Menparekraf Sambut Baik Penetapan Danau Toba Sebagai Unesco Global Geopark

Jayakarta News – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/KaBaparekraf) Wishnutama Kusubandio menyambut baik ditetapkannya Danau Toba di Sumatera Utara sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark (UGG).

Menparekaf Wishnutama Kusubandio dalam pernyataannya di Jakarta, Jumat (10/07/2020) menjelaskan, Danau Toba yang menjadi salah satu destinasi pariwisata super prioritas telah tersertifikasi tingkat dunia oleh UNESCO Global Geopark (UGG) sehingga Danau Toba akan semakin terkenal di level dunia dan yang terpenting memberi manfaat bagi masyarakat setempat.

“Danau Toba bisa menjadi sumber pendapatan untuk masyarakat yang memiliki potensi tinggi untuk dikembangkan jadi destinasi. Memadukan 3 potensi utama yaitu geo diversity (keanekaragaman geografis), bio diversity (keanekaragaman hayati), culture diversity (keanekaragaman budaya) Danau Toba memiliki peranan penting menopang sektor pariwisata,” katanya.

Menparerkaf menjelaskan, melalui pengembangan geopariwisata yang berkelanjutan, diharapkan akan membuat masyarakat setempat memiliki peluang untuk meningkatkan budaya, produk lokal, dan penciptaan lapangan kerja yang lebih luas.

“Penetapan ini memberi kesempatan plus tanggung jawab bagi Indonesia, untuk mendorong pengembangan perekonomian dan pembangunan berkelanjutan di kawasan sekitar,” katanya.

Presiden RI Joko Widodo dan Ibu Negara RI Iriana saat berkunjung di Danau Toba. (Foto: Ist)
Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Indonesia, Luhut Binsar Panjaitan bersama Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/KaBaparekraf) Wishnutama Kusubandio saat berkunjung ke Danau Toba. (Foto: Ist)

Kaldera Toba atau yang lebih dikenal sebagai Danau Toba sendiri ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark pada Sidang ke-209 Dewan Eksekutif UNESCO di Paris, Prancis, Selasa, 2 Juli 2020.

Kaldera Toba berhasil masuk daftar UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) setelah dinilai dan diputuskan oleh UNESCO Global Geoparks Council pada Konferensi Internasional UNESCO Global Geoparks IV di Lombok, Indonesia, pada 31 Agustus-2 September 2019. (*/Monang Sitohang)

Danau Toba

“Unlocking Indonesia’s Treasure”

Jayakarta News – Pernahkah Anda melihat mobilhome di jalan? Sebuah truk engkel, Colt Diesel FE 71, salah satu produk andalan Mitsubishi KTB Fuso yang telah dimodifikasi menjadi “rumah berjalan”. Nah, mobil inilah yang dikendarai Kusmajadi bersama istri dan dua anaknya keliling Indonesia.

Mobil dengan cat dominan putih, dan abu-abu di bagian bawah itu, memang didesain untuk touring. Makanya, selain ada tempat tidur, juga dilengkapi mesin cuci, televisi, kompor gas, dll.

Sebagai identitas, mobil ini pun dilengkapi semacam “call sign” yang bisa Anda jumpai di bagian luar. Sebuah gambar peta Indonesia lalu di bawah ada tulisan Unlocking Indonesia’s Treasure. Di sebelah kanan di bawah ventilasi, ada tulisan “Keluarga Kusmajadi”.

Perjalanan keliling Indonesia ini adalah yang kedua. Adapun yang pertama, pernah mereka lakukan pada tanggal 2 November 2018, dengan “call sign” Home Car Menjelajah Indonesia. Saat itu, saya menjumpainya di Medan, Sumatera Utara.

Keluarga Kusmajadi terdiri dari, Dodi Kusmajadi kepala keluarga, Melati Putri sang istri, dan dua anaknya Abdul Hakim Putra Kusmajadi dan Nara Sabiya Putri Kusmajadi. Bicara ihwal slogan Unlocking Indonesia’s Treasure, Kusmajadi menjelaskan karena itulah misi perjalanan kali ini.

Keluarga Kusmajadi dan salah seorang teman saat berfoto di mobilhome. (Foto: Ist)

Ada empat misi perjalanan keliling Indonesia kali ini. Pertama, ingin mempelajari kekayaan budaya, kesenian, sejarah dan (mencicipi) kuliner di seluruh Indonesia. Kedua belajar kearifan lokal di daerah-daerah yang kami kunjungi. Ketiga bertemu pahlawan-pahlawan lokal yang mampu memberdayakan masyarakat di wilayahnya dengan kemampuan serta potensi yang dimilikinya.

Seperti salah satu pahlawan lokal yang mereka temui adalah Tison Sihabuddin di Pulau Bungin, Sumbawa. Pemuda 30 tahun ini membangun Bank Ikan, Museum Nelayan, serta Restoran Terapung untuk Masyarakat Suku Bajau di Pulau Bungin. Kegiatan ini untuk menggerakkan ekonomi warga. Dan terakhir, keempat, menikmati keindahan alam Indonesia yang tidak ada duanya.

Kemudian Kusmajadi mengatakan lagi kepada Jayakarta News melalui WhatsApp kemarin (7/5/2020), “Kami telah menyelesaikan perjalanan darat (road trip) menggunakan kendaraan motorhome, beberapa provinsi yaitu Sumatera, Jawa, Bali, NTB, NTT, Sulawesi dan Kalimantan. Sementara Maluku dan Papua akan ditempuh dengan cara backpacker,” tulisnya.

Mereka sudah kembali dari perjalanan keliling Indonesia sejak 8 Maret 2020. “Dan alhamdulillah kami sudah di rumah sebelum ada pembatasan akibat Covid-19,” tambah Kusmajadi.

Dodi Kusmajadi bersama sang istri Melati Putri, saat berfoto di lokasi Air terjun Mata Jitu Pulau Moyo Sumbawa. (Foto: Ist)
Keluarga Kusmajadi saat di Air Terjun Tumpak Sewu Lumajang. (Foto: Ist.)

Kenapa kita harus menjelajahi negeri sendiri?

Dengan berwisata di negeri kita sendiri maka kita ikut menggerakkan roda perekonomian penduduk di suatu daerah. Setidaknya dengan membeli kerajinan lokal, lalu membayar tiket masuk, makan di warung penduduk atau menginap di homestay milik penduduk.

Lalu menurut Kusmajadi yang sudah mengelilingi Indonesia itu, ada 9 alasan kenapa kita harus mengelilingi negeri sendiri, yaitu pertama pantai yang indah. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia Indonesia memiliki lebih dari 18.000 pulau dan memiliki pantai-pantai terbaik di dunia.

Kedua, alam bawah laut yang menakjubkan. Perairan Indonesia dalam World Reef Triangle yang menjadi rumah bagi 75% species terumbu karang di seluruh dunia. Ketiga, air terjun yang luar biasa.

Bukan hanya pantai dan alam bawah laut saja yang dimiliki Indonesia namun punya banyak air terjun yang menawan.

Keempat, danau-danau yang cantik.  Seperti di Danau Toba di Sumatera Utara adalah Danau Vulkanik yang termasuk salah satu terbesar di dunia.

Kelima, gunung berapi yang masih aktif. Sehingga terletak dalam gugusan ring of fire. Indonesia memiliki 150 gunung berapi yang aktif, dimana kita pengunjung bisa menikmati sunrise terbaik. Keenam, sungai-sungai yang seru untuk diarungi. Sungai di Indonesia bukan hanya sebagai sarana transportasi namun juga sebagai sumber kehidupan sosial dan menarik untuk dieksplorasi.

Ketujuh, fauna langka di dunia. Dapat melihat langsung komodo, orang utan dan burung cendrawasih adalah salah satu alasan orang dari seluruh dunia datang ke Indonesia. Kedelapan, sejarah dan budaya yang kaya akan cerita. Ada lebih dari 300 etnik di Indonesia dengan kekhasan dan keistimewaan masing-masing daerah.

Dan terakhir kesembilan, menikmati kehangatan orang-orang Indonesia. Orang-orang istimewa dengan caranya masing-masing memberi makna pada perjalanan.

Sebetulnya masih bisa ditambah. Sebab, masih ada banyak hal yang menarik tentang Indonesia. Keistimewaan Indonesia lainnya yang tidak cukup ditato di Carousel di atas adalah tentang buah dan tanaman Indonesia. Tanah kita tanah surga, rotan kayu dan batu jadi tanaman.

Setidaknya, kesembilan alasan tadi dapat meyakinkan publik bahwa Indonesia memiliki segalanya. Harapannya, kita semua bisa mengenal Tanah Air sendiri sebelum berpetualang ke negeri orang. (Monang Sitohang)

Keluarga Kusmajadi saat di Christo Rei Dili Timor Leste. (Foto: Ist)

Imbas Corona di Pantai Tirtamaya

Jayakarta News – “Langka uwong, biasane dina Sabtu karok Minggu akeh uwong, (nggak ada orang/sepi biasanya hari Sabtu dan Minggu rame/banyak orang),” cetus salah seorang wanita pedagang makanan dan minuman ringan di lokasi rekreasi Pantai Tirtamaya, Desa Juntikedokan, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, beberapa hari lalu.

Hal yang sama juga disampaikan salah satu pelaku usaha penyewa perahu. “Benar-benar sepi, dari pagi sampai sore begini, yang menyewa baru satu, biasanya kalau hari Sabtu begini sudah bisa berkali-kali yang menyewa perahu saya, apa lagi hari Minggu bang,” katanya.

Ternyata sepinya kondisi di Pantai Tirtamaya bukan tanpa sebab, melainkan imbas dari mewabahnya virus corona (covid-19) yang telah menyerang sekitar ratusan negara di belahan dunia ini termasuk Indonesia. Hingga dinyatakan situasi bencana non alam dan pandemi global oleh WHO.

Pantai Tirtamaya berjarak sekitar 239 km dari Jakarta. Perlu waktu sekitar 4 jam perjalanan melalui jalan tol Cikampek. Pantai yang satu ini, termasuk salah satu pantai favorit di jalur Pantura. Konon pantai ini memiliki cerita legenda, yaitu legenda tempat perlabuhan Ki Buyut Tuban.

Pantai ini dilengkapi beberapa fasilitas seperti spot-spot foto, fasilitas permainan anak, penyewaan perahu dan sebagainya. Pantai ini telah diberi pembatas bagi yang ingin bermain pasir, atau berenang. Tidak ketinggalan pula ada kamar mandi dan kamar ganti pakaian dengan fasilitas yang memadai.

Pantai Tirtamaya, salah satu pantai favorit di jalur Pantura. (foto: monang sitohang)
Salah satu spot selfie di Pantai Tirtamaya, Indramayu. (foto: monang sitohang)
Jembatan Pantai Legenda, Tirtamaya. (foto: monang sitohang)

Kemudian di sekitar pantai Tirtamaya ada juga fasilitas tempat duduk. Dan beberapa warung penjual makanan dan minuman yang posisinya tepat mengarah pantai. Di warung-warung ini pengunjung bisa menikmati kelapa muda, kopi, serta makanan khas Indramayu, sambil menyapu birunya laut Jawa. Dan pantai ini memiliki jarak lokasi dengan pusat kota Indramayu sekitar 20 km.

Duduk sambiil menikmati suasana Pantai Tirtamaya sore itu, disambut angin sepoi-sepoi yang menghampiri dan merasuki tubuh memberikan kesejukan. Suara debur ombak kecil, terdengar berulang, sambil menyisakan riak air di bibir pantai.

Sepinya Pantai Tirtamaya, seperti mewakili sepinya dunia yang sedang prihatin dilanda corona. Toh, nun di ujung pandangan mata, tampak dua sejoli sedang memadu kasih. Mereka duduk di kursi bambu. Sesekali mengarahkan kamera ponselnya untuk berselfie dengan latar belakang lambang cinta yang dibuat dari bambu bertuliskan Tirtamaya, dengan latar belakang bambu-bambu berbentuk segitiga serta ikatan bambu di kiri dan kanannya. Cukup indah memang sebagai spot selfie.

Setelah puas befoto, mereka berpindah tempat. Tak lama kemudian, sepasang kekasih mengisi kursi bambu yang baru ditinggalkan sepasang kekasih sebelumnya. Sama seperti pasangan sebelumnya, pasangan kedua pun berfoto-foto sambil tertawa-tawa. Memasang aksi semenarik mungkin.

Sekedar informasi untuk masuk ke Pantai Tirtamaya, tarifnya dibagi dua yaitu, hari biasa dewasa Rp.10.000, anak-anak Rp.6.000 dan hari libur dewasa Rp. 12.000, anak-anak Rp7,000 dan kendaraan Rp.5.000, dan dibuka dari pukul 08.00 – 17.00 Wib. Hari itu, hanya ada tiga mobil, dan beberapa sepeda motor. (Monang Sitohang)

Corona Datang, Kayoon Lengang

Jayakarta News – Sebelum merebaknya virus corona di tanah air, Taman Rekreasi Kayoon Surabaya menjadi jujugan bagi mereka yang ingin melepas lelah. Selain tempatnya asri dan banyak pepohonan, lokasinya juga berada di tepi Kali Mas, sungai besar yang membelah kota Surabaya.

Apalagi di sana juga tersedia banyak kursi untuk nyantai di pinggir kali. Kalau lapar atau dahaga banyak depot yang berjualan berbagai jenis makanan, bahkan ada makanan khas Jepang.

Belakanga, bahkan objek wisata Kayoon menjadi pusat penjualan berbagai tanaman hias dan batu-batu mulia (akik). Tak jarang, pengunjung Taman Kayoon pulang menenteng tanaman atau akik sebagai buah tangan.

Kedatangan para pengunjung di taman tersebut biasanya pada jam-jam tertentu di siang hari. Kalau melihat seragamnya seperti orang kantoran yang sedang istirahat mencari makan siang sembari menurunkan stres setelah bekerja sejak pagi.

Selain itu tak jarang rombongan Pra TK atau TK. Kemungkinan orang tua menjemput dan mengajak mampir untuk memperkenalkan Kali Mas atau juga sekalian makan siang di sana.

Pemandangan itu terekam manakala kita berkunjung ke sana beberapa tahun lalu. Namun, belakangan sejak ekonomi kurang bagus suasana di sana berpengaruh terutama bagi pedagang akik.

Beruntungnya, masih ada saja peminat tanaman hias dan akik, sehingga kedua jenis pedagang ini masih setia menempati pojok-pojok Taman Kayoon. Tapi situasi sekarang menjadi beda lagi karena merebaknya virus corona.

Langkah pemerintah untuk memutus rantai penyebaran corona di antaranya adalah menghimbau masyarakat untuk sementara tinggal di rumah dan menjauhi tempat keramaian. Dampaknya begitu terasa di Taman Kayoon, yang tampak lengang.

Mungkin karena kondisi yang demikian itu menjadikan taman yang dulunya menjadi jujugan masyarakat untuk sekadar santai di sana ataupun makan di beberapa depot yang ada di sana menjadi menurun, tidak seperti biasa.

Seorang ibu-ibu yang biasa dipanggil Mak, mengatakan kepada Jayakarta News, dagangannya tidak selaris dulu. “Yang datang tidak sebanyak dulu,” kata Mak yang berjualan kopi dan nasi bungkus serta jajanan, Rabu (18/3/2020).

Perempuan yang baru saja ditinggal mati suaminya itu berharap virus corona segera menyingkir dari Surabaya khususnya dan Indonesia umumnya. “Biar lancar kembali dan masyarakat datang kembali ke sini,” katanya.

Sebenarnya kalau melihat proses bisnis utamanya penjualan Batu Permata yang berdiri sejak tahun 1990-an itu sangat bagus. Penjualan batu akik di sana menjadi pusat karena selain menjual juga ada yang berbisnis pemotongan batu yang berbentuk bongkahan besar hingga menjadi potongan kecil-kecil.

Kemudian berlanjut ke tahap pemasangan batu, pelapisan emas ke cincin perak, pengilapan batu sampai batu permata itu dipasang ke ikat cincinnya yang semuanya menyatu di Kayoon.

Begitu pula dengan penjualan tanaman hias, bagi penghobi tanaman hias datang ke Kayoon sangat menyenangkan karena tempatnya luas. Parkir kendaraan dan berjenis tanaman hias ada di sana.

Selain itu pula depot-depot yang berjejer menjajakan makanan mulai khas Jatim sampai daerah lain dari makanan manca negara, Jepang, juga ada di sana.

Kalau malam juga ada kafe yang sering mendatangkan artis lokal untuk menghibur para tamu yang datang. Begitulah keberadaan Kayoon yang saat ini kurang bergairah karena sedang “kedatangan” virus corona.

Pengembangan Taman Wisata Kayoon itu sendiri kalau dilakukan lebih serius untuk dijadikan salah satu tempat wisata untuk para wisatawan sebenarnya berpotensi. Sayang sampai sekarang pengembangannya tidak sesuai harapan dan begitu-begitu saja setiap tahun.

Dulu ada kebun binatang mini yang diletakkan di belakang namun dengan berjalannya waktu tempat tersebut sudah tidak ada lagi. Padahal kalau melihat tempatnya yang ada di tengah kota dan ada di pinggir Kali Mas yang menjadikan kebanggaan warga kota sangat tepat.

Juga ada wisata air dengan perahu-perahu yang mengantar pengunjung berkeliling sungai sembari menikmati suasana di sana. Sekarang juga sudah tidak ada lagi. (poedji)

Nyepi Spesial di Saranam Resort & Spa

Jayakarta News – Nyepi atau Silent Day adalah liburan yang sangat unik yang hanya akan Anda temukan di Bali. Sangat berbeda dalam perayaan tahun baru pada umumnya, orang Bali merayakan tahun baru nya dengan cara me-Nyepi. 

Karena mengikuti sistem kalender yang berbeda, tahun baru Nyepi tidak selalu terjadi pada tanggal yang sama seperti yang kita ketahui. Tahun ini Nyepi berlangsung pada tanggal 25 Maret 2020. Dimulai dari jam 6 pagi sampai 6 pagi pada hari berikutnya.

Nyepi adalah hari yang disediakan untuk refleksi diri. Ini adalah hari untuk membersihkan tubuh, pikiran, dan jiwa dengan meditasi dan puasa.

Jika Anda sudah tinggal di Bali pada Hari Nyepi, tetapi masih belum menemukan tempat yang sempurna untuk me – Nyepi dan mengalami benar benar SILENT yang nyata, silakan menikmati di SARANAM Resort & Spa dengan Paket Bedugul Silent.

Di sana banyak pilihan kegiatan untuk Anda selama 3 hari 2 malam dari tanggal 24 Maret hingga 26 Maret 2020. Menetap dan tinggal di area dengan pemandangan gunung dan sawah yang menakjubkan ditambah cuaca yang dingin.

Saranam Resort & Spa menawarkan Paket Bedugul Silent 2 malam dengan harga sangat spesial mulai dari IDR. 3,380.000, termasuk sarapan setiap hari untuk 2 orang, makan siang 1x untuk 2 orang dan makan malam 1x untuk 2 orang.

Selain itu Anda juga bisa menikmati afternoon tea time gratis dengan menikmati pemandangan gunung saat matahari terbenam. Anda juga dapat bergabung dengan aktivitas resort seperti yoga dan meditasi, film in-house, trekking di area resort dan yang lainnnya.

Khusus untuk anak-anak, banyak kegiatan di kids club, seperti mewarnai, menikmati film anak-anak, membuat Canang untuk anak anak dan masih banyak lagi. Nyepi jelas merupakan sesuatu yang berbeda dan yang pasti Anda tidak dapat mengalaminya di tempat lain di dunia! (asep)

Hotel Sotis Kemang, Bikin Anda Terkenang-kenang

Jayakarta News – Sotis merupakan kain tenun asal Kupang, Nusa Tenggara Timur ( NTT). Kain tenun Sotis ini dibuat dari kapas lalu dipintal dengan penuh ketelatenan, sampai menjadi kain sotis yang bagus nan indah. Dari situlah asal nama Hotel Sotis Kemang, Jakarta Selatan. Hotel baru berbintang empat yang bercokol di Jalan Kemang Raya No. 4, Kemang, Jakarta Selatan.

Proses terbentuknya sotis menjadi inspirasi nama hotel yang satu ini. Jika dilihat awal proses dibangunnya hotel tersebut sampai selesai, kemudian bagaimana merawat bangunan dan menjalankan operasional hotel tersebut, bisa dijadikan dasar motivasi dalam mengembangkannya. Filosofinya adalah “proses tidak pernah mengingkari hasil”.

Sotis pun hadir melengkapi sejumlah hotel yang sudah ada di kawasan ini, seperti Grand Kemang. “Jadi kita harus ulet, telaten, serta bersungguh-sungguh dalam mengembangkan Hotel Sotis Kemang ini. Selain itu juga butuh kesabaran yang tinggi hingga sampai menjadi bagus, manis hasilnya dan valuable,” ujar General Manager Sotis Kemang, Vida Frans kepada Jayakarta News.

Hotel Sotis Kemang baru berjalan sekitar empat bulan terhitung mulai grand opening pada 26 November 2019. Hotel ini tepat berada di Jalan Kemang Raya, selain menggunakan transportasi pribadi ada juga moda transportasi massal Trans Jakarta rute Ragunan – Blok M, yang tepat turun di depan hotel. Dan dari Lapangan Monas hanya 11 km.

“Di antara banyak hotel di kawasan Kemang, Hotel Sotis Kemang hadir dengan konsep boutique. Mulai dari taste, lalu nuansa boutique life style hotel juga ditonjolkan. Sehingga kita ‘pede’, ada diantara hotel-hotel lainnya di sekitar Kemang. Sebab, di Kemang belum ada hotel dengan konsep seperti Sotis. Kalaupun ada boutique hotel di daerah sini, tetapi hotel yang punya tema identik plus unik itu ya sotis hotel Kemang,” ungkap Vida yang sudah memiliki pengalaman GM dari tahun 2014.

Vida Frans, General Manager Hotel Sotis Kemang, Jakarta Selatan. (foto: ist)

Setiap tamu dipastikan akan terkesan begitu tiba di Lobby Hotel Sotis Kemang. Ada nuansa beda yang akan akan langsung bisa dirasakan. “Sudah banyak para tamu yang bilang, ‘waduh cantik ya nuansa hotel ini’. Mereka umumnya terkesan dengan ornamen-ornamen khas kain sotis, seperti di depan dinding ada motif kain Sotis sebelah kanan dan kiri dinding,” ujar Vida.

Nuansa yang berbeda itulah yang mengesankan para tamu. Hotelnya tidak begitu, tetapi kualifikasi bintang empat karena kelengkapan fasilitasnnya. Hotel Sotis Kemang ini memiliki 74 kamar, yang terdiri dari empat type, yaitu deluxe, premiere, junior sweet dan Sotis sweet. Untuk kamar deluxe ada dua macam bed, twin dan double, TV juga WiFi.

Kategori premiere dengan deluxe bedanya pada fasilitas kamar mandi. Kamar deluxe menggunakan shower sedangkan premiere menggunakan bathtub. Sedangkan junior sweet luasnya tentu berbeda begitu juga ukurannya. Dan Sotis sweet kamarnya lebih luas dan lengkap dari ketiga type, bahkan dilengkapi fasilitas meja makan untuk berdua. Semua kamar dilengkapi TV 42 inci, 64 Chanel.

Begitu juga setiap kamar memiliki mini bar. Kebanyakan hotel lain, mini bar di kamar itu jika dikonsumsi akan dikenakan pembayaran. Tetapi Hotel Sotis Kemang ini memberikan free kepada para tamu yang sudah check in. Ada tujuh item isi mini barnya, tiga macam minuman dan empat macam snack. Jadi para tidak perlu keluar kamar untuk sekadar mencari snack.

Selain itu, Hotel Sotis Kemang saat ini sedang memiliki program promosi. “Seperti saya bilang, kita sedang create awareness, dan kita lagi nge-branding nama Sotis itu sendiri. Apalagi di area Kemang ini, dan di Jakarta pada umumnya. Jadi kita membuat paket-paket eksklusif,” ujar Vida yang 16 tahun berpengalaman di bidang marketing.

Hotel Sotis Kemang memberikan kesempatan kepada tamu yang akan check in, dapat stay 24 jam. Misalnya tamu dari luar kota yang menggunakan flight malam dan baru bisa check in pukul 22.00 WIB, maka jam check out tamu tadi keesokan harinya juga pukul 22.00 WIB. Atau misalnya pagi-pagi mau check in jam tujuh, maka check outnya keesokan paginya juga jam tujuh pagi. Jadi tidak ada tambahan 50 persen dari tarif kamar untuk early check in.

Soup Tangkar Betawie dan Nasi Goreng Bakar, dua di antara tiga menu andalan Hotel Sotis Kemang Jakarta. (foto: monang sitohang)

Di bidang food and beverage, Sotis Kemang juga menaruh perhatian yang besar. Khusus menu makan, tersedia tiga menu favorit, antara lain Soup Tangkar Betawie, dari iga yang very-very tasty. Ada lagi menu nasi goreng bakar. Nasi goreng dibungkus lagi dengan daun. Dan menu ketiga yang menjadi andalan kami adalah Japanese sushi.

Vida menambahkan, semua unsur yang menjadi kelebihan Hotel Sotis Kemang sedang disosialisasikan melalui strategi branding. Targetnya, makin banyak dan makin banyak lagi masyarakat yang mengetahui Hotel Sotis Kemang dengan segala keunggulannya. “Hal lain yang kita jaga adalah konsistensi pelayanan. Prinsip hospitality yang prima menjadi unggulan yang harus diketahui sebanyak-banyaknya masyarakat Indonesia,” tekad Vida.

Tiga hal yang saya underline-kan kepada manajemen. Pertama pelayanan prima. Kedua, cita rasa makanan yang membuat tamu terkesan karena kenikmatannya. Ketiga, kebersihan. Tiga hal itu yang menjadi kunci sekaligus jawaban, tamu akan datang kembali atau hanya bertamu sekali.

Di kesempatan yang sama Budi Alamsyah, Food and Beverage Manager (FBM) Hotel Sotis Kemang mengatakan, dalam waktu dekat ini ada rencana mengadakan gathering EO dan WO di pertengahan bulan Maret 2020. Selain itu pihaknya juga akan membuat paket Promo Kampung Ramadhan di bulan Ramadhan mendatang. (Monang Sitohang)

Saranam Resort, Jendela Bali Utara

Jayakarta News — Saranam Resort & Spa, salah satu hotel bintang lima di destinasi wisata Bedugul, menawarkan paket Bedugul Getaway untuk menarik banyak wisatawan ke daerah Bali Utara.

Paket yang diperuntukkan bagi pasangan ini meliputi menginap satu malam, termasuk layanan kamar standar, tea time dan makan pagi.

Direktur of Sales and Marketing Saranam Resort and Spa, Lisa Sulistiowati, menuturkan paket ini diharapkan mampu menarik minat lebih banyak wisatawan yang berkunjung ke daerah utara pada hari kerja.

“Di sini memang ramai saat weekend, tetapi untuk paket ini kami menawarkan saat hari-hari biasa atau weekday. Bagaimanapun, Bali Utara juga memiliki keindahan yang sayang untuk dilewatkan,” ujarnya.

Lisa menjelaskan, paket yang dijual seharga Rp1,060.000 per kamar  per malam tersebut diharapkan bisa dimanfaatkan oleh pasangan untuk menikmati keindahan Baturiti dengan pemandangan alam pegunungannya. Sebagai salah satu hotel bintang lima di Bedugul, paket ini menjadi salah satu cara menarik wisatawan untuk menikmati kehidupan pegunungan dengan cuaca sejuk.

Bedugul merupakan salah satu destinasi di Bali Utara yang terkenal dengan daerah danau, perbukitan dan pegunangan. Di sini terdapat Kebun Raya, Danau Beratan dengan puranya serta Danau Buyan dan Tamblingan.

Lisa mengungkapkan, Saranam Resort & Spa memiliki fasilitas sebanyak 79 kamar hotel dan 10 unit villa di areal seluas 4 hektare, dengan view pegunungan yang sangat menakjubkan.

Berlokasi di perbukitan, Saranam Resort & Spa menawarkan keindahan pemandangan dan sejumlah fasilitas seperti lokasi outbond, gathering, trekking, yoga studio, meeting room yang besar bisa menampung hingga 300 orang, serta sejumah aktivitas outdoor lainnya. Adapun fasiltias kamar yang terdiri dari lima tipe yang seluruhnya dilengkapi televisi dan balkoni untuk menikmati pemandangan pegunungan. (*/sep)

Floating Market Lembang

Jayakarta News – Floating Market atau Pasar Terapung Lembang adalah area wisata gabungan dari tempat kuliner pasar apung, cafe dengan konsep alam yang unik. Taman asri dengan aliran sungai dan danau di tengah tengah area, dapat dinikmati sekadar duduk santai atau dengan menaiki perahu dayung. Bisa juga dinikmati dengan berjalan santai mengelilingi area seluas kurang lebih 7 Ha.

Memasuki area kami disambut pemberian minuman gratis, semacam welcome drink dengan menukar tiket masuk yang dihargai Rp 25 ribu, kami bisa memilih segelas dari dua macam minuman es lemon tea atau milo panas. Jika Anda masih beruntung tersedia pilihan yang lengkap, ada choco latte dan coffee latte.

Di depan pintu atau gapura masuk, sudah terpampang tulisan Floating Market Lembang (FML) dalam bentuk lingkaran berwarna biru dan kuning. Adanya bangku panjang, menarik pengunjung untuk duduk santai dan tentu saja diabadikan di depan tulisan FML.

Masuk area Floating Market Lembang langsung disuguhi spot selfie berlatar belakang danau.

Kami pun digiring melalui jalan setapak yang di sebelah kanan-kirinya dipenuhi tanaman hias. Dari pohon perdu berbunga, aneka tanaman pakis, tanaman air dan tatanan beragam bunga.

Pengunjung yang kesehariannya sibuk dengan pekerjaan di ruang tertutup, di sini dimanja dengan pemandangan indah dan tentu saja udara yang sejuk. Mata pun serasa mendapat pasokan vitamin segar.

Bagi pengunjung yang datang bersama keluarga dapat diarahkan ke Taman Miniatur. Di sini Anda dan keluarga dapat menaiki kereta api mini, taman kelinci dan lainnya yang serba mini. Becak mini pun berjajar menunggu untuk ditumpangi.

Di sini pun tersedia studio untuk berfoto dengan kostum Jepang atau Korea. Dengan memilih lokasi berfoto di dining room, living room ala gaya Jepang. Untuk bergaya Jepang atau Korea dikenakan tarif Rp 75 ribu. Ingin mencoba berkano sampan atau sepeda air  ntuk berdua selama setengah jam dikenai biaya 50 ribu.

Sebagian pengunjung yang tujuan utama menikmati aneka kulineran dapat langsung menuju deretan pedagang di sekeliling tepi danau dengan perahu apungnya. Mereka menjajakan aneka kudapan. Sebut saja jajanan khas Lembang warung pikul menjajakan comro imut, misro imut, coreng. Di sebelahnya perahu penjaja mojang Priangan yang menjajakan aneka pisang goreng.

Masih di jajaran perahu di tepi Danau kecil Situ Umar dijual juga aneka rujak. Tersedia rujak bebek (rujak yang ditumbuk), rujak honje, rujak potong. Aneka penganan terbuat dari tahu juga dijajakan. Penggemar jamur pun, disini dijual camilan yang terbuat dari aneka macam jamur.

Perahu di tepi danau dengan aneka buah-buahan.
Aneka stand kuliner.

Ingin minuman yang segar, bisa memesan kelapa muda, kopyor dan macam-macam es lainnya. Minuman hangat khas Jawa Barat pun tersedia bajigur dan bandrek. Tentu dilengkapi partner camilannya, rebusan ubi, dan aneka rebusan lain, pisang dan kacang-kacangan. Masih di sekitar area danau tersedia susu murni dan susu jahe panas.

Pendek kata, bagi penggemar wisata kuliner, hampir semua jenis makanan tersedia. Benar benar dimanja dengan harga jual yang tidak terlalu mahal kisaran dari harga Rp 10 ribu hingga Rp 30 ribu.

Di sudut lain bisa kita jumpai kios penjualan aneka pernak-pernik. Mulai dari hiasan dinding, gantungan kunci, boneka mini berbaju daerah, aneka topi, payung, kaos, dan aksesoris. Blus blus unik pun Anda dapatkan disini.

Jadi apalagi yang ditunggu, arahkan tujuan Anda dan keluarga ke FML yang berlokasi di Jalan Grand Hotel, Lembang, Bandung. Untuk weekday buka dari pukul 10 pagi hingga sore pukul 17.00. Sedangkan weekend buka lebih pagi jam 9 pagi hingga malam hari jam 10 malam.

Fari area FML Anda masih berlanjut ke tempt wisata lainnya yang terletak tidak jauh dari FML…yaituDe Ranch Bandung, Jendela Alam atau destinasi wisata terbaru di Bandung yaitu The Great Asia Africa. (s. resti handini)

Memberi makan ikan sambi ber-selfie.
Suasana pedesaan pun ada di Floating Market Lembang.
Foto-foto: S. Resti Handini, Bambang Moel, Tini, dan Aip W

Kasih Alana Yogya di Panti Wreda Hanna

Jayakarta News – Hotel Alana Yogyakarta, adalah satu di antara sekian banyak hotel yang menaruh kepedulian tinggi kepada para lansia. Senin (17/02/2020) lalu, manajemen hotel bernama The Alana Hotel & Convention Center Yogyakarta berkunjung ke Panti Wreda Hanna, Bintaran.

Panti yang dihuni sekitar 50 lansia yang berusia di atas 65 tahun itu, pun menjadi meriah karenanya. Di tengah hari-harinya yang sunyi, para lansia itu mendapatkan kesempatan dikunjungi dan berbagi kasih sayang. Karena melalui orang tua doa-doa dan kelancaran semua terkabul. Program ini bertujuan juga untuk saling mengingatkan kepada orang tua kita dan kelak saat kita tua. Semua butuh kasih sayang dari orang orang yang tercinta di sekitarnya.

Kunjungan ini merupakan rangkaian kegiatan ulang tahun ke-5 dan diikuti panitia dan perwakilan menejemen The Alana Yogyakarta. Berbagai bahan pokok, perlengkapan tidur dan hadiah diberikan untuk oma-oma dan pengurus panti sekadar menghiasi hidup sehari-hari mereka.

Selain itu manajemen The Alana juga menyerahkan donasi serta hiburan yang menggembirakan. Senyum dan kebahagiaan terpancar dari mereka yang dengan penuh syukur dan hati gembira menerima semua pemberian dari The Alana Yogyakarta. Bahkan ada oma-oma yang berusia 92 tahun, Oma Bik (Tan Djie Bik)  berkesempatan memberikan doa untuk kesuksesan The Alana Yogyakarta di ulang tahun yang ke-5 ini.

Penyerahan donasi dilakukan oleh Margaretha Rosalina selaku Humas Resourcess Manager didampingi panitia ulang tahun hotel,  kepada Ibu Debora, mewakili Panti Wreda Hanna. Bantuan ini merupakan sumbangan ikhlas dari seluruh manejemen dan karyawan hotel The Alana Yogyakarta, berupa bahan pokok, linen, makanan dan perlengkapan lainnya.

“Kegiatan sosial yang rutin seperti ini dilakukan untuk menunjukkan visi serta nilai-nilai perusahaan dalam melakukan bisnis dengan bertanggung jawab secara sosial dan beretika, agar bisa memberikan manfaat bagi saudara saudara kita yang membutuhkan, Dan semoga donasi ini bermanfaat bagi oma oma di panti tersebut ,“  ujar Margaretha Rosalina. (*/sep)

Margaretha Rosalina selaku Humas Resourcess Manager didampingi panitia ulang tahun hotel,  kepada Ibu Debora, mewakili Panti Wreda Hanna. (foto: The Alana)

Thousand Hills, Pelukan Hutan Leuser

Jayakarta News – Ini tulisan ketiga tentang Petualangan Kecil kami dari Medan – Kutacane – Sidikalang (Kabupaten Dairi). Bagian ini harus saya mulai dengan pernyataan, “betapa nyaman tidur dalam pelukan hutan Leuser”.

Penginapan asri di tepi hutan Lueser itu bernama Thousand Hills Ketambe, Desa Balailutu, Jalan Blangkejeren – Kutacane No. km 32, Kecamatan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara. Keteduhan akibat pepohonan yang rimbun, sungguh menjanjikan kenyaman malam.

Bungalow seluas satu hektare ini, sudah becokol lima tahun. Memasuki lokasi, para tamu akan disambut taman berbunga yang terawat baik. Lokasinya terbilang mudah dijangkau. Ia berada tak jauh dari jalur lintas Kutacane. Sebuah beranda hangat menyambut dengan meja-kursi serta rak buku. Sedikit menaiki tangga, kita akan berada di ruang resepsionis dan coffee shop.

Bangunan bungalownya terletak di belakang. Ada beberapa yang nempel dan ada juga yang terpisah-pisah. Total kamar ada delapan. Di kamar tersedia kamar mandi shower, tempat tidur king size bed dan kelambu. Pada bagian teras, tersedia meja kursi untuk bersantai menikmati alam.

Sesaat setelah kami check in dan mengaso, datang Edy Ikhsan dan bertanya, “Jadi bagimana kegiatan kita selanjutnya, ayo kita traking atau rafting, biar Ayah telepon teman di Ketambe.” Apa boleh buat, ajakan Ayah bak bertepuk sebelah tangan. Tiga teman seperjalanan: Fajar, Rahmad, dan Monang “tumbang” kecapeken.

Salah satu bungalow Thousand Hill Ketambe yang jadi tempat penginapan Petualangan Kecil Kutacane. (Foto: Monang Sitohang)
Joglo salah satu fasilitas di Thousand Hills Ketambe tempat beristirahat melepas lelah. Tampak Ayah, Fajar, Rahmad dan Nasir salah seorang gait. (Foto: Monang Sitohang)

Atas keputusan bersama, kami mengaso di joglo tak jauh dari beranda yang ada kolam ikannya. Sore hari baru kami menunu ke Sungai Alas untuk mandi-mandi. Fajar kembali menyetir melajukan mobil ke lokasi tempat dilangsungkan “Alas River Rafting Championship” (Kejuaran Arung Jeram Sungai Alas 2019).

Malam harinya kami memilih makan malam di Coffee Shop Thousand Hills. Selain kami berempat, malam itu tampak delapan turis asing juga sedang makan malam. Di sudut lain, tampak duduk driver dan guide.

Ketika malam semakin larut, aroma bunga kantil menyergap hidung. Di kejauhan, suara jangkrik dan kodok bersahut-sahutan, menyempurnakan suasana malam.

Para bule tampak masih asyik ngobrol di coffee shop, diseling gelak tawa sesekali. Tampak benar kepuasan di wajah-wajah mereka.

Di antara kesibukan coffee shop, ternyata ada Josep, yang ternyata pemilik bungalow. Ia tanpa canggung sedikit pun ikut melayani para tamu. Ikut sibuk di dapur.

Jarum jam menunjuk pukul 21.00 WIB ketika turis tiga turis asal Jerman (satu laki-laki dan dua wanita) minta kepada guide untuk mengatarnya masuk hutan Leuaser yang berjarak sekitar tiga kilometer. Saya membatin, “Aktivitas gila apa pula yang mau mereka lakukan di tengah hutan. Malam-malam pula!”

Astaga! Mereka mencari ular! Bukan untuk ditangkap, tapi untuk dilihat!!! Kami bertiga, (Fajar, Rahmad, Monang) tak habis-habis geleng-geleng kepala terkaget-kaget. Ayah tidak mengetahui peristiwa itu, sebab sudah lebih dulu masuk kamar.

Suasana kamar di Thousand Hill Ketambe. (Foto: Monang Sitohang)

Aku menunggu Josep menyelesaikan pekerjaannya di coffee shop, sebelum bisa berbincang-bincang tentang bisnis bungalownya. “Sesuai perkembangan zaman, para peminat sudah bisa memesan kamar secara online,” ujar Josep seraya menyebut harga Rp 250.000 per malam untuk kamar dengan double bed dan Rp 170.000 untuk yang single bed. “Include breakfast,” tambahnya.

Sejak awal, bungalow ini dikonsep untuk memberikan kenyamanan beristirahat. Betapa tidak, lokasinya yang berada di Kutacane, membutuhkan waktu tempuh sekitar enam jam, baik dijangkau dari Medan atau Danau Toba. “Bayangan kami, sesampai di sini, para tamu pasti lelah. Mereka butuh tempat istirahat yang benar-benar memberi kenyamanan dan kualitas beristirahat,” kata Josep pula.

Berbicara konsep pengembangan, Josep tidak terlalu muluk. Ia menjalankan bisnis yang sudah jalan. Kalaupun ada inovasi, tidak terlalu drastis. “Salah satunya, saya ingin memindah wastafel dari kamar mandi ke halaman. Jadi para tamu sikat gigi, cuci tangan di luar. Biar terasa benar-benar di alam bebas. Di sisi lain, ruang kamar mandi pun menjadi lebih luas,” ujarnya.

Tambahan lain adalah menambah koleksi tanaman bunga. Saat ini, Thousand Hills sudah memiliki ratusan jenis tanaman bunga. Ia akan menambah lebih banyak lagi. Bahkan, terbersit di benaknya untuk membuat taman kupu-kupu, botanical garden dengan penamaan spesifik jenis-jenis tanaman yang ada. “Jadi ada unsur edukasinya,” kata Josep.

Lebih lanjut, ia menyebut tanaman Heliconia (sejenis bunga pisan-pisangan), Hibiscus (kembang sepatu) jenis tanaman semak tanaman hias khas tropis dan subtropis, Kroton (tanaman hias pekarangan), Pandanos (jeinis pandan), Cordyline (sekolompok tumbuhan monokotil), Herikonia, Sibiskus, Pandanus, dan lain-lain.

Fajar bersama Josep pemilik Thousand Hill Ketambe. (Foto: Monang Sitohang)

Bicara tentang tingkat okupansi, Josep mengatakan tergantung musim. Ia menyebut antara bulan Juli sampai September, bungalownya bisa dipastikan penuh oleh tamu manca negara. Mereka kebanyakan datang dari Belanda, Australia, dan Jerman. Di luar itu, relatif biasa-biasa saja.

Bungallow Thousand Hills Ketambe yang memilih tagline “a jungle retret” ini, melalui website-nya juga menawarkan sejumlah paket menginap yang menarik. Di antaranya paket bugi jungle atau exterme jungle, love jungle, dan dan paket-paket wisata petualangan yang menarik.

Ihwal nama Thousand Hills asalnya lahir dari kerjasama dengan orang Belgia. Ia mengisahkan, dulu ada hotel di Afrika milik orang Perancis. Hotel itu bernama Mill Colin. Jadi Thousand Hill itu sudah mendunia namanya, ada di Amerika, Afrika, dan lain-lain.

Di tempat yang sama, saya juga berbincang dengan seorang guide bernama Nasir. Ia sudah tiga tahun melakoni profesi itu. Ia sudah terbiasa melayani dan menemani para tamu menelusuri hutan Gunung Leuser. “Paket-paket wisata yang ada di sini itu sangat menarik, utamanya bagi para turis asing. Mereka menikmati perjalanan menjelajah hutan sejauh tiga-puluh kilometer bahkan lebih. Makanya, umumnya turis yang menginap di sini, bisa sampai lima atau enam hari,” kata Nasir.

Untuk bisa menikmati semua paket petualangan yang ada, para tamu cukup membawa badan dan perlengkapan pribadi. Sedangkan, perlengkapan selebihnya sudah disediakan oleh Thousand Hills. Ketika ditanya, paket mana yang paling diminati, Nasir menyebut paket jelajah hutan sambil menikmati Danau Marpunge. Selama perjalanan, para turis bisa menyaksikan tanaman-tanaman eksotik seperti anggrek hutan, aneka jenis primata, bahkan jika beruntung bisa melihat harimau, gajah, reno dan kucing hutan,” ujar Nasir. (Monang Sitohang)