“Bunga Khatulistiwa” di TVRI – Kekayaan Warisan Budaya Bangsa

 “Bunga Khatulistiwa” di TVRI – Kekayaan Warisan Budaya Bangsa

Tari Melayu dari Pemprov Jambi (foto : Ibonk)

JAYAKARTA NEWS – Sudah sekian lama pergelaran kesenian asli Indonesia jarang dipertunjukkan di televisi plat merah maupun televisi swasta. Nah, TVRI kini memvisualkan kembali seni tradisi Indonesia lewat ‘Bunga Khatulistiwa’ yang tayang secara reguler tiap hari Kamis pukul 8 PM (pukul 20.00 WIB).

Bekerjasama dengan Studio 26 Artlink  pimpinan  Ati Ganda, TVRI kali ini menyuguhkan variety show berupa ragam seni dan budaya Indonesia (tari, nyanyi dan talk show tentang ragam budaya dan seni asli Indonesia). “Acara ini adalah pengenalan kembali alat musik tradisi kita. Tentang tata cara pernikahan, kuliner dan adat istiadat tradisi suku-suku di Indonesia. Temanya beragam, misalnya tentang Sedekah Bumi,” kata Ati Ganda selaku Creative Produser.

Ketika pengambilan gambar episode bertema “Menjemput Semangat’ di Auditorium TVRI Jakarta, 27 Maret 2022, TVRI dan Studio 26 Artlink joint dengan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dan Pemda Jambi serta Kemdikbud Ristek. Saat bersamaan, Pemda Jambi tengah merancang event ‘Kenduri Swarnabhumi Batanghari: Dulu, Kini dan Nanti’. Gubernur Jambi, Dr. H. Al Haris, S. Sos. M.H juga ikut hadir dalam  pengambilan gambar di TVRI Jakarta.

Gubernur Jambi Dr. H. Al Haris, S. Sos. M.H (foto : Ibonk)

Acara ini bertujuan memperlihatkan kekayaan warisan budaya bangsa yang membanggakan orang asing di luar negeri. “Enggak hanya budaya asli. Tapi kita juga tampilkan budaya pribumi yang dapat pengaruh dari Cina, India, Arab, Eropa dan lain-lain,” timpal Ati Ganda yang kali ini dibantu Surya Dharma (Penanggung Jawab Musik),  Pipit Rusdi (Penanggung Jawab Tari) dan Ni Kadek Suartini dari TVRI selaku produser.

“Di acara ini, kita cari hal-hal unik, extravaganza, dan ada benang merahnya,” imbuh Ati Ganda. Misalnya ihwal alat musik dari bambu. Ada angklung dari Jawa Barat, bumbung dari Bali, lalu ada rebana biang dari Betawi yang semuanya mirip rapai dari Aceh. “Yang pasti, di acara ini kita kemas dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika, berbeda tapi tetap satu. Tetap selaras, meski dalam keberagaman budaya,” pungkas Ati Ganda. Adat dijunjung…budaya disanjung…(pik)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.