Disc Jockey Indonesia Go International

Foto kiri: Ketua Bidang Humas Erza Maurinho beserta 5 Ambasador DJ (perwakilan DJ DKI Jakarta) DJ Ay Claudia, DJ Barblelius, DJ Velline Pakachu, DJ Angel Yesaya dan DJ Erlyn Suzan.. Foto kanan: Naldo, Ketua PDJI DKI Jakarta memberi kata sambutan.

DISC Jockey (DJ) adalah seseorang yang berprofesi memainkan musik, rekaman atau apa pun yang berjenis suara dengan tujuan menghibur para pendengarnya. Awalnya, seorang DJ adalah penyiar radio yang memutarkan lagu-lagu populer dengan cara memutarkan “cakram” karenanya penyiar radio disebut Disc Jockey.

Cikal bakal  DJ  adalah Radio Christopher Stone (1892-1965) yang menjadi DJ pertama di The United Kingdom pada1927. Martin Block (1901-1967), DJ Radio pertama yang menjadi bintang, menginspirasikan istilah “Disco Jockey”.

Menurut Raymon, seorang DJ senior di Jakarta, DJ masuk ke Indonesia sekitar tahun 70-an, karena pada tahun tersebut mulai bermunculan pesta atau party kecil yang dibuat di rumah. Ketika itu DJ di Indonesia belum melakukan mixing walaupun sudah menggunakan Turntable dan piringan hitam, dikarenakan mixer masih sangat langka.

Sementara Ricky Sumedap, Ketua Harian Pengurus Daerah Persatuan Disc Jockey (Pengda PDJI) DKI Jakarta mengutarakan, dari tahun ke tahun perkembangan club di Indonesia makin besar dan mereka pun menyediakan perlengkapan yang makin baik untuk para DJ. Tak heran jika saat ini banyak orang belajar dan menekuni pekerjaan DJ.

Lanjut Ricky, pada awal 80-an hingga 90-an DJ masih eksklusif dan segmented, istilahnya khusus untuk dunia malam saja. Seiring perjalanan waktu, sekarang ini perkembangan DJ diterima di segala jenis musik. “Kalau dulu sering digunakan jazz musik, sekarang bisa masuk ke genre musik apa saja, contoh pop, rock dan dangdut. Musik DJ bisa masuk sesuai perkembangan teknologi pada alat-alat musik DJ,” jelas Ricky sembari menambahkan, bahwa para DJ juga senantiasa mengikuti perkembangan.

Ricky menambahkan, sebenarnya organisasi DJ sudah dari tahun 1987-1990, setelah itu vakum, dan sekarang diaktifkan kembali. Para Generasi DJ mulai berbenah, mendirikan wadah dengan berbadan hukum dan memiliki AD/ART (anggaran dasar/anggaran rumah tangga) yang bisa dijadikan pedoman.

Pada kesempatan itu juga, Ketua PDJI DKI Jakarta, DJ Naldo tidak membantah kalau sebagian orang masih berpandangan negatif terhadap para DJ, bahkan tak jarang dilecehkan. Terkadang, profesi DJ dianggap kerja sampingan dengan penghasilan yang relatif kecil dibandingkan dengan profesi di dunia seni musik lainnya.

Naldo mengatakan, pengukuhan Pengurus Daerah dan Koordinasi Wilayah (Pengda dan Korwil) Persatuan Disc Jockey Indonesia (PDJI) DKI Jakarta 5 September 2017 adalah yang pertama kali. “Saya baru menjabat dua bulan hingga malam pengukuhan ini dan SK dari pusat mengamanatkan masa jabatan 2017-2021,” kata Naldo, di Manhattan Café Club-Hotel Borobudur, Jakarta.

Ia menjelaskan, jumlah Pengurus PDJI DKI Jakarta mencapai 70 orang, mulai dari Ketua Umum sampai Ketua Bidang dan unit kerja masing-masing bidang. Saat ini anggota PDJI DKI Jakarta yang sudah mendaftar mencapai 135 orang dan targetnya hingga 1.000 orang. Rencana kerja PDJI DKI Jakarta ke depan, antara lain setiap bulan akan menyelenggarakan event. Dan rencana kerja khusus saat ini, PDJI DKI Jakarta sedang menggalang dana untuk para pengungsi Rohingnya.  ”Kita akan bantu sebisa mungkin pengungsi Rohingnya,” cetus Naldo yang didampingi Ketua Bidang Humas Erza Maurinho beserta 5 Ambasador DJ (perwakilan DJ DKI Jakarta) DJ Ay Claudia, DJ Barblelius, DJ Velline Pakachu, DJ Angel Yesaya dan DJ Erlyn Suzan.

DJ Ay Claudia yang mulai bergelut sebagai DJ sejak 2008 menuturkan, Pengda PDJI DKI Jakarta tiap bulan akan ada even, dan nanti di awal tahun pasti ada even besar, mengadakan open tournament Disc Jockey Championship, yaitu festival DJ Indonesia.

Untuk itu, kata Ay sapaan akrab Ay Claudia, PDJI DKI Jakarta akan merangkul semua Dj dari segala profesi yang ada. DJ yang bergrbung di PDJI pasti ada keuntungannya, pertama bisa dilindungi dan terdaftar sebagai DJ Indonesia yang diakui oleh Pemerintah. “Kita ini kan organisasi ada legalitas sebagai payung hukumnya,” tegas Ay yang awalnya seorang penyanyi sehingga tidak begitu punya kendala berpadu profesi menjadi DJ.

Saat bersamaan, Velline Pikachu menceritakan pengalamannya yang pernah disekap di salah satu kamar hotel di luar negeri untuk diperjualbelikan, masih bernasib mujur ia terhindar dari dugaan kejahatan tersebut. Kejadian itu sekitar 2013, dimana Velline Pikachu atau dikenal juga dengan panggilan “DJ Ratu Begal” show (DJ tunggal dari Indonesia) di luar negeri, Asia dan Eropa.

Menurut DJ Ratu Begal, riskan kalau main sendiri, karena itu alangkah baiknya ada naungan payung hukum sehingga bisa lebih fokus. “Misalnya ada tindakan-tindakan yang menjurus kurang sopan atau pelecehan seksual, itu yang sering terjadi karena DJ perempuan kan suka seksi, tapi bukan berarti semua harus seksi,” pengakuan DJ Ratu Begal.

Ay berharap, dengan  aktifnya PDJI DKI Jakarta sebagai wadah bagi para DJ di Jakarta khususnya dan umumnya seluruh Indonesia, DJ bisa merasa lebih nyaman dan fokus berkarier, profesional dan mampu menempatkan diri baik dalam waktu maupun tempat tidak terbatas serta dapat diterima masyarakat luas bahwa profesi seorang DJ merupakan bagian dari seni musik yang sifatnya menghibur pemirsa.

Baik Ay dan Ambasador DJ lainnya beserta Pengda PDJI DKI Jakarta berharap agarsemua DJ dan termasuk para DJ yang berprofesi artis diIndonesia mau bergabung dengan PDJI untuk sama-sama mengharumkan nama Indonesia di mata dunia. “Semoga DJ Indonesia mampu go international, dan DJ itu lebih maju serta lebih menunjukkan sisi positif dari masing-masing seorang DJ,” harap Ay sambil berucap terima kasih kepada awak media.***

Aktris Katie Lowes: Dia punya ‘Bagian Laki-laki’ tapi Saya tidak Yakin Orientasi Seksnya

TEKA-teki. Kadang janin yang sedang dikandung, menjadi teka-teki apakah ia akan lahir sebagai laki-laki atau perempuan. Bukan hanya di Indonesia, di Amerika Serikat, pertanyaan semacam itu juga muncul.

“Saya tidak peduli apakah itu anak laki-laki atau perempuan, selama bayi itu sehat,” kata aktris Ketie Lowes.

Aktris Katie Lowes, yang bermain sebagai  Quinn Perkins dalam drama ABC “Scandal,” baru-baru ini mengatakan kepada majalah parenting  bahwa saat dia mengetahui jenis kelamin bayi yang belum lahir, dia tidak tahu identitas gender apa. Begitu pula apa kecenderunganm orientasi seksualnya, dia akan menjadi gay atau yang orientasinya straight dalam soal hubungan seks, dirinya tidak tahu, demikia laporan People.

“Suami saya [aktor Adam Shapiro] dan saya sadar, tentu saja, bahwa putra kami akan dilahirkan dengan bagian laki-laki. Tapi kami tidak tahu apa yang akan jadi  identifikasi atau orientasi seksualnya, ” kata Ketie Lowes kepada Fit Pregnancy and Baby dalam wawancara khusus untuk cover majalah tersebut pada edisi  Oktober 2017.

“Saya berharap, sekarang lebih dari sebelumnya, untuk segera melihat  anak saya sehat, bahagia dan aman. Hanya itu yang penting. ”

Sebagai sorang ibu yang baru pertama kali mengandung  yang  kini berusia 35 tahun ini,  Ketie mengatakan bahwa dirinya  merasa nyaman merencanakan kehamilannya di sekitar di sela-sela kesibuukannya sebagai aktris. Dia juga  memuji teman dan bintang serial Kerry Washington dan produser/penggagas  acara Shonda Rimes, demikian People melaporkan.

“Saya ingin memiliki diri saya saat saya berada di (serial) ‘Scandal’. Kerry Washington adalah salah satu teman terbaik saya, dan saya berhasil mengawalnya melalui peran keibuan,” kata Miss Lowes.

“Saya juga memiliki bos wanita yang luar biasa hebat,  Shonda Rhimes, yang merupakan ibu tiga anak dan seorang pembela  hebat untuk wanita. Saya tahu jika saya cukup beruntung untuk hamil saat mengerjakan pertunjukan, saya tidak akan merasakan apa-apa selain dukungan. “

Merinding Saat Mendengarkan Musik? Otak Anda Mungkin Istimewa!

APAKAH Anda pernah merasakan begitu merindingnya tatkala  mendengarkan lagu yang bagus, yang membuat semua rambut di lengan Anda tegak?

Pengalaman ini pernah dialami oleh Greg Evan, yang menuliskannya di Independent, yang ketika itu mendengarkan lagu ‘Whole Lotta Love’ yang dibawakan oleh  Led Zeppelin saat naik bus 9 dari Stourbridge saat dirinya berusia 16 tahun.

Ada juga orang yang mengalami sensasi seperti benjolan angsa atau benjolan di tenggorokan, saat mendengarkan musik, adalah sesuatu yang cukup langka dan unik.

Matthew Sachs seorang mantan sarjana di Harvard, tahun lalu mempelajari individu yang merinding saat mendengarkan  musik untuk melihat bagaimana perasaan ini dipicu.

Dia meneliti  20 siswa, 10 di antaranya mengaku mengalami perasaan yang disebutkan di atas dalam kaitannya dengan musik dan 10 yang tidak dan mengambil pemindaian otak dari semuanya.

 

Dia menemukan bahwa mereka yang berhasil membuat keterikatan emosional dan fisik terhadap musik sebenarnya memiliki struktur otak yang berbeda dari pada yang tidak.

Penelitian menunjukkan bahwa mereka yang memberikan reaksi seperti itu cenderung memiliki volume serat yang lebih padat, yang menghubungkan korteks pendengaran dan area yang memproses emosi. Dalam hal ini dapat diartikan bahwa keduanya dapat berkomunikasi dengan lebih baik.

Temuan Sachs yang  dipublikasikan di Oxford Academic yang kemudian dikutip oleh Neuroscience itu menjelaskan: bahwa semakin banyak serat dan peningkatan efisiensi antara dua wilayah berarti seseorang tersebut  memiliki pemrosesan yang lebih efisien di antara keduanya. Ini berarti jika Anda mengalami “kedinginan” (baca: merinding) dari musik, Anda cenderung memiliki emosi yang lebih kuat dan lebih kuat.

Ditambah sensasi ini juga bisa dikaitkan dengan kenangan yang terkait dengan lagu tertentu, yang tidak bisa dikontrol dalam setting laboratorium.

Pada penelitian awal ini Sachs menggunakan cakupannya kecil. Kini  Sachs kini  sedang melakukan penelitian lebih lanjut yang akan melihat aktivitas otak saat mendengarkan lagu yang mendaftar reaksi tertentu.

Dengan melakukan itu, ia berharap bisa mengetahui secara neurologis apa yang menyebabkan reaksi ini dan benar-benar bisa memanfaatkan pengobatan untuk gangguan psikologis.

Depresi menyebabkan ketidakmampuan untuk mengalami kenikmatan benda sehari-hari. Anda bisa menggunakan musik dengan terapis untuk mengeksplorasi perasaan.***

Istana Kensington Tunggu Kelahiran Putra Ketiga

PENGERAN  William dan istrinya Kate, kini sedang menantikan kelahiran putra ketiga mereka, demikian pengumuman yang disampaikan pihak Istana Kensington, Senin waktu Inggris.

Akibat mual-mual, Kate pun mau tidak mau harus  membatalkan penampilan publiknya. Putri berusia 35 tahun itu, kembali menderita hyperemesis gravidarum, kondisi yang juga menghinggapi dua kehamilan sebelumnya. Kini dia dirawat jalan di rumah.

Dia belum mencapai usia kehamilan 12 pekan, yang mana pada umumnya  wanita  menyampaikan kabar gembira seperti itu  ke publik. Kate  baru mengumumkan setelah tak bisa menghadiri sebuah acara di London Senin petang waktu setempat. kata juru bicaranya seperti dikutip AFP.

William, yang juga berusia 35 tahun, berada pada urutan kedua dalam daftar pewaris tahta kerajaan dan si bayi yang akan lahir nanti berada pada urutan kelima, menyisihkan pamannya Pangeran Harry ke urutan lebih bawah lagi.

“Yang Mulia Duke dan Duchess of Cambridge dengan penuh kebahagiaan mengumumkan bahwa Duchess of Cambridge tengah menantikan putra ketiganya,” umum Istana Kensington.

Ratu Elizabeth II, nenek Pangeran William, dan ayahandanya Pangeran Charles dikabarkan gembira mendapatkan warta ini, sedangkan Harry mengaku amat sangat berbahagia untuk mereka.

Kabar ini muncul setelah putra tertua William-Kate, yakni Pangeran George yang berusia empat tahun, yang menempati uruan ketiga dalam daftar pewaris tahta, bersiap masuk sekolah di London, Kamis pekan ini.

Pasangan kerajaan ini juga memiliki seorang anak perempuan yang masih berusia dua tahun, Putri Charlotte.

Istana tidak menyebutkan kapan sang jabang bayi akan lahir, namun seorang juru bicara memastikan kepada AFP bahwa Kate belum mencapai usia kehamilan 12 pekan atau tiga bulan.

J.K. Rowling Meminta Maaf karena Tuding Trump Abaikan Salami Anak Laki-laki Berkursi Roda

RUPANYA butuh  waktu tiga hari bagi  J.K. Rowling untuk bilang, dia minta maaf atas ciutannya di twitter.  Penulis “Harry Potter” tersebut, akhirnya meminta maaf pada hari Senin,  untuk serangkaian tweet yang secara salah telah menuduh Presiden Donald Trump telah menolak untuk menjabat tangan seorang anak yang ada di kursi roda saat sebuah acara pada pekan lalu.

Rowling mengatakan bahwa dia diberitahu tweetsnya dari hari Jumat adalah “bukan representasi penuh atau akurat” tentang apa yang terjadi pada acara perawatan kesehatan hari Senin yang lalu di Gedung Putih dan menghapusnya.

Dia juga meminta maaf pada Twitter untuk anak laki-laki dan keluarganya, meskipun dia tidak menyampaikan kesopanan yang sama kepada Trump. Seorang juru bicara Rowling tidak mengatakan apakah dia akan mengajukan permintaan maaf kepada Presiden.

– J.K. Rowling (@jk_rowling) 31 Juli 2017
Re: my tweets about the small boy in a wheelchair whose proferred hand the president appeared to ignore in press footage, multiple /1 

Rowling pada hari Jumat men-tweet sebuah video yang diedit dengan cara yang menyarankan Trump mengabaikan tangan terulur dari Montgomery Weer berusia 3 tahun.

Penulis buku laris menulis pada saat itu “menakjubkan” dan “mengerikan” Trump “tidak bisa memaksa dirinya untuk menggoyang tangan seorang anak kecil yang hanya ingin menyentuh Presiden.” Yang pertama dalam rangkaian tujuh tweetnya telah mengumpulkan lebih dari 75.000 retweet pada hari Senin.

Video yang tidak diedit, bagaimanapun, menunjukkan bahwa Trump benar-benar menyapa bocah itu, berjongkok sampai ke permukaan untuk menjabat tangannya. Politifact menyatakan klaim awal Rowling untuk memiliki rating “Pants on Fire”.

Rowling hanya menghapus tweetnya hanya setelah ia mendapat sorotan dari beberapa outlet berita, termasuk mantan host CNN dan kolumnis Daily Mail, Piers Morgan, yang menulis di kolom Senin bahwa penolakan penulis untuk memperbaiki tweetnya “memalukan.”

Ibu si anak laki-laki, Marjorie, yang tidak tersedia untuk sebuah komentar, juga menulis di sebuah posting Facebook akhir pekan bahwa Trump “tidak menghina” anaknya.

Bintang Titanic Leonardo DiCaprio, Kate Winslet Kembali Bersatu Setelah 20 Tahun; Twitter Meledak dengan Gurauan “Gunung Rs”

Screenshot twitter akun aktor Billy Zane.

Sebagai  film magis, yang sukses  menjadi suguhan tontonan  kolosal pada dua dekade ini, pasangan utama “Titanic” –Leonardo DiCaprio dan Kate Winslet– kembali bersatu dalam sebuah acara, yang membuat  sejuta hati berbunga-bunga.

Pertemuan keduanya itu,  kemudian ada  yang  coba untuk merayakan secara sentimentil atas kembalinya mereka setelah 20 tahun film diputar.   Dalam hal Titanic, konon  pekerja film James Cameron, sedang menggarap  film dokumenter tentang hal itu.

“Near, far, wherever you are, I believe that the heart does go on…” – Lirik lagu soul-stirring dari film Titanic pada 1997 ini, sama tak terlupakannya dengan film itu sendiri.

Bertindak sebagai host bersama dua mantan bintang Titanic, Winslet dan Billy Zane, untuk sebuah  acara tahunan gala dinner Leonardo DiCaprio Foundation. Ya, aktor berusia 42 tahun itu bertemu dengan para pesohor untuk mengajak mereka mengumpulkan dana bagi usaha penyelamatan lingkungan.

Banyak selebritis yang hadir, antara lain termasuk Madonna, yang tampil di malam berbintang! Dan, berbagai foto acara  malam gala itu pun  beredar di situs jejaring media sosial.

Lihatlah foto para bintang tersebut, telah menjadi viral di twitter  dan media sosial lainnya.

Tidak lama setelah mereka berbagi di media sosial, Twitter mulai berdengung dengan meme dan lelucon. Menariknya, Billy Zane  yang memulai mengusik dengan twit  berbunyi “Gangs back together. Now we’re saving icebergs. Go figure,” Zane menulis di akun twitternya.

Pengguna lainnhya menyahut dengan menuliskan,   “Highest of ironies: cast of Titanic has 20yr reunion to discuss how they can save melting ice caps.”

Baca semua reaksi pengguna twitter lainnya, seperti berikut ini:

Murniati Huber L Tobing, Ketua PARFI Sumut

Ketua BB Parfi Febrian Aditya saat melantik pengurus Parfi Sumatera Utara. Foto Monang Sitohang

DALAM sambutannya saat prosesi pelantikan Kepengurusan Persatuan Artis Film Indonesia Sumatera Utara (Kepengurusan PARFI Sumut) periode 2016-2021, selaku Ketua PARFI Sumut yang baru dilantik, Dra. Murniati Huber Tobing menegaskan bahwa jajarannya siap untuk menggali bakat dan meningkatkan kompetensi SDM (sumber daya manusia) guna menunjang kreativitas film di Sumut.

Tidak lama lagi, Murniati Huber beserta Kepengurusan PARFI Sumut yang baru telah mentargetkan akan membuat film layar lebar, sekalipun untuk merealisasikannya tidaklah mudah dan tentu membutuhkan dukungan terutama dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) dan stakeholder lainnya.

Selama ini PARFI Sumut sudah berupaya untuk mensosialiasikan dan menggali bakat seni peran ke sekolah-sekolah lanjutan atas, seperti SMA Negeri 1 Medan, SMA Negeri 2 Medan, SMA Negeri 4 Medan dan SMA Negeri 1 Samosir. “Hal itu kami lakukan, karena peningkatan industri perfilman harus dimulai terutama dari generasi-generasi muda berbakat. Namun, PARFI tidak bisa sendiri, harus didukung oleh pemerintah dan juga para stakeholder,”ungkap Murniati Huber.

Dra. Murniati Huber Tobing dilantik sebagai Ketua PARFI,  Sabtu (22/7), Jam 19.00 WIB di Gedung Bina Graha Kantor Gubernur Sumatera Utara, Jalan Pangeran Diponegoro No.21 Medan. Pada kesempatan itu turut hadir Ketua Umum PB (Pengurus Besar) PARFI Pusat, Febryan Aditya, Ketua Bidang Pendidikan dan Latihan (Diklat) PARFI Pusat Oding Siregar, Ketua OKK (Organisasi Kaderisasi Keanggotaan) Ismail Sofyan Sani, Direktur Badan Otoritas Danau Toba (BODT), Bosar Simanjuntak, Wakil Bupati Tapanuli Utara Mauliate Simorangkir dan para undangan lainnya.

Kepengurusan PARFI Sumut periode 2016-2021 terdiri dari Ketua Dra. Murniati Huber L Tobing, Sekretaris Candra Sigalingging STP, Bendahara Dra. Tri Andayani MA, Biro Program Pelatihan dan SDM Shaut Hutabarat, Koordinator Hubungan Luar Negeri  Michael Huber, Koordinator Hukum dan Advokasi Ranto Sibarani, SH.

Gubernur Sumatera Utara pada acara pelantikan Pengurus PARFI Sumut yang diwakili oleh Plt. Sekda Provsu (Plt. Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara) Ibnu S Hutomo secara singkat mengatakan, segala potensi di Sumatera Utara (Sumut) diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi bagi PARFI  Sumut.

“Dengan luas wilayah 70 ribu Km2, terdiri dari beragam etnis dan budaya, banyak potensi objek wisata SDA (sumber daya alam) di Sumatera Utara, mulai pegunungan sampai kepulauan yang tersebar di wilayah pantai timur dan barat bisa menjadi sumber inspirasi bagi PARFI untuk menghasilkan film yang sangat hebat dengan lebih profesional dan dikembangkan,”papar Ibnu.

Sementara Ketua Umum PB PARFI Febryan Aditya mengharapkan kehadiran PARFI Sumut dapat saling bersinergi dengan pemerintah daerah. Kata Febryan, dalam film promosi pariwisata itu, ada seni budaya dan kearifan lokal yang diangkat, tujuannya untuk mempromosikan pariwisata daerah yang diharapkan dapat mendongkrak dan meningkatkan PAD setempat.

Febryan berharap PARFI di daerah bisa berkoordinasi dengan pemerintah daerah. Setidaknya untuk membuat filmnya harus berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan serta Dinas Budaya dan Pariwisata. “Kita ingin hasilnya bukan asal membuat film, tapi mampu mengangkat seni budaya daerah,”jelas Febryan.

Film Siantar Man

“Ternyata di Sumut masih banyak orang peduli terhadap PARFI dan berusaha untuk membangkitkan PARFI kembali di Sumut,”cetus Oding sesaat sebelum acara pelantikan dimulai. Ketika dimintai tanggapannya seputar workshop pada 21 Juli 2017 atau sehari sebelum pelantikan, Ketua Diklat PARFI Pusat Oding Siregar menjelaskan ada semangat untuk mengembalikan kiprah PARFI yang selama ini hampir tenggelam.

Oding melihat bahwa para Pengurus PARFI Sumut memiliki semangat untuk mengembalikan PARFI seperti dahulu yang punya gaung cukup diperhitungkan di dunia perfilman. Apa lagi ke depan film-film berproduksi di Sumut dan PARFI Pusat ingin berproduksi di Sumut bisa dibantu atau bekerjasma.

Memperhatikan para peserta hasil diklat workshop, banyak potensi, hanya saja sangat disayangkan peserta diklat kurang banyak. Kemungkinan pengumuman atau promosi dari panitia masih kurang. Oding yakin kalau disosialisasikan jauh hari sebelumnya pasti peserta workshop bisa lebih banyak.

Lanjut Oding, para peserta diklat bilang masih banyak yang libur, mahasiswa-wi belum masuk kuliah, maka banyak tidak mengetahui, dan juga kurang terpublikasikan dengan baik. Hal itu mungkin keterbatasan Panitia PARFI Sumut sendiri. Tetapi melihat materi para peserta yang mengikuti workshop potensinya bagus-bagus.

Oding menambahkan, sejauh ini gebrakan PARFI Sumut adalah film layar lebar. Kepengurusan PARFI Sumut yang baru dilantik berencana akan bekerjasama dengan pemerintah daerah untuk memproduksi sebuah film bertema “Siantar Man”, PARFI Pusat pastilah mendukung semoga prosesi Film Siantar Man terlaksana dan menjadi barometer untuk film-film berikutnya.***

David Beckham ‘ngeteh’ di pesta teh pribadi di Istana Buckingham

David Beckham, kiri bersama dengan  ibundanya, Sandra, duduk di Royal Box pada hari kelima gelaran Kejuaraan Tenis Wimbledon di London pada Jumat, 7 Juli 2017. (AP Photo / Alastair Grant)

MINUM teh itu hal biasa. Menjadi luar biasa kalau ngetehnya di Istana Buckingham, seperti yang dialami mantan bintang Manchester United dan Real Madrid, David Beckh. Memang, tidak sembarang orang bisa masuk ke istana kebanggaan rakyat Inggris tersebut. Hanya orang pilihan yang mendapat undangan Ratu Elisabeth dan keluarga kerajaan, yang bisa ngeteh  bareng (pesta) di lingkungan istana.

Lucky Harper meeting a real life princess at the Palace. Begitu judul foto yang diunggah di Instagram, yang menunjukkan putri Beckham tengah berpose dengan kostum sebagai putri Disney, bergabung dengan gadis-gadis muda lainnya, ada pula Putri Eugenie, cucu Ratu Elisabeth dari Pangeran Andrew.

Didanai oleh pembayar pajak Inggris, Istana Buckingham dirancang untuk urusan resmi kerajaan dan acara kenegaraan. Namun dari waktu ke waktu anggota keluarga kerajaan yang tinggal di sana mengundang para tamu untuk berkunjung secara pribadi, kata juru bicara istana Buckingham seperti dilaporkan ABC News.
Untuk acara pesta “ngeteh” tersebut, Pangeran Andrew akan mengganti dana yang dikeluarkan pemerintah Inggris yang berkaitan dengan acara tersebut.

Beckham melalui Instagram menjelaskan, bahwa acara tersebut bukanlah pesta ulang tahun untuk Harper.
“Hanya untuk menjadi jelas, ini bukan istana yang membuka gerbang pesta ulang tahun, pesta Harper, ini adalah pesta minum teh dimana kami dan tamu lainnya diundang. Jadi ada hal indah yang harus dilakukan pada ibu saya, Harper ditambah beberapa teman sekolah, ” kata superstar sepak bola yang telah pensiun itu di Instagram.

“Kami merasa terhormat bisa hadir di sana.”

Review film: War for the Planet of the Apes

  • Sutradara: Matt Reeves
  • Aktor: Andy Serkis, Steve Zahn, Woody Harrelson
  • Genre: Aksi, Petualangan, Sci-Fi
  • Masa putar:  140 menit
  • Tanggal Peluncuran: 11 Juli 2017

Sebagai akibat dari Dawn For The Planet Of The Apes, Caesar (Andy Serkis) telah membawa orang-orangnya ke dalam hutan untuk bersembunyi dari Kolonel McCullough (Woody Harrelson), seorang panglima perang tanpa ampun yang memerintahkan sebuah batalyon tentara yang menghancurkan monster kera sekali dan untuk semua. Tidak lama kemudian, Caesar menderita kerugian yang tak terbayangkan yang melihat dia berangkat untuk membalas dendam pribadi …

Meskipun Rise Of The Planet Of The Apes adalah kesuksesan komersial dan kritis, tidak dapat dipungkiri bahwa film tersebut tidak cukup wah saat rilis. Syukurlah, Dawn of The Planet of The Apes berhasil mengatasinya dan menjadi salah satu sekuel paling efektif dalam dua puluh tahun terakhir ini.

Apa yang membuat film  Dawn of The Planet of The Apes    dianggap baik, itu tampaknya diamini oleh para penonton  penggemar blockbuster. Tetapi,  sebenarnya ada sesuatu yang bisa dikatakan dan bisa dilakukan dengan cara yang cerdas dan berarti.

Film ini dibuka dengan satu blok teks yang menjelaskan di mana dunia berada dan memasuki rangkaian pertempuran yang dilakukan dengan ahli yang melibatkan sisa-sisa kemanusiaan –yang dipimpin oleh Kolonel McCullough (Harrelson)– dan pasukan Caesar. Pikirkan pembukaan Gladiator, kecuali dengan kera kuda dan senapan otomatis, dan Anda berada di jalur yang benar.

Dari situlah, perjuangan Caesar untuk menjaga kebiadabannya di teluk diperkenalkan, dan juga kehidupan baru bagi kera yang jauh, melampaui hutan beku dimana mereka saat ini bersembunyi. Tak lama kemudian, ceritanya menggeser,  berkat insiden insomnia dan Caesar bertekad untuk memulai pencarian untuk balas dendam pribadi.

Film tersebut mungkin mengikuti jalur yang sudah dikenal dan beberapa karakter –terutama Kolonel Harrelson– diambil dari film lain, ada cukup banyak citra dan nuansa unik dan menarik untuk menggantikannya. Salah satu adegan yang sangat mengganggu adalah dengan melibatkan lagu kebangsaan AS, yang meluap di atas pengeras suara, saat kera dicambuk menjadi perbudakan. Melihat bendera Amerika –dengan simbol alfa / omega yang tertulis di atasnya– muncul berulang kali dan berbicara tentang betapa manusia yang sangat putus asa dan fatalistis.

Penampilan Andy Serkis saat Caesar lebih lanjut memunculkan bar untuk tindakan motion-capture apa yang bisa dilakukan. Sebenarnya, sangat bagus sehingga mengaburkan batas antara tindakan akting dan mutasi biasa, yang sampai pada titik di mana Anda dapat dengan mudah menerima bahwa ada kera yang berbicara di layar. Karakter Steve Zahn, Bad Ape, adalah katup pelepas komedi yang sangat dibutuhkan di film ini, sementara aktris teater Karin Konoval menambahkan kedalaman dan kehalusan seperti Maurice, orangutan lembut yang bertindak sebagai kompas moral Caesar.

Seperti yang disebutkan, Woody Harrelson jelas menyalurkan Kolonel Marlon Brando Kurtz; Melayang di antara ancaman yang sepi dan bermata liar mengoceh dengan mudah. Meskipun film ini menarik garis antara itu dan Apocalypse Now, War … memiliki lebih banyak kesamaan dengan peleton Oliver Stone; Caesar berjuang untuk tetap bermurah hati dan hanya sementara Kolonel telah menyerah sepenuhnya pada kemanusiaannya sendiri.

Untuk sebuah film yang memiliki ‘perang’ dalam judul, jelas bahwa ini dimaksudkan untuk berbicara kepada perang di dalam Caesar daripada pertempuran habis-habisan antara manusia dan kera. Film ini memang memiliki beberapa urutan pertempuran yang sangat bagus dan mata Matt Reeves untuk sinematografi, gerakan membingkai dan kamera tidak ada bandingannya.

Dia mampu menyeimbangkan kacamata blockbuster dengan momen emosional dan dramatis dengan mudah dan tenang sehingga menandai dia untuk hal yang lebih besar lagi di masa depan. Mungkin ada beberapa urutan yang diperpanjang di mana rasanya tidak ada tindakan, tapi ini semua tentang membangun lapisan yang mengarah ke salah satu klimaks yang paling memuaskan untuk film blockbuster yang mungkin pernah Anda lihat.

Naskah film ini  mungkin ringan dalam dialog, namun kompleksitas moral di layar menunjukkan, bahwa ada banyak hal yang terjadi, dan tidak semua itu terselesaikan seperti yang Anda harapkan. Memang, karakter itu sendiri belum tentu disajikan dalam istilah biner.

Film ini melakukan pekerjaan yang luar biasa untuk merasionalisasi setiap karakter – siapa yang tidak akan gila jika melihat kemanusiaan terhapus dalam beberapa tahun? Apa yang akan kita lakukan jika berulang kali terancam kekerasan? Apakah Anda akan patah atau menjadi keras?

Sangat jarang melihat film blockbuster yang memiliki sesuatu untuk dikatakan dan melakukannya dengan tingkat kecerdasan dan perawatan ini. Ini adalah  film blockbuster paling smart  yang dapat  Anda tonton  tahun ini.***

Jurnalisme warga di “City Of Ghosts”, mempertaruhkan segalanya untuk kebenaran

GELOMBANG demonstrasi revolusioner yang dikenal sebagai “Arab Spring” terjadi relatif cepat  dalam sejarah media sosial, kurang dari lima tahun setelah munculnya Twitter —yang menjadi faktor kunci dalam pemberontakan populer di negara-negara Arab seperti Mesir dan Tunisia— diluncurkan pada musim panas 2006.

City Of Ghosts

  • Sutradara: Matthew Heineman
  • Lama tayang: 92 menit
  • Rating: R
  • Genre: Dokumenter

Sekarang setelah Arab Spring  telah dingin ke “Arab Winter”, media sosial terus memainkan peran kunci dalam perlawanan terhadap ekstremisme di Timur Tengah, dimana  kedua belah pihak menggunakan metode yang semakin canggih untuk memenangkan hati dan pikiran. Perang ide eksistensial ini menjadi subyek film dokumenter “City Of Ghosts”, film terbaru  garapan sutradara Cartel Land, Matthew Heineman.  Film ini menampilkan potongan dokumenter Raqqa, yang dihimpun dari jurnalis warga Suriah, kebanyakan  anonim. Mereka  ini mempertaruhkan nyawa, memberanikan diri untuk menyelundupkan informasi dari kota kecil tempat ISIS mendirikan kantor pusatnya dan kemudian mempostingnya secara online.

Raqqa, adalah sebuah kota di Suriah Timur di tepi sungai Efrat, telah tiga tahun terakhir menjadi ibukota de facto ISIS.  Kota ini pertama kali menarik gerilyawan dalam pemberontakan melawan presiden Suriah Bashar al-Assad, namun dalam permulaan revolusi, ISIS mendirikan kemah. Bendera hitam menguasai kota, lalu diikuti  dengan  aksi-aksi  pemenggalan kepala, penyaliban dan penyiksaan.

Dalam situasi seperti itu, sepertinya  Raqqa merupakan  salah satu tempat yang paling mustahil di Bumi untuk mempraktikkan kehidupan sehari-hari, apalagi jurnalisme. Namun di sinilah salah satu cerita jurnalis warga negara yang lebih inspiratif terlahir, yang mempertontonkan  Raqqa yang tengah terkoyak.   Mereka adalah sekelompok kecil warga Raqqa yang sebagian besar anonim yang menjadi aktivis, mempertaruhkan dan terkadang kehilangan nyawa mereka saat melaporkan dari jantung kegelapan ISIS.

Pengantar untuk konflik di Suriah ini relatif singkat —mereka yang ingin melihat secara komprehensif sejarah baru-baru  di negara jazirah Arab ini, harus membacanya  terlebih dahulu— dan disaring melalui nostalgia protagonis  untuk kehidupan bahagia dan riang tempat dimana mereka tinggal di sana, sebelum rasa takut dan kekerasan datang mendera mereka untuk mendominasi eksistensi kehidupan mereka sehari-hari.

Secara bertahap, gambar-gambar tersebut digantikan oleh gambar para jihadis ISIS yang nyata (dan benar-benar brutal) yang memotong tangan, mencambuk pembangkang, dan mengeksekusi narapidana di jalanan, yang terekam  dalam video ponsel  oleh penggiat jurnalisme  warga.  ISIS dengan sengaja memotong Raqqa dari jangkauan  dunia, sebagian besar rekaman yang bercerita tentang Raqqa  bukan berasal dari kerja para  profesional —walaupun hasilnya  sangat luar biasa.  Heineman sendiri juga pergi ke sana, atau  kadang-kadang juga menyelundupkan peralatan untuk melakukan wawancara dengan sumber anonim yang muncul di tengah jalan.

Meskipun film domukenter ini menampilkan kesedihan atas apa yang terjadi di Suriah, yang membuat Raqqa menjadi  Kota Hantu, di mana anggota ini Raqqa is Being Slaughtered Silently (RBSS) kelompok tersebut terpaksa melarikan diri setelah secara terbuka mengungkapkan identitas mereka. Di sana, mereka meninggalkan pesan  melalui Facebook dan video yang diam-diam mereka diupload. Di film ini kita bisa  melihat kehidupan mereka yang berantakan, kadang-kadang secara harfiah —pada satu titik, satu anggota kelompok dan istrinya memperlihatkan  rekaman  bagaimana  rumah mereka dalam keadaan hancur —saat bersembunyi di tempat tinggal  sementara. RBSS  memediasi tragedi pribadi ini melalui laptop dan layar ponsel, yang  membuat perasaan tragis, seolah tidak ada sama sekali.  Anggota jurnalis RBSS  lainnya,  mengirim pesan reguler  saudaranya di Facebook,  mengirim video ayahnya yang dipenggal oleh ISIS. Mereka menghabiskan hari-hari  untuk menunggu telepon berdering, dan berita itu “tidak pernah bagus”.

Mereka ini kebanyakan adalah pria muda yang yang menemukan keberanian untuk melawan ISIS, yang  meneror mereka. Mereka dipersenjatai dengan hashtag dan logo yang menampilkan percikan darah, namun RBSS menjadi sumber penting berita di Raqqa untuk media di seluruh dunia. “Kami menusuk lubang di kegelapan,” kata Abdul Aziz al-Hamza, pendiri RBSS (25 tahun).

Resikonya sangat ekstrem. Seorang reporter bernama Moutaz ditangkap, disiksa dan ditembak di depan umum. Relawan lainnya terbunuh. Gurunya, Naji Jerf, diburu di jalanan di Turki. Bahkan keluarga mereka berada dalam bahaya. Ayah sutradara  Hamoud, diambil dan ditembak. Dalam salah satu momen yang paling menyiksa di film ini,  Heineman Hamoud menonton videonya. Dia terguncang, namun tetap teguh dalam tujuannya.

Beberapa pemimpin kelompok tersebut melarikan diri ke Jerman dan Turki, namun terus melaporkan secara jarak jauh melalui wartawan dan sumber anonim di Raqqa. Sebagian besar rekaman yang ditayangkan oleh Heineman berasal dari  rumah aman mereka di Eropa.

Dengan cara ini, film dokumenter ini  “menyempit” dalam ruang lingkup kapan harus berkembang. Babak kedua tidak mampu mengimbangi cerita IS yang lebih luas, atau untuk mempertahankan jarak dekat Raqaa. Hal ini  tampaknya tak terelakkan. Tapi Heineman, yang  terjun ke kelompok yang main hakim sendiri di sepanjang perbatasan A.S. dan Meksiko, tampak lebih banyak berada di rumah di medan perang daripada jauh dari tindakan tersebut.

Bagaimana pun  kepahlawanan yang dipamerkan di “City of Ghosts” itu tak terlupakan. Dalam  film ini tetap menjadi pengingat yang sangat penting akan biaya tinggi dan kebutuhan vital jurnalistik dalam hal ini —atau apapun— untuk melawan kejahatan.

Ada tuturan di film ini yang menggambarkan  Pasukan Demokratik yang didominasi Kurdi, yang didukung oleh serangan udara oleh koalisi pimpinan A.S., melewati  tembok kota tua Raqqa. Ada harapan yang berkembang, bahwa ISIS akan segera terusir  dari benteng pertamanya. Tapi, seperti yang dipikirkan RBSS dan yang lainnya, korban sipil berjatuhan dan kenyataannya pertempuran terus berlanjut.

Dipihak lain, berada di luar negeri tidak berarti anggota  RBSS aman, dan selama syuting seorang pria bernama Naji Jerf dibunuh di Turki. Dia adalah orang kedua yang meninggal, karena keterlibatan mereka dengan kelompok RBSS tersebut. ISIS terus-menerus mengepung kelompok  penggiat ini yang berkumpul di Jerman setelah kematian Jerf, baik secara offline maupun offline, mengirimkan gambar-gambar yang diambil di luar gedung apartemen mereka dan membuat video licik yang menghasut  umat yang beriman untuk membunuh mereka atas nama Allah.

Dalam beberapa tahun terakhir, ISIS telah dengan sengaja memodernisasi usaha rekrutmennya. Yang menghilang adalah video pemenggalan kepala secara sadir dan kasar yang dilakukan pada tahun-tahun yang lalu, yang mereka gantikan dengan  iklan apik yang diproduksi secara profesional dengan estetika pembuatan film blockbuster Amerika. (Satu video, membandingkan jihad dengan video game nyata, sangat mirip dengan iklan Angkatan Darat A.S. dengan tema yang sama).

Hal ini juga memperluas usaha rekrutmennya kepada anak-anak; Dalam sebuah film yang penuh dengan bayangan kematian dan penghancuran kehidupan nyata, salah satu klip paling menghancurkan menunjukkan anak usia prasekolah memotong tenggorokan beruang teddy dan disaat yang sama  sejumlah orang dewasa bersorak untuknya di luar layar.

Heineman dengan pedas menyatukan tema gambar besar ini dengan kejadian intim dalam kehidupan anggota kelompok RBSS, misalnya menyandingkan prajurit anak yang disebutkan  dengan satu anggota bertemu dengan anaknya yang baru lahir. Taktik ini menciptakan perasaan empati yang mendalam terhadap keadaan RBSS, menunjukkannya sebagai orang biasa –satu anggota terlibat hanya karena dia terpesona dengan kamera– yang membawa beban luar biasa.

Ada banyak adegan yang dinamis  di film domumenter City Of Ghosts ini, namun menjelang akhir film, satu urutan yang sangat kuat menunjukkan anggota RBSS gemetar tak terkendali, saat ia mengoceh melalui setumpuk foto teman-temannya, mati dan hidup. Sebelumnya pada hari itu, dia menolak tawaran perlindungan dari polisi Jerman, mengenakan T-shirt Star Wars dan wajah pemberani dan mengatakan kepada mereka, “Saya telah mengatasi ketakutan untuk dibunuh karena pekerjaannya.

Semangat semacam itu dalam menghadapi bahaya nyata –di kota asalnya, mayat digantung di lapangan umum dengan tanda-tanda yang melabeli mereka “aktivis media”– adalah pengingat kuat tentang betapa pentingnya kebebasan pers, dan betapa mudahnya dibawa pergi.