Hermawan Sulistyo Menatap Olimpiade 2020

Prof Hermawan “Kikiek” Sulistyo (kanan) dalam salah satu nomor “kumite”. (foto: Ist)

Setelah melalui perjuangan panjang, dan berpuncak pada peringatan Hari Karate se-Dunia tanggal 7 Oktober, akhirnya Federasi Karate Internasional (WKF), berhasil mengegolkan karate manjadi cabang olahraga (cabor) yang dipertandingkan di olimpiade. Komite Olimpiade Internasional (IOC) menetapkan karate dipertandingkan mulai Olimpiade 2020 di Jepang.

Kandidat Ketua Umum PP-Inkai 2018-2022, Prof Hermawan Sulistyo mencermati betul kabar gembira itu. Karenanya, ia menyiapkan visi dan misi yang jauh ke depan. Profesor Riset yang sudah malang melintang ke berbagai penjuru dunia itu, untuk Inkai 2018-2022 mencanangkan visi: Menatap karate Inkai masa depan, sebagai cabang olahraga prestasi; mempertahankan tradisi Shotokan Karate-Do sebagai beladiri (martial arts) untuk membentuk watak generasi bangsa masa depan.

Visi ideal yang kemudian dijabarkan dalam misi: Membangun Inkai 2019-2023 kembali menjadi perguruan karate terbesar dan terkuat di Indonesia. “Target harus kita lambungkan ke level tertinggi. Kita bisa bersaing dengan karateka papan atas dunia. Dengan Jepang sekalipun. Tentu dengan program yang terukur serta memaksimalkan kemajuan teknologi,” ujarnya.

Ia mengapresiasi sikap pemerintah, dalam hal ini Menpora Imam Nahrawi yang memasukkan karate sebagai cabang olahraga andalan dalam Olimpiade 2020. Kikiek, begitu ia akrab disapa, juga mengapresiasi PB FORKI yang mengirim atlet-atlet muda melakukan TC (Training Center) ke Eropa menyambut Olimpiade 2020.

Seperti diketahui, awal tahun lalu (2017), PB FORKI mengirim beberapa karateka Indonesia ke Eropa untuk persiapan Olmipiade 2020. Lima karateka pelatnas jangka panjang ke Perancis yaitu Sisilia Agustina Ora (24), Srunita Sari (24), Cokorda Istri Agung Sanisya (22), Ahmad Zigi Zareta (19), dan M. Fahmi Sanusi (18).

Sport Science

Menyebut nama Hermawan Sulistyo, masyarakat memandangnya dari banyak sudut pandang. Ada yang memandangnya sebagai akademisi. Ada yang terkesan dengan kirpahnya sebagai aktivis “parlemen jalanan”. Ada yang menganggapnya pengamat politik paling vokal. Penulis buku, wartawan, penasihat ahli Kapolri, bahkan…. Pernah menjadi host acara kuliner di salah satu stasiun televisi swasta nasional.

Sekadar informasi, Kikiek termasuk tokoh yang doyan makan bangku kuliah. Jika dideret, tersebutlah ia kuliah di Universitas Indonesia (UI); Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara; Universitas Airlangga (Unair); State University of New York (SUNY-Buffalo, US); Ohio University (OU-Athens, US); Northern Illinois University (NIU-DeKalb, US); Arizona State University (ASU-Tempe, US), dan lain-lain, dalam bidang-bidang Matematika, Fisika Nuklir, Ilmu Politik; Filsafat; Hubungan Internasional/Politik dan Pemerintahan Indonesia, History, Literature, Antropologi, Area Studies, Publishing, dan lain-lain.

Tak heran jika menuliskan nama plus titelnya, menjadi berderet-deret: Prof (Ris) Dr H Hermawan Sulistyo, MA, MAIA, PhD, APU. Itu menjadikannya sosok ideal memimpin PP Inkai 2018 – 2022. Visinya melanting tinggi, misinya jauh ke depan. Contoh, dalam banyak perbincangan, kepada Jayakartanews Kikiek getol bicara sport science sebagai salah satu unsur penting untuk menopang Inkai yang diidam-idamkan.

Dukungan sport science (ilmu olahraga), antara lain untuk “strength and conditioning” (kekuatan dan pengkondisian). Di negara-negara maju, faktor S & C (strength & conditioning) bahkan sudah distandardisasikan secara nasional.

Dukungan lain adalah fisiologi olahraga, kata Kikiek. Faktor ini sering diabaikan. Bahkan ia menjamin, tidak satu pun Pengurus Besar (PB) Olahraga nasional yang meletakkan divisi Fisiologi Olahraga di dalam struktur permanen. Fisiologi Olahraga adalah bagian atau cabang dari fisiologi yang khusus mempelajari perubahan fungsi yang disebabkan oleh latihan fisik.

Ia mencontohkan, bagaimana perubahan fungsi itu dapat terjadi apabila seseorang melakukan latihan tunggal  (acute exercise). Juga, perubahan apa yang dapat terjadi pada fungsi tubuh setelah melakukan latihan berulang-ulang (chronic exercise) dan bagaimana perubahan fungsi tubuh itu berlangsung. Selanjutnya, apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan respon dan adaptasi tubuh terhadap latihan yang dilakukan secara berulang-ulang dalam waktu tertentu.

Seorang karateka cedera saat pertandingan. (Foto: Ist)

“Ada satu lagi yang masuk dalam rumpun sport science. Dia adalah Rehabilitasi Olahraga. Kikiek menjelaskan, rehabilitasi adalah proses mengembalikan seluruh fungsi setelah atlet mengalami cedera, yang melibatkan pengembalian kekuatan, fleksibilitas, dan ketahanan. Rehabilitasi sama pentingnya dengan penatalaksanaan lain, tetapi sering dilewatkan. “Intinya, tujuan program rehabilitasi ini adalah untuk mengembalikan semua aspek kesehatan seperti sebelum cedera, dengan cara yang terkontrol dan terpantau. Harus tahu, rehabilitasi harus dimulai sesegera mungkin, setidaknya setetlah fase peradangan awal. Biasanya diukur dengan waktu kurang dari 72 jam,” paparnya.

Ditambahkannya, begitu banyak ragam penting dalam mengurus suatu organisasi olahraga, termasuk karate. Sayangnya, tidak semua hal-hal penting itu dipentingkan. “Kalau targetnya kita mampu berbicara di ajang Olimpiade 2020, mau tidak mau faktor-faktor penting itu harus diperhatikan,” tandasnya. (rr)

Dewan Guru Inkai Dapat Honor Bulanan

Prof Hermawan “Kikiek” Suistyo (tengah) selaku Pembina Inkai Jatim, Dojo Renzo. (Foto: Ist)

Alkisah, Prof Hermawan Sulistyo pun berkisah tentang guru. Kisah diawali dengan Jepang yang luluh lantak pasca pengeboman Hiroshima dan Nagasaki oleh Amerika Serkat tanggal 6 dan 9 Agustus 1945. Negara kepulauan yang sebelumnya begitu superior, melabrak Rusia, menjajah Cina, menjajah Korea, mengusir Belanda dari Indonesia, langsung rontok.

Demi melihat kehancuran negerinya, apa titah pertama Kaisar Hirohito? Sebelum titah, adalah tanya. Ia kumpulkan prajurit Kekaisaran Jepang dan bertanya, “Berapa guru yang selamat?” Setelah itu barulah Kaisar bertitah untuk menghitung dan mengumpulkan penduduk Jepang yang berprofesi sebagai guru. Dus, sejatinya, kaum guru-lah yang menjadi cikal bakal bangkitnya Jepang hingga yang sekarang.

Tak terkecuali Islam yang juga mengagungkan guru, seperti hadits HR Tarmidzi: “Sesungguhnya Allah, para malaikat dan semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, sampai semut yang ada di liangnya dan juga ikan besar, semuanya bershalawat kepada muallim (orang yang berilmu dan mengajarkannya) yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.”

Lantas, ke mana arah kisah mencerahkan dari profesor riset yang akrab dipanggil “Kikiek” itu? “Begini, dua periode saya pernah menjabat Sekjen PP-Inkai. Saya sadar, pengurus belum mampu memberi kesejahteraan yang layak kepada dewan guru. Untuk itu, saya merancang program yang fokus pada kesejahteraan dewan guru,” ujar kandidat Ketua Umum PP-Inkai 2018 – 2022, kepada Jayakartanews.

Sensei Hermawan “Kikiek” Sulistyo melatih karateka muda di Dojo The Dream Team, Lembah Depok. (Foto: Taofik Hidayat)

Terlebih, filosofi karate sangat menjunjung tinggi sensei atau guru, atau instruktur. Tidak ada alasan untuk tidak memperhatikan kesejahteraan dewan guru. “Tentu saja, kami juga merancang program kesejahteraan secara berjenjang untuk pengurus, pelatih, atlet dan kepanitiaan,” tambahnya.

Dewan Guru, kata Kikiek, secara bertahap akan mendapat honor bulanan. Jumlahnya incremental (bertahap) hingga memadai. Selain itu, Dewan Guru juga akan diberi bonus dari ujian-ujian, sesuai dengan tupoksi yang ditentukan oleh Dewan Guru sendiri.

“Selain honor, PP-Inkai menyediakan asuransi kesehatan untuk Dewan Guru, pelatih, pengurus dan atlet. Besaran premi asuransi disesuaikan dengan kemampuan finansial PP-Inkai,” ujar Hermawan Sulistyo, seraya menambahkan, “khusus untuk atlet, disusun program beasiswa.”

Bagi Prof Kikiek, apresiasi terhadap Dewan Guru adalah mutlak. Bukan saja karena kultur Jepang dan ajaran agama yang ia anut. Lebih dari itu, Penasihat Ahli Kapolri itu ingin meletakkan tatanan yang benar di organisasi PP-Inkai. “Pengurus Inkai harus fokus bekerja untuk bisa mewujudkan program itu. Pengurus tidak bisa pasif dan bekerja ala kadarnya. Kesejahteraan Dewan Guru, pengurus, pelatih, atlet, kepanitiaan harus diperjuangkan. Setelah itu, baru bicara program, prestasi, dan target,” tegas penyandang Dan IV Inkai itu. (rr)

Karate Masuk “Youth Sport Program”

Prof Hermawan “Kikiek” Sulistyo menaruh perhatian besar pada pembinaan usia dini. Tampak Kikiek bersama empat karateka muda. (Foto: Ist)

Karate menjadi salah satu cabang seni bela diri yang paling banyak dipelajari di Indonesia. Di negeri asalnya, Jepang, karate sangat terkenal. Bahkan menjadi cabang bela diri wajib yang harus dipelajari anggota militer. Bukan hanya itu, sejak tahun 1924, karate masuk perguruan tinggi (Keio University). Tak lama kemudian, hampir semua perguruan tinggi besar memiliki klub karate.

Tak pelak, karate pun mendarah-daging bagi warga Jepang. Ini berkat konsistensi pemerintah terhadap pembinaan usia dini. Sebagai contoh, dalam Program Olahraga untuk Anak-anak (Sports Programs for Kids), karate termasuk yang paling digemari di sana, menyusul olahrga internasional populer seperti sepakbola, tenang, dan tenis.

“Jadi menurut saya, karate juga harus masuk Youth Sports Program di Indonesia. Kami dari Inkai khususnya, akan mendorong stakeholder karate Indonesia mewujudkan hal itu. Syukur alhamdulilllah kalau pemerintah memfasilitasi. Kalaupun tidak, kami tidak akan berhenti memperjuangkan,” tekad Prof Hermawan Sulistyo, kandidat Ketua PP Inkai (Institut Karate-Do Indonesia) periode 2018 – 2022.

Penyandang Dan IV Inkai itu, yakin jika seni bela diri karate diajarkan sejak dini, maka sejatinya kita tengah memupuk pribadi-pribadi unggul dengan karakter mulia. Kikiek, begitu ia akrab disapa, menyinggung ihwal “Dwidasa Sila Karate”, dua puluh sila dalam karate yang sarat ajaran luhur. “Salah satunya berbunyi, ‘jangan pernah lupa: karate dimulai dengan rei dan berakhir dengan rei. Rei berarti sopan santun atau hormat, dan diwakili dalam karate dengan membungkuk,” ujarnya.

 

Sila lain menyebutkan, ‘tidak ada serangan pertama di karate’, ‘karate mendukung kebenaran’, ‘pertama, pahami diri Anda sendiri, kemudian pahami orang lain’. “Itu beberapa pasal dalam karate yang sangat baik untuk pendidikan karakter bangsa, dan harus dimulai sejak dini,” tambah pria kelahiran Ngawi, 4 Juli 1957.

Bonus lain adalah prestasi. Dengan segala potensi yang ada, bukan tidak mungkin karate akan menjadi cabang olahraga (cabor) unggulan, seperti halnya bulutangkis. “Siapa sangka, Indonesia bisa menjadi jagoan bulutangkis. Padahal, cabor bulutangkis asal-usulnya dari Pune, India dan diciptakan oleh serdadu Inggris. Maka, saya yakin karate pun bisa mengharumkan nama Indonesia lewat atlet-atlet terbaik,” ujar Kikiek optimistis.

Untuk itu, Kikiek akan memaksimalkan semua potensi bagi kemajuan Inkai dan dunia karate pada umumnya. Kepada Jayakartanews, Prof Hemawan Sulistyo menegaskan ihwal misi yang ia usung, “membangun Inkai 2019-2023 kembali menjadi perguruan karate terbesar dan terkuat di Indonesia.” “Karenanya, kepengurusan periode 2018 – 2022 harus diisi pengurus yang memiliki dedikasi dan jiwa pengabdian tinggi,” pungkas Kikiek. (rr)

Tinggalkan Indonesia, Atlet Disabilitas Torehkan Tulisan Inspiratif di Wall of Fame

Inspiring Wall–foto INAPGOC

Perhelatan Asian Para Games telah berakhir. Indonesia sebagai tuan rumah penyelenggaraan Asian Para Games ke-3 mendapat pujian dari Asian Paralympic Committee (APC) karena sukses menyelenggarakan ajang olahraga disabilitas se-Asia tersebut. Apresiasi tak hanya berasal dari Komite Paralimpik Asia, tetapi juga dari para atlet disabilitas yang telah berkompetisi tanggal 6-13 Oktober lalu.

Sejak hari Minggu (14/10) hingga Senin kemarin (15/10) sudah lebih dari 3.000 kontingen kembali ke negaranya. Para atlet dan ofisial meninggalkan Indonesia melalui Terminal 2 dan 3 Bandara Soekarno-Hatta.

foto-foto INAPGOC

Kesan yang baik dan memori yang indah tampaknya sangat membekas di dalam hati kontingen dari 43 negara peserta. Hal ini terlihat dari pesan yang mereka tuliskan di wall of fame yang berada di Bandara Soekarno-Hatta.

Berbagai ucapan terima kasih untuk Indonesia tertulis dalam kanvas yang berjumlah tiga buah tersebut. Ada tulisan “Big Thanks for Indonesia” dari Tim Uni Emirat Arab. Sementara itu atlet Iran Olad Mahdi menuliskan kata- kata “See you, Bravo Indonesia”. Terdapat pula tulisan “Dengan Keterbatasan Atlet Indonesia Tetap Semangat”. Bahkan ada tulisan “Asian Para Games Cool” dan “U Rock Guys”.

Direktur Arrival, Depature, Logistic INAPGOC menyampaikan bahwa beberapa kontingen negara peserta yang masih berada di Jakarta.

“Hari ini masih ada kontingen yang akan meninggalkan Indonesia, tapi puncaknya yang sudah terjadi hari Minggu dan Senin kemarin,” ungkap Andrianto.

Arus kepulangan para atlet dan ofisial terus menjadi perhatian INAPGOC dan Komunitas Bandara Soekarno-Hatta hingga semuanya dengan selamat meninggalkan Indonesia.

“Secara bertahap terus akan terjadi kepulangan ke negara masing-masing sampai 18 Oktober nanti,” jelas Andrianto.

Wall of fame sengaja disiapkan untuk merekam kesan seluruh kontingen. Ucapan terima kasih juga tampak dituliskan bagi pelayanan di Bandara Soekarno-Hatta. Tiga kanvas yang disiapkan sudah dipenuhi tanda tangan para atlet dan ofisial hingga tidak menyisakan kanvas kosong sama sekali.

Terima kasih kepada semua atlet disabilitas yang telah berjuang meraih prestasi dan menghadirkan inspirasi bagi Asia. Sampai bertemu di Asian Para Games Hangzhou, China tahun 2022.***ebn/INAPGOC

‘Sport Science’, Mengembalikan Kejayaan Inkai

Prof Hermawan Sulistyo (dibopong) saat memimpin kontingen INKAI meraih Juara Umum di Kejurnas Karate Usia dini Piala Mendikbud V , 2012, di Samarinda. (Foto: Ist)

Sifat bengal dan kegemarannya berkelahi, berhenti di usia 16 tahun, justru saat ia mengenal karate. “Yaaa….tidak langsung berhenti sih… tapi setidaknya mulai berkurang, he… he… he…,” ujar Prof Hemawan Sulistyo, atau yang akrab disapa mas Kikiek itu.

Tahun 1973. Tahun tercatatnya Kikiek mulai berlatih Inkai di Cabang Madiun bersama Sensei Kadar, Cliften Tupan, Kukuh Darmono, dan Josef Triwahono. Sejak itu, disiplin dojo pelan tapi pasti membentuk karakter Kikiek yang baru. Karakter yang lebih bertanggung jawab, disiplin, dan dalam banyak hal membuatnya lebih tenang.

Sejak itu, malang-melintang Kikiek menekuni dunia karate. Bahkan dalam banyak kesempatan, ia sering berkata, “Karate ibarat agama kedua bagi saya,” kata penyandang Dan IV Inkai itu. Begitu cintanya pada karate, terlebih kepada Inkai, sesibuk apa pun kegiatannya –baik di dalam maupun di luar negeri—Prof Kikiek selalu meluangkan waktu untuk karate.

Prof Hermawan Sulistyo (Foto: Taofik H)

Jelang Kongres PP Inkai, ia pun bertekad memberi perhatian dan pengabdian lebih dengan mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PP Inkai periode 2018 – 2022. Menurutnya, Inkai sudah saatnya diurus oleh pengurus yang berdedikasi dan siap mengabdi. “Tanpa dedikasi, pengabdian menjadi semu,” ujar Pembina Inkai Jawa Timur itu.

Dengan dedikasi dan pengabdian, Inkai akan kembali menjadi yang terkuat dan terbesar di Indonesia. “Sedikitnya, kita harus memperkokoh empat pilar,” ujar Kikiek yang mantan Kabid Litbang PB Forki. Keempat pilar yang ia maksud adalah pertama, manajemen yang profesional. Kedua, sarana tempat, baik itu gedung sekretariat ataupun dojo-dojo. Ketiga, pembinaan usia dini. Keempat, sport science.

Keempat pilar itu diyakini akan memperkokoh visi yang ia canangkan, yakni “Menatap karate Inkai masa depan, sebagai cabang olahraga prestasi; mempertahankan tradisi Shotokan Karate-Do sebagai beladiri (martial arts) untuk membentuk watak generasi bangsa masa depan. Adapun misi yang ia canangkan adalah “Membangun Inkai 2019-2023 kembali menjadi perguruan karate terbesar dan terkuat di Indonesia.”

Empat pilar tadi, ia tuang ke dalam enam program kerja. Pilar profesionalisme misalnya, ia jabarkan ke dalam program kelembagaan dan keuangan yang transparan, melalui pemakaian jasa perbankan untuk semua jenis transaksi. Sedangkan pilar kedua, tentang sarana tempat, ia tuang dalam program manajemen aset.

Bahwa semua aset yang ada di pusat dan daerah harus didata dengan cermat. Kikiek bertekad melakukan pendataan aset-aset yang dimiliki Inkai, baik pada tingkat Pusat maupun Daerah. Manajemen aset ini termasuk gedung atau ruang sekretariat, dojo dan perlengkapannya (tatami, makiwara dan sebagainya). Ia bahkan sudah merancang program setiap provinsi memiliki dojo dan sekretariat sendiri. “Realisasinya bisa dengan cara, Pengurus Daerah menyediakan lahannya dan PP-Inkai mensubsidi (sebagian) pembangunannya. Sedangkan, pengawasan dilakukan oleh PP-Inkai,” ujar Prof Kikiek.

Ihwal pilar ketiga, pembinaan usia dini, Kikiek menaruh perhatian besar. Diawali dengan program pendataan anggota secara digital. Program berikutnya adalah menyusun pertandingan selama satu tahun. Program terdiri dari pertandingan yang diselenggarakan oleh PP-Inkai; oleh Pengprov dan Pengcab, serta oleh pihak-pihak internal Inkai lainnya. Selain itu, juga menyusun atau memasukkan jadwal pertandingan yang diselenggarakan FORKI (semua jenjang). Bahkan, pertandingan-pertandingan di luar negeri. “Masih terkait hal itu, saya merencanakan pemberian beasiswa bagi atlet berprestasi,” tambahnya.

Prof Hermawan Sulistyo (kanan) ketika turun di nomor kumite, Kejurnas 2016. (Foto: Ist)

Pilar terakhir, sport science yang ia katakan mutlak, di tengah era yang semakin maju. Setidaknya, Kikiek akan memulai dengan mengurangi hal-hal yang bersifat manual menjadi sistemik. Termasuk mengawalinya dengan pembuatan data base anggota, pengurus, sampai dewan guru. “Jika data sudah digitalized, lebih mudah untuk mengembangkan lebih lanjut. Misal, menambahkan entry jumlah pertandingan yang diikuti, rekor pertandingan yang disandang, sampai detail kalah dan menang. Kalau mau lebih spesifik bahkan bisa membuat entry data-data dalam kumite,” papar Kikiek.

Ia mencontohkan, cabang sepakbola yang memasukkan sport science sebagai salah satu pilar klub profesional, khususnya di negara maju. Dengan begitu, kecepatan lari tercatat secara digital, berapa kali memberi assist, tercatat secara digital, kecepatan tendangan pun tercatat secara digital. Juga di cabang tenis lapangan. Kecepatan servis langsung tercatat secara digital. “Cabang-cabang olahraga lain seperti renang, angkat berat, dan lain-lain pun menggunakan. Tidak usah terlalu jauh, itu turnamen mixed martial arts pun memakai sport science,” tambahnya.

Perpaduan visi, misi, dan program kerja itulah yang diyakini akan mengembalikan kejayaan Inkai. (rr)

 

Prof Hermawan Sulistyo

Biodata Singkat:

Nama Lengkap  : Prof (Ris) Dr H Hermawan Sulistyo, MA, MAIA, PhD, APU

Panggilan           : Kikiek

Kelahiran            : Ngawi/4 Juli 1957

Agama                : Islam

Pekerjaan/Jabatan:

  1. Penasihat Ahli Kapolri (bintang dua)
  2. Profesor Riset LIPI (PNS Gol IVe/Pembina Utama)
  3. Kepala Pusat Kajian Keamanan Nasional, Univ Bhayangkara Jakarta Raya
  4. Staf Pengajar di lingkungan TNI/Polri/Lemdik Kedinasan
  5. Guru Besar PTIK
  6. Patron, CONCERN Strategic Think Tank & Consulting
  7. Owner beberapa perusahaan konstruksi dan trading

Pengalaman Pendidikan/Pengajaran:

  1. Kuliah:

Universitas Indonesia (UI); Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara; Universitas Airlangga (Unair); State University of New York (SUNY-Buffalo, US); Ohio University (OU-Athens, US); Northern Illinois University (NIU-DeKalb, US); Arizona State University (ASU-Tempe, US), dan lain-lain, dalam bidang-bidang Matematika, Fisika Nuklir, Ilmu Politik; Filsafat; Hubungan Internasional/Politik dan Pemerintahan Indonesia, History, Literature, Antropologi, Area Studies, Publishing, dan lain-lain.

  1. Mengajar:

Lemhannas-RI, Sesko TNI, Sesko TNI-AD; Sesko TNI-AL; Sesko-TNI-AU; Sespimti Polri; Sespimmen Polri; semua jenjang pendidikan Polri; berbagai sekolah kedinasan (BIN, Imigrasi, Bea Cukai dll)

  1. Professor/Scholar-in-Residence

Contemporary History Institute Ohio Univ; Institute for Southeast Asian Studies (ISEAS) Singapore; Kyoto Daigaku; Uppsala University-Sweden; Universiti Sains Malaysia; universitas2 di belasan negara; Unas, Trisakti, Unpad, Unair, dan belasan lainya.

  1. Pembicara: Clingendael Institute Netherland; Chatham House (RIIE) London; IEEI Portugal; APCSS Hawaii; FES Berlin; Sidang Pleno Parlemen Belgia, Brussels; puluhan lainnya di berbagai negara.
  2. Analis di media massa (TV/Radio) nasional/internasional selama puluhun tahun.

 

  • Wartawan/Jurnalis/Redaktur: majalah Gadis; Mutiara; Sinar Harapan/Suara Pembaruan; TSM (Teknologi dan Strategi Militer); tabloid Bangkit; Harian Surya (koresponden di Amerika); Harian Jayakarta; kolumnis di hampir semua media cetak nasional. Menulis puluhan buku yang terbit di Indonesia dan di luar negeri.

Pengalaman Organisasi

Ketua kelas/angkatan sejak kelas 3 SD hingga lulus PT; Sekjen Senat Mahasiswa FIIS-UI; Sekjen Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM-UI); Koordinator Persatuan Mahasiswa Indonesia di AS (Permias).

Puluhan tahun berkeliling Indonesia dan dunia internasional; Anak-anak tinggal di Meguro-cho Tokyo, Uxbridge London, Wellington NZ.

Track Record Karate

Dan IV Inkai

  1. 1973-1975. Latihan Inkai di Cabang Madiun (Sensei Kadar, Cliften Tupan, Kukuh Darmono, Josef Triwahono);
  2. 1975-1983. Inkai Ranting UI (Ss Pieter Ferdinandus, Hedy, Suparlan, Suyana);
  3. 1986-1991. Ohio University Karate Club. ISKF/JKA (Ss Teruyuki Okazaki, Golden Greer, Howard Beebee);
  4. 1991-1997. Dojo Koyama Sensei (Phoenix). ISKF/JKA East Coast, Arizona, USA
  5. 1991-1997. Arizona State University ISKF/JKA (Ss Shojiro Koyama);
  6. Honbu Dojo JKA, Iidabashi Tokyo (Intermittent, Ss Kawawada);
  7. Kabid Litbang PB-FORKI
  8. Ketua panitia berbagai event Inkai/FORKI (gashuku, ujian Dan, Ryamizard Cup, Indonesia Open Karate Tournament I, dan puluhan lainnya); Sekjen PP-Inkai (dua periode: 2006-2010-; 2010-2014); Program Diractor Inkai Prestasi;
  9. Pembina Inkai Jatim; Dojo Renzo.
  10. Menerjemahkan dan menerbitkan buku Gichin Funakoshi, Karate-Do My Way of Life; Sejarah Karate Shotokan dan Inkai.

Hermawan Sulistyo adalah Karate Inkai Masa Depan

Prof Hermawan “Kikiek” Sulistyo (kiri) bersama karateka binaannya, di Dojo The Fream Team, Lembah Depok. (Foto: Taofik Hidayat).

Jika kemudian Prof Hermawan Sulistyo tergerak tekad memimpin Inkai pada periode 2018 – 2022, lebih karena mimpi besarnya menjadikan karate-do sebagai sarana membentuk watak generasi bangsa masa depan. Bela diri yang satu ini, memiliki akar nilai kejuangan, kehormatan, disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan sportivitas yang tinggi. “Ujungnya membentuk rasa percaya diri. Ini mutlak harus dimiliki tidak saja oleh karateka, tetapi juga oleh bangsa untuk meraih prestasi,” ujar Kikiek, panggilan akrabnya.

Karenanya, Kikiek menawarkan sebuah visi yang kongkrit bagi Inkai 2018 – 2022.  Visi itu adalah “Menatap karate Inkai masa depan, sebagai cabang olahraga prestasi; mempertahankan tradisi Shotokan Karate-Do sebagai beladiri (martial arts) untuk membentuk watak generasi bangsa masa depan. Adapun misi yang ia canangkan adalah “Membangun Inkai 2019-2023 kembali menjadi perguruan karate terbesar dan terkuat di Indonesia.”

Prof Hermawan Sulityo (foto: Taofik H.)

Menjabat Sekjen PP-Inkai dua periode (2006-2010 dan 2010-2014) menjadikan Prof Kikiek mengenal betul PP Inkai. Tak berlebihan jika enam program utama yang ditawarkannya pun begitu mengakar pada persoalan utama Inkai yang harus segera dibenahi.

Pertama, pria kelahiran Ngawi, 4 Juli 1957 itu menaruh perhatian pada pembenahan sektor kelembagaan. Baginya, kelembagaan Inkai harus diisi pengurus yang berdedikasi dan penuh pengabdian. Kedua, bidang keuangan. Ini soal krusial, katanya. Untuk itu, program yang ia canangkan adalah transparansi melalui pemakaian jasa perbankan untuk semua jenis transaksi.

Program ketiga dan keempat adalah manajemen aset dan keanggotaan. Semua aset yang ada di pusat dan daerah harus didata dengan cermat. Sedangkan di bidang keanggotaan, Prof Kikiek mencanangkan digitalisasi data anggota. “Tunjukkan, bahwa Inkai adaptif terhadap perkembangan zaman yang begitu pesat dengan mengoptimalkan teknologi informasi,” ujar Penasihat Ahli Kapolri itu.

Sementara, program kelima adalah pertandingan. Tidak akan lahir prestasi tanpa jadwal pertandingan yang regular dan ajeg. Terakhir, program keenam yang ditawarkan karateka Dan IV Inkai ini adalah kesejahteraan. Fokus kesejahteraan secara berjenjang mulai dari Dewan Guru, PP-Inkai, Pelatih, Atlet, Kepanitiaan. “Saya bahkan sudah merancang program beasiswa bagi atlet Inkai,” ujar Kikiek. (rr)

Biodata Singkat:

Nama Lengkap  : Prof (Ris) Dr H Hermawan Sulistyo, MA, MAIA, PhD, APU

Panggilan           : Kikiek

Kelahiran            : Ngawi/4 Juli 1957

Agama                : Islam

Pekerjaan/Jabatan:

  1. Penasihat Ahli Kapolri (bintang dua)
  2. Profesor Riset LIPI (PNS Gol IVe/Pembina Utama)
  3. Kepala Pusat Kajian Keamanan Nasional, Univ Bhayangkara Jakarta Raya
  4. Staf Pengajar di lingkungan TNI/Polri/Lemdik Kedinasan
  5. Guru Besar PTIK
  6. Patron, CONCERN Strategic Think Tank & Consulting
  7. Owner beberapa perusahaan konstruksi dan trading

Pengalaman Pendidikan/Pengajaran:

  1. Kuliah:

Universitas Indonesia (UI); Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara; Universitas Airlangga (Unair); State University of New York (SUNY-Buffalo, US); Ohio University (OU-Athens, US); Northern Illinois University (NIU-DeKalb, US); Arizona State University (ASU-Tempe, US), dan lain-lain, dalam bidang-bidang Matematika, Fisika Nuklir, Ilmu Politik; Filsafat; Hubungan Internasional/Politik dan Pemerintahan Indonesia, History, Literature, Antropologi, Area Studies, Publishing, dan lain-lain.

  1. Mengajar:

Lemhannas-RI, Sesko TNI, Sesko TNI-AD; Sesko TNI-AL; Sesko-TNI-AU; Sespimti Polri; Sespimmen Polri; semua jenjang pendidikan Polri; berbagai sekolah kedinasan (BIN, Imigrasi, Bea Cukai dll)

  1. Professor/Scholar-in-Residence

Contemporary History Institute Ohio Univ; Institute for Southeast Asian Studies (ISEAS) Singapore; Kyoto Daigaku; Uppsala University-Sweden; Universiti Sains Malaysia; universitas2 di belasan negara; Unas, Trisakti, Unpad, Unair, dan belasan lainya.

  1. Pembicara: Clingendael Institute Netherland; Chatham House (RIIE) London; IEEI Portugal; APCSS Hawaii; FES Berlin; Sidang Pleno Parlemen Belgia, Brussels; puluhan lainnya di berbagai negara.
  2. Analis di media massa (TV/Radio) nasional/internasional selama puluhun tahun.
  3. Wartawan/Jurnalis/Redaktur: majalah Gadis; Mutiara; Sinar Harapan/Suara Pembaruan; TSM (Teknologi dan Strategi Militer); tabloid Bangkit; Harian Surya (koresponden di Amerika); Harian Jayakarta; kolumnis di hampir semua media cetak nasional. Menulis puluhan buku yang terbit di Indonesia dan di luar negeri.

Pengalaman Organisasi

Ketua kelas/angkatan sejak kelas 3 SD hingga lulus PT; Sekjen Senat Mahasiswa FIIS-UI; Sekjen Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM-UI); Koordinator Persatuan Mahasiswa Indonesia di AS (Permias).

Puluhan tahun berkeliling Indonesia dan dunia internasional; Anak-anak tinggal di Meguro-cho Tokyo, Uxbridge London, Wellington NZ.

Track Record Karate

Dan IV Inkai

  1. 1973-1975. Latihan Inkai di Cabang Madiun (Sensei Kadar, Cliften Tupan, Kukuh Darmono, Josef Triwahono);
  2. 1975-1983. Inkai Ranting UI (Ss Pieter Ferdinandus, Hedy, Suparlan, Suyana);
  3. 1986-1991. Ohio University Karate Club. ISKF/JKA (Ss Teruyuki Okazaki, Golden Greer, Howard Beebee);
  4. 1991-1997. Dojo Koyama Sensei (Phoenix). ISKF/JKA East Coast, Arizona, USA
  5. 1991-1997. Arizona State University ISKF/JKA (Ss Shojiro Koyama);
  6. Honbu Dojo JKA, Iidabashi Tokyo (Intermittent, Ss Kawawada);
  7. Kabid Litbang PB-FORKI
  8. Ketua panitia berbagai event Inkai/FORKI (gashuku, ujian Dan, Ryamizard Cup, Indonesia Open Karate Tournament I, dan puluhan lainnya); Sekjen PP-Inkai (dua periode: 2006-2010-; 2010-2014); Program Diractor Inkai Prestasi;
  9. Pembina Inkai Jatim; Dojo Renzo.
  10. Menerjemahkan dan menerbitkan buku Gichin Funakoshi, Karate-Do My Way of Life; Sejarah Karate Shotokan dan Inkai.

Inilah Nominal Bonus Atlet, Pelatih dan Asisten Pelatih di Asian Para Games 2018

Presiden Joko Widodo, Menpora Imam Nahrawi, para pelatih dan atlet para games berfoto bersama. (Foto: Ist)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menyerahkan bonus kepada atlet, pelatih, dan asisten pelatih Indonesia yang tampil dalam Asian Para Games 2018, di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Sabtu (13/10) lalu.

Hingga penutupan Sabtu (13/10) malam, jumlah medali yang berhasil diraih Indonesia telah melesat dari target 16 medali emas. Total medali yang diraih atlet-atlet Indonesia dalam Asian Para Games 2018 itu adalah 37 emas, 47 perak, dan 51 perunggu.

Meskipun melebihi target yang telah ditentukan, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi memastikan semua yang terlibat dalam perolehan medali Indonesia, baik atlet, pelatih maupun asisten pelatih akan mendapatkan bonus yang besarannya sama dengan yang diterima atlet-atlet Indonesia pada Asian Games 2018 lalu.

“Nominalnya sama besarnya dengan bonus Asian Games 2018. Adapun rincian bonusnya yakni, untuk perorangan mendapatkan medali emas sebesar Rp1,5 miliar, medali perak Rp500 juta dan medali perunggu Rp 250juta,” kata Menpora pada konperensi pers di Main Press Center, Jakarta, Jumat (12/10) siang.

Bahkan atet-atlet yang tidak mempersembahkan medali pun, menurut Menpora dalam keterangannya kepada wartawan di Istana Kepresidenan Bogor, Jabar, Sabtu (13/10), juga mendapatkan bonus masih-masing Rp20juta.

Presiden bersama atlet para games di Istana Bogor. (Foto Ist)
Ramah tamah Presiden Joko Widodo dengan para atlet dan ofisial Para Games di Istana Bogor. (Foto: Iist)

Berikut Rincian Bonus untuk Asian Para Games 2018

Atlet perorangan:

– Emas Rp1,5 miliar

– Perak Rp500 juta

– Perunggu Rp250 juta

Atlet ganda:

– Emas Rp1 miliar per orang

– Perak Rp400 juta per orang

– Perunggu Rp200 juta per orang

Atlet beregu:

– Emas Rp750 juta per-orang

– Perak Rp300 juta per orang

– Perunggu Rp150 juta per orang

Pelatih perorangan/ganda:

– Emas Rp450 juta

– Perak Rp150 juta

– Perunggu Rp75 juta

Pelatih beregu:

– Emas Rp600 juta

– Perak Rp200 juta

– Perunggu Rp100 juta

Pelatih untuk medali kedua dan seterusnya:

– Emas Rp225 juta

– Perak Rp75 juta

– Perunggu Rp37,5 juta

Asisten pelatih perorangan/ganda:

– Emas Rp300 juta

– Perak Rp100 juta

– Perunggu Rp50 juta

Asisten pelatih beregu:

– Emas Rp375 juta

– Perak Rp125 juta

– Perunggu Rp62,5 juta

Asisten pelatih untuk medali kedua dan seterusnya:

– Emas Rp150 juta

– Perak Rp50 juta

– Perunggu Rp25 juta.

(GUN)

Tangis Haru hingga Flash Mob Warnai Pelepasan Kontingen Asian Para Games 2018

Ketua INAPGOC Raja Sapta Oktohari datang ke Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta untuk melepas langsung kepulangan para atlet disabilitas beserta ofisial kembali ke negaranya masing-masing–foto INAPGOC

Asian Para Games 2018 telah resmi ditutup. Nuansa persahabatan tampak sangat jelas saat para kontingen atlet disabilitas akan kembali pulang ke negaranya masing- masing.

Sejak pagi hingga malam ini sekitar 2.000 atlet dan ofisial meninggalkan Jakarta. Beberapa negara di antaranya adalah China Taipei, Macau, Vietnam, Malaysia, dan Iran. Kontingen tersebut pulang melalui Bandara Soekarno-Hatta.

Ketua INAPGOC Raja Sapta Oktohari datang ke Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta untuk melepas langsung kepulangan para atlet disabilitas beserta ofisial kembali ke negaranya masing-masing.

foto INAPGOC

Suasana akrab dan haru tampak saat Ketua INAPGOC bertemu para atlet yang akan pulang ke negaranya. Apalagi para volunteer dengan para atlet dan ofisial yang mereka dampingi selama berada di Indonesia. Ada volunteer yang mencium tangan atlet layaknya kepada kakak atau orang tua. Ada pula volunteer dan atlet yang menangis berpelukan dalam momen perpisahan ini.

“Suasana kekeluargaan sangat terasa, terutama antara para volunteer dengan atlet dan ofisial yang didampingi. Perpisahan yang betul-betul mengharukan. Dalam waktu sekitar 10 hari sejak kontingen datang, ternyata semua melebur jadi saudara,” ucap pria yang biasa disapa Okto ini.

Tim yang tergabung dalam Komunitas Bandara Soekarno-Hatta juga selalu sigap mendampingi para atlet disabilitas. Dalam kesempatan tersebut, Okto menyampaikan apresiasinya bagi Komunitas Bandara Soekarno-Hatta.

“Tentu tidak lepas dari layanan teman-teman di bandara yang jadi wajah pertama saat para kontingen datang ke Jakarta. Sekarang mereka pulang ke negara masing-masing. Semoga semuanya berkesan positif dan mereka ingin kembali ke Indonesia lagi,” ujarnya.

Okto juga menambahkan jika penyelenggaraan Asian Para Games kemarin adalah yang terbaik dari yang pernah ada. “Presiden APC (Asian Paralympic Committee) semalam bilang bahwa Asian Para Games di Indonesia adalah yang terbaik,” ungkapnya.

Melepas para atlet disabilitas tentu saja tak selalu dalam suasana sedih. Karena Okto bersama para anggota Komunitas Bandara Soekarno-Hatta melepas atlet disabilitas dengan melakukan flash mob. Diiringi Song of Victory sebagai lagu resmi Asian Para Games 2018, para atlet dan ofisial juga mengikuti gerakan tersebut dengan penuh keceriaan.

Keberanian, kesetaraan, dan determinasi para atlet betul-betul hadir sebagai inspirasi Asia yang luar biasa. Selamat jalan dan sampai jumpa di Asian Para Games 2022 di Hangzhou, China!***INAPGOC

Congratulations! Raih 37 Emas Indonesia Duduki Peringkat 5 Asia

Prestasi para atlet disabilitas Indonesia di Asian Para Games 2018 sungguh luar biasa! Perjuangan keras mereka membuahkan hasil mengagumkan, Indonesia berhasil meraih 135 medali, yakni, 37 emas, 47 perak dan 51 perunggu. Atas capaian itu, Indonesia melesat ke posisi ke-5 setelah China,Korea, Iran dan Jepang.

Padahal, sekadar mengingatkan, pada Asian Para Games 2014 di Incheon, Korea Selatan, Indonesia hanya menduduki peringkat ke 17 dengan perolehan medali 9 emas, 11 perak dan 18 perunggu atau total 38 medali.

Rasa syukur atas capaian Kontingen Indonesia ini juga diungkap Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi melalui akun instagramnya.

***/ebn

Jelang Penutupan Asian Para Games, Bulutangkis Dulang 4 Medali Emas

Tim Bulutangkis Indonesia raih 6 emas, 5 perak dan 4 perunggu Asian Para Games 2018–foto instagram imamnahrawi

Menjelang Asian Para Games 2018 berakhir, atlet-atlet Indonesia masih mendulang medali emas.  Di cabang bulutangkis misalnya, Sabtu (13/10) ini, atlet Indonesia membukukan empat medali emas dari enam emas yang tersisa di hari terakhir. Dengan demikian, dari cabang bulutangkis telah meraih 6 emas, 5 perak, 4 perunggu

Bertanding di Istora Senayan Jakarta, para atlet bulutangkis Indonesia tampil militan. Dukungan suporter yang luar biasa membuat tenaga mereka jadi berlipat ganda.

Wakil pertama Indonesia, Fredy Setiawan yang turun di tunggal putra klasifikasi SL 4 gagal menyumbangkan emas. Ia harus puas meraih perak setelah dikalahkan pebulutangkis India, Tarun, dengan 21-10, 13-21, dan 19-21.

“Sebenarnya saya sering bertemu dengan Tarun. Bahkan pada Asia Para Games di Incheon saya juga bertemu di final. Faktor penyesuaian angin yang menjadi masalah. Terus saya terlalu buru-buru pada game kedua akhirnya tak terkontrol,” ujar Fredy usai pertandingan.

Kegagalan itu jadi pelecut atlet lainnya. Indonesia akhirnya membuka pundi emas dari tunggal putra klasifikasi SU 5 lewat Dheva Anrimusthi. Menjalani ‘perang saudara’ melawan Suryo Nugroho, Dheva menang dua game langsung 22-20 dan 21-13.

Dheva kembali menyumbang emas kedua bagi Indonesia saat berpasangan dengan Hafizh Briliansyah Prawiranegara lewat ganda putra klasifikasi SU 5. Mereka mengamankan medali emas setelah mengalahkan rekan sesama pelatnas NPC Suryo Nugroho/Oddie Kurnia Dwi Listiant Putra dengan 21-9 dan 21-9.

“Kami sudah sering bertemu di latihan. Kami suka kalah dan menang. Kami juga sering melakukan rotasi. Di mana dari kami kerap bertukar pasangan,” kata Hafizh.

Sayang, unggulan pertama tunggal putra klasifikasi SL 3, Ukun Rukaendi, gagal mengulang sukses meraih emas di Asian Para Games 2014 Incheon. Ia dikalahkan wakil India Pramod Bhagat lewat pertarungan rubber game 19-21, 21-15, dan 14-21 dan harus puas dengan torehan perak.

“Dia adalah lawan yang tanggung meski usianya sudah tidak muda lagi (48 tahun). Itulah mengapa saya harus melawannya hingga satu jam 30 menit. Apalagi dukungan penonton di sini sangat luar biasa, belum pernah saya merasakan suasana seperti ini sepanjang hidup saya,” ungkap Pramod Bhagat.

Hary Susanto/Leani Ratri Oktila mampu memberikan pundi emas ketiga bulutangkis. Hasil yang diraih berkat kemenangan atas wakil Thailand Siripongow Teamarrom/Nipada Seangsupa dengan 21-7 dan 21-10 di final ganda campuran SL 3/SU 5.

Emas terakhir Indonesia mampu dipersembahkan ganda putra Fredy Setiawan/Dwiyoko di final ganda putra klasifikasi SL 3-4. Mereka menumbangkan pasangan Korea Selatan Sun Soo Jeon/Dong Jae Joo dengan 22-20 dan 22-20.***ebn/INAPGOC