang dinakhodai Hasangabun Rajagukguk.

Panorama air terjun Janji ini bahkan bisa dilihat dari tepi jalan raya. (foto: roso daras)
Air terjun Janji. Di sini konon, para raja berikrar janji. (foto: monang sitohang)

Dimulai dari Desa Sibandang, perjalanan pun ditempuh sekitar satu jam. Selama dalam perjalanan peserta melihat dari dekat hamparan air nan biru dengan ombak-ombak kecil. Beberapa pulau kecil terlihat seperti Simamora dan Sihombing. Dua pulau laun selain Samosir dan Sibandang. Bedanya, Simamora dan Sihombing adalah dua pulau tak berpenghuni.

Sekitar 20 menit perjalanan rombongan sampai di Desa Sampuran yang masih berada di Pulau Sibandang, setelah beberapa menit kemudian tampak juga Desa Papande, kemudian menuju Bakara, Kabupaten Humbahas, Kecamatan Baktiraja, Desa Tipang sebelah barat, dan utaranya Pulau Samosir, Kecamatan Nainggolan.

Tanpa terasa kapal yang mengitari Pulau Sibandang yang membawa para rombongan KPI nyandar di Desa Marbun Toruan tak jauh dari Air Terjun Janji. Melalui jalan berbatu sejauh 100 meter, sudah sampak dari kejauhan, air terjun yang sangat indah itu.

Air terjun Janji ini tidak seperti air terjun lainnya, yang ada di sekitar Danau Toba. Lokai air terjun Janji ini tampak dari tepi jalan raya yang menghubungkan Kabanjahe dan Bakara. Jadi selain dapat ditempuh dengan kapal juga bisa dijangkau melalui jalur darat dari Medan ke Bakkara.

Mendekati air terjun Janji, mulai terdengar gemuruh air tumpah dari ketinggian sekitar 50 meter. Memang tidak setinggi air terjun Sipisopiso, namun keindaha lokasi yang membuat air terjun Janji ini semakin menarik. Aliran air ditadah di dua tempat pemandian, masing-masing pemandian putri dan putra, sebelum akhirnya mengalir lepas ke Danau Toba.

Air Terjun Janji ini memiliki debit air yang cukup besar, sehingga bisa dikatakan sangat jarang manusia dapat mandi persis di titik jatuhnya air. Hawanya dingin semburan butiran air ke tubuh seakan-akan hari sedang hujan, sehingga pengunjung seperti terhipnotis untuk berlama-lama menikmati dan mendekati titik tumpahan air sambil berswafoto.

Di sinilah dahulu kala, para raja berikrar janji. Perjanjian raja-raja yang akhirnya membentuk peradaban masyarakat Batak di sekitar Danau Toba. Mitos yang berlaku, jika ada janji yang ingin diucapkan, maka ucapkanlah di air terjun Janji. Niscaya, janji itu akan tertepati nanti.

Pernah terjadi. Belum lama. Sepasang suami-istri mengucap janji di sini. Sebuah janji yang berkaitan dengan belum hadirnya momongan (anak). Entah janji apa yang diucap, tetapi tak lama kemudian pasangan itu dikaruniai anak.

Kepercayaan itu memang sudah viral. Tak heran jika ribuan janji telah terucap di sini. (monang sitohang)

Sepanjang pendakian mendekat ke lokasi air terjun Janji, kita disuguhi pemandangan yang indah. Air terjun mengair menuju Danau Toba melalui sela-sela bebatuan. (foto: roso daras)

Taman Topi Menghitung Hari

Jayakarta News – Entah berapa lama saya tak sambangi Taman Topi. Tempat ini walau hanya bisa merasakan es doger, es duren dan batagor rasanya sudah sah main-main ke Kota Bogor. Perjalanan ‘kangen’ pun dilakukan Selasa 12 November 2019 lalu.

Setibanya di stasiun Bogor, waktu masih menunjukkan pukul 09.00 pagi, masih bisa sarapan rupanya. Melewati jejeran gerai sebelum menuju tap ke luar, tulisan “19.500 gratis teh” menggugah untuk dihampiri.

Masuk ke gerai yang lumayan luas ini tersadar bahwa selama ini saya belum pernah makan di tempat yang menawarkan satu harga untuk berbagai jenis makan berat. Begitu mengucap soto ayam campur satu, tak lebih dua menit, semangkuk soto Lamogan menggugah selera sarapan saya. Sambal dan jeruk nipis ambil sendiri.

Harga Rp19.500 tak mahal namun juga tak murah. Saat ini boleh dibilang menu makan berat di warung padang atau sekelas warung nasi lainnya sudah lumrah dengan harga segitu. Rasa syukur menjadikan kuah soto dengan perasan jeruk nipis dan sambal membuat lupa persoalan hidup. Nikmat.

Langit di Bogor seolah tak mau kalah dengan kuah soto yang panas, matahari pun melaksanakan tugasnya bersinar dengan teriknya. Niat untuk ke Taman Topi harus disegerakan. Ketika mulai masuk Taman Topi, ada yang berbeda dari biasanya. Muram adalah sambutan saat menginjak kembali Taman Topi. Ada apa gerangan? 

Menu Rp 90.500 gratis teh di taman Topi Bogor. (foto: aliefien)

Riwayatmu kini

Mendengar Taman Topi akan berganti wajah cukup membuat syok warga yang biasa menyambangi sarana rekreasi favorit di Kota Bogor ini. Bukan saja para penghuninya yang biasa berjualan atau menjajakan jasanya yang sedang galau menanti akan seperti apa Taman Topi kedepannya.  Kini, masyarakat khususnya warga Kota Bogor juga pnenasaran apa yang bakal menimpa Taman Topi pada akhir 2019 ini.

Seperti diketahui orang nomor satu di Kota Bogor, Bima Arya medio Juli 2019 lalu mengatakan Taman Topi akan diubah menjadi ruang terbuka hijau sebagai alun-alunya Kota Bogor yang akan dimulai perombakannya pada Desember 2019. Kabar inilah yang menjadikan apa yang ada di Taman Topi seolah mati segan hidup tak mau.    

Apalagi pergantian tahun tinggal beberapa waktu lagi. Dan memasuki bulan Desember yang tinggal hitungan hari ini menjadi penantian yang menyiksa. Kegamangan pun tergambar pada orang-orang yang sudah puluhan tahun menjadi penghuni Taman Topi Bogor, salah satu tujuan wisata kuliner dan rekreasi favorit keluarga (1975-2019) ini.

Senyum getir itu terlihat jelas dari wajah Topik penjual es duren yang sudah berjualan selama 20 tahun di Taman Topi. Seolah ingin berkata apakah es durennya akan menjadi kenangan? Hal itu pula yang membuat Topik gusar. 

Pria asal Cirebon ini berkisah suka duka berjualan di area Taman Topi.  Jauh sebelum booming  penggunaan duren sebagai minuman dan makanan, Topik dan bapaknya sudah menjadikan duren sebagai isian rasa es krimnya dan menjualnya di Taman Topi sejak 1980-an.

Kemudahan mengakses Taman Topi membuat ramai pengunjung, jualan es duren Topik pun laris manis. “Kalau akhir pekan bisa bawa pulang sampai Rp1 juta. Kalau hari bisa antara Rp400.000-Rp500.000,” ucap Bapak dua anak ini dengan senang, Selasa (12/11/2019).

Es krim duren yang terkenal di Taman Topi. (foto: aliefien s)

Seiring berjalan waktu, masa jaya Taman Topi berangsur meredup terlebih saat terjadi pembenahan tata kota Bogor. Berawal dari kemacetan yang terjadi di depan pintu masuk atau patung Plaza Kapten Muslihat Taman Topi membuat aparat berwenang Pemerintah Kota Bogor membuat pagar di tengah jalan sebagai penghalang masyarakat untuk menyebrang sembarangan dan hanya bisa menyebrang di Jembatan Penyebrangan Orang (JPO) yang tersedia.

Topik menilai dengan adanya pagar di tengah jalan tersebut membuat orang malas menggunakan JPO dan akhirnya lambat laut banyak pembeli es duren langanannya menjadi berkurang. Hal itu sudah berlangsung hampir tiga tahun belakangan ini. Namun penurunan omzet yang drastis menurut Topik terjadi saat kontrak pengelola Taman Topi dengan Pemerintah Kota Bogor berakhir Desember 2018 silam.

“Sekarang untuk mendapatkan Rp200.000 sehari susah. Semakin sepi sekarang ini. Apalagi kebersihan Taman Topi juga tidak seperti dulu lagi,” lirih Topik. Topik tak tahu lagi ia harus bagaimana. Sementara waktu terus berjalan, mau tidak mau dirinya hanya bisa memanfaatkan waktu sebelum Desember ini. Harapannya pedagang seperti dirinya diakomodasi oleh Pemerintah Kota Bogor meski nantinya Taman Topi sudah tak ada lagi.

Desember pun menjadi tanya besar bagi orang-orang yang juga mendiami Taman Topi seperti Herman. Herman seorang pemandu wisata yang kerap bermarkas di gerai Tour Information Center  juga sudah mengetahui Taman Topi dalam waktu dekat akan mejadi kenangan. Herman yang sudah melang melintang 29 tahun memandu wisatawan asing ini hanya menunggu waktu saja.   

Pada kesempatan sama Herman menceritakan keberadaan gerai informasi wisata di Taman Topi yang telah berjasa banyak  bagi Herman. Berawal dari suka mengunjungi Kebun Raya hingga kini ia menjadi pemandu wisata, gerai yang di Taman Topi itulah saksi bagaimmana ia mengawali menjadi pemandu wisata.

Menurut Herman perubahan situasi dan kondisi hanya perlu disikapi dengan semangat bekerja lebih baik lagi. Herman menyebut dirinya pun pernah merasakan masa sibuk sebagai pemandu wisata  yakni pada masa sebelum 2013. Ia membandingkan saat itu sehari bisa mengantar tamu asing hingga 40 orang. Sementara lima tahun belakangan ini untuk mengantarkan tamu yang mau jalan-jalan sehari dua orang saja susah bukan kepalang.

Zaman yang berubah diakui Herman sebagai salah satu faktor peminat jasanya terjun bebas. Dahalu orang masih butuh mobil dan butuh pemandu wisata untuk menuju destinasi wisata. Zaman now semuanya bisa dilakukan sendiri melalui gawai. Dengan internet semuanya jadi mudah.

Herman masih tetap bersyukur gempuran teknologi canggih tersebut tak membuat orang asing berkurang menggunakan tenaganya. Terbukti, Herman berterus terang 90 persen yang masih menggunakan jasanya menuju lokasi wisata adalah orang asing.

“Memang kalau bawa tamu lokal bingung juga mau jelaskan apa. Semuanya mereka bisa akses informasinya. Jadi untuk tamu lokal kita sekarang lebih ke fasilitator saja. Kita siapkan sarana prasarananya,” ungkap Herman yang sering mengantarkan turis dari Belanda menuju destinasi alam Bogor seperti Gunung Salak.

Bagi Herman, Taman Topi ada atau tidak ada lagi, dirinya akan mengikuti kemana nasib membawanya. Jika masih ada tempat seperti Tour Information Center ini ia akan tetap menawarkan jasanya untuk mengantarkan pelancong ke pelosok Bogor. “Saya siap antar ke seluruh tempat wisata,” ujarnya. (aliefien s)

Pesona Toba dalam Lensa Jhony

Meat adalah salah satu desa di kecamatan Tampahan, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara. (Foto: Jhonny Siahaan)

Jayakarta NewsCekrek… cekrek… terdengar suara kamera dari seorang beberapa hari lalu di salah satu stand Festival Museum di Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara Jalan HM. Jhony No. 15, Kecamatan Medan Area. Kemudian tampak ia kembali mengulangi dengan gaya menundukkan kepala sambil melirik dan fokus ke kamera, lalu kembali menoleh ke angle yang dibidik.

Ternyata pria paruh baya berpenampilan casual itu adalah Jhonny Siahaan seorang fotografer. Ia tampak didampingi juniornya, seorang wanita muda cantik, Pesta Valentina Manulang, yang juga seorang fotografer.

Karya foto Jhony Siahaan serta video pendeknya, banyak tersebar di berbagai sosmed, termasuk brosur-brosur pariwisata. Bahkan, foto-foto karyanya sering menghiasi media promosi kementerian pariwisata, majalah Garuda dan lainnya.

“Saya menjadi fotografer sejak tahun 2006, bermula dari hobby traveling sampai adventure menelusuri satu daerah ke daerah lain. Selain itu, sering mengikuti pelatihan dan bergabung ke komunitas penggemar fotografi. Akhirnya saya menjadi fotografer dan pernah menjadi ketua Toba Fotogarfer Club selama dua periode. Saat ini sebagai penasihat,” ujar pria berkacamata itu.

Bakkara di Kabupaten Humbahas. (Foto: Jhonny Siahaan)

Moment paling berkesan di kawasan Danau Toba, saat ia berkesempatan menelusuri spot-spot yang khas. Contoh Tongging, yang dinilai sangat menarik, meski di mata orang yang sudah terbiasa melihat, terkesan biasa saja.

“Menurut saya view-nya sangat menarik, karena di situ ada air terjun Sipisopiso, kemudian jika kita melihat dari ketinggian atau penatapan itu akan nampak ada kampung (huta) Silalahi, lalu tampak danau yang begitu luas dan ada juga bebukitan. Tidak kalah dengan spot-spot sejenis di Eropa,” ujarnya.

Belum lagi kalau kita ke Huta Silalahi, yang juga memiliki view berbeda. Di Silalahi anda akan melihat danau yang luas, karena Tao di Silalahi memang terkenal sangat luas. Belum lagi jika berkunjung ke Simalem Resort, beda lagi keindahan pemandangannya.

Tarabunga di KabupatenToba Samosir, foto diambil saat sore hari. (Foto: Pesta Valentina Manulang)

Ia menyimpulkan, dari mana pun angle-nya, Danau Toba sangat menarik, serta memiliki daya tarik sendiri-sendiri. Tidak bisa dibandingkan satu sudut lebih indah dari sudut yang lain. Begitu juga jika berkunjung ke Panatapan Tele, yang berada di Kecamatan Harian Boho, Kabupaten Samosir. Maka akan terlihat lembah Harian Boho dari sisi kanan Panatapan Tele.

“Dan itu merupakan menjadi salah satu spot yang menarik untuk sunrise. Foto-foto sunrise saya banyak diambil dari Panatapan Tele. Ketika matahari terbit itu luar biasa view-nya, sisi kiri Gunung Pusuk Buhit, kanan lembah Harian Boho yang begitu cantik lalu perbukitan, hingga semua sangat menarik dan unik,” ungkap Jhonny.

Di mata Jhony, Panatapan Tele luar biasa, Tongging juga luar biasa, kemudian Silalahi juga luar biasa. Jadi, hampir seluruh kawasan atau sisinya luar biasa indahnya. Belum lagi jika melihat lebih dalam, tentang keanekaragaman budayanya. Seperti Samosir, jika anda ke Simanindo ada tarian tor-tor, Sigale-gale dan sebagainya, begitu juga jika ke Tomok ada pemakaman Sidabutar yang merupakan atraksi menarik bagi wisatawan. 

Pesta saat di persawahan Huta Singgolom, Kabupaten Toba Samosir. (Foto. Ist)

Belakangan, ia mengaku concern tidak saja ke bidang fotografi, tetapi juga pada kelestarian budaya. Masyarakat Batak harus menjaga budayanya yang sangat tinggi dan luhur, dan mewujud dalam dalihan na tolu, baik dalam pesta atau acara. “Meski, terkadang dalam keseharian mulai agak luntur,” ujarnya prihatin.

Ornamen Batak mestinya dilestarikan. Tidak saja dalam menjaga kearifan dan budaya, tetapi juga yang bersifat aksesoris seperti ulos, sarung, dan pernak-pernik busana khas Batak lainnya. “Peran orang tua sangat penting untuk melestarikan budaya Batak kepada anak-keturunannya. Jangan sampai budaya impor justru menggusur tradisi leluhur,” ujar Jhony yang pernah terlibat dalam pembuatan video promosi pariwisata Sumut, pembuatan buku promosi pariwisata Sumut, serta pembuatan film dokumenter buku laklak, serta aneka kegiatan kepariwisataan lainnya. (Monang Sitohang)

Snowbay Kids Pool, Wahana Baru di Snowbay Water Park

Jayakarta News – Satu wahana baru bagi anak-anak, diluncurkan oleh Snowbay Water Park, Taman Mini Indonesia Indah. Dengan nama Snowbay Kids Pool, wahana ini akan memberikan pengalaman dan sensasi berbeda dalam bermain air bagi anak-anak. Wahana yang diresmikan pada hari ini tanggal 19 Oktober 2019 merupakan gagasan  dari Mr. Son Dong Jin sebagai Vice President Director dari Snowbay Water Park. Demikian yang dinyatakan melalui Press Release Snowbay Water Park kepada Jayakarta News

Dinyatakan pula, bahwa Snowbay Water Park, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) berkomitmen untuk terus berbenah, berinovasi dan mengutamakan kepuasan para pelanggannya di bisnis hiburan dan wahana air. Kenyamanan dan fasilitas yang lengkap untuk menunjang seluruh aktivitas permainan (wahana) disajikan dengan mengutamakan layanan kepada para pengunjung, sehingga menjadikan kami “The Only One” dalam industri water park.

Snowbay Kids Pool adalah wahana yang sarat dengan arena dan fasilitas bermain anak. Dibangun di atas area seluas kurang lebih 364 m2. Kolam berenangnya sendiri mempunyai luas 24 x 10 meter dan kedalaman 50 cm, dengan dikelilingi oleh 14 unit Gazebo seluas 2,3 x 2 meter, menambah landscaping dari Snowbay Kids Pool ini makin lengkap dan cocok untuk liburan bersama keluarga. Objek ini pun makin melengkapi pilihan masyarakat ketika berkunjung ke Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur.

Selain itu juga Snowbay Kids Pool dapat dijadikan salah satu pilihan tempat untuk para pengunjung baik secara individual maupun korporasi dalam mengadakan berbagai macam event di antaranya Family Day, Company Gathering, Birthday Party, Wedding Party dan Commercial Place lainnya. (melva)

Tanah Aneh di Rumah Para Dewa

Golden Sunrise, di Puncak Bukit Sikunir, Dieng, Wonosobo. (Herdy P)

Jayakarta News – Mengapa objek wisata Dieng menjadi menarik untuk dikunjungi? Lain dulu, lain sekarang. Dieng sekarang sudah menjadi “one stop destination”. Salah satu objek wisata komplet yang ada di Jawa Tengah. Atas alasan itu pula, saya dan rombongan dari sebuah perusahaan swasta di Bandara Soekarno-Hatta yang menamakan diri “The Refresh” memutuskan jalan-jalan ke sana. Refreshing, ceritanya….

Joko Dieng. (foto: herdy p)

Demi alasan praktis dan nyaman, kami serahkan gathering ini ke T & G Tour and Travel. Menggunakan satu unit mobil jenis Elf, kami dipandu mas Joko. Saking pengalamannya memandu wisatawan ke objek wisata Dieng, ia pun dikenal sebagai “Joko Dieng”.

Objek wisata yang terletak di dua kabupaten: Wonosobo di bagian timur dan Banjarnegara di bagian barat itu, adalah objek wisata alam pegunungan. Tentu saja hawanya sejuk. Cocok sekali untuk dikunjungi di saat temperatur rata-rata kota Jakarta antara 35 – 38 derajat Celsius, bahkan lebih!

Dengan adanya jalan tol trans Jawa, Wonosobo jadi lebih mudah dijangkau. Jika rute lama melewati Banjarnegara, maka sekarang tetaplah berada di jalan tol trans Jawa dan keluar di gerbang Pemalang. Jarak Jakarta – Dieng yang sekitar 416 km itu bisa ditempuh hanya dalam waktu kurang dari tujuh jam.

Menjelang kota Wonosobo, udara mulai terasa sejuk. Melewati kota Wonosobo dan mendaki ke arah Dieng, udara makin sejuk, ditambah pemandangan alam yang indah. Di kanan kiri terhampar lahan pertanian, ada yang menanam kol, kentang, dan lain-lain. Di perbukitan sana, tampak pohon-pohon keras menghijau.

Bukan hanya mata yang dicuci oleh indahnya pemandangan, adrenalin pun dipacu lebih kencang demi melewati rute-rute maut. Jalan menanjak serta tikungan tajam harus ditempuh dengan persneling rendah. Di antara berbagai tikungan tajam, di kiri-kanan menganga jurang nan curam. Saya perhatikan beberapa teman tampak menahan nafas.

Dieng. Ya, sebuah nama pendek yang artinya tempat tinggal para dewa. Di artinya tempat, Hyang artinya Kahyangan. Sebagian masyarakat lokal mengartikannya sebagai “Tanah yang Aneh”. Asalnya dari kata Adi (tanah) dan Seng (aneh).

Dua-duanya saya telan saja sebagai kebenaran. Betapa tidak, Dewa mana yang tidak suka tinggal di wilayah yang begitu sejuk dan indah? Menurut catatan, Dieng berada di ketinggian 2010 meter di atas permukaan laut (MDPL).

Ihwal tanah aneh, ada benarnya juga. Di daerah ini bisa ditemukan anak-anak dengan rambut gimbal. Bahkan untuk mencukurnya, harus dengan ritual khusus. Memangkas rambut gimbal anak tanpa ritual, salah-salah bisa mencelakakan si anak. Ah… entahlah.

Team Refresh berfoto di depan Batu Pandang Ratapan Angin. (foto: joko dieng)

Kita tengok dulu salah satu objek wisata di Dieng, yang disebut Batu Pandang Ratapan Angin. Konon, Batu Pandang Ratapan Angin adalah hasil kutukan cinta yang terlarang. Dikisahkan, seorang istri selingkuh dengan saudara kandung suami. Dikutuklah mereka menjadi batu. Sebagai pembenar mitos, disebutlah suara seperti orang meratap, setiap kali ada hembusan angin kencang menerpa bebatuan itu.

Untuk mencapai objek wisata yang satu ini, perlu ekstra tenaga. Dari parkiran Elf, kita masih harus mendaki anak tangga 100 – 150 meter. Sesampai di puncak Batu Pandang Ratapan Angin, seorang teman berkata sambil terengah, “Worth it.” Benar. Sepadan dengan usaha yang kami keluarkan. Sebab di atas sini, kita bisa memandang Gunung Prau, Telaga Warna, Telaga Pengilon, serta kawah belerang Sikidang. Amboi… indah sekali.

Gunung Prau dan Telaga Warna tampak dari kejauhan. (foto: herdy p)
Telaga Warna, dengan latar belakang Gunung Prau di kawasan Dieng. (foto: herdy p)

Gunung Prau di kejauhan sana, tampak anggun. Ia dikelilingi anak-anak gunung yang lebih rendah. Gunung ini cukup populer di antara para pendaki.

Telaga Warna tampak pula dari kejauhan. Sebuah fenomena unik, yaitu warna air dapat berubah-ubah. Ada kalanya berwarna hijau, kuning, dan warna-warni seperti pelangi. Fenomena ini, karena air telaga mengandung sulfur, sehingga saat terkena sinar matahari, mengakibatkan efek perubahan warna.

Ada lagi Telaga Pengilon. Pengilon dalam bahasa Jawa artinya kaca cermin. Air telaga itu memang begitu jernih, alami seperti cermin. Air telaga ini tidak mengandung sulfur. Permukaan airnya pun tenang.

Menurut legenda yang berkembang di masyarakat Dieng, telaga warna adalah tempat pemandian para bidadari. Sedangkan telaga Pengilon untuk bercermin dan berdandan para bidadari setelah mandi. Konon apabila kita bercermin di telaga Pengilon akan tercermin watak dan sifat kita. Nah yang ini, agak absurd penjelasannya. Apakah watak dan sifat memiliki bentuk?

Kawah Belerang “Sikidang”. (foto: herdy p)
Suasana di lokasi Kawah Sikidang dari kejauhan. (foto: herdy p)

Masih di area Dieng, salah satu objek wisata adalah Kawah Sikidang. Kawah vulkanik yang masih aktif, jelas terlihat dari gumpalan asap dan aroma belerang tercium dari bibir kawah. Kawah ini setiap empat tahun sekali, berpindah-pindah, seperti melompat. Gerakan melompat kidang (rusa) itulah yang menjadi asal-usul penamaan kawah. Secara teritori, objek ini masuk wewengkon Kabupaten Banjarnegara.

Bukit Sikunir

Bukit indah di Desa Sembungan, Wonosobo menjadi desa tertinggi di pulau Jawa. Karenanya, menjadi lokasi paling ideal untuk menyaksikan terbitnya matahari (sunrise), bahkan golden rise. Dari puncak Bukti Sikunir yang memiliki ketinggian 2353 MDPL itulah matahari muncul dari peraduan. Seperti muncul tepat di hadapan kita.

Agar mendapatkan moment terindah golden rise, saya dan Rim Refresh, dengan panduan “Joko Dieng” berangkat dari homestay pukul 03.00 WIB. Memang terlalu awal, tapi kami mengalah dengan alasan Joko, “kalau kesiangan sedikit, tidak akan kebagian tempat parkir.” Salah-salah, gagal menyambut matahari pagi.

Wisatawan menyaksikan golden rise. (foto: herdy p)

Tidak lupa, mas Joko berpesan agar mengisi perut, mengenakan jaket, sarung tangan, dan penutup kepala. Temperatur yang sangat rendah (pernah mencapai nol derajat Celsius), adalah alasan mengapa Joko berulang-ulang menyampaikan pesan tadi.

Syahdan, Elf yang kami tumpangi pun menerobos bekunya udara. Meliuk-liuk mendaki tebing dan bukit menuju Buki Sikunir melalui jalan yang halus dan mulus. Joko Dieng sempat menunjuk satu objek wisata yang kami lewati, yakni Telaga Cebong, tapi kami tak menyinggahinya.

Sesampai di area Bukit Sikunir, benar kata Joko. Kami harus antre lumayan panjang. Usai shalat subuh berjamaah, saya dan Tim Refresh siap menyambut Sang Surya di pagi hari. Agar mendapat view terbaik, ada beberapa spot, tergantung selera.

Semburat kuning tampak di ufuk timur. Ayam jantan berkokok di kejauhan. Jagad semesta memunculkan tanda-tandanya menyambut datangnya Sang Surya. Pagi itu, kami seolah bisa melihat sang waktu bergulir. Pelan tapi pasti, semburat itu membesar, hingga pecah bola cahaya kuning menyala. Benar, matahari bangun dari peraduan. Oh… jangan ditanya indahnya, sebab saya tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk melukiskannya.

Komplek Candi Arjun di kawasan wisata Dieng. (foto: herdy p)
Wilayah Dharmasala tak jauh dari Candi Arjuno. (foto: herdy p)

Komplek Candi Arjuna

Dataran tinggi Dieng juga memiliki kawasan candi, salah satunya Komplek Candi Arjuna terletak di Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Komplek Candi Arjuna memiliki lima bangunan candi, yaitu : Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra.

Sementara, Dharmasala adalah tempat peristirahatan dan persiapan sebelum memulai kegiatan keagamaan untuk menghadap para dewa di komplek candi Arjuna. Dharmasala juga terletak di Kecamatan Batur. Lokasi ini dapat ditempuh dengan berjalan kaki melalui komplek candi Arjuna.

Usai menjelajah wisata alam di kawasan Dieng, kini kita tengok wisata buatan manusia. Salah satunya objek wisata D’Qiano Hotspring Waterpark, tempat rekreasi air panas. Kolam pemandian air panas, dialirkan langsung dari Dieng. D’Qiano Hotspring Waterpark salah satu taman kolom air panas tertinggi di Indonesia. Wahana yang disajikan seperti ember tumpah, kolam spiral, dan waterboom spiral.

Rasanya, masih sangat banyak yang belum saya tuliskan. Betapa menyenangkan dan mengesankan berwisata ke Dieng. (herdy p)

D’Qiano Hotspring Waterpark. (foto: herdy p)

Upaya Mengangkat Kesultanan Langkat

Sultan Langkat Tuanku Azwar Abdul Djalil Rahmad Shah Al Hajj di kediamannya saat menerima kunjungan Kabid Sejarah dan Kepurbakalaan Drs. Unggul Sitanggang M.Si bersama Prof. Tuan Syaefuddin dari USU, Kadis Pariwisata Langkat, dan tokoh-tokoh dari pihak kesultanan. (Foto. Ist)

Jayakarta News – Sumatera Utara memiliki sejumlah situs bersejarah, yang potensial untuk dikembangkan menjadi objek pariwisata. Istana Maimun adalah salah satunya. Selain itu, ada objek lain yakni Kesultanan Negeri Langkat.

Rabu lalu (16/10), sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat menyambangi kediaman Sultan Langkat, Sri Paduka Duli Yang Mulia Tuanku Azwar Abdul Djalil Rahmatshah Al Hajj yang terletak di  Jalan Dr. Mansyur, Kecamatan Medan Selayang, Medan. Tampak di antara mereka adalah Kabid Sejarah dan Kepurbakalaan, Drs Unggul Sitanggang, M.Si, mewakili Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumut, dr. Ria Telaumbanua, M.Kes.

Sultan Langkat Tuanku Azwar Abdul Djalil Rahmad Shah Al Hajj bersama Kabid Sejarah dan Kepurbakalaan Disbudparsu Drs. Unggul Sitanggang, M.Si. (Foto. Ist)

Selain Unggul Sitanggang, menyertai pula Prof. Tuan Syaefuddin dari USU, Kadis Pariwisata Langkat, tokoh-tokoh dari pihak sultan dan lainnya. Mereka datang untuk menjalin kerjasama dalam mengembangkan serta pembenahan kawasan situs sejarah yang religius di Kabupaten Langkat, utamanya Kesultanan Negeri Langkat.

Selanjutnya, situs-situs itu dibenahi dan bisa menjadi destinasi wisata budaya berbasis religi dan sejarah. Tentu saja, dengan tetap mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal budaya serta tradisi dari sisi Amenitas, Atraksi, dan juga Aksesibilitasnya.

“Mengingat pentingnya hal tersebut maka Kadisbudparsu dr. Ria Telaumbanua, M.Kes mengatakan siap bersinergi dengan lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Provsu, khususnya Pemerintah Kabupaten Langkat, terutama tokoh budaya, agama, bersama masyarakat lokal yang diharapkan turut berkontribusi dan mendukung program ini, terutama dalam mewujudkan misi Gubsu menuju Sumut bermartabat,” ujar Unggul.

Adapun program turunannya, fokus pada pengelolaan dan pelestarian kekayaan budaya yang ada di Sumut. Terlebih, Sumut memiliki banyak potensi situs yang tidak saja indah, tetapi juga bernilai sejarah dan religius. Situs-situs itu sebagai warisan (heritage) yang jika dikembangkan dan dilestarikan, akan menjamin keberlangsungan nilai-nilai kearifan lokal yang ada di Langkat khususnya, dan Sumut pada umumnya. Objek-objek tadi lebih bagus jika disertai wisata kuliner dan wisata agro.

“Maka situs-situs bersejarah yang ada di Kabupaten Langkat seperti makam T. Amir Hamzah akan adanya penataan, begitu juga makam-makam para tokoh bersejarah yang lain. Penataan akan dilakukan bertahap, paralel dengan pihak Sultan Langkat,” jelas Unggul.

Para tamu saat berbincang-bincang di kediaman Sultan Langkat. (Foto. Ist)

Sementara itu, Sultan Langkat sangat gembira dan mengapresiasi Pemerintah Provinsi Sumut untuk memajukan kebudayaan di provinsi ini. Ia juga menyambut baik menjadikan Kesultanan Langkat sebagai destinasi wisata budaya, wisata sejarah, sekaligus wisata religi. Ia berharap, upaya itu bisa membawa efek kesejahteraan bagi masyarakat. “Saya mendukung, terlebih kalau revitalisasi objek wisata ini menjadi satu kesatuan program dengan pembangunan pariwisata lain, seperti Danau Toba,” tambahnya.

Untuk diketahui, pertemuan Rabu lalu adalah pertemuan kedua. Pada pertemuan pertama, Sultan Langkat langsung ditemui Kadisbudparsu dr. Ria Telaumbanua, M.Kes. “Kepala Dinas yang meletakkan pondasi kerjasama. Pertemuan ini sifatnya tindak lanjut,” ujar Unggul. (monang sitohang)

Orloj, Memori Jam Tua di Kota Praha

Fauziah Siregar saat di sekitar Menara Jam Prague Astronomical Clock atau Orloj. (Foto: ist)

Jayakarta News – Jika Anda berkesempatan traveling ke Praha, ibukota Ceko, maka jangan sekali-kali melewatkan kunjungan ke Prague Astronomical Clock atau Orloj. Objek itu berbentuk menara jam yang diciptakan abad pertengahan, dan terletak di Lapangan Kota Tua, Old Town Square di Praha (Starè Město), Republik Ceko.

Lokasi yang berada tepat di jantung kota, menjadikan objek yang satu ini mudah dijangkau. Salah satu alternatif transportasi adalah dengan menaiki metro (MRT) atau Tramvaj (kereta pendek dalam kota) di stasiun Stare Mesto atau Mustek. Dari stasiun tujuan, sambung dengan berjalan kaki lima menit, dan tibalah di Orloj.

Sementara, bagi yang datang dari Bandara Vaclav Havel, lokasi Orloj ini dapat ditempuh dengan mobil sekitar 35 menit (lebih kurang 20 km). “Republik Ceko sendiri berada di tengah benua Eropa bagian timur. Kota negara tetangga terdekat adalah Wina, Austria. Jarak kedua kota beda negara ini hanya tiga jam perjalanan dengan mobil, atau lima jam perjalanan jika menggunakan kereta,” ujar Fauziah Siregar kepada Jayakarta News, kemarin (9/10).

Fauziah Siregar bersama ibunda di depan menara jam Prague Astronomical Clock atau Orloj di tahun 1999. (Foto: ist)

Wanita yang akrab disapa Uji ini, memanga tengah berada di Praha. Baginya, Praha ibarat kota kedua. Ia pun berbagi tips kepada pembaca yang berkeinginan ke sana. Ia mengatakan, Praha relatif dekat ke mana-mana. Misal, jika hendak berkunjung ke Bratislava membutuhkan waktu tiga jam saja. Jika dulu Praha dan Bratislava ada di satu negara, maka sejak pecah, keduanya berada di dua negara berdempetan. Praha di Ceko, sedangkan Bratislava di Slovakia. Dulu, dua negara itu adalah satu: Cekoslovakia.

Negara lain yang relatif terjangkau dari Praha adalah Polandia. Cukup enam perjalanan dengan mobil. Dari Polandia, bisa ke Berlin di Jerman yang bisa dijangkau hanya dalam waktu lima jam perjalanan mobil. Negara-negara yang disebut Uji tadi, terbilang eksotik, berbeda dengan negara-negara Eropa Barat yang terlalu modern.

Kembali ke Praha. Kembali ke menara jam Orloj. Situs kuno ini terbilang sangat unik, karena mempunyai komponen yang akan menunjukkan posisi keberadaan matahari, bulan, rasi bintang, bahkan planet yang dekat dengan bumi. Menara Jam ini diciptakan oleh Mikulâs of Kandan dan Jan Sîndel, profesor matematika dan astronomi dari Universitas Charles, Praha.

“Lalu diperkenalkan pertama kali pada 9 Oktober 1410, tepat pada hari ini di tanggal yang sama 9 Oktober 2019, jadi terhitung umur menara jam ini telah mencapai 609 tahun. Sungguh benar-benar tua, tetapi masih kokoh dan estetis,” jelas Uji yang pernah tinggal di negara ini 17 tahun yang lalu.

Uji melanjutkan kisahnya. Tahun 1490 menara jam itu ditambahkan dekorasi patung-patung orang suci Katholik dan patung tengkorak manusia dengan sentuhan gaya Gothic. Pembuatan jamnya sendiri dikerjakan oleh Jan Ruzě (Hanûs). Nilai sejarah bangunan Orloj yang begitu tinggi, menurut ceritanya ternyata juga didukung dalam pembuatannya yang penuh darah.

Berdasarkan penemuan dokumen pada tahun 1961, Orloj ini dibangun sebagai bentuk perlawanan para ilmuwan terhadap penguasa. Pada masa pemerintahan Vaclav IV (Wenceslavc IV) yang merupakan keturunan Karel IV dari wangsa Luxemburg yang berkuasa pada masa itu para ilmuwan yang karyanya menyimpang pada masa itu dituduh sebagai provokator pemicu perang.

Selama berabad-abad jam ini tetap terjaga keberadaan dan kelestariannya sebagai ikon Kota Praha. Ketika Perang Dunia II juga, jam bersejarah ini luput dari kerusakan. Dan sejak dibangun hingga hari ini, tercatat hanya beberapa kali mengalami perbaikan.

Fauziah Siregar di Gereja Our Lady before TYN yang tidak jauh dari Menara Jam. (Foto: ist)

Dalam sejarah Ceko memang punya hitungan sendiri untuk tidak melawan invasi Hitler ke negaranya. Berkat itu pula, kota kota tuanya tetap lestari hingga sekarang.

Di sekitar lokasi Orloj, ada juga gereja Katholic Our Lady before TYN, yang bergaya Gothic. Juga terdapat toko-toko dan butik brand terkenal kelas dunia seperti Swarosky, Bally, Louise Vuitton, Christian Dior, Salvatore Ferragamo, dan lainnya.

Jika musim panas tiba cafe-cafe di sekitar old town square dipenuhi meja dan kursi untuk hang out anak muda dan orang tua baik wisatawan atau warga setempat. Ada juga hiburan musik pengamen pinggir jalan dengan pilihan dari lagu klasik, lagu modern, atau lagu berbahasa Slav. Dan apabila musim dingin, cafe tetap penuh, dan pengunjung tetap merasa nyaman karena pengelola cafe umumnya menyediakan pemanas portable untuk tamu-tamu yang duduk di luar.

Selain itu, area ini juga menyediakan sarana kereta kuda yang bisa disewa untuk mengelilingi lorong-lorong jalan kecil di sekitar old town square,” ungkap Uji yang alumni dari Balai Pendidikan Latihan Pariwisata (BPLP) yang sekarang dikenal sebagai Poltekpar Medan.

Akan tetapi jangan kaget, jika harga secangkir teh atau kopi di sini, lebih mahal dari harga satu mug besar bir merek Pilsener Urqelli. “Yang pasti, Praha mengingatkanku akan keindahan, kecerdikan, kesabaran dan musim dingin yang indah. Praha juga kota kelahiran dari kedua anakku, yaitu Alamanda Adara Dalimunthe dan Bayo Bohdan Dalimunthe,” tutup uji. (Monang Sitohang)

Fauziah bersama anak nya Alamanda Adara Dalimunthe dan Ibunda Fauziah Siregar ketika di sekitar old town square saat suasana di musim semi. (Foto: ist)