Ikut sekolah Inspektur Polisi, 6 dokter muda Papua bertekad tingkatkan Layanan Kesehatan di kampung halaman

JAYAKARTA NEWS – Enam dokter muda asal Papua saat ini tengah menjalani pendidikan Sekolah Inspektur Polisi Sumber Sarjana (SIPSS) Gelombang I tahun 2025. Mereka adalah Jack Johanes Pical, Ilham Aaas Hamka, Alex Stendly Nuburi, Herlambang Andreka Junior Dwi Putra, Arfinsasi Putra dan Marlina Putri Purnama Sari Pekpekai. Demikian Rilis Humas Polri, Sabtu (8/3/2025).

Para dokter muda ini memiliki latar belakang dan pengalaman yang beragam, namun memiliki satu tujuan yang sama, yakni memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi masyarakat Papua. Mereka menyadari betul bahwa akses layanan kesehatan di Papua, terutama di daerah pelosok, masih sangat terbatas.

“Saya melihat sendiri bagaimana sulitnya akses layanan kesehatan di Bintuni. Banyak daerah pesisir dan pegunungan yang kekurangan tenaga dokter. Melalui SIPSS, saya berharap bisa menjadi dokter sekaligus polisi, sehingga dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi masyarakat,” ujar Jack Johanes Pical, salah satu peserta didik SIPSS Gel I T.A 2025. 

Pengalaman yang hampir sama dituturkan Alex Stendly Nuburi. Ia menceritakan kondisi alam Papua menjadi tantangan tersendiri pasien dan juga para tenaga medis. 

“Tahun 2024 saya bekerja di puskesmas Arbaiz yang terletak di Kabupaten Sarmi yang waktu tempuhnya sekitar 10 jam dari kota Jayapura. Puskesmas saya itu merupakan puskesmas yang terpencil,” kata Alex. 

Minimnya tenaga medis dan fasilitas Kesehatan di Papua juga menjadi motivasi Herlambang Andreka Junior Dwi Putra. Menjadi dokter merupakan keinginan kecilnya untuk menolong keluarganya. Beranjak besar, ia melihat bahwa tidak hanya keluarganya yang membutuhkan bantuan medis, tapi juga masyarakat di lingkungan tempatnya tinggal. 

“Menjadi dokter merupakan cita-cita kecil menolong orang. Kini saya mendapat kesempatan untuk memberi manfaat kepada lebih banyak orang dengan menjadi siswa SIPSS yang nantinya disiapkan sebagai polisi dengan keahlian di bidang medis,”kata Herlambang.

Para dokter muda ini memiliki mimpi besar untuk mengembangkan karir mereka di bidang spesialisasi kedokteran. Beberapa di antaranya bercita-cita menjadi dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, penyakit dalam, bedah, kandungan, dan saraf.

Seperti pengalaman Marlina. Ia melihat di daerahnya belum ada dokter ahli syaraf. Banyak lansia yang tidak mendapat perawatan yang layak karena kekurangan tenaga medis ahli di bidang syaraf termasuk kakeknya sendiri. 

“Saat saya sedang internship di Merauke di sana saya tinggal bersama kakek saya yang usianya sudah renta di atas 70 tahun di mana beliau pada saat itu terkena serangan stroke sedangkan di Merauke pada saat itu sama sekali tidak ada dokter saraf sehingga kakek saya berpulang. Dari situ saya memiliki nilai sensitifitas terhadap bidang ini,” kata Marlina. 

Keinginan untuk memberikan perawatan kepada masyarakat kurang mampu di Papua terutama lansia juga diutarakan Ilham Aaas Hamka. 

“Setelah menjadi dokter polisi saya ingin melanjutkan lagi menjadi dokter spesialis terutama dokter spesialis penyakit dalam. Kenapa saya memilih spesialis penyakit dalam karena untuk penyakit dalam ruang lingkup pengetahuannya sangat luas. Misalnya pada saat ada pasien jantung dan pasien itu geriatri atau usia lanjut pasti akan dikonsulkan kepada spesialis penyakit dalam,” ujar Ilham. 

Keinginan menjadi dokter spesialis internis juga disampaikan Arfinsasi Putra. Ia mengatakan kondisi ini jelas terlihat saat ia bertugas di Papua Pegunungan. 

“Masyarakat di Papua Pegunungan banyak yang memiliki keluhan penyakit dlaam tapi di sana adanya dokter umum, termasuk saya. Hal ini yang memotivasi saya untuk melanjutkan spesialisasi penyakit internis untuk menolong warga yang membutuhkan layanan Kesehatan penyakit dalam,” kata Arfin. 

Irwasum Polri Komjen Pol Dedi Prasetyo menyambut baik cita-cita enam dokter muda asal pengiriman Polda Papua ini. 

“Kami sangat mengapresiasi semangat pengabdian para dokter muda asal Papua. Kehadiran mereka di Polri akan memperkuat upaya kami dalam memberikan pelayanan kesehatan yang optimal bagi masyarakat, khususnya di daerah terpencil,” ujarnya.

Komjen Pol Dedi Prasetyo juga menegaskan bahwa langkah ini sejalan dengan program kesehatan pemerintah Prabowo untuk meningkatkan akses dan kualitas layanan kesehatan di daerah terpencil dan tertinggal. 

“Pemerintah pak Prabowo berupaya menyediakan fasilitas Kesehatan yang lebih baik di daerah pelosok termasuk Papua. Polri mendukung dengan merekrut dokter-dokter melalui penerimaan SIPSS. Mereka nantinya akan kami tugaskan di tempat asal mereka di Papua,” imbuh Komjen Pol Dedi Prasetyo. 

Para dokter muda asal Papua juga berharap bisa segera menyelesaikan pelatihan dan kembali ke kampung halaman mereka untuk mengabdikan kepada Masyarakat Papua sebagai dokter dan juga polisi sebagai bentuk kontribusi nyata bagi peningkatan layanan kesehatan di tanah kelahiran mereka.***/mel

Senyum Polwan Ops Damai Cartenz Membawa Berkah Bagi Mama-Mama Papua di Pasar Lama Oksibil

JAYAKARTA NEWS – Suasana penuh kehangatan terasa di Pasar Lama Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang, saat para mama-mama pedagang mendapat kunjungan dari polisi wanita (Polwan) Ops Damai Cartenz 2025 pada Jumat (14/2/2025). Kehadiran Polwan dalam kegiatan ini bertujuan mempererat hubungan antara aparat keamanan dan masyarakat setempat.

Dengan senyum ramah, Brigpol Ita Sombo Allo menyapa serta berinteraksi dengan para pedagang, menciptakan suasana akrab dan penuh kebersamaan. Kehadirannya tak hanya memberikan rasa aman, tetapi juga memperkuat komunikasi antara kepolisian dan warga.

Tak hanya berbincang, Brigpol Ita juga membeli sejumlah barang dagangan dari para mama-mama Papua, seperti sayur-mayur, buah-buahan, serta hasil bumi lainnya. Langkah ini merupakan bentuk dukungan kepada para pedagang kecil agar tetap semangat dalam menjalankan usaha mereka.

“Kami ingin menunjukkan bahwa kehadiran polisi bukan hanya untuk menjaga keamanan, tetapi juga untuk mendukung perekonomian masyarakat. Dengan membeli dagangan mama-mama Papua, kami berharap dapat sedikit membantu mereka dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujar Brigpol Ita.

Kasatgas Humas Ops Damai Cartenz 2025, Kombes Pol Yusuf Sutejo, S.I.K., M.T., menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen kepolisian dalam menciptakan situasi yang aman dan kondusif.

“Kami hadir di tengah masyarakat untuk memastikan situasi tetap kondusif serta memberikan pelayanan terbaik. Dengan kehadiran kami, diharapkan masyarakat semakin merasa aman dan nyaman dalam menjalankan aktivitas sehari-hari,” ujarnya.

Ia juga mengajak masyarakat Kabupaten Pegunungan Bintang untuk terus bersinergi dengan aparat keamanan dalam menjaga ketertiban dan keamanan (Kamtibmas) di wilayah tersebut.

“Peran serta masyarakat sangat penting dalam menjaga stabilitas keamanan. Kami berharap warga dapat bekerja sama dengan kepolisian untuk menciptakan lingkungan yang damai dan harmonis,” tambahnya.

Kunjungan ini diharapkan dapat mempererat hubungan antara kepolisian dan masyarakat Papua, sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap upaya penegakan keamanan di wilayah Pegunungan Bintang. Kehadiran Polwan Ops Damai Cartenz 2025 di pasar juga menjadi bukti nyata bahwa kepolisian tidak hanya bertugas menjaga ketertiban, tetapi juga peduli terhadap kesejahteraan masyarakat.***/mel

Presiden dan Menhan Sapa Ribuan Prajurit TNI di Papua

JAYAKARTA NEWS – Presiden RI Prabowo Subianto menyapa ribuan prajurit TNI di daerah penugasan Papua. Sapaan Presiden Prabowo dilakukan melalui video call bersama Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin di sela-sela acara malam akrab bersama prajurit TNI yang bertempat di Yonif 754/Eme Neme Kangasi (ENK), Timika, Papua Tengah (31/12). Acara tersebut menandai penutup tahun 2024 dan menyambut tahun baru 2025.

“Semoga saudara-saudara tetap semangat, tetap teguh dengan pengabdian,” sapa Presiden Prabowo kepada prajurit yang hadir secara fisik dan daring.

(Foto: Biro Infohan Setjen Kemhan)

Presiden menilai bahwa tugas yang dilakukan para prajurit TNI adalah untuk kedaulatan NKRI dan untuk masa depan bangsa Indonesia.

“Jadilah TNI yang baik, dicintai rakyat. TNI adalah benteng terakhir NKRI, TNI adalah jaminan kemerdekaan kita,” tambah Presiden.

Presiden Prabowo juga mengungkapkan terima kasih atas nama negara, atas nama pemerintah, dan atas nama rakyat. “Terima kasih atas pengabdianmu. Terima kasih atas kesetiaanmu. Selamat bertugas, dan semoga yang maha kuasa selalu menyertai saudara-saudara,” tambah Presiden Prabowo.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin tiba di Lanud Yohanis Kapiyau, dan langsung disambut oleh Pangkogab Wilhan III, Pangdam XVII/CEN, dan Pangdam XVIII/KSR. Dalam rangka mengecek prajurit yang bertugas di Papua, Menhan RI bersama para pimpinan TNI mengunjungi Markas Yonif 754/ENK untuk berinteraksi sekaligus merayakan tahun baru bersama.

(Foto: Biro Infohan Setjen Kemhan)

Pada momen tersebut, Menhan berkesempatan memberikan pengarahan. Menhan Sjafrie mengingatkan agar prajurit TNI tetap harus waspada, tidak lengah, dan harus saling mengingatkan satu sama lain. “Ingat, kalian bertugas di tempat yang paling jauh dan tempat yang paling depan. Dan ini merupakan tugas yang mulia karena kita menjaga kedaulatan negara kesatuan Republik Indonesia,” kata Menhan.

Dalam kunjungannya, Menhan Sjafrie juga mendistribusikan paket minuman bergizi, vitamin dan obat-obatan yang menjadi penyokong utama kesehatan dan kebugaran prajurit, terutama mengingat kondisi medan dan cuaca ekstrem yang harus dihadapi setiap hari.

Selain itu, ada pula bantuan dari Panglima TNI berupa obat-obatan, makanan ringan dan beberapa bahan lain yang sangat bermanfaat bagi seluruh prajurit di lapangan saat bertugas.

Turut hadir dalam acara tersebut diantaranya yaitu Panglima TNI, Kabais TNI, Wakasad, dan Sekjen Kemhan.***/mel

Irjen Pol. Herry Heryawan Raih Gelar Doktor

JAYAKARTA NEWS – Suasana di Gedung Tri Brata, STIK Lemdiklat Polri, Jakarta, pada tanggal 4 Maret 2024, terasa begitu penuh antusias. Stafsus Mendagri Bidang Keamanan dan Hukum, Irjen Pol. Herry Heryawan, berhasil mencatatkan namanya dalam sejarah Prodi S-3 PTIK-STIK dengan meraih gelar doktor.

Gelar itu diperolehnya setelah berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul ‘Upaya Pemolisian dalam Menghadapi Kompleksitas Persoalan di Papua: Penguatan Pelibatan Sosial dalam Pemerintahan, Pembangunan, dan Perdamaian’.

Sejumlah tokoh penting, termasuk Kabaharkam Polri Komjen Dr. Muhammad Fadhil Imran, M.Si, dan Prof. Dr. Chrysnanda Dwilaksana dari PTIK-STIK, terlibat dalam memeriksa/ menguji disertasi tersebut.

Dalam paparannya, Irjen Herry Heryawan menjelaskan bahwa persoalan kompleks di Papua disebabkan oleh lima akar masalah utama, seperti hak asasi manusia, kesejahteraan, diskriminasi, status politik, dan kehadiran aparatus yang dianggap terlalu besar.

Irjen Herry menekankan peran kunci Polri dalam mengawal pembangunan di Papua dengan pendekatan yang humanis. Dia menggarisbawahi pentingnya dialog yang humanis dengan masyarakat, sekaligus tegas terhadap kelompok yang mengganggu keamanan dan ketertiban.

Dalam disertasinya, Irjen Herry Heryawan melakukan penelitian dengan pendekatan kualitatif, menemukan permasalahan yang ada, dan memberikan masukan berharga. Kesetaraan dalam penegakan hukum, penerapan restorative justice, serta strategi Binmas Noken dan daily service menjadi fokus utama untuk mengubah wajah pelayanan publik di Papua.

Dalam nasihat akademiknya, Kabaharkam Polri Komjen Fadil Imran menegaskan pentingnya disiplin ilmu, pengabdian untuk masyarakat, dan keberagaman kemampuan sebagai landasan bagi seorang pemimpin Polri yang paripurna. Suksesnya Irjen Herry Heryawan dalam meraih gelar doktor ini juga menjadi bagian dari upaya untuk membuka ruang diskursus Pemolisian Demokratis, yang diharapkan dapat menjadi kerangka kerja terbuka bagi berbagai masalah sosial di Papua.

Sidang terbuka ini dipimpin oleh Direktur Program Pascasarjana KIK, Brigjen Dr. Indarto, S.H., S.SOS., SIK., M.SI, dengan Prof. Bambang Shergi Laksmono sebagai Promotor dan Dr. Robertus Robert, M.A, serta Ir. Djuni Thamrin, PH.D, sebagai Co-Promotor.

Riset yang dilakukan Herry menggambarkan bagaimana semangat dan dedikasi polisi dalam upaya menghadapi tantangan kompleks di Papua. [*/sm]

Gandeng doctorSHARE, PIS Selenggarakan Layanan Rumah Sakit Apung untuk Papua

JAYAKARTA NEWS – Terkait pemberian bantuan pelayanan medis rumah sakit apung di Papua Barat, PT Pertamina International Shipping (PIS) telah menandatangani komitmen dukungan kepada Yayasan Dokter Peduli (doctorSHARE).

Kerja sama ini merupakan rangkaian kegiatan program tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan yang bertajuk “BerSEAnergi untuk Laut”.

Program ini diinisiasi PIS dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir dan mendukung kelestarian laut.

Penandatanganan kerja sama dilakukan oleh CEO PIS Yoki Firnandi dan Managing Director doctorSHARE Tutuk Utomo Nuradhy, serta disaksikan langsung oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly selaku Penasehat doctorSHARE.

Dukungan PIS berupa operasional penyelenggaraan pelayanan Rumah Sakit Apung (RSA) Nusa Waluya II milik doctorSHARE di Sorong, Papua Barat, pada Desember nanti.

Layanan ini setara dengan rumah sakit darat tipe C, mencakup medik umum, klinik spesialis, kebidanan, kefarmasian, hingga penunjang lainnya seperti persediaan medis, ambulance dan laboratorium.

PIS sebagai perusahaan yang bergerak di sektor maritim, menyadari bahwa salah satu tantangan dalam menyediakan fasilitas kesehatan di negara maritim terbesar dunia ini adalah aksesibilitas.

“Terutama bagi masyarakat pesisir dan wilayah kepulauan lainnya. Kehadiran rumah sakit apung menjadi salah satu jawabannya, dan sinergi ini menjadi wujud nyata komitmen PIS untuk menyejahterakan masyarakat pesisir,” ujar Yoki, Minggu (19/11/2023).

Managing Director doctorSHARE Tutuk Utomo Nuradhy menjelaskan bantuan ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat di wilayah Sorong, terutama di Distrik Seget dan sekitarnya, di mana akses ke RSUD terdekat terbilang sulit dan mahal.

“RSA Nusa Waluya II rencananya akan melayani selama 45 hari di Papua dengan target hingga 5000-7000 pasien, termasuk untuk operasi minor maupun mayor,” katanya.

Untuk itu, lanjutnya,  PIS dan doctorSHARE membuka kesempatan bagi para relawan tenaga medis untuk membantu menyediakan layanan kesehatan di RSA Nusa Waluya II pada periode pelayanan tersebut.

Pendaftaran relawan dibuka mulai Senin (20/11/2023) ini.

Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly selaku Dewan Penasehat dari doctorSHARE mengapresiasi bantuan yang disalurkan oleh PIS untuk RSA Nusa Waluya II, yang akan melayani fasilitas kesehatan di Papua Barat pada Desember mendatang.

“Uluran tangan dari para donatur yang peduli bisa memberikan bantuan aksesibilitas kesehatan, terutama untuk masyarakat kita yang berada di pelosok dan pulau-pulau terpencil.

“Saat ini, doctorSHARE telah memberikan pelayanan medis lebih kepada 350 ribu orang, dan tentunya akan terus bertambah,” papar Yasona.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menambahkan bahwa apa yang dilakukan oleh doctorSHARE adalah hal luar biasa, di mana para tenaga medis dan seluruh pihak yang mendukung bekerja dengan hati membantu pemerintah memberikan layanan kesehatan.

Mulai dari operasi medis, intervensi kesehatan ibu dan anak, serta rumah sakit kecil di daerah yang kesulitan akses.

“Lalu saya mendengarkan apa yang dibutuhkan oleh docterSHARE, pertama kebutuhan alat medis lalu kedua adalah kebutuhan operasional termasuk bahan bakar kapal. Terima kasih untuk yang telah membantu,” kata Budi.

Vice President Corporate Communications PT Pertamina (Persero), Fadjar Djoko Santoso mengatakan Pertamina mendukung penuh kiprah anak usaha dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat termasuk bekerja sama dengan doctorSHARE untuk Rumah Sakit Apung di Papua Barat.

“Dukungan ini bentuk komitmen pada SDGs dengan membantu Pemerintah dalam menjamin kehidupan yang sehat dan mendorong kesejahteraan bagi semua orang di segala usia,” ujar Fadjar. 

Seperti diketahui, doctorSHARE merupakan yayasan nirlaba yang fokus pada pelayanan media.

Yayasan ini didirikan oleh dr. Lie Agustinus Dharmawan pada 2008 yang menggagas hadirnya rumah sakit terapung pertama di Indonesia.

Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, berkomitmen dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 dengan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDG’s).

Seluruh upaya tersebut sejalan dengan penerapan Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina.***/mel

Pemerintah harus Satu Suara Sebut Serangan di Papua sebagai Kriminal Bersenjata atau Separatis Teroris

JAYAKARTA NEWS— Anggota Komisi I DPR RI Fadli Zon menanggapi status Papua yang ditingkatkan menjadi siaga tempur oleh Panglima TNI baru-baru ini. Peningkatan status ini untuk menghadapi serangan terhadap satuan tugas terjadi di Distrik Mugi-Mam, Nduga, Papua pada Sabtu (15/4/2023). Menurut Fadli, Pemerintah Indonesia harus satu suara dulu terkait pemahaman penanganan situasi yang kian kalut ini. Sehingga, menambah korban yang berjatuhan, baik tentara maupun masyarakat sipil.

“Menurut saya, pemerintah ini harus satu suara. Kita harus jelas dulu nomenklaturnya dalam menghadapi ini. Ini KKB (Kelompok Kriminal Bersenjata) atau KST (Kelompok Separatis Teroris). Itu penanganannya beda. Terbaru ini, termasuk melakukan tindakan-tindakan teror yang nyata. Jadi, pemerintah, menurut saya, harus tegas. Banyak sekali warga sipil yang sudah meninggal dan demikian juga tentara,” ungkap Fadli sebagaimana dikutip dari dpr.go.id

Menyoroti penanganan masyarakat sipil di Papua, Politisi Fraksi Partai Gerindra itu berharap TNI untuk lebih waspada dan berhati-hati. Jika memang masyarakat sipil tersebut terbukti turut mendukung penyerangan dan bersenjata, jelasnya, maka tidak bisa dianggap sebagai masyarakat sipil. Oleh sebab itu, mengingatkan kembali Pemerintah Indonesia untuk membuat perencanaan hingga penelusuran secara matang dan tuntas.

“Saya tidak ingin lebih banyak ada korban jiwa. (Maka) harus tegas dengan perencanaan dan tuntas di dalam menelusuri persoalannya yang terkait (penyerangan dengan) senjata,” pungkasnya.

Diketahui, pada Selasa (18/4/2023), Panglima TNI Laksamana Yudo Margono menyatakan status Papua ditingkatkan menjadi siaga tempur. Adanya eskalasi status, menurutnya, untuk mengaktifkan naluri tempur para prajurit TNI usai jatuhnya sejumlah korban jiwa dalam operasi pembebasan pilot Susi Air.

Sebelumnya, pihak TNI telah mengupayakan pendekatan lunak di Papua dengan membangun komunikasi dengan warga maupun operasi teritorial. Selain itu, Panglima TNI Laksamana Yudo Margono dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo juga telah membentuk satuan tugas untuk operasi penyelamatan tersebut. Kehadiran satgas diharapkan dapat menjadi jembatan dialog dengan sejumlah tokoh-tokoh adat. ***

Muliakan Kepala Suku, Mulialah Papua

Oleh Egy Massadiah

JAYAKARTA NEWS— Mengilas gesekan yang ada di tanah Papua, seketika muncul doa, semoga kita tidak tergelincir menjadi bangsa yang lupa sejarah. Bahwa, persatuan dan kesatuan yang kita rasakan terjadi karena warisan adat-istiadat leluhur.

Bahkan, konsep ideologi negara Pancasila, oleh Bung Karno secara tegas dikatakan “digali dari nilai-nilai luhur yang ada di bumi Nusantara.”
Tatanan adat adalah jaminan keharmonisan kehidupan manusia di muka bumi.

Artinya, apa yang terjadi di Papua, dikarenakan terjadinya pergeseran tatanan. Moral bergeser, pertanda tatanan adat sejati telah ditinggalkan, setidaknya dilupakan.

Jika benar itu yang terjadi, maka kita bisa menelusur jauh ke akar masalah. Di Papua, dan di kebanyakan suku bangsa di negara kita para kepala adat, atau kepala suku, memiliki peran yang sangat penting.

Kehadiran mereka sudah ada sejak manusia mulai menggunakan akal yang diberikan Tuhan. Para pemuka adatlah yang kemudian menciptakan tatanan dan aturan.

Aturan-aturan yang berakar sekaligus bermuara ke harmonisasi kehidupan. Harmonisasi hubungan manusia dengan Penguasa Jagad Raya (manifestasi nilai-nilai Ketuhanan). Harmonisasi hubungan antara manusia dengan lingkungannya. Serta, harmonisasi manusia dan manusia.

Namun sangat disayangkan seiring waktu, kekuatan peradaban adat dan kearifan lokal ini terkikis. Bukan tidak mungkin menjadi terabaikan. Padahal ini adalah ketangguhan alami yang secara supranatural terimplementasi dalam tatanan adat sejak dulu kala.

Alhasil, demi melihat apa yang terjadi di Papua, spontan kita bisa menilai bahwa tatanan adat seperti tergerus keras.
Padahal, kekuatan adat sejati suku Papua sangat tua mulia.

Sekadar menyebut contoh, walau warganya hanya bercawat dan bertelanjang dada, namun kehidupan masyarakatnya sangat bermoral. Tidak ada kasus pemerkosaan atau pelecehan dan penyimpangan seksual. Itu bukti bahwa nilai moral sangat dijunjung tinggi.

Contoh yang lain, apabila seseorang melintasi kebun orang lain di tengah hutan dan ada buah-buahan atau sayuran yang siap panen dan walaupun tidak ada satu pun orang yang melihatnya, tetapi sang pelintas tadi tidak akan mengambil milik orang lain. Bahkan sekalipun ia dalam keadaan lapar.

Juga pada pesta adat, masyarakat membawa hasil kebun dan hasil berburu ke kepala suku. Kepala suku kemudian mengatur pembagian kepada para janda dan yatim piatu. Bahkan seorang kepala suku sejati tidak akan menikmati makanan kalau rakyatnya menderita.

Dan yang lebih luar biasa, ada pernyataan bahkan kalaupun musuh meminta perlindungan pada kepala suku, maka wajib dilindungi. Sungguh tinggi dan luhur kasih yang tulus dari orang Papua.

Demi mengembalikan marwah adat istiadat sejati suku Papua, tak ada pilihan lain kecuali melibatkan para ketua adat serta menyulam kegiatan yang berujung pada kesejahteraan rakyat. Pendekatan dengan hati dan keikhlasan kepada para ketua adat di Bumi Cendrawasih harus dilakukan dengan intensif.

Dalam dua tiga kali kunjungan ke Bumi Cenderawasih serta ngobrol ringan dengan orang Papua saya merekam aspirasi dari pikiran mereka. Para kepala suku dirangkul, dijadikan mitra karena tanggung jawab melayani masyarakat sudah mengalir dalam darah mereka.

Selama ini kepala suku terabaikan sehingga sering muncul masalah. Menurut seorang sahabat Papua, kepala suku yang sesungguhnya selama ini tidak diperkuat, mengakibatkan terjadinya kudeta dari kaum rakyat jelata dan mengklaim dirinya sebagai kepala suku, dan memimpin dengan tidak berpegang pada tatanan adat sejati. Inilah picu pergeseran moral dan kekacauan.

Lanjut kawan itu, kita perlu mengangkat kembali para kepala suku yang benar benar kepala suku. Siapa mereka? Mereka yang berhak atas tanah ulayat Adat, yang benar benar dari keturunan induk Kepala suku, yang dalam hidupnya sehari hari, tangannya terbuka bagi siapa saja. Mereka yang berbicara dan bertindak untuk kepentingan bersama dengan nilai kebenaran dan keadilan.

Disisi yang lain, sinergi Pentahelix harus diimplementasikan dalam persoalan ini. Pentahelix adalah sebuah konsep atau sistem sinergitas. Semua unsur yang kompeten, terlibat aksi gotong royong mengatasi masalah.

Karenanya, pemerintah, TNI/Polri, akademisi, pengusaha, budayawan, media, tokoh masyarakat dan semua pihak terkait harus bersama-sama melakukan dua upaya besar: Merevitalisasi peran ketua adat, dan mewujudnyatakan peningkatan kesejahteraan masyarakat Papua.

Hal lain yang juga harus menjadi perhatian yaitu pengenalan budaya serta tradisi, khususnya perantau yang berasal dari suku lain di tanah Papua. Kelak benturan atau gesekan budaya antara pendatang dan warga lokal dioptimalkan sebagai sinergi yang saling menghargai. Ada tujuan yang sama, yakni saling memahami nilai nilai budaya yang berlaku. Pendatang wajib memdalami istiadat Papua, laiknya pepatah dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.

Interaksi Pemuka Adat

Setidaknya ada 400-an lebih kepala suku tersebar di tanah Papua. Sekurangnya 250-an kepala suku utama. Mereka harus dirangkul. Jika perlu, difasilitasi untuk bisa berkeliling Indonesia.

Tujuannya agar mereka mengetahui bahwa Indonesia melalui berbagai suku yang ada, juga menyayangi warga Papua sebagai saudara sebangsa dan setanah air.
Bentuk kegiatan, bisa membagi para kepala suku atau ketua adat menjadi 10 – 15 kelompok. Tiap kelompok beranggotakan 10 – 20 orang.

Selain ketua suku atau ketua adat, disertakan pula anak-anak muda Papua. Kelilingkan mereka ke berbagai daerah di Indonesia. Bikin mereka melihat langsung belahan tanah air yang lain.
Melalui safari kepala suku dan pemuda Papua ke berbagai daerah di seluruh wilayah Indonesia, akan membuat mereka melihat langsung, bahkan berinteraksi langsung dengan saudara-saudaranya di daerah lain. Selama “tour” tersebut pengenalan dan pahaman budaya serta adat istiadat wajib disuguhkan.

Pada saat yang sama, di setiap titik kunjungan para kepala suku dibuat interaksi dengan semua tingkatan pemimpin, mulai dari kepala desa hingga gubernur. Juga berkeliling melihat proses bisnis (bisnis apa saja) dan bertemu para pengusaha. Mendatangi sekolah dan kampus-kampus.

Selain itu, ajak pula mereka menikmati tontonan budaya, tradisi kesenian lokal. Tak kalah pentingnya larutkan mereka merasakan denyut nadi kehidupan masyarakat setempat sekaligus berinteraksi di daerah kunjungan. Jangan lupa ajak mencicipi makanannya.
Tujuannya adalah agar mereka menyadari ihwal Indonesia yang beragam.

Itulah pentingnya semboyan bhinneka tunggal ika, perbedaan yang justru merekatkan dan menguatkan sekaligus keunggulan bangsa Indonesia. Di akhir program, semua bertemu di Jakarta, duduk bersama para menteri dan pejabat negara lain, termasuk dengan Presiden dan Wakil Presiden.

Pengakuan seperti ini mutlak, sebab sentuhan tangan dan tatapan bola mata sebagai sesama anak bangsa, antara petinggi di Jakarta dengan para kepala suku sungguh amat langka terjadi.

Kelak, semua ini yang akan meredakan tensi di Papua, sebab mereka terperhatikan dan merasakan langsung kehadiran Jakarta. Mereka akan menikmati ketulusan bahwa Indonesia sayang Papua.

Kembali ke Sagu

Kegiatan tidak berhenti di situ. Berbagai potensi “emas hijau” dan “emas biru” yang ada di bumi Papua juga harus diperhatikan untuk ditingkatkan sebagai penghasilan yang bisa meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat.

Di Papua, terdapat daerah yang sangat bagus untuk budidaya tanaman kebun, seperti durian, matoa, lengkeng, alpukat, jambu, dan lain-lain. Di samping potensi peternakan seperti babi, kambing, sapi, dan ayam.

Selanjutnya, undang para para pengusaha dari provinsi lain, untuk membantu memasarkan hasil bumi dan hasil ternak mereka. Bahkan, bukan tidak mungkin untuk dibuatkan pabrik pengolah hasil bumi, sehingga terdapat nilai tambah atas hasil panen warga Papua. Yang tak kalah pentingnya kembalikan potensi sagu Papua dengan membangun pabrik pengolahannya yang modern dan berkualitas ekspor.

Kalkulator bisnis sementara harus dinomorduakan. Sebab, keutuhan NKRI, kedamaian, persatuan dan kerukunan bangsa jauh lebih besar nilainya dibanding sekadar kalkulasi bisnis. Untuk misi yang mulia, segenap anak bangsa pun mutlak mendukungnya.

Maskapai penerbangan dan kapal kapal kargo mesti ikut ambil porsi mengangkut hasil bumi Papua ke Jakarta dengan biaya super murah. Agar hasil bumi Papua dinikmati orang Jakarta dan pembayarannya langsung masuk kocek petani dan nelayan Papua. Ikan tuna asap, buah matoa dll tentu memerlukan tangan tangan kreatif untuk mengemasnya agar higienis dan cantik hingga sampai di tangan pembeli.

Ujung dari itu semua itu adalah, kesadaran yang melekat pada setiap diri masyarakat Papua, bahwa “Papua Sayang Indonesia sebab, mereka sudah merasakan langsung Indonesia sayang Papua.”

Sebagai warga Indonesia, tempat kita berasal boleh berbeda, namun kita sedang mengayun langkah menuju arah yang sama. Kemauan hati yang kuat mampu menghalau segala rintangan, kita jaga alam, merawat perdamaian, mutlak tak boleh putus dan tak ada kata henti.

Se Helai Papeda

Hari ini dan kedepan, para pemutus kebijakan wajib menerapkan apa yang disebut sebagai memuliakan ketua adat. Mulailah mengajak toloh tokoh Papua bersafari keluar dari Papua untuk melihat belahan tanah air yang lain. Bukan hanya itu, konsep “emas hijau” dan “emas biru” seperti yang digulirkan Kodam Pattimura di Ambon juga patut digelindingkan di Bumi Cenderawasih.

Sebagaimana yang dilansir sejumlah media online, kabar gembira telah datang dari bibir Danau Sentani, Jayapura pada tanggal 3 September 2019. Sejumlah tokoh adat dan tokoh masyarakat Sentani berkumpul dalam acara makan bersama “Se Helai Papeda”.

Se Helai Papeda memiliki filosofi, jika ada masalah, ada perseteruan, perbedaan pendapat, dengan makan sagu bersama segala urusan menjadi selesai dalam semangat damai. Se Helai Papeda jika diterjemahkan bebas, artinya sebaskom atau senampan sajian papeda, makanan khas Papua berbahan baku sagu.

Dalam acara itu, “Jakarta” mengucurkan bantuan berupa perahu katamaran dan 10 unit mesin pembuat ikan asap. Dikabarkan, dalam waktu dekat, 200 mesin pengasap ikan bantuan Presiden Jokowi akan dibagikan untuk masyarakat Sentani, Jayapura dan sekitarnya. Yang juga menyejuklan setidaknya ada dua pabrik pengolahan sagu akan dibangun di tanah Papua dengan kapasitas ekspor. Semua ini untuk kesejahteraan ekonomi masyarakat Papua.

Akhirnya pendekatan hati adalah senjata masa kini yang teramat ampuh. Rebutlah hati orang Papua dengan kasih yang tulus, maka ia kan memberikan hidupnya bagimu.

Tabik.*

Egy Massadiah, wartawan

catatan: Inti tulisan ini pernah dimuat Harian Republika dalam Kolom Opini Tgl 15 Oktober 2019. Penulis kemudian memperkaya dengan berbagai data dan dimuat lagi di media ini.

Dua Marinir TNI AL Gugur Ditembak KKB

JAYAKARTA NEWS – Kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua tidak kunjung usai melakukan aksi penyerangan baik terhadap aparat keamanan negara (TNI dan Polri) dan masyarakat sipil. Aksi kelompok teroris bersenjata itu membuat dua prajurit TNI AL berkalang tanah. Gugur.

Akhir pekan lalu, Sabtu 26/3/2022), kelompok bersenjata itu menyerang Satuan Tugas  (Satgas) Muara dan Pesisir (Mupe) Korps Marinir TNI AL di Pos Quary Bawah, Distrik Kenyam, Kabupaten Nduga, Papua.  

Dalam keterangan persnya, Dinas Penerangan TNI AL menjelaskan kronologis peristiwa tersebut. Pada Sabtu itu,  pukul 17.40 WIT, kelompok seperatis teroris Papua (KSTP) Nduga yang dikendalikan  Egianus Kogoya  telah menyerang Pos Quary Bawah Satgas Mupe Yonif 3 Maret. Dalam aksinya, mereka  menyerang dengan menggunakan Pelontar Granat atau GLM (Grenade Launcher Module)  dari  arah belakang Pasar dan dari arah Sungai Alguru.

Seluruh personel Satgas yang berjumlah 35 orang, begitu mendapat serangan tersebut,  membalas dengan tembakan dan melakukan pengejaran terhadap kelompok itu. Pada pukul 18.00 WIT Dansatgas memerintahkan dua Tim Trisula yang dipimpin Wadandenpursus Kapten Mar Ari Mahendra dan 1 Tim Waltis dipimpin Letda Mar Pujo Pratikno, berangkat untuk memberikan bantuan ke Pos Quary Bawah dengan menggunakan kendaraan sebuah truk dan dua KIA.

Akibat serangan tersebut, dua personel TNI AL gugur, dua kritis dan enam luka ringan. Mereka yang menjadi korban adalah Letda Mar Iqbal dan Pratu Mar Wilson Anderson Here, meninggal dunia. Prajurit TNI AL yang menderita luka-luka adalah  Serda Mar Rendi Febriansyah dan Serda Mar Ebit Erisman dengan luka berat (kritis), sedangkan  enam orang lainnya mengalami luka ringan. Mereka adalah Serda Mar Bayu Pratama, Pratu Mar Rahmad Sulman, Prada Mar Dicky Sugara, Pratu Mar Adik Saputra A, Prada Mar La Harmin, dan Prada Mar Alif Dwi Putra. Rencana evakuasi korban  dilaksanakan dengan memperhatikan dan menyesuaikan cuaca.

Sejauh ini motif penyerangan masih didalami. Dilaporkan pula,  informasi sementara menyebutkan bahwa  senjata GLM yang digunakan untuk menyerang diduga dicuri dari Satgas Yonif 700, sedangkan munisi GLM merupakan  rampasan dari Satgas Yonif 330.

TNI AL menjelaskan, Pos Quary Bawah Satgas Mupe Yon 3 Mar berkekuatan 35 personel. Lokasinya  kurang lebih satu kilometer dari Polres Nduga, dan dua kilometer dari Koramil Nduga.  Selama ini Pos Quary Bawah tidak memiliki permasalahan dengan masyarakat di sekitar Pos. Bahkan kegiatan mereka aktif melakukan bakti sosial, seperti menggelar mobil sehat, mobil pintar, lomba-lomba, kegiatan adat dan kegiatan agama.

Kedekatan prajurit TNI dengan masyarakat Papua (Foto: Dispenal)

Atas kejadian ini TNI AL dan masyarakat Papua berduka, akibat gugurnya dua prajurit Marinir TNI AL terbaik yang selalu dekat dan membantu masyarakat sekitarnya. Kehangatan hubungan yang harmonis di masyarakat Nduga saat ini terganggu dengan situasi ini.

Sebagai ungkapan bela sungkawa, Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Yudo Margono memerintahkan seluruh jajaran TNI AL mengibarkan bendera  setengah tiang selama tiga hari berturut-turut mulai Senin 28 Maret 2022 dan melaksanakan sholat ghoib/berdoa bersama dipimpin perwira rohani  sesuai agama masing-masing.(sm)

Dana Otsus Naik, KSP : Tidak Boleh Lagi Ada Penyelewengan

JAYAKARTA NEWS— Deputi V Kepala Staf Kepresidenan Jaleswari Pramodhawardani menegaskan, tidak boleh ada lagi Penyelewengan Dana Otsus, Korupsi, dan pungli, dalam mekanisme penyaluran Dana Otsus ke depan untuk menjamin efektivitas program dan mencegah kebocoran Dana Otsus yang tidak tepat sasaran. Pernyataan ini disampaikan, dalam diskusi dengan Papua Corruption Watch, di Jayapura Kamis 11 November 2021.

Jaleswari menyampaikan salah satu kritik yang dialamatkan dalam pengelolaan dan pemanfaatan Otonomi Khusus di Papua adalah masih rendahnya peningkatan kesehateraan masyarakat. Salah satu indikatornya ditunjukkan oleh Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Papua yang berada di skor 60.44 turun 0.40 dibanding tahun 2019. Pun demikian IPM Papua Barat yang sedikit lebih baik di skor 65.09 walaupun tetap berada di bawah rata-rata IPM nasional tahun 2020 (71.94). Hal ini mencerminkan bahwa pengelolaan dan pemanfaatan Dana Otsus selama 20 tahun terakhir ini belum efektif dan harus dievaluasi akuntabilitasnya.

Kondisi yang belum ideal ini, harus menjadi evaluasi bagi semua pihak bahwa pendekatan kebijakan pembangunan di Papua tidak boleh biasa-biasa saja, tidak bolah parsial dan sporadis, serta tidak boleh asal terserap tanpa memperhatikan dampaknya.

Disahkannya UU 2/2021 tentang Otsus Papua ini dapat menjadi momentum perubahan. Beleid ini menekankan pada mekanisme baru pendanaan otsus, yaitu peningkatan alokasi dana otsus menjadi 2.25% setara dana alokasi umum nasional dimana 1% merupakan block grant (hibah) dan 1.25% perbasis kinerja.

“Namun harus diingat bahwa hibah tersebut harus memiliki alokasi sesuai aturan dan tujuan bagi peningkatan kesejahteraan masayarakat dengan akuntabilitas pelaporan dan evaluasi yang kuat. Hal ini untuk membuka ruang partisipasi publik dalam perencanaan sehingga diharapkan kontrol sosial menjadi lebih kuat dan pembangunan dapat dirasakan hasilnya secara siginifikan”

Jaleswari menyampaikan bahwa pemerintah sudah menyiapkan mekanisme Pencegahan Korupsi melalui Stranas PK yang dapat diterapkan untuk membantu pengelolaan dan implementasi Otsus ke depan.

Sesuai dengan Peraturan Presiden 54 Tahun 2018 Aksi Stranas PK Tahun 2021-2022, pemerintah daerah di Papua dan Papua Barat dapat melaksanakan aksi yang relevan untuk memperbaiki Tata kelola pemerintah, contohnya untuk penguatan pengendalian internal pemerintah, pengukuhan kawasan hutan dan one map, pengadaan barang jasa berbasis elektronik, serta sinkronisasi perencanaan dan penganggaran, yang dapat semakin memperkuat tata kelola pemanfaatan dana Otsus ke depan. (ks)

Pastor Benyamin Magai: Orang Papua harus ikut Memelihara Perdamaian

JAYAKARTA NEWS— Ada suasana berbeda di Sugapa, Intan Jaya, Minggu pagi. Ribuan masyarakat Papua dan pendatang duduk berbaur dengan khidmat di dalam satu ruang besar dan megah. Mereka adalah umat Katolik yang sedang mengikuti Misa Perayaan Ekaristi Kudus di Gereja Santo Michael.

“Misa hari Minggu biasa ke XXVIII hari ini melibatkan empat paroki, yaitu Paroki Bilogai, Paroki Bilai, Paraoki Titigi dan Paroki Bumbulo, yang tergabung dalam Dekenat Moni Puncak Jaya, Keuskupan Timika” kata Alpius Nambagani, Ketua Panitia Pentahbisan Imamat, Minggu (10/11).

Ditambahkannya, umat yang hadir dalam Ekaristi Kudus ini sekitar 2.000 orang. Misa terasa istimewa karena dipimpin Pastor Benyamin Magai dari Paroki Nabire didampingi tiga orang Diakon yang akan ditahbiskan sebagai imam pada hari Selasa, 12 Oktober mendatang.

Misa Perayaan Ekaristi Kudus di Gereja Santo Michael, Intan Jaya, Papua–foto humas

Di dalam kotbahnya, Pastor Benyamin Magai berkata, “Mengapa kau katakan aku baik? Tak seorangpun baik selain Allah! Engkau tentu mengetahui perintah-perintah-Nya ini: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, dan jangan memberi kesaksian palsu, serta tidak boleh menipu orang, dan hormatilah Ibu Bapakmu!”

Makanya, tegas Pastor Benyamin, sebagai orang Papua, khususnya di Kabupaten Intan Jaya harus saling menghormati antara umat manusia. Ikut memelihara perdamaian di Papua yang sudah tercipta dengan baik, terutama pada saat pentahbisan nanti.

“Saat ini adalah masa tenang sehingga tidak boleh melakukan kegiatan yang melanggar perintah Tuhan,” seru Pastor Benyamin Magai.

Misa hari minggu biasa ke XXVIII ini diisi paduan suara dari Satgas Brimob NTT dan paduan suara gabungan dari masyarakat Intan Jaya, dengan mengambil bacaan pertama dari Kitab Kebijaksanaan 7:7-11 dan bacaan kedua diambil dari  Kitab Ibrani 4:12-13. Sedangkan bacaan ijil diambil dari Injil Markus 10:17-30. (ketty)