Massa pendukung Prabowo – Sandi di Padang Lawas, Sumatera Utara. (foto: ist)
JAYAKARTA NEWS – Calon Wakil Presiden Sandiaga Salahudin Uno menyapa para pendukungnya di Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara lewat video call whatsapp. Terlihat masyarakat sangat antusias menyapa Sandiaga Uno lewat layar lebar yang disediakan panitia, Minggu (7/4).
Dalam kesempatan itu,
Sandi berpesan kepada para pendukungnya di Kab. Padang
Lawas untuk selalu ikhtiar, berdoa, dan berusaha agar Prabowo –
Sandi menang,
menjuju Indonesia yang adil dan makmur. Ajakan itu disambut teriakan semangat massa yang berkumpul.
Acara tersebut dihadiri oleh kader seluruh partai
koalisi pendukung Prabowo – Sandi di Kab. Padang Lawas.
Di antara mereka tampak antara lain Ir. Lukman Nasution,
Djamaluddin Hasibuan, Ali Juman Lubis, dan Syafaruddin, SH.
Warga yang
diwawancarai awak media, mengaku siap mendukung dan mengantar Prabowo Subianto
menjadi Presiden Republik Indonesia ke-8, menggantikan presiden ke-7, Joko
Widodo. Selain itu, pengacara muda kondang, Pitra Romadoni Nasution,
SH, MH di sela-sela pidatonya mengatakan dirinya optimis Prabowo – Sandi akan menang
di Kab. Padang Lawas, Sumatera
Utara. “Kita tidak ingin harga karet turun, harga sawit
turun, sementara harga bahan-bahan pokok meroket naik,” ujarnya seraya menambahkan, “cukup sampai di sini penderitaan
saudara-saudara sekalian. Saatnya kita bangkit menuju Indonesia adil dan makmur bersama Prabowo – Sandi.”
Putra Romadoni Nasution, SH, MH kedua dari kiri. (foto: ist)
Pitra Nasution juga menegaskan agar aparatur
Pejabat Desa tidak sekali-kali terlibat dalam politik praktis, dan melakukan praktik-praktik tak terpuji
demi memenangkan salah satu Paslon. Sebab, sebab jika nanti
ditemukan ada Kepala Desa atau Camat terlibat menggalang dukungan untuk salah
satu Capres, maka ia akan melaporkan hal tersebut ke Bawaslu dan Bareskrim
Mabes Polri.
“Saya tidak akan membiarkan aparatur desa yang menakut-nakuti masyarakat atau terlibat dalam politik
praktis. Oknum seperti itu ancaman
hukumannya sudah jelas, yakni pidana penjara. Jadi lewat panggung demokrasi ini saya tekankan kepada seluruh perangkat desa dan kecamatan tidak ikut campur. Undang-undang sudah
mengatur dengan jelas,” tegasnya,
Pitra juga meminta para pendukungnya untuk waspada terhadap kemungkinan aparat
bertindak tidak negral dalam Pemilu 17 April 2019 mendatang. Salah satu wujud
waspada dan peduli adalah dengan merekam setiap praktik kecurangan. Bukti itu
nanti bisa dijadikan alat bukti. “Tidak ada ampun bagi aparat yang ketahuan dan
terbukti curang,” ujar Pitra yang disambut gemuruh takbir. (dod)
Kain merah-putih berukuran raksasa menghiasi lautan massa di Stadiun Utama Gelora Bung Karno, kemarin (7/4/2019). (foto: kumparan.com)
JAYAKARTA NEWS – Pendukung capres-cawapres nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno antusias mengikuti kampanye terbuka yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno Senayan, Minggu (7/4). Massa pendukung datang dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka ada yang rela datang sejak pukul 00.00 WIB untuk mengikuti acara yang dimulai dengan salat subuh berjemaah.
“Dari jam 12 dini hari saya sudah di Stadion Bung Karno. Saya datang berdua,” kata Reza, pendukung Prabowo-Sandi dari Palembang yang kini
tinggal di Jakarta.
Tribun dan lapangan tengah Stadion Utama Gelora Bung Karno penuh massa. (foto: kumparan.com)
Reza mengaku takjub dengan massa yang terus
berdatangan. Ia lalu membandingkan jumlah pendukung yang datang dengan jumlah
massa yang hadir saat aksi 212 beberapa waktu lalu. “Ini (jumlahnya) ngelebihin (aksi di) Monas, kalau boleh
dibilang Ka’bah kedua di Jakarta, lihat saja orang-orang kayak ‘tawaf’ di dalam,” ujar Reza.
Reza tidak begitu peduli apa saja yang disampaikan
Prabowo saat orasi. Sebab, ia menegaskan dalam Pilpres 2019 keputusannya sudah
pasti memilih Prabowo. “Saya apa pun Prabowo ngomong kita terima, apa pun yang
dia lihatkan udah kita ngikut, kalau saya yang 01 (Jokowi) udah nggak respon,”
ungkap Reza.
Senada dengan Reza, Hendro juga mengungkapkan
tidak mungkin menjatuhkan pilihannya kepada Jokowi. “Ganti (presiden)
pokoknya,” tutur Hendro.
Hendro mengaku bagian dari alumni 212 merasa
bangga ikut bergabung dalam kampanye terbuka kali ini. Ia berani memastikan
jumlah massa yang hadir di kampanye Prabowo akan mengalahkan jumlah pendukung
Jokowi saat kampanye di SUGBK minggu depan.
“(Tanggal) 13 Slank hadir (kampanye Jokowi) tapi lebih banyak ini, di dalam (saat kampanye Jokowi) mungkin penuh tapi nggak meluber kayak ini,” ujar Hendro. Demikian berita yang dikutip dari kumparan.com. (*/rr)
Selain di dalam dan sekitar stadion, massa meluber hingga jalan-jalan di sekitar komplek Gelora Bung Karno. (foto: kumparan,com)Massa yang tidak bisa masuk ke dalam Stadion Utama Gelora Bung Karno, dengan tertib menyimak jalannya acara melalui giant screen. (foto: kumparan.com)
Kampanye akbar Prabowo – Sandi di Gelora Bung Karno hari ini (7/4) diawali sholat subuh berjamaah. Masa dari berbagai daerah sudah mulai masuk kawasan Senayan sejak Minggu dinihari. (foto: ist)
JAYAKARTA NEWS – Massa memutihkan kawasan seputar Gelora Bung Karno, Senayan hari ini (7/4). Rapat Akbar pasangan Capres-Cawapres 02, Prabowo Subianto – Sandiaga Uno adalah moment yang sangat ditunggu-tunggu oleh para pendukung. Tak heran jika geliat pergerakan massa sudah tampak sejak dinihari.
Memasuki area Senayan Minggu dinihari sekira pukul 01.00, tampak iring-iringan massa mengalir dari arah Jl. Gatot Subroto, Jl. S. Parman, seputar Jembatan Semanggi, dan dari jalan-jalan tembusan arah selatan Gelora Bung Karno. Ada yang mengendarai sepeda motor sembari mengarak bendera partai politik pengusung. Ada kelompok-kelompok kecil masyarakat berjalan kaki secara tertib di pedestrian.
Berpakaian serba putih, identitas yang telah mereka gunakan sejak gerakan 212 itu, kembali memutihkan kawasan Senayan, Minggu (7/4). Sandiaga Uno saat berbicara di hadapan lautan massa yang “demam Prabowo-Sandi”. (foto: ist)
Seiring guliran waktu, intensitas
pergerakan massa menuju GBK kian meningkat. Ini mengingatkan pada fenomena
banjir massa di mana pun Prabowo – Sandi berkampanye. Meski, seperti disinggung
Prabowo Subianto tadi pagi, toh ada televisi berita nasional yang memberitakan
sebaliknya. Televisi itu menyebut, kampanye Prabowo di Padang, ditinggalkan
massa.
Padahal, saat berkampanye di
Kawasan Wisata Danau Cimpago, Padang – Sumatera Barat, Selasa (2/4), massa
tumpah ruah yang mengakibatkan Prabowo sulit keluar dari arena kampanye. Di
Padang itu pula, Prabowo bersumpah, setelah terpilih menjadi Presiden RI
periode 2019 – 2024, tidak akan memperkaya diri sendiri maupun keluarga dan
teman-temannya. Apa yang ia dapat dan miliki, Prabowo menegaskan, sudah lebih
dari cukup.
“Yang Maha Kuasa telah memberi banyak kepada saya. Saya
sadar kalau saya dipanggil oleh Yang Maha Kuasa saya tidak membawa apa-apa.
Saya hanya ingin meniggalkan amal dan perbuatan baik untuk rakyat,” tegas
Prabowo, seraya menambahkan, “Saya akan berjuang keras untuk meringankan beban
rakyat.”
Sambutan massa yang “demam Prabowo-Sandi” di Padang, Sumatera Barat. (foto: ist)
Capres nomor urut 02 ini mengatakan, rakyat Indonesia, tanpa
kecuali, tidak boleh lagi ada yang frustrasi karena miskin. Rakyat Indonesia, harus
mendapatkan kehidupan yang baik. “Tidak boleh ada lagi yang lapar di negeri
ini, tidak boleh ada yang putus asa karena tidak mampu membeli susu untuk
anaknya,” kata Prabowo disambut ribuan tepuk tangan.
Massa makin bersemangat saat Prabowo membakar dengan
orasinya yang menyentuh kesadaran dan harga diri kita sebagai bangsa berdaulat.
Katanya, Indonesia harus menjadi bangsa pemenang agar tidak dihina oleh negara
lain. “Saya tidak mengijinkan rakyat Indonesia dihina-hina oleh bangsa lain.
Saya tidak izinkan harga diri rakyat Indonesia diinjak-injak oleh bangsa lain,”
tegas Prabowo.
Kemenangannya bersama Sandiaga Salahuddin Uno di Pilpres
2019, adalah kemenangan rakyat Indonesia
yang menginginkan perubahan hidup serta masa depan generasi bangsa. “Coblos
nomor 02 untuk masa depan semua. Kita menyongsong Indonesia yang bersih dari
korupsi, kita menyongsong Indonesia yang adil dan makmur,” kata Prabowo.
Ketua Umum Partai Gerindra ini akan meperjuangkan nasib para
petani dan nelayan agar bisa memiliki pengasilan dan kehidupan yang jauh lebih
baik. “Kita bejuang keras agar tidak impor-impor lagi, petani kita bantu.
Petani Jepang bisa kaya, masak petani kita miskin. Lihat laut Indonesia kaya,
masak nelayan kita miskin,” ucap Prabowo.
Capres 02, Prabowo Subianto memeluk haru pekerja bengkel bernama Rizal, yang telah menyerahkan tabungannya untuk disumbangkan bagi pemenangan Prabowo-Sandi. Hampir dalam setiap kampanye, bukan Prabowo-Sandi yang menebar uang, tetapi masyarakatlah yang memberikan sumbangan. (foto: ist)
Suasana kampanye menjadi haru-biru saat seorang simpatisan
dan pendukung Prabowo – Sandi bernama Rizal naik ke panggung untuk memberikan
sumbangan dana yang ia tabung hasil menyisihkan sebagian penghasilannya. Rizal
sehari-hari bekerja di sebuah bengkel di Kota Padang.
Rizal terlihat begitu terharu bisa bertemu secara langsung
dengan capres yang ia gadang-gadang bisa mengangkat derajat hidup rakyat
Indonesia. Saat Prabowo mengucapkan terima kasih, Rizal yang datang mengenakan
seragam kerja langsung menangis dan memeluk Prabowo. Bahkan, Prabowo sempat
terlihat mengusap air matanya usai memeluk Rizal. “Terima kasih. Ini bukti
gerakan kita didukung oleh rakyat kecil,” ucap Prabowo.
Berikut adalah suasana kampanye Prabowo – Sandi di berbagai daerah di seluruh Indonesia, yang selalu dipadati massa. Gambaran yang menyiratkan Indonesia “Demam Prabowo-Sandi”. (*/dcw)
“Bandung Lautan Manusia”. (foto: ist)Masa berlapis-lapis di Ciamis. (foto: ist)Di Purwokerto, kota leluhur Prabowo. (foto: ist)Semangat Batam menyambut Prabowo. (foto: ist)Massa Sidoarjo pun “demam Prabowo-Sandi”. (foto: ist)
Capres 02, Prabowo Subianto saat berkampanye di Tegal. (foto: ist)
JAYAKARTA NEWS – Calon Presiden Republik Indonesia nomor urut 02 Prabowo Subianto menyindir penguasa untuk tidak seenaknya berbuat pada rakyat. Hal itu ia sampaikan saat berkampanye di Kabupaten Tegal, Senin, 01/04/2019. Prabowo mencontohkan beberapa kasus kesewenang-wenangan terjadi seperti kasus kepala desa dipenjara dan kasus Ahmad Dhani.
“Orang yang di atas akan turun, makanya kalau di atas janganlah sombong. Ojo dumeh, ojo adigang, adigung, adiguno, ojo seenaknya
sama rakyat, ” kata Prabowo disambut meriah oleh ribuan masyarakat yang hadiri
kampanyenya.
Selanjutnya Prabowo meminta kepada masyarakat untuk ikut serta menjaga
suara rakyat di setiap tempat pemungutan suara (TPS) karena setiap suara
masyarakat akan menentukan nasib bangsanya.
“Karena sesungguhnya rakyat itu tidak bisa terkalahkan, jadi nanti
tanggal 17 April akan memegang kekuasaan yang sama, tidak ada jenderal, tidak ada petani,
tidak ada nelayan. Hari itu satu orang dan
orang yang lain akan memiliki suara yang sama. Jangan disia-siakan,“ bebernya.
Kalimat Prabowo mirip betul dengan pernyataan
Bung Karno suatu hari. Kurang lebih Bung Karno pernah mengatakan, “Senyuman, tawa, dan tangisku adalah sebuah kesaksian, bahwa kekuasaan
seorang Presiden sekalipun ada batasnya. Kekuasaan yang langgeng hanya
kekuasaan rakyat.”
Siaran Pers ini dirilis oleh Direktorat Bidang
Komunikasi dan Media, Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga
Uno. (*)
Prabowo – Sandi dalam acara deklarasi Aliansi Pengusaha Nasional untuk Prabowo – Sandi di Djakarta Theater, kemarin (21/3/2019). (foto: pusatsiaranpers.com)
JAYAKARTA NEWS – Mantan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Erwin Aksa Mahmud mengklarifikasi ihwal arah dukungan organisasi yang pernah dipimpinnya. Menurutnya, meski Ketua Umum HPMI saat ini mendukung pasangan lain, namun ia mengatakan anggota HIPMI mendukung Prabowo – Sandi.
“Saya bisa konfirmasikan, bahwa sebagian besar para
pengusaha sudah menentukan pilihannya kepada pasangan capres dan cawapres nomor
urut 02, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Kepalanya saja di sana, tapi
hatinya di sini. Nyoblosnya Prabowo – Sandi,” ujar Erwin Aksa saat deklarasi
Aliansi Pengusaha Nasional untuk Prabiowo – Sandi, di Djakarta Theater kemarin
(21/3).
Lebih lanjut, Siaran Pers yang dirilis Direktorat Bidang
Komunikasi dan Media, Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga
Uno itu menambahkan keterangan Erwin, bahwa tak hanya HIPMI bahkan KADIN (Kamar
Dagang dan Industri) pun sama. “Kepalanya ke sana, tapi anggotanya ke Prabowo –
Sandi,” tambah lulusan ekonomi University of Pittsburgh, Pennsylvania, yang merupakan
Wakil Ketua KADIN periode 2015-2020 itu.
Dalam acara deklarasi itu, Erwin Aksa yang keponakan Wakil
Presiden Jusuf Kalla itu juga membuat ribuan pengusaha yang hadir bertepuk
tangan, saat ia mengatakan, “Yang saya hormati para Ketua KADIN Daerah yang
hadir. Ini juga sama. Kepalanya di sana, badan dan hatinya ada di sini, dan
otomatis tangannya pasti ke nomor 2.”
Tak hanya itu, Erwin juga sempat menyinggung kehadiran
akademisi Rocky Gerung dalam acara tersebut. Ia menyematkan tokoh yang kini
banyak digandrungi masyarakat tersebut sebagai Ketua Asosiasi Akal Sehat.
“Dan saat ini juga ada Bang Rocky Gerung. Pendiri Asosiasi
Akal Sehat. Dan yang hadir di ruangan ini semua adalah yang berakal sehat,”
sapa Erwin kepada Rocky Gerung yang duduk tepat di belakang kursi Prabowo
Subianto.
Pada kesempatan itu, di hadapan Prabowo dan Sandiaga, Erwin
kembali menegaskan bahwa pengusaha yang mendukung pasangan nomor urut 02
tersebut tidak takut dengan intimidasi. “Di sini tidak ada yang takut proyeknya
dipotong atau disunat, karena kita sunat nanti,” pungkas Erwin yang membuat
ribuan pengusaha berdiri dan memberikan tepukan dukungan kepada Prabowo-Sandi.
(*/rr)
PEMILIHAN presiden langsung (Pilpres) 2019 rasanya seperti Nano-nano. Ada manis, asin, asem. Malah, ada pahitnya, rasa yang tidak disertakan dalam rasa permen.
Umat Islam, menjadi primadona untuk diperebutkan dalam Pilpres dan Pileg 2019 ini. Dan berhubung sebagian masyarakat Indonesia masih kental dengan patronasi, tidak mengherankan kalau para kiai, habib, ajengan, tuan guru, dan ustad, menjadi magnet bagi tim sukses Pilres untuk ditemui dan bakan dikunjungi (sowan). Efek suwan ke para kiai tersebut, tentu sangat diharapkam untuk dapat mendongkrak perolehan suara dalam pemilu.
Tidak mengherankan kalau kemudian muncul saling klaim dukungan dari basis Islam, dukungan kiai atau dukungan habaib (habib). Menurut Habib Fahri Almusawa dan Habib Sholeh Almuhdar, dalam Pilres 2019 ini dukungan para habib yang ada di tanah air tidaklah ke salah satu pasangan calon presiden – wakil presiden. Dengan demikian apabila ada pihak yang mengatakan, para habib mendukung pasangan nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, pada pemilu presiden 2019, itu hanyalah klaim.
Hal itu dikatakan Habib Fahri Almusawa dan Habib Sholeh Almuhdardi sela-sela ziarah ke makam Habib Abdullah Alhaddad Sangeng atau Kramat Bangil, di Bangil, Pasuruan, pada akhir pekan lalu. Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto bersama dengan Ketua DPP PDIP, Djarot Saiful Hidayat, dalam kesempatan yang sama juga berziarah ke makam Habib Abdullah Alhaddad Sangeng.
Habib Fahri mengungkapkan, kalau ada yang menyatakan bahwa semua habaib adalah pendukung Prabowo-Sandi, itu adalah pernyataan yang tidak benar. Faktanya, banyak Habaib yang mendukung pasangan nomor urut 01, Jokowi-Ma’ruf. “Itu hanya klaim,” katanya.
Habib Sholeh, yang juga anggota Tim KH Ma’ruf Amin, menambahkan, untuk menambah basis dukungan dalam Pilpres 2019, pihaknya terus melakukan penggalangan dukungan untuk pasangan Jokowi-Kiai Ma’ruf.
“Satu orang habib sebaiknya tak dianggap remeh, karena setiap habib melakukan komunikasi setiap harinya dengan masyarakat,” katanya.
Dia juga mengingatkan bahwa Habib bukan hanya mereka yang bersorban saja, tapi juga yang tidak bersorban.
“Mereka yang tidak bersorban juga Habib. Legalitasnya juga jelas. Kami juga berdakwah,” katanya seperti dikutip Antara belum lama ini.
Habib Sholeh mengingatkan, semenjak zaman Perjuangan kemerdekaan, para Habib juga ikut berjuang. Yang penting dicatat, para Habib tidak pernah jadi pemberontak.
“Habaib datang ke Indonesia untuk berdakwah, dan dalam sejarah habaib ke Indonesia belum ada yang jadi pemberontak,” tegasnya. ***
Beruntung saya bisa bertemu Taufiq Rahman di Jakarta. Walau baru bisa ngobrol setelah lewat tengah malam.
Harap maklum, saya bertemu dengannya saat menjalankan pekerjaan mengelola siaran langsung Pidato Kebangsaan Calon Presiden – Wakil Presiden nomor urut 02: Prabowo Subianto – Sandiaga Salahuddin Uno, Senin malam lalu.
Saya ajak juragan waralaba Coklat Point itu ke kantor saya di Tebet. Beruntung, ia mau. Saya janjikan sesuatu untuknya, yang tidak mungkin bakal ditolaknya: kopi.
Saya tahu, ia pengopi berat. Sayangnya ia baru kenal kopi jitu: kopine siji campuranne pitu. Jagung, beras dan entah biji apa lagi.
Malam itu saya berjanji menyajikan kopi terenak yang ada di mini coffee bar kantor saya: Arabica Gayo Sipirok Pandoloan, Lanang dan Luwak. “Kopi produksi Pesantren Darul Mursyid SD Hole, Sipirok, Sumatera Utara,” kata saya di tengah keriuhan acara.
Kata “pesantren” itu sengaja saya ucapkan dengan keras. Saya tahu, Taufiq seorang santri. Abahnya seorang kyai berpengaruh di Jawa Timur. Punya pesantren besar di Batu, Malang. Dengan penegasan kata “pesantren” itu, saya ingin Taufiq mendukung saya: membantu pengembangan ekonomi berbasis pesantren yang sedang dijalankan Darul Mursyid. Melalui perkebunan kopi.
Saya juga tahu, Taufiq yang kini tinggal di Semarang itu seorang pengusaha muda yang gigih. Coklat Point yang dirintisnya berkembang pesat. Sudah 250 gerai di seluruh Indonesia. Hanya dalam dua tahun.
Saya berharap Taufiq bisa menciptakan satu resep minuman baru berbahan baku kopi. Untuk mendukung Pesantren Darul Mursyid yang sedang membina petani kopi di Sipirok.
Apalagi kalau bisa menciptakan warung kopi dengan konsep baru. Yang unik. Yang bisa diwaralabakan. Bisa menasional. Apalagi sampai bisa mendunia. Akan menjadi kebanggaan tersendiri.
“Pesantren bisa menyiapkan kopi terbaik jenis Arabica Gayo Sipirok seperti Pandoloan, Situnggaling, Lanang, Luwak, Wine dan Red Cherry dalam volume besar,” kata saya sembari memperlihatkan foto-foto saat berkunjung ke perkebunan kopi pekan lalu.
Continuity bahan baku merupakan persoalan krusial bagi usaha makanan atau minuman. Usaha warung kopi akan mencari supplier dari tangan pertama. Langsung dari pemilik kebun. Agar kualitas produknya terjaga. Ketersediaannya terjamin. Pesantren Darul Mursyid punya semuanya: lahan kopi yang luas, kualitas kopi yang bagus dan produktivitas kopi yang tinggi sepanjang waktu.
Menjelang subuh, kami berpisah. Saya pulang ke rumah di Kelapa Gading. Taufiq kembali ke hotelnya di Kalibata. Kami akan kembali bertemu, setelah menemukan gagasan tentang warung kopi konsep baru. Selekasnya. ***
“Topic of the Week” di Seknas Prabowo – Sandi, Jl HOS Cokroaminoto, menghadirkan dari kiri Ramadhan Pohan (moderator), dan para pembicara Amien Rais, Rizal Ramli, Hidayat Nurwahid, dan Syarwan Hamid. (foto: rampo).
Malari, Malapetaka 15 Januari 1974. Rizal Ramli, mantan menteri perekonomian justru tidak suka dengan istilah “malapetaka”. Sebab menurutnya, peristiwa itu merupakan pekerjaan intel buat stigma untuk gerakan mahasiswa. “Saya lebih suka menyebutnya sebagai gerakan 15 Januari 1974, bukan malapetaka. Itu gerakan kok. Temanya apa waktu itu? Keadilan dan antidominasi asing. Bukan antiasing,” tandas Rizal dalam diskusi “Topic of the Week” di Seknas Pemenangan Prabowo Sandi, Jl. HOS Cokroaminoto, Jakarta Pusat, hari ini (15/1/2019).
Ia menambahkan, kita banyak teman asing, dan banyak juga orang asing yang bagus. Sedangkan tema gerakan, antidominasi asing. Itu masih relevan sampai hari ini dan sampai kapan pun. Disebutkan, saat itu Perdana Menteri Jepang Tanaka memang sangat dominan. Banyak bisnis patgulipat antarelite Orde Baru dan jepang.
“Tapi setahun kemudian PM Tanaka jatuh, karena disogok perusahaan Amerika dalam penjualan pesawat. Ada UU antimenyogok pejabat luar negeri oleh Amerika. Tema ketidakadilan dan dominasi asing sampai hari ini masih kuat sekali,” tambahnya.
Januari lantas disebut sebagai “bulan gerakan”. Aksi tahunn 1966 terjadi bulan Januari. Aksi tahun 1974 pun di bulan Januari. Bahkan aksi 1978, gerakan masih antisoeharto di seluruh kampus di Indonesia pun terjadi di bulan Januari. “Kami semau ditangkap. Esensinya waktu itu, kami tidak mau Indonesia yang otoriter. Kita mau Indonesia yang demokratis,” tegasnya.
Desakan mahasiswa ketika itu juga merembet ke gerakan Indonesia yang bebas dari KKN. Akibatnya, kampus ITB diduduki tentara selama tiga tahun. Kamus UGM diserbu. Unhas juga dierbu. “Saya dan kawan-kawan dipenjara 1,5 tahun. Apa tema gerakannya? Ketidakadilan, anti-KKN, demokratisasi. Hari ini, tema itu masih berlaku. KKN makin banyak, bukannya makin kurang. Kenapa? Karena demokrasi kita hari ini adalah demokrasi kriminal,” ujar Rizal Ramli.
Indonesia dinilai sok-sokan ikut sistem politik Amerika Serikat. Sementara di Amerika, partai tidak dibiayai negara. Parpol di sana bisa mengumpulkan dana dari rakyat atau perusahaan. Indonesia sok jago dengan sistem itu. Akibatnya, menurut Rial Ramli, terjadi korupsi paling gede di Indonesia, yakni korupsi politik. “Kita harus ganti sistem ini. Partai dibiayai negara, sehingga tugas partai hanya mencari kader yang amanah, yang bagus,” tuturnya.
Roh kriminal demokrasi, tambahnya, harus diganti menjadi roh amanah dan pemerintahan yang baik. Itu bisa dilakukan, sehingga partai politik tidak sibuk cari duit. Jika sudah begitu, barulah demokrasi bekerja untuk perbaikan rakyat. Tidak seperti hari ini, di mana demokrasi bekerja untuk memperkaya elite. Di DPR, eksekutif. Ini harus dihentikan, kalau kita ingin demokrasi bekerja untuk rakyat.
Tema anti-KKN sebetulnya pesan utama gerakan reformasi. Tapi hari ini demorkasi kita, dipelopori partai-partai ujung tombak yang dikelola bagaikan oligarki, bagaikan CV. “Teman saya dari Indonesia Timur bilang, ‘Bang kalau begini, si ini urusin anaknya, si itu urusin anaknya, kapan urusin kita? Karenanya kita ingin merdeka.”
Harus dibenahi. Memang enggak soal anak siapa, anak siapa. Tapi harus demokratis di dalamnya. Harus dibiayai negara seperti di Eropa, Australia dan sebagainya. Banyak orang terganggu, pemerintah tidak adil secara hukum. Kalau ada yang hoax, aktivis label Islam ditangkap. Tapi yang lain tidak ditangkap.
Hukum yang benar ini harusnya siapa pun hoax, jangan ditanya agama, suku, statusnya. Proses. Itu baru adil.
“Tapi hari ini, walau Mas Jokowi keliling pesantren, undang tokoh pesantren ke istana, buat mayoritas umat Islam, enggak adil kok ini. Pemimpin itu harus adil. Baru dihormati, baru disayangi oleh rakyatnya. Tidak adil lainnya apa? Pak Jokowi awal-awal bagus. Karena dia kampanye dengan Trisakti. Itu antitesa daripada neoliberalisme. Tapi begitu angkat menteri, dia pilih yang anti-Trisakti. Misal bicara stop impor, kedaulatan pangan. Tapi pilih menteri rajanya impor. Ini paradox,” paparnya.
Hari ini, petani pangan di Pulau Jawa kecewa sekali. Karena impor gula berlebih-lebih, impor padi berlebih-lebih. Petani kebun di luar Jawa yaitu kebun sawit, kopra, karet, karena harga anjlok hampir 80%. Pemerintah dinilai tidak bikin apa-apa. “Kalau harapan dukungan dari petani, saya mohon maaf. Sudah selesai,” tegasnya.
Amien Rais dan Rizal Ramli dalam Topik of the Week, di Seknas Prabowo Sandi, Jl HOS Cokroaminoto, hari ini (15/1/2019). (foto: rampo)
Demikian juga nelayan. “Ibu Susi bagus sekali nembakin (kapal), dan dia tidak bisa disogok. Tapi empati dia terhadap nelayan agak kurang. Dulu saya coba imbangin, ciptakan asuransi untuk nelayan. Sayang tidak diteruskan. Nelayan itu paling miskin di seluruh Indonesia,” kata mantan Menko Maritim di era Jokowi yang kemudian digantikan Luhut B Panjaitan.
Rizal kemudian bicara tentang buruh. “Organisasi buruh paling besar tidak pro Mas Jokowi. Organisasi yang diakomodasi ecek-ecek. Tapi organiasi buruh yang betul-betul kuat di akar, sama sekali dimusuhi. Demikian pula kaum pahlawan tanpa tanda jasa, para guru. Bahkan juga profesi dokter, perawat. BPJS kagak dibayar 8 bulan terakhir. Masalah gini aja kagak bisa diselesaikan BPJS. Kasih saya, seminggu beres. Karena pendekatannya tambal sulam bukan struktural,” papar Rizal.
Jadi secara sektoral, petani, nelayan, buruh, guru, profesi kesehatan ingin perubahan. Perubahan sebetulnya bisa terjadi. “Mohon maaf, saya di atas kertas sudah simpulkan, perubahan sudah selesai. Memang lembaga-lembaga poling mengatakan, petahana masih unggul 20%. Saya mohon maaf, pada Pemilu 2014, 12 perusahaan poling dibayar oleh enam orang yang kuasa. Menyimpulkan bahwa kalau PDIP mengajukan Megawati, PDIP akan anjlok dari 16% ke 12%. Tapi kalau PDIP ajukan Jokowi, PDIP naik dari 16% ke 33-35%. Saya enggak punya perusahaan poling. Tapi Rizal Ramli ketemu rakyat di jalan. Kami simpulkan waktu itu Jokowi effect hanya 2%. Apa yang terjadi? Jokowi terpilih jadi presiden, PDIP hanya naik dari 16% ke 18%. Artinya, kesalahan proyeksi 8,5 kali dari margin of error. Sebetulnya survey yang bayar boleh siapa pun. Kalau betul-betul ilmiah, metodologinya, margin of error 2%,” papar Rizal.
Ia menambahkan, lembaga poling seperti itu, tidak perlu dipercaya. Mereka itu alat propaganda. Karena kalau di luar negeri, harusnya lembaga poling bilang dibiayai ini misalnya. Sehingga rakyat bisa tahu. Ini tidak ada penjelasan sumber pembiayaan. “Hari ini lembaga poling bilang gap Jokowi dan Prabowo 20% lebih. Come on….,” tutur Rizal.
Rizal juga menambahkan, “Pada saat jaya-jayanya Jokowi cuma dapat 52-53%. Kok hari ini ada yang klailm lembaga survei Jokowi dapat 56%. Yang benar saja. Wong di puncaknya saja (2014) dia hanya 53%. Jadi lembaga survei sudah kompak maintenance perbedaan Jokowi dan Prabowo itu 20%. Supaya nanti bisa menjustifikasi kecurangan.”
Gapnya itu sekarang sebenarnya sudah kurang 10%. Jokowi stagnan, Prabowo-Sandi naik. Gap-nya itu kurang dari 10%. Yang belum menentukan sikap sekitar 20%. Kalau ada kecurangan, maksimum efeknya 5%. Oleh karena itu, kalau mau menang Prabowo-Sandi harus menang double digit. Di atas 10% baru kecurangan itu tidak ada artinya.
Menurut Rial, kunci kemenangan adalah militansi, militansi, militansi. “Wong duitnya kagak punya. Prabowo bilang sama saya, ‘Mas Rizal ada kemajuan tidak?’. Saya bilang ada. Prabowo lalu bilang ‘Syukur alhamdulilah. Wong kita selama ini ‘pahe’. Maksudnya Prabowo itu paket hemat. Mahatir Muhamamad, Anwar Ibrahim enggak punya duit lawan Najib. Najib punya media, punya uang tak terbatas. Mahatir menang, karena mereka militan militan. Jadi kalau mau double digit harus begitu,” katanya.
Soal kecurangan Rizal mengingatkan, bahwa kita setuju dengan proses demorkasi. Ketidakpuasan, keinginan buat perubahan harus disalurkan lewat cara-cara demorkatis yaitu Pilpres. “Tetapi, kalau ada yang coba-coba untuk super curang bulan April nanti, itu akan menantang PEOPLE POWER,” tandas Rizal Ramli. (*/rr)