Mari Berebut Gunungan di Keraton Yogya

 Mari Berebut Gunungan di Keraton Yogya

RATUSAN atau bahkan ribuan orang hiruk-pikuk “ngalap berkah” pada acara Grebeg Syawal yang diselenggarakan Keraton Ngayujokarto Hadiningrat. Benar. Setiap menyambut “Hari Kemenangan” 1 Syawal, Keraton Yogya memang rutin mengadakan acara Grebeg, dan rakyat pun menyambutnya antusias. Tak jarang, masyarakat dari luar tatar Yogya, bahkan turis asing pun terlibat aksi berebut gunungan.

Setiap ritual, setidaknya prajurit keraton dan abdi dalem keraton akan menggotong dan mengarak tujuh gunungan berisi hasil bumi. Secara simbolis, tradisi itu adalah bentuk kasih sayang saja kepada rakyatnya. Gunungan itu biasanya terdiri atas sayuran dan buah-buahan. Yang selalu menemani buah dan sayuran adalah tumpeng dan kue-kue tradisional.

Ketujuh gunungan itu, memiliki makna tersediri. Ada yang dinamakan gunungan lanang (lanang = pria), gunungan wadon (wadon = perempuan), gunungan dharat (dharat = bumi), gunungan gepak (gepak = tumpul), gunungan pawuhan (pawuhan = tempat pembuangan sampah), dan gunungan kutug atau bromo (api).

Anda bisa saja mengatakan “kurang kerjaan” kepada masyarakat yang terlibat gerebeg gunungan itu. Sebab itu artinya, Anda tidak mengetahui filosofi dan makna mendalam yang ada pada ritual gerebeg. Ada makna interaktif antara raja dan rakyat. Ditambah, bahwa semua yang dilekatkan dan disusun menjadi gunungan, terlebih dulu disucikan dalam mantra-mantra kuno.

Sekalipun dalam menggrebeg gunungan, misalnya, seseorang hanya kebagian satu lajur kacang panjang, dia akan sangat bersyukur dan menjaga dengan segenap jiwa-raganya. Itulah berkah yang didapat pada ritual itu, dan diharapkan menjadi berkah dalam kehidupan hari-hari selanjutnya.

Seperti dituturkan pelaku budaya Ki Ageng Agung Jati, acara yang diselenggarakan secara regular pada moment-moment tertentu itu, sudah berlangsung lama. Bahkan sejak zaman raja-raja Hindu. Tentang itu, bahkan pernah ditulis oleh Soepanto dkk menjadi sebuah buku yang mengupas tuntas tradisi grebeg dari dahulu hingga kini.

Buku itu mencatat, acara tradisi grebeg dibagi dalam dua tahap. Pertama disebut Aswameda, sesaji yang diselenggarakan dalam enam hari, yang dilakukan dengan doa, nyanyian pujian (mantra macapat) serta tetabuhan yang mengandung arti memuja arwah leluhur untuk memohon berkah dan perlindungan.

Kedua, disebut Asmaradana diselenggarakan pada hari ketujuh, merupakan penutup tahap pertama. Tahap ini diselenggarakan dengan pembakaran dupa besar disertai mengheningkan pikiran dan hati atau semedi. Upacara tersebut akhirnya dilestarikan oleh para raja zaman Hindu Jawa.

Ketika pada abad ke-14 agama Islam mulai berkembang di tanah Jawa saat itu para pemuka agama Islam yang disebut Wali Songo menggunakan upacara tersebut sebagai metode penyebaran agama, karenanya dimodifikasi dengan cara Islami. Grebeg pun diadopsi Wali Songo dengan asimilasi dan akulturasi.

Salah satu wali yang berpengaruh kala itu Sunan Kali Jaga, menyebarkan agama Islam mengumpulkan masyarakat dengan membunyikan gamelan yang sengaja ditaruh di halaman Masjid Besar. Setelah masyarakat berduyun menonton, barulah Sunan Kali Jaga berdakwah mengemukakan keutamaan ajaran Islam. Masa ini munculah istilah Sekaten, yang berasal dari bahasa Arab Syahadatain yang artinya Dua Kalimat Syahadat. Sebab untuk menjadi orang Islam harus menjalankan rukun pertama membaca Dua Kalimat Syahadat. Akhirnya tradisi ini berlanjut pada masa kerajaan Mataram pertama dalam pemerintahan Panembagan Senopati.

Nah kembali ke gunungan. Pada akhirnya, acara ini merupakan pengungkapan rasa syukur semua pihak, baik rasa syukur raja maupun rakyat. Tak pelak, gunungan menjadi penanda paling menonjol dalam upacara grebeg yang dilakukan pihak keraton Jawa, yaitu pada upacara grebeg (atau garebeg) Maulid (sebagai bagian rangkaian perayaan Sekaten), Grebeg Syawal, dan Grebeg Besar.

Ki Ageng Agung Jati juga menambahkan apabila gunungan lanang diamati secara fisik, merupakan bentuk makro dari sesajian nasi tumpeng, dan sesajian nasi tumpeng ini adalah simbolisasi dari gunung dewata. Mungkin sekali simbolisasi ini bertolak dari konsepsi kepercayaan lama yang meyakini bahwa di atas puncak gunung adalah alam gaib tempat bersemayamnya arwah leluhur dan para dewa. Barang kali pemujan pada arwah leluhur itulah yang mengilhami pembuatan sesajian berupa nasi tumpeng sebagai simbolisasi dari gunung dewata.

Mungkin juga gunungan lanang merupakan simbol alat vital pria (phallus). Jika diperhatikan, setiap sesajian gunungan lanang diseratai sesajian nasi tumpeng yang ditempatkan dalam empat wadah. Itu merupakan salah satu bentuk ungkapan kepercayaan Jawa, yang meyakini bahwa setiap insan ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa selalu disertai empat unsur sesaudara. Konsp itu dirangkum dalam ungkapan simbolis yaitu “kadang papat kalima pancer”. Selain semua yang tersebut di atas gunungan lanang menyimbolkan jagad beserta isinya yang terdiri atas unsur-unsur bumi, angkasa, api, angin, tumbuhan, insan, dan berbagai macam makhluk hidup lainnya.

Pendek kata, jelang Lebaran ini, Keraton Yogyakarta akan menggelar ritual Gerebeg Syawal. Bagi Anda para pemudik, atau Anda yang memutuskan Yogya sebagai destinasi liburan, jangan lewatkan moment spesial yang langka. Rasakan sensasi berebut gunungan di alun-alun utara Keraton Yogya. ***

Sumber Photo Grebeg Tempo Dulu post by : Wahdan Fitriya

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *