Sruti Respati Berjuang Lestarikan Kesenian Tradisi

Nilai-nilai yang merupakan karakter bangsa kita telah mulai tergerus oleh arus modernisasi. Pengaruh globalisasi begitu kuat, khususnya di kalangan generasi muda. Ini merupakan tantangan juga ‘PR’ buat kita semua.

Begitulah ungkapan keprihatinan Sruti Respati, seniman seniman Jawa yang dalam berbagai kesempatan berkarya berupaya tetap konsisten menjunjung kebudayaan negeri sendiri, sembari menularkannya kepada masyarakat.

Diakui atau tidak, faktanya modernisasi dan globalisasi telah menggerogoti nilai-nilai nasionalisme. Yang paling terasa adalah di bidang budaya, di mana sebagian masyarakat kita seolah lebih suka budaya negeri lain ketimbang mengusung budaya sendiri.

Gejala yang mengkhawatirkan ini sekaligus memprihatinkan, sudah seharusnya menjadi keprihatinan kita bersama, yang jika dibiarkan bukan tidak mungkin kita akan kehilangan jati diri sebagai bangsa.

“Kalau dibilang prihatin, memang prihatin ya. Mau nggak mau kita memang harus mengakui bahwa nilai-nilai yang merupakan karakter bangsa kita telah mulai tergerus oleh arus modernisasi. Pengaruh globalisasi begitu kuat, khususnya di kalangan generasi muda. Ini merupakan tantangan juga ‘PR’ buat kita semua.

Harus ada cara untuk mengembalikan kepedulian kita semua. Bagaimana membangkitkan nasionalisme di kalangan anak-anak muda, ini yang penting dilakukan. Bagaimana membuat agar generasi muda yang merupakan harapan bangsa peduli pada nilai-nilai keindonesiaan, nilai-nilai budaya sendiri,” ungkap penyanyi keroncong ini.

Jika itu tidak dilakukan, ucap Sruti, dia tak bisa membayangkan akan jadi seperti apa bangsa ini puluhan tahun ke depan. “Bisa jadi 20 atau 30 tahun ke depan, kita tidak tahu lagi bagaimana cara mengenalkan budaya negeri kita kepada generasi muda pada masa itu lantaran sudah hilang,” tambahnya mengingatkan.

Menurutnya, semua orang Indonesia harus terlibat dalam menggelorakan semangat ‘merah putih’ , dan para seniman entah itu penyanyi, artis, adalah salah satu pihak yang paling harus bergerak untuk melakukan ‘pekerjaan besar’ (membangkitkan nasionalisme) ini lewat karya-karyanya.

“Seperti saya misalnya, sebagai penyanyi adalah salah satu yang pas untuk mempromosikan budaya kita. Itu yang saya lakukan lewat karya-karya saya melestarikan kesenian tradisi negeri. Bukan hanya lewat lagu tapi juga penampilan, misalnya kebaya yang kerap saya kenakan atau konde,” lanjutnya sembari menambahkan, pihak media pun juga harus ikut bersama melakukan ‘pekerjaan besar’ ini, lewat publikasinya.

Tentunya, diakui wanita kelahiran Solo 1980, agar bisa memikat hati kalangan muda, harus ada ide-ide kreatif yang dimunculkan. Dalam bidang seni misalnya, tidak melulu kesenian tradisional tapi juga seni kreatif yang tentunya tidak meninggalkan unsur-unsur tradisi. Yang terpenting adalah kemasannya. Dengan begitu kalangan muda bisa tertarik, dan mulai peduli.

Untuk mencapai tujuan utama yakni menularkan kecintaan terhadap budaya sendiri, tambah Sruti, kita harus bisa memahami sikap dan minat anak muda. “Apa sih yang disukai anak muda? Musik apa yang mereka gemari, rock, pop, jazz, atau seni kotemporer. Dari sini lah kita bisa masuk untuk memikat mereka”.

“Ketika sudah ada kepedulian maka akan muncul cinta. Jadi anak muda tidak perlu dipaksa untuk menyukai karena rasa itu sudah muncul dengan sendirinya dari dalam. Setelah proses ini berjalan maka sesekali atau saat-saat tertentu kita tampilkan kesenian tradisi kita,” tambah Sruti.

Sruti pun memberi contoh lagu keroncong yang sebagian orang menyebutnya sebagai musik jadul, juga mulai digemari kalangan muda. Itu karena kreativitas. “Ternyata yang namanya musik keroncong asyik juga didengarkan. Anak muda mulai tertarik karena ada sentuhan kreativitas yang disesuaikan dengan kondisi sekarang. Inilah salah satu upaya melestarikan musik keroncong,” ucapnya.

Tapi sebetulnya, kata Sruti lebih jauh, dalam bidang apapun kita berkarya tetap bisa mempertahankan karakter kita sebagai bangsa Indonesia. Entah itu penyanyi, artis bahkan peneliti pun tetap bisa menampilkan karakter bangsa. Karena pada dasarnya setiap orang yang berkarya, dalam hal apapun, selalu mencari karakter dalam karyanya.

“Nah jika kita sudah tahu jati diri kita sebagai orang Indonesia, dengan adat ketimurannya dan kebudayaannya yang beragam, kebudayaannya yang agung, pastilah akan memberi sentuhan yang berbeda pada karya-karyanya apapun itu,” kata Sruti yang bukan saja piawai menyanyi keroncong juga menari. ***

Menikmati Jazz di New Orleans

BAGI penggemar musik Jazz, pastinya tidak akan melewatkan bulan ini, April. Ya, pada bulan inilah waktu dimana digelar Bulan Apresiasi Jazz di Amerika Serikat.

Laporan tim wartawan VOA berikut ini, akan mengajak Anda untuk mengetahui lebih dalam tentang musikJazz dan kota New Orleans itu sendiri. Yo… berkunjung ke New Orleans, tempat dimana genre musik Jazz ini lahir. Dengan musik Jazz inilah para warga keturunan Afrika, mayoritas warga yang mendiami New Orleans, berekspresi.

 

Pitbull Siap Gelar Konser di Jakarta

ANDA penyuka rapper? Ya, rapper Armando Christian Pérez alias Pitbull akan menggelar konsernya di Jakarta yang bertajuk Pitbull Climate Change Tour Live in Jakarta 2017.

Rapper berusia 36 tahun ini akan kembali menghibur penggemarnya dengan sejumlah hits seperti Rain Over Me, I Know You Want Me, On The Floor, Don’t Stop The Party, Feel This Moment dan Timber pada hari Minggu, 14 Mei 2017 di Hall C3, JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat mulai pukul 20.00 WIB.

Pitbull sudah beberapa kali mampir dan menggelar konser di Ibukota. Terakhir, rapper berkepala plontos ini menggelar konser bertajuk Global Warming di tahun 2013 lalu. Di setiap konsernya, Pitbull selalu sukses menghibur penonton. Kali ini, promotor IME Indonesia berjanji akan menyuguhkan konsep konser yang spektakuler dan memukau.

Tiket untuk konser Pitbull ini sudah bisa dibeli secara online mulai Sabtu, 22 April mendatang lewat situs resmi www.tiket.com mulai pukul 10.00 WIB. Harga tiket terbagi atas dua kategori (all standing) yakni Festival A di harga Rp 2,200,000 dan Festival B di harga Rp 1,600,000. Harga tiket tersebut belum termasuk pajak 15 persen dan biaya administrasi tiket. ***

Karpet Merah Part II buat Piringan Hitam

SEPERTI model pakaian, piringan hitam kini pun memetik kebangkitan ulang. Teknologi yang telah memasuki usia tahun ke-150 itu, sekarang ini memasuki masa keemasan kedua.

Memang, bagi generasi akhir yang telah dimanja dengan teknologi digital, dengan kehadiran komputer, dan berbagai perangkat pintar lainnya, piringan hitam itu mungkin sebuah produk yang tidak pernah terbayangkan. Memutar musik dari penyimpan CD saja malas, apalagi piringan hitam yang dari aspek ukuran saja sudah “minta ampun” memakan tempat.  Tapi, anggapan semacam itu yang datang dari generasi digital tersebut, akan terbantahkan manakala menikmati musik dari piringan hitam yang diputar dari gramaphone. Pokoknya woow banget kualitasnya.

Tren permintaan musik yang disajikan di piringan hitam, belakangan terus meningkat. Menurut laporan VOA, diantara perusahaan perekam musik di piringan hitam yang sukses memanfaatkan momentum kebangkitan kembali piringan hitam ini ada di Republik Ceko, yang memproduksi  turntable atau alat pemutar piringan hitam.

Jauh hari, bahkan puluhan tahun silam, sebelum musik digital memanjakan generasi penikmat musik dengan formal mp3, WAV dan sebagainya, orang  menikmati musik yang direkam dalam piringan hitam. Pemutarnya, ya  turntable. Produk suara yang dihasilkan piringan hitam yang diputar dengan turntable, sungguh luar biasa.

Pemutar piringan hitam “Jadoel” di toko loak.

Musik digital memang menawarkan “kemewahan” yang lain daripada lainnya. Musik digital memungkinkan orang membawa ribuan lagu yang direkam. Alat pemutarnya pun beragam, yang pasti ringan, seperti telepon genggam cerdas, atau alat pemutar lainnya. Kemudahan tersebut harus dibayar dengan dengan tingkat kenikmatan hidangan musik yang disuguhkan. Piringan hitam memberikan kemewahan sound tersendiri dibandingkan dengan CD apalagi musik digital.

Kabarnya  SEV Litovel, sebuah perusahaan  di Ceko, menggenjot produksi  turntable-nya hingga 400% dibandingkan posisi  tahun 2009. Angka penjualan pada tahun 2016 misalnya,  hampir menyentuh 125 ribu unit.

Oya, semua bagian  pemutar musik turntable tersebut  sepenuhnya dirakit dengan  tangan. Jamak, kalau kemudian  harganya juga wah. Kisarannya  antara 200 sampai 10.000 dolar AS, atau kalau dirupiahkan kira-kira antara Rp 2,6 juta –  Rp 130 jutaan. Menurut  Heinz Lichtnegger,produsen  turntable, sejak lama yakin bahwa piringan digital akan digilas jaman, karena orang lebih suka menikmati musik melalui  musik lewat streaming. Dia memperkirakan, tapi 10 tahun dari sekarang, sekitar 20% hasil penjualan musik akan diraih lewat penjualan piringan hitam.***

 

The Boss Baby: Baby Corp vs Puppy Co

BAGI Anda pecinta film animasi, film The Boss Baby dijadwalkan. Film ini menceritakan tentang perlawanan Baby Corp dan Puppy Co.

Awal film ini menceritakan tentang Tim Templeton, seorang anak berumur 7 tahun yang mempunyai keluarga harmonis hingga suatu saat sang ayah bertanya apa Tim mau punya adik laki-laki? Tim pun menolak, tetapi Tim berpikir bagaimana bayi tercipta.

Scene pun berganti ke sebuah perusahaan bayi atau yang disebut sebagai Baby Corp. Perusahaan ini bertujuan memisahkan bayi-bayi menjadi dua kategori, yang pertama untuk menjadi karyawan di perusahaan tersebut dan yang satu lagi menjadi bayi di sebuah keluarga. Di perusahaan ini juga menciptakan formula supaya para bayi yang jadi karyawan tidak tumbuh menjadi dewasa, dan di sinilah bayi bos muncul dan ditugaskan untuk pergi ke keluarga Tim Templeton mencari tahu tentang Puppy Co yang menjadi lawan dari Baby Corp.

Scene selanjutnya menceritakan bayi bos sudah berada di rumah Tim dan Tim merasakan bahwa orang tuanya lebih menyayangi bayi bos dibanding dia sehingga Tim mencari bukti bahwa bayi bos bukanlah bayi biasa dan bisa menyingkirkannya. Kemudian Tim dan bayi bos memutuskan untuk bekerja sama dalam misi bayi bos tersebut. Selama adegan kerja sama tersebut, Tim dan bayi bos merasakan cinta sebagai keluarga dan saling menyayangi. Akhirnya mereka pun berhasil mengalahkan Puppy co.

Di scene terakhir bayi bos memutuskan menjadi seorang bayi biasa dan tinggal bersama keluarga Tim. ***

Lakon Sarmin, Hakim Gila yang Merancang Makar

TEATER Gandrik akhirnya kembali pentas, setelah hampir dua tahun panggungnya kosong. Kerinduan masyarakat akhirnya terbayar di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, 29-30 Maret 2017.  Seakan tak mau kehilangan kesempatan, Ara (31) memesan tiket secara online tiga bulan sebelumnya. Pada saatnya pentas, dia baru terbang dari Bali khusus untuk menonton Teater Gandrik kesukaannya.

Kali ini, Gandrik memainkan lakon “Hakim Sarmin”. Mendengar judul lakonnya saja, para penggemar Gandrik langsung teringat peristiwa menghebohkan waktu itu tentang kekonyolan seorang hakim di ibukota yang meloloskan seorang jenderal polisi yang diduga sebagai koruptor kelas kakap.

Lakon ‘Hakim Sarmin’ ini dipentaskan dengan latar belakang suasana yang ganjil. Yaitu, ketika semua hakim memilih masuk Rumah Sakit Jiwa “Sumber Waras” untuk menghindari kegilaan yang tengah terjadi di masyarakat. Mereka (para hakim) yang tak mau masuk rumah sakit jiwa, dikabarkan mati terbunuh dan mayatnya dibuang ke lubang buaya.

Lakon ini mengisahkan sebuah zaman, ketika keadilan dan kegilaan sulit dibedakan. “Kegilaan dimulai dari pikiran,” ujar Hakim Sarmin yang diperankan Butet Kartaredjasa. Hakim Sarmin sendiri masuk ke rumah sakit jiwa karena berpura-pura gila. Di depan perawat rumah sakit, ia dan sejumlah hakim berpura-pura gila, sementara jika tidak ada perawat, para hakim ini merancang sebuah revolusi yang dipimpin Hakim Sarmin. Sebuah rencana makar yang sangat cerdas karena dirancang di rumah sakit jiwa.

Sebetulnya, lakon ini cukup berat. Dibutuhkan otak encer dan wawasan politik yang cukup untuk bisa memahami pesan yang ingin disampaikan Agus Noor selaku penulis skenario. Namun, di tangan para pemain Teater Gandrik, lakon “Hakim Sarmin” bisa tampil segar dengan banyaknya satir-satir baik ucapan maupun perilaku para tokoh yang menggelikan. Tak ayal, sepanjang pertunjukan, penonton sering tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya.

Penggemar Teater Gandrik di Jakarta tak perlu cemas. Butet dan teman-temannya di Teater Gandrik akan menyapa penggemarnya di ibukota pada tanggal 5 dan 6 April 2017. Panggung yang akan digunakan, seperti biasa di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jl. Cikini Raya 72, Menteng, Jakarta Pusat. ***

‘Diary Santri’, Film Terbaik Antar-Pesantren

SANTRI saat ini bukan hanya pintar baca kitab, tapi ternyata juga jago dalam membuat film. Inilah yang tampak dari Lomba Film Pendek Antar-Pesantren Se-Indonesia, yang diselenggarakan oleh Komisi Pembinaan Seni Budaya Islam, Majelis Ulama Indonesia, di Jakarta, Sabtu (25/3/2017). Lomba film pendek ini telah dimulai sejak September 2016 hingga 28 Februari 2017.

Berdasarkan laporan panitia, ada 118 film pendek yang terjaring dari berbagai pesantren dan Boarding School di Indonesia, mulai dari Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Festival film ini diikuti para santri pesantren dan siswa boarding school tingkat SLTP dan SLTA.

Film-film yang terjaring itu kemudian diseleksi dan dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari Habiburrahman El Shirazy, Dani Sapawie dan Embie C. Noor. Ada tiga kategori peniliaian, yaitu: Penulis Skenario Terbaik, Sutradara Terbaik, dan Film Terbaik.

Berikut ini daftar pemenang lomba film pendek antar pesantren se-Indonesia yang diumumkan pada Malam Anugerah Festival Film Santri 2017 di Auditorium HM Rasjidi, Kemenag, Jakarta, Sabtu (25/03) lalu.

Pertama, kategori Penulis Skenario

  1. Syahdan Asmara dari Pondok Pesantren Darussalam, Blokagung, Banyuwangi, Jawa Timur, dengan judul film ‘Annadhaafatu Minal Iman’.
  2. M. Ardianysah dari Pondok Pesantren Al Taqwa, Depok, Jawa Barat, dengan judul filmnya ‘Singa-Singa Peradaban’; dan
  3. Siti Nur Hikmah dari MTS Miftahul Khaer, Babakan, Sukabakti, Curug, Tangerang, dengan judul film ‘Tabungan Masa Akhir’.

Kedua, kategori Sutradara Terbaik

  1. Sinta Wina Maryani dari Pondok Pesantren Zaiunul Hasan, Genggong, Probolinggo, Jawa Tengah, dengan judul film ‘Diary Santri’.
  2. Zaira Rizqiany Firdaus dari Perspektive of Sineas SMK Al Wafa, Bandung, Jawa Barat, dengan judul film ‘Jujur = Pintar’;
  3. Zafran Nabil Fauzan, dari Raru Production Pondok Pesantren Modern Rahmatul Asri, Enrekang, Sulawesi Selatan, dengan judul film ’96’.

Ketiga, kategori Film Terbaik

  1. ‘Diary Santri’karya Pondok Pesantren Hasan, Genggong, Probolinggo, Jawa Tengah.
  2. ‘A Light’ karya Pondok Pesantren Al Ikhlas Putri, Kuningan, Jawa Barat
  3. ‘Alif’karya Pondok Pesantren Nurul Huda, Pring Sewu, Lampung.

Malam Anugerah Festival Film Santri 2017: Lomba Film Pendek Antar Pesantren Se-Indonesia, dihadiri sejumlah tokoh dan ulama, di antaranya Ketua Umum MUI Pusat, KH Maruf Amin, Menteri Komunikasi dan Informasi Rudi Antara, Wakil Gubernur Jawa Barat yang juga insan perfilman Dedy Mizwar, Habiburrahman El Shirazy, Kepala Biro Humas, Data, dan Informasi Mastuki, dan insan perfilman Indonesia. ***

Cinta Khalida dan Kamal Tersandung Bid’ah

SIAPA bilang bahasa cinta adalah bahasa universal. Buktinya, percintaan antara Khalida dan Kamal justru tersandung oleh nilai-nilai religi, meski mereka meyakini agama yang sama. Itulah realita yang ditangkap sutradara Nurman Hakim dalam membesut film Bid’ah Cinta.

Film yang dibintangi Ayushita (Khalida) dan Dimas Aditya (Kamal), sempat menuai kontroversi. Akan tetapi, itu terjadi karena ada pihak-pihak yang mencoba menyeret persoalan perbedaan keyakinan ke ranah politik, yang kebetulan sedang aktual akhir-akhir ini.

Padaal, film itu murni soal percintaan Khalida dan Kamal yang retak karena kedua orang tua tidak memberi restu. Digambarkan kedua keluarga memaknai agama secara berbeda. Dalam praktek fikih, yang berbeda, maka satu keluarga lantas menyoal tahlil, doa qunut, ziarah kubur, hingga peringatan maulid Nabi. Dalam praktek keseharian, perbedaan ini ada di antara umat NU dan Muhammadiyah.

Film ini mulai tayang 16 Maret 2017. Ayushita yang berperan sebagai tokoh utama menjelaskan bahwa film ini tidak ada propaganda maupun provokasi. Sebaliknya, film yang diproduksi Keninga Pictures ini mengingatkan kita pada toleransi antarumat beragama, dan saling menebar cinta dan kasih sayang sesama umat manusia.

Sang Sutradara mengatakan, film ini tidak terinspirasi dari situasi yang tengah ada, melainkan sudah dipersiapkan sejak tahun 2013, yang berfokus pada isu-isu tentang Islam. “Film Bid’ah Cinta ini sudah ditulis sejak tahun 2015, kemudian syuting pada tahun 2016.  Jadi, tidak sama sekali terkait dengan isu yang sedang berkembang saat ini di masyarakat,” ujarnya pada kesempatan Nobar dan Diskusi Film Bid’ah Cinta yang diselenggarakan Rabu (22/03) di XXI Epicentrum Jakarta.

Dalam acara itu, dihadir  Nurman Hakim, Ayushita, Firman Hakim, Muhammad Sobari (Budayawan), Dr. Rumadi (Lakpesdam NU), serta narasumber, aktor dan aktris kenamaan lainnya.

“Film ini mampu meng-capture realita sosial, bagus ditonton remaja yang baru belajar agama, yang kebanyakan mudah terpengaruh oleh aliran-aliran yang sebetulnya tidak mempelajari agama secara benar, namun merasa dirinyalah yang paling mengerti agama,” ujar Samara, salah satu narasumber dari Universitas Paramadina Jurusan Ilmu Komunikasi yang berada di Jakarta Selatan. ***

Cut Yanti Serasa Mau Terbang

SIAPA  orang tua yang tidak khawatir dengan keselamatan puterinya yang sedang sekolah di London. Terkait dengan adanya serangan brutal di jembatan Westminster, London Inggris, belum lama ini. “Saya serasa mau langsung terbang, worry banget liat berita insiden di Gedung Parlemen yang terkenal dengan menara Big Ben nya,” ungkap Cut Yanti (54) tentang keselamatan puterinya, Ferzi Yatasya.

Kerisauannya segera hilang ketika dia sudah menghubungi anak ke empatnya yang melanjutkan selolah di Inggris itu. “Saya tenang, lega sudah dengar suara Tasya di telepon. Menurut cerita Tasya, dia sempat jalan ke lokasi kejadian dua hari sebelum kejadian,” kata ibu lima anak yang sudah sepuluh tahun berhijab ini.

Cut selalu khawatir setiap ada kejadian serangan teroris di luar negeri. Karena anak lelaki nya juga berada di luar negeri. “Dion anak ketiga saya sekarang juga bekerja di kantor PBB New York, USA,” papar istri dari Muhammad Hanif.

Cut Yanti

Wanita yang selama 8 tahun menjadi orang tua tunggal ini, ketika berkarir  sebagai penyanyi terkenal dengan lantunannya ‘Mengejar Bayang Mu’,  ‘Hati Kecil Wanita’, kini memang tidak melantunkan suaranya lagi. “Sekarang saya bisnis kecil2an properti, ada tanah di wilayah Bekasi. Saya buat rumah sederhana, cari uang sambil ibadah. Saya buat tidak mahal sekalian bantu mereka yang ingin memiliki rumah bagus tapi terjangkau,” papar wanita berkulit putih yang tetap masih sesekali tampil di layar kaca.

Untuk penampilannya yang tetap langsing, Cut Yanti mengaku setiap hari melakukan olahraga di rumahnya. “Bagi saya kesehatan paling utama. Saya olah raga setiap hari treadmil dan sepeda statis.Tentu saja saya juga melakukan diet untuk makanan. Makan buah sayur saya banyak kan,” kata Cut yang membintangi film layar lebar ‘Ketika Cinta Bertasbih ‘ dan ‘Keumala’ yang shootingnya di Aceh.

Meski kegiatannya cukup banyak ia tetap melakukan kegiatan pengajian yang rutin dilakukan seminggu sekali bersama ibu2 ‘Bening’. In syaa Allah disisa umur kita ini, ingin terus berbuat baik, berguna buat orang banyak dan semakin mencintai Allah,amin,” tambahnya mengakhiri obrolan dengan Jayakartanews.com . ***

Roadshow Festival Film Kawal Harta Negara

ROADSHOW Festival Film Kawal Harta Negara 2017, adalah rangkaian kegiatan pasca peluncuran festival tersebut di Jakarta, sebelumnya. Roadshow pertama digelar di Museum Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Magelang, Jawa Tengah, Kamis (23/3).

Roadshow dibuka Wakil Ketua BPK, Sapto Amal Damandari dan dihadiri Sekjen BPK, Hendar Ristriawan, Program Manager USAID-CEGAH, Ary Nugroho, para pejabat BPK dan USAID, serta peserta festival dari kalangan mahasiswa/pelajar dan umum. Acara roadshow diisi berbagai kegiatan seperti Talkshow dengan BPK, workshop film dengan sineas Lola Amaria, serta workshop pembuatan video Citizen Journalism bersama NET TV dengan narasumber Dewi Laila Sari.

Festival film ini berupaya mendorong partisipasi publik, khususnya pelajar/mahasiswa, pembuat film, dan komunitas kreatif di Indonesia untuk membuat film yang menggambarkan tentang tugas dan kewajiban dalam mengawal harta negara. “Dengan demikian peningkatan kapasitas komunikasi BPK dalam menyebarluaskan fungsi dan peran BPK dapat terwujud,” jelas Wakil Ketua BPK dalam sambutannya.

Wakil Ketua BPK Sapto Amal Damandari saat membuka Roadshow Festival Film Kawal Harta Negara 2017, di Magelang.

Pada Festival Film Kawal Harta Negara 2017, sejumlah kategori yang dikompetisikan antara lain film pendek fiksi, film pendek dokumenter, video citizen journalism, dan iklan layanan masyarakat (public service announcement/ PSA). Seluruh kategori ini terbuka untuk pelajar dan umum. Pengiriman karya peserta telah dimulai sejak 14 Maret 2017 dan ditutup pada 7 Juli 2017.

Selain kompetisi film, Festival Film Kawal Harta Negara 2017 juga menggelar kompetisi ide cerita film dari kategori yang ada. Peserta yang terpilih akan mendapatkan apresiasi dalam bentuk dukungan dana produksi dan pendampingan proses produksi oleh praktisi perfilman, sekaligus diikutsertakan sebagai peserta Festival Film Kawal Harta Negara 2017. Dari kegiatan pertama di Jakarta, telah terpilih dua orang dengan ide cerita terbaik kategori fiksi dan dokumenter.

Roadshow selanjutnya dari Festival Film Kawal Harta Negara ini akan digelar di Ternate, Medan, dan Malang. Untuk informasi lebih lanjut dan pendaftaran, dapat diakses di: http://www.bpk.go.id/news/kompetisi-film-kawal-harta-negara. ***