In Memoriam Burhan Magenda: Dari Konflik Etnis hingga Intervensi CIA Membantu Pemenang Nobel Sastra

“CIA pernah terlibat membantu pemenang nobel sastra. Ini kasus Boris Pasternak, novelis Uni Sovyet, di tahun 1958.”

“Waktu itu, Albert Camus yang mencalonkan Boris Pasternak. Tapi novel Pasternak, Doctor Zhivago, belum ada yang terbit dalam bahasa Rusia. Kan itu buku justru dilarang di Uni Sovyet. Novel Pasternak terbit bahasa Itali.”

“Padahal satu syarat menang novel sastra, novel itu harus juga terbit dalam bahasa asli penulis. CIA terlibat membantu terbitnya novel Pasternak dalam bahasa Rusia.”

“Wah, itu kasus nobel sastra yang paling politis. CIA dan KGB terlibat saling bermanuver.”

Percakapan ini yang saya ingat setelah mendengar wafatnya Prof. Dr. Burhan Magenda. Ia bertandang ke kantor saya di jalan pemuda, satu hari di bulan Januari 2022.

Entah mengapa, kala itu Burhan Magenda terasa beberapa kali memang ingin berkomunikasi dengan saya.

Sebelumnya, Perkumpulan Penulis Indonesia Satupena menyelenggarakan webinar soal Nobel Sastra. Topik ini diangkat merespon heboh polemik di media sosial akibat undangan Nobel Sastra kepada komunitas puisi esai. Sayapun dicalonkan untuk nobel sastra untuk tahun 2022.

Burhan Magenda hadir dalam webinar itu. Ia berbicara di sana. Secara terbuka pula ia menyatakan dukungannya atas pencalonan nobel sastra untuk saya.

Sebelumnya, Satupena juga menyelenggarakan program Book and Music. Kita mereview buku sambil juga mendengar live music, tatap muka sesama penulis di Jakarta.

Kembali Burhan Magenda hadir di sana. Kami sempat bicara singkat saja. Di sana, ia menyatakan ingin main ke kantor saya dan bercakap lebih panjang.

Dengan senang hati saya menyambut keinginannya.

Memang usia saya terpaut jauh, 17 tahun lebih muda. Untuk dunia akademik, ketika saya masih mahasiswa, Burhan Magenda sudah menjadi dokter ilmu politik terkenal, lulusan University of Cornell.

Papernya di Prisma, dan kolomnya di Kompas, acapkali menjadi referensi bagi saya yang masih mahasiswa.

Tapi hari itu, Burhan tak menunjukan senioritasnya. Ia justru datang sebagai teman yang sederajat, yang ingin hangat.

-000-

“Wah kehormatan bagi saya menerima pak Burhan di kantor saya. Ketika mahasiswa, saya banyak menimba ilmu dari tulisan pak Burhan.”

Itu yang pertama saya katakan ketika Burhan Magenda muncul di hadapan saya.

Ia tertawa. “Itu kan dulu, mas Denny. Sekarang terbalik. Saya yang banyak menimba ilmu dari mas Denny.” Ia tertawa. Saya juga tertawa.

Luasnya pengetahuan Burhan Magenda soal dunia politik sudah saya tahu sejak dulu. Ia tak hanya peneliti dan doktor ilmu politik lulusan universitas terkenal dunia. Ia juga politisi, pernah menjadi anggota DPR dari Golkar.

Yang saya tak duga, Burhan Magenda juga banyak mengikuti dunia sastra. Ia menyenangi apa yang juga saya senangi: novel historical fiction.

“Mas Denny kapan membaca novel Doctor Zhivago?,” tanya Burhan.

“Saya lebih dahulu menonton filmya, pak. Saya sangat tersentuh dengan kisah cinta rahasia dokter Yuri dengan Lara. Omar Sharif dan Julie Christie bagus memerankannya.”

“Saya terpana dengan suaminya Lara. Ia menyatakan: kehidupan pribadi sudah mati. Sejarah yang membunuhnya. Kini hanya ada perjuangan kelas.”

Baru ketika sekolah di Amerika Serikat, saya membaca novel aslinya. Tapi itu pun tak habis.”

Burhan Magenda tertawa. Ia pun bercerita kisah keterlibatan CIA membantu Pasternak menang nobel sastra.

-000-

Ketika kami berjumpa, Burhan mengeluh. Ia tak lagi seproduktif dulu. Usia menua. Semakin tak ada peluang riset yang serius, dengan dana yang cukup.

Dalam dunia akademik, Burhan Magenda dikenal ahli soal politik lokal. Ia membuat riset soal Ethnic and Social Class in Indonesian Local Politics. Ini studi kasus Kalimantan Timur.

Disertasinya di Cornell University juga soal politik lokal: The Aristrocacy in Provincial Politics in Indonesia: A Study of Three Outer Islands.

“Mas Denny pernah juga riset soal konflik etnis ya?,”

“Ya, pak.” Saya pun bercerita riset di tahun 2012. Yayasan Denny JA melakukan riset kekerasan akibat diskriminasi, di Indonesia pasca reformasi, tahun 1998.

“Agar terukur dan dapat dibandingkan satu kasus dengan kasus lain, saya membuatkan indeks kuantitatifnya.”

Saya bercerita panjang lebar. Indeks kekerasan disusun berdasarkan 5 variabel: jumlah korban yang mati, lamanya konflik, luasnya konflik, kerugian materi, dan luasnya pemberitaan media

Lima kasus kekerasan politik identitas terburuk di Indonesia saya data, pasca reformasi 1998. Yang paling keras adalah konflik agama Islam dan kristen di Maluku tahun 1999

Juga konflik etnis di Sampit, kalimantan, tahun 2001, antara suku pendatang Madura dan penduduk asli suku dayak

Kekerasan rasial di Jakarta tahun 1998, yang menimpa etnis Tionghoa ikut dimasukkan ke dalam list. Juga kekerasan atas paham agama: Ahmadiyah di Mataram, tahun 2006.

Konflik etnis di Lampung Selatan tahun 2012, antara suku pendatang: Bali dan penduduk asli Lampung juga dijadikan kajian.

“Saya setuju,” ujar pak Burhan. “Maluku memang paling parah.

“Isu kesetaraan warga negara di banyak daerah belum selesai,” sambung Burhan.

“Saya juga pernah riset mengenai Syndrom Putra Daerah.” Ujar Burhan: “Sejak era otonomi daerah, putra daerah terlalu dipentingkan. Tak jarang jenjang meritokrasi dan profesionalisme dikurbankan demi keutamaan putra daerah.”

Kami berencana berjumpa lagi. Percakapan kami sangat hangat. Di samping kami sangat nyambung ngobrol soal politik, juga kami terkoneksi bercakap soal sastra.

Namun Burhan Magenda kini sudah tiada. Tak saya tahu jika ia mengidap penyakit kronis jantung dan ginjal. Ia juga tak cerita apa- apa soal penyakitnya.

Selamat jalan profesor. Selamat jalan kawan diskusi yang mengasyikan. (Denny JA)

Abidzar Al Ghifari (Anak Ustad Uje) jadi Roy, Anak Muda Era 80an

JAYAKARTA NEWS—- Ayahnya penceramah agama dan ustad, belum tentu anaknya jadi ustad. Abidzar Al Ghifari (19), anak ke 2 almarhum Uje (Jefri Al Buchari), terjun jadi model, penyanyi dan main band, sinetron dan main film. Abidzar didapuk oleh sutradara Fajar Nugros jadi pemeran utama pria dalam film ‘Balada Si Roy’.

Diangkat dari novel populer karya Gol A Gong, film produksi IDN Pictures ini mengawali proses produksi Oktober 2020. Dan syuting akan dimulai Januari 2021. Abidzar berperan sebagai Roy Boy Harris, seorang pemuda di era 80an dalam menggapai impiannya.

Pemeran lain adalah Febby Rastandy, Sitha Marino, Maudy Koesnaedy, Kiki Narendra, BioOne, Jourdy Pranata, Zulfa Maharani, Fachri Muhammad, Yusuf Mahardika dan seabreg bintang muda lainnya. “Ini sangat personal. Sejak SMA saya sudah baca buku karya Gol A Gong. Saya benar-benar ngefans sama dia. Sosok Roy anak muda banget dan mewakili anak muda kebanyakan,” kata Fajar Nugros yang menambahkan syuting akan dilakukan di Banten dan Jakarta.

Segendang sepenarian dengan penulis novelnya, Gol A Gong. “Sudah lama saya menunggu dan juga pembaca bermimpi kapan sosok Roy diwujudkan di layar lebar. Roy identik sebagai anak muda penuh semangat dari era 80an dan jadi figur atau contoh cowok di zaman kini, zaman now,” urai Gol A Gong. Cerita Balada Si Roy pertama kali dimuat secara bersambung di majalah Hai dan kemudian diterbitkan menjadi buku novel. “Enggak terasa sudah 3 dekade yang lalu. Bercerita soal pengembangan jati diri seorang anak muda bernama Roy Boy Harris.

Jelas kisahnya berlatar belakang era 80an namun tetap relevan di era kini dan sosok Roy mampu menginspirasi anak muda bekerja keras dalam menggapai impian, obsesi dan cita-citanya. Mungkin sama seperti impian Boy dalam ‘Catatan Si Boy’ yang diperankan oleh Onky Alexander. Paling tidak, tongkrongan anak muda di zamannya yang ‘nakal tapi kreatif’, rajin bekerja tapi rajin beribadah, serta anti narkotik dan minuman alkohol. (pik)

Ari Irham Tampil Memukau di ‘Generasi 90an: Melankolia’

JAYAKARTA NEWS—– Tanyakan kepada kaum muda milenial, khususnya kaum hawa, siapa tidak kenal bintang muda tampan Ari Nuran Harir alias Ari Irham? Berusia 19 tahun, ia tampil memukau dalam film ‘Generasi 90an: Melankolia’ yang diangkat dari novel laris berjudul sama karya Marchella FP yang akan tayang 24 Desember 2020.

Meski pandemi belum berlalu, Ari Irham yang berprofesi sebagai peramu musik (DJ) ini tetap berjaya. Disutradarai Irfan Ramli, pemilik tinggi 1, 67 m ini berperan sebagai Abby, anak muda yang sedang mencari jati diri dan selalu menjadikan kakaknya, Indah (Aghniny Haque) sebagai sosok yang ia kagumi.

Mendadak Abby harus menerima kenyataan bahwa kakaknya hilang dalam sebuah kecelakaan pesawat. Didalam kesedihannya, ia menemukan Sephia (Taskya Namya), sahabat kakaknya, sebagai sosok pengganti Indah. Tapi apakah benar kehadiran Sephia bisa membantu Abby mengikhlaskan kakaknya atau justru membuat Abby semakin kehilangan dirinya.

“Saya sulit melepaskan karakter depresi, sedih dan emosional. Empat sampai lima hari karakter Abby menempel terus dihadapan saya,” cerita Ari Irham. “Saya mengurung diri di ruang kosong, mengunci dalam kamar,” papar Ari Irham. Selama 2, 5 bulan Ari Irham bermain ‘all out’ banget untuk mengeluarkan emosi seperti di skenario. “Saya dalami kesedihan dan depresi Abby. Hingga orang tua dan teman-teman bingung melihat tingkah laku saya yang seperti orang gila,” imbuh Ari Irham. “Film ini akan menjadi pengingat bahwa kita pernah ada di situasi sulit, hilang arah. Dan selama kita bisa bertahan, kita pasti bisa melewati kesulitan hidup ini,” jelas Ari Irham yang sebelumnya bermain apik di film ‘Terlalu Tampan’.

Sebenarnya, film ini akan tayang di bioskop 9 April 2020, namun karena ada pandemi, diundur 7 bulan dan menjadi film penutup tahun 2020. “Saya berharap film perdana saya sebagai sutradara ini bisa menjadi hiburan yang memberi kesan mendalam, menjadi cermin yang memantulkan diri kita yang telah berjuang melampaui segala kesulitan dan kehilangan yang tiba-tiba terjadi tahun ini.

Film ini adalah surat cinta untuk masa remaja saya, untuk keluarga dan pada akhirnya untuk kehidupan ini,” terang Irfan Ramli yang sebelumnya penulis skenario sejumlah film produksi Visinema Pictures. Dan produser Angga Dwimas Sasongko senada dengan pendapat Irfan Ramli. “Saya merasa mendapatkan kesempatan istimewa untuk menjadi teman penutup tahun 2020 yang biasanya dipakai untuk merefleksikan banyak hal yang terjadi dalam satu tahun terakhir,” ujar Angga Dwimas Sasongko.

Kali ini, Visinema dan pihak bioskop menjalankan protokol kesehatan dengan ketat selama melaksanakan roadshow ke lima kota (Jakarta, Jogjakarta, Semarang, Cirebon dan Bandung) dan pemutaran film di bioskop seluruh Indonesia, mulai 24 Desember 2020. (pik)

Bumi Manusia: Bumi Pramudya, Bumi Kemerdekaan Indonesia

JAYAKARTA NEWS – Apakah salah jadi Pribumi ?

Minke (baca Mingke), tokoh utama dalam film ‘Bumi Manusia’ garapan sutradara Hanung Bramantyo, mengaku sebagai pribumi (inlander) dan Jawa. Sosok Minke diperankan oleh Iqbaal Ramadhan.

Meski bersekolah di HBS (Hoogere Burger School, sekolah menengah umum 5 tahun di zaman Hindia Belanda) yang setiap hari berbahasa Belanda, namun Minke tetap menghormati dan menghargai bahasa pribuminya, asalnya, yaitu bahasa Jawa.

Minke memang berdarah bangsawan/Bupati, ganteng dan cerdas. Makanya ia bisa dan boleh bersekolah di HBS yang hanya diperuntukkan untuk kalangan Sinyo dan Noni Belanda totok dan peranakan. Di sekolah yang terkenal di kota Surabaya itulah, Minke setiap hari berpakaian kain sarung dan mengenakan blangkon. Simbol kepribumiannya.

Sahabat baiknya di HBS, Robert Suurhorf – yang benci pada pribumi, tapi tidak pada Minke yang dianggapnya Belanda – , suatu hari mengajaknya ke Wonokromo. Ke sebuah perkebunan yang diberi nama Boerderij Buintenzorg seluas 150 hektar dengan 500 orang pekerja pribumi yang milik tuan Herman Mellema dan setiap harinya diurus oleh gundiknya, Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febriyanti). Apakah Minke hanya dikenalkan pada Nyai Ontosoroh yang ramah dan pandai itu ? Tidak.

Tujuannya adalah Minke diperkenalkan pada Annelies Mellema (Mawar de Jongh) yang berusia 19 tahun, putri ke dua Nyai Ontosoroh yang cantik jelita. Di perkebunan tersebut, Annelies dijuluki kecantikannya melebihi Ratu Wilhelmina yang bertahta di Belanda.

Dari sinilah cerita bermula. Konflik dan peristiwa kebahagiaan dan kesedihan datang silih berganti. Dan Minke masuk terlibat didalamnya. Semua gara-gara Annelies yang merupakan ‘bunga penutup abad” yang tak banyak bicara. Serta sepak terjang Nyai Ontosoroh yang semula bernama Sanikem, gundik desa yang tak bersekolah resmi tapi pandai berbahasa Belanda, karena diajarkan oleh ‘suaminya’, Herman Mellema.

Kisah cinta dan pergulatan batin Minke yang pribumi jawa dan Annelies yang blasteran Belanda-Jawa ini yang menjadi inti cerita utama film yang diangkat dari novel Tetralogi karya Pramoedya Ananta Toer. Kisah cinta dua anak manusia di bumi Hindia Belanda ini yang kemudian menjadi latar dan memantik pergolakan batin Minke atas hak-haknya sebagai pribumi ditengah politik kolonial Belanda di awal abad 20.

Apakah seorang pribumi tidak punya hak dan kemerdekaan sebagai bangsa yang berdaulat di tanah jajahan? Mengapa politik devide et impera dan pemisahan tiga bangsa (Belanda, Timur Asing yaitu Arab dan Tionghoa serta inlander/pribumi) masih bercokol di zaman itu ? Situasi kelam pemisahan pendidikan akibat penjajahan ini yang kemudian mencuatkan Politik Etis (Politik Balas Budi) yang lebih dikenal sebagai ‘Trilogi van Deventer’ di Hindia Belanda.

Lihatlah di mana-mana terpampang papan nama bertuliskan ‘Verboden voor honden en inlander’ (dilarang masuk bagi anjing dan pribumi). Sakit. Sedih. Jiwa pemberontakan Minke bergolak.Ia hanya minoritas di tanah jajahan. Namun, ia tak berdaya. Ayahnya, seorang Administratur terkenal di kota B (mungkin ini dimaksudkan kota Blora, kota kelahiran Pramoedya) yang menghamba pada majikannya, Belanda, yang akan mengangkatnya sebagai Bupati. Ketika Minke dijemput utusan ayahnya dengan delman untuk bertemu dengan ayahnya di kota B, Minke berjalan menunduk dan menyembah ayahnya (Donny Damara). Ibunya (Ayu Laksmi) hanya bisa menangis melihat ‘perubahan’ yang terjadi atas diri anaknya yang selama ini dikirim ke HBS di Surabaya.

“Nyuwun pengapunten, Papa,” sembah Minke. Ayahnya gusar mendengar pengakuan bersalah anaknya. “Surat-suratku tak dibalasnya. Aku sekolahkan tinggi-tinggi, kamu melawan,” Bupati B murka. Sekalii lagi, Minke menyembah mohon ampun. Mama ikut melerai dan hati papa pun melunak.

Menurut Papa, kodrat umat manusia kini dan kemudian ditentukan oleh penguasaannya atas ilmu dan pengetahuan. Di awal film, setelah berjalan 5 menit, jelas terpampang di layar. Hanung Bramantyo memang sangat lihai menyuguhkan gimmick atau kejutan dengan kalimat ‘kita memasuki zaman modern. Zaman kemajuan’. Semua, pribadi dan bangsa-bangsa, akan tumbang tanpa itu. Melawan pada yang berilmu dan pengetahuan adalah menyerahkan diri pada maut dan kehinaan.

Hanya itu satu-satunya jalan yang baik untuk Pribumi. Aku (Minke) setuju atas pernyataan papa. Kelak, Minke harus duduk sejajar dan setingkat dengan orang Eropa. Bersama-sama memajukan bangsa dan negeri ini.

Minke bergerak cepat. Jiwa pribuminya bangkit. Melihat politik kolonial yaitu stelsel untuk mengukuhi kekuasaan atas negeri dan bangsa-bangsa jajahan, dia melawan dengan caranya. Karena di HBS pandai, Minke kemudian banyak menulis di koran lokal S N v/d D dengan nama pena Max Tollenaar. Atas tulisan-tulisan Minke ini, gegerlah seluruh kota, seluruh negeri. Hingga ke sekolahnya di HBS, dan sampai ke negeri Belanda. Guru-guru sekolahnya mempertanyakan hal tersebut.

Umpatan dan cibiran mengarah ke Minke. Gosip dan hoax pun berseliweran tak jelas ujung pangkalnya. Minke menginginkan perkebunan milik Nyai Ontosoroh dan sekaligus puterinya, Annelies. Di satu sisi, Minke memang memiliki sifat ‘phylogynik’ yaitu pintar merayu perempuan. Sifat ini berlawanan dengan ‘misogynik’ yaitu kaku dan diam terhadap perempuan.

Berkat ketampanan dan kepintarannya, akhirnya Nyai Ontosoroh menyuruhnya agar Minke tidur di rumah dan perkebunan miliknya menemani Annelies. Di salah satu adegan, Hanung Bramantyo memvisualkan adegan Minke mencium pipi dan bibir Annelies atas suruhan Ontosoroh yang sedikit agresif. Adegan ini cukup membetot simpati fans Minke aka Iqbaal Ramadhan yang sukses memerankan sebagai Dilan.

Akhirnya, tibalah hari bahagia itu. Minke melamar Annelies. Dalam salah satu adegan, sebelum tibanya pernikahan secara Islam, Minke telah meniduri Annelies (di buku novelnya, tidak ada). Hari pernikahan digelar. Seluruh penduduk kampung bersuka cita. Semua karyawan perkebunan Buitenzorg diliburkan dan terlibat dalam kepanitiaan, Puluhan sapi dan ayam dipotong. Tamu dan undangan diundang dalam perjamuan istimewa ini, dari Residen, Bupati, sampai Wakil Gubernur yang orang Belanda.

Happy end dan cerita berakhir?

Belum. Datang tragedi mengerikan. Herman Mellema (‘suami’ Ontosoroh) ditemukan mati mengenaskan di rumah bordil milik babah Ah Tjong (Chew Kim Wah), yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah dan perkebunan Ontosoroh. Muncul tokoh-tokoh misterius di insiden ini, pak Gendut dan Robert Mellema (Georgino Abraham) yang diam-diam memerkosa adik kandungnya, Annelies di perkebunan yang sepi dan raib entah kemana. Darsam (Whani Darmawan),centeng asal Madura yang setia menjaga keluarga Ontosoroh sudah mengeluarkan cluritnya siapa pembunuh majikannya.

Di pengadilan Landraad, Ontosoroh danAnnelies bebas dari tuduhan. Babah Ah Tjong dihukum.

Muncul tragedi kedua. Mendadak sontak muncul Ir. Maurits Mellema (putra almarhum Herman Mellema yang menikah dengan Amelia Hammers) yang menyatakan duka citanya tas kematian ayahnya sekaligus menggugat hak waris atas perkebunan Buitenzorg di Wonokromo. Ontosoroh protes tidak terima.

“Kowe pribumi. Dan kowe tak pernah menikah dengan ayah saya. Kowe cuma dijual 25 gulden oleh ayah kowe kepada tuan Herman Mellema. Ayah kowe ingin jadi mandor,” kelit Maurits

Ontosoroh terkesima. Dia masih membela diri dalam mempertahankan perkebunannya. “Anak Hermen Mellema, Annelies yang telah menikah dengan Minke berhak atas warisan tersebut,” bela Ontosoroh.

“Annelies masih dibawah umur. Dalam Pengadilan Putih di Belanda, dan berdasar catatan, Annelies tidak pernah menikah dengan siapa pun,” teriak Maurits.

Bagai disambar geledek Ontosoroh terhuyung. Minke marah bukan alang kepalang. Dia bangkit melawan hakim ketua yang orang Belanda. Tapi hal ini berhasil dicegah oleh marsose Belanda. Minke disuruh keluar dan Ontosoroh menyusulnya. Terjadi kerusuhan di luar Pengadilan. Puluhan ulama dan orang Madura yang dikoordinir Darsam, berusaha memasuki Pengadilan. Terjadi tembak menembak. Korban pun berjatuhan.

Atas berbagai kejadian yang terbentang dihadapan matanya, Annelies sakit. Dokter Martinet, dokter pribadi keluarga Ontosoroh mengatakan kepada Minke, hanya Minke yang bisa menyembuhkan penyakit Annelies. Martinet mohon mengundurkan diri sebagai dokter pribadi, dan digantikan oleh Minke.

Tibalah hari penentuan. Kereta Gubermen siap mengantarkan Annelies untuk berobat ke Belanda diantar sahabat dekat Minke yang bernama Jan Dapparste aka Panji Darman (Bryan Domani). Panji Darman adalah indo blasteran yang teleh menjadi Jawa, dibantu Minke. Nantinya, Minke dan Ontosoroh akan menyusul Annelies ke Belanda. Sayup-sayup roda kereta menggiling kerikil, makin lama makin jauh, menuju Surabaya, untuk kemudian berlayar ke Belanda. Bunyi roda kereta tak terdengar lagi. Minke dan Ontosoroh menundukkan kepala di belakang pintu.

“Kita kalah, Ma,” bisik Minke.

“Kita telah melawan, Nak, Nyo (Sinyo, panggilan untuk Minke), sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya,” ujar Ontosoroh lirih.

Sebuah ending yang menggantung. Mungkin nantinya akan dilanjutkan sekuel berikut oleh Hanung Bramantyo di film berikutnya. Karena Pramudya Ananta Toer sendiri menulis novelnya menjadi Tetralogi : Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah kaca.

Yang jelas, Hanung memaparkan, inilah karya terbaik sekaligus terberat bagi dirinya. 2 bulan syuting, dan 2 tahun produksi. Dan bagi pemain, 3 bulan workshop.

Hanung menambahkan, Iqbaal Ramadhan memahami apa yang dirasakan Minke. Karena Iqbaal adalah minoritas di negaranya (Amerika) tempatnya belajar. “Baik Minke maupun Iqbaal sama-sama berusia 19 tahun. Dia juga cerdas. Jadi, enggak ada alasan enggak memilih dia,” ucap Hanung.

‘Bumi Manusia’ ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer di tempat tahanannya, Pulau Buru selama 14 tahun. Tanpa proses pengadilan. Pemerintah Orde Baru telah membebaskan Pramoedya tanggal 21 Desember 1979, Pramoedya tidak bersalah secara hukum dan tidak terlibat dalam G 30 S/PKI. Dari banyak karya sastranya, ‘Bumi Manusia’ yang ditulis paling lama dan ditulis dalam 4 bahasa : Indonesia, Jawa, Belanda dan Jawa. Dan Pulau Buru telah menjadi ‘bumi Pramudya’ alias ‘bumi Indonesia kecil’. Dari Pulau Burulah, mencuat gagasan ihwal hak asasi manusia, kemerdekaan Indonesia dari Hindia Belanda dan kesetaraan gender serta pembebasan kemerdekaan atas diri manusia.

Dari Minke, kemudian muncul organisasi-organisasi dan perkumpulan pribumi dan ikut bergabung beberapa orang Indo, seperti Budi Utomo, Syarikat Dagang Islam, Serikat Islam, Muhammadiyah dll.

Ingatlah selalu pesan Pramoedya Ananta Toer kepada generasi muda Indonesia. “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian !”. (Ipik Tanoyo)

Lagu ‘Titi Kolo Mongso’ Ilhami Novel ‘Rainbow Cake’

Fiksi adalah bagian aliran darah
Fiksi adalah dunia
(Rayni M. Massardi)

JAYAKARTA NEWS – Rainbow Cake. Mungkin ada yang menduga, ini novel tentang makanan (kuliner). Bukan!

Ya, ini adalah judul novel ke-9 karya Rayni M. Massardi yang mengambil genre psycho thriller.

Bersama sahabatnya, Christyan AS (kini tinggal di Bali), karya fiksi pengarang dari 2 generasi yang berlainan gender ini, memang termasuk langka. Proses penulisannya cukup unik. Gagasan utama dituliskan Rayni pada 2018 hingga selesai, baru kemudian diserahkan kepada Christyan untuk ditambahkurangi dan dilengkapi sesuai imajinasi dan kreasinya sendiri.

Setelah rampung, mereka mendiskusikan, menyuntingulang dan saling melengkapi hingga mencapai bentuk final pada 2019.

Tugas Christyan tidak hanya menulis dan melengkapi teks, tapi juga membuat ilustrasi di setiap bab dan kemudian membuat rancangan sampulnya. Dan mereka kemudian meminta Nanang Gani untuk membuat disain sampul bukunya.

Novel setebal 260 halaman dan diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama dan dijual seharga Rp 78.000 kemudian disoft launching di Emerald Gramedia, Bintaro dan digrandlaunching di Lounge XXI Plaza Indonesia Jakarta Pusat, 30 Mei 2019 (bertepatan ultah Rani M. Massardi ke 62). Tampil sebagai pembahas adalah budayawan Radhar Panca Dahana dan Sujiwo Tejo (dalang).

“Ini adalah pengalaman pertama saya menulis karya fiksi dalam genre thriller,” kata Rayni dalam acara ‘Ngabuburit dan Buka Buku Novel Rainbow Cake’ belum lama ini.

Rayni mengatakan, karyanya ini seolah digerakkan dan dijiwai oleh enerji luar biasa dari 2 lagu berbahasa Jawa karya seniman dalang eksentrik H (Hadi, bukan Haji) Sujiwo Tejo berjudul ‘Titi Kolo Mongso’ dan ‘Ingsun’.

Sujiwo Tejo (mantan wartawan budaya Kompas) mengakui, lagunya berbahasa Jawa klasik. “Orang Jawa saja enggak ngerti. Rayni yang berdarah Sumatera Barat justru menerjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Titi Kolo Mongso (Pada Suatu Ketika), orang bertanya tentang kejahatan…di halaman 132, Rayni menulis 2 lagu ini karya terbaik Sujiwo Tejo..Saya senang tapi sedih. Semua lagu yang saya ciptakan adalah terbaik. Karya lagu ini selalu berkembang dan belum final,” lontar Sujiwo Tejo.

Rayni sendiri berdalih, enggak penting artinya. “Tapi saya perlu banget 2 lagu karya Sujiwo Tejo itu,” sahut Rayni.

Berisi 58 Bab (Paris-Bali/Ubud-Jakarta), Rayni di kata pendahuluan menulis -:Novel ini kami persembahkan untuk : manusia yang punya rasa, manusia yang menghargai perbedaan, manusia yang tahu adat, manusia yang tidak akan pernah melakukan bullying. Atau untuk : manusia yang sudah TIDAK PUNYA rasa, etika, hati nurani. Bully adalah luka dunia.

Pengalaman dibully pada masa remaja, membuat Hilda (tokoh di novel) tidak nyaman dengan dirinya hingga hatinya semakin mengeras.

Melanjutkan sekolah ke Paris, ia perlahan mengubah cara pandang terhadap diri dan gaya hidupnya. Di Kota Budaya itu, Hilda belajar memasak dan bikin kue.

Kegemaran barunya mengunjungi galeri seni, membuatnya terpaku di hadapan sebuah lukisan yang menggetarkan dan perlahan membuka pengalaman aneh pada tubuhnya.

Hijrah ke Ubud-Bali, ia mulai dihantui musik dan lagu yang tiba-tiba bersarang di kepala dan telinganya. Selain merasa ngeri dan membuatnya mual dan pening, ia juga menikmati gairah dan energi ganjil dari apa yang didengarnya. Sampai ia bertemu dengan orang-orang dari masa lalu yang pernah melukai hati dan sangat dibencinya.

Balik ke Jakarta, dan sukses sebagai pembuat dan pemilik tokio kue, masa lalunya kemudian menghantui dan merusak jiwanya. Cinta, benci, rindu, dan dendam telah mengaduk-aduk emosi dan energinya yang luar biasa.

Alunan musik dan lagu misterius yang terus menghantuinya telah mendorongnya untuk melakukan hal-hal tak terduga termasuk mewujudkan seni instalasi :kue Terindah’.

Sebuah ‘Rainbow Cake’ yang berakhir dengan kengerian dan malapetaka. (pik)

‘Arya Pengalasan Masuk Istana’ Dibanjiri Penonton

Ketika aktor sekaliber Landung Laksono Simatupang tampil membacakan novel karya Mohamad Sobary, maka lahirlah karya cipta baru bernama ‘Arya Pengalasan Masuk Istana’

Gedung Societet Militair yang berada di kompleks Taman Budaya Yogyakarta atau sisi belakang kawasan Benteng Vredeburg, Jumat malam lalu (12 Oktober 2018) sangat ramai. Antrian pengunjung mengular di lobi gedung berkapasitas 500 tempat duduk tersebut. Banyak seniman Jogja dan pegiat kesenian yang datang malam itu. Ada kurator senirupa Suwarno Wisetrotomo, pelukis Nasirun, seniman musik Sri Krishna, penulis Sunardian Wirodono, pekerja seni Ons Untoro, juga aktor teater Susilo Nugroho yang lebih dikenal publik sebagai sosok Den Baguse Ngarso.

Di samping para tokoh seniman, ratusan masyarakat awam Yogyakarta juga ikut meramaikan suasana gedung Societet Militair. Bahkan ada puluhan anak muda yang tak kebagian kursi dan rela duduk lesehan di gang-gang, di antara kursi pengunjung yang diatur secara festival. Apakah mereka  rindu pada gaya Landung Laksono Simatupang di panggung, atau memang kangen dengan karya novel Mohamad Sobary? Apa pun alasannya, antusiasme pengunjung harus diacungi jempol, mengingat merosotnya budaya literasi di tengah menjamurnya berita bohong di media sosial.

“Saya kira itu karena faktor keaktoran Landung,” ucap Mohamad Sobary merendah saat ngobrol dengan jayakartanews.com usai acara. Kang Sobary senang karena Landung dan kawan kawan tampil bagus. Mereka menghayati betul aktor-aktor yang ditampilkan Sobary dalam novelnya. “Landung menggambarkan dengan baik dan menghayati peran para tokoh dalam novel saya,” ujarnya.

Malam itu, aktor narator Landung Laksono Simatupang memang tampil ‘membaca’ Mohamad Sobary dalam novel ‘The President’ yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia. Landung didampingi Daru Maheldaswara dan Patah Ansori. Bergantian ketiganya membaca nukilan novel Sobary yang sudah diringkas oleh Landung. Tentu tidak seluruh bagian novel tersebut dibacanya. Hanya bagian depan saja yang dipilih Landung untuk dibaca, yaitu bagian pertama hingga keempat. Landung pun menciptakan judul baru untuk keempat bab itu dengan sebuah lakon “Arya Pengalasan Masuk Istana”.

Lakon tersebut sesuai dengan tokoh muda bernama Arya Pengalasan dalam novel The President, seorang santri dari Pesantren Slaga Ima. Penggalan-penggalan sejarah hidupnya menunjukkan dia mumpuni dalam ilmu kanuragan maupun ilmu kajiwan. Tokoh inilah yang dipercaya menerima mandat tokoh Abah untuk mendampingi presiden. Itulah yang mendasari Landung memberi judul pada lakon ini “Arya Pengalasan Masuk Istana”.

Tak sekadar membaca, lakon tersebut ditampilkan lengkap dengan dukungan musik dan acapela yang dimainkan secara apik oleh Mlenuk Voice, Rika & Luka, serta Pungki Purbowo. Sementara Teater Gadjah Mada memainkan wayang dengan bantuan dua layar sebagai latar belakang panggung. Pembacaan pun jadi makin hidup. Sayang lampu sorot di dua layar tersebut kurang pas penempatannya, sehingga permainan wayang jadi kurang menonjol.

Keputusan Landung memilih bagian awal novel tersebut bukan tak berdasar. Aktor satu ini memang ingin agar publik tertarik dan mau membaca sendiri novel ‘The President’. “Sebenarnya saya sangat ingin melakonkan novelnya Sobary yang berjudul ‘Kang Sejo Melihat Tuhan’. Semoga suatu saat nanti bisa terwujud,” ujarnya.

Dalam novel tersebut Sobary bercerita tentang politik Indonesia makin lama makin mirip ‘lakon dari alam gaib’ yang dimainkan di dunia nyata. Bohong, fitnah, iri dan dengki berasal dari kegelapan jiwa para tokoh yang serakah dan ambisius menjadi warna politik sehari-hari. Kebenaran ideologis yang belum truji, bahkan di mana-mana sudah ditolak, dipaksakan menjadi kebenaran politik yang dianggap lebih realis daripada semua yang realis. Sementara itu kutipan dari sebuah renungan fiksi dianggap ramalan masa depan yang suram. ‘The President’ menampilkan kembali ‘lakon dari alam gaib’ tadi menjadi realitas baru dalam logika sebuah novel. (Laksmi Wuryaningtyas)

Screenplay Pictures Angkat Novel The Perfect Husband ke Layar Lebar

 

SETELAH Surat Cinta untuk Starla, Screenplay Pictures melanjutkan proyek adaptasi kisah populer di jagat maya mereka. Kali ini novel giliran drama pop karya Indah Riyana berjudul The Perfect Husband diangkat ke layar lebar.

Sutradara Surat Cinta untuk Starla (SCUS) Rudi Aryanto, kembali memimpin aspek kreatif untuk proyek ini. Produser Sukhdev Singh turut menulis skenario adaptasi bersama Tisa TS dan Ben Setiawan.

Menurut Rudi, proyek ini sebenarnya telah dimulai sejak Februari 2017, beberapa bulan sebelum SCUS (Surat Cinta Untuk Starla). Naskah adaptasi dikembangkan selama dua bulan. Baru setelah SCUS selesai dan dirilis di bioskop, proyek ini berlanjut.

Kisahnya mengikuti Ayla, gadis SMA tahun terakhir yang sedang menikmati masa remaja dan hubungan asmara dengan Ando, vokalis grup musik rock. Suatu ketika Ayla tak sengaja menabrak mobil Arsen, pilot muda yang kemudian mengaku diri sebagai calon suami Ayla atas pilihan sang ayah.

Ayla berontak tak merasa perjodohan tak masuk akal. Pasangan kakak Ayla yakin bahwa sang ayah menjodohkan adik mereka karena Ando dinilai punya pengaruh buruk.

Amanda Rawless memerankan Ayla. Slamet Raharjo memeranka. Tio, ayah Ayla. Dua lelaki Ayla, Ando dan Arsen, diperankan oleh Maxime Bouttier dan Dimas Anggara. Lalu juga ada Bunga Zainal serta Tanta Ginting.

Novel The Perfect Husband awalnya berupa cerita bersambung di platform Wattpad. Penerbit buku pun mengambil hak penerbitan ke versi novel.

Film The Perfect Husband akan dirilis di bioskop pada Kamis, 12 April 2018.

Putri Malu dari Jawa

NAWUNG-PUTRI MALU DARI JAWA, sebuah novel berisi tentang sikap hidup orang Jawa. Buku ini memang bukan buku baru, tetapi isinya tak lekang oleh waktu. Karya sastra ini “dilahirkan” wanita Jawa bernama Galuh Larasati yang begitu santun dan lembut ketika berbincang dengan  Jayakartanews.com di kediamannya, Jl Parangtritis, Yogyakarta.

Galuh yang akrab dipanggil Atik mengisahkan isi novelnya mengambil filosofi kehidupan manusia  dari Tembang Macapat. Macapat, jelasnya, “jika direnungi, macapat itu mengandung nilai yang amat dalam, yaitu bahwa setiap manusia telah dirancang kehadirannya di dunia sejak masih berada dalam kandungan hingga dewasa, bahkan kematiannya.”

Galuh Larasati

Dengan semangat Atik  menjelaskan bahwa buku ini berisi tentang tokoh bernama Nawung Sekar,  sosok putri yang lahir dari keluarga sederhana. “Kisah hidupnya bagaikan cakra manggilingan, penuh dengan lika-liku kebahagiaan, kesedihan, kebangkitan dan keterpurukan, serta harapan. Ceritanya  berlatar belakang Dinasti Syailendra  dan Nawung Sekar ditampilkan sebagai sosok yang kalem, namun memiliki rasa sosial yang tinggi dan kepedulian terhadap lingkungannya.”

Terlihat gairahnya ketika menuturkan isi Nawung. “Saya meggambarkan, wanita dalam novel ini memiliki pemikiran bahwa belajar merupakan bagian hidup yang paling penting. Pengetahuannya  juga harus diimbangi spiritual agama karena tanpa itu, pengetahuan akan menjadi benda padat namun kosong dalamnya sehingga sangat rapuh,” ujar Atik dengan tetap berbinar senyum menceritakan isi novelnya itu.

Novel Nawung begitu sarat nilai-nilai luhur tradisional Jawa. Atik berharap, “Nawung dapat memperkuat mental dan spiritual Gadis Jawa yang penuh rasa pangrasa ini, untuk mengingatkan  kita semua agar senantiasa mencintai budayanya, berpengetahuan dan memiliki spiritual yang matang.” Inti dari novel ini, ujar Atik lagi, “manusia harus selalu dapat menjaga hubungan batin dengan Sang Pencipta, senantiasa mengasihi sesama dan merawat bumi tempat berpijak.” ***