SIDOARJO, JAYAKARTA NEWS– Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa terus melakukan mitigasi kesiapsiagaan bencana banjir, dengan adanya prediksi BMKG terkait awal musim hujan pada November mendatang. Salah satunya melalui kegiatan aksi bersih-bersih sungai.
“Mitigasi dan kesiapsiagaan terus kita lakukan dengan adanya prediksi musim penghujan di November nanti. Ini penting, untuk bisa meminimalkan terjadinya risiko bencana banjir di Jatim,” ungkap Khofifah di Surabaya, Senin (30/10/2023).
Khofifah menjelaskan, kegiatan bersih-bersih sungai tahap pertama ini dilakukan di Sungai Sinir Waru, Sidoarjo pada Minggu (29/10). Pasalnya, sungai yang melintasi jalan Letjen S. Parman Waru ini sempat dipenuhi dengan tumbuhan Eceng Gondok hingga sepanjang 1 kilometer (km) lebih.
Ditambahkan, mitigasi dan kesiapsiagaan bencana ini dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan berbagai unsur pentahelix. Baik dari lingkungan OPD Pemprov Jatim, pemerintah daerah setempat, juga dari para relawan dan masyarakat sekitar.
“Ketika bersih-bersih Sungai Sinir Waru, Tim Pemprov Jatim yang meliputi, Tim BPBD Jatim, Tim Dinas PU SDA dan Tim Dinas PU Bina Marga secara kolaboratif melibatkan warga, perangkat Kecamatan Waru, Tim Dinas Lingkungan Hidup Sidoarjo dan Tim Dinas PU SDA Kabupaten Sidoarjo,” urainya.
Gubernur Khofifah berharap, lewat pelibatan masyarakat pada aksi bersih-bersih sungai ini bisa meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kualitas sungai. Termasuk kebiasaan membuang sampah ke sungai bisa benar-benar dihilangkan.
“Saya mohon ini semua bisa menjadi kewaspadaan bersama. Dan semua bisa memiliki kesadaran untuk ambil bagian menjaga kualitas sungai. Sehingga antisipasi potensi banjir ini bisa dilakukan lebih dini,” tutupnya.
Selain menerjukan personel gabungan dan warga, juga dikerahkan 2 unit ekskavator dari dinas PU SDA Prov Jatim. Serta 4 unit dump truck dengan rincian 2 unit dari PU Bina Marga Prov Jatim, 1 unit dari PU SDA Prov Jatim, dan 1 unit dari PU SDA Sidoarjo.
Ada pula 50 unit alat garuk, 10 unit kereta dorong, 50 unit alat Garpu Garuk, 10 unit alat keruk bambu, 20 lembar terpal dan sejumlah kebutuhan teknis lainnya turut dihadirkan guna mendukung kegiatan ini.
Sementara itu, Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto menyampaikan, upaya mitigasi dan kesiapsiagaan bencana yang ditekankan Gubernur Khofifah ini akan ditindaklanjuti dengan berbagai kegiatan.
Selain bersih-bersih sungai, juga akan ada aksi lain. Seperti, penanaman bibit pohon di area terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), susur sungai yang melibatkan berbagai elemen dan peningkatan kapasitas kebencanaan masyarakat dengan cara sosialisasi dan edukasi, baik melalui Tenda Pendidikan Bencana (Tenpina) maupun Mobil Edukasi Penanggulangan Bencana (Mosipena).
“Tentu semua ini nanti akan dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan berbagai unsur pentahelix,” tegas Gatot. (poedji)
JAYAKARTA NEWS— Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto mengimbau masyarakat agar stop boros air. Hal tersebut terkait dengan ancaman dampak El Nino yang bisa menyebabkan kekeringan.
Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk mulai menampung air bersih sebagai langkah menjaga ketersediaannya. Upaya lebih kongkrit, Suharyato berharap agar Pemda melalui BPBD sudah memberikan edukasi juga ke masyarakat.
“Bahwa keluarga-keluarga dihimbau mulai dari sekarang, penggunaan air itu betul-betul dihemat. Air hanya bisa digunakan misalnya untuk memasak dan minum, tetapi untuk mandi dan kebutuhan-kebutuhan lain sebaiknya tidak menggunakan sumber-sumber air bersih,” ujar Suharyanto dalam diskusi bertajuk “Waspadai Dampak EL Nino” yang digelar Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) di Jakarta, Senin 31 Juli 2023.
Dia menegaskan persoalan antisipasi dampak El Nino bukan hanya tanggung jawab pemerintah pusat semata, melainkan tanggung jawab bersama dengan Pemda dan masyarakat.
Surhayanto mengatakan, Pemda harus memperhatikan betul-betul agar organisasi BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) setempat dapat berjalan semestinya untuk melakukan langkah pencegahan dan mitigasi. Kemudian di tingkat kepala desa, camat dan bupati juga diminta sudah mulai mengamankan sumber-sumber air bersih.
“Mungkin tempat-tempat penampungan air yang selama 3 tahun terakhir ini karena musim basah banyak tidak digunakan, sekarang mulai diperbaiki, diaktifkan kembali, sehingga sumber-sumber air masyarakat ini yang bisa mendukung kebutuhan air masyarakat saat nanti terjadi El Nino,” tegasnya.
Dia melanjutkan, Pemda dan BPBD juga diimbau untuk mulai menyiagakan sarana prasarana seperti tangki air dan mobil-mobil pengangkutnya. Sehingga apabila terjadi kekeringan, Pemda bekerja sama dengan unsur TNI, Polri dan kementerian lain bisa mendorong kebutuhan air kepada masyarakat yang membutuhkan.
Suharyanto menegaskan saat ini BNPB tengah fokus melakukan langkah mitigasi untuk meminimalkan dampak yang merugikan masyarakat, terutama pada periode puncak El Nino yang diperkirakan berlangsung pada Agustus-September.
“Sehingga apabila nanti bulan Agustus-September yang diperkirakan puncaknya El Nino, masyarakat tidak terlalu menderita,” ujarnya.
Menurut dia, dalam rangka mengatasi kekeringan ada dua langkah yang telah dipersiapkan. Untuk langkah pertama, BNPB mengimbau kepada daerah-daerah untuk memastikan ketersediaan air, khususnya wilayah-wilayah di daerah-daerah yang biasanya timbul kekeringan.
Sebagai pendukung, BNPB juga bekerjasama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) menggelar operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).
“Yaitu mendatangkan hujan untuk mengisi danau-danau, embung-embung, sungai-sungai, sumur, sehingga apabila nanti memang betul kekeringan ini datang dengan lebih besar, air-air ini bisa digunakan masyarakat di daerah yang mengalami kekeringan,” kata Surhayanto.
Langkah kedua, BNPB memberikan perhatian khusus terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah ancaman dampak El Nino. Salah satunya memberi perhatian lebih di enam provinsi prioritas. Berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 3 tahun 2020, ada enam provinsi prioritas penanganan karhutla, yaitu Sumatera Selatan, Riau
, dan Jambi di Pulau Sumatera serta Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah di Pulau Kalimantan.
“Di provinsi-provinsi ini kami sudah gelar apel kesiapan dan kesiapsiagaan. Memang yang penting dalam mengatasi karhutla ini adalah operasi darat. Jadi pasukan-pasukan darat sudah diaktifkan, disiagakan kembali, mengingat 3 tahun terakhir ini kasus kebakaran lahannya relatif kecil,” ujarnya.
Penanganan Karhutla
Lebih lanjut, Suharyanto mengungkapkan beberapa langkah yang sudah dan sedang dilakukan oleh BNPB untuk mengantisipasi dan menanggulangi potensi bencana karhutla.
Langkah-langkah itu mencakup pelaksanaan apel kesiapsiagaan dan kunjungan daerah. Dukungan sarana prasarana operasi darat berupa logistik dan perlengkapan pemadaman darat. Dukungan teknologi modifikasi cuaca, sarana prasarana operasi udara berupa helikopter patroli dan water bombing, serta integrasi aplikasi pemantauan karhutla.
“Sekarang di enam provinsi prioritas sudah tergelar 31 unit helikopter yang apabila nanti ada pembakaran yang mungkin lebih besar yang tidak bisa dipadamkan di darat atau kebakarannya di titik-titik terpencil atau tidak bisa dijangkau oleh pasukan darat, maka helikopter ini yang akan memadamkan,” tutur Surhayanto.
Selain itu, Surhayanto juga meminta Pemda tidak boleh lagi memberi toleransi maupun mengeluarkan kebijakan yang membolehkan aktivitas pembukaan lahan dan hutan lewat pembakaran.
“Tidak boleh, walaupun hanya beberapa hektar, untuk membuka lahan, karena api tidak akan mengenal bahwa ini diizinkan atau tidak diijinkan. Jadi kalau Pemda memberikan toleransi, nanti dampak kebakaran yang lebih besar akan terjadi,” ujarnya.***/din
JAYAKARTA NEWS – Kampanye daur ulang plastik bisa dibilang sedang ramai-ramainya di televisi kita. Dikabarkan, plastik bekas, yang dikumpulkan, bisa diubah menjadi berbagai barang kebutuhan mulai dari bantal bahkan bahan campuran aspal jalan.
Limbah plastik memang sangat mengkuatirkan, bahkan di Antartika sudah diketahui limbah nano-plastik (butiran sangat kecil) sudah dideteksi ada dalam salju yang turun. Padahal banyak peneliti merasa tidak akan ada limbah plastik di tempat itu. Jadi bisa dikatakan, kita, manusia, sudah benar-benar dilingkupi limbah plastik.
Karena itu, kita, semua orang, diminta untuk memilah limbah dan menyisihkan limbah plastik ke dalam tempat khusus untuk kemudian didaur ulang untuk berbagai barang keperluan sehari-hari.
Pertanyaannya, Apakah upaya daur ulang ini bisa berhasil?
Menurut data BPS tahun 2021, limbah plastik di Indonesia sudah mencapai 66 juta ton per tahun. Pada tahun 2028 lalu, Indonesia sudah dinobatkan menjadi “penyumbang” sampah plastik di laut terbesar di dunia. LIPI, tahun 2018, memperkirakan sekitar 0,26 juta – 0,59 juta ton limbah plastik mengalir ke laut. Angka-angka ini jelas menakutkan.
Mengutip tulisan Judith Enk, mantan pejabat lingkungan hidup Amerika dan dosen di Bennington College dan juga Ketua LSM Beyond Plastic, yang ditulis di Atlantic. Dia menyebutkan ada beberapa hal yang membuat susah sekali mendaur ulang plastik dan cenderung gagal. Di antaranya;
Ada ribuan jenis plastik dengan komposisi dan karakteristiknya masing-masing. Selain itu, tiap jenis juga mengandung tambahan kimia yang berbeda-beda serta warna berbeda-beda. Akibatnya, mereka tidak bisa didaur ulang bersama-sama.
Akibat lain, tidaklah mungkin kita mampu memilah tiap jenis plastik (komposisi kimia, bahan kimia tambahan, dan pewarna) dari ribuan ton plastik yang dibuang oleh Jakarta, misalnya. Contoh, botol polyethylene terephthalate (PET#1) tidak bisa dicampur, dalam proses daur ulang, dengan PET#1 clamshell, yang punya materi PET#1 berbeda.
Botol PET#1 berwarna hijau tidak bisa didaur ulang bersama botol PET#1 bening. Itu baru satu jenis PET#1. Kemudian, contoh lain, High-density polyethylene (HDPET#2), polyvinyl chloride (PVC#3), low-density polyethylene (LDPE#4), polypropylene (PP#5), dan polystyrene (PS#6) semua jenis plastik ini harus didaur ulang secara terpisah.
Kalau kita melihat keemasan makanan cepat saji, kita akan menemukan berbagai jenis plastik, termasuk PET#1, HDPE#2, LDPE#4, PP#5, dan juga PS#6 (atau gelas plastik), kantung, dan juga sendok garpu plastik. Masing-masing plastik ini kalau mau di daur ulang harus dipilah-pilah.
Tempat atau pabrik daur ulang plastik, jika memungkinkan, akan dipenuhi oleh tumpukan besar limbah plastik, yang harus dipilah-pilah. Plastik adalah bahan yang mudah terbakar, hingga memberi resiko tersendiri di pabrik itu dan juga kawasan sekitarnya. Ini juga menambah kompleksitas upaya daur ulang.
Plastik, tidak seperti gelas atau metal, akan menyerap bahan-bahan beracun. Seperti kantung plastik yang berisi cairan pembasmi nyamuk — yang selalu kita pakai dan lihat di pasar. Plastik akan menyerap racun serangga itu. Selain itu, plastik yang diambil dari tempat sampah juga menyerap berbagai bahan kimia yang ada di tempat sampah tersebut. Jadi ada resiko plastik daur ulang mengandung racun. Akibatnya, seperti pemerintah Kanada, misalnya, sudah melarang penggunaan plastik daur ulang untuk membungkus bahan pangan.
Daur ulang plastik tidak ekonomis. Biaya daur ulang plastik lebih mahal daripada plastik baru. Karena ada biaya pengumpulan, pemilahan, transportasi, dan proses daur ulang plastic, telah terbukti sangat mahal. Disisi lain, indutri petrokimia berkembang pesat sehingga harga plastik baru jadi makin murah.
Kendati ada poin-poin penting mengenai sukarnya daur ulang plastik. Tetap saja usaha daur ulang plastik diupayakan, yang sekarang terkenal masuk dalam sistem ekonomi sirkular. Namun ini belum cukup. Perlu kebijakan-kebijakan kuat dan penerapannya yang konsisten untuk mengurangi penggunaan plastik dan mempromosikan bahan-bahan non-plastik, yang mudah terurai secara biologis.
Langkah lain, larangan produksi plastik yang hanya sekali pakai (kantung kresek dan banyak wadah makanan — misalnya). Kemudian pastikan banyak tempat-tempat pengisian air minum botol (bukan plastik) yang terkenal dengan sebutan galonisasi di sekolah-sekolah dan tempat-tempat umum.
Mendorong anak-anak sekolah membawa bekal sendiri, yang kalaupun tempatnya plastik bukanlah plastik sekali pakai. Demikian juga mengalihkan penggunaan wadah pangan plastik sekali pakai ke wadah lain, seperti kertas atau plastik yang bisa dipakai berulang kali. Harapannya dengan cara-cara ini pemakaian plastik berkurang dan pada akhirnya digantikan dengan bahan non-plastik. (leo)
TANJUNG ENIM, JAYAKARTA NEWS – Pagi itu adalah Jumat basah, sisa hujan semalam. Area bekas lahan tambang batubara PT Bukit Asam, Tanjung Enim, Sumatera Selatan menjadi saksi sejarah. Program besar Bukit Asam yang tidak saja menambang tetapi juga menanam.
Hari itu 10 Juni 2022, PTBA, beririsan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Lokasinya dinamai Botanical Garden Bukit Asam. Di lahan seluas 17 hektare ini kelak akan jadi destinasi wisata dari lahan bekas tambang. Ini sejalan dengan Noble Purpose MIND ID.
Hadir Komisaris Utama MIND ID, Letjen TNI Purn Dr (HC) Doni Monardo. Ia mengapresiasi keseriusan PTBA dalam usaha reklamasi bekas lahan tambang, serta bergiat di bidang konservasi serta pemulihan ekosistem.
Doni berpesan, di Botanical Garden PTBA nanti disediakan sarana yang cukup untuk anak-anak. “Sedari dini, anak-anak harus diberi wawasan mengenai ekosistem. Kita harus mencetak generasi yang menyayangi pohon dan menjaga ekosistem. Hal-hal kecil, seperti tidak membuang sampah sembarangan, menghindari penggunaan kemasan plastik sekali pakai, adalah nilai-nilai yang wajib ditanamkan, agar ada perubahan perilaku menjaga dan merawat alam,” ujar Doni yang juga Ketua Umum PP Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat (PPAD) itu.
Pagi itu, Doni sangat antusias. Terlebih ketika meninjau langsung Nursery Park (kebun bibit) seluas 2,1 hektare, tak jauh dari lokasi Botanical Garden. Tak kurang dari 600.000 batang yang terdiri dari tanaman keras, tanaman buah, dan tanaman hias ada di sana.
Jenis-jenis bibit tanaman keras yang sudah ada, di antaranya angsana, bayur, beringin, glodokan, gaharu, johar, lonkida, mahoni, meranti, merbau, sengon buto, tanjong, dan trembesi. Sedangkan, pohon buah di antaranya asam, bisbul, cempedak, ceri, duku, durian, jambu biji, kayu putih, matoa, dan rambutan. Untuk jenis tanaman hias, di antaranya alamanda, asoka, bougenville, keladi, kemuning, Ketapang mini, mawar, palm, pinang dan pucuk merah.
Foto bersama usai acara penanaman pohon di Botanical Garden PTBA, Tanjung Enim, Sumsel/ Foto: Egy Massadiah)
Beringin Istana
Koleksi pembibitan PTBA dipastikan bakal bertambah. Sebab, Doni tidak hadir dengan tangan kosong. Ia membawa serta 150 bibit pohon aneka jenis. Beberapa di antaranya pohon langka. Adalah pohon beringin (25), pule (20), Afrika (15), Palaka (30), Sukun (15), Mahoni (20), Tarum (5), dan Kihonje (20).
“Bibit beringin itu saya semaikan sendiri. Asalnya bukan main-main, itu jenis beringin yang tumbuh di Istana Negara. Bijinya dikumpulkan Yonkawal Paspampres,” cerita Doni.
Ada juga biji ia pungut dari pohon beringin yang tumbuh di Jalan Gunawarman Jakarta Selatan dan beringin di kawasan Bumi Serpong Damai Tangerang. Keduanya termasuk jenis beringin yang sangat bagus. Bisa tumbuh sangat besar dan berusia ratusan tahun.
“Jadi masyarakat Tanjung Enim dan Sumatera Selatan umumnya, tidak perlu ke Jakarta, cukup datang ke sini untuk bisa melihat dari dekat beringin Istana,” kata Doni sambil tertawa.
Palaka juga jenis yang diberi catatan khusus Doni sebagai pohon langka. “Pohon itu saya datangkan dari Seram, Maluku. Menempuh perjalanan panjang dari Seram ke Ambon. Dari Ambon ke Jakarta. Dari Jakarta ke kebun bibit di Tigaraksa. Pohon ini bisa hidup ratusan tahun. Di Ambon ada satu palaka berusia ratusan tahun yang untuk melingkari diameternya, diperlukan 30 orang dewasa saling menggandengkan tangan,” kisah Doni.
Sedangkan, bibit pohon di Nursery Park yang dicermati Doni Monardo adalah pohon matoa. Doni berharap bibit matoa yang ada, adalah jenis matoa yang premium. Matoa ada tiga ragam dilihat dari warna kulit. Matoa merah (Emme Bhanggahe), matoa hijau (Emme Anokhong), dan matoa kuning (EmmeKhabhelaw). Bahasa yang lain, biasa disebut matoa raja, matoa merah dan matoa papeda.
“Matoa raja, sampai seminggu setelah dipetik, buahnya tetap bagus,” kata Doni, fasih.
Doni bercerita, ia juga membudidayakan matoa di kebun bibitnya. Ia berharap kelak semakin banyak matoa ditanam di bumi Indonesia. “Ini benar-benar buah langka. Saya yakin, suatu hari buah matoa Indonesia akan dicicipi tamu tamu di Istana Buckingham, White House, dan tempat-tempat terhormat di dunia. Sebab, selain rasanya yang sangat enak, matoa adalah salah satu jenis buah purba yang masih bisa kita selamatkan,” katanya mantap.
Doni kemudian menyinggung pohon torem. Sebab, torem adalah salah satu pohon yang sangat langka dan terancam punah.
Doni teringat tahun 2015 – 2017, saat menjadi Pangdam XVI/Pattimura. Di sana ia mengembangkan program “emas hijau” dan “emas biru”. Emas hijau adalah hal-hal berkaitan dengan tumbuh-tumbuhan. Nah, suatu hari di bulan Oktober 2017, tim Kodam XVI/Pattimura mengunjungi LIPI Pusat Konservasi Tuumbuhan Kebun Raya Bogor untuk menyerahkan sembilan bibit pohon Torem hasil budidaya Kodim 1507/Saumlaki.
Enam anak buah Doni Monardo, diterima oleh Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya LIPI Bogor Dr. Didik Widyatmoko, M.Sc di Ruang Rapat LIPI Bogor. Waktu itu, Didik menyampaikan apresiasinya kepada Kodam XVI/Pattimura yang telah melakukan pembudidayaan pohon endemik torem.
“Jika kelak kita melihat kembali pohon torem di persada Nusantara, itu dari Kodim Saumlaki,” ujar Doni, senang.
Jenis kayu berikut yang disoroti Doni Monardo adalah kayu putih. “Saat ini, bahan kayu putih kita, sebagian masih impor. Nilainya ratusan miliar rupiah. Nah, dengan membudidayakan pohon kayu putih, saya yakin kelak kita tidak saja memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga ekspor. Kayu putih sangat dibutuhkan untuk bahan kosmetik, obat herbal, aroma therapy, dan lain-lain,” tambahnya.
Doni sungguh mengapresiasi keseriusan PTBA dalam program konservasi. Award yang telah didapat, Doni harap dapat dipertahankan, bahkan ditingkatkan. “Momentum hari ini sangat penting untuk kita memperhatikan lingungan atau ekosistem. Ingat, bumi kita cuma satu. Sedangkan, usaha tambang dipastikan melukai kulit bumi. Tapi dengan pengelolaan yang profesional pasca tambang bisa kita reklamasi sehingga kulit bumi kembali pulih,” tambah Kepala BNPB 2019 – 2021 itu.
PTBA harus memilih jenis pohon yang tepat. Dengan begitu, PTBA telah meninggalkan legacy atau warisan kepada anak cucu kita kelak. Budaya konservasi harus terus digaungkan, baik melalui pendidikan maupun jalur keagamaan. Dalam banyak kesempatan Doni mengatakan, umat (Islam) tidak saja diwajibkan untuk menjalin hubungan baik dengan Tuhan (hablum minallah) dan menjaga hubungan baik dengan sesame manusia (hablum minannas), tetapi juga harus menjaga hubungan baik dengan alam (hablum minal alam).
Bicara kecintaan Doni terhadap pohon, bukanlah cinta sesaat, yang manis di awal lantas sepah dibuang. Banyak sekali cerita menarik terkait cinta Doni terhadap pohon.
Salah satunya ihwal kebiasaan unik mengumpulkan bjji-biji pohon yang unik, langka, dan spesifik.
Semasa bertugas di Paspampres, kebiasaan itu seperti menemukan jalan yang lurus. Sebagai Paspampres, dengan sendirinya sering mengikuti kunjungan kepala negara ke berbagai tempat, termasuk ke luar negeri.
Nah, saat acara jamuan makan, misalnya, ia akan fokus pada hidangan buah yang tersaji. Manakala ia mendapati buah yang eksotik, ia akan mengambil, memakan, dan… tidak membuang bijinya.
Biji dari buah yang ia makan, lalu disisihkan, dibungkus tisu, lalu disimpannya di dalam kantong jas yang ia kenakan.
Sekembali ke Tanah Air, ia akan semaikan di kebun rumah, atau di kebun bibit miliknya. Dari sekian banyak eksperimennya ada yang berhasil, ada yang gagal.
Kisah itu tertulis dalam buku Sepiring Sukun di Tepi Sungai karya Egy Massadiah halaman 317.
Destinasi Wisata
Kembali ke Botanical Garden PTBA, Doni mengapresiasi sebagai sebuah langkah yang benar, dan patut ditiru pihak lain. Di dalam Botanical Garden ini terdapat tanaman nusantara yang berasal dari Indonesia. Terdiri dari beberapa bioregion mulai dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Jawa dan Bali, Maluku.
Pembangunan Botanical Garden ditandai dengan acara penanaman pohon yang dilakukan oleh jajaran Komisaris MIND ID, Komisaris PTBA, dan seluruh Direksi PTBA.
Turut hadir dalam acara ini, Komisaris MIND ID Ilyas Asaad, Komisaris MIND ID Nicolaus Teguh Budi Harjanto, Komisaris PTBA Piterdono HZ, Direktur Utama PTBA Arsal Ismail, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PTBA Farida Thamrin, Direktur Operasi dan Produksi PTBA Suhedi, Direktur SDM PTBA Suherman, dan Direktur Pengembangan Usaha PTBA Rafli Yandra.***roso daras
JAYAKARTA NEWS— Kontribusi BUMN kepada negara semakin besar. Salah satu BUMN penyumbang devisa negara adalah PT Inalum.
“Tapi harus diingat, Inalum memiliki utang budi kepada Danau Toba, karenanya harus membantu pemulihan ekosistem kawasan danau terbesar di Asia Tenggara ini,” ujar Tenaga Ahli Satgas Pemulihan Danau Toba, Letjen TNI Purn Dr (HC) Doni Monardo.
Doni berbicara di hadapan Forkopimda Provinsi Sumatera Utara, serta para bupati (atau yang mewakili) dari tujuh kabupaten yang “memiliki” kawasan Danau Toba. Acara yang digelar Rabu (8/6/2022) di Taman Simalem Resort, Karo, Sumatera Utara itu bertajuk Rapat Koordinasi Tim Penyelamatan Ekosistem Danau Toba.
Selain sebagai Tenaga Ahli Satgas Danau Toba, Doni Monardo juga menjabat Komisaris Utama PT Mind ID, sebuah perusahaan konsorsium BUMN Tambang, yang salah satu anggotanya adalah PT Inalum. “Kami mendorong PT Inalum untuk membantu penyelamatan ekosistem Danau Toba,” tegas Doni.
PT Inalum dipuji Doni Monardo sebagai salah satu BUMN yang “performed”. Sebagaimana diketahui, pada tahun 2018, pemerintah bisa mengambil-alih saham PT Freeport sebesar 51 persen.
“Karenanya, kita harus bersyukur, melalui Inalum-lah pemerintah mendapatkan porsi saham yang lebih besar di Freeport,” tambah Kepala BNPB 2019 – 2021 itu.
PT Indonesia Asahan Aluminium atau lebih dikenal sebagai Inalum merupakan BUMN pertama dan terbesar Indonesia yang bergerak di bidang peleburan aluminium. Angka produksinya terus menanjak. Keuntungan perusahaan pun terus meningkat. “Harus diingat, Inalum bisa mendapatkan keuntungan jika ekosistem lingkungannya terawat dengan baik,” tambahnya.
Salah satu faktor adalah lancarnya pasokan listrik dari PLTA Asahan 1 dan Asahan 3. Listrik itulah yang memberikan sumber energi untuk produksi. Apa hubungannya dengan Danau Toba?
”Hubungannya karena PLTA Asahan sangat tergantung pada sumber air yang ada di Danau Toba. Artinya, Inalum harus merasa hutang budi kepada air Danau Toba. Karenanya, kami di jajaran PT Mind ID, melihat ada sesuatu yang perlu ditingkatkan, utamanya dalam hal kepedulian Inalum terhadap Danau Toba,” tegas Doni Monardo.
Jika, Inalum tidak memberikan kontribusi untuk penyelamatan ekosistem kawasan Danau Toba, maka permukaan air Toba akan terus mengalami penurunan. Kalau debit air Danau Toba turun, maka PLTA terancam tak bisa beroperasi. Tanpa pasokan listrik, maka Inalum juga terhenti.
“Tidak ada pesan lain, kecuali Inalum harus bekerjasama dengan seluruh komponen yang ada di Sumut, terutama yang ada di kawasan Danau Toba untuk mengembalikan fungsi konservasi, agar debit airnya bisa terjamin dan tidak mengalami penurunan lagi. Dengan begitu, aliran listrik dari PLTA Asahan ke Inalum menjadi lancar,” ujar Doni.
Di sisi lain, masyarakat Sumatera Utara, utamanya yang ada di kawasan Danau Toba juga harus merasa memiliki Inalum. Wajib mendukung Inalum dalam fungsinya memberi pendapatan kepada negara. Sebab, penerimaan negara ujungnya akan kembali juga kepada rakyat, termasuk kepada TNI dan Polri.
Doni Monardo menanam pohon Macadamia nut di bukit Gajah Bobok, Karo, Sumut. (Foto: Egy Massadiah)
Tambah Anggaran
Sebelumnya, Doni Monardo dan seluruh peserta Rakor mendengarkan program PT Inalum terkait penghijauan dan reboisasi kawasan gundul yang ada di sekitar Toba. Paparan disampaikan Benny Wiwoho, Direktur Eksekutif Umum dan SDM PT Inalum.
Kepada Inalum, melalui Benny, Doni berpesan agar fokus pada program serta pelaksanaannya. Inalum tidak bisa kerja sendiri. Karenanya Doni meminta Inalum melibatkan unsur-unsur yang ada di sekitar Danau Toba, mulai dari pemerintahan daerah, TNI-Polri, organisasi kemasyarakatan hingga para tokoh adat serta tokoh agama. “Buat sub satgas, pilih jenis tanaman yang sesuai. Kalau perlu datangkan mantan-mantan satgas Citarum Harum untuk saling berbagi pengalaman,” pesan Doni.
Doni Monardo, sang penggagas “Citarum Harum” itu bahkan menjamin, tanpa pelibatan unsur masyarakat dan pemerintah daerah yang ada di kawasan Danau Toba, program itu akan gagal. Doni pun mengambil contoh program Citarum Harum. Sejak tahun 80-an, sudah keluar dana yang tidak sedikit demi pemulihan Sungai Citarum yang tercemar berat.
Doni meluncurkan program Citarum Harum dengan melibatkan unsur masyarakat dan dipayungi oleh Peraturan Presiden. Saat ini kondisi Citarum sudah berada di fase tercemar ringan-sedang, dari yang semula tercemar berat.
Andaliman
Kepada pemerintah daerah yang nanti akan mendapatkan dana “Penyelamatan Danau Toba” dipersilakan menanam jenis tanaman yang sesuai. “Akan lebih baik kalau memilih tanaman yang tidak saja memiliki fungsi ekologis, tapi juga ekonomis,” kata Doni sambil menyebut salah satu jenis tanaman yang bernama andaliman. Juga tanaman lain seperti macadame nut, kemenyan, dan kemiri.
Informasi terakhir, Doni mendapat kabar harga andaliman mencapai 200 euro di Eropa. Itu hampir setara dengan Rp 3,5 juta per kg. Sebuah peluang yang sangat bagus jika kawasan Toba mampu memproduksi serta mengekspor andaliman.
Untuk diketahui, andaliman adalah sejenis merica Batak. Ia termasuk jenis rempah yang banyak ditemukan di daerah Batak dan kerap digunakan di berbagai kuliner khas tanah Tapanuli.
Andaliman juga memiliki cita rasa khas, tajam, dan meninggalkan sensasi ketir di lidah. Rempah ini berbentuk bulat dan kecil mirip lada. Andaliman juga memiliki manfaat yang luar biasa bagi kesehatan.
Kepada para bupati, Doni juga menyarankan agar memasukkan muatan lokal tentang Danau Toba, kepada siswa-siswa mulai dari SD hingga SMA. Anak-anak sejak dini harus dikenalkan mengenai sejarah dan kebanggaan Danau Toba. Termasuk memasukkan unsur-unsur konservasi, menjaga alam, merawat lingkungan.
“Tujuannya agar dalam lima tahun ke depan, lahir generasi penerus yang sudah memiliki kesadaran tinggi tentang pentingnya menjaga ekosistem Danau Toba. Ini yang disebut upaya atau program perubahan perilaku. Program penyelamatan Danau Toba tidak akan berhasil dengan baik tanpa diikuti gerakan perubahan perilaku masyarakat,” ujar Doni Monardo.
Terakhir, Doni memohon kepada aparat kepolisian untuk tidak segan-segan menindak aksi pembalakan liar. “Jangan takut sama pembalak. Mereka adalah orang-orang berdosa. Bayangkan, sebuah pohon hingga memiliki diameter sampai satu meter, butuh waktu tumbuh puluhan bahkan ratusan tahun. Oleh pembalak ditebang begitu saja kurang dari satu jam. Pak polisi mohon bantuannya agar menghentikan aksi mereka,” pinta Doni.
Aksi pembalakan liar, tidak saja mengganggu debit air Danau Toba, tetapi juga bisa mengakibatkan banjir bandang dan longsor. “Jangan sampai kita membiarkan orang-orang mengambil keuntungan dengan cara illegal, sementara rakyatnya harus menderita karena bencana,” tegas Doni Monardo.
Master Plan
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Hubungan Kelembagaan PT Mind ID, Dany Amrul Ichdan menyampaikan pentingnya master plan penyelamatan Danau Toba yang berkelanjutan.
Dany yang juga pengajar dan penguji program doktor pada Doktor Manajemen Bisnis Universitas Padjadjaran itu mengisahkan pengalamannya menghadiri World Economy Forum di Davos, Swiss baru-baru ini. Dalam perjalanan ke sana, ia sempat singgah di salah satu danau yang terpelihara dengan sangat baik.
Ia bahkan menceritakan sebuah kawasan yang zero carbon di sekitar danau. Di daerah itu, diterapkan adanya area bebas energi fosil. Jadi yang boleh melintas adalah kendaraan listrik. Pengelolaan sampah dan limbahnya juga sangat bagus, menggunakan teknologi.
“Kalau dilihat, danau di Swiss kalah spektakuler dibanding Toba. Pertanyaannya, kenapa di sana bisa tertata? Karena ada master plan. Karena itu, di sini pun hendaknya ada master plan bersamaan program penanaman pohon di lahan gundul,” ujarnya.
Yang tak kalah menarik adalah testimoni dari salah satu tokoh masyarakat yang hadir dalam Rakor Penyelamatan Danau Toba. Dia adalah Mayjen TNI Purn Haposan Silalahi. Dalam usia yang menginjak 85 tahun, ia masih terlihat sehat dan aktif. Malam sebelum Rakor, Haposan bahkan sempat berbincang panjang dengan Doni Monardo, yuniornya di TNI-AD.
Haposan mengisahkan ihwal keberadaan Danau Toba yang sangat sentral bagi masyarakat Tapanuli. Apa daya, dari tahun ke tahun, ia menyaksikan penurunan kualitas danau. “Dulu, pantai Danau Toba ada persis di depan rumah. Saat ini sudah maju lima meter. Itu artinya debit air turun. Bukan hanya itu, dulu di pantai Toba juga banyak bebatuan yang bersih, tapi sekarang batu-batuan itu tampak berlumut, indikasi adanya pencemaran akut,” katanya.
Saat ini muka air Danau Toba sudah di angka 903 mdpl. Harusnya di angka ideal 905 mdpl, dan akan lebih bagus lagi jika bisa mencapai 906 mdpl. Haposan menyebutkan, kekurangan ketinggian muka air dua meter itu bukanlah angka yang kecil, mengingat panjang danau Toba yang sekitar 100 km dan lebar danau yang sekitar 30 km.
Haposan juga mengenang saat-saat Danau Toba masih menjadi primadona rakyat yang hidup di sekitarnya. Ikan-ikan yang ada di Danau Toba juga menjadi kebanggan. Dan saat ini banyak yang sudah punah.
“Ada satu yang sangat saya sesalkan, yakni punahnya gurapang, atau kepiting danau. Saya biasa makan kepiting itu, lezat dan bergizi tinggi. Kalau kita berenang di danau, bisa melihat kepiting bercorak warna-warni itu di tepi pantai,” kenang Haposan Silalahi.
“Saya berharap Satgas Penyelamatan Danau Toba bisa mengembalikan Danau Toba seperti zaman saya kecil dulu,” ujar Haposan.
Usai Rakor Penyelamatan Danau Toba, Doni Monardo beserta para bupati, Sekda Prov Sumut, Dandim, Kapolres Karo meluncur ke bukit Gajah Bobok untuk melakukan penanaman pohon macadamia Australia (macadamia integrifolia) di lokasi lahan gundul.***rr
JAYAKARTA NEWS— Pemerintah terus memperbaiki tata kelola sumber daya alam agar ada pemerataan, transparan dan adil, untuk mengoreksi ketimpangan, ketidakadilan, dan kerusakan alam. Untuk itu, izin-izin pertambangan, kehutanan, dan penggunaan lahan negara terus dievaluasi secara menyeluruh.
“Izin-izin yang tidak dijalankan, yang tidak produktif, yang dialihkan ke pihak lain, serta yang tidak sesuai dengan peruntukan dan peraturan, kita cabut,” tegas Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dalam pernyataan persnya, Kamis (06/01/2021), di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat. Demikian dikutip dari laman setkab.go.id
Pertama, hari ini pemerintah mencabut sebanyak 2.078 izin perusahaan pertambangan mineral dan batu bara (minerba) karena tidak pernah menyampaikan rencana kerja.
“Izin yang sudah bertahun-tahun telah diberikan tetapi tidak dikerjakan, ini menyebabkan tersanderanya pemanfaatan sumber daya alam untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat,” imbuhnya.
Kedua, hari ini pemerintah juga mencabut sebanyak 192 izin sektor kehutanan seluas 3.126.439 hektare. Izin-izin ini dicabut karena tidak aktif, tidak membuat rencana kerja, dan ditelantarkan.
Ketiga, untuk Hak Guna Usaha (HGU) perkebunan yang ditelantarkan seluas 34,448 hektare, hari ini juga dicabut. Dari luasan tersebut, sebanyak 25.128 hektare adalah milik 12 badan hukum dan sisanya seluas 9.320 hektare merupakan bagian dari HGU yang telantar milik 24 badan hukum.
Presiden menyampaikan, pembenahan dan penertiban izin ini merupakan bagian integral dari perbaikan tata kelola pemberian izin pertambangan dan kehutanan, serta perizinan yang lainnya. Pemerintah terus melakukan pembenahan dengan memberikan kemudahan-kemudahan izin usaha yang transparan dan akuntabel, tetapi, izin-izin yang disalahgunakan pasti akan dicabut.
“Kita harus memegang amanat konstitusi bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat,” jelasnya.
Di saat yang sama, pemerintah akan memberikan kesempatan pemerataan pemanfaatan aset bagi kelompok-kelompok masyarakat dan organisasi sosial keagamaan yang produktif (termasuk kelompok petani, pesantren, dll), yang bisa bermitra dengan perusahaan yang kredibel dan berpengalaman.
“Indonesia terbuka bagi para investor yang kredibel, yang memiliki rekam jejak dan reputasi yang baik, serta memiliki komitmen untuk ikut menyejahterakan rakyat dan menjaga kelestarian alam,” tandasnya.
Turut mendampingi Presiden dalam kesempatan tersebut yaitu Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif, Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sofyan Djalil, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar, dan Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia.***rnl
JAYAKARTA NEWS— Group Artha Graha melalui Artha Graha Peduli, melakukan penandatanganan kerjasama dengan startup asli bangsa Indonesia, yaitu dengan Sampangan.id dan Bumoon.io.
Bertujuan membangun industri pengolahan sampah agar sampah dapat menjadi produk turunan serta mempunyai nilai ekonomi tinggi yaitu, carbon aktif yang merupakan makanan mewah bagi tanaman, desifektan, crowd oil dan liquid smoke, sehingga dapat mengurangi masalah sampah di Indonesia.
Seperti disampaikan oleh Happy Murdianto, CEO Bumoon.io dan Mohamad Fauzal Rizki, CEO sampangan.id mereka sepakat “Kerja sama ini merupakan langkah kongkret kami sebagai putra bangsa untuk berperan aktif mengatasi masalah sampah,” dalam keterangan tertulisnya, Selasa [9/11/21].
Aksi nyata ditujukan pada pengelolaan sampah di seluruh pelosok Indonesia dan dukungan terhadap industri agrikultur, serta komitmen untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang kerugian emisi karbon bagi lingkungan dengan menghasilkan keuntungan dari melakukan kegiatan mudah dan transparan yang berdampak positif bagi bumi.
“Tujuan penting dari pengelolaan sampah yakni agar memiliki nilai ekonomi tinggi sehingga menjadi game charge pemulihan ekonomi Indonesia”, menurut mereka berdua.
Kerjasama ini diharapkan tidak ada lagi tempat pembuangan sampah menumpuk menjadi “gunungan sampah” tapi diolah dengan alat “magic box” menjadi produk yang mempunyai nilai ekonomi, sehingga dapat di jual ke pasar Indonesia maupun pasar global serta pemasukan devisa bagi negara sesuai harapan Presiden Joko Widodo.
Hanna Lilies Puspawati dari Artha Graha Group menyatakan ‘’Saya sangat kagum terhadap produk lokal ini, diciptakan murni oleh anak bangsa yang peduli dan berupaya keras untuk dapat memberikan kontribusi nyata dalam pengurangan pemanasan global (Global Warming) dan pelestarian lingkungan Indonesia,’’ pungkasnya. (ks)
JAYAKARTA NEWS— Kepala Badan Nasional Penanggulngan Bencana (BNPB) Pusat, Letjen TNI Ganip Warsito menegaskan pentingnya aktivitas pengelolaan dan pelestarian Daerah Aliran Sungai (DAS) untuk menghindari ancaman bencana alam yang dapat dicegah.
Untuk itu, Kepala BNPB menekankan pentingnya daya dukung lingkungan melalui kebijakan pembangunan yang pro lingkungan, juga kebiasaan dan budaya masyarakat setempat.
Penegasan disampaikan Ganip Warsito dalam arahannya saat pada Temu Komunitas Peduli Sungai di Kampus IAIN, Kota Ambon, Provinsi Maluku, Selasa (19/10/2021).
Hadir dalam acara tersebut Gubernur Maluku, Irjen Pol (Purn) Murad Ismail, Ketua DPRD Provinsi Maluku, Lucky Wattimury, Rektor IAIN Ambon Dr. Zainal Abidin Rahawarin, dan Jajaran BNPP/SAR Maluku, Kepala Bakamla, Walikota Ambon serta Komunitas Peduli Sungai Maluku.
Kepala Badan Nasional Penanggulngan Bencana (BNPB) Pusat, Letjen TNI Ganip Warsito saat memberikan arahan pada Temu Komunitas Peduli Sungai di Kampus IAIN Ambon, Selasa (19/10/2021). (Foto: BNPB)
“Berbicara tentang daya dukung lingkungan, maka sangat terkait dengan kebijakan pembangunan dan implementasinya, terkait juga dengan kebiasaan dan budaya masyarakat, serta kerentanan bencana lainnya,” ucap Ganip Warsito.
Menurut mantan Kasum TNI ini, selain ancaman bencana yang tidak dapat dicegah, seperti Ancaman Geologi berupa Gempabumi, Tsunami, Erupsi Gunungapi, Putting Beliung yang terjadi secara tiba-tiba, ada juga ancaman bencana yang dapat dicegah.
Ancaman bencana yang dapat dicegah itu terkait dengan daya dukung lingkungan, seperti: Banjir, Banjir Bandang, Tanah Longsor, Kekeringan, Kebakaran Hutan dan Lahan.
Dalam catatannya, Ganip mengatakan setiap tahun lahan kritis di Indonesia, terus mengalami peningkatan. Hal ini menyebabkan perubahan drastis pada Daerah Aliran Sungai (DAS), sebagai penjaga siklus hidrologis.
“Pada Tahun 1984, terdapat 22 DAS kritis, Tahun 1994 terdapat 39 DAS kritis, Tahun 1998 terdapat 62 DAS kritis; dan pada Tahun 2016 terdapat 108 DAS kritis,” ujarnya.
Oleh karena itu, Ganip menegaskan beberapa hal penting yang harus dilakukan dalam rangka meningkatkan daya dukung lingkungan pada DAS. “Hal penting yang perlu dikembangkan dalam kegiatan ini adalah terwujudnya koordinasi,” ucap Ganip.
Kedua, hal penting yang juga harus dilakukan secara terus menerus adalah kampanye pelestarian lingkungan hidup. Ketiga, perlunya dilaksanakannya Identifikasi dan Analisa Daerah Aliran Sungai (DAS) yang membutuhkan perhatian lebih dan menjadi prioritas penanganan.
“Keempat terwujudnya pemberdayaan dan partisipasi masyarakat, serta kelima pemilihan tanaman ekologis dan bernilai ekonomis,” sebut Ganip.
Kelima hal itu, ia tegaskan sebagai upaya mitigasi vegetasi di sekitar wilayah aliran sungai. Sehingga, output yang diharapkan dapat meningkatnya produktivitas lahan dan pemanfaatan sungai sebagaimana fungsi alaminya.
“Dan yang paling penting adalah outcome dari upaya tersebut yaitu menurunnya Indeks Risiko Bencana,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Kepala BNPB sekaligus memberikan penghargaan kepada 44 relawan Komunitas Peduli Sungai (KPS), menyaksikan Simulasi Kebencanaan Berbasis Masyarakat serta meninjau Pameran Kebencanaan & Lingkungan Hidup. (ctr)
JAYAKARTA NEWS— Selama ini selalu diberitakan bahwa kemasan plastik polikarbonat dengan kode plastik no 7 mengandung Bisphenol A alias BPA berbahaya. Tapi tidak pernah dijelaskan bagaimana BPA yang berbahaya ini melakukan migrasi dari kemasan plastik polikarbonat ke air yang disimpannya?
Menurut Danish Ministry of the Environment dalam tulisan Environment project no 1710 tahun 2015 tentang Migration of Bisphenol A from Polycarbonate Plastic of different qualities, berkesimpulan bahwa pelepasan BPA dari PC dalam kontak dengan simulasi makanan berkorelasi positif dengan suhu (T) dan waktu (t) kontak.
Pada suhu yang lebih rendah (misalnya 0 – 70C) pelepasan BPA lambat dan dikendalikan oleh difusivitas dalam jumlah besar dan polimer padat. Pelepasan BPA lambat ini tentu saja tetap berbahaya karena walaupun kecil jumlah migrasi BPA nya tetap saja dapat mencemari makanan atau minuman.
Sementara dalam jurnal ilmiah yang diterbitkan pada tahun 2019 hasil penelitian bersama Bayu Nugroho (Politeknik Ilmu Pelayaran Balikpapan), Yudhiakto Pramudya (Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta) dan Widodo (Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta) yang berjudul The Content Analysis of Bisphenol A (BPA) on Water in Plastic Glass with Varying Temperatures and Contact Times Using UV – VIS Spectrophotometer mendapatkan konklusi bahwa, makin lama waktu kontak, dan suhunya makin tinggi makin tinggi pula konsentrasi BPA-nya.
Luruhnya BPA ini akibat suhu panas yang lama secara kontinyu tentu saja berbahaya karena dapat langsung mencemari air di dalam kemasan plastik yang mengandung BPA.
Begitu juga dengan galon guna ulang yang berkode plastik No.7. Kita tidak pernah tahu bagaimana galon guna ulang tersebut mengalami beberapa kali paparan matahari. Saat baru keluar dari pabrik kemudian diangkut dengan truk menuju ke gudang distributor kemudian dari distributor dikirim ke star outlet juga menggunakan truk, dari star outlet dikirim ke toko – toko, semua menggunakan truk.
Yang sangat mungkin terkena paparan matahari. Kemudian saat dipajang di toko – toko tak sedikit yang terkena matahari juga. Saat galon mengalami pencucian, untuk kemudian digunakan lagi, galon disemport dengan air panas bersuhu sekitar 70 derajat Celcius. Nah pada kesempatan ini, galon mengalami pemanasan yang bukan tidak mungkin mengaktifkan zat BPA-nya yang berbahaya.
BPA yang luruh ke air tentu saja sangat berbahaya bagi bayi, balita dan janin pada ibu hamil. Botol susu bayi sudah diwajibkan terbebas dari BPA, karena bersentuhan langsung. Nah air yang digunakan untuk mencampur susu bubuk,misalnya harus juga terbebas dari bahan yang mengandung BPA.
“Kalau botolnya sudah free BPA tapi airnya dari galon yang belum free BPA hal itu jelas sangat berisiko,” pesan Ketua Perkumpulan Jurnalis Peduli Kesehatan dan Lingkungan (JPKL) Roso Daras untuk berhati hati. Bahaya terpapar BPA dapat mengakibatkan terganggunya hormonal, perkembangan organ tubuh dan perilaku serta gangguan kanker di kemudian hari.
“Jadi soal bagaimana migrasi BPA ke air? Jelas faktor yang menentukan adalah suhu dan lamanya kontak dengan galon yang berkode plastik No7 tersebut. Semakin panas dan semakin lama maka konsentrasi BPA makin tinggi. Misal, galon guna ulang yang berbahan polikarbonat diangkut dari pabrik menuju gudang dan terkena paparan matahari, disitu jelas berpegaruh kepada pelepasan BPA,” ungkapnya.
Masih menurutnya, walaupun kecil sekali adanya nilai migrasi akan tetapi itu tetap ada dan berpotensi meninggalkan residu pada produk. Belum lagi jika galon tersebut berkali – kali digunakan. Pertanyaannya adalah, sampai berapa kali galon berkode plastik No.7 tersebut digunakan berulang kali? Atas dasar apa produsen mengetahui galon tersebut sudah digunakan berapa kali.
Permenperin sebenarnya mengatur mengenai pemberlakuan SNI secara wajib untuk produk AMDK yang merevisi peraturan tahun 2016. Terdapat suatu acuan dalam pencucian kemasan galon yang pakai ulang dalam suatu Peraturan Menteri Perindustrian No. 26 tahun 2019. Pada halaman 31 ada metode pencucian kemasan pakai ulang dengan menggunakan detergen foodgrade dengan suhu 55-75C.
Sayangnya, hingga kini belum ada peraturan pemerintah tentang penggunaan kemasan plastik berbahan polikarbonat dengan kode No.7 yang digunakan berulang kali secara mendetail, seperti bagaimana standar distribusinya, bagaimana standar kualitasnya dan standard bagaimana mencegah agar BPA yang berbahaya tidak terlepas dan bermigrasi larut dalam air.
Itu sebabnya, langkah Roso Daras mendesak BPOM untuk memberi label pada galon guna ulang supaya tidak dikonsumsi oleh bayi, balita dan janin sungguh tepat mengingat wadahnya mengandung BPA.
Penelitian terbaru pada Januari 2021 berdasarkan Scientific Reports mengenai hubungan BPA dan Autism. Berdasarkan jurnal internasional yang berjudul, “Sex difference in the effects of prenatal bisphenol A exposure on autism – related gemes and their relationships with the hippocampus functions” berkesimpulan bahwa autisme memiliki prevalensi lebih tinggi pada pria dibandingkan wanita.
Bisphenol A (BPA) adalah bahan kimia umum yang ditemukan dalam plastik makanan kita dan bahkan plasent manusia. Paparan BPA sebelum melahirkan yang lebih tinggi diduga meningkatkan risiko autisme. Para peneliti telah mengidentifikasi gen kandidat autisme yang mungkin bertanggung jawab atas efek spesifik jenis kelamin dari BPA.
Jika Anda googling dengan masukan kata kunci ‘bahaya BPA’ maka akan sangat mudah menemukan informasi tentang bahaya BPA dari yang paling lama sampai yang paling up date. Artinya apa? Persoalan bahaya BPA memang serius dan terus dilakukan kajian. Terutama bahaya bagi bayi, balita dan janin. Ayok selamatkan masa depan mereka.***/ebn
JAYAKARTA NEWS – Simalakama! Bukan, ini bahkan dapat dikata lampu merah. Masalahnya pengembangan produksi vaksin untuk melawan virus Covid-19 sangat berpotensi memusnahkan setengah juta populasi ikan hiu.
Para konservasionis memperingatkan, bahaya lingkungan yang sangat hebat, tatkala para ahli kesehatan atau perusahaan farmasi dalam mengembangkan vaksin berfokus pada pemanfaatan hewan mamalia yang hidup liar di laut lepas tersebut.
Perusahaan farmasi Inggris bernama GlaxoSmithKline (GSK), kini tengah memproduksi vaksin flu, dengan memanfaatkan shark squalene, yaitu minyak alami yang diproduksi di hati mamalia hiu.
Shark squalne digunakan sebagai adjuvan dalam pengobatan, bahan yang meningkatkan efektivitas vaksin dengan menciptakan respons imun yang lebih kuat. GSK telah mengumumkan bahwa mereka akan memproduksi satu miliar dosis adjuvan untuk penggunaan potensial dalam vaksin virus corona.
Bayangkan apa yang terjadi, kalau perusahaan Inggris itu benar-benar menjalankan rencana bisnisnya untuk memproduksi satu miliar dosis vaksin virus korona. Untuk memproduksi vaksisn tersebut di antaranya membutuhkan hiu squalene.
Antara 2.500 – 3.000 hiu dibutuhkan untuk mengekstrak satu ton squalene. Kelompok konservasi Shark Allies memperkirakan, bahwa jika semua populasi dunia menerima satu dosis vaksin, sekitar 250.000 hiu harus disembelih, tergantung pada jumlah squalene yang digunakan. Dua dosis untuk setiap orang di dunia, sama dengan setengah juta hiu.
Stefanie Brendl, salah satu aktivis di Shark Allies mengingatkan, “Memanen sesuatu dari hewan liar tidak akan pernah berkelanjutan. Ingat bahawa hiau adalah predator puncak yang tidak bereproduksi dalam jumlah besar.”
Squalene adalah bahan yang didambakan dalam kosmetik dan oli mesin. Diperkirakan 3 juta hiu dibunuh setiap tahun karena squalene.
Untuk diketahui, Paus orca memangsa hati hiu dan hampir dapat mengeluarkannya dengan operasi. Beberapa hati hiu memiliki berat hingga sekitar 80kg.