Ganjar Pranowo, Gubernur Rock n Roll

Gubernur Ganjar Pranowo bersama istri dan anaknya, saat menonton konser rock Dream Theater, di Stadion Kridosono, Yogyakarta.

KONSER musik yang menampilkan kelompok musik rock gaek, Dream Theater, di Stadion Kridosono, Jl. Yos Sudarso, Gondokusuman, Yogyakarta memang menyita perhatian berbagai kalangan, termasuk Gubernur Jateng Ganjar Pranowo yang juga menonton, Jumat (29/9/2017). Gara-gara menonton konser tersebut, Ganjar lantas dijuluki sebagai gubernur rock n roll.

Anggapan itu ramai dilontarkan warganet setelah Ganjar memamerkan fotonya saat menonton konser Dream Theater ke akun Instagramnya, @ganjar_pranowo, Sabtu (30/9/2017). Pada keterangan foto, Ganjar mengungkapkan dirinya menonton konser musik tersebut bersama keluarganya.

“Kemarin malam [Jumat] bersama keluarga, nonton konser Dream Theater. Luar biasa, Rockkkks,” tulis orang nomor satu di Jateng itu pada keterangan foto. Pada foto yang diunggah, memang terlihat Ganjar menonton konser Dream Theater bersama istrinya, Siti Atikoh, dan putranya, M. Zinedine Alam Ganjar.

Tak pelak warganet yang mengetahui unggahan sang gubernur Jateng itu, ramai menilai Ganjar sebagai gubernur rock n roll. “Rock’nd roll bergema pak Gubernur @ganjar_pranowo,” tulis pengguna akun Instagram @bagus_rachmoyojati.

“Pakdhe @ganjar_pranowo rock and roll… Tapi sengax nonton DT [Dream Theater] gak ngajak,” ungkap pengguna akun Instagram @danetjhon.

“U’r rock n roll,” tulis pengguna akun Instagram @ajengratiww_.

“Rawk Pak Ganjar, rock never dies \m/ @ganjar_pranowo,” tulis pengguna akun Instagram @robin_mhmmd.

Dikabarkan Semarangpos.com sebelumnya, Ganjar mengaku menonton konser tersebut lantaran memang mencintai musik karya Dream Theater. Bahkan, ia mengaku langsung membeli tiket saat mengetahui Dream Theater akan tampil di Yogyakarta.

Warganet lantas ramai ingin sang gubernur menggelar konser rok di Jateng dan mendatangkan artis ternama seperti pada konser musik bertajuk Jogjarockarta itu. Atas harapan warganet itu tak, Ganjar belum memberi tanggapan. ***

Rahang Palsu Demi Totalitas Sebuah Peran

AKTOR Vino G Bastian berusaha semaksimal mungkin, agar penampilannya mirip mendiang Chrisye untuk film terbarunya, “Chrisye”. Demi perannya itu, sedikit mengubah struktur rahangnya pun dilakukan oleh Vino.

Lewat trailer dan foto yang sudah dirilis rumah produksi MNC Pictures, terlihat sosok Vino sangat mirip dengan almarhum Chrisye yang diperankannya dalam film. Rambutnya panjang, dan bentuk wajahnya pun tampak sedikit berbeda. Rupanya selain menggunakan rambut palsu, suami aktris Marsha Timothy ini juga sampai berkonsultasi ke dokter gigi untuk mengubah struktur wajahnya agar lebih mirip legenda musik Indonesia tersebut. Alhasil, Vino akhirnya menggunakan rahang palsu tiap kali syuting film ini.

“Selama workshop reading , saya rasa ada detail yang kalau ditambahin akan bantu saya, saya sempat ke dokter gigi juga. Itu jadi tambahan kecil saja,” katanya. Vino awalnya sempat pesimistis saat terpilih sebagai Chrisye. Dia mengaku tidak bisa bernyanyi layaknya sosok pelantun Badai Pasti Berlalu tersebut. Meski begitu, dia mulai percaya diri dan memberikan totalitasnya saat merasakan adanya kecocokan antara peran dan dirinya. Bagi aktor kelahiran Jakarta, 24 Maret 1982, ini, skenario Chrisye adalah naskah cerita terbaik yang pernah diterimanya.

“Setelah skrip jadi, ini memang skrip yang terbaik yang pernah saya terima. Saya yakin, bukan aktornya yang mencari skrip atau karakter, melainkan karakternya yang akan mencari aktornya,” ucap aktor yang menjalani debut bermain film Catatan Akhir Sekolah (2005) garapan sutradara Hanung Bramantyo ini. Damayanti Noor yang merupakan istri mendiang Chrisye mengungkapkan bahwa Vino tepat untuk menggambarkan sosok Chrisye di luar kehidupannya sebagai musisi. “Saya sangat apresiasi buat Vino dan ketika melihat dia waktu diset, saya dan anak-anak merasa almarhum hadir kembali,” kata Damayanti. Hal serupa juga dinyatakan Rizal Mantovani selaku sutradara.

“Saya merinding saat dia udah masuk set dan full make up dan itu meyakinkan saya,” ujar Rizal. Adapun Ketua Komunitas Kangen Chrisye (K2C) Ferry Mursyidan Baldan juga mengaku salut dengan totalitas yang dihadirkan Vino untuk menjiwai perannya. “Melihat pengalaman memerankan Kasino dalam film Warkop DKI Reborn , dia bisa memerankan dengan baik, meski tidak mirip secara wajah. Kasino pria yang ndeso, sementara Vino pria metropolis, tapi dia bisa memerankan dengan totalitas. Saya melihat ada aura Chrisye dalam diri Vino saat melihat trailer karena dia mendalami betul pribadi Chrisye,” ungkap Ferry.

Mantan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional ini mengaku akan membuat acara nonton bareng bersama Komunitas Kangen Chrisye. “Teman-teman di K2C sudah tidak sabar ingin segera menonton bareng film Chrisye,” katanya. Film Chrisye akan tayang di jaringan bioskop pada Desember 2017.

“Maumere Jazz Fiesta Flores”, Kebangkitan Pariwisata Sikka

Sebagian performer dan sponsor Maumere Jazz Fiesta Flores 2017 bersama Melchias Markus Mekeng (nomor 4 dari kanan), pencetus MJFF.

DEMI terus mendukung status wilayah Maumere, ibukota Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur kembali menjadi destinasi wisata, salah satu upayanya adalah dengan melangsungkan terus penyelenggaraan Maumere Jazz Fiesta Flores. Ini sudah tahun kedua pelaksanaan Maumere Jazz Fiesta Flores yang juga mengangkat keluhuran budaya tradisional setempat hingga nikmat kulinernya.

Ada jazz, tetapi juga menyajikan musik reggae yang disukai khalayak Sikka, tentu harapannya memenuhi target lebih dari lima ribuan penonton. Apalagi ditambah kearifan lokal musik etnis Sikka Tawa Tana yang melengkapi indahnya lansekap panorama perbukitan dan lautan kawasan Gastrack Wairita, bagian timur Kota Maumere, dan area lintas arah tujuan Larantuka.

Usaha memperkenalkan kembali Maumere, dijelaskan Melchias Markus Mekeng selaku tokoh masyarakat pendiri Yayasan Bapa Bangsa dan penggagas Maumere Jazz Fiesta Flores, adalah utamanya demi membangkitkan iklim turisme yang sempat di porak-poranda oleh bencana gelombang tsunami pada tahun 1992.

Potensi kebudayaan dan pariwisata Maumere diingatkan kembali kepada kaum wisatawan melalui kegiatan festival jazz luar ruangan ini, mulai dari lingkungan perbukitan dimana nanti situasi sunset senja menjelang malam mengiringi seru kehadiran kali keduanya Maumere Jazz Fiesta Flores pada 27-28 Oktober mendatang.

Hadirnya penampilan Krakatau Reunion terdiri dari Dwiki Dharmawan, Indra Lesmana, Gilang Ramadhan, Donny Suhendra, Trie Utami dan Pra Budi Dharma dijadikan bonus spesial dari pesta jazz di Flores ini, serta kepastian tampil Ruth Sahanaya, Yopie Latul dan juga kelompok accapela Jamaica Cafe dengan didukung grup reggae asal Bali, Soul Rebel berkolaborasi dengan penyanyi Afro Moses (Ghana). ***

Brandon Salim tak Takut Belanja Online

HINGGA  saat ini, belanja online masih menjadi momok yang menakutkan bagi segelintir kalangan. Bagaimana tidak, masyarakat masih terbayang-bayang bila transaksi mereka gagal dan uangnya hilang. Namun, berkat kemajuan teknologi, hal tersebut sudah tak perlu dikhawatirkan lagi. Apalagi, kalau belanjanya di situs belanja yang merupakan marketplace atau dikelola oleh pemodal besar.

Seorang artis muda, Brandon Salim mengaku  pada awalnya ia sempat takut berbelanja online. Namun, lama kelamaan, dia terbiasa dengan belanja di dunia maya.

“Akhirnya aku suka pakai kartu mama aku, sampai akhirnya dia heran dan bertanya-tanya. Ke mana nih uangnya, walaupun kepotongnya enggak banyak,” ujar Brandon, di Kantor Pusat Lazada Indonesia, Argo Plaza, Jakarta Selatan.

Anak dari artis Ferry Salim tersebut menjelaskan bahwa saat ini tidak perlu takut belanja online, karena transaksinya aman dan terjamin. Sebagai generasi milenial yang paham dengan internet, ia pribadi memiliki tugas untuk mengajarkan bagaimana belanja online pada orang yang lebih tua.

“Kadang ada orang tua kita atau siapa gitu, yang enggak ngerti dengan transaksi online. Tapi kan sudah tugas kita buat berbagi dan mengajarkan mereka, sebagai generasi milenial yang paham dengan hal ini,” ujarnya saat ditemui pada launching Taobao di lazada Indonesia baru-baru ini.***

Roxx Gaet Drummer Berusia 17 Tahun

GROUP  rock metal legendaris ROXX, tampil dalam ajang konser musik “Jogjarockarta International Rock Music Festival” yang digelar  pada  29 dan 30 September di Stadion Kridosono, Yogyakarta. ROXX yang tampil pada  30 September tersebut, tidak bisa tampil tanpa  Raiden Soedjono, sang drummer yang belum lama ini baru saja melangsungkan pernikahannya dengan Tyas Mirasih.

Raiden dan Tyas dikabarkan masih menjalani bulan madu, sehingga terpaksa  absen mengawal ROXX di konser musik rock “Jogjarockarta” tersebut.  Trison Manurung sang vokalis mengabarkan, bahwa absen Raiden  tidak terlalu menjadi masalah, karena sudah ada Rian Dani, drummer “Death Distortion” yang membantu ROXX menjadi drummer tamu.

Rian Dani adalah drummer muda bertalenta indonesia asal Papua, usianya baru menginjak 16 tahun dan saat ini tergabung bersama Trison Manurung dalam group band bergenre metal Death Distortion. Bersama Death Distortion, Rian Dani juga merilis album berjudul “Reinkarnasi” pada tahun 2016 dan single “Terbang Bersama Garuda” pada tahun 2017.

Pada penampilannya di Jogjarockarta, ROXX akan membawakan materi lagu dengan komposisi 60% lagu baru yang diambil dari album “ANTHEM” dan 40 persennya lagi akan menampilkan lagu-lagu lama mereka. Trison sendiri mengaku senang bisa tampil di acara konser musik sekeren Jogjarockarta ini.

“Jogjarockarta adalah acara konser musik yang keren, mudah-mudahan terkoordinasi dengan baik, acara seperti ini harus di lestarikan di kota-kota yang lain juga”, tutur Trison.***

God Bless Hipnotis Penonton JogjaROCKarta

 

IPIK TANOYO

God Bless, band rock legendaris Indonesia, tampil memukau di hadapan 7.500 penonton yang memadati konser JogjaROCKarta yang berlangsung di Stadion Kridosono, Yogyakarta, Jumat malam, 29 September 2017.
Penampilan band yang kini telah berumur 44 tahun itu pun masih mampu memukau para penonton di Stadion Kridosono, meskipun para punggawanya sudah berumur lebih dari setengah abad.

“JogjaROCKarta! Kayaknya ke depan bakal jadi barometer acara rock di Indonesia nih acara ini,” ujar Ahmad Albar menyapa penonton setelah menggeber dua lagu pembukaan.

Tak lama setelah menyapa penonton, God Bless pun membawakan tembang ‘Cermin’, yang diambil dari album terakhir mereka yang berjudul sama. Setelah itu, tibalah saatnya sang gitaris, Ian Antono, memegang gitar akustiknya, untuk membawakan beberapa tembang lawas milik mereka.

“Masih ada yang ingat lagu ini?” kata kata Iyek, panggilan Ahmad Albar, sang vokalis sebelum memulai intro lagu ‘Syair Kehidupan’.

Sontak saja, para penonton yang ternyata cukup hafal dengan lirik lagu tersebut pun ikut bernyanyi hingga lagu itu rampung dimainkan.

“Kalian sepertinya masih kurang kompak nih nyanyinya. Gimana kalau kita kasih tembang satu lagi,” ujar Iyek sambil mulai menyanyikan ‘Panggung Sandiwara’ dan kembali mengajak penonton nyanyi bersama.

Kemudian, secara berturut-turut, sejumlah hits mereka seperti ‘Rumah Kita’ dan lagu-lagu lawas lainnya bergantian dimainkan. Hingga tiba di lagu terakhir, Ahmad Albar cs pun membawakan salah satu tembang mereka yang cukup terkenal, yakni ‘Semut Hitam’.

Tak ayal, begitu lagu itu selesai dimainkan, para penonton pun berteriak-teriak meminta mereka untuk menambah jumlah lagunya sebelum mengakhiri penampilan malam ini.

Seperti yang dijanjikan Iyek, God Bless akan memainkan lagu dengan iringan musik etnik. Dua lagu yang ada dalam album Cermin yaitu Laskar dan Lidah Petaka langsung dimainkan saat Ian Antono dan kawan-kawan awal manggung.

Band yang digawangi Ian Antono, Ahmad Albar, Abadi Soesman, dan Donny Fattah itu membawakan 12 lagu yang tidak asing di telinga penggemarnya, seperti Blablabla, Kehidupan, Cermin, Bus Kota, Syair Kehidupan, Rumah Kita, dan Semut Hitam sebagai lagu terakhir God Bless manggung.

Dream Theater Sihir JogjaROCKarta

TEPAT pukul 21.00 WIB, Jumat 29 September 2017 lalu, grup band Dream Theater memulai konser mereka di Festival Rock JogjaRockarta yang digelar di Stadion Kridosono, Yogyakarta.
Para personelnya, yakni, John Myung (bass), John Petrucci (guitar), James LaBrie (vocals), Jordan Rudess (keyboard), Mike Mangini (drummer) menyajikan tembang “The Dark Eternal Night” sebagai appetizer.

Penampilan energik para personel Dream Theater semakin menarik dengan dukungan tata cahaya cahaya dan panggung yang megah. Encore adalah lagu ‘A Change of Seasons’ yang berduradi 23.08 menit.

“Hello Yogyakarta. Great to be back once again. We have almost three hours to celebrate music. Welcome to Images, Words and Beyond tour. We are keep coming back as much as you want us to,” kata LaBrie.

Sajian berikutnya band beraliran metal progresive ini membawakan “The Bigger Picture“.

Di antara para penonton Dream Theater adalah Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Ganjar tampak hadir bersama istri dan anaknya.

 

Kunjungan  Dream Theather kali ini adalah untuk ketiganya dalam rangka tur dunia mereka yang bertajuk Images, Words & Beyond Tour 2017. Menarik, keyboardis Jordan Rudess sempat mainkan melodi di bait awal lagu etnis Jawa ‘Gundul Pacul’. Usai lagu ini, Dream Theater langsung menggebrak nomor ‘Wait for Sleep’. Ternyata Dewa Budjana yang ajarkan gundul Pacul kepada Jordan cs.

Tur ini dilakukan untuk merayakan hari jadi album keduanya yang bertajuk Images and Words (1992) yang ke 25 tahun. Jogja adalah miniatur Indonesia. Betapa pentingnya toleransi dan pluralisme, rasa aman dan damai,” ungkap Anas Alimi, penggagas dan CEO Rajawali Indonesia.***

 

Yockie Suryo Prayogo in Rock: Menjilat Matahari

Yockie Suryo Prayogo dalam konferensi pers: “Yockie Suryo Prayogo in Rock: Menjilat Matahari”. 

HASRAT besar Yockie Suryo Prayogo adalah menjadikan musik sebagai produk budaya dan bagian penting disiplin keilmuan. Baginya, musik adalah kehidupan yang tidak sekadar profesi tetapi bagian dari napasnya. Yockie memulai passion berbudaya lewat musik ciptaan sendiri, utamanya sejak bergabung di grup rock, God Bless pada dekade 1970-an. Menduplikasi kibordis-kibordis Jon Lord (Deep Purple), Keith Emerson (Emerson, Lake & Palmer) ataupun Rick Wakeman (Yes) —disadarinya tidak bakal menjadikan apa-apa karena pemusik harus menjadi dirinya sendiri.

Ketika di God Bless lahir karya-karya Yockie seperti “Suara Kita”, “Misteri”, “Satanic Verses”, “Kehidupan”; dan “Menjilat Matahari” yang pada 11 Oktober mendatang jadi tajuk konser terbarunya yang berlangsung di The Pallas, SCBD, Jakarta mulai pukul 20.00 WIB. Dalam kesempatan itu, akan tampil juga Nicky Astria, Andy /rif, Ariyo Wahab, Budi Cilok dan legendary rocker nasional, Setiawan Djody.

Noble desires, mungkin lebih tepat dibilang begitu, membuat karakter bermusik Yockie kepingin pula bertanggung jawab pada tren pop Nusantara, dan turut membantu rekan-rekannya di Radio Prambors menggarap album kompilas Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR 1977 dan 1978); serta “Badai Pasti Berlalu” dalam kerja kolaborasinya dengan Eros Djarot menghadirkan Chrisye dan Berlian Hutauruk.

Tetapi bukan artinya ia lantas rela meninggalkan genre rock, karena sebagai komposer, player dan music director — Yockie mengilapkan album-album rock gemilangnya Mel Shandy, Ita Purnamasari, Ikang Fawzi hingga Nicky Astria. Begitupun kerja cemerlangnya di God Bless sempat berlanjut di album “Semut Hitam” (1987.)

Lalu, bagaimana cerita di balik konser kekiniannya, “Menjilat Matahari” di tahun ini, Yockie menyebut target penontonnya mungkin mayoritas generasi Gen X atau Baby Boomer yang biasanya malah datang bersama keluarganya.

Di tengah dominasi pop sekarang ini, kita (Trans Event dan Interact Mahana Live) mencoba konser rock dari komposer legenda hidup yang mumpuni pula saat menangani kaya cipta lagu pop yang keren dan berbudaya, sembari kita mengajak anak-anak muda sekarang mengenali karya musik rock yang mengilhami dan melegenda dari Yockie Suryo Prayogo.

“Lagu-lagunya enak dan bagus-bagus. Jadi harapannya bukan penontonnya dari angkatan-angkatan generasi 1970/80 saja, tetapi anak-anak mudanya ikut hadir menikmati lagu-lagu legenda pop 1970/80,” kata Iko Wisprantoko, Direktur Trans Event mewakili pihak promotor penyelenggara saat konferensi pers, hari Selasa (3/10/2017).

Sedangkan bagi promotor musik Interact Mahana Live, dukungannya terhadap musik karakteristik gaya Yockie sudah untuk keempat kalinya diselenggarakan di Bandung, Malang, Yogyakarta dan juga Jakarta. “Mas Yockie adalah salah satu pemusik yang memiliki identitas musik Indonesia, dan diharapkan anak muda generasi sekarang bisa menjadikan itu semua inspirasi, sehingga bisa melahirkan musisi-musisi baru yang mampu bersaing dengan musisi-musisi luar negeri yang menguasai negeri ini,” harap Project Director Ridho Aditya.

Penjualan tiket “Yockie Suryo Prayogo in Rock: Menjilat Matahari” sudah dapat diperoleh melalui ticket.mahanalive.com, seharga beli Rp 400.000 (VIP) dan Rp 250.000 (Reguler). ***

Sambut Tahun 2018 di “Gate of the Gods” Bali

Suasana jumpa pers, acara paling fenomenal mengakhiri tahun 2017 di kawasan GWK, Bali. Foto: John Sinyal

MENJELANG perayaan tutup tahun 2017 menuju 2018, ada SAGA Music Festival berlangsung di Garuda Wisnu Kencana (GWK) Bali pada 28-29 Desember mendatang. Acara itu akan menjadi pesta akbar entertainment, seni budaya, kenikmatan musik dan kuliner menjadi satu destinasi tujuan wisata suka citanya orang-orang muda usia 18-35 tahun.

Siapa-siapa saja para DJ ataupun electronic musician yang bakal menghibur di lokasi taman budaya GWK berkapasitas 45 ribu pengunjung di lahan seluas 240 hektare tersebut? Di antaranya Marc Benjamin. Pemuda usia 27 tahun keturunan Belanda-Indonesia bergenre musik elektro dan progresif ini, bersama-sama DJ Snake (Prancis), duo Dropgun (Rusia) serta banyak lagi nantinya juga bergabung meramaikan gejolak electronic dance music (EDM) dengan kehadiran duabelasan DJ asal negeri sendiri, antara lain grup band elektronik Tenjo, serta Yasmin dan Dipha Barus.

Bisa dibilang, pilihan menempatkan Garuda Wisnu Kencana sebagai tempat penyelenggaraan SAGA Music Festival, telah dipertimbangkan matang dari areanya yang hanya berjarak waktu normal 15 menit dari Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, dan area logistiknya sangat memadai sebagai lokasi pentas terbuka pertunjukan EDM yang kini jadi tren musiknya kaum muda dan dimana-mana mampu mengundang puluhan ribu lebih penonton.

“Bukan itu saja, dengan segmentasi panggung utama berkonsep Gate of the Gods dan panggung kedua Nightowls serta pemanfaatan lansekap tebing-tebing tinggi serta artistik pentas berpola visual dan tata lighting, kami berharap SAGA Music Festival rutin berlangsung di GWK dan melegenda jadi festivalnya remaja dewasa sekolah menengah atas, mahasiswa dan eksekutif muda. Apalagi ini dilangsungkan saat liburan panjang,” papar Jason Kurniawan, pendiri dan owner All In Entertainment.

Kerjasama dengan pihak GWK dan Trans Event ini diharapkan bisa berlangsung terus utamanya di setiap saat liburan panjang menyongsong perayaan jelang pergantian ke tahun. Trans Event sebagai promotor dan berjalur produksi pementasan entertainment berskala bisnis besar serta pengalaman kerjanya yang panjang, diyakini Jason, mampu menjalankan sejumlah bisnis club party people utamanya Fable Club & Lounge (Jakarta), The Pallas (Jakarta), Mirror Club (Bali), dan Khung (bar and restaurant di Jakarta).

“Semuanya sudah berjalan dengan baik, dengan kustomer penyuka party sebesar itulah kenapa kami sekarang memberanikan diri buat melangsungkan SAGA Music Festival, karena memang memiliki market yang sangat potensial,” diterangkan Jason. Tahapan pembelian tiket presale di rajakarcis.com untuk dua hari pertunjukan telah dibuka bulan ini, jauh di bawah harga normal dengan penawaran terbatas antara Rp 300.000 hingga Rp 2.400.000. (john sinyal)

Menunggu Suguhan “Wah” Supergroup Live in Concert

Kelompok Musik Krakatau yang legendaris, beranggotakan Dwiki Dharmawan, Indra Lesmana, Gilang Ramadhan, Donny Suhendra, Pra Budi Dharma dan Tri Utami. Foto: John Sinyal

DI TENGAH serbuan konser musik internasional, beberapa grup musik Indonesia yang tetap dan terus memberikan pengaruh dalam warna musik Indonesia,berkemas menggelar pentas bersama. Mereka adalah God Bless, Kahitna, Krakatau, Gigi dan Sheila On 7 yang berjadwal pentas konser kolosal bertajuk “Supergroup Live in Concert” di Plenary Hall, Jakarta Convention Center pada 21 November mendatang.

Seorang penggagas perhelatan unik ini yang bertindak selaku produser eksekutif, Kadri Mohamad, membocorkan informasi menarik tentang lima grup band super yang bakal beradu lagu hits bukan skills saja. “God Bless akan pamer lagu-lagu ngehitnya, serta bagaimana nanti boleh ditonton deh Krakatau yang tampil kreatif, karena akan melawan para Hit Makers kayak SO7 Kahitna dan Gigi,” ujarnya.

Silakan berbangga dong, karena ini adalah kejadian konser pertama di Indonesia yang berisi band-band terbaik kelas supergoup dari berbagai genre utama seperti rock, fusion jazz dan pop hasil pilihan polling suara netizen yang diadakan oleh XI Creative The Promotor.

Mereka dianggap memenuhi kriteria untuk jadi pilihan. Diantaranya dilihat dari rekam jejak jam terbang lebih dari 20 tahun, dan masih berkarya hingga saat ini, personel kelas maestro musik, musikalitas yang solid, manajemen bijak, jumlah fans, mengelola media sosial, plus jumlah album dan lagu-lagu ngehit.

God Bless adalah legenda rock band Indonesia yang berkibar dengan enam album selama hampir 50 tahun sejak tahun 1973. Lagu-lagu seperti “Semut Hitam”, “Kehidupan”, “Huma Di atas Bukit”, “Rumah Kita” adalah lagu-lagu mereka yang begitu populer.

Band pembuka pada konser Deep Purple di Jakarta (1975) tersebut saat ini terdiri dari Achmad Albar, Donny Fattah, Ian Antono, Abadi Soesman dan Fajar Satritama. Semuanya hingga kini masih begitu eksis di kancah musik Indonesia.

“Ini sebuah pertemuan lima band yang unik. Kami dari generasi 1970-an, 198-’an, 1990 dan 2000-an bertemu dalam satu pentas festival. Akan menjadi salah satu pertunjukan tak boleh di lewatkan,” kata vokalis God Bless, Achmad Albar.

Adapun salah satu pionir fusion jazz di Indonesia, Krakatau dibentuk tahun 1984 di Bandung. Kini digawangi Dwiki Dharmawan, Indra Lesmana, Gilang Ramadhan, Donny Suhendra, Pra Budi Dharma dan Tri Utami. Semua personelnya sudah menjadi pemusik kelas internasional dengan segudang prestasi. Menelurkan sekitar 10 album, saat ini sedang come back dengan album baru dan menggelar konser di kancah musik Indonesia dan dunia.

Banyak pengamat musik menyebut bahwa Krakatau berisian banyak maestro musik Indonesia. Trie Utami, perempuan vokalis ini mengatakan tentang pentas mereka nanti, “Boleh dibilang pentas lima supergroup ini akan menjadi kado indah untuk musik Indonesia dari kami Krakatau, God Bless, Kahitna, Gigi dan Sheila On 7.”

Selanjutnya, grup band beraliran pop rock Gigi sejak 1994 meramaikan kancah musik Indonesia dengan lebih dari 20 album. Dimotori empat personel enerjik yakni Armand Maulana, Dewa Budjana, Thomas Ramdhan dan Gusti Hendy — band awet ini masih punya penggemar yang kuat. Lagu-lagu seperti “Angan”, “11 Januari”, “Terbang”, “Nirwana” dan “Jomblo” adalah beberapa contoh lagu-lagu yang sukses digemari oleh beragam usia.

“Festival musik ini keren gua bilang sih. Gabungkan lima band dengan karakter berbeda yang punya hits dan kenangan di fans masing-masing. Mudah-mudahan jadi tontonan berkesan di akhir tahun 2017,” harap vokalis Armand Maulana.

Berikutnya, nama Kahitna adalah jaminan mutu pertunjukan musik saat ini. Keberhasilan band pengusung pop asal Bandung yang lahir ditahun 1986 ini tak lepas dari kepiawaian Yovie Widianto sebagai leader, sekaligus pencipta puluhan lagu yang hits. Sebut saja deretan lagu seperti “Cantik”, “Mantan Terindah”, “Cerita Cinta” dan “Rahasia Cinta”.

Dengan vokalis trio solid terdiri dari Carlo Saba, Hedi Yunus dan Mario — Kahitna berhasil terus berkibar hingga hari ini dengan penggemar yang terus bertambah di berbagai lapisan usia.

Pentas pertunjukan 5upergroup Live in Concert, menurut Yovie, “Selalu menyenangkan karena berada dalam satu pertunjukan dengan musisi-musisi yang secara jam terbang dan fan base masih luar biasa. Semoga ini memicu banyak pentas musik musisi Indonesia lainnya.”

Catatan gemilang apa pula yang dibawa oleh Sheila On 7, adalah mereka sebagai penghasil lagu hits terbanyak asal Yogyakarta. SO7 didirikan tahun 1996. Total sepuluh album telah dipersembahkan Sheila On 7 yang dimotori Eross, Duta, Adam dan Brian. Sheila On 7 tercatat telah meraih lebih dari 70 penghargaan di Indonesia, Malaysia dan Singapura.

Bagi SO7, mereka merasa terhormat sekali bisa satu panggung dengan God Bless, Krakatau, Gigi dan Kahitna yang menjadi para pahlawan musik bagi Sheila On 7.

Konser kolosal ini diinisiasi oleh XI CREATIVE The Promotor, sebuah forum kerjasama nirlaba alumni (angkatan tahun 1980, 1981 dan 1982) SMA XI Bulungan, Jakarta Selatan yang sekarang tergabung menjadi SMA 70. Selain berkomitmen membuat acara seni yang bagus dan dapat dinikmati serta diapresiasi oleh masyarakat Indonesia, tujuan XI CREATIVE The Promotor menyelenggarakan konser ini adalah untuk mengumpulkan dana bagi guru-guru yang telah berjasa.

Pentas ini diharapkan mengulang sukses yang pernah dibuat pada tahun 2015 lalu bertajuk LCLR Plus Concert, yang berhasil mendonasikan senilai Rp 500 juta kepada 25 orang guru. Sebuah usaha mulia yang harus kita dukung bersama.