Agribisnis
Kementan Perkuat Hilirisasi Sarang Burung Walet Nasional
JAYAKARTA NEWS — Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat hilirisasi sarang burung walet (SBW) nasional sebagai upaya meningkatkan nilai tambah dan meningkatkan daya saing global.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan, Agung Suganda, mengatakan, Indonesia, yang menyuplai lebih dari 75 persen kebutuhan sarang burung walet dunia, harus memperkuat pengelolaan dari hulu hingga hilir.
“Sarang walet adalah komoditas unggulan binaan Kementan. Indonesia perlu meningkatkan ekspor tidak hanya SBW bersih saja, namun juga produk olahan hasil hilirisasi,” ujar Agung, dalam keterangannya, Minggu (27/4/2025).
Menurut Agung, hilirisasi adalah keharusan untuk memperkuat ketahanan pasar dan meningkatkan kesejahteraan peternak.
Sebagai bagian dari upaya ini, kata Agung, pihaknya tengah menyusun revisi Peraturan Menteri Pertanian Nomor 26 Tahun 2020 tentang pengaturan Sarang Burung Walet.
Revisi tersebut akan mengatur lebih rinci seluruh rantai pasok SBW, mulai dari budidaya di rumah walet, pencucian, pengolahan, penjaminan keamanan dan mutu sbw hingga pengaturan ekspor SBW.
“Regulasi ini akan menjadi payung untuk memperkuat pengembangan SBW nasional secara menyeluruh,” ujar Agung.
Selain itu, Agung menyebut Kementan saat ini sedang melakukan pembahasan perubahan protokol ekspor sarang burung walet dengan General Administration of Customs China (GACC). Upaya ini merupakan bagian dari strategi pemerintah mendorong perdagangan timbal balik (resiprokal) yang seimbang dengan Tiongkok.
“Perubahan protokol ini sangat strategis untuk membuka lebih banyak peluang bagi produk SBW Indonesia,” ujar Agung.
Berdasarkan data 2024, volume ekspor SBW ke Tiongkok turun 12,7 persen, sementara harga ekspor anjlok hingga 30 persen dalam empat tahun terakhir. Sebaliknya, pasar di Makau, Australia, dan Amerika Serikat mencatat harga jual lebih tinggi, masing-masing US$ 968, US$ 928, dan US$ 703 per kilogram.
SBW merupakan salah satu produk binaan utama Kementerian Pertanian yang kini tengah diarahkan untuk memberikan nilai tambah lebih besar melalui diversifikasi produk olahan.
Sementara itu, Dekan Fakultas Peternakan UGM, Budi Guntoro, menyoroti pentingnya kolaborasi semua pihak untuk memperkuat industri walet nasional. Riset dari aspek budidaya, teknologi, sanitasi, nilai gizi, hingga pengolahan, perlu ditekankan.
“Indonesia adalah produsen SBW terbesar dunia, tapi konsumsi dalam negeri masih rendah. Dunia kampus harus lebih aktif mendukung pengembangan penelitian khasiat dan hilirisasi walet,” kata Budi.
Kepala Badan Karantina Indonesia (BKI), Sahat Manaor Panggabean, mengatakan pihaknya berkomitmen mendukung hilirisasi.
“Arahan Presiden jelas: kita perkuat hilirisasi. Saat ini ada 51 perusahaan pengolahan dengan kapasitas 700 ton, tapi realisasi ekspor baru 60 persen. Potensi ini harus kita dorong,” kata Sahat.
Menurut Sahat, pentingnya legalitas rumah walet. Dari sekitar 100 ribu rumah walet di Indonesia, baru 3 persen yang terdaftar resmi.
“Legalitas penting untuk memperkuat ekspor. Ini memerlukan peran aktif pemerintah daerah,” ujar Sahat.
Melalui kerjasama pemerintah pusat, daerah, akademisi, dan pelaku usaha, pemerintah berharap dapat mempercepat hilirisasi SBW sekaligus memperkuat posisi Indonesia di pasar dunia serta meningkatkan kesejahteraan peternak lokal. (yog)
