Drone di Bukit Cinta: Mengungkap Keindahan Alam yang Tersembunyi

JANJI MARTAHAN, JAYAKARTA NEWS – Kawasan Danau Toba di wilayah Kabupaten Samosir memiliki aneka ragam destinasi wisata alam yang masih original-alami. Spot terindah dan menarik tidaknya di destinasi wisata itu, tergantung sudut mata memandang, mood dan selera masing-masing wisatawan.

Di era serba digital dewasa ini, kordinat-kordinat tujuan wisata terpencil sekalipun di wilayah Kabupaten Samosir, setidaknya dalam sepuluh tahun terakhir satu persatu spot dapat di explore keberadaannya melalui jepretan gadget, bahkan bisa viral.

Kecamatan Harian adalah satu dari sembilan kecamatan di Kabupaten Samosir, yakni Kecamatan Sianjur Mulamula, Pangururan, Palipi, Nainggolan, Sitiotio, Simanindo, Ronggur Nihuta dan Kecamatan Onan Runggu. Perbukitan mengitari keberadaan sembilan kecamatan itu, terletak di pinggiran dan diantara kawasan Danau Toba. Di tiap kecamatan, diakui memiliki potensi destinasi wisata yang khas dan bervariasi.

Dari kiri Linggom Sitanggang, Jani Situmorang (menggunakan topi dan kaca mata) Beny Situmorang (pakai topi) , Mangoloi Habeahan dan Maruli Sagala. (Foto. Monang Sitohang)

Dalam tiga tahun belakangan, di Kecamatan Harian Boho, ada lima objek wisata yang lagi booming, yakni, Menara Pandang Tele, Air Terjun Efrata/water fall, Bukit Sibeabea, Bukit Cinta dan Bukit Holbung. Diantara empat objek wisata, Bukit Cinta adalah terakhir booming.

Dengan dukungan teknologi digital, seperti penyewaan drone, Bukit Cinta bisa lebih menarik bagi wisatawan. Generasi muda lokal bisa berperan penting dalam mempromosikan destinasi ini lewat media sosial dan konten kreatif, menampilkan keindahan Bukit Cinta dari perspektif yang unik. Ini akan membantu meningkatkan nilai jual dan menarik lebih banyak pengunjung.

Penyediaan drone di Bukit Cinta kemungkinannya dapat menjadi nilai tambah, meskipun tak punya nilai jual eksklusif. Menurut sejumlah pengunjung, Bukit Cinta punya spot-spot tertentu yang tak sama dengan di Bukit Sibeabea dan Bukit Holbung. Keindahan panorama alam sekitarnya akan lebih menarik bila diabadikan lewat drone.

Melalui tangan terampil seorang pilot drone  memainkan remote control akan dapat  menjangkau panorama indah Danau Toba dan lekukan-lekukan perbukitan sekitarnya serta perbukitan yang berada di kejauhan mata memandang terekam jelas dalam video, dan hasil foto mirip persis seperti aslinya.

Dengan fasilitas drone yang disewakan, kata pengelola Bukit Cinta, menjadi salah satu daya tarik bagi sejumlah pengunjung. Biaya sewa drone terjangkau, hasil rekaman dalam video serta foto cukup eksklusif. Beberapa pengunjung yang berwisata mengaku merasa puas karena mendapatkan spot-spot yang ideal. “Keluar uang lebih tak merasa rugi, berwisata ke Bukit Cinta terasa seakan sempurna,”ujar seorang pengunjung perempuan.

Jani Situmorang saat bersama Boy William pengunjung di Bukit Cinta. (Foto. Istimewa)

Pesawat drone tanpa awak itu membuktikan bahwa di Bukit Cinta tak ada spot-spot tersembunyi, semua titik berpose sesuai keinginan wisatawan dapat terjangkau dan terekam atas kecanggihan teknologi drone tersebut.

Penggiat Wisata Drone

Baling-baling mirip helikopter adalah bagian onderdil yang dirancang mampu untuk menerbangkan drone, dan drone wisata bisa terbang mencapai ketinggian ratusan meter atau tidak melebihi batas ketentuan terbang drone.

Tak sedikit pebisnis di sektor pariwisata mendayagunakan drone sebagai alat perekam yang mampu menghasilkan foto-foto dan video eksklusif pada objek-objek tujuan wisata, terlebih objek wisata alam seperti Bukit Cinta. Angle-angle unik dan menarik suatu objek wisata hanya dapat dikerjakan tenaga profesional seorang pilot drone, dan itu akan menentukan kualitas hasil rekam atau kualitas hasil potretan.

Linggom Sitanggang (26) warga Desa Janji Martahan sebagai pengiat pariwisata di Bukit Cinta, mengatakan kepada awak media ini, Jumat (25/4/2025) bahwa kehadiran jasa drone membawa perubahan signifikan bagi destinasi wisata tersebut.

Linggom menjelaskan bahwa tugasnya adalah menyambut pengunjung yang masuk ke kawasan Bukit Cinta dan menawarkan jasa drone. Ia menawarkan beberapa paket, seperti Drone DJI Mavic 3 pro, dengan harga yang bervariasi, seperti Rp. 400.000 untuk 1 video dan 2 foto, Rp. 1.000.000 untuk 3 video dan 3 foto, dan Rp. 1.200.000 untuk 4 video dan 4 foto.

“Ternyata pengunjung yang barusan saja saya tawarkan itu memilih paket Rp. 1.200.000, namun meminta ada penambahan foto dan video,” jelas Linggom.

Kemudian Jani Situmorang, pengelola Bukit Cinta, mengatakan bahwa lokasi ini mulai ramai dikunjungi dalam 3 bulan terakhir, terutama oleh wisatawan yang menggunakan drone untuk mengabadikan pemandangan indah Danau Toba dari ketinggian. Pengunjung dapat dengan bebas menerbangkan drone nya tanpa dikutip biaya, cukup membayar biaya parkir, mobil Rp.30.000, sepeda motor Rp.10.000.

“Bukit Cinta kini dikenal sebagai destinasi wisata drone, dengan banyak pengunjung yang datang menggunakan drone untuk mengabadikan keindahan alam sekitar. Selain itu, Bukit Cinta juga menawarkan jasa drone lengkap dengan pilot handal untuk memberikan pengalaman unik menikmati pemandangan alam yang spektakuler,”kata Jani Situmorang, saat ditemui di pos pintu masuk Bukit Cinta.

Lanjut Jani lagi, Bukit Cinta ini mulai ramainya itu pada bulan Januari dan Imlek lalu, saat kawasan destinasi di Kecamatan Harian Boho tamunya membludak mulai di Menara Pandang Tele, Bukit Sibea-bea dan Bukit Holbung hingga macet, situasi itu berdampak ke Bukit Cinta hingga kini.

Rombongan Boy William saat berkunjung di Bukit Cinta. (Foto. Screenshot dok Jani Situmorang)

“Seperti hari ini, kita kedatangan pengunjung Boy William, tentu sebagai pengelola kita senang dan bangga Bukit Cinta dikunjungi artis DKI, dan sempat mengajaknya berfoto bersama. Selain itu beberapa konten creator yang sukses. Dan tamu disini juga datang dari berbagai negara, Malaysia, Thailand, Mancanegara serta daerah-daerah sekitar sumatera,” tutur ayah tiga orang anak itu.

Paket Drone di Bukit Cinta

Jadi destinasi wisata Bukit Cinta yang saat ini dikenal dengan wisata drone. Walaupun ada juga pengunjung datang membawa drone, tetap di Bukit Cinta menyediakan jasa sewa drone dengan pilot yang handal untuk mengoperasikan pesawat tanpa awak itu. Usaha jasa drone ini milik Maruli Sagala dan Mangoloi Habeahan.

Kedua bekerjasama untuk membuat usaha ini, dan masing-masing memiliki peran yang  satu sebagai pengendali (pilot) drone Mangoloi Habeahan, sedangkan sebagai pengarah gerak penguna jasa drone dilakukan oleh Maruli Sagala. Tujuannya agar pada saat pengambilan foto dan video dapat menghasilkan hasil yang optimal dan sesuai dengan keinginan pelanggan.

Seperti dikatakan Nina dan suaminya, saat  menggunakan jasa drone di Bukit Cinta. Nina mengatakan sangat puas dan hasilnya juga keren dan bagus.

Cara kerja pelaku jasa drone di Bukit Cinta ini layak diapresiasi, kata Nina, sebab kita dipandu terlebih dahulu, pertama diarahkan naik ke bukit oleh salah satu dari mereka, kemudian  diajarkan beberapa gerakan dan pose sebelum diabadikan foto dan vidionya.

“Perhatikan langkahnya ya, pegang tangannya, maju santai, kemudian nanti berputar tangan tetap pegangan, lalu berputar lepas tangan kanan pasangannya. Setelah itu, lihat ke depan dan lambaikan tangan satu, kemudian kedua tangan,” ujar Nina menirukan instruksi dari pemandu jasa drone.

Melalui lensa drone, setiap sudut panorama Bukit Cinta tampil dalam kemegahan yang memukau, menghadirkan kenangan indah yang tak pernah pudar, kata Nina.

Sekadar informasi, ada dua paket drone di Bukit Cinta, yaitu 1 vidio ditambah 2 foto Rp.200.000, 3 vidio ditambah 3 foto Rp.300.000, 4 vidio plus 5 foto drone Rp.500.000, paket Ini menggunakan drone DJI Mini 3 dan paket drone DJI Mavic 3 pro, 1 vidio, 2 foto Rp.400.000, 3 vidio, 3 foto Rp. 1.000.000 dan 4 vidio 4 foto drone Rp.1.200.000. (Monang Sitohang)

Pantai Pandan Tapteng Menginspirasi, Perasaan Hati Tenang

MEDAN, JAYAKARTA NEWS – Pantai Pandan berada di Desa Pandan, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara. Pantai ini memang menjadi salah satu destinasi wisata favorit bagi yang mencari ketenangan dan keindahan alam, serta menawarkan pemandangan yang eksotis, dengan pasir putih yang lembut dan air laut biru yang jernih.

Selain itu, Pantai Pandan juga dikenal dengan keindahan sunset-nya yang memukau, membuatnya menjadi spot foto yang sangat populer di kalangan para wisatawan. Sehingga tidak heran pengunjung yang datang mencari pengalaman wisata yang lebih tenang dan alami. Tak salah, Pantai Pandan menjadi salah satu pilihan tujuan wisata favourite di Sumatera Utara.

Pantai Pandan memiliki lokasi yang strategis dan mudah dijangkau, jaraknya tidak jauh dari Kota Sibolga sekitar 10 km dengan jarak tempuh sekitar 25 menit, sedangkan dari Kota Medan sekitar 352 km, dengan waktu tempuh 9 jam perjalanan darat. Lokasinya mudah dijangkau berada tidak jauh dari Jalan Lintas Sumatera, atau Jalan Padang Sidempuan.

Maha Rajagukguk salah seorang pengunjung Pantai Pandan. (Foto. dok Pribadi)

Menurut Maha Rajagukguk, warga Kota Medan, jarak tempuh dari Kota Medan ke Pantai Pandan memakan waktu sekitar 8-9 jam. Sementara itu, jarak dari Kota Sibolga ke Pantai Pandan tergolong dekat tidak sampai setengah jam, sehingga membuatnya menjadi destinasi wisata yang mudah dijangkau.

“Tahun lalu saya sering berkunjung ke Pantai Pandan, karena Tapteng termasuk salah satu dapil (daerah pemilihan) saya saat ikut dalam kontestasi Caleg,” ujarnya kepada awak Pilar Merdeka. Com melalui WhatsApp nya, Kamis malam (6/3/2025).

Kemudian, kata Maha Rajagukguk, pemilik media Aura Indonesia.com itu, di kawasan Pantai Pandan juga telah tersedia berbagai fasilitas untuk mendukung kenyamanan para wisatawan, seperti hotel untuk menginap, area parkir yang luas, pondok atau gazebo, tempat-tempat makanan yang menyajikan kuliner khas lokal serta permainan wahana air seperti Banana Boat

“Pantai Pandan memiliki beberapa kelebihan yang membuatnya menjadi destinasi wisata yang menarik, pantainya indah, suasananya tenang, air lautnya yang biru dan jernih, pasir putihnya yang lembut, ombaknya juga menarik untuk dinikmati. Selain itu suasana sunset-nya juga seperti memiliki magnet tersendiri,”ungkap Maha Rajagukguk.

Pantai Pandan di Tapanuli Tengah ini merupakan destinasi yang sempurna untuk beristirahat dan bersantai. Keindahan pasir putihnya, dipadukan dengan pemandangan sunset yang memukau, membuatnya menjadi tempat yang ideal untuk melepas penat dan menikmati keindahan alam. (Monang Sitohang)

Gordang Sambilan Alat Musik Mandailing Pengiring Tortor

JAYAKARTA NEWS— Gordang Sembilan adalah alat musik tradisional Mandailing, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Alat musik itu bagian instrumen gendang yang terdiri dari sembilan jenis gendang dengan ukuran berbeda.

Karakteristiknya terbuat dari kulit hewan, biasanya kulit sapi atau kerbau yang dikeringkan dan ditegangkan pada rangka kayu. Kemudian ukuran gendang bervariasi, mulai dari kecil hingga besar. Agar mengeluarkan bunyi caranya dipukul menggunakan tangan atau tongkat maka menghasilkan suara yang khas dan merdu.

Sedangkan fungsi gordang sambilan untuk mengiringi tarian tradisional seperti Tari Tortor,
mengiringi upacara adat dan ritual keagamaan,
sebagai alat komunikasi dan sebagai ekspresi budaya yang mengiringi musik tradisional Mandailing.

Personel group Gordang Sambilan Muara Pardomuan saat hendak tampil menghibur. (Foto. Ig Muara Pardomuan 2)

Menurut salah seorang pemilik Grup Gordang Sambilan Muara Pardomuan, Ilham Batubara,
pelestarian budaya daerah seperti alat musik tradisional gordang sambilan merupakan hal yang sangat penting. Hal ini bertujuan untuk mempertahankan kekayaan budaya dan tradisi dari pengaruh-perubahan zaman.

Kemudian, kata Ilham salah seorang alumni mahasiswa dari Universitas Harapan Medan itu menyatakan bahwa dirinya melanjutkan tradisi bermain Gordang Sambilan yang telah dimulai oleh kakeknya. Meskipun ayahnya telah meninggal, Ilham tetap mempertahankan warisan budaya tersebut dengan menggunakan alat-alat musik yang masih terjaga dengan baik, bahkan sering disewakan.

“Almarhum ayahnya melanjutkan Grup Gordang Sambilan Muara Pardomuan sejak 2004. Saat itu, saya berusia 5 tahun. Setelah ayah meninggal saya melanjutkan grup tersebut sejak 2016. Nama grup tetap sama karena personelnya berasal dari kampung yang sama, seperti Kota Nopan, Pasaman dan lainnya,” ujar Ilham kepada awak media ini beberapa waktu lalu, di kediamannya, Jalan Benteng Hulu, Medan Tembung.

Lanjut Ilham, bahwa Grup Muara Pardomuan memiliki 12 personel dan saya belajar bermain alat musik tradisional seperti Gondang Sambilan, Gondang Tua dan Gong secara otodidak dengan memperhatikan ayah sejak kecil. Hanya suling yang belum saya kuasai.

Alat musik tradisional Gordang Sambilan milik Muara Pardomuan. (Foto. Ig Muara Pardomuan 2)

“Masing masing punya keahlian, untuk megang alat musik suling Rahman Nasution. Semenjak saya memimpin grup Muara Pardomuan pernah disewa sampai ke Bukittinggi, Sumatera Barat dan sekitaran Kota Medan. Tapi kalau ayah saya yang memimpin grup waktu itu sudah kemana-mana bahkan sudah keluar negeri,” ungkap Ilham dengan senyum.

Saya anak tunggal bang, kata Ilham, nama almarhum ayah Safaruddin Batubara dan Ibu Boru Lubis, sambil Ilham memperlihatkan alat-alat musik Gordang Sambilan.

Jadi group Gordang Sambilan ini, jelas Ilham untuk sekali show sekitar 6 juta, itu lengkap sudah sama penari, karena kami ada kerjasama dengan sanggar tari dari grup kita juga. Kemudian batas waktu tampil dari mulai Jam 8.00 sampai Jam 15.00 WIB.

Ilham berharap kebudayaan dan tradisi daerah dapat dilestarikan melalui pendidikan. “Pendidikan budaya dan musik tradisional perlu dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah, sehingga anak-anak Sumatera Utara dapat mempelajari dan menghargai warisan budaya kita.”

Di akhir bincang-bincang Ilham pun menjelaskan Gordang Sambilan terdiri dari : Enek enek, Patolu, Padua, Kudong kudong, Jangat, Gong, Talempong, Tali sasayak, Seruling dan Sarune. Kemudian, ia mengatakan, “Jika ingin melihat saat para personil memainkan gordang sambilan silahkan lihat di Gordang Sambilan Muara Pardomuan Channel dan mau sewa juga silahkan.”

Sekadar info ke 12 personil Gordang Sambilan Muara Pardomuan itu, Rahmat Syarif Nasution, Syahdan Muaarif, Ibnu, Marito Lintang, Erwin Arifin Lubis, Tajuddin, Muhammad Khoiri, Suhdi Batubara, Putra, Mada, Ardiansyah Nasution dan Adi Pulungan.

Personel Seruling

Seruling merupakan satu di antara alat musik pelengkap di group Gordang Sambilan Muara Pardomuan ini. Seruling merupakan alat musik tiup tradisional yang berasal dari Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia dan Filipina. Alat musik ini terbuat dari bambu yang memiliki lubang-lubang untuk menghasilkan suara.

Ilham Batubara yang memegang gendang dan Rahmat Nasution personil Seruling. (Foto. Monang Sitohang)

Fungsi dari seruling yaitu, mengiringi musik tradisional, mengiringi tarian tradisional, kemudian sebagai alat komunikasi dan sebagai simbol budaya. Sedangkan karakteristik terbuat dari bambu memiliki 4-6 lubang untuk menghasilkan suara dan dimainkan dengan cara ditiup maka akan menghasilkan suara yang merdu dan khas.

Untuk perawatan seruling, bersihkan secara teratur, lalu hindari paparan sinar matahari langsung, dan impan di tempat kering serta periksa jika ada kerusakan.

Menurut salah satu dari 12 personil Gordang Sambilan Muara Pardomuan, Rahmat Syarif Nasution dalam group ini, berperan sebagai pemain seruling. “Teknik meniup seruling yang tepat dapat menghasilkan nada bersih. Dengan latihan, jari-jari dapat dilatih untuk mencari nada yang tepat,” jelas Rahmat.

Kemudian, jelas Rahmat lagi bahwa ia memiliki pengalaman sebagai anggota grup Gordang Sambilan sejak Sekolah Dasar. Selama dua tahun terakhir, saya bergabung dengan grup yang dipimpin oleh Ilham. Sebelumnya, saya bergabung dengan grup musik keluarga, mempelajari berbagai nada dan lagu yang kompatibel dengan instrumen suling.

Ukuran lobang suling berbeda-beda, tergantung nada yang dihasilkan. Contohnya, nada F memerlukan suling dengan ukuran lobang tertentu untuk menghasilkan suara yang tepat. Hal ini mirip dengan prinsip nyanyian, di mana kunci yang salah dapat menghasilkan suara yang tidak harmonis.

“Teknik bermain suling membutuhkan kelancaran dan keseimbangan. Menggerakkan jari-jari dengan lembut dan santai sangat penting untuk menghasilkan suara yang harmonis dan lancar,” ujar Rahmat, sambil mengatakan belajar seruling ia tidak ada melakukan latihan khusus. (Monang Sitohang)

Desa Tuktuk Siadong “Rumah” Bagi Wisman

MEDAN, JAYAKARTA – Desa Tuktuk Siadong merupakan kelurahan yang berada di Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara. Desa ini menjadi salah satu destinasi utama kunjungan para turis mancanegara yang terkenal akan pesona alam dan karya ukir khasnya.

Ya, jika berkunjung ke Kabupaten Samosir, Anda harus singgah ke Desa Tuktuk Siadong. Desa eksotis ini merupakan salah satu tujuan wisata yang tak boleh terlewatkan. Terletak di Siadong, Kecamatan Simanindo, telah tersohor sebagai salah satu tempat terbaik untuk menikmati keindahan alam Danau Toba.

Ada dua alternatif untuk menuju Desa Tuktuk Siadong dari Kota Medan, pertama rute dari Via Parapat menuju Pelabuhan Ajibata menuju Pelabuhan Ambarita, dari pelabuhan ini Desa Tuktuk Siadong sekitar 20 menit. Kemudian Via Kabanjahe menuju Kota Pangururan. Dari Ibukota Kabupaten Samosir ini jarak tempuh sekitar satu setengah jam.

Berkunjung ke Desa Tuktuk Siadong tidak cukup hanya sekali, pasti akan ada kerinduan untuk datang kembali. Sebab desa yang satu ini memberikan rasa nyaman, tenang bagi pengunjung, kemudian masyarakatnya juga ramah-ramah. Selain itu tempat-tempat makanan juga banyak tersedia, serta fasilitas jasa sewa sepeda motor, sepeda dan permainan air.

Hotel Samosir Village salah satu penginapan di kawasan Desa Tuktuk Siadong. (Foto. Monang Sitohang)

Desa ini memang berada di tempat yang strategis, di seberang Parapat dan diapit oleh dua destinasi lain yaitu Tomok dan Ambarita. Hamparan pemandangan hijau sepanjang perjalanan begitu memanjakan mata. Perpaduan alam dan corak budaya Batak yang khas, dari kokohnya rumah Bolon yang khas membuat siapa pun akan semakin terpukau dengan alam tanah Batak.

Udara di kawasan Desa Tuktuk ini juga masih sangat sejuk dengan suasana yang cukup tenang.

Rabiatul Adwiyah Lubis pengunjung dari Kota Medan saat bersepeda di kawasan Desa Tuktuk Siadong. (Foto. Monang Sitohang)

Desa Tuktuk Siadong terkenal dengan suasana yang tenang dan damai, cocok bagi mereka yang ingin berlibur jauh dari hiruk pikuk kota. Di sini, wisatawan dapat menemukan berbagai penginapan tradisional seperti rumah-rumah panggung Batak yang disewakan sebagai penginapan. Selain itu, terdapat juga beberapa restoran dan kafe yang menyajikan hidangan khas Batak, makanan Nasional dan internasional.

Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan di Desa Tuktuk Siadong, mulai dari berenang dan bersantai di tepi danau, memancing di tengah danau, atau berkeliling desa menggunakan sepeda, sepeda motor dan mobil.

“Sure, will be coming again to Tuktuk Siadong Village”. ungkapan seorang wisman (wisatawan mancanegara), dan ungkapan tak jauh beda disampaikan Rabiatul Adwiyah Lubis, Kamis (26/09) di Tuktuk. “Aku baru kali pertama kesini, itupun karena bersama suami. Rasanya tidak cukup sekali saja, kami pasti datang lagi ke Tuktuk,” kata perempuan berhijab dari Medan.

Rabiatul menggambarkan, panorama alam Desa Tuktuk Siadong sekitarnya memang aduhai, pikiran segar menatap sekelilingnya. Maaf, bukan itu yang membuat hati terasa nyaman disini (Tuktuk-red), tapi keramahtamahan warganya yang menghargai para tamu atau wisatawan.

Salah satu permainan air yang disewakan di kawasan perairan Desa Tuktuk Siadong. (Foto. Monang Sitohang)

Dari beberapa daerah tempat wisata di kawasan Danau Toba yang pernah dikunjungi, wisman yang terlihat banyak hanya di Tuktuk. “Bule-bulenya kelihatan betah. Ada yang bisa bahasa Batak, bahkan ada wanita setempat dipersunting pria asal Jerman. Tuktuk kayak rumahnya sendiri,” jelas Rabiatul, perawat di salah satu Rumah Sakit Kemenkes.

Sekadar informasi, dilansir dari pariwisatasumut.net, sejak 1990, desa wisata ini sering dijuluki sebagai ‘kampung turis’. Pasalnya, desa ini sering kali menjadi tujuan banyak wisatawan mancanegara saat ingin menikmati keindahan Danau Toba dan Pulau Samosir.

Bahkan, saat musim semi dan salju sedang terjadi di Eropa, banyak turis yang memilih menjadikan desa ini sebagai tempat tinggal untuk sementara waktu.Hal ini karena di Desa Tuktuk Siadong wisatawan bisa menemukan transportasi dengan mudah. Bahkan, wisatawan bisa dengan mudah menemukan tempat-tempat yang menyewakan kendaraan seperti motor. (Monang Sitohang)

Amel Siregar: Jangan Tunda Berbuat Kebaikan

MEDAN, JAYAKARTA NEWS— Kapan saja, dimana saja selalu ada peluang untuk berbuat kebaikan. Hanya saja terkadang kita suka menunda-nunda. Seolah waktu yang dimiliki masih panjang. Padahal kita sama sekali tidak pernah mengetahui kapan waktu terakhir hidup di dunia ini. Maka jangan tunda untuk berbuat kebaikan. 

Seperti ada pepatah yang mengatakan, “Apa yang Kita Tanam itu yang Kita Tuai”. Jadi bila kita berbuat baik maka akan mendapatkan kebaikan pula di kemudian hari. Jelas pepatah tersebut mengajarkan kita untuk berbuat baik meskipun perbuatan kecil, misalkan menolong orang tua saat hendak menyebrang. 

“Dan ini merupakan konsep sebab akibat atas apa yang kita lakukan kepada orang lain. Yang mana benih-benih kebaikan yang kita tanami, siram dan rawat akan menjadi sebuah pohon yang tumbuh subur dan menghasilkan buah yang baik, kelak akan kita petik dan nikmati di suatu hari nanti,” ujar Muhammad Amel Siregar beberapa hari lalu di salah satu cafe di Kota Medan. 

“Saya mengatakan seperti ini bukan karena bakal calon legislatif (bacaleg) DPRD Kota Medan dari Partai Buruh, tapi memang kesadaran pola pikir dan hidup saya yang sudah mulai lebih dewasa dalam menjalani hidup ini. Soalnya nanti saya dibilang seperti rumor-rumor pasca Pemilu banyak yang bilang, alahh….nanti pencitraan karena mau maju (nyaleg) ,” ungkap Amel sambil tertawa. 

Kemudian Amel menjelaskan lagi niatnya untuk mengikuti kontestasi Pemilu 2024 akan datang bukan hanya semata ikut-ikutan saja, melainkan panggilan jiwa. “Sejak membentuk konsep hidup, ‘Sebaik-baiknya manusia harus bermanfaat kepada orang lain’. Jadi saya ambil kesempatan ini untuk terjun ke dunia politik, yang mana kelak dapat menampung aspirasi masyarakat dan mewujudkan kepentingan masyarakat banyak khususnya di Dapil 4, Dapil saya, umumnya masyarakat Kota Medan.”

Anak Ketiga dari Empat Bersaudara

Muhammad Amel Siregar kelahiran Kota Medan, 20 Oktober 1974, anak dari pasangan Muhammad Syahril Siregar (Alm) dengan  Hj. Ahsyaniah Ehsan (Almh) binti GulRANG Syah atau biasa disebut Hajjah Ehsan. Amel anak ketiga dari empat bersaudara. 

“Saya mempunyai satu bang, satu kakak, dan satu orang adik. Saya anak ketiga dari empat bersaudara,” ujar Amel sambil meneguk segelas air putih yang tersedia. Ia menikah dengan Kiki Rahmayani dan memiliki tiga orang puteri, yaitu Audrey Adisha Amel Siregar, Allegra Sabine Amel Siregar dan Putri Dahlia Siregar

Pendidikan terakhir Amel yaitu Diploma 2 (D2) dari BPLP (Badan Pendidikan dan Pelatihan Parawisata) Medan, yang saat ini bertransformasi menjadi Poktekpar Medan jurusan Food Production (FPR) dan SMA di Al-Azhar Medan tamat tahun 1993. 

“Kebetulan kita, adapun saya berasal dari keluarga yang berjiwa seni, baik dari Mama maupun Papa. Bahkan orangtua dari papa saya yang bernama Arif Husin Siregar (kakek) termasuk keluarga besar Pers di Sumatera Utara (Sumut) dan pernah mendapatkan penghargaan King dari luar negeri sekitar tahun 1950,” ujar Amel. 

Bahkan Mama dan Papa pernah ikut bermain Film Buaya Deli dan Butet. Mama berperan istri meneer (tuan Belanda-red) saat itu dibintangi Robby Sugara dan Papa jadi supir meneer. Selain itu, Mama juga orang yang aktif berorganisasi bahkan pernah menjabat sebagai bendahara Partai Golkar di Sumatera Utara. “Bakat itu pun turun ke saya, saat masih remaja saya sudah ikut berorganisasi. Jiwa organisasi ditanamkan dari orang tua kita,” tambahnya.

“Mulai dari organisasi kepemudaan, lingkungan sekolah dan kemahasiswaan, misalkan ikut gabung di organisasi kepemudaan. Misalkan di IKABA (Ikatan Keluarga Besar Politeknik Pariwisata) Wakil Ketua Umum, Kemudian, pernah menjadi Sekretaris di Taekwondo Medan, MPI Kota Medan dan sebagainya,” ucap Amel. 

Berbuat Kebaikan untuk Khalayak

Karena maju kontestasi pemilihan DPRD Kota Medan di Pemilu 2024 ini muncul dari hati kecil maka dirinya pun memutuskan bergabung dengan Partai Buruh. “Saya siap perjuangkan aspirasi masyarakat Kota Medan, khusus nya di Dapil 4 yang terdiri dari, Kecamatan, Amplas, Medan Area, Medan Denai dan Medan Kota dan saat pengantaran berkas,” ucapnya sembari menambahkan, “Alhamdulillah berkas saya sudah lengkap”.

Kalau nanti berkesempatan terpilih, ujar Amel, dirinya akan membuat Yayasan Amal yang berguna bagi seluruh lapisan masyarakat. Yayasan tersebut nantinya dikelola oleh seluruh umat beragama. “Jadi jika ada yang kemalangan, ambulance tersedia serta kelengkapan lainnya. Memang itu berat untuk digapai tetapi bukan berarti tidak mungkin,” tegasnya. 

“Dalam pencalonan diri saya ini ada satu pendukung yang meyakinkan saya. Dia bilang, kalau katanya ‘duduk’ ya pasti ‘duduk’ walaupun tanpa modal kuat. Tapi kalau katanya ‘tidak duduk’, apa pun diperbuat, tidak akan berhasil. Itulah istilahnya. Dan bagi saya itu pendukung yang setia, yaitu harus berjalan dengan izin Allah SWT,” tutup Amel. (Monang Sitohang)

Dua Rumah Warga Kota Binjai Rusak Akibat Angin Kencang

JAYAKARTA NEWS— Angin kencang yang terjadi di wilayah Kota Binjai, Provinsi Sumatera Utara, mengakibatkan kerusakan rumah warga. Peristiwa ini berlangsung pada Senin sore (31/5), pukul 15.30 WIB.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Binjai menginformasikan dua rumah warga rusak berat dan 12 lainnya rusak ringan. Kerusakan akibat angin kencang ini terjadi di tiga kelurahan pada 2 kecamatan, yaitu Kelurahan Jati Makmur dan Pahlawan (Kecamatan Binjai Utara) dan Kelurahan Sumber Mulyorejo (Binjai Timur).

Fenomena cuaca ini berdampak pada 14 KK. Sejauh ini tidak ada informasi korban luka-luka akibat peristiwa ini.

BPBD telah berkoordinasi dengan pihak desa dan kecamatan serta masyarakat setempat untuk melakukan pendataan dan evakuasi pohon yang tumbang.

Berdasarkan analisis prakiraan cuaca BMKG, wilayah Sumatera Utara masih berpotensi hujan lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang hingga esok (2/6). Sedangkan pada analisis cuaca tingkat kecamatan, dua wilayah kecamatan terdampak masih berpotensi hujan ringan hingga sedang pada hari ini.

Sementara itu, pada Senin (31/5), analisis BMKG menunjukkan adanya siklon tropis Choi-Wan yang dapat berdampak tidak langsung terhadap kondisi cuaca dan gelombang di sekitar wilayah Indonesia.

BMKG mengeluarkan pemutakhiran analisis wilayah dengan potensi tersebut, antara lain wilayah Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara dan Maluku.

Di samping ancaman bahaya di daratan, potensi cuaca ekstrem juga dapat terjadi di perairan. Analisis cuaca BMKG mencatat potensi prakiraan tinggi gelombang pada hingga esok hari.

BNPB dan BPBD mengimbau masyarakat untuk selalu memonitor prakiraan cuaca melalui sumber resmi, seperti Info BMKG. Masyarakat dapat memantau prakiraan cuaca hingga tingkat kecamatan sehinngga kesiapsiagaan dan kewaspadaan dapat dilakukan sejak dini. (ont)

Kampung Ulos Samosir Sumut Mulai Ditata

JAYAKARTA NEWS— Penataan lima  Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Prioritas. Yakni;  Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo dan Manado – Likupang, masih terus berlanjut.

“Dalam tatanan normal baru, Pemerintah meyakini bahwa salah satu sektor ekonomi utama yang dapat rebound dengan cepat adalah sektor pariwisata. Untuk itu, tidak ada kegiatan pembangunan infrastruktur pada lima  KSPN yang dihentikan,” kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono sebagaimana dikutip dari laman setkab.go.id

Pulau Samosir, Provinsi Sumatra Utara sebagai salah satu destinasi dalam KSPN Danau Toba terkenal dengan keindahan alamnya dan keunikan budaya, termasuk pembuatan kain tenun Ulos khas Sumatra Utara yang dibuat secara tradisional.

Kegiatan produksi tenun ulos yang menampilkan kearifan lokal juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para turis domestik dan mancanegara. Sebagai upaya mempertahankan seni dan budaya lokal dalam produksi tenun ulos, Kementerian PUPR pada tahun 2020 ini telah memulai proses lelang pekerjaan Penataan Kampung Ulos Huta Raja dan Huta Siallagan di Kabupaten Samosir dengan Pagu DIPA 2020-2021 sebesar Rp57,9 miliar.

Kedua desa tersebut selama ini dikenal sebagai desa wisata yang kerap disambangi wisatawan. Selain sebagai pusat tenun, di kawasan Huta Raja juga masih terdapat Rumah Adat Batak Samosir atau Rumah Gorga.

“Selain sebagai pusat tenun, dengan adanya beberapa Rumah Gorga yang sudah cukup tua menjadikannya sebagai kawasan pusaka. Ada sekitar 40 unit rumah yang akan kita coba rehabilitasi, supaya pelatihan tenun dan keahliannya terus berlanjut,” kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono.

Dikatakan Menteri Basuki, ruang lingkup penataan adalah perbaikan kondisi rumah gorga dan lingkungannya. Selain kondisi beberapa rumah yang sudah terdegradasi, sebagian rumah lainnya telah beralih wujud menjadi rumah modern.

Menurut Menteri Basuki, bila Kampung Tenun Ulos Huta Raja dapat ditata dengan lebih baik serta dilengkapi dengan berbagai infrastruktur dasar, seperti air bersih sanitasi, dan lansekap yang menarik, maka diharapkan dapat meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung.

Direktur Jenderal (Dirjen) Cipta Karya Danis H.Sumadilaga mengatakan, pemugaran Rumah Gorga yang merupakan cagar budaya akan melibatkan tukang-tukang lokal setempat sehingga sekaligus akan menjadi workshop/media latihan bagi masyarakat setempat untuk memelihara keberlanjutan tradisi dan keahlian yang unik ini.

“Ada beberapa rumah yang bentuknya telah beralih menjadi rumah modern, sehingga nantinya akan kita coba relokasi dan buat sepenuhnya menjadi rumah gorga. Kita akan melibatkan masyarakat setempat karena butuh keahlian khusus untuk membangunnya, sehingga menjadi kombinasi pekerjaan konstruksi modern dan kearifan lokal,” ujar Danis.

Untuk mendukung pemulihan ekonomi lokal di kawasan tersebut, Danis juga menyatakan bahwa setelah direvitalisasi, rumah-rumah gorga tersebut dapat menjadi homestay bagi para wisatawan.

Sebelumnya pada tahun 2017 Kementerian PUPR juga telah menyelesaikan penataan kawasan di KSPN Danau Toba yakni di Tomok, Kabupaten Samosir dengan anggaran Rp3,4 miliar di antaranya untuk pembangunan area kios, musala, pedestrian, drainase, WC umum, dan Tempat Pembuangan Sampah Sementara.

Selanjutnya pada 2018 juga telah diselesaikan penataan kawasan wisata Tomok Tuktuk Siadong Kabupaten Samosir dengan anggaran Rp2,4 miliar untuk pembangunan menara selfie dan toilet, kios, tempat tenun, dan perbaikan kawasan makam. ***/non

Haddad Alwi Meriahkan Safari Ma’ruf di Paluta

Haddad Alwi Meriahkan Safari Ma’ruf di Paluta—foto istimewa

JAYAKARTA NEWS—Safari calon wakil presiden nomor urut 01 KH. Ma’ruf Amin di Padang Lawas Utara (Paluta) dimeriahkan oleh Dai sekaligus musisi muslim kondang Haddad Alwi.  Alwi ikut menyemarakkan acara tabligh Akbar itu dengan melantunkan solawat dan juga menyanyikan lagu populernya ‘Rindu Muhammadku”.

Seusai bersolawat, Haddad Alwi tak lupa mendoakan KH. Ma’ruf Amin agar terpilih di Pilpres april 2019 nanti. “Alhamdulillah, insya Allah kita ketemu lagi, Pak Kiai sudah jadi wakil presiden,” ucap Alwi di Lapangan Bawah, Gunung Tua, Paluta, Sumut, Minggu (10/3)

Kiai Ma’ruf Amin langsung menimpali menutup acara itu, ia mengaku merasa terharu dengan sambutan luar biasa dari masyarakat Paluta. Ia mengingatkan agar masyarakat selalu bershalawat. “Terimakasih, saya terharu atas kehadiran bapak ibu sekalian, kita bershalawat sampai mati,” teriak Kiai Ma’ruf disambut ucapan ‘Amin’ dan tepuk tangan meriah oleh warga.

Foto istimewa

Kiai Ma’ruf Amin tak lupa juga mendoakan agar Paluta menjadi kabupaten yang diberkahi, dan warganya sejahtera.  “Mudah mudahan juga kabupaten Paluta juga dijadikan daerah yang diberkati oleh Allah SWT daerah yang makmur, daerah yang sejahtera rukun, damai aman, dan orang-orangnya dianugerahi iman yang kuat,” pungkas Kiai Ma’ruf.

Kunjungan di Paluta merupakan rangkaian safari KH. Ma’ruf Amin di Sumatera Utara. Ma’ruf sebelumnya telah bersafari di Kota Medan dan Padang Sidempuan, besok, KH. Ma’ruf Amin akan mengakhiri safarinya di Mandailing Natal Sumut.***/ebn