Rombongan IKAJUA foto bersama di Tebing Breksi. (foto: istimewa)
Jayakarta News – Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kini memperlihatkan dirinya sebagai salah satu daerah yang menjadi tujuan wisata. Pemerintah setempat dalam beberapa tahun ini sudah membangun tempat-tempat wisata dan kini sebagian sudah bisa dinikmati oleh para wisatawan lokal ataupun manca negara.
Salah satu obyek wisata yang baru saja
dibuka adalah taman “Tebing Breksi”. Taman bekas tambang batu, yang berlokasi
di Dusun Groyokan, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman,
Daerah Istimewa Yogyakarta ini, memang menarik untuk dikunjungi.
Setiap hari bahkan kalau pas hari libur
di sini tumplek blek para wisatawan. Salah sartunya adalah rombongan Ikatan
Alumni Tujuh Dua (IKAJUA) SMPN 2 Jember yang belum lama ini datang dan melihat
sendiri keistimewaan taman tersebut.
Menurut salah seorang diantaranya, drg.
Nurhasa, kedatangan rombongan SMPN 2 Jember ini diberi title Acara Dolan Bareng
(Dolbar) dan selama 3 hari menikmati berbagai tempat wisata di DIY. “Tebing
Breksi mirip dengan Garuda Whisnu Kencana (GWK) yang ada di Bali,” katanya.
Bedanya, jika GWK sudah jadi. Sedangkan
Breksi, masih dilakukan pembenahan-pembenahan. Dalam kondisi seperti itu,
Breksi, saat ini, memiliki daya tarik tersendiri.
Beberapa ukiran batu menjadi objek
buruan untuk foto kenangan, baik sendiri maupun berkelompok. Bahkan cocok
sebagai lokasi pemotretan wedding.
Di antaranya ukiran dalam bentuk wayang
dan bagian dari naga. Kemudian juga ada enam burung hantu menarik perhatian
pengunjung.
Wisatawan bergantian foto dengan satwa
pemangsa tikus ini. Foto dengan burung hantu, bayar seiklasnya.
Waktu yang tepat mengunjungi Breksi,
menikmati panorama sunrise (matahari terbit) pagi hari dan sunset (matahari
terbenam) petang hari.
Meskipun demikian siang hari pun lokasi
ini bagus untuk berfoto. Bahkan dipuncak tebing, banyak yang foto dengan
burung-burung buatan.
“Banyak daya tarik untuk foto. Bagus sekali objek wisata ini,” kata dr Rusmijati.
Sebagai bekas tambang, tentu Breksi,
amat panas pada siang hari. Karena itu, wisatawan idealnya menyiapkan topi,
payung, kacamata, untuk menghidari sengatan matahari.
Rombongan IKAJUA, puas mengunjungi
Breksi. Peserta dolbar, nampak sibuk foto baik sendiri maupun berkelompok,
karena latar belakang untuk foto, memang yahud.
Kreativitas warga Kelurahan Sambirejo,
patut diacungi jempol, karena bisa menyulap areal tambang, menjadi objek wisata
menarik bagi para wisatawan.
Untuk menyaksikan sunrise dan sunset,
areal tambang itu dipapras, dibuat anak-anak tangga. Foto dengan latar belakang
anak tangga itu pun juga ciamik.
Dalam Dolbar IKAJUA, diikuti 45 peserta. Sebanyak 37 orang beradal dari
Jember. Sedangkan delapan lainnya dari Jakarta, Surabaya, Bekasi, Gresik, Tuban
dan Tulungagung. (poedji)
Suasana glamour camping Rumamera di malam hari. (ist)
Jayakarta News – Pendek kata, galmour camping adalah kemah mewah. Begitulah. Tempat ini diperuntukkan bagi mereka yang ingin bersantai di alam terbuka, tanpa meninggalkan kenyamanan. Rumamera menjawab peluang itu.
Bagaimana tidak nyaman. Bayangkan saja. Sebuah tenda
didirikan di alam terbuka. Di dalamnya bukan tikar pandan atau karpet,
melainkan kasur empuk dengan seprei bersih. Lebih dari itu, dialiri listrik. Masing-masing
tenda, didampingi kamar mandi ber-shower,
toilet, dan wastafel. Air yang mengalir pun bisa disetel dingin dan panas. Lokasinya
berjarak sekitar 50 meter dari tenda.
Jika penasaran dengan area glamourcamping ini, Anda
bisa berkunjung ke Rumamera di Cisaat Sukabumi. Lokasinya terletak di kaki Gunung
Gede Pangrango. Dari lokasi ini, Anda bisa mengagumi keagungan Gunung Gede Pangrango
dalam kesejukan. Ada dua site camping,
Tanakita dan Rumamera.
Berfoto dengan latar belakang villa Rumamera dengan latar belakang tenda. (foto: erni suleiman)
Bagi pengunjung yang datang bersama keluarga atau rombongan
kecil diusulkan memilih Rumamera yang lebih privacy.
Karena lebih kecil serta dilengkapi bangunan/vila sebagai tempat pertemuan, bersantap
atau berkumpul bersama rombongan.
Untuk menjejakkan kaki di tempat ini, Anda yang berada di
Jakarta harus menempuh perjalanan kurang lebih empat jam lamanya. Jalan
beraspal ke lokasi, memang tidak terlalu lebar. Jika ada mobil berpapasan, akan
jadi masalah tersendiri.
Jika Anda datang menggunakan mobil pribadi, area ini
menyediakan parkiran yang cukup memadai, di area bukit. Dari lokasi ini,
wisatawan harus berjalan kaki setapak, berkerikil, da n sedikit menanjak. Tak
lama setelahnya, Anda akan melihat 12 tenda warna putih bergaris biru muda
berjajar-jajar.
Sungguh, sebuah alternatif berwisata yang patut dicoba.
Selain bisa menikmati pemandangan dan udara bersih, dari sini juga bisa
menjangkau sejumlah destinasi wisata alam yang lain. Karena posisinya di kaki gunung, sudah tentu kegiatan trekking bisa
menjadi pilihan menarik. Rutenya ke arah Jembatan Gantung Situ Gunung dan air
terjun Curug Sawer.
Berfoto di atas jembatan gantung Situ Gunung. Jembatan gantung terpanjang di Indonesia. (foto: fika s)
Menuju Curug Sawer, pengunjung harus melalui jalur Jembatan
Gantung/Suspension Bridge Situ Gunung yang sangat terkenal di kalangan
pewisata. Jembatan gantung Situ Gunung yang dibangun dari kayu ulin Papua ini
melintang di ketinggian 161 meter di atas permukaan tanah serta memiliki
panjang 243 meter dan lebar 2 meter. Konon merupakan jembatan gantung
terpanjang di Indonesia, bahkan di ASEAN.
Sungguh, melintasi jembatan gantung ini seketika berdesir
perasaan “ngeri-ngeri sedap”. Dari atas tajuk pepohonan yang rindang, melihat
ke bawah tampak pepohonan Rasamala dan pohon Puspa. Untuk keselamatan, semua
pelintas dipasang safety belt. Bagi
yang phobi akan ketinggian, tidak direkomendasikan melintasi jembatan ini.
Menurut petugas, jembatan ini dikunjungi tidak kurang dari
700 orang tiap hari. “Saat week end pengunjung
bisa mencapai 2.000 orang,” ungkap salah seorang petugas. Karenanya, untuk
bisa menjajal jembatan gantung ini, harus rela antre. Sebab, dalam satu tarikan
waktu, jembatan gantung ini hanya boleh dinaiki secara bersamaan untuk 40 orang
saja.
Berfoto dengan latar belakang Curug Sawer yang eksotis. (foto: fika s)Latar belakang Curug Sawer yang mempesona. (foto: fika s)
Setelah melewati jembatan gantung ini, perjalanan bisa
dilanjutkan tracking/hiking menuju
air terjun Sawer. Curug Sawer terkenal eksotis. Tiada lelah mata memandang dan
mengaguminya.
Bagi mereka yang tidak sanggup atau bermasalah untuk jalan
jauh melewati jalan setapak terjal naik turun, bisa memilih naik sepeda motor.
Sudah disiapkan. Tentu saja melalui jalur berbeda dengan jalur pejalan kaki.
Hiking yang mengasyikkan sejauh kurang lebih satu kilometer
dari ujung jembatan gantung tidak terasa karena sejuknya udara di antara
pepohonan dan semak dan beberapa jembatan kecil serta sungai yang jernih.
Keindahan yang disuguhkan saat tiba dilokasi, air terjun
setinggi kurang lebih 35 meter memukau siapa pun yang memandangnya. Curahan air
terjun yang sangat deras hingga cipratan airnya tersebar ke segala penjuru.
Semua pengunjung terkena cipratannya. Karena itu air terjun ini disebut Curug
Sawer.
Tepat di bawah curahan air terdapat kolam alami yang lumayan
luas. Air dari kolam mengalir ke bagian bawah sungai kecil dan dangkal.
Pengunjung di areal tepi yang dangkal bisa “mandi” di antara bebatuan
besar.
Meski percikan air terjun membasahi muka dan sedikit badan,
tetapi tetap asyik untuk dinikmati. Bahkan sejumlah wisatawan makin bersemangat
untuk berswafoto dengan latar belakang air terjun. Akan tetapi, untuk
mendapatkan angle yang ciamik,
pengunjung pun lagi-lagi harus rela antre.
Usai puas menikmati indahnya air terjun dan udara yang
begitu bersih, pengunjung pun kembali berjalan menempuh jalan setapak yang
karena segarnya seolah baru mendapat suntikan oksigen. Perjalanan pun tidak
terasa lelah meski lebih banyak tanjakan yang harus dilalui.
Sesampai di tenda, pengunjung biasanya langsung menikmati empuknya
kasur sambil melepas rasa lelah dan kaki yang sedikit pegal, utamanya bagi yang
tidak terbiasa olahraga. Setelah makan malam, para tamu bersantai dihibur
alunan lagu dengan iringan gitar. Karaoke pun berpindah ke area Rumamera,
menyanyi sendiri atau petugas yang menyanyikan lagu-lagu. ‘Api unggun’ pun
diadakan setelah larut malam. Suasana sejuk berubah menjadi hangat. Makin
lengkap dengan sajian jagung bakar dan barbeque.
Berfoto-ria dengan latar belakang danau, di hari kedua. (foto: fika s)
Hari kedua setelah menikmati tidur di tenda mewah, perut mulai menendang minta diisi. Breakfast ringan pun sudah tersedia di meja ruang makan panggung.
Acara berikutnya di pagi hari cerah adalah tracking/hiking babak kedua. Kali ini menuju danau. Indahnya danau dikelilingi hutan pinus dan pepohonan yang rindang. Ada jembatan kayu ke arah pulau di depannya. Tentu saja sesi foto masih berlanjut.
Siang harinya rombongan pun kembali ke Jakarta dengan
kondisi badan yang lebih segar seperti baru mendapat asupan oksigen terbarukan.
(s. resti handini)
Gunung Sibayak dengan lokasi Desa Raja Berneh tempat Wisata Air Panas. (foto: ist)
Jayakarta News – Nama Berastagi sebagai kota wisata sudah sangat terkenal. Tak heran jika dalam permainan “monopoli” kota wisata ini tercatat paling mahal walau dihargai dengan uang-uangan kertas monopoli. Ini membuktikan kalau kota Berastagi, walau hanya sebuah kota kecamatan, keberadaannya sudah mendunia.
Terletak di dataran tinggi Kabupaten Karo,
Sumatera Utara, kota ini terbesar kedua setelah Kota Kabanjahe. Berastagi
berada di ketinggian lebih dari 1300 mdpl dan menjadi salah satu kota terdingin
di Indonesia. Berjarak 66 km dari Kota Medan, Berastagi juga terkenal sebagai
daerah pertanian yang subur. Aneka bunga, buah dan sayuran tumbuh subur di
wilayah yang diapit dua gunung berapi aktif, Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak
tersebut.
Gunung Sibayak merupakan gunung di
Berastagi yang sering dikunjungi para wisatawan. Bagi suku Karo, Gunung Sibayak
disebut juga “Gunung Raja”. Karena arti dari Sibayak itu adalah “Raja”. Menurut cerita penduduk, dahulu
kala tanah karo dikuasai 4 Raja (Sibayak), yaitu Sibayak Lingga: Sarinembah,
Suka, Barusjahe,
dan Kutabuluh.
Jarak Berastagi menuju wilayah Gunung
Sibayak berkisar 7 km. Tidak sedikit para pendaki yang menikmati gunung ini
sampai ke puncaknya yang berada di ketinggian 2.094 mdpl itu. Puncaknya disebut
Takal Kuda yang artinya Kepala Kuda. Di atas puncak gunung Sibayak ada danau
kawah 200 x 200 meter atau seluas
40.000 meter persegi yang lengkap dengan solfatara penghasil belerang dengan
suhu mencapai 119 derajat celcius dan suhu di sekitarnya 21 derajat celsius.
Ada tiga jalur pendakian untuk menuju Gunung Sibayak, yakni jalur Penatapen,
Desa Jaranguda dan jalur Desa Raja Berneh.
Gunung Sibayak sebagai sumber dari aliran rejeki “ Mata Air Panas” di salah satu pemandian di Desa Raja Berneh. (foto:ist) Kolam tempat berendam air panas. (foto: ist)
Di kaki Gunung Sibayak inilah, kisah
tentang “rezeki turun dari langit”, menjadi
kenyataan bagi warga setempat. Penduduk desa Raja Berneh yang sekarang lebih
sering disebut Desa Semangat Gunung seperti mendapat ‘hadiah’ dari alam, tanpa
harus bersusah payah mendapatkatnya.
Di areal ladang atau persawahan warga
bermunculan sumber air panas dari perut bumi yang kemudian dikelola menjadi
tempat permandian. Air panas ini mengalir dengan temperatur sekitar 35 derajat
celcius. Sementara di hulu mata air panas mencapai 150 derajat celsius. Air ini
muncul dari retakan aliran lava pada areal persawahan warga di lereng gunung
berapi yang pernah meletus pada tahun 1881 itu.
Ratusan
Mata Air, Sumber Rezeki
Permandian air panas belerang di kaki
Gunung Sibayak, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, kini menjadi favorit wisatawan.
Dengan suhu udara 18 derajat celcius, berendam di air panas merupakan sebuah
pilihan cerdas untuk relaksasi. Tidak mengherankan jika desa kecil dengan
ratusan mata air panas ini tak pernah sepi dari kunjungan wisatawan.
Lokasi permandian air panas belerang ini
relatif gampang dijangkau. Sarana jalan cukup memadai, pemadangan alam
pegunungan sepanjang jalan hingga tiba di tujuan membuat perjalanan terasa
menyenangkan.
Awalnya keberadaan mata air panas ini
dianggap sepele, hanya dinilai fenomena alam biasa. Tapi saat ini ratusan titik mata air panas yang muncul
dari dasar bumi itu berubah menjadi “air emas”. Wajah desa Raja Berneh
berpenduduk sekitar 100 KK, yang berada persis di kaki Gunung Sibayak,
Kabupaten Karo, Sumatera Utara itu pun seketika berubah.
Geliat ekonomi terus berdenyut, desa yang
semula sepi itu kini ramai dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara. Ratusan
wisatawan dan bisa mencapai ribuan pada akhir pekan, rutin mendatangi desa ini.
Tujuannya hanya untuk berendam di air panas mengandung belerang, yang sudah
mulai dikelola secara profesional oleh warga setempat.
“Ini anugrah Tuhan buat warga desa,” ujar Passewaty
Ginting. Perempuan Karo ini adalah salah satu
pengusaha permandian air panas. Miliknya bernama “Sibayak Ncole” di desa
Raja Berneh. Ia tak menampik bahwa banyaknya titik air panas yang muncul dari
dasar bumi itu, merupakan anugerah tak
terkira bagi warga setempat.
Ibu empat anak ini memang benar. Air panas
itu muncul begitu saja dari dasar bumi, tidak perlu ada usaha dan biaya dari
warga. Warga hanya perlu membuat saluran dari titik air panas ke kolam-kolam
untuk berendam. Suhunya juga bisa diatur, mulai dari sekedar hangat sampai yang
tingkat panasnya tinggi. Sehingga pengunjung bisa memilih kolam sesuai
keinginannya.
Keberadaan ratusan titik mata air panas
ini otomatis berdampak langsung terhadap kehidupan warga desa. Khususnya di
sektor ekonomi. Transaksi ekonomi berlangsung
dari pengunjung ke warga. Saat
ini tercata sekitar 16 lokasi permandian air panas dengan ratusan kolam rendam
serta pancuran sudah tersedia. Malah sebagian pengusaha juga menyiapkan water boom sebagai bentuk pelayanan
kepada para pengunjung.
Seiring perkembangan, sebagian pengusaha
malah menyiapkan tempat menginap bagi pengunjung yang hendak stay di lokasi tersebut. Tak
mengherankan jika kemudian puluhan tempat menginap berdiri. Bukan hanya para
pengusaha yang menyiapkan, sebagian warga desa juga menyulap lahan pertaniannya
menjadi penginapan-penginapan. Desa yang semula hanya fokus di bidang pertanian
itu pun perlahan bergerak dan berubah menjadi desa wisata.
Kolam Berendam Air Panas dengan Pemandangan Hutan di Lereng Gunung Sibayak (foto: ist)
Desa
Wisata Air Panas
Perut Bumi memberikan berkah bagi desa
ini. Air panas yang memancar alamiah di desa kaki Gunung Sibayak ini menjadi
Desa Wisata khusus pemandian Air Panas. Selain penginapan, sejumlah gedung
pertemuan pun dibangun. Baik itu untuk pesta, acara arisan dan sebagainya.
Termasuk juga sejumlah camping ground.
Warung-warung makan mulai menjamur. Sebagian warga juga membuka kios sepanjang
jalan ke lokasi permandian untuk memasarkan hasil pertaniannya.
Menikmati alam pegunungan sembari
relaksasi dengan cara berendam di air panas yang mengandung belerang di lokasi
wisata ini relatif murah. Untuk tiket masuk daerah wisata Pemda Kabupaten Karo
hanya menetapkan Rp 4.000 per orang. Sementara untuk memasuki atau mandi di air
panas pengelola mengenakan tarif antara Rp 8.000 sampai Rp 15.000 per orang.
Perbedaan tarif ini akibat adanya perbedaan fasilitas setiap lokasi permandian.
Berbicara soal tingkat kunjungan, Ketua
Asosiasi Permandian Air Panas Raja Berneh, Shodan Purba, mengakui dari hari ke
hari mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Pada saat ini, untuk hari biasa
mencapai sekitar 300 orang sampai 500 orang. Memasuki akhir pekan, jumlah meningkat,
di atas 1.000 orang.
Jelas, ramainya kunjungan wisatawan ini
membuat geliat perekonomian warga desa semakin berkembang. Termasuk juga pemda
setempat, yang secara rutin menerima pemasukan berupa retribusi serta pajak
dari para pengusaha. Selain itu lapangan kerja pun semakin terbuka, sekitar 200
pekerja tertampung di semua lokasi permandian tersebut.
Perlu
Perhatian Khusus
Menurut Shodan Purba, tingkat kunjungan
wisatawan ini juga sebenarnya masih bisa dimaksimalkan. Caranya, selain para
pengusaha menghadirkan fasilitas yang lebih bagus, sarana dan prasarana jalan
menuju areal permandian harus dibenahi. Saat ini kondisi jalan memang cukup
bagus, baik dari Kota Medan atau dari kota wisata Berastagi. Tetapi sekitar 5
km memasuki lokasi wisata, kondisi jalan masih jauh dari memadai. Selain ukuran
jalan sempit, sebagian badan jalan juga mengalami kerusakan. “Memang sudah
harus diperlebar agar bus ukuran besar yang mengangkut wisatawan bisa masuk.
Saat ini hanya kendaraan kecil seukuran mini bus yang bisa masuk,“ jelasnya.
Keberadaan kota wisata Berastagi, terhadap
lokasi permandian air panas ini juga sangat berpengaruh terhadap tingkat
kunjungan. Sebagian besar wisatawan yang berkunjung ke Berastagi akan
memanfaatkan waktu untuk berendam air panas sebelum kembali ke kota asalnya.
“Jika kondisi jalan bagus, keengganan wisatawan yang berkunjung ke Berastagi
untuk singgah di air panas akan hilang. Khususnya wisatawan yang menggunakan
bus ukuran besar,” ujar Shodan Purba.
Keluhan dan keinginan para warga pengelola
permandian air panas ini memang sangat beralasan. Peran sektor pariwisata dalam
perekonomian sebuah negara sangat penting. Apabila dikelola dengan baik,
terencana dan terpadu, peran pariwisata secara otomatis akan menggerakkan
kegiatan ekonomi melalui sektor terkait
lain seperti perhotelan dan penginapan, barang-barang souvenir dan
kerajinan lokal, industri makanan, serta transportasi. Berikutnya, penyediaan
lapangan kerja pun terbuka, pendapatan masyarakat, pendapatan daerah, dan
pendapatan negara pasti meningkat. Sektor pariwisata dapat berfungsi sebagai
katalisator pembangunan sekaligus akan mempercepat proses pembangunan itu
sendiri. Kondisi ini dimungkinkan karena kepariwisataan sebagai upaya ekonomi,
bukan saja padat modal, tetapi juga padat karya.
Seperti ditegaskan Bupati Kabupaten Karo,
Terkelin Berahmana, berlakunya UU No.32 Tahun 2004 tentang otonomi daerah
menjadi harapan dan tantangan tersendiri bagi pemda di seluruh wilayah
Indonesia. Artinya, dengan berlakunya UU ini maka pengembangan dan pembangunan obyek wisata
menjadi tugas dan tanggung jawab pemda. UU ini juga menegaskan kalau setiap
daerah otonom harus mampu menggali sumber-sumber keuangan sendiri untuk
meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD)
dalam upaya meningkatkan kesejahteraan daerahnya. “Pemda Karo juga,
sebagai daerah otonom di Indonesia mulai
mengembangkan sektor pariwisata sebagai sumber PAD,” ujarnya.
Diakui Terkelin, untuk mencapai itu semua
memang harus didukung potensi alam dan seni budaya. Sebut saja kota wisata
Berastagi, yang menjadi andalan wisata Kabupaten Karo. Berastagi memiliki keanekaragaman hayati dengan pesona alam yang
indah, alami dan menarik. Selain itu salah satu obyek wisata yang menarik dan
banyak dikunjungi wisatawan adalah
pemandian air panas alam, yang berada di lereng Gunung Sibayak. Sumber
mata air panas dikelola menjadi suatu obyek wisata yang menawarkan pemandian
air panas alam. Air panas dialirkan ke kolam-kolam berendam, ditambah udara
dingin dan sejuk serta pemandangan pengunungan yang asri dan indah menjadi
sebuah daya tarik bagi wisatawan. “Khusus objek wisata permandian air panas,
pemda berusaha menyiapkan sarana jalan yang memadai untuk menuju lokasi.
Sementara pengelolaan lokasi permandian, sepenuhnya ditangani warga pemilik”
urainya.
Pengelolaan yang tepat untuk desa ini, Air panas di kaki gunung Sibayak, akan menjadi rezeki bagi semua warga. Mendulang keuntungan bukan hanya untuk perorangan, tetapi juga pihak pemerintah. Ini Anugerah bagi Kalak Karo (orang Karo). (Jaya Ginting)
Menikmati keindahan Sanya dari puncak bukit. (foto : ist)
Jayakarta News – Apa yang pertama kali terpikirkan saat mendengar kata Hainan? Chicken rice? Atau tempat wisata di China? Hainan adalah pulau di bagian tenggara dataran China yang luasnya kira-kira lima kali luas pulau Bali. Hainan memang diproyeksikan sebagai “Bali-nya China” karena punya deretan pantai cantik dan cuaca tropis yang menjadi incaran wisatawan dari China daratan dan wisatawan asing.
Cuaca tropis di Hainan menjadikan pulau ini
sebagai destinasi utama warga China maupun turis asing untuk pergi liburan saat
musim dingin. Peak season di Hainan adalah pada akhir tahun hingga Tahun Baru
China – sekitar bulan Februari dan awal Maret. Hainan juga dijuluki Hawai Of
The East yang sebagai gambaran pulau wisata dengan fasilitas lengkap, mulai
hotel berbintang sampai resort mewah. Pantai berpasir putih yang landai
sepanjang belasan kilometer di Sanya, toko souvenir dan oleh-oleh, hingga
wisata desa tradisional juga ada di Hainan.
Tiba di Bandara Haikou, rombongan peserta bersiap menuju hotel. (foto : Ist) Meninggalkan jejak di Movie Town. (foto : ist)
Penerbangan ke Hainan
Saat ini belum
ada penerbangan komersil langsung ke Hainan dari Indonesia. Penerbangan transit
di Singapura atau Malaysia adalah pilihan yang tersedia. Namun, Shwaratour
sebagai travel operator penyedia paket tour Hainan menggunakan pesawat sewa
alias charter flight. Setelah sukses dengan beberapa keberangkatan grup sejak
tahun 2017, di tanggal 5 Juli ini Shwaratour kembali memberangkatkan grup ke
Hainan. Kali ini pesertanya berasal dari Kota Barru di Sulawesi Selatan.
Rombongan didominasi peserta lanjut usia dan terbang ke Hainan via Surabaya
dengan Lion Air.
Jelajah tiga kota di Hainan : Haikou, Xing Long dan Sanya
Tiga kota
utama yang menjadi destinasi wisata di Hainan adalah Haikou, Xing Long, dan
Sanya. Spot paling populer di Haikou ada
beberapa area salah satunya yaitu Arcade Ancient Street, Mission Hills,
dan Movie Town. Arcade Ancient Street merupakan kota
tua-nya Haikou dengan bangunan bergaya kuno yang kini
difungsikan sebagai toko souvenir, makanan
dan cafe untuk
wisatawan.
Mission Hills dan Movie Town adalah dua wahana buatan yang dibentuk sedemikian rupa seperti Museum Angkut di Malang tapi dengan luas dan ragam yang lebih lengkap. Sementara Movie Town menawarkan wahana bergaya China masa lalu, cocok untuk penggemar foto karena hampir tiap sudutnya instagramable.
Dari Haikou, perjalanan dilanjutkan menuju Xing Long,
kota yang terkenal dengan deretan resort
mewah tepi pantai.
Destinasi wisata utama di Xing Long yaitu Bali Village,
Yetian Li Minority Nationality Village dan beberapa toko souvenir. Sesuai
namanya, Bali Village adalah sebuah wahana yang didesain dengan
bangunan-bangunan khas Bali. Konon, dahulu ada warga Bali yang pindah dan
menetap di Hainan, kemudian mereka mendirikan desa ini. Arsitektur dan
fasilitas pedukung di desa ini dibuat langsung oleh orang Indonesia.
Lokasi kedua merupakan desa adat-nya masyarakat lokal Hainan, Yetian Li. Karena itulah lokasi ini dinamakan sebagai Yetian Li Minority Nationality Village. Ada banyak aktivitas di desa wisata ini, seperti menganyam bambu, menenun, menumbuk biji-bijian, dan sebagainya. Dari Xing Long, rombongan akan menghabiskan sisa liburan mereka di Sanya, kota terbesar sekaligus metropolitan di pulau ini. Dari kejauhan, landscape Sanya berupa gedung bertingkat di pinggir pantai – mengingatkan kita pada Burj Al Arab di Dubai. Tak heran bila Sanya disebut juga sebagai Little Dubai atau Dubai From The East.
Gedung-gedung pencakar langit di Sanya lokasinya berada di pantai, memberi kesan modern sekaligus romantis di malam hari. Untuk menikmati pemandangan seperti ini, ada kapal pesiar wisata untuk menikmati permainan lampu dan laser disini. Ikon wisata lain di Sanya yaitu Deer Looking Back Garden, patung rusa menoleh ke belakang. Konon, tempat berdirinya patung ini dulunya merupakan lokasi bertemunya seorang pemuda dengan seekor rusa putih. Si rusa kemudian berubah menjadi wanita yang cantik.
Kisah legenda ini diabadikan di patung Deer Looking Back Garden. Untuk menuju puncak atau lokasi patung, wisatawan harus berjalan kaki kurang lebih 15 sampai 20 menit. Pemandangan cantiknya kota Sanya yang dikelilingi pantai dan lautan biru serta gedung-gedung bertingkat, membuat kita betah berlama-lama di puncak Deer Looking Back Garden ini.
Santap siang di salah restoran halal di Hainan. (foto : ist) Foto bersama di gerbang masuk Deer Looking Back Garden. (foto: ist)
Mengapa
Memilih Hainan?
Jika Anda browsing mengenai Hainan, Anda akan
memahami bahwa Hainan memang menarik untuk dikunjungi. Ciri khas pertama dan
paling menonjol dari Hainan adalah kelimpahan nuansa alami. Hutan tropis pulau
ini mencakup lebih dari 4000 jenis tanaman dan hampir 600 spesies hewan yang
berbeda, terutama burung. Banyak cagar alam yang dilindungi dan didirikan untuk
melestarikan spesies yang terancam punah serta lanskap pegunungan dengan
keindahan luar biasa. Keragaman tersebut memastikan kunjungan wisata dan
pengalaman unik dengan pemandangan alam liar yang langka.
Orang Indonesia sangat diuntungkan untuk
liburan ke Hainan. Selain banyak Paket Tour China yang menawarkan Paket Tour ke Hainan dengan fasilitas dan harga murah, ternyata pemerintahan Hainan juga mendukung agar orang Indonesia bisa bebas visa masuk ke Hainan hingga 30 hari! “Kesempatan ini pastinya memberikan peluang bagi kita orang Indonesia untuk menjelajahi sisi lain yang lebih alami dari Cina serta menikmati kehidupan pulau tanpa harus khawatir tentang bagaimana cara mendapatkan visa turis Cina”, papar ibu Hj.Khaerunnisa, Direktur Shwara Vedya Wisata.
Hal yang dilihat pertama kali ketika akan
liburan adalah cuaca. Beruntung cuaca di Hainan tidak terlalu dingin dan panas,
sehingga kita bisa membawa jenis pakaian casual yang tidak memberatkan isi
koper.
Banyak sekali tempat wisata yang bisa
dikunjungi sesuai minat. Hainan memiliki keindahan alam dan budaya. Kita bisa
berekreasi menjelajah laut dan pantai, pegunungan serta sungai, juga menjajal
adat-istiadat etnis minoritas. Menariknya, terdapat pula sejumlah lokasi yang
ramah pelancong Indonesia.
Hainan memiliki deretan kuliner Cina yang menggoda perut untuk menyantap. Bukan hanya jenis makanan Chinese Food saja tapi juga ada Jepang dan Western. Apalagi bagi kita yang muslim mencari makanan halal tidak sulit sebab ada restoran halal yang menyajikan beragam variasi makanan muslim dengan harga yang masuk akal di daerah Haikou dan Sanya.
Saat ini harga Hainan Tour tergantung musim
dan durasi waktunya berapa hari. Normalnya sekitar 5 jutaan kita sudah bisa
tour keliling Hainan selama 5 hari 3 malam. Waktu yang sangat eksibel bagi kita
untuk menghabiskan waktu cuti kerja. Bayangin saja harga Hainan Tour murah kita
tinggal duduk manis, tiket pesawat, visa , lalu diantar ke berbagai tujuan
wisata. Bahkan sudah termasuk untuk urusan makan selama perjalanan.
Kalau Anda bilang Hainan itu mahal dan jelek,
bisa jadi Anda salah pilih spot-nya. Salah satu travel bereputasi baik adalah Shwaratour. Sebagai
travel agent yang juga menangani umroh dan haji khusus, Shwaratour juga berpengalaman di
bidang perjalanan wisata dengan konsep moslem traveler. Apa yang ditawarkan
Shwaratour untuk paket tour ke Hainan? Pastinya Anda akan diajak mengunjungi
destinasi menarik yang ada di Hainan dengan layanan terbaik sepanjang perjalanan.
Terletak di garis lintang yang sama dengan Hawaii, kita bisa menikmati iklim tropis sepanjang tahun. Tentu tidak sulit beradaptasi dengan cuaca. Selain itu, jalan-jalan Hainan bisa mengubah pandangan kita tentang lalu lintas Cina yang padat. Transportasi yang nyaman dan juga daya tarik yang indah sambil melewati pedesaan yang tenang dan tanaman hijau yang kaya. Hainan dijamin memukau Anda. (nanang s)
Jayakarta News – Banyak bangunan bersejarah di manca negara yang kini berubah fungsi. Ada yang dulunya masjid lalu berubah menjadi gereja, atau sebaliknya, dulu gereja, sekarang masjid.
Salah satu masjid yang terkenal dalam sejarah Islam adalah
masjid Cordoba yang berdiri di Tenggara kota Madrid, Spanyol Selatan. Masjid
ini merupakan peninggalan kekuasaan Islam di bawah pemerintahan dinasty
Umayyah, yang bernama Abdurahman I. Ketika kerajaan Islam itu menguasai jazirah
Iberia dengan Cordoba sebagai ibukotanya.
Awalnya masjid ini adalah sebuah gereja Katolik yang
dibangun oleh bangsa Visigoth, bernama Visigoth Saint Vincent. Ketika
Andalusia/Spanyol dikuasai muslim, katedral tersebut dibagi menjadi dua bagian.
Satu bagian untuk muslim dan bagian lainnya Kristen.
Ketika Khalifah Abdurahman berkuasa, bagian Kristen dibeli
dan dibangunlah menjadi masjid Cordoba pada tahun 787. Pembangunan terus
dilanjutkan, Abdurahman II membangun menara. Dilanjutkan oleh Al Hakam II dengan
membangun mihrab dan khalifah-khalifah setelahnya.
Mihrab di Masjid Agung Cordoba. (foto: ist)
Setiap khalifah memberikan, membangun sesuatu yang baru
kepada masjid ini. Dengan memperluas, memperindah dan menyempurnakannya
sehingga masjid Cordoba menjadi masjid terindah dan terbesar di dunia saat itu.
Masjid Cordoba menjadi
salah satu bangunan arsitektur penting dan bersejarah dalam khasanah
masyarakat Islam. Interiornya sangat indah dan rumit, dipenuhi dengan pilar
pilar besar yang tersusun menjadi kolom kolom. Seni arsitektur kolom kolom
tersebut mengadopsi beberapa sentuhan seni dari Romawi dan juga masjid Agung
Damaskus.
Pasca kejatuhan kekhalifahan Islam di Andalusia, Spanyol,
masjid Agung Cordoba diambil-alih Raja Ferdinand III dan mengubah fungsi masjid
menjadi gereja dengan nama La Mesquita.
Tentu saja bangunan ini mengalami penambahan dan
penghancuran. Di bagian dalam yang awalnya bangunan masjid dibangun
Villaviciosa Chapel dan Royal Chapel di dalam masjid. Menara pun ditambahkan
lonceng.
Masjid Agung Cordoba yang sudah menjadi Katedral. (foto: ist)
Yang paling mencolok atau signifikan pembangunan katedral
Renaisanse di tengah struktur masjid pada abad ke-16. Atas izin raja Spanyol
Charles V. Dampak dari pembangunan
katedral di tengah-tengah bangunan masjid itu, hingga dari total 900 pilar yang
tersisa 856 pilar. Katedralnya dinamai Mezquita – Catedral.
Meski sudah banyak mengalami
renovasi dan penambahan di sana-sini, namun tidak semua hasil karya
arsitektur Islam di masjid itu hilang. Yang paling mencolok salah satunya
adalah goresan kaligrafi ayat ayat suci Alquran pada dinding mihrab masih
dipertahankan.
Tidak ada yang bisa memungkiri bahwa Katedral Mazquita yang
berdiri di kaki Bukit Sierra Montana adalah saksi kemasyuran peradaban Islam di
Spanyol.
Pada tahun 1994, tepatnya tanggal 15 Desember, UNESCO menetapkan Masjid Agung Cordoba sebagai salah satu tempat peninggalan yang sangat bersejarah dan penting dunia. (s. resti handini)
Berfoto dengan latar belakang menara yang sudah berlonceng dan dikelilingi pohon jeruk. (foto: ist)
Jayakarta News – Spanyol selain dikenal sebagai negeri matador, juga dikenal dengan klub bolanya. Selain itu bahasa mereka yang telah mendunia dan tempat wisata yang perlu diperhitungkan. Namun sejatinya Spanyol memiliki sejarah Islam yang kental di masa lalu.
Salah satunya adalah Istana Alhambra (IA) yang sekaligus
menjadi benteng. Berdiri kokoh di bukit La Sabica Granada, Spanyol Selatan. Ia
menjadi saksi bisu kejayaan kerajaan Islam di Spanyol. Istana ini terletak pada
ketinggian kurang lebih 150 meter dari permukaan air laut, dengan luas sekitar
14 Ha.
Dari tempat ketinggian ini bisa terlihat pemandangan seluruh
kota hingga sejauh mata memandang. Kompleks IA dikelilingi oleh benteng dengan
pola tidak beraturan.
Alhambra berasal dari bahasa Arab yang artinya “merah”,
dapat diartikan sebagai istana yang berwarna kemerahan. Karena lantai dan
temboknya sebagin besar dibuat dari hiasan dinding berwarna kemerahan.
Kaligrafi Arab di sebagian dinding ruang ruang utamanya (ist)
Alhambra didirikan pada masa Bani Ahmar/bangsa Moor dari
daerah Afrika Utara. Adalah penguasa kerajaan Islam terakhir yang berkuasa di Andalusia. IA menjadi saksi bisu sekaligus
bukti sejarah kejayan Islam di Spanyol (dulu Andalusia).
Selain menjadi bukti kejayaan Islam IA bernilai seni
arsitektur tinggi yang juga
memperlihatkan peradaban tinggi umat
Islam tempo dulu.
Di IA bagian eksteriornya penuh dengan taman-taman yang dipangkas dilengkapi taman bunga semusim. Di taman atau di bagian patio istana terdapat kolam air mancur yang dikelilingi dengan 12 patung singa, berbaris melingkar.
Air Mancur yang dikelilingi 12 singa di Istana Alhambra, Spanyol. (foto: s. resti handini)Salah satu sudut taman di Istana Alhambra (ist)
Tidak hanya itu, di IA terdapat berbagai ruang indah yang
dipenuhi hiasan hiasan kaligrafi Arab. Antara nya Ruangan Al Hukmi ruang
Pengadilan, Ruangan Bersiram, terdapat pula kolam atau Al Birkah atau disebut
“El Partal”.
Di sini terdapat pula menara pengawas serta menara enam lantai. Selain sebagai pusat komando pertahanan juga berfungsi sebagai Istana Sultan yang menjadi pusat pemerintahan.
Pada masa jayanya, istana ini dilengkapi dengan barang-barang berharga yang terbuat dari logam mulia, perak, permadani permadani indah buatan tangan yang masih alami. Masa itu bidang pertanian dan perdagangan sangat maju.
Kejatuhan Daulah Bani
Ahmar merupakan akhir sejarah kejayaan Islam di Spanyol, selama 8 abad dalam kekuasaan Islam. Dalam sejarah Islam,
tidak hanya Andalusia yang berjaya sebagai kerajaan Islam, tetapi juga Spanyol
Selatan lainnya seperti Toledo, Malaga, Valencia dan Sevilla merupakan kerajaan
kerajaan kecil Islam lainnya.
Sejak tahun 1984,
Istana Alhambra yang dibangun bertahap dari tahun 1238-1358 ini
ditetapkan oleh UNESCO sebagai Situs Warisan Budaya Dunia. (s. resti handini)
Emil Murphy bersama Keluarga sedang menikmati salah satu fasilitas kapal kayu di pantai Lumban Bulbul. (Foto. Ist)
Jayakarta News – Banyak
cara mengisi liburan. Ada yang spontan, ada yang direncanakan. Sebagian memilih
wisata sejarah, sebagian lain memilih wisata kuliner, dan tidak sedikit yang memilih
paket wisata lengkap: wisata alam, kuliner, sejarah, seni-budaya, dan wisata
belanja.
Emil Murphy Sianturi, adalah salah satu warga yang memilih
berlibur ke luar kota bersama keluarga. Warga kota Medan, Sumatera Utara itu
memilih berwisata ke Balige.
“Alasan memilih Balige karena ada pantai yang indah
namanya pantai Lumban Bulbul, yang berada di Desa Lumban Bulbul, Kecamatan
Balige, Kabupaten Toba Samosir. Di samping itu juga dekat dengan Kecamatan
Laguboti, kampung halaman orang tua aku,” ujar Emil.
Ia menempuh jarak Medan menuju Balige dalam waktu sekitar
enam jam, melalui jalur Parapat. Bagi yang memilih alternatif perjalanan udara,
bisa melalui Bandara Silangit. Jarak bandara Silangit ke Pantai Lumban Bulbul
hanya sekitar 20 km. Jika lancar, waktu tempuhnya hanya sekitar setengah jam.
Pantai Lumban Bulbul termasuk salah satu objek wisata yang
banyak diminati wisatawan lokal. Namun beberapa waktu terakhir, mulai banyak
dikunjungi turis asing. Pantai ini memiliki keindahan panorama yang luar biasa.
Di pinggir pantai terdapat pasir putih yang menjadi ciri khas objek wisata ini.
Sementara, airnya juga tidak begitu dalam sehingga sangat cocok buat keluarga
karena nyaman untuk anak-anak bermain.
Seperti bermain perosotan bisa langsung meluncur ke daerah
air yang dangkal. Selain itu, di pantai ini terdapat tangga untuk melompat. Bagi
yang gemar berfoto, tak perlu khawatir. Di objek Pantai Lumban Bulbul tersedia
banyak spot selfie.
Salah satu spot foto di Pantai Lumban Bulbul. (Foto. Ist)
Kelebihan lain objek wisata ini adalah bisa menikmati pemandangan Danau Toba dari tepi pantai. Jika kita lempar pandang lebih jauh, tampak pemandangan bukit-bukit serta hijaunya pepohonan yang terlihat dari kejauhan.
“Jadi yang membuat menarik di Pantai Lumban Bulbul itu
para wisatawan dapat melakukan berbagai aktivitas permainan di pantai pasir
putih, misalnya dapat mengendarai ATV di tepi pantai, lalu menaiki kano, kapal
kayu yang membawa kita mengitari tepi danau, banana boat, dan lainnya. Tarifnya
bervariasi, tetapi relatif masih terjangkau,” ujar Emil seraya
menambahkan, “kehadiran petugas pengawas pantai juga membuat kami merasa lebih
tenang.”
Selain itu, di sekitar pantai ada pendopo untuk meletakan
barang-barang bawaan. Pengelola menyewakan tempat penyimpanan aneka bawaan
pribadi. “Dan pengunjung tidak perlu membeli tiket masuk untuk datang ke
pantai Lumban Bulbul. Hanya saja, bagi yang datang membawa mobil, kita cukup
membayar uang parkir,” jelas Emil. Sebuah alternatif berlibur yang eksotis
dan tidak membuat kantong tiris…. (Monang
Sitohang)
Hamparan pasir putih Pantai Batu Hoda, Samosir, Sumatera Utara. (foto: monang sitohang)
JAYAKARTA NEWS – Tak
selamanya, pantai bertepian denggan laut. Pantai Batu Hoda, contohnya. Disebut
pantai, meski ia berada di tepi Danau Toba, tepatnya di Desa Cinta Dame,
Kecamatan Simanindo, Kabupatan Samosir, Sumatera Utara.
Mengunjungi pantai Batu Hoda adalah rangkaian perjalanan wisata pelengkap wisata Danau Toba. Seperti telah saya laporkan di Jayakarta News sebelumnya, bahwa banyak objek lain yang menarik dikunjungi. Objek terakhir sebelum ke Pantai Batu Hoda adalah air terjun Sampuran Efrata di Desa Sosor Dolok.
Dari Efrata ke Pantai Batu Hoda, saya tempuh melalui Simpang
Limbong belok kiri. Sebenarnya, lurus pun bisa, dan nanti dua jalur itu bertemu
di simpang Hot Spring Pangururan. Akan tetapi, belok ke kiri di Simpang Lembong
lebih direkomendasikan, karena jalur ini melalui panorama yang sangat
menakjubkan.
Sejumlah spot wisata terlewati jika melalui jalur ini.
Misalnya yang ada di Desa Sianjur Mula-mula. Di desa ini ada objek wisata Aek
Sipitu Dai, Batu Obon, dan pemandian air panas. Sepanjang perjalanan, mata bisa
memandang hamparan Danau Toba dengan airnya yang membiru, berlatar belakang
bukit-bukit menjulang. Pemandangan kian menakjubkan mendekati Pulau Tulas.
Tampak Pulau Tulas yang terletak di Kecamatan Sianjur Mula-mula. Pemandangan ini ditangkap dalam perjalanan menuju Pantai Batu Hoda. (foto: monang sitohang)
Saat Jayakarta News berkunjung beberapa waktu lalu (Mei 2019), tampak sejumlah orang tengah membangun fasilitas wisata. Bentuknya kurang lebih seperti rumah singgah yang bisa dijadikan tempat makan dan minum.
“Wow keren pemandangannya. Jalannya bagus, nyaman dilalui. Sayang, belum semua dikasih pembatas jalan. Ini cocok untuk rally mobil,” ujar Aditya salah seorang di antara kami. Sejurus kemudian, kami sudah mengeluarkan handphone masing-masing dan sibuk berfoto-foto.
Objek wisata Pantai Batu Hoda ini tidak sulit dijangkau.
Sekalipun dari Medan. Jika menempuh jalur Puncak Tele, perlu waktu enam jam
dengan jaminan panorama yang menakjubkan. Sementara jika melalui jalur Parapat,
lebih cepat satu jam, dengan panorama lain yang juga menarik.
Bagi yang berkendara sendiri, tak perlu khawatir, karena papan
petunjuk cukup jelas. Kami yang mendekati pantai dari air terjun Efrata, hanya
perlu waktu sekitar 1,5 jam, sampai pada pintu gerbang dengan penjagaan. “Selamat
pagi Pak, maaf ada berapa orang di dalam mobil?” ujar petugas retribusi. Ya,
kami, para pengunjung harus membayar retribusi Rp 14.000 per orang, dan Rp
5.000 untuk kendaraan roda empat. Tarif tersebut sudah termasuk bebas menikmati
fasilitas gazebo, berswafoto di spot-spot yang ada. Kecuali jika ingin berfoto
di rumah pohon atau menyewa ban, akan dikenakan biaya tambahan.
Ikon Pantai Batu Hoda berbentuk kuda hitam. Ada legenda tentang petuah kesetiaan di balik ikon kuda hitam itu. (foto: monang sitohang)
Destinasi Pantai Batu Hoda ini belum genap satu tahun dibuka
untuk umum, tepatnya diresmikan Septemmber 2018. Destinasi ini termasuk satu
dari 16 titik Geosite Kaldera Toba, yang memiliki ikon Kuda Hitam.
Ikon itu bukan tanpa makna. “Dahulu ada seekor kuda betina datang dari tengah danau, mungkin dari seberang Silalahi atau lainnya. Dikisahkan, kuda betina itu hendak bertemu kuda jantan di bibir pantai. Ternyata setelah lama menunggu, sang kuda jantan tak kunjung datang. Kawanan hewan pun menasihati kuda betina untuk pulang, tetapi ditolak. Kuda betina tetap menunggu, sambil mengatakan ‘aku tetap menunggu sekalipun aku jadi batu’. Kisah itu menyiratkan pesan moral kesetiaan perempuan atas janjinya,” ujar Siboro, menguraikan kisah di balik ikon itu.
Di sekitar pantai Batu Hoda, banyak terdapat pasir kuarsa yang memiliki khasiat terapi. Jika kita menginjaknya tanpa alas kaki, diyakini akan melancarkan peredaran darah dan menyehatkan tubuh. “Jika banyak jalan di pantai ini, dijamin malamnya lebih nyenyak tidur,” jelas Siboro.
Sejumlah pengunjung bermain volly pantai di Pantai Batu Hoda. (foto: monang sitohang)
Dan di lokasi pasir putih Batu Hoda terlihat ada beberapa pohon yang tumbuh sehingga dapat menjadi peneduh terik matahari. Di pantai itu, juga dilengkapi fasilitas home stay enam kamar, toilet, food court, shower untuk membersihkan badan sehabis berenang, wahana air, volly pantai, pondok-pondok, rumah pohon, gazebo, spot-spot foto, dan lain-lain.
Pengelola objek wisata Pantai Batu Hoda juga memberi tali
pembatas sebagai zona aman untuk berenang. Melalui pengeras suara, pengeloa
secara berkala juga menyampaikan pengumuman-pengumuman atau informasi-informasi
yang penting diketahui pengunjung.
Sementara, menurut Gagarin Sembiring, Wakil General Manager Badan Pengelola Geopark Kaldera Toba, pantai Batu Hoda merupakan titik geosite. Di tempat ini ada rekaman peristiwa pasca letusan super volcano Toba 74.000 tahun yang lalu. “Kami sedang melakukan pemetaan dari seluruh geosite yang ada di kawasan Danau Toba. Semuanya ada 16 geosite,” tambah Sembiring.
Ada proses panjang untuk menentukan suatu tempat itu termasuk
ke dalam geosite Danau Toba. Diklasifikasikan sebagai geosite jika memiliki nilai
penting sisi sejarah geologinya, bentuknya, budaya, keanekaragaman flora dan
fauna, dan lain-lain.
Sembiring menambahkan, di Pantai Batu Hoda bisa kita lihat
rekaman peristiwa naiknya Pulau Samosir yang tadinya adalah dasar danau,
sekarang menjadai pulau. Geosite yang lain adalah batuan dasar Danau Toba,
berupa batu gamping berumur 250 juta tahun, ada batu Sabak yang berumur 300
juta tahun, semua geosite yang kita plot yang harus dijaga supaya jangan hilang.
Esensinya, membangun geopark adalah sustainablity development dengan kata lain berkelanjutan. Bagaimana
kita mendapatkan nilai ekonomi tanpa harus mengeksploitasi. Justru kegiatannya harus
bersifat konservasi. “Bisa saja dapat uang dengan ditambang tapi untuk anak
cucu kita nanti tidak dapat apa-apa lagi. Tapi sekarang bagaimana kita jaga agar
tidak ada habis-habisnya. Kita harap, di konvensi Global Geopark Unesco yang
diselenggarakan di Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat, Geopark Kaldera Toba
diumumkan. Artinya lulus menjadi geopark dunia,” harap Gagarin Sembiring. (Monang
Sitohang)
Penulis menikmat air terjun Efrata. (foto: dok. pri)
JAYAKARTA NEWS – Setelah mengunjungi destinasi wisata Bukit Holbung Sipege beberapa hari lalu, perjalanan selanjutnya menuju Air Terjun Sampuran Efrata, yang berada di Desa Sosor Dolok. Jarak dua destinasi tersebut tidaklah begitu jauh, hanya sekitar 25 menit menggunakan mobil dan sedikit lebih cepat jika menggunakan sepeda motor. Kedua destinasi itu berada di dua desa yang berbeda, Harian Boho dan Samosir.
Untuk menuju ke Air Terjun Efrata saat ini sudah ada dua
jalur. Pertama jalur dari Kecamatan Harian Boho dan yang kedua jalur dari
persimpangan persimpangan puncak Tele, dengan waktu tempuh sekitar 20 menit.
Saat itu kami melalui jalur Kecamatan Harian Boho. Dari sebuah
pasar tampak plang bertuliskan Air Trjun Efrata. Waktu tempuh dari plang petunjuk
ke lokasi, hanya sepuluh menit. Jadi bagi yang belum pernah datang ke sana,
dijamin tidak akan menemui kesulitan. Sementara jika dari Kota Pangururan
sebagai ibukota Kabupaten Samosir akan menghabiskan waktu sekitar satu jam
dengan jarak sekitar 24 km.
Udara sejuk menyergap jendela mobil yang sengaja terbuka.
Terik matahari nyaris tak mampu memberi sengatan berarti pada kulit tubuh kita.
Di beberapa titik dalam perjalanan tampak bedeng persawahan dipenuhui padi menghijau,
serta bebatuan besar-besar, serta bebukitan di kejauhan sana.
Akhirnya kami tiba di lokasi air terjun Efrata. Dari lokasi
parkiran mobil, terlihat jelas ada sebuah rumah sekaligus tempat jualanan
makanan dan minuman yang membelakangi air terjun. Rasa ingin mendekatinya pun
sudah tidak sabar, tetapi kami terlebih dahulu harus membayar retribusi.
Rumah memunggungi air terjun efrata. Di sini, pula Ibu Boru Sinaga memungut retribusi. Untuk melayani pengunjung, ia menjual aneka minuman dan penganan. (foto: monang sitohang)
Di sudut lain, tampak seorang Ibu sedang duduk menghadap
meja. Rupanya, dialah petugas pungut retribusi kawasan wisata tersebut. Kemudian
kami menghampiri. “Berapa uang masuknya bu,” ujar salah seorang dari
kami, lalu si ibu bernama Boru Sinaga menjawab, “Tujuh ribu untuk
pengunjung, lima ribu untuk parkir mobil.” Setelah menerima uang pembayaran
retribusi, ibu Sinaga menunjukkan lokasi ganti pakaian tak jauh dari parkiran.
Kini, kami siap berbasah-basah menikmati air terjun. Jalan
menuju lokasi air terjun, tidak seperti kebanyakan jalan di lokasi air terjun
lainnya. Di sini, tidak ada jalan terjal mendaki, atau menukik tajam ke bawah.
Landai-landai saja.
Di kawasan air terjun terlihat pepohonan liar. Makin
mendekat lokasi air terjun, gemuruh suara air terjun semakin keras. Cipratannya
cukup untuk membasahkan pengunjung yang berada di radius dua-tiga meter dari titik
jatuhnya air. “Sungguh menakjubkan. Dari beberapa air terjun yang sudah
dikunjungi ini sepertinya yang paling lebar,” gumamku dalam hati. Bentang
air terjun tak kurang dari 10 meter, dengan ketinggian sekitar 30 meter.
Curahan debit air terjunnya pun lumayan deras. Air terjun
turun melalui tebing-tebing terjal dan curam. Airnya pun terasa sejuk, ingin
rasanya menikmati air terjun sembari berdiri di sekitar bebatuan tersebut
sambil mandi. Dan memang tidak ada
larangan mandi di bawahnya. Hanya saja, harus hati-hati karena bebatuan yang
ada cukup licin dan bisa memelesetkan langkah yang gegabah. Siang itu, niat
berbasah-basah terpaksa kami urungkan. Bukan karena batu yang licin, tetapi
karena airnya tampak kemerah-merahan, dampak dari turunnya hujan beberapa hari
terakhir.
Akhirnya kami hanya berswafoto lalu kembali. Sebelum pulang saya sempatkan bertanya kepada ibu Boru Sinaga, “Lagi sepi hari ini ya Bu?” Ia menjawab, tadi ada beberapa orang mandi di air terjun. Mereka pengunjung yang datang dari Bukit Holbung, sehabis camping. Sebelum pulang mampir ke air terjun Efrata. Ada yang mandi, ada yang berfoto-foto. (Monang Sitohang)
Air Terjun Sampuran Efrata berada di Desa Sosor Dolok, Kecamatan Harian Boho, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. (Foto. Monang Sitohang)
Awalnya sebuah rumah tinggal, kemudian dijadikan Padepokan Seni Pak Bei Tani. sekarang menjadi Museum Wayang Indonesia Wonogiri. (Foto : Herdy P.)
JAYAKARTA
NEWS – Ini tentang Wonogiri.
Kabupaten di Jawa Tengah bagian selatan timur ini dari dulu terkenal tandus.
Daerah ini pernah dijuluki kota gaplek, karena makanan pokok sebagian besar
masyarakatnya adalah tiwul. Olahan makanan yang terbuat dari singkong
dikeringkan, alias gaplek. Selain tiwul, banyak makanan olahan lain seperti
gatot, tape, gethuk, dan lain-lain.
Lain dulu lain sekarang. Wonogiri kini sudah “ijo
royo-royo”. Bahkan, sudah banyak spot wisata yang menarik, seperti Bukit Cumbri, Pantai Klothok, Air Terjun Girimanik, Goa Putri Kencono,
Waduk Gajah Mungkur, dan lain-lain.
Selain wisata alam, Wonogiri juga memiliki tempat wisata lain yang tak kalah menarik, Museum Wayang
Indonesia. Di museum ini kita akan diajak mengenal
berbagai jenis wayang. Dengan mengunjungi museum ini kita bisa semakin
mencintai budaya bangsa serta melestarikannya sebagai budaya bangsa adi luhung.
Museum Wayang Indonesia Wonogiri di Jalan Raya Wuryantoro, Ngebel, Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri. (Foto : Herdi P.)
Menurut keterangan Rakino, penjaga sekaligus pengelola Museum Wayang Indonesia
Wonogiri, awalnya adalah rumah tinggal seorang Mantri Tani yang bernama Pak Bei
Tani, yang juga kebetulan bapak angkatnya pak Harto (Soeharto), mantan Presiden
ke-2 RI. Jadi pak Harto (Soeharto) sampai lulus Sekolah Dasar (SD) tinggal di sini.
Pak Bei Tani ini adalah seorang Mantri Tani di daerah Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri. Dalam perkembangannya, rumah ini telah
mengalami renovasi. Lalu pada tanggal 17 November 1987, diresmikan menjadi
Padepokan Seni Pak Bei Tani oleh Ibu
Tien Suharto. Kemudian Bupati Wonogiri, Begug Purnomosidi ketika itu, mempunyai
inisiatif menjadikan Padepokan Seni Pak Bei ini menjadi Museum Wayang dan kemudian diresmikan secara simbolis oleh Megawati
Soekarnoputri pada tanggal 1 September 2004.
Di museum ini, terdapat sekitar
10 – 15 jenis wayang yang berasal dari seluruh wilayah Indonesia. Diharapkan, koleksi wayang yang ada
mampu meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap seni budaya bangsa sendiri,
khususnya seni pewayangan.
Lebih lanjut Rakino bercerita tentang asal-usul dan jenis wayang yang
ada di bumi Nusantara ini. Ada wayang Golek dari Jawa Barat, Wayang Bali dari
Pulau Bali, Wayang Ukur dari Yogyakarta, Wayang Rumput dari Solo, Wayang Sat
dari Demak, Wayang Wahyu dari Jawa Timur, Kebumen dan Cirebon, Wayang Topeng dari
Wonogiri, Wayang Lukisan Mini atau wayang-wayang yang memperoleh penghargaan MURI.
Soeharto, sewaktu mengunjungi Sumur Tua “Sumur Drajat”, yang terletak belakang Museum Wayang Indonesia Wonogiri. (Foto : Herdy P.) Sebuah kamar tidur yang pernah ditempati Soeharto, Presiden RI ke-2, bisa dikunjungi di dalam area Museum Wayang Indonesia Wonogiri. (Foto : Herdy P.)
Sebagian besar wayang yang
ada, terbuat dari kulit sapi, kulit kerbau, atau kulit kambing.
Wayang kulit ini juga sebagai koleksi utama yang banyak menceritakan kisah
tentang Ramayana dan Mahabarata dengan lakon paling terkenal adalah Baratayudha.
Di sana juga ada Wayang
Potehi yaitu wayang yang berasal dari Jawa Timur yang dibawa seorang keturunan
Thiongha. Jadi
Wayang Potehi ini adalah wayang dari Cina, dan cara memainkannya memakai tali,
semacam wayang golek yang terbuat dari kayu terus diberi kain sebagai baju, jadi mirip Wayang
Boneka.
Adapun Wayang Ukur adalah
tiruan wayang kulit purwa, wayang yang sudah dimodifikasi, jadi mengenai tokoh
dan karakter sama cuma bentuk dan warnanya berbeda. Kemudian Wayang Sadat
yaitu wayang yang terbuat dari kulit, dengan tokoh raja atau pangeran, bahkan kyai. Wayang sadat
ini sebagai media dakwah agama Islam.
Kalau Wayang Wahyu terbuat dari kulit dan tokohnya adalah Yesus, Maria
serta para pengikutnya. Wayang ini
menceritakan kisah-kisah
Kristiani. Terus ada wayang Topeng, wayang ini terbuat dari
kayu sebagai media untuk tari wayang golek, sendra tari, cara memainkannya
pakai topeng.
Wayang Bali, adalah wayang yang bercorak dan berukir khas Bali. Wayang
Bali ini condong ke India, baik dalam visualisasi maupun gagrag (jalan cerita). Lalu ada Wayang Mini, wayang yang terbuat
dari kulit, bentuknya kecil dan
hanya berfungsi sebagai aksesoris. Terus ada Beber, adalah
sebuah lukisan wayang, cerita dan pertunjukannya adalah wayang ini digelar dan dalang menarasikannya. Wayang beber bisa
bercerita tentang dunia pewayangan, pertanian, politik,
bahkan sebagai media untuk diskusi.
Wayang Suket atau Wayang Rumput, terbuat dari anyaman rumput. Sekilas, memang sangat sulit
membedakan karakter satu wayang dan lainnya. Karenanya, karakter biasanya
mengikuti jalan ceritanya. Contoh, bisa saja sosok Rama di cerita Ramayana,
menjadi Kresna di cerita Mahabharata.
Ada lagi Wayang Klitik. Wayang ini terbuat dari
kayu berbentuk pipih, jadi wayang ini berbentuk dua dimensi dari kayu yang ringan. Biasanya mengisahkan cerita Damarwulan dan Minakjingga. Ada
juga Wayang Kompeni, juga terbuat dari kulit, tokohnya
adalah Pangeran Diponegoro,
pertunjukannya bercerita tentang perlawanan Diponegoro
melawan penjajahan Belanda.
Tidak hanya sejarah dan cerita wayang yang bisa ditemui di tempat ini. Pengunjung juga akan diarahkan ke sebuah sumur tua yang terletak di belakang museum, sebuah sumur tua yang diberi nama “Sumur Drajat”. Sumur ini memiliki kedalaman hingga 11 meter. Menurut cerita, sumur ini belum pernah kering walaupun musim kemarau yang panjang sekalipun.
Sebagian masyarakat mempercayai, air sumur ini
memiliki khasiat bisa mengobati suatu penyakit. Air sumur ini juga acap
dijadikan sarana tirakat, sarana upacara ritual tertentu.
Jadi sampai sekarang ini sebagian
masyarakat ada yang masih percaya dengan keberkahan sumur tua ini.
Untuk menuju ke lokasi ini tidaklah sulit. Dari pusat kota Wonogiri arah
ke selatan kira-kira 15 kilometer. Jika ditempuh dari Pacitan lewat
Pracimantoro, berjarak sekitar 60 km. Sedangkan dari arah Wonosari Yogyakarta,
berjarak 60 kilometer. Museum ini terletak di Jalan Raya Wuryantoro No. 184,
Ngebel, Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri,
Jawa Tengah. (Nanang S. & Herdy P.)