JAYAKARTA NEWS—- Polisi mengatakan saat ini ada 11 orang yang menjadi korban dalam peristiwa bom bunuh diri di Markas Kepolisian Sektor Astanaanyar, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (7/12/2022).
Kepala Kepolisian Daerah Jawa Barat Inspektur Jenderal Polisi Suntana mengatakan, sebanyak 10 orang merupakan anggota polisi dan satu orang warga sipil yang sedang melintas di sekitar lokasi kejadian sedangkan pelaku bom bunuh diri dipastikan tewas di lokasi.
“Ada 11 orang menjadi korban, terdiri 10 anggota Polri dan satu warga sipil. Satu orang anggota Polri meninggal dunia atas nama Aiptu Sofyan,” jelas Kapolda Jabar kepada wartawan di sekitar Mapolsek Astanaanyar pada Rabu (7/12/2022). Demikian dikutip dari laman polri.go.id
Kapolda menjelaskan peristiwa bom bunuh diri itu terjadi sekitar pukul 08.00 WIB saat anggota Polsek Astanaanyar sedang melaksanakan apel pagi. Pelaku memaksa mendekati anggota polisi yang sedang melaksanakan apel. Kemudian pelaku sempat dihalau masuk oleh beberapa anggota polisi.
“Dan dia mendekat, pelaku tetap berkehendak mendekati anggota, lalu mengacungkan sebuah pisau, tiba-tiba terjadi ledakan,” jelas Irjen Pol Suntana.
Masih ditempat yang sama, Kapolda memohon waktu untuk bisa mengungkap kejadian bom bunuh diri tersebut karena hingga saat ini polisi masih fokus memastikan lokasi maupun lingkungan sekitar Mapolsek Astanaanyar steril.***/ebn
JAYAKARTA NEWS— Beberapa waktu lalu, Densus 88 Antiteror Polri mengatakan 16 tersangka kasus dugaan teroris jaringan Negara Islam Indonesia (NII) yang ditangkap di wilayah Sumatera Barat (Sumbar) aktif merekrut anggota baru. Mereka diduga melibatkan anak-anak dalam proses perekrutan.
Rekruitmen dengan melibatkan anak-anak adalah modus yang sudah lama digunakan, biasanya masuk ke sekolah-sekolah umum seperti SMA dan SMK.
“Dari beberapa kasus yang terjadi selama ini, yang disasar umumnya anak-anak yang memiliki masalah, misalnya kesulitan ekonomi, kesulitan belajar, kurang perhatian orangtua, ada masalah dengan keluarga, dll. Sementara secara pemahaman agama bisa jadi terbatas. Perekrut biasanya masuk melalui alumni, guru, dll,”ungkap Retno Listyarti, Komisioner KPAI yang juga merupakan Dewan Pakar Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), dalam keterangan tertulisnya.
Retno menambahkan,”Sikap dan perilaku intoleran di kalangan anak-anak yang kemudian dipengaruhi atau dimasuki pikiran-pikiran intoleran, bahkan setuju kekerasan atas nama agama”.
Pentingnya Peran Satuan Pendidikan
Pendidikan, ujarnya, memegang peran penting dalam menanamkan karakter demokrasi, toleran dan anti kekerasan, baik itu pendidikan di lingkungan keluarga maupun di lingkungan satuan pendidikan atau sekolah.
Peran sekolah dan guru sangatlah penting dalam membangun sekolah damai dan menanamkan karakter toleran. Adapun faktor yang menyebabkan anak-anak mudah dipengaruhi oleh jaringan teroris, termasuk NII, di antaranya adalah sebagai berikut :
Pertama, pembelajaran di kelas yang tidak terbuka terhadap pergulatan pendapat dan cara pandang yang beragam, sehingga ada kecenderungan mengarah pada penyeragaman, pembelajarannya tidak didisain menghargai perbedaan;
Kedua, Ada kecenderungan para peserta didik dan pendidik terjebak pada “intoleransi pasif”, yaitu perasaan dan sikap tidak menghargai akan perbedaan (suku, agama, ras, kelas sosial, pandangan kegamaan dan pandangan politik), walaupun belum berujung tindakan kekerasan. Namun, pada era digital ini dapat terlihat dari postingan di media sosial mereka;
Ketiga, Sikap siswa yang terbuka terhadap praktik intoleransi mulai berkembang di kelas ketika diajar oleh pendidik yang membawa ideologi dan pandangan politik pribadinya ke dalam kelas.
Misalnya kasus pemilihan Ketua OSIS di salah satu SMAN di kota Depok yang diulang karena Ketua OSIS terpilih beragama minoritas. Selain itu, ada pendidik berinisial TS yang mengajak para siswa di grup WhatsApp mengajak siswanya memilih Ketua OSIS yang seagama.
Bahkan ada kepala sekolah jenjang SD di Lampung yang ditangkap Densus 88 pada November 2021 karena diduga terlibat dalam aksi terorisme Jaringan Jamaah Islamiah (JI).
Keempat, masuknya bibit radikalisme ke sejumlah sekolah cenderung tidak memperhatikan secara khusus dan ketat perihal kegiatan kesiswaan, apalagi terkait keagamaan. Terutama yang melibatkan pemberi materi dari luar sekolah, seperti penceramahan dalam sholat Jumat di masjid sekolah dan pendampingan kajian agama rutin setiap minggunya.
Hal ini umumnya terhubung dengan para alumni sehingga pihak sekolah percaya, apalagi tidak ada biaya untuk membayar mereka. “Seharusnya para alumni dan pemateri yang diambil dari luar sekolah harus melalui screening oleh Pembina atau guru agama dan kepala sekolah,”ujar Retno.
“Karena dalam beberapa kasus yang terjadi, masuknya pemikiran yang membahayakan kebinekaan ini dapat masuk dari alumni melalui organisasi sekolah atau ekstrakurikuler, pemateri kegiatan kesiswaan yang bersifat rutin (sepeti mentoring dan kajian terbatas). Tentu saja tidak semua alumni seperti itu, banyak para alumni justru membantu kebutuhan sekolah,” pungkas Retno.***/din
JAYAKARTA NEWS – Kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua tidak kunjung usai melakukan aksi penyerangan baik terhadap aparat keamanan negara (TNI dan Polri) dan masyarakat sipil. Aksi kelompok teroris bersenjata itu membuat dua prajurit TNI AL berkalang tanah. Gugur.
Akhir pekan lalu, Sabtu 26/3/2022), kelompok bersenjata itu menyerang Satuan Tugas (Satgas) Muara dan Pesisir (Mupe) Korps Marinir TNI AL di Pos Quary Bawah, Distrik Kenyam, Kabupaten Nduga, Papua.
Dalam keterangan persnya, Dinas Penerangan TNI AL menjelaskan kronologis peristiwa tersebut. Pada Sabtu itu, pukul 17.40 WIT, kelompok seperatis teroris Papua (KSTP) Nduga yang dikendalikan Egianus Kogoya telah menyerang Pos Quary Bawah Satgas Mupe Yonif 3 Maret. Dalam aksinya, mereka menyerang dengan menggunakan Pelontar Granat atau GLM (Grenade Launcher Module) dari arah belakang Pasar dan dari arah Sungai Alguru.
Seluruh personel Satgas yang berjumlah 35 orang, begitu mendapat serangan tersebut, membalas dengan tembakan dan melakukan pengejaran terhadap kelompok itu. Pada pukul 18.00 WIT Dansatgas memerintahkan dua Tim Trisula yang dipimpin Wadandenpursus Kapten Mar Ari Mahendra dan 1 Tim Waltis dipimpin Letda Mar Pujo Pratikno, berangkat untuk memberikan bantuan ke Pos Quary Bawah dengan menggunakan kendaraan sebuah truk dan dua KIA.
Akibat serangan tersebut, dua personel TNI AL gugur, dua kritis dan enam luka ringan. Mereka yang menjadi korban adalah Letda Mar Iqbal dan Pratu Mar Wilson Anderson Here, meninggal dunia. Prajurit TNI AL yang menderita luka-luka adalah Serda Mar Rendi Febriansyah dan Serda Mar Ebit Erisman dengan luka berat (kritis), sedangkan enam orang lainnya mengalami luka ringan. Mereka adalah Serda Mar Bayu Pratama, Pratu Mar Rahmad Sulman, Prada Mar Dicky Sugara, Pratu Mar Adik Saputra A, Prada Mar La Harmin, dan Prada Mar Alif Dwi Putra. Rencana evakuasi korban dilaksanakan dengan memperhatikan dan menyesuaikan cuaca.
Sejauh ini motif penyerangan masih didalami. Dilaporkan pula, informasi sementara menyebutkan bahwa senjata GLM yang digunakan untuk menyerang diduga dicuri dari Satgas Yonif 700, sedangkan munisi GLM merupakan rampasan dari Satgas Yonif 330.
TNI AL menjelaskan, Pos Quary Bawah Satgas Mupe Yon 3 Mar berkekuatan 35 personel. Lokasinya kurang lebih satu kilometer dari Polres Nduga, dan dua kilometer dari Koramil Nduga. Selama ini Pos Quary Bawah tidak memiliki permasalahan dengan masyarakat di sekitar Pos. Bahkan kegiatan mereka aktif melakukan bakti sosial, seperti menggelar mobil sehat, mobil pintar, lomba-lomba, kegiatan adat dan kegiatan agama.
Atas kejadian ini TNI AL dan masyarakat Papua berduka, akibat gugurnya dua prajurit Marinir TNI AL terbaik yang selalu dekat dan membantu masyarakat sekitarnya. Kehangatan hubungan yang harmonis di masyarakat Nduga saat ini terganggu dengan situasi ini.
Sebagai ungkapan bela sungkawa, Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Yudo Margono memerintahkan seluruh jajaran TNI AL mengibarkan bendera setengah tiang selama tiga hari berturut-turut mulai Senin 28 Maret 2022 dan melaksanakan sholat ghoib/berdoa bersama dipimpin perwira rohani sesuai agama masing-masing.(sm)
Aksi terorisme yang terjadi di Makassar disusul kemudian di Mabes Polri, menunjukkan fenomena adanya “regenerasi” di kalangan terorisme. Usia pelaku relatif masih sangat muda. Itu semua terjadi karena adanya doktrin dari grup atau lingkungannya.
Intinya, ada kekosongan ruang jiwa saat mereka masih muda. Seperti apa? Ikuti bincang fenomenal berikut.
Pendami Covid-19 yang menjadi bencana nasional non alam di Indonesia tidak membuat semua warga negara bersatu padu melawan. Situasi ini justru dimanfaatkan oleh kelompok teroris dan intoleran untuk meningkatkan eksistensi dan mengganggu masyarakat. Dengan berdalih atas nama agama, kelompok ini melakukan teror dan kekerasan terhadap orang atau pihak yang dianggap sebagai musuhnya.
Selama pandemi ini kelompok teroris telah beberapa kali melakukan aksi teror secara langsung terutama terhadap anggota Polri. Pada 1 Juni 2020 aksi teror terjadi di Mapolsek Daha Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Pelaku Abdul Rahman masih berusia 19 tahun, dan berakibat satu orang anggota polisi, Brigadir Leonardo Latupapua gugur. Dari atribut yang digunakan pelaku diduga merupakan simpatisan dari ISIS.
Pada 21 Juni 2020, Wakapolres Karanganyar Kompol Busroni yang sedang melakukan kegiatan di kawasan Gunung Lawu diserang oleh Karyono Widodo, warga Kabupaten Madius Jawa Timur. Karyono Widodo sebelumnya pernah menjalani hukuman penjara di Lapas Way Kanan Lampung karena kasus terorisme bom Thamrin.
Beberapa peristiswa lain yang berhubungan dengan meningkatkan kelompok teroris adalah penembakan terhadap anggota kelompok teroris JAD di Batang Jawa Tengah (Maret 2020), penembakan terhadap dua anggota Mujahidin Indonesia Timur Poso yang merebut senjata polisi (April 2020). Kelompok MIT pimpinan Ali Kalora ini bahkan secara terang-terangan melalui vido pernyataan yang diviralkan menyebutkan bahwa pemerintah Indonesia akan kalah oleh corona. Hal ini menjadi bukti bahwa kelompok teroris melihat peluang untuk beraksi pada saat pandemi Covid-19.
Peristiwa yang terbaru adalah adanya aksi kekerasan terhadap keluarga almarhum Habib Asegaf Al-Jufri di Surakarta, 8 Agustus 2020. Kelompok Laskar Solo melakukan kekerasan terhadap tiga orang anggota keluarga tersebut disertai dengan teriakan kalimat: Syiah bukan Islam, Syiah musuh Islam, dan darah Syiah halal dibunuh. Serangan terhadap keluarga yang sedang mengadakan acara adat midodareni (doa malam sebelum Akad Nikah) tersebut mengakibatkan 3 orang luka-luka dan kerugian meterial akibat perusakan. Kelompok pelaku diketahui juga pernah melakukan aksi kerusuhan di Rutan Klas I Surakarta (10/2/2020).
Kelompok teroris dan intoleran melihat adanya kerawanan di Indonesia pada saat pandemi Covid-19. Selain karena fokus pemerintah termasuk aparat penegak hukum dalam menangani Covid-19, kelompok tersebut juga melihat adanya peluang untuk propaganda untuk melawan pemerintah. Aksi-aksi teror dan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok tersebut, selain karena adanya kebutuhan ideologis, juga untuk menunjukkan eksistensi yang menarik perhatian pihak lain.
Aksi teror dan kekerasan oleh kelompok yang mengatasnamakan agama ini cukup mengkhawatirkan. Selain mengancam jiwa manusia, aksi teror dan kekerasan juga melanggar Hak Asasi Manusia seperti aksi yang terjadi di Surakarta. Kemungkinan lain adalah kelompok tersebut dimanfaatkan untuk kepentingan politik. Aksi-aksi teror, kekerasan, bisa memicu ketidakpercayaan masyarakat pada negara yang berujung pada delegitimasi pemerintah. Tentu saja ada kelompok yang diuntungkan jika delegitimasi terhadap pemerintah menguat, terutama kelompok yang mempunyai kepentingan pada Pilkada 2020 dan Pilpres 2024.
Untuk mencegah aksi dari kelompok teroris dan intoleran semakin membesar maka negara harus tegas melakukan tindakan terhadap pelaku. Aksi teror dan kekerasan yang dampaknya hingga korban jiwa harus dihukum dengan berat. Pembenaran karena atas nama agama tidak bisa menjadi alasan untuk pembiaran. Tindakan yang cepat dan tegas terhadap pelaku dan hukuman yang berat akan menjadi efek jera sekaligus membuktikan bahwa negara hadir untuk melindungi segenap warga negaranya.
Hal lain yang perlu dilakukan adalah dukungan dari masyarakat, termasuk dukungan dari organisasi dan tokoh agama kepada Polri untuk bersikap tegas terhadap pelaku teror dan kekerasan. Jangan sampai Polri justru disudutkan karena melakukan tindakan tegas terhadap kelompok pelaku teror dan kekerasan yang selalu mengatasnamakan agama dalam tindakannya.
*) Stanislaus Riyanta, pengamat intelijen dan terorisme
JAYAKARTA NEWS—Ada
10 tindakan ASN (Aparatur Sipil Negara) yang dapat diadukan sebagai tindakan
radikal. Di antaranya, memuat konten negatif terkait salah satu suku, agama,
ras dan antargolongan (SARA) dan Menyebarluaskan pendapat dan berita menyesatkan melalui Medsos.
Sementara berdasarkan riset Alvara Research Center ada 19,4%
ASN dan 9,1% Pegawai BUMN tidak setuju
dengan ideologi Pancasila.
Hal tersebut disampaikan Inspektur Wilayah III
Kemenkumham Achmad Rifai dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat
9 dengan tema “Menjawab Kontroversi SKB 11 Menteri” di Ruang
Yusuf Ronodipuro, Gedung RRI, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa
(10/12/2019).
Menurut Rifai, sepuluh tindakan ASN yang dapat diadukan
sebagai tindakan radikal adalah:
1. Memuat teks, gambar, audio dan video yang memuat ujaran kebencian
terhadap Pancasila dan UUD 1945,
2. Memuat konten negatif terkait salah satu suku, agama, ras dan
antargolongan (SARA),
3. Menyebarluaskan pendapat yang menyesatkan melalui Medsos,
4. Menyebar-luaskan pemberitaan yang Menyesatkan,
5. Menyebarluaskan Informasi Yang Menyesatkan,
6. Menyelenggarakan kegiatan yang menghina, menghasut, memprovokasi dan
membenci Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan Pancasila,
7. Ikut serta dalam kegiatan terlarang nomor 6,
8. Memberikan tanggapan atau dukungan sebagai tanda sesuai pendapat
dengan memberikan likes, dislike, love, retweet atau komentar di media sosial,
9. Menggunakan atribut yang bertentangan dengan Pancasila,
10. Menggunakan Atribut yang bertentangan dengan Pancasila.
“Berdasarkan riset Alvara Research Center ada 19,4% PNS (Pegawai
Negeri Sipil) atau ASN yang tidak setuju dengan ideologi Pancasila,”
tukasnya.
Ia menambahkan, padahal jumlah seluruh ASN adalah 4 juta orang, berarti 19,4 % itu jumlahnya juga besar.”Masih berdasarkan riset tadi jika ditambahkan dengan pegawai BUMN yang tidak setuju dengan ideologi Pancasila ada 9,1 % maka jumlahnya bertambah besar,” ujarnya.
Dalam riset yang diselenggarakan Alvara Research Center dan Mata Air Foundation, jelasnya, paham radikalisme yang menolak ideologi negara sudah mempengaruhi berbagai kalangan.
“Selain kalangan ASN dan BUMN, juga ada kalangan mahasiswa dan pelajar SMA serta pegawai swasta. Bahkan kaum muda harapan bangsa seperti mahasswa dan pelajar SMA adalah dua kalangan yang paling tinggi dalam menerima ajaran jihad dan berdirinya negara Islam atau khilafah berdasarkan riset tersebut,” tambahnya.
Karena itu Rifai mengingatkan bahwa akan berbahaya jika para mahasiswa yang telah lulus tadi jika ikut melamar sebagai PNS/ASN dan lolos seleksi.”Untuk itu pemerintah berusaha terus menjaga mereka dari paparan paham radikalisme yang membahayakan negara tersebut,” pungkasnya.***jpp/ebn
JAYAKARTA NEWS – Pemimpin kelompok teroris Negara Islam (ISIS), Abu Bakar Al Baghdadi, muncul untuk kali pertama dalam lima tahun terakhir ini, dalam sebuah video yang dirilis Al Furqan.
Al Furqan adalah salah satu media yang selama ini menjadi corong ISIS. Kemunculan pertama Baghdadi pada 2014 melalui video di sebuah masjid.
Sekretaris Pusat Kajian Keamanan Nasional Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Puskamnas UBJ), Ali Asgharmenilai, kemunculan Baghdadi untuk kali kedua ini menimbulkan sejumlah pertanyaan.
“Pertama, sejauh mana kebenaran klaim Rusia yang pernah mengkalim berhasil membunuh Baghdadi pada tahun 2017,” katanya.
Kedua, kemunculan
pimpinan besar ISIS kali ini, menunjuķan
adanya konsolidasi kekuatan dari para pendukung Baghdadi. Dia menggalang
kekuatan para pengikutnya sejak hancurnya basis kekuatan mereka di Irak Suriah.
“Ketiga, teror di Sri Lanka merupakan serangan ISIS adalah untuk menggalang para pengikutnya. Video itu diduga dibuat sesaat setelah serangan bom di Sri Lanka,” tandasnya.***
HAMPIR 17 tahun sejak 9/11, keluarga Osama bin Laden tetap menjadi bagian yang berpengaruh dalam masyarakat Arab Saudi, sekaligus menjadi legasi akan momen paling gelap dalam sejarah kerajaan. Bisakah mereka melarikan diri dari warisannya?
Di sofa sudut sebuah ruangan yang luas, seorang wanita yang mengenakan jubah bermotif cerah, duduk dengan penuh harap. Jilbab merah yang menutupi rambutnya dipantulkan dalam lemari kaca yang menghadap ke depan; di dalam, foto berbingkai dari putra sulungnya mengambil tempat di antara pusaka keluarga dan barang-barang berharga.
Sosok tersenyum dan berjanggut itu mengenakan jaket militer, ia tampil dalam foto-foto di sekitar ruangan: bersandar di dinding di kakinya, beristirahat di mantlepiece. Makan malam khas Saudi meze dan cheesecakelemon telah terhidangkan di meja makan kayu besar.
Alia Ghanem adalah ibu Osama bin Laden, di ruangan itu dialah yang menjadi pusat perhatian semua orang. Di kursi-kursi di dekatnya duduk dua putranya yang masih hidup, Ahmad dan Hassan, dan suami keduanya, Mohammed al-Attas, pria yang membesarkan ketiga bersaudara.
Semua orang di keluarga itu memiliki kisah mereka masing-masing untuk menceritakan tentang orang yang terkait dengan kebangkitan terorisme global; tetapi Ghanem-lah orang yang memegang “istana” hari ini. Ketika dia kehilangan Osama, sulit melukiskannya dengan kata-kata, bahwa ia harus menerima kenyataan telah kehilangan anak laki-lakinya yang begitu dicintainya.
“Hidup saya sangat sulit, karena dia sangat jauh dari saya,” katanya, berbicara dengan percaya diri. “Dia adalah anak yang sangat baik dan dia sangat mencintaiku.”
Ketika di pertengahan tahun 70-an, Ghanem tampak menunjuk al-Attas, seorang pria yang ramping dan bugar, seperti dua putranya, dengan kulit putih dibalut pakaian gamis, jenis busana yang lazim dikenakan oleh pria di seluruh semenanjung Arab. “Dia mendidik Osama semenjak usia tiga tahun. Dia orang baik, dan dia baik pada Osama. ”
Keluarga telah berkumpul di sudut rumah yang sekarang mereka bagi di Jeddah, kota Arab Saudi yang telah menjadi rumah bagi klan Bin Laden selama beberapa generasi. Mereka tetap menjadi salah satu keluarga terkaya di kerajaan itu: merajai bisnis konstruksi, merekalah yang membangun Arab Saudi modern, dan sangat erat ke dalam relasi pembentukan negara.
Rumah Bin Laden mencerminkan keberuntungan dan pengaruh mereka, tangga spiral yang besar di pusatnya menuju ke ruang-ruang yang luas. Ramadan telah datang dan pergi, dan mangkuk kurma dan cokelat yang menandai festival tiga hari yang mengikutinya duduk di atas meja di seluruh rumah.
Hunian besar berbaris di sepanjang jalan; ini adalah Jeddah yang aman, dan sementara tidak ada satpam yang berjaga-jaga di luar, Bin Laden adalah penduduk yang paling terkenal di lingkungan tetangga.
Selama bertahun-tahun, Ghanem telah menolak untuk berbicara tentang Osama, seperti halnya keluarga yang lebih besar– selama dua dekade peran anaknya sebagai pemimpin al-Qaeda, periode ia melihat serangan teroris di New York dan Washington DC, dan berakhir lebih dari sembilan tahun kemudian dengan kematian Osama di Pakistan.
“Sekarang, kepemimpinan baru Arab Saudi —yang dipelopori oleh pewaris ambisius berusia 32 tahun ke tahta, Putra Mahkota Muhammad bin Salman— telah menyetujui permintaan saya untuk berbicara. (Keluarga Osama adalah salah satu keluarga paling berpengaruh di negara itu, maka gerakan dan keterlibatan mereka tetap dimonitor secara ketat.)
Warisan Osama sama buruknya baik terhadap kerajaan Saudi mauoun di keluarganya, dan pejabat senior percaya bahwa, dengan membiarkan keluarga Bin Laden untuk bercerita, mereka dapat menunjukkan bahwa sebagai orang buangan —bukan agen— bertanggung jawab atas 9/11.
Mereka yang mengkritik Saudi telah lama menuduh bahwa Osama memiliki dukungan dari negara tersebut, dan keluarga dari sejumlah korban 9/11 telah meluncurkan (sejauh ini tidak berhasil) tindakan hukum terhadap kerajaan. Lima belas dari 19 pembajak dalam peristiwa itu berasal dari Saudi.
Tidak mengherankan, keluarga jika kemudian Osama bin Laden sangat berhati-hati dalam negosiasi Guardian yang meminta waktu untuk wawancara. Mereka tidak yakin apakah membuka luka lama akan terbukti katarsis atau berbahaya.
Tetapi setelah beberapa hari diskusi, mereka mau bicara. Ketika kami bertemu pada suatu hari yang panas di awal bulan Juni, seorang minder dari pemerintah Saudi duduk di ruangan itu, meskipun dia tidak berusaha untuk mempengaruhi percakapan. (Kami juga bergabung dengan penerjemah.)
“Dia bertemu dengan beberapa orang yang cukup banyak mencuci otaknya di awal 20-an. Anda bisa menyebutnya kultus ‘
Duduk di antara saudara-saudara tirinya Osama, Ghanem mengingatkan anak pertamanya sebagai anak laki-laki pemalu yang memiliki kemampuan akademis. Dia menjadi sosok yang kuat, motivator, saleh di awal 20-an, katanya, ketika belajar ekonomi di King Abdulaziz University di Jeddah, di mana ia juga radikal.
“Orang-orang di universitas mengubahnya,” kata Ghanem. “Ia menjadi orang yang berbeda.” Salah satu pria yang ia temui di sana adalah Abdullah Azzam, seorang anggota Ikhwanul Muslimin yang kemudian diasingkan dari Arab Saudi dan menjadi penasihat spiritual Osama.
“Dia adalah anak yang sangat baik sampai dia bertemu dengan beberapa orang yang cukup banyak mencuci otaknya. Anda bisa menyebutnya kultus. Mereka mendapat uang untuk tujuan mereka. Saya akan selalu mengatakan padanya untuk menjauh dari mereka, dan dia tidak akan pernah mengakui apa yang dia lakukan, karena dia sangat mencintai saya. ”
Pada awal 1980-an, Osama melakukan perjalanan ke Afghanistan untuk melawan pendudukan Rusia. “Setiap orang yang bertemu dengannya di hari-hari awal menghormatinya,” kata Hassan, mengambil ceritanya.
“Pada awalnya, kami sangat bangga padanya. Bahkan pemerintah Saudi akan memperlakukannya dengan cara yang sangat mulia dan terhormat. Dan kemudian datanglah kepada Osama para mujahid. ”
Osama bin Laden (kedua dari kanan) pada kunjungan ke Falun, Swedia, pada tahun 1971. Foto: Camera Press
Keheningan panjang yang tidak nyaman terjadi, ketika Hassan berjuang untuk menjelaskan transformasi dari fanatik menjadi jihadis global. “Saya sangat bangga padanya dalam arti dia adalah kakak tertua saya,” katanya akhirnya melanjutkan.
“Dia mengajari saya banyak hal. Tapi, saya rasa saya sangat tidak bangga padanya sebagai seorang pria. Dia mencapai superstardom di panggung global, dan itu semua tidak ada artinya. ”
Ghanem mendengarkan dengan penuh perhatian, menjadi lebih bersemangat ketika percakapan kembali ke tahun-tahun pembentukan diri Osama. “Dia sangat lurus. Sangat bagus di sekolah. Dia sangat suka belajar. Dia menghabiskan semua uangnya di Afghanistan – dia akan menyelinap di bawah kedok bisnis keluarga. ”Apakah dia pernah curiga dia mungkin menjadi seorang jihadis?
“Itu tidak pernah terlintas dalam pikiran saya.”
Bagaimana rasanya ketika dia menyadari bahwa dia seperti itu? “Kami sangat kesal. Saya tidak ingin semua ini terjadi. Kenapa dia membuang semuanya begitu saja? ”
Keluarga mengatakan mereka terakhir melihat Osama di Afghanistan pada tahun 1999, setahun di mana mereka mengunjunginya dua kali di markasnya di luar Kandahar. “Itu adalah tempat di dekat bandara yang mereka ambil alih dari Rusia,” kata Ghanem.
“Dia sangat senang menerima kami. Dia menunjukkan hormatnya kepada kita setiap hari di sana. Dia menyembelih seekor ternak dan kami mengadakan pesta, dan dia mengundang semua orang. ”
Ghanem mulai rileks, dan berbicara tentang masa kecilnya di kota pesisir Suriah Latakia, di mana ia dibesarkan di sebuah keluarga orang Alawit, kelompok Syiah. Masakan Suriah lebih unggul dari Saudi, katanya, dan begitu juga cuaca di Mediterania, di mana udara musim panas yang hangat dan basah sangat kontras dengan panasnya acetylene Jeddah pada bulan Juni.
Ghanem kemudian pindah ke Arab Saudi pada pertengahan 1950-an, dan Osama lahir di Riyadh pada 1957. Dia menceraikan, ayahnya tiga tahun kemudian, dan menikahi al-Attas, yang kemudian menjadi administrator di kerajaan bisnis Bin Laden yang masih baru, pada awal 1960-an. Ayah Osama kemudian memiliki 54 anak dengan setidaknya 11 istri.
Sulit Menjadi Saksi Obyektif
Ketika Ghanem pergi untuk beristirahat di sebuah ruangan di dekat ruang perbincangan ini, saudara-saudara tiri Osama melanjutkan percakapan. Sangat penting, tegas mereka, untuk diingat bahwa seorang ibu jarang yang bisa menjadi saksi yang obyektif.
“Sudah 17 tahun sekarang [sejak 9/11] dan dia tetap menyangkal tentang Osama,” kata Ahmad. “Dia sangat mencintainya dan menolak untuk menyalahkannya. Sebaliknya, dia menyalahkan orang-orang di sekitarnya. Dia hanya tahu sisi baik, sisi yang kita semua lihat. Dia tidak pernah tahu sisi jihadis.”
“Saya terkejut, tercengang,” katanya sekarang dari laporan awal dari New York. “Itu adalah perasaan yang sangat aneh. Kami tahu dari awal [bahwa itu Osama], dalam 48 jam pertama. Dari yang termuda sampai yang tertua dalam keluarga bin Laden, kami semua merasa malu padanya. Kami tahu kami semua akan menghadapi konsekuensi yang mengerikan. Keluarga kami di luar negeri semuanya kembali ke Saudi.”
Mereka telah tersebar di Suriah, Libanon, Mesir dan Eropa. Di Saudi, ada larangan bepergian. Mereka berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan kendali atas keluarga.
”Keluarga mengatakan mereka semua ditanyai oleh pihak berwenang dan, untuk sementara waktu, dilarang meninggalkan negara itu. Hampir dua dekade berlalu, Bin Laden dapat bergerak relatif bebas di dalam dan di luar kerajaan.”
Tahun-tahun penempaan diri bersama bin Laden di Jeddah terjadi pada tahun 1970-an relatif bebas, sebelum Revolusi Iran tahun 1979, yang bertujuan untuk mengekspor semangat Syiah ke dunia Arab Sunni.
Sejak saat itu, penguasa Saudi memaksakan interpretasi yang kaku terhadap Islam Sunni – yang telah dipraktekkan secara luas di seluruh jazirah Arab sejak abad ke-18, era ulama Muhammed ibn Abdul Wahhab. Pada 1744, Abdul Wahhab telah membuat perjanjian dengan penguasa Mohammed bin Saud, memungkinkan keluarganya untuk menjalankan urusan negara sementara ulama garis keras mendefinisikan karakter nasional.
Alia Ghanem di rumah di Jeddah, Arab Saudi, dengan putranya Ahmad. Foto: David Levene diambil dari Guardian
Kerajaan modern, yang diproklamirkan pada tahun 1932, meninggalkan kedua belah pihak –para ulama dan penguasa– terlalu kuat untuk mengambil pihak lain, mengunci negara dan warganya menjadi sebuah masyarakat yang didefinisikan oleh pandangan-pandangan konservatif: segregasi ketat yang tidak terkait pria dan wanita; peran gender tanpa kompromi; intoleransi dari agama lain; dan ketaatan yang tak pernah berhenti pada ajaran-ajaran doktrinal, semuanya dicap oleh Keluarga Saud.
Banyak yang percaya aliansi ini secara langsung berkontribusi pada kebangkitan terorisme global. Pandangan dunia Al-Qaeda – dan dari cabangnya, Negara Islam (Isis) – sebagian besar dibentuk oleh kitab suci Wahhabi; dan ulama Saudi secara luas dituduh mendorong gerakan jihadis yang tumbuh sepanjang 1990-an, dengan Osama bin Laden di pusatnya.
Reformasi mulai merayap di masyarakat Saudi; larangan pengemudi perempuan telah dicabut, bioskop telah dibuka. Pada 2018, kepemimpinan baru Saudi ingin menarik garis di bawah era ini dan memperkenalkan apa yang disebut bin Salman sebagai “Islam moderat”.
Hal ini ia anggap penting bagi kelangsungan hidup sebuah negara di mana populasi muda yang besar, gelisah dan sering merasa tidak puas, selama hampir empat dekade, memiliki sedikit akses ke hiburan, kehidupan sosial, atau kebebasan individu. Para penguasa baru Saudi percaya norma-norma sosial yang kaku seperti itu, yang ditegakkan oleh para ulama, dapat membuktikan makanan bagi para ekstremis yang memanfaatkan perasaan frustrasi tersebut.
Ada perubahan pada pasar tenaga kerja dan sektor publik yang membengkak; bioskop telah dibuka, dan upaya anti-korupsi diluncurkan di seluruh sektor swasta dan beberapa penjuru pemerintah. Pemerintah juga mengklaim telah menghentikan semua pendanaan untuk lembaga-lembaga Wahhabi di luar kerajaan, yang telah didukung dengan semangat misionaris selama hampir empat dekade.
Terapi kejut radikal semacam itu perlahan-lahan diserap di seluruh negeri, di mana komunitas yang dikondisikan selama puluhan tahun dengan doktrin tanpa kompromi tidak selalu tahu apa yang membuatnya. Kontradiksi berlimpah: beberapa pejabat dan lembaga menjauhi konservatisme, sementara yang lain dengan sepenuh hati memeluknya. Sementara itu, kebebasan politik tetap terlarang; kekuasaan telah menjadi lebih terpusat dan perbedaan pendapat secara rutin dihancurkan.
Warisan bin Laden
Warisan Osama Bin Laden tetap menjadi salah satu masalah kerajaan Saudi yang paling mendesak.
Pangeran Turki al-Faisal, yang merupakan kepala intelijen Saudi selama 24 tahun, antara 1977 dan 1 September 2001 (10 hari sebelum serangan 9/11), berada di vilanya di Jeddah. Dia adalah seorang pria terpelajar sekarang di pertengahan 70-an, Turki memakai manset hijau bertuliskan bendera Saudi di lengannya. “Ada dua Osama bin Laden,” katanya. Satu sebelum akhir pendudukan Soviet di Afghanistan, dan satu setelahnya. Sebelumnya, dia adalah seorang mujahid yang sangat idealis. Dia bukan seorang jihadis. Dengan pengakuannya sendiri, dia pingsan selama pertempuran, dan ketika dia bangun, serangan Soviet pada posisinya telah dikalahkan. ”
Ketika Bin Laden pindah dari Afghanistan ke Sudan, dan karena hubungannya dengan Arab Saudi memburuk, adalah Turki yang berbicara dengannya atas nama kerajaan. Setelah terjadinya 9/11, transaksi langsung ini mendapat sorotan tajam. Kemudian – dan 17 tahun kemudian – beberapa keluarga korban dari 2.976 orang yang tewas dan lebih dari 6.000 orang terluka di New York dan Washington DC, menolak untuk percaya bahwa Saudi yang telah mengekspor bentuk keyakinan konservatif seperti itu, tidak ada hubungannya dengan konsekuensi dari apa yang dilakukan Osama.
Tentu saja, Bin Laden melakukan perjalanan ke Afghanistan dengan pengetahuan dan dukungan dari negara Saudi, yang menentang pendudukan Soviet; bersama dengan Amerika, Saudi mempersenjatai dan mendukung kelompok-kelompok yang melawannya.
Para mujahid muda telah mengambil sebagian kecil dari kekayaan keluarga bersamanya, yang dia gunakan untuk membeli pengaruh. Ketika dia kembali ke Jeddah, setelah pertempuran dengan akhir kekalahan Soviet, dia adalah seorang lelaki yang berbeda. “Osama mengembangkan sikap yang lebih politis dari tahun 1990. Dia ingin mengusir komunis dan Marxis Yaman Selatan dari Yaman. Saya menerima dia, dan mengatakan kepadanya bahwa lebih baik dia tidak terlibat. Masjid-masjid di Jeddah menggunakan contoh Afghanistan.”
”Dengan ini, Turki berarti pembacaan iman yang didefinisikan secara sempit oleh pendukung Taliban. “Dia menghasut mereka [pemuja Saudi]. Dia disuruh berhenti. ”
“Dia memiliki wajah dingin,” lanjutnya. “Dia tidak pernah tertawa, atau tersenyum. Pada tahun 1992, 1993, ada pertemuan besar di Peshawar yang diselenggarakan oleh pemerintah Nawaz Sharif. Bin Laden pada saat ini telah diberi perlindungan oleh para pemimpin suku Afghanistan.”
“Ada seruan untuk solidaritas Muslim, untuk memaksa para pemimpin dunia Muslim itu untuk berhenti saling menyerang satu sama lain. Saya juga melihatnya di sana. Mata kami bertatapan, tetapi kami tidak berbicara. Dia tidak kembali ke Saudi. Dia pergi ke Sudan, di mana dia membangun bisnis madu dan membiayai jalan. ”
Advokasi Bin Laden meningkat di pengasingan. “Dia biasa mengirim laporan faks ke semua orang. Dia sangat kritis. Ada upaya oleh keluarga untuk menghalangi dia –utusan dan semacamnya– tetapi mereka tidak berhasil. Mungkin perasaannya, bahwa dia tidak dianggap serius oleh pemerintah. ”
Pada tahun 1996, Bin Laden kembali ke Afghanistan. Turki mengatakan kerajaan tahu itu punya masalah dan ingin dia kembali. Dia terbang ke Kandahar untuk bertemu dengan pemimpin Taliban, Mullah Omar.
“Dia berkata, ‘Saya tidak menolak untuk menyerahkan dia, tetapi dia sangat membantu orang-orang Afghanistan.’ Dia mengatakan Bin Laden diberikan perlindungan sesuai dengan perintah Islam.” Dua tahun kemudian, pada bulan September 1998, Turki terbang lagi ke Afghanistan, kali ini dengan tegar ditampik. “Pada pertemuan itu, dia adalah seorang pria yang berubah,” katanya tentang Omar.
“Jauh lebih pendiam, berkeringat deras. Alih-alih mengambil nada yang masuk akal, dia berkata, ‘Bagaimana Anda bisa menganiaya pria yang layak ini yang mengabdikan hidupnya untuk membantu orang-orang Muslim?’ ”Turki mengatakan ia memperingatkan Omar bahwa apa yang dilakukannya akan merugikan orang-orang Afghanistan, dan pergi.”
Kunjungan keluarga ke Kandahar terjadi pada tahun berikutnya, dan terjadi setelah serangan rudal AS di salah satu senyawa Bin Laden – tanggapan terhadap serangan al-Qaida di kedutaan besar AS di Tanzania dan Kenya. Tampaknya rombongan keluarga dekat tidak banyak kesulitan menemukan lelaki mereka, di mana jaringan intelijen Saudi dan Barat tidak bisa.
Menurut para pejabat di Riyadh, London dan Washington DC, Bin Laden pada saat itu telah menjadi target kontra-terorisme nomor satu di dunia, seorang pria yang bertekad menggunakan warga Saudi untuk menggerakkan irisan antara peradaban timur dan barat. “Tidak ada keraguan bahwa ia sengaja memilih warga Saudi untuk plot 9/11,” kata seorang perwira intelijen Inggris.
“Dia yakin itu akan mengubah barat melawan … negara asalnya. Dia memang berhasil menghasut perang, tetapi bukan yang dia harapkan. ”
Turki mengklaim bahwa sebelum 9/11, agen intelijennya tahu bahwa ada sesuatu serangan yang sedang direncanakan. “Pada musim panas 2001, saya mengambil salah satu peringatan tentang sesuatu yang spektakuler yang akan terjadi pada orang Amerika, Inggris, Prancis, dan Arab. Kami tidak tahu di mana, tetapi kami tahu ada sesuatu yang sedang diseduh. ”
Bin Laden tetap menjadi tokoh populer di beberapa bagian negeri ini, dipuji oleh orang-orang yang percaya dia melakukan pekerjaan Tuhan. Namun, kedalaman dukungan sulit diukur. Apa yang tersisa dari keluarga dekatnya, sementara itu, telah diizinkan kembali ke kerajaan: setidaknya dua istri Osama (salah satunya bersamanya di Abbottabad ketika dia dibunuh oleh pasukan khusus AS) dan anak-anak mereka sekarang tinggal di Jeddah.
“Kami memiliki hubungan yang sangat baik dengan Mohammed bin Nayef [mantan putra mahkota],” kata saudara laki-laki Osama, Ahmad, memberi tahu saya ketika seorang pembantu menyiapkan meja makan malam di dekatnya. “Ia membiarkan istri dan anak-anak kembali.” Tetapi ketika mereka memiliki kebebasan bergerak di dalam kota, mereka tidak dapat meninggalkan kerajaan.
Putra Osama, Hamza, mungkin bisa mengaburkan upaya keluarga untuk melepaskan masa lalunya.
Ibunda Osama kembali bergabung dalam percakapan. “Saya berbicara dengan haremnya hampir setiap minggu,” katanya. “Mereka tinggal di dekat sini.”
Saudara perempuan Osama, dan saudara laki-laki kedua lelaki itu, Fatima al-Attas, tidak ada di pertemuan kami. Dari rumahnya di Paris, dia kemudian diemail untuk mengatakan dia sangat keberatan dengan ibunya yang diwawancarai, meminta agar itu diatur ulang melalui dirinya.
Terlepas dari berkat saudara-saudaranya dan ayah tirinya, dia merasa ibunya didesak untuk berbicara. Ghanem, bagaimanapun, bersikeras dia senang berbicara dan bisa berbicara lebih lama. Mungkin, ini adalah tanda dari status keluarga yang rumit di kerajaan bahwa ketegangan semacam itu ada.
Saya bertanya kepada keluarga tentang putra bungsu Bin Laden, Hamza yang berusia 29 tahun, yang diduga berada di Afghanistan. Tahun lalu, ia secara resmi ditetapkan sebagai “teroris global” oleh AS dan tampaknya telah mengambil jubah ayahnya, menjadi pemimpin baru al-Qaida, dan mantan deputi Osama, Ayman al-Zawahiri.
Paman-pamannya menggeleng. “Kami pikir semua orang sudah melupakan ini,” kata Hassan.
“Lalu hal berikutnya yang aku tahu, Hamza berkata,“ Aku akan membalaskan dendam ayahku. ”Aku tidak ingin melakukannya lagi. Jika Hamza ada di depanku sekarang, aku akan memberitahunya, ‘Tuhan membimbingmu. Pikirkan dua kali tentang apa yang Anda lakukan. Jangan mengambil kembali langkah ayahmu. Kamu memasuki bagian mengerikan dari jiwamu. ’”
Kenaikan terus-menerus Hamza bin Laden mungkin menjadi awan upaya keluarga untuk melepaskan masa lalunya. Ini juga dapat menghambat upaya putra mahkota untuk membentuk era baru di mana Bin Laden berperan sebagai penyimpangan generasi, dan di mana doktrin garis keras yang pernah disetujui oleh kerajaan tidak lagi menawarkan legitimasi kepada ekstremisme. Sementara perubahan telah dicoba di Arab Saudi sebelumnya, itu sama sekali tidak seluas reformasi saat ini. Betapa sulitnya Mohammed bin Salman mendorong masyarakat yang diindoktrinasi dalam pandangan dunia yang tanpa kompromi, tetap menjadi pertanyaan terbuka.
Saudia Arabia sekutu optimis, tetapi menawarkan catatan peringatan. Petugas intelijen Inggris yang saya ajak bicara memberi tahu saya, “Jika Salman tidak menerobos, akan ada lebih banyak Osama. Dan saya tidak yakin mereka akan dapat mengguncang kutukan itu. ”***
Pimpinan Pusat Jamaah Ansharut Daulah (JAD), Zainal Anshori memekikkan takbir sesaat setelah Majelis Hakim PN Jakarta Selatan membacakan putusan pembubaran organisasi tersebut.
MAJELIS hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) Selasa (31/7/2018) resmi memutuskan pembubaran Jamaah Ansraut Daulah (JAD), karena terbukti secara sah dan menyakinkan terlibat dalam serangkian aksi teror di tanah air.
“Menetapkan, membekukan korporasi atau organisasi Jamaah Anshor Daulah, organisasi lain yang berafiliasi dengan ISIS,” kata hakim Ketua Aris Bawono saat membacakan amar putusan di PN Jaksel.
Majelis menetapkan, JAD yang dipimpin oleh Zainal Anshori itu sebagai korporasi yang terlarang. Menurut hakim, JAD berafiliasi dengan kelompok teroris jaringan internasional seperti Al-Dawla Al-Sham (DAESH) atau Islamic State of Iraq and Levant alis Islamic State (IS / ISIS).
Putusan itu langsung disambut dengan pekikan takbir oleh pimpinan pusat koorporasi JAD. Zainal Anshori alias Abu Fahry alias Qomaruddin bin M. Ali, berpekik sambil mengacungkan tangannya di hadapan majelis hakim.
Yang pasti, putusan tersebut sudah sesuai dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum yang meminta pengadilan membubarkan JAD. JPU juga menuntut agar terdakwa membayar denda Rp 5 Juta.
Sebagaimana diketahui, pimpinan JAD, Aman Abdurrahman sebelumnya telah divonis mati atas keterilbatannya dalam serangkaian aksi teror di jalan MH Thamrin, Kampung Melayu dan Gereja Ouikumene Samarinda.
Aman membentuk JAD pada 2014 ketika yang bersangkutan menjalani hukuman di LP Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Ketika itu, Aman bahkan sempat memanggil pengikut setianya, yakni Marwan alias Abu Musa, dan Zainal Anshori, ke Nusakambangan.
Sidang vonis JAD ini diamakan oleh puluhan anggota Brimob dengan bersenjata lengkap.
Setelah mendengar vonis, Zainal Anshori sempat berkonsultasi dengan kuasa hukumnya Asludin Hatjani. Namun akhirnya JAD menerima vonis tersebut dan menyatakan tidak akan mengajukan banding atas vonis tersebut.
“Setelah konsultasi dengan klien kami, maka kami memutuskan untuk tidak mengajukan banding,” kata Asludin kepada majelis hakim.
Sedangkan pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang diwakili Heri Jerman mengaku masih perlu mengkaji hasil putusan majelis hakim, dan akan disikapi paling lama satu hingga dua hari ke depan. “Yang mulia, kami mengajukan pikir-pikir 1-2 hari,” kata Heri.***
WARGA DKI Jakarta tidak boleh gentar terhadap aksi terorisme, seperti yang terjadi pada kasus teror bom panci di Kampung Melayu, Jakarta Timur, yang menewaskan lima orang dan melukai 11 korban lainnya.
“Kita mengutuk keras tindakan terorisme ini. Kita tidak boleh gentar, tidak boleh takut,” ujar Gubernur terpilih Anies Baswedan, usai menjenguk empat orang korban yang dirawat di RS Premiere, di Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (25/5/2017).
Untuk itu, warga Jakarta hendaknya meningkatkan kewaspadaan, dan jangan sedikit pun mundur menghadapi teror ini. “Kita tidak boleh mengurangi kegiatan, mengurangi aktivitas. [Kalau kita mengurangi kegiatan karena takut], itulah yang diharapkan [teroris]. Apalagi terpecah-pecah. Kita jaga persatuan dan kesatuan,” kata Anies.
Dalam kesempatan itu Anies menyampaikan apresiasinya kepada warga dan kepolisian yang bertindak cepat untuk mengevakuasi korban ledakan. “Secara khusus kami mengapresiasi pihak rumah sakit dan tenaga medis yang langsung merawat para korban dengan baik,” tuturnya. Dalam kesempatan membezuk ke RS Premiere Jatinegara, hari ini Anies menjenguk Brigadir Kepala Polisi Ferry Nurcahya, kemudian Brigadir Kepala Polisi Yogi Pryo, supir angkot Agung Nugroho dan seorang mahasiswi, Jihan Thalib.***