Pjs Bupati Trenggalek Minta Pariwisata Menggeliat Kembali

JAYAKARTA NEWS—-Penjabat Sementara (Pjs) Bupati Trenggalek, Drs Benny Sampirwanto, M.Si, mengatakan, sektor pariwisata di Trenggalek bakal berkembang. Hal itu ia kemukakan saat membuka rapat koordinasi sinergi kepariwisataan Bakorwil V di Trenggalek Selasa (20/10/2020).

Semua itu, lanjutnya, akan terwujud bilamana antar wilayah bisa bersinergi dengan baik. “Mari kita tata pariwisata kita,” ajak mantan Plt. Bakorwil Madiun ini.

Dikemukakan, pandemi telah membuat sektor pariwisata mengalami masa-masa yang sangat sulit. Keterbatasan ruang gerak akibat pandemi membuat sektor ini serasa berhenti. Pergerakan orang terbatas karena penerapan protokol kesehatan.

Minimnya pergerakan orang dari suatu daerah ke daerah lain secara otomatis membuat paket-paket wisata yang ada kurang laku dijual, kamar-kamar hotel kosong karena tidak ada tamu,

Begitu juga rumah-rumah makan mengalami penurunan omset penjualan, dan pengelola-pengelola destinasi juga mengalami kesulitan karena tidak ada wisatawan yang berkunjung.

Apalagi kondisi ini diperparah dengan adanya isu mega thrust yang bisa memicu timbulnya tsunami setinggi 20 meter. Tentunya hal ini semakin menciutkan nyali orang-orang untuk berwisata ke daerah-daerah yang berada di pesisir selatan Pulau Jawa, termasuk Kabupaten Trenggalek yang berada di Pesisir Selatan Jawa.

Padahal sektor pariwisata cukup memberi berkontribusi signifikan terhadap devisa negara dan PDRB daerah. Mengingat peran pentingnya dalam menggerakan perekonomian, membuat pria yang pengalaman di wilayah itu mengajak semua daerah untuk bersinergi dan bangkit bersama.

“Kita harus optimis bahwa pariwisata akan terus survive dan kembali ke masa kejayaannya seperti sebelum masa pandemi,” ungkap Benny.

Isu mega trush, lanjutnya sempat menggemparkan dan membuat kunjungan wisata menurun drastis. “Sebelumnya saya sempat takut dengan isu ini, namun setelah mengikuti rakor dengan beberapa ahli, duduk permasalahan ini menjadi semakin jelas,” terangnya.

“Keresahan ini berawal dari salah kutip sebuah media masa. Berpotensi bukan diprediksi Tsumani. Ini pemilihan kata yang jauh maknanya,” jelasnya.

Selain itu potensi Tsunami ini merupakan sebuah tulisan dalam sebuah jurnal untuk kalangan tertentu, bukannya untuk konsumsi publik yang kemudian meresahkan masyarakat.
Benny mengajak Bakorwil V untuk ikut menyadarkan masyarakat, dimanapun tempat kemungkinan bencana itu bisa terjadi. Dan apa yang telah menjadi viral itu adalah sebuah kajian.

Selain itu kabar vaksin Covid-19 yang akan masuk secara bertahap ke Indonesia mulai November nanti tentunya akan menambah keoptimisan kita. Sedangkan orang-orang sudah mulai sadar akan pentingnya menerapkan protokol kesehatan secara disiplin.(poedji)

Jadi Favorit Destinasi Wisata, Banyuwangi Siap Dikunjungi

JAYAKARTA NEWS—Pemulihan sektor wisata di bumi Banyuwangi sudah terlihat tanda-tanda bergeliat. Banyak pihak memberi dukungan agar pariwisata di Banyuwangi segera bergerak. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pun bergerak cepat. Salah satunya menggandeng penyedia layanan layanan dan gaya hidup Traveloka.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, Traveloka telah menggelar survei tentang destinasi favorit wisatawan domestik yang ingin dikunjungi setelah sektor pariwisata kembali dibuka. Hasilnya, Banyuwangi berada di posisi ketiga di bawah Bali dan Yogyakarta. ”Berdasarkan survei Traveloka ke para penggunanya, Banyuwangi masuk tiga besar favorit destinasi. Maka, langkah-langkah pemulihan sektor wisata harus segera dilakukan. Salah satunya kami dibantu oleh Traveloka yang akan memperkuat pemasaran wisata Banyuwangi,” ujar Anas, Sabtu 1 Agusutus 2020 seperti dikutip di laman resmi pemerintahan Banyuwangi.

Tak sekadar menyodorkan hasil survei, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menindaklanjuti dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) Bupati Azwar Anas dengan Co Founder dan Direktur Traveloka Albert Zhang di Pendopo Sabha Swagata. “Sektor pariwisata adalah pengungkit sektor lainnya di Banyuwangi. Sektor pariwisata mendorong peningkatan sektor olahan pangan berbagai produk kreasi UMKM, jasa transportasi, dan sebagainya. Turunannya banyak dan memengaruhi kesejahteraan banyak orang,” ujarnya.

Dengan pemulihan ekonomi sektor wisata, gerak perekonomian lokal akan kembali bergeliat. Pekerja pariwisata yang dirumahkan kembali bekerja, UMKM kembali berproduksi. “Tentunya dengan menerapkan protokol kesehatan,” jelas Anas.

Sementara itu, Co -Founder dan Direktur Traveloka Albert Zhang mengatakan, pihaknya berkomitmen membantu Banyuwangi untuk terus berkembang. “Kami berharap kerja sama ini dapat membantu para mitra di Banyuwangi dalam mempercepat pemulihan operasional bisnisnya di era normal baru ini melalui pemanfaatan teknologi sebagai medium utamanya,” Kata Albert.

Salah satu yang difokuskan pada tahap awal, lanjut Albert, adalah pengembangan homestay yang kini banyak tumbuh di Banyuwangi. Tak hanya memudahkan wisatawan untuk mendapatkan akses yang terdigitalisasi, pemanfaatan teknologi platform Traveloka juga memudahkan para pelaku homestay untuk memasarkan produk dan layanannya kepada konsumen.

“Kami akan mengintegrasi homestay-homestay di Banyuwangi dengan teknologi Traveloka. Kami punya data-data kecenderungan konsumen wisata yang bisa diintegrasikan dengan homestay di Banyuwangi. Sehingga homestay akan mendapatkan jangkauan target konsumen yang luas dan tepat,” imbuhnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Muhammad Yanuarto Bramuda, mengatakan, bersama Traveloka, homestay di Banyuwangi akan membuat paket tidak hanya penginapan, namun juga dengan atraksi wisata sesuai potensi yang ada di kawasan tersebut. “Misalnya homestay di perkebunan kopi, tidak hanya menawarkan penginapan saja, namun juga menyajikan paket atraksi memetik, menyangrai, mengolah kopi. Atau homestay di kawasan batik. Wisatawan bisa mendapat atraksi wisata dengan diajak mencanting batik,” kata Bramuda.

Dengan demikian akan memberi nilai tambah bagi homestay itu sendiri. Misalnya harga kamar Rp100.000, ditambah atraksi wisata menjadi Rp200.000 hingga Rp300.000. “Itu akan menjadi pengalaman bagi wisatawan,” ujarnya.

Sebelumnya, Banyuwangi juga telah disambangi Menteri Pariwisata Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio bersama rombongan Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan dan Kepala BKPM Kepala BKPM Bahlil Lahadalia.

Pada kesempatan itu Wishnutama mengapresiasi apa yang telah dilakukan Banyuwangi dalam mengembangkan pariwisata. Dia menilai, Banyuwangi memiliki skenario jelas dalam pengembangan pariwisata. Pariwisata harus punya strategi seperti yang dilakukan Banyuwangi. Bagaimana memberdayakan dan menggerakkan rakyat untuk menggeliatkan sektor wisata, bagaimana pariwisata ini bisa berdampak ke warganya. “Setiap daerah harus punya strategi pengembangan pariwisata seperti Banyuwangi, jadi bukan hanya punya destinasi lalu promosi dan selesai,” jelasnya.

Apresiasi Menpar Wishnutama kepada Banyuwangi diwujudkan dengan mengucurkan program yang akan meningkatkan sektor wisata daerah dengan revitalisasi amenitas di sejumlah titik destinasi Banyuwangi. “Beberapa dukungan yang akan kami lakukan di Banyuwangi yaitu revitalisasi amenitas di sejumlah tempat. Antara lain Agro Wisata Tamansuruh, Pantai Grand Watudodol, Pantai Pulau Merah, Alas Purwo, dan Bangsring Underwater,” kata Menpar.

Tentu saja perencanaan pemulihan sektor pariwisata tersebut disambut antusiasi para pelaku wisata di Banyuwangi. Dengan protokol kesehatan ketat, destinasi dan desa wisata kini mulai banyak dikunjungi wisatawan. Okupansi hotel dan homestay mengalami peningkatan. Pelaku UMKM dan olahan pangan pun mulai banyak menerima pesanan.

Seperti diungkapkan Mahsun, pengelola Desa Tamansari, Kecamatan Licin, yang merupakan kawasan desa wisata di kaki Gunung Ijen. Dia bercerita, dalam empat bulan terakhir, pengunjung ke Desa Tamansari turun drastis. Sebelum pandemi Covid-19, pengunjung ke desa itu bisa sampai 12.000 orang per bulan. “Alhamdulillah, sebulan ini pengunjung mulai banyak. Hitungan kami, ada sekitar 5.000 orang telah mengunjungi berbagai destinasi di Desa Tamansari sebulan terakhir. Ini membuat kami optimistis, ekonomi masyarakat dan desa kami segera pulih serta kembali membuka lapangan kerja,” kata Mahsun.

Begitu halnya dengan okupansi hotel yang kembali meningkat. Data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menunjukkan, okupansi hotel di akhir pekan mencapai hingga 70 persen pada tiga pekan terakhir. Sebelumnya, sejak Maret sampai Juni, okupansi hotel nyaris 0 persen.

Pinisri yang membuka usaha kuliner “Sri Mulyo” di Kecamatan Songgon juga sudah merasakan geliat sektor wisata di Banyuwangi. “Warung sudah mulai buka kembali, order kue dan keripik jalan terus. Kami mendukung pemulihan sektor wisata, tentu dengan aturan kesehatan yang berlaku,” pungkasnya. ***alf

Kampung Ulos Samosir Sumut Mulai Ditata

JAYAKARTA NEWS— Penataan lima  Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Prioritas. Yakni;  Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo dan Manado – Likupang, masih terus berlanjut.

“Dalam tatanan normal baru, Pemerintah meyakini bahwa salah satu sektor ekonomi utama yang dapat rebound dengan cepat adalah sektor pariwisata. Untuk itu, tidak ada kegiatan pembangunan infrastruktur pada lima  KSPN yang dihentikan,” kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono sebagaimana dikutip dari laman setkab.go.id

Pulau Samosir, Provinsi Sumatra Utara sebagai salah satu destinasi dalam KSPN Danau Toba terkenal dengan keindahan alamnya dan keunikan budaya, termasuk pembuatan kain tenun Ulos khas Sumatra Utara yang dibuat secara tradisional.

Kegiatan produksi tenun ulos yang menampilkan kearifan lokal juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para turis domestik dan mancanegara. Sebagai upaya mempertahankan seni dan budaya lokal dalam produksi tenun ulos, Kementerian PUPR pada tahun 2020 ini telah memulai proses lelang pekerjaan Penataan Kampung Ulos Huta Raja dan Huta Siallagan di Kabupaten Samosir dengan Pagu DIPA 2020-2021 sebesar Rp57,9 miliar.

Kedua desa tersebut selama ini dikenal sebagai desa wisata yang kerap disambangi wisatawan. Selain sebagai pusat tenun, di kawasan Huta Raja juga masih terdapat Rumah Adat Batak Samosir atau Rumah Gorga.

“Selain sebagai pusat tenun, dengan adanya beberapa Rumah Gorga yang sudah cukup tua menjadikannya sebagai kawasan pusaka. Ada sekitar 40 unit rumah yang akan kita coba rehabilitasi, supaya pelatihan tenun dan keahliannya terus berlanjut,” kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono.

Dikatakan Menteri Basuki, ruang lingkup penataan adalah perbaikan kondisi rumah gorga dan lingkungannya. Selain kondisi beberapa rumah yang sudah terdegradasi, sebagian rumah lainnya telah beralih wujud menjadi rumah modern.

Menurut Menteri Basuki, bila Kampung Tenun Ulos Huta Raja dapat ditata dengan lebih baik serta dilengkapi dengan berbagai infrastruktur dasar, seperti air bersih sanitasi, dan lansekap yang menarik, maka diharapkan dapat meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung.

Direktur Jenderal (Dirjen) Cipta Karya Danis H.Sumadilaga mengatakan, pemugaran Rumah Gorga yang merupakan cagar budaya akan melibatkan tukang-tukang lokal setempat sehingga sekaligus akan menjadi workshop/media latihan bagi masyarakat setempat untuk memelihara keberlanjutan tradisi dan keahlian yang unik ini.

“Ada beberapa rumah yang bentuknya telah beralih menjadi rumah modern, sehingga nantinya akan kita coba relokasi dan buat sepenuhnya menjadi rumah gorga. Kita akan melibatkan masyarakat setempat karena butuh keahlian khusus untuk membangunnya, sehingga menjadi kombinasi pekerjaan konstruksi modern dan kearifan lokal,” ujar Danis.

Untuk mendukung pemulihan ekonomi lokal di kawasan tersebut, Danis juga menyatakan bahwa setelah direvitalisasi, rumah-rumah gorga tersebut dapat menjadi homestay bagi para wisatawan.

Sebelumnya pada tahun 2017 Kementerian PUPR juga telah menyelesaikan penataan kawasan di KSPN Danau Toba yakni di Tomok, Kabupaten Samosir dengan anggaran Rp3,4 miliar di antaranya untuk pembangunan area kios, musala, pedestrian, drainase, WC umum, dan Tempat Pembuangan Sampah Sementara.

Selanjutnya pada 2018 juga telah diselesaikan penataan kawasan wisata Tomok Tuktuk Siadong Kabupaten Samosir dengan anggaran Rp2,4 miliar untuk pembangunan menara selfie dan toilet, kios, tempat tenun, dan perbaikan kawasan makam. ***/non

Protokol Kesehatan Pariwisata, Bupati Azwar: Melanggar, Sertifikat Dicabut

JAYAKARTA NEWS— Keseriusan Banyuwangi dalam menegakkan aturan kesehatan sebagai syarat mutlak dibukanya kembali sektor pariwisata juga dibuktikan dengan pemberlakuan sertifikasi protokol kesehatan, sebagai jaminan keamanan dan kesehatan bagi para pengunjung yang datang.

Sertifikasi protokol tersebut akan ditempel di beberapa obyek wisata, hotel, homestay, kafe, restoran, warung rakyat, lokasi wisata lainnya dan ditampilkan di aplikasi khusus agar mudah dicari oleh wisatawan.

Menurut Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, apabila ada yang tidak menerapkan protokol kesehatan sesuai aturan pemerintah maka sertifikasi tersebut akan dicabut dan otomatis tidak boleh melanjutkan kegiatan usaha pariwisata.

“Jika melanggar, sertifikatnya dicabut,” jelas Bupati Azwar Anas sebagaimana dikutip dari info Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional.

Selain itu, muasal pemilihan Banyuwangi sebagai ‘pilot project’ untuk menyongsong kegiatan pariwisata mengingat daerah tersebut telah berangsur-angsur masuk dalam wilayah zona kuning dan berpotensi beralih ke hijau. Artinya terdapat kasus Covid-19, risiko rendah dan dapat dikendalikan.

Ketua Gugus Tugas Nasional Doni Monardo telah melihat sendiri bagaimana Banyuwangi menerapkan protokol kesehatan dengan baik ditambah adanya sertifikasi normal baru, sebagai jaminan keamanan dan kesehatan bagi pengunjung.

“Saya melihat langsung bagaimana tempat wisata di Banyuwangi, telah menerapkan protokol kesehatan dengan baik, bahkan lokasi ini sudah terpasang sertifikasi normal baru sebagai jaminan keamanan dan kesehatan bagi pengunjung yang datang. Sertifikasi seperti ini harus diikuti oleh daerah lain,” tutur Doni.

Tak hanya itu, Doni Monardo juga mencoba langsung fasilitas wisata bersertifikasi sehat dan aman Covid-19 ketika santap siang bersama Bupati Azwar Anas di Sanggar Genjah Arum.

Keduanya menikmati suguhan kuliner khas Banyuwangi sambil bercengkerama berhadap-berhadapan dibatasi sekat mika transparan yang telah disesuaikan guna mencegah adanya paparan droplets yang keluar dari mulut dan hidung.

Kopai Osing, Sekali Seduh Kita Bersaudara

Sanggar Genjah Arum sendiri memang menjadi salah satu destinasi wisata unggulan Banyuwangi yang terletak di Desa Adat Kemiren, rumah bagi para pegiat seni budaya serta penikmat kopi.

Dari sanggar milik Setiawan Subekti, atau yang akrab dipanggil Iwan, para wisatawan dapat belajar tentang budaya Suku Osing sembari menikmati suguhan kuliner khas Kopai Osing.

Pak Iwan yang juga seorang ‘Q Grader’ atau pencicip kopi profesional kelas dunia berhasil mengangkat dan melestarikan budaya Suku Osing beserta kopinya.

Kopai atau kopi dalam dialek Suku Osing adalah rutinitas sehari-hari. Banyak kalangan artis hingga pejabat tinggi pemerintah yang sudah membuktikan sendiri kualitas kopi terbaik Banyuwangi yang ditanam pada ketinggian 1000 mdpl itu.

Jenderal Doni Monardo sendiri sudah beberapa kali singgah. Terakhir kali adalah pada tanggal 12 Agustus 2019 lalu, sebelum melepas bendera pataka Ekspedisi Desa Tangguh Bencana Tsunami 2019 di Pantai Boom, Banyuwangi.

Dari tangan tester kopi kelas dunia Pak Iwan, kopi Banyuwangi turut melambung tinggi hingga ke luar negeri. Rupanya, sifat sederhana kopi yang hitam dan pahit menjadikan Kopi Banyuwangi memiliki identitasnya sendiri. Bagi Pak Iwan, Sekali Seduh Kita Bersaudara!, itu mottonya.

Bicara soal pariwisata bukan lagi hanya mengenai keindahan, kenikmatan ataupun harga yang bersahabat. Pariwisata pada masa pandemi juga harus mengutamakan kepercayaan wisatawan, dengan memperhatikan aspek rasa aman, nyaman dan sehat.***/di

Pariwisata Banyuwangi Bersiap Menggebrak Era ‘New Normal’

JAYAKARTA NEWS— Siapa tidak kenal keindahan alam Banyuwangi dan budayanya yang kental. Sebut saja Pantai Boom, Pulau Merah, Pantai So Long, pesona kawah biru Gunung Ijen, Taman Nasional Alas Purwo, Baluran, Pecel Rawon hingga Tari Gandrung, Suku Osing, Kopi Banyuwangi dan banyak lagi.

Sayangnya selama pandemi Covid 19, tempat-tempat wisata itu ditutup guna menyetop penyebaran Covid 19 agar tidak semakin meluas. Walhasil pundi-pundi  ekonomi warga dari sektor pariwisata  ini terpaksa berhenti. Pendapatan masyarakat lokal dan para pelaku usaha di bidang pariwisata juga mengalami penurunan drastis.

Nah sekarang memasuki ‘New Normal’ Banyuwangi yang juga dijuluki ‘Sunrise of Java’ tengah bersiap-siap membuka kembali tempat-tempat wisata unggulan mereka.

Jumat pekan lalu, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19 Jenderal TNI Doni Monardo yang juga  Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jenderal TNI Doni Monardo berkunjung ke Kabupaten Banyuwangi. Bersama rombongan Doni memasuki Sanggar Genjah Arum, Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Jawa Timur.

Doni Monardo, Kepala BNPB dan Ketua Gugus TUgas Percepatan Penanganan Covid 19–foto Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional

Tari Pitik-Pitikan dan Barong Kemiren turut menyambut kehadiran sang jenderal yang juga memikul tugas sebagai Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, panglima perang melawan virus korona.

Sesampainya di pelataran sanggar, Doni Monardo yang juga ditemani Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, kemudian menyaksikan bagaimana ibu-ibu tua Suku Osing menumbuk padi menggunakan lesung (othek) dan alu, sehingga menciptakan suara ketukan yang dinamis ditambah dengan suara percikan biji kopi yang disangrai secara tradisional menggunakan wajan tanah liat di atas ‘pawon’.

Tari Pitik-Pitikan, Barong Kemiren dan seni tabuhan ‘othek’ sengaja disuguhkan kepada dua tamu penting tadi sekaligus sebagai upaya memperkenalkan adat kebudayaan yang dimiliki Desa Kemiren, sebagai salah satu daya tarik pariwisata di Bumi Blambangan yang terus dilestarikan.

Menurut pemangku adat Suku Osing, Setyo Herfendy, pemilihan Tari Pitik-Pitikan dan Barong Kemiren sebagai ‘ritual penyambutan’ tentunya bukan tanpa alasan.

Menurutnya, Tari Pitik-Pitikan adalah simbol kesejahteraan. Sedangkan Barong adalah perwujudan dari singa atau harimau, yang mana dalam hal ini dapat mengusir roh jahat.

“Ayam pintar mencari rejekinya sendiri dengan mencakar-cakar kan kakinya ke tanah. Sedangkan Barong merupakan perwujudan dari singa atau harimau. Untuk mengusir roh jahat,” jelasnya.

Tampaknya, dua makna dari perpaduan antara sepasang Pitik dan Barong itu memang sudah sangat tepat apabila dikaitkan dengan arti kehadiran Ketua Gugus Tugas Nasional di wilayah paling ujung timur Pulau Jawa itu.

Hadirnya Ketua Gugus Tugas Nasional beserta Bupati Banyuwangi, sekaligus menjadi simbol bahwa sudah saatnya sektor pariwisata Banyuwangi mulai digenjot kembali, tentunya dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat sebagai kebiasaan baru dan yang aman Covid-19.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo juga telah melihat langsung bagaimana Banyuwangi mempersiapkan diri untuk kembali membuka etalase wisata dunia yang aman Covid 19 pada Kamis (25/6). Hal itu sekaligus menjadi pertanda bahwa era tatanan baru harus diiringi dengan semangat produktif sekaligus aman Covid-19.

Sebagaimana diketahui bahwa ketika bicara mengenai Covid-19 maka hal itu tidak hanya mengenai aspek kesehatan saja akan tetapi juga berkenaan dengan permasalahan ekonomi.

Banyuwangi dalam hal ini menjadi wilayah yang sudah siap untuk menggerakkan roda ekonomi melalui sektor pariwisata.

Dalam hal ini, Banyuwangi dinilai sudah mengimplementasikan aturan pemerintah sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/382 tahun 2020 tentang protokol kesehatan bagi masyarakat di tempat dan fasilitas umum dalam rangka pencegahan dan pengendalian Covid 19.

Sehingga apabila kembali menilik makna dari tari Pitik-Pitikan dan kehadiran Barong Kemiren tadi, maka hal itu menjadi simbol bahwa kesejahteraan rakyat harus mulai kembali dibangun dan tentunya diiringi dengan protokol kesehatan sebagai kebiasaan baru yang aman dari ancaman ‘pageblug’ Covid-19.

Dalam hal ini perekonomian dari sektor wisata yang sehat dan aman Covid-19 menjadi agenda dan tatanan yang mutlak, sebagaimana yang juga telah diterapkan di Sanggar Genjah Arum, Kemiren, miniatur literasi budaya Suku Osing, suku asli Banyuwangi yang dilestarikan.***/di

Menparekraf: Perlu Langkah Antisipatif Sektor Pariwisata Cegah Masuknya Virus Corona

JAYAKARTA NEWS– Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio menegaskan perlunya langkah antisipatif semua pemangku kepentingan sektor pariwisata di tanah air untuk mencegah masuknya virus corona ke Indonesia. Ia mengatakan saat ini pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan tinggi untuk mencegah wabah virus corona masuk ke Indonesia.

Hal itu disampaikan Menparekraf Wishnutama Kusubandio saat Rapat Koordinasi terkait virus corona bersama Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto di Kantor Kementerian Perhubungan, Senin (27/1/2020).

Menurutnya,  stakeholder pariwisata termasuk asosiasi serta seluruh kepala Dinas Pariwisata Provinsi dan Kabupaten/Kota diimbau untuk turut serta memantau arus kedatangan wisatawan mancanegara di pintu masuk kedatangan negara, baik darat, laut, maupun udara di daerahnya masing-masing.

“Bila menemukan wisatawan yang mengalami gejala-gejala terinfeksi virus corona, antara lain mengeluh sakit, terganggunya saluran pernapasan, pilek, batuk, sakit tenggorokan, sakit kepala, dan demam yang berlangsung beberapa hari, wisatawan tersebut harus langsung dirujuk ke rumah sakit terdekat,” jelasnya.

Terkait promosi wisata, Wishnutama mengatakan, Kemenparekraf telah mengalihkan untuk sementara waktu aktivitas promosi dan pemasaran wisata ke daerah-daerah yang tidak terdampak penyebaran virus corona.

“Kementerian Luar Negeri telah menerbitkan ‘travel advice’ atau imbauan perjalanan bagi WNI ke China, sedangkan untuk promosi kami alihkan untuk pasar Wuhan, masih banyak market besar lainnya yang bisa kita ambil seperti Amerika Serikat, Australia, Eropa, New Zealand, dan lainnya, tidak hanya China,” katanya.

Kemenparekraf berharap keadaan segera pulih dan wabah dapat ditangani sesigap mungkin sehingga tidak semakin meluas dan kekhawatiran terkait penyebaran virus corona tidak menimbulkan keresahan bagi semua pihak.

“Mengimbau kepada agen perjalanan wisata agar memperhatikan situasi dan imbauan pemerintah dalam penjualan paket wisata outbond ke China maupun inbound China ke Indonesia,” katanya.

Sementara Menteri Pehubungan Budi Karya Sumadi menjelaskan, Kemenhub telah menutup penerbangan dari dan menuju Wuhan, China, untuk mengantisipasi penyebaran virus corona.

“Kita memang minta petugas di bandara dan pelabuhan untuk melakukan kegiatan pemeriksaan yang lebih intensif tetapi harus disertai dengan sikap profesional, humble, dan sopan santun,” katanya.

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto memastikan hingga rilis ini disiarkan tidak ada WNA atau WNI di Indonesia yang terjangkit virus yang berasal dari negera tirai bambu itu. Selain itu pemerintah juga sudah menyediakan alat pendeteksi suhu tubuh di 135 pintu masuk di Indonesia dan menunjuk sedikitnya 100 rumah sakit untuk bersiaga menangani penyebaran virus corona.

“Sebanyak 243 WNI di pusat kejadiannya, di Hubei, Wuhan dalam kondisi sehat. Yang terpenting, cara mencegahnya adalah menjaga imunitas agar tetap tinggi. Selama imunitasnya baik, gerakan hidup sehat, pola hidup dijaga, makan tepat waktu nantinya kondisi tubuh akan baik. Sehingga tidak mudah terjangkit virus maupun penyakit,” katanya.(*/Monang Sitohang)

Menengok Waterfront City Kampung Beting Pontianak

Kampung ini dulu dijuluki “Texas from Pontianak”. Kemudian Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) merubahnya menjadi waterfront city yang cantik. Presiden Joko Widodo menyebut Kampung Beting terbaik dibanding tiga proyek waterfront lain yaitu Kampung Sumber Jaya di Bengkulu, Kampung Tegalsari di Kota Tegal, dan Kampung Tambak Lorok di Semarang.

Bagi yang mengenal Pontinak, Kalimantan Barat (Kalbar), atau lahir di sana, pasti kenal kampung Beting. Wilayah yang masuk Pontianak Timur, tak jauh dari pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak ini terkenal dengan citra negatifnya.

Angka kriminalnya lumayan tinggi, terutama keterlibatan sebagian masyarakatnya pada narkotika. Dari 3.000 penduduk di Kampung Beting, ditengarai ada 200 orang penduduk tersangkut masalah narkoba. Kampung ini juga tercatat satu dari 23 kawasan rawan tindak kriminalitas di wilayah Kalbar.

Bukan itu saja, kampung yang sebagian besar dibangun di atas air sungai dan jalan penghubungnya berupa jembatan ini terlihat padat dan kumuh. Sebagian besar masyarakatnya hidup bergantung pada Sungai Kapuas dan Sungai Landak dengan menangkap atau menjadi pedagang ikan. Mereka mandi, mencuci pakaian, dan membersihkan peralatan di bawah rumah mereka sehingga terlihat sangat kotor dan tidak sehat.

Namun sejak tahun 2016, lewat program PUPR kampung itu diperbaiki sehingga kemudian tertata dengan baik. Rumah-rumah yang tadinya membelakangi sungai, kini sebagian besar sudah menghadap sungai. Kamar mandi jamban dan tempat pencucian, ditata sedemikain rupa sehingga tidak saja terlihat rapi, tapi juga layak huni. Wilayah ini terintegrasi dengan penataan Kampung Tambelan Sampit yang juga berada di pesisir Sungai Kapuas.

Program ini tak hanya berupa fisik atau infrastruktur, tapi juga mengajak masyarakat berpartisipasi meningkatkan kualitas lingkungannya. Misalnya dengan menebarkan bibit ikan yang bisa mengurai kotoran. Sanitasi diatur dengan lebih baik menggunakan bahan bangunan yang berkualitas. Secara umum program ini bermaksud mengembangkan pemukiman pesisir berbasis ekonomi perikanan.

Pada September 2019 lalu, ketika meresmikan Waterfront City Pontianak, Presiden Jokowi mengungkapkan bahwa program perbaikan kampung nelayan di Kampung Beting, Pontianak, Kalbar, jauh lebih baik dibandingkan dengan tiga proyek waterfront lainnya. Ketiga proyek waterfront yang dimaksud adalah; Kampung Sumber Jaya di Bengkulu, Kampung Tegalsari di Kota Tegal, dan Kampung Tambak Lorok di Semarang.

Penataan fisik kampung nelayan ini juga diikuti dengan berbagai program pembinaan lainnya seperti meningkatkan keterampilan para ibu dengan membuat kerajinan tangan dan kuliner.

Juga berbagai penyuluhan dan penyediaan kesempatan kerja bagi para pemuda agar tidak terjerat lagi dalam kegiatan narkoba. Dengan berbagai kegiatan itu diharapkan Kampung Beting terbebas dari citra buruknya yang lama yaitu kampung dengan julukan “Texas from Pontianak” karena konotasi bahaya atau genting bagi para pendatang atau wisatawan.

Berasal dari Sosok Misterius Berambut Panjang

Alasan lain yang membuat kita harus singgah ke Kampung Beting adalah karena adanya dua cagar budaya di wilayah ini. Cagar budaya tersebut adalah Masjid Jami (Masjid Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie) dan Istana Kadriah Kesultanan Pontianak.

Masjid Jami Pontianak–sumber foto wikipedia

Istana Kadriah merupakan tempat tinggal Sultan Pontianak terakhir yaitu Sultan Syarif Machmud Melvin bin Sultan Syarif Abubakar Alkadrie. Istana Kadriah merupakan simbol kesultanan yang didirikan oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie sekaligus sebagai sultan pertama wilayah ini pada tahun 1771.

Sultan Abdurrahman Alkadrie datang ke wilayah ini selang tiga bulan setelah ayahnya meninggal. Sang ayah adalah penyebar agama Islam yaitu Al Habib Husin wafat pada tahun 1184 di Mempawah. Dari Mempawah, Sultan menyusuri Sungai Kapuas dan terhenti di pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Di situ Sultan kabarnya diganggu oleh sosok misterius berambut panjang.

Istana Kadriah Kesultanan Pontianak–sumber foto wikipedia

Karena berkali-kali diganggu, akhirnya Sultan mengeluarkan meriam dan diarahkan ke sosok misterius itu. Sultan yang merupakan tokoh agama juga mengusirnya dengan doa. Atas dasar kisah tersebut lahirlah kota Pontianak karena konon daerah itu berasal dari kata kuntilanak yang merupakan sosok misterius pengganggu tersebut.

Setelah wilayah itu dianggap aman, Sultan mendirikan Istana Kadriah dan pemukiman para tokoh dan pegawai keraton. Wilayah pemukiman para tokoh dan pegawai keraton ini dinamakan Kampung Beting. Awalnya, kampung ini ditata sesuai dengan fungsinya.

Kampung ini punya elemen arsitektur berupa langgar (mushalla), kopol (dermaga), tiga rumah besa (tempat musyawarah) dari tiga suku berbeda yang tinggal di wilayah itu, rumah balai (elemen pemerintahan) dan makam. Elemen-elemen diatas dipandang sebagai satu kesatuan sistem dan menjadi artefak dari cerminan karakter kebudayaan kampung tersebut.

Sebagian besar rumah di Kampung Beting adalah rumah di atas air yang dinamakan rumah panggung dan rumah lanting. Rumah panggung terklasifikasi dalam tiga tipe rumah yang sekaligus penunjuk ‘kasta’ atau kelas pemilik rumah. Tiga tipe rumah itu adalah tipe rumah potong godang, tipe rumah potong kawat dan tipe rumah potong limas. Rumah potong limas biasanya dimiliki oleh tokoh masyarakat yang terkait dengan keraton. Sedangkan rumah lanting adalah rumah yang ditinggali rakyat jelata.

Meski dibutuhkan kerja yang sangat keras, ada mimpi besar soal Kampung Beting untuk masa depan, yaitu menjadikannya sebagai destinasi wisata religi seperti Kampung Arab di Singapura. Bukan hal yang mustahil, mengingat Kampung Beting punya modal cukup sebagai destinasi wisata religi yaitu Masjid Jami dan Istana Kadriah. Keduanya bisa jadi daya tarik wisata religi. ***indonesia.go.id/ebn

Jumlah Kunjungan Wisman ke Indonesia November 2018 Capai 1,15 juta

Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara atau wisman ke Indonesia, bulan November 2018 naik 8,16 persen dibanding jumlah kunjungan, periode sama 2017, yaitu dari 1,06 juta kunjungan menjadi 1,15 juta kunjungan.  Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), jika dibandingkan dengan Oktober 2018, jumlah kunjungan wisman pada November 2018 mengalami penurunan sebesar 11,26 persen.
Menurut BPS, secara kumulatif (Januari–November 2018), jumlah kunjungan wisman ke Indonesia mencapai 14,39 juta kunjungan atau naik 11,63 persen dibandingkan dengan jumlah kunjungan wisman pada periode yang sama tahun 2017 yang berjumlah 12,89 juta kunjungan.
Terkait tingkat hunian kamar hotel, menurut BPS, hotel klasifikasi bintang di Indonesia pada November 2018 mencapai rata-rata 60,19 persen atau naik 2,31 poin dibandingkan dengan TPK November 2017 yang tercatat sebesar 57,88 persen. Begitu pula, jika dibanding TPK Oktober 2018, TPK hotel klasifikasi bintang pada November 2018 mengalami kenaikan sebesar 1,35 poin.
Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel klasifikasi bintang selama November 2018 tercatat sebesar 1,85 hari, terjadi kenaikan 0,05 poin jika dibandingkan keadaan November 2017. (gun)

Nobar “Impian 1000 Pulau” untuk Membantu Warga dan Lingkungan Kepulauan Seribu

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menjaga lingkungan hidup. Kalingga, sebuah kelompok filantropis yang berada di bawah Lion Club Indonesia, mengadakan nonton bersama (nobar) di berbagai daerah, khususnya di Jakarta, untuk membantu mengumpulkan dana bagi perbaikan lingkungan di Kepulauan Seribu, Jakarta.

Senin (12/11/2018) pagi Kalingga Lion Club mengadakan nobar film “Impian 1000 Pulau” bersama 500 siswa-siswi masrasah Al Fakhiriyah, di CGV Blitz Slipi Jaya Jakarta. Dan sore harinya juga akan diadakan nobar dengan siswa Khadijah Islamic School.

“Impian 100 Pulau” mengisahkan tentang seorang anak nelayan yang bercita-cita menjadi pembuat film. Sang ayah tidak setuju karena menganggap itu usaha yang sia-sia.

Film yang mengajak para generasi muda untuk lebih mencintai bangsa Indonesia ini disutradarai oleh pelajar SMA, menggunakan dana sumbangan dari berbagai pihak.

Remaja muda bertalenta ini berhasil menciptakan sebuah film yang bertujuan untuk mempromosikan wisata khususnya di Kepulauan Seribu.

Selain mengedukasi para penontonnya dengan film, para generasi muda ini juga mempromosikan aneka kuliner untuk memajukan industri pariwisata kepulauan seribu.

Eksekutif produser Ivone Zakaria menjelaskan, tujuan pembuatan film bertujuan untuk mencari dana yang akan digunakan untuk membantu memperbaiki lingkungan dan usaha masyarakat Kepulauan Seribu.

“Hasil dari pengumpulan dana itu akan kita gunakan untuk mengembangkan usaha masyarakat. Di sana ada berbagai olahan kuliner yang kita coba angkat. Kita pernah membawa koki dari hotel bintang lima untuk mengajari masyarakat memasak tanpa menggunakan penyedap,” kata Ivone.

Selain itu, menurut Ivone, dari setiap penonton yang menyaksikan film berarti telah menyumbangkan satu batang pohon mangrove, yang akan ditanam di pesisir pantai Kepulauan Seribu.

“Target kami 1 juta pohon. Jadi harapannya akan ada sejuta penonton yang menyaksikan film ini,” tambah Ivone.

Gubernur Lions Club Distrik 307-A1 Silvyana Murni menjelaskan, pihaknya bekerjasama dengan produser film “Impian 1000 Pulau” untuk membantu usaha warga penanaman mangrove di Kepulauan Seribu.

Menurut Silvyana, saat ini ada 362 klub yang bernaung di bawah Lion Club Indonesia yang akan digerakan untuk menonton film ini.

“Kepulauan Seribu bagian dari Jakarta. Kita harus punya keperdulian. Mangrove harus tumbuh, tidak boleh ada pengeboman ikan, kita didik masyarakat untuk mengolah makanan sehat,” katanya.

Presiden Kalingga Lion Club Tjut Syahna mengungkapkan, kegiatan yang dilakukan Kalingga adalah untuk mendorong pertumbuhan pariwisata Kepulauan Seribu.

“Kalau Singapura punya Sentosa Island, kita punya Kepulauan Seribu, salah satu tujuan wisata yang dicanangkan sebagai salah satu dari 10 Bali Baru. Kita bukan hanya menanam mangrove, tetapi juga mendorong masyarakat tidak menggunakan hairspray dan sedotan plastik. Ini adalah pengabdian organisasi,” paparnya. (pik)

 

 

Ke Tambora Lewat Pulau Moyo

Moyo, pulau yang terdapat 2,5 km di sebelah utara Pulau Sumbawa–foto istimewa

Oleh: Dahlan Iskan

Saya baru saja sarapan soto kambing di Sumbawa Besar. Saya memang suka kangen soto Sumbawa ini. Terutama kepala kambingnya. Disajikan utuh. Di atas piring. Asyik makannya: telinga, mata, lidah, pipi dan semua bagian yang ada di kepala itu.

Lalu saya pun pusing: bagaimana bisa cepat sampai di Tambora. Dengan jalan darat perlu lima jam. Harus memutari teluk. Kalau naik pesawat harus turun di Bima. Bima-Tambora lima jam juga. Pesawatnya pun tidak ada.

Saya putuskan ini: carter speed boat. Memotong teluk itu. Lautnya toh tenang. Terlindung di balik pulau Moyo. Yang membujur memanjang di mulut teluk.

Speed boat menyusuri pantai pulau Moyo: tempat rocker dunia Mick Jagger berlibur. Tempat Lady Di menenangkan hati. Kapan itu.

Kami pun melaju di atas laut. Hanya 1,5 jam. Sudah bisa tiba di Tambora.

Saya kaget: kok di Tambora ada dermaga yang begitu besarnya. Begitu kokohnya. Sudah mirip pelabuhan besar. Tapi tidak ada kapal yang  sandar di situ.

Ternyata itu pelabuhan lama. Bekas milik PT Fener. Rakyat masih menyebutnya pelabuhan Fener.

Perusahaan itu sudah lama check-out dari Tambora.  Sudah puluhan tahun. Setelah menebangi habis kayu-kayu di Tambora. Diangkut melalui pelabuhan itu.

Saya bayangkan betapa banyak kayu yang dibabat dari Tambora. Sampai untuk mengangkutnya diperlukan pelabuhan begitu besarnya. Begitu permanennya.

Pelabuhan itu sudah lama mati. Tapi bisa jadi daya tarik: bagi yang mau investasi di sini. Tidak perlu membangun pelabuhan lagi. Yang sangat mahal itu.

Di Tambora, untuk membangun pelabuhan sekelas itu tidak mudah. Juga tidak murah. Bisa habis Rp 100 miliar sendiri.

Tentu pelabuhan Fener sangat berguna. Bagi investor baru. Seperti pabrik gula ini. Yang baru dibangun ini. Di dekat Tambora ini.

Pabrik gula di Tambora? Yang gersang itu? Yang nun jauh itu? Oh…setelah ke sana saya paham. Pabrik gula ini tidak hanya menggiling tebu. Tapi juga memasak gula impor. Raw sugar. Menjadi gula kristal.

Pelabuhan Fener itu pun bisa diandalkan. Untuk kedatangan raw sugar impor. Atau pengiriman gula kristal yang dihasilkan pabrik.

Semula saya kagum dengan investor pabrik gula di Tambora ini: Samora Group. Yang selama ini kita kenal sebagai importir raksasa raw sugar. Kok begitu idealisnya. Mau membangun pabrik gula di wilayah yang begitu gersangnya.

Ternyata itu tadi. Pabrik itu juga untuk menggiling raw sugar impor. Ya… sudah. Baik juga.

Siapa tahu. Sambil mengolah raw sugar bisa membina petani tebu lokal. Yang selama ini hanya tahu menanam jagung. Atau menanam pohon mente.

Saya mampir ke pabrik gula itu. Aroma gulanya harum. Aroma dari proses pengolahannya. Pabrik ini bersih. Tidak ada ceceran tebu. Bahkan lagi tidak ada tebu yang dikirim ke pabrik itu. Yang berkapasitas 5.000 TCD itu.

Saya masih bisa belajar satu hal baik dari pabrik ini: sistem kerjasamanya dengan petani.

”Kami menggunakan sistem beli putus,” ujar Joko Handoyo, pimpinan pabrik ini. Yang memang ahli gula. Yang sepanjang hidupnya menggeluti pabrik gula. Mulai dari Kebon Agung malang, Tasik Madu Jogja, Medan, Pati, Blora dan sekarang Tambora.***