“Tama Groove Session Indonesia” Paling Prestisius di Dunia!

GM Sales and Marketing PT Mahkota Musik Indonesia, Patricia Dharmawan dan juara kesatu Tama Groove Session Indonesia, Hata Arysatya.

“TAMA Groove Session Indonesia”, kontes pebakat drumer via media sosial yang digagas PT Mahkota Musik Indonesia telah menghasilkan Hata Arysatya asal Lamongan, Jawa Timur sebagai pemenang utama. Ia berhak atas hadiah senilai Rp 44 juta rupiah berupa seperangkat instrumen drum Tama Starclassic Exotic Maple.

Hata yang pengagum drumer Mike Portnoy, meraih nilai perfek tanpa cacat. Catatan time accuracy brilian didapatkannya dari tiga juri utama yakni Dirk Verbeureun (Megadeth), Noriaki Kumagai (mantan Casiopea) dan Anika Nilles (penulis lagu, drumer profesional dan guru musik asal jerman).

Noriaki menyebutkan Hata telah menunjukkan dirinya adalah drumer potensial yang tekun melatih diri untuk peningkatan performanya. Tama Groove Session tahun ini di Indonesia disanjung sebagai kontes drum online paling prestisius di dunia dengan jumlah minat peserta ratusan orang melebihi minat kontestan di negara-negara lain. Terlebih lagi, peraih juara kesatu diberikan bonus kehormatan untuk naik pentas di arena eksibisi bergengsi sekelas Shanghai Musicmesse.

Teknik bermain drum secara murni tanpa kepalsuan benar-benar diuji dalam kompetisi online seperti Tama Groove Session, sambung GM Sales and Marketing PT MMI Patricia Dharmawan.

Diharapkan oleh Marketing Communication PT MMI, Ade Himernio bahwa pelaksanaan Tama Groove Session Indonesia 2017 mampu menggairahkan passion bermusiknya generasi baru drumer di negeri ini.

Sementara Ikmal Tobing selaku Tama endorsement memuji perjuangan Hata, dan juga Sheva sebagai pememang kedua dari Semarang, serta Kalonica si gadis 13 tahun asal Bandung yang berhasil menduduki juara ketiga.

Ikmal mengingatkan, perjuangannya sebagai drumer bukan persoalan gampang, perlu tahan ujian sampai tiga kali mengikuti kompetisi The Dream Band yang pernah diselenggarakan TV7 dan Majalah Hai. “Baru di saat ketiga kalinya mencoba lagi berkompetisi di The Dream Band, saya kemudian bisa menikmati rasanya jadi drumer utama, dan kebanggaan puncaknya ketika dipilih Mas Dhani jadi drumer Mahadewa dan T.R.I.A.D,” ungkapnya, usai berkolaborasi main drum bareng jawara Tama Groove Session Indonesia, Hata Arysatya. ***

“Wage”, Sebuah Film Biopik Wage Rudolf Supratman

Kota Tua Semarang sebagian lokasi syuting film “Wage”, yang mengisahkan Wage Rudolf Supratman, penggubah lagu kebangsaan “Indonesia Raya”..

KAWASAN Kota Lama Semarang dipilih untuk lokasi syuting film “Wage” yang menceritakan tentang perjalanan sejarah Wage Rudolf Supratman, pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya. “Ya, film ini memang ber-setting banyak di Jawa Tengah, khususnya Kota Lama Semarang,” kata John De Rantau, sutradara Film Wage.

Proses syuting film Wage dilakukan di berbagai lokasi, mulai Kota Lama Semarang, Magelang, Klaten, Solo, Yogyakarta, dan Kalidadap, Purworejo, kota kelahiran WR Supratman. Film biopik yang diberi judul “Wage” itu menampilkan Rendra sebagai pemeran tokoh WR Supratman, serta sederet aktor dan aktris lainnya, seperti Tengku Rifnu Wikana, Annisa Putri Ayudya.

Diakuinya, kawasan Kota Lama Semarang yang sarat dengan bangunan kuno peninggalan Belanda merupakan destinasi terbaik dari kawasan serupa di daerah-daerah lainnya, termasuk Kota Tua Jakarta. “Untuk film juga menguntungkan karena bisa leluasa membuat setting apapun dibandingkan destinasi serupa yang sudah dipugar. Lebih susah melakukan setting sesuai yang diinginkan,” katanya.

Kebetulan, kata sosok kelahiran Padang, 2 Januari 1970 itu, Kota Lama Semarang masih mempertahankan bentuk lamanya, khususnya bangunan sehingga memudahkan sineas untuk membuat film tentang sejarah. “Kota Lama Semarang menggambarkan keberadaan Indonesia di masa lalu,” kata John yang pernah menyutradarai film “Mencari Madonna (2004), Denias Senandung Di atas Awan (2006), dan Obama Anak Menteng (2010) itu.

Sementara itu, Rendra yang memerankan sosok Wage mengakui perlu melakukan eksplorasi sejarah dan sosok WR Supratman, termasuk mendatangi tempat kelahirannya di Desa Somongari, Purworejo, Jawa Tengah. “Awalnya, memang merasa berat dengan peran yang dimainkan. Tetapi, melalui proses eksplorasi, berdialog secara eksoterik, akhirnya tidak merasakan sebagai beban, melainkan tanggung jawab,” katanya.

Pemeran lainnya, Annisa Putri Ayudya menambahkan seluruh pihak memperlihatkan totalitas untuk film itu, termasuk Rendra sebagai pemeran utama yang rela belajar bermain piano dari nol. “Kebetulan, saya berperan sebagai Rukiyem. Wage tinggal bersama Rukiyem yang bersuamikan orang Belanda. Rukiyem ini yang mendidik, menjadi tempat berlindung, dan mendorong semangat Wage,” katanya.

Rencananya, film Wage bakal dirilis pada 28 Oktober 2017 bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda dan ditayangkan secara nasional di bioskop-bioskop di 22 kota di Indonesia. ***

Iko Uwais Hadir di Film Hollywood ‘Beyond Skyline’

Iko Uwais bertarung melawan Alien dalam film Beyond Skyline.

KARIER Iko Uwais di dunia perfilman semakin gemilang. Sejak sukses bermain di film The Raid, tawaran bermain di film Hollywood pun mulai membanjiri. Iko mulai bermain di berbagai film Hollywood seperti Man of Tai Chi (2013), Star Wars: The Force Awakeness (2015), Triple Threat (2017) dan yang akan tayang di penghujung Oktober 2017 yaitu Beyond Skyline.

Di film ini Iko beradu akting dengan Frank Grillo, Bojana Novakovic, dan rekan setianya, Yayan Ruhian. Beyond Skyline merupakan sekuel dari film yang dirilis di tahun 2010 berjudul Skyline. Film ini menceritakan perjuangan seorang Detektif bernama Mark (Frank Grillo) yang berusaha menyelamatkan anak laki-lakinya, Trent (Jonny Weston) yang diculik oleh alien jahat. Sementara itu, pemimpin kelompok gerakan bawah tanah bernama Sua (Iko Uwais) menyusun strategi untuk mengalahkan para Alien. Sua membantu Mark untuk menyelamatkan anaknya dan mengalahkan alien tersebut.

Iko Uwais bukan hanya menjadi pemain di film ini, namun ia juga menjadi fight coreographer untuk semua pemain dalam Beyond Skyline. “Tantangannya adalah saya harus berkelahi melawan alien, jadi ada kaki tambahan supaya lebih tinggi,” ungkap Iko Uwais saat press conference belum lama ini. Liam O’Donnel selaku sutradara membebaskan Iko untuk berekspresi menggunakan gayanya sendiri, Liam tidak membatasi pergerakan Iko sama sekali.

Syuting film berlatar belakang negara Laos ini dilakukan di Candi Prambanan, Yogyakarta, dan Batam. Selain tayang di Indonesia, Beyond Skyline juga dijadwalkan tayang di Los Angeles, Amerika Serikat pada penghujung bulan Oktober 2017. ***

Natasha Dematra Raih Penghargaan Film Musik Terbaik di Venezuela

Bertepatan dengan Hari Anak Perempuan Internasional yang jatuh pada 11 Oktober 2017, sutradara perempuan termuda di dunia, Natasha Dematra meraih penghargaan Film Musik Terbaik di Five Continents International Film Festival, di Venezuela.

Film musik ”Bumiku,” merupakan kampanye lingkungan hidup dalam bentuk kreatif, sekaligus soundtrack film dokumenter berjudul Siti Nurbaya Bakar: Srikandi Pembawa Perubahan, yang disutradarai Damien Dematra. Film musik ini membawa pesan kuat akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup dan dianggap dapat menjadi jembatan kepada masyarakat untuk membangun kesadaran ini.

Menurut salah satu juri festival tersebut, film ini tidak hanya mempertunjukkan hiburan namun membawa pesan kuat yang harus digemakan ke seluruh dunia.

“Saya harap, dengan penghargaan ini dapat menginspirasi para anak perempuan untuk memiliki mimpi dan menggapainya. Saya juga berharap semoga kedepannya batas perkawinan anak perempuan yang yang menurut peraturan setidaknya berusia 16 tahun, dapat berubah. Saya percaya bahwa anak perempuan memiliki potensi dan mimpi yang sama besarnya dengan anak laki-laki,” ucap gadis yang masih lajang ini.

Film musik “Bumiku” pertama kali diluncurkan pada bulan September 2016 di Manggala Wanabakti. Pada bulan November, film ini diputar dalam konferensi Perubahan Iklim PBB di Marrakech, Maroko. Pada awal bulan Februari, International Independent Film Awards menganugerahkan penghargaan Medali Emas Soundtrack Terbaik. Pada bulan Maret, film ini terpilih sebagai “Opening Film” di festival film di New York. Pada bulan Juni 2017, Silver Palm Award diraih untuk kategori Film Musik Terbaik di Mexico International Film Festival. Pada Hari Konservasi Nasional film musik ini diputar atas kerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Film Musik ini juga diputar di Taman Nasional Baluran. ***

Drama Musikal La La Land akan Tampil di Jakarta

MENYUSUL kesuksesannya di layar kaca dan mendapat beragam penghargaan, La La Land, kini muncul dalam versi teater dan siap menghibur para penonton di Jakarta.

Kabar tersebut diumumkan oleh promotor Rajawali Indonesia Communication baru baru ini. “Terkonfirmasi!! Konser La La Land! 4-5 November 2017 di Ciputra Artpreneur Jakarta,” tulis Founder dan CEO Rajawali Indonesia Communication, Anas Alimi lewat akun Twitternya.

Selain menggembirakan para penggemar La La Land di Indonesia, kabar ini juga cukup membanggakan. Pasalnya, Indonesia adalah negara Asia Tenggara pertama yang mengonfirmasi pentas tersebut. Settelah Jakarta, La La Land barulah akan pentas di Bangkok (Thailand) dan Taipei (Taiwan).

Penjualan tiket akan dimulai pada 15 Juli dan bisa didapatkan secara online lewat www.tiketapasaja.com. Hingga berita ini diturunkan harga dan kelas tiket yang tersedia belum diumumkan oleh pihak promotor.

Sebelum dibuat dalam versi teater, La La Land merupakan judul film peraih enam Piala Oscar. Film ini bercerita tentang seorang perempuan bernama Mia yang bermimpi menjadi aktris sukses. Mia bertemu dengan pria bernama Sebastian yang bermimpi memiliki bar jazz sendiri. Mia dan Sebastian pun akhirnya saling mendukung untuk meraih mimpi, meskipun pengorbanan yang dilakukan tidak kecil.***

Rhoma Irama Teteskan Air Mata Terima Lifetime Achievement Awards Dangdut 2017

RAJA dangdut Rhoma Irama menangis terharu dalam malam puncak penganugerahan Indonesian Dangdut Awards 2017 (IDA). Ia didaulat untuk menerima penghargaan Lifetime Achievement Indonesian Dangdut Awards karena karya-karyanya yang dinilai melegenda.
Tak ayal, saat diminta untuk naik ke atas panggung, Rhoma Irama pun tak kuasa meneteskan air mata tanda harunya. Dengan terbata-bata, Rhoma Irama pun mengucap syukur atas apresiasi yang diberikan padanya oleh insan dangdut tanah air.

“Saya syukuri pada Allah, terima kasih. Terima kasih tentunya pada fans Rhoma Irama, Forsa, fans of rhoma and soneta. Tanpa mereka, Rhoma Irama bukan apa-apa, tanpa mereka, soneta bukan apa-apa. Karena Forsa saya menjadi sesuatu di sini,” ucap Rhoma Irama di panggung IDA 2017, di studio 6 Emtek City, Daan Mogot, Jakarta Barat, belum lama ini.

“Ini adalah trofi ke-61 yang saya dapatkan. Semoga trofi ini membuat saya lebih rendah hati dan bersyukur dan lebih meningkatkan kualitas musik saya,” tambah Rhoma yang telah bermain film sebanyak 30 judul.

Namun, tak ingin terkesan jumawa dengan apa yang sudah dicapainya, Rhoma Irama pun berujar jika apa yang ia dapatkan selama ini, termasuk predikat raja dangdut dunia semata-mata merupakan karunia yang diberikan Tuhan.

Shaggydog Incar Inul

MENYEBUT nama Shaggydog, berarti memanggil sebuah band beraliran ska dari Yogyakarta. Band yand dibentuk 1 Juni 1997 ini, berdomisili di Sayidan, sebuah kampung yang terletak di pinggir sungai kota pelajar tersebut.
Uniknya, jenis musik yang mereka tampilkan di panggung dan rekaman adalah ‘doggy style music’, yaitu perpaduan antara beberapa unsur musik ska, reggae, jazz, swing dan rock. Seperti ketika Shaggydog unjuk diri di Prambanan Jazz Festivan di hari pertama, mereka meramu berbagai genre musik.
“Kami dipengaruhi oleh band-band dari mancanegara, seperti Cherry Poppin Daddies, Hepcat, Song Beach Dub Allstars dan Bob Marley,” lontar Heru. Personel lain yaitu Richard, Raymond, Bandizt, Lilik dan Yoyo mengiyakan pernyataan Heru.
Meski bergenre berbeda, namun Shaggydog berniat mengincar pedangdut Inul Daratista. Shaggydog ingin berkolaborasi dan jam session (main sepanggung) dengan Inul.
“Musik kita sama. Sama-sama mengajak penonton bergoyang, ngedance dan berjoget,” timpal Heru yang mengaku baru sekali Inul sewaktu bersama menggelar konser musik di sebuah kota.
“Kita sempat bertemu mbak Inul, tapi belum ngomongin kolaborasi,” imbuh Heru lagi.
Heru lebih jauh memaparkan, dunia musik akan dijadikan mata pencaharian bagi dirinya dan lima personel lainnya.
“Kita sempat diundang tampil di negeri Belanda, Amerika dan Australia. Ini berkat musik,” ungkapnya.
Di sisi lain, Shaggydog berniat mempromosikan nama Indonesia di luar negeri. “Khususnya Jogjakarta, kami selalu menyuguhkan gimmick-gimmick spesial di panggung. Jogja adalah second destination bagi dunia pariwisata kita setelah Bali. Makanya, lewat musik ska inilah, kami akan terus berkarya, bermusik dan berlagu,” kata Heru yang melejit namanya lewat tembang ‘Sayidan’.
Ditanya, kesan-kesan apa selama unjuk kebolehan di halaman Candi Prambanan dalam konser Prambanan Jazz ?
“Wah,,, enggak terkira senangnya… kami bangga bisa tampil di PJF. Tahun depan, boleh Shaggydog diajak lagi dong…ini sebuah pergelaran terbesar dan terlama yang pernah dihelat di Jogjakarta,” tandas Heru mantap.

‘One Fine Day’ tentang Keindahan Cinta di Barcelona

 

DITEMUI saat press conference film One Fine Day, belum lama ini, produser film ini Wicky V Olindo menjanjikan,  para penonton film garapannya itu  akan mendapatkan banyak kejutan. Pastinya, film ini  akan berbeda dengan love story yang sudah dibuat oleh Screenplay Films sebelumnya.

Michelle Ziudith misalnya, akan memainkan peran yang sifatnya lebih dewasa dari film-film sebelumnya.

Lain halnya Jefri Nichol. Dia  akan menghapus image sebagai pendiam, dan digantikan dengan karakter yang lebih playful. Untuk itu, Jefri  sudah melakukan berbagai macam latihan pendalaman karakter yang serius, agar bisa mendalami karakter yang belum ia perankan sebelumnya. Bahkan ia sampai rela memotong rambutnya agar dapat terlihat lebih dewasa di film ini.

Film ini akan membawa kita melihat keindahan musim panas di Barcelona. Kebanyakan, lokasi yang dipakai dalam film ini adalah lokasi ternama seperti pantai Marbella, Catalonia, dan lain-lain.

Menjalani syuting di benua lain ternyata tidak menjadi suatu kendala bagi kru film One Fine Day karena antara lokasi syuting yang satu dengan lainnya memiliki jarak yang dekat, jadi lebih mudah untuk mobilisasi. Tidak hanya pemandangan saja, penonton akan menyakiskan sendiri scene di mana akan terjadi dialog dalam bahasa Spanyol oleh para pemain.

Michelle Ziudith mengaku, bahwa terdapat beberapa perbedaan yang besar ketika syuting di Indonesia dan di luar negeri. Kedisiplinan dan tanggung jawab akan diri sendiri sangat dirasakan oleh Michelle sendiri. Ia tidak dapat memanjakan dirinya selama proses syuting di luar negeri karena orang-orang di Barcelona adalah orang-orang yang on-time.

Namun, di balik semua keseriusan itu, Michelle sangat kagum juga dengan keramahan orang-orang di sana yang selalu siap membantu para crew ketika terjadi kendala saat proses syuting.

Satu kendala yang dirasakan Michelle juga saat syuting adalah perbedaan jam makan malam antara Barcelona dan Indonesia. Di Indonesia, jam makan malam adalah sekitar pukul 19:00, sedangkan di Barcelona baru dimulai saat pukul 21:00.

Belum lagi urusan menu makanan. Menuju hari ke-15 dalam proses syuting, seluruh kru dan pemain mulai rindu dengan makanan Indonesia. Namun untuk menyiasati kerinduan tersebut, mereka sering datang ke restoran yang menyajikan hidangan Chinese yang memiliki selera yang familiar dengan lidah Indonesia. ***

Jelang Ultah ke-26, MNCTV Kuat dalam Keragaman

Kartika Putri jadi host acara Kilau Raya MNCTV 26 di lokasi Alun Alun Sidoarjo, Jatim pada 20 Oktober nanti.

PERSAINGAN ketat berotot di industri bisnis media televisi, kini semakin rapat mengencangkan nilai rating saling berbanding angka setipis hanya 0 koma sekian persen saja. Sudah tidak melebar lagi dengan selisih angka rating di atas 1,15-1,20.

MNCTV memanfaatkan selera pemirsa di lingkup keluarga untuk terus mencari peluang eksis agar diterima oleh segenap usia penonton. “Kita masuk ruang keluarga dengan mempertahankan keragaman. Kita sudah masuk top of mind di tengah seluruh keluarga dengan film animasi (Upin Ipin dan Adit Sopo Jarwo) yang secara efektif pula membuka kehadiran sinetron Kuasa Ilahi,” ujar Endah Hari Utari, Direktur Program dan Produksi MNCTV.

“Kita mulai lagi dengan Tukul dan Ayu Ting Ting (Ting Ting Kul Show). Kita harus berani menampilkan apa yang menurut kita sedang dibutuhkan oleh masyarakat sekarang, ataupun menjadi kepentingan keluarga,” tambahnya.

Harap jangan dikira masyarakat pemirsa televisi tidak suka drama sejarah seperti Jodha Akbar ataupun mitologi India yakni Mahabharata, dan nanti sudah disiapkan pula Rama dan Shinta. “Sebagian penonton televisi juga menyukai genre drama Filipina dan Timur Tengah,” terang ibu berhijab yang biasa dipanggil Mbak U’ut ini.

Kalangan milenial juga ternyata mampu dirangkul MNCTV lewat tontonan sport seperti turnamen futsal yang banyak sekali peminatnya, selain siaran langsung Premier League.

“Ting Ting Kul Show” dimaksudkan untuk melengkapi program-program unggulan terdahulu. Melalui variety show tersebut, meski satu jam durasinya ternyata begitu disukai, dan mampu menunjang program animasi unggulan, “Adit Sopo Jarwo”, “Upin Ipin”, “Kuasa Ilahi”, drama mitologi “Mahabharata” dan drama sejarah Jodha Akbar, reality show “I Can See Your Voice” dan “Takeshi Castle” serta game show “Minute to Win It”.

“Jadi, kalau ditanya kekuatan MNCTV apa? Ya kekuatannya dalam keragaman itu,” tegas Mbak U’ut, selepas konferensi pers terkait puncak perayaan hari ulang tahu MNCTV ke-26 yang dijadwalkan berlangsung di dua pusat lokasi yaitu Lapangan Munjul, Cibubur, Jakarta Timur dan Alun Alun Sidoarjo, Jawa Timur pada 20 Oktober mendatang. ***

‘Devil’s Whisper’, Film Horor Kolaborasi Indonesia dan Hollywood

RUMAH produksi MD Pictures siap merilis film horor bertajuk Devil’s Whisper. Film ini diproduksi bersama dengan perusahaan hiburan asal Amerika, Vega Baby Company, sehingga disebut-sebut akan menghadirkan nuansa film horor sekelas Hollywood.

Film yang mengambil lokasi syuting di AS ini dibintangi sejumlah aktor Hollywood seperti Luca Oriel, Tessie Santiago dan Marcos Ferraez. Dari Indonesia, ada aktris Luna Maya yang juga terlibat berperan di film ini.

Devil’s Whisper bercerita tentang Alex, seorang remaja yang bercita-cita menjadi seorang pendeta. Pada suatu hari, ia menemukan sebuah kotak kayu kecil di dalam lemari neneknya. Tak disangka, pada hari dimana kotak tersebut dibuka akan menjadi awal malapetaka untuk dirinya.

Satu per satu kejadian yang mengerikan terjadi. Iblis kuno yang tanpa sengaja ia bebaskan tersebut menjadikan hari-hari Alex seperti di neraka. Kesengsaraan Alex memuncak disaat teman-temannya turut menjadi korban dari kekejaman iblis tersebut.

Ia harus mencari cara untuk menghentikannya, sebelum ia kehilangan semua orang yang dicintainya dan sebelum ia kehilangan dirinya sendiri. Mampukah Alex menghentikan penderitaannya?

Jawaban dari pertanyaan tersebut baru bisa disaksikan saat Devil’s Whisper tayang pada 19 Oktober mendatang. Tak hanya di Indonesia,  MD Pictures menyebut bahwa film yang disutradarai Adam Ripp ini juga akan dirilis worldwide. Film ini juga berhasil menyabet Best Horor Feature di Atlanta Undergound Film Festival 2017 dan Best Supernatural di New Hope Film Festival 2017. ***