Lima Cara Menjadi Remaja yang Bermakna

Tidak ada yang mau berteman dengan aku. Aku gagal di sekolah. Semua teman-teman kelihatanya senang. Apa yang salah padaku?

Pikiran-pikiran negatif seperti ini kita jumpai di rumah kita dan di sekolah-sekolah. Remaja masal kini mengalami peningkatan kecemasan dan sejumlah penelitian juga mengindikasikan mahasiswa di Kanda, Inggris, AS, dan juga kemungkinan sama di Indonesia , semakin lama semakin perfeksionis atau berusaha keras sempurna sehingga mengukur dirinya sendiri dengan standar-standar yang tidak masuk akal.

Ada apa? Kita tidak tahu pasti, namun kita tahu ada beberapa upaya sehingga putra dan putri remaja kita bisa membangun kekuatan mental mereka.

Pada penelitian tahun 2018 diperoleh kesimpulan bagi remaja persepsi terhadap diri sendiri berperan sangat penting dalam kesehatan emosional. Studi ini juga menyebutkan kelas, yang memberi dukungan, dan hubungan sosial yang positif bisa memberi pengaruh kepada kesehatan emosi — namun ini merupakan dampak tidak langsung. Tampaknya konsep-diri yang positif menjadi variabel kunci dalam kesehatan emosi. Jika pelajar atau mahasiswa merasa nyaman dengan dirinya, maka dia akan lebih bisa berkomunikasi dengan temannya dan memperoleh manfaat dari dukungan-dukungan yang diberikan sekolah atau kampusnya.

Sekarang, bagaimana caranya kita mempengaruhi pemikiran pelajar dan mahasiswa mengenai dirinya sendiri? Ini jadi tantangan sangat besar, namun ada banyak penelitian yang bisa memberi petunjuk-petunjuk untuk mendukung para remaja. Di bawah ini ada lima cara untuk membantu remaja memperoleh konsep diri yang lebih positif.

  1. Olah Raga

Semua orang pasti pernah mendengar ini, anak-anak bisa memperoleh manfaat dengan berolah raga teratur (apalagi kalau ada kecenderungan mereka lebih banyak duduk didepan gadget atau layar komputer). Hasil 38 penelitian memberi indikasi aktivitas olah raga saja bisa meningkatkan rasa percaya diri dan konsep diri bagi anak-anak dan remaja serta pemuda.

Tampaknya cara berolah-raga juga memegang peranan penting. Para pelajar dan mahasiswa yang ikut serta berolah raga di sekolahnya dengan para pelatih menyatakan pertumbuhan rasa percaya diri jauh lebih cepat dari mereka yang berolah raga di rumah atau tanpa pelatih.

Konsep diri remaja dan pemuda berkaitan erat dengan rasa memiliki daya tarik fisik dan gambaran fisik, dimana banyak orang berjuang dan kurang berhasil. Jadi mendorong melakukan olah raga secara teratur pada masa sekolah dan liburan, mendukung tim olah raga, latihan kekuatan, lari, yoga, dan berenang, bukan saja mempengaruhi kondisi fisik tapi juga mental. Keluar rumah dan berolah raga akan membuat kita merasa lebih segar, sehat, dan berdaya.

  1. Fokus pada Mengasihi-Diri (bukan Harga-Diri)

Karena Harga-Diri adalah evaluasi menyeluruh atas nilai atau harga keseluruhan diri anda, ini ada bahayanya. Apa yang sudah saya capai? Saya cukup bernilai? Bagaimana posisi saya dibandingkan dengan rekan-rekan saya?

Apa yang terjadi jika kita berhenti menghakimi diri sendiri? Peneliti Kristen Neff menyatakan Mengasihi-diri — merawat diri anda dengan kebaikan, keterbukaan, dan penerimaan — jadi alternatif yang lehih sehat daripada orientasi pada usaha dan kinerja yang sering dikaitkan dengan harga-diri.

Dalam risetnya, dia menemukan para remaja dan pemuda dengan rasa mengasihi-diri tinggi memperlihatkan kesejahteraan-hidup lebih baik. Kenapa? Mereka menerima kekurangan diri, mengakui mereka juga berjuang sama seperti yang lain (Semua orang melakukan kesalahan, anda tidak sendirian), dan meperlakukan diri sendiri dengan kebaikan, yang akan mereka teruskan kepada rekan-rekan mereka (Tidak apa-apa, kamu telah melakukan yang terbaik.)

  1. Hindari Perbandingan Sosial

Ketika kita berfokus kepada rasa Percaya-Diri, kita cenderung untuk membandingkan diri kita dengan orang lain. Remaja, terutama, sering merasa adanya ‘pemerhati imajiner’ (Semua orang melihat saya) dan bisa sangat sensitif terhadap hubungan mereka dengan semua orang di lingkungannya.

Media sosial seperti Instagram dan yang lainnya tidak membantu. Banyak penelitian memperlihatkan ada keterkaitan antara media sosial dengan depresi, kecemasan, kesepian, dan kekuatiran akan ketinggalan, diantara para remaja. Postingan mereka mungkin tidak meningkatkan jumlah yang ‘like’ dibandingkan dengan teman-temannya. Atau mereka merasa disingkirkan ketika mereka melihat foto-foto teman kelas, yang terlihat gembisa, dan mereka tidak ada disana.

Aplikasi baru khusus untuk remaja puteri, Maverick, jadi opsi lebih sehat daripada Snapchat atau Instagram. Dalam platform media sosial ini, para remaja bisa berkomunikasi dengan panutan (role model), yang disebut ‘Catalyst’ dan menjelajah kreatifitas mereka (seperti merancang superhero-nya sendiri atau memilih kata-kata mutiara untuk diri sendiri). Tentu saja selalu ada opsi untuk ‘istirahat’ dari media sosial sementara waktu.

Apapun pilihan remaja dalam ber-internet-ria, banyak dari sekolah-sekolah kita membangun struktur perbandingan sosial. Nilai rapor dan pengelompokan murid berdasarkan nilai akademis dan sama sekali tidak menghargai untuk berhenti, memulai, dan melakukan kesalahan yang jadi bagian dari proses belajar.

Dibawah ini ada alternatif sekolah yang dirancang untuk mengurangi perbandingan sosial:

  • Tidak mengumumkan nilai rapor.
  • Memberi kesempatan untuk melakukan perbaikan dan mengulang tugas-tugas sekolah.
  • Menghindari pengelompokan sebisa mungkin.
  • Fokus pada pertumbuhan dan perbaikan individu.
  • Pengakuan akan keberhasilan-kerberhasilan kecil murid.
  1. Meningkatkan Kapasitas Ketrampilan Khusus

Jika anda mengamati bakat dan minat remaja, anda bisa mendukung mereka untuk meningkatkan kapasitas kekuatan mereka. Anak anda mungkin berpikir dia tidak berbakat jadi atlit, tapi dia bagus dalam pelajaran IPA. Mungkin ada murid perempuan, yang duduk di belakang dan merasa tidak nyaman. Tapi dia membuat anda terkagum-kagum dengan puisinya.

Peneliti Susan Harter telam mempelajari rasa percaya-diri dan konsep-diri remaja selama bertahun-tahun. Dia menegaskan bahwa konsep-diri merupakan domain khusus. Rasa percaya-diri atau perasaan berarti (bermakna) cenderung berakar pada delapan area; atletik, kompetensi, kompetensi ilmiah, perilaku yang sopan, penerimaan sosial, persahabatan, daya tarik romantic, kepuasan kerja, dan daya tarik fisik.

Memang tidaklah mudah mengubah rasa harga diri para remaja, namun kita bisa menekankan dan mendorong minat dan terutama ketrampilan-ketrampilan yang membuat mereka lebih yakin, mampu, dan terinspirasi.

  1. Menolong Orang Lain (terutama orang asing)

Ketika para remaja menolong orang lain, mereka akan merasakan diri sendiri lebih baik kondisinya. Pada riset 2017 lalu, sebanyak 681 remaja (usia 11 – 14 tahun) diteliti perilaku baik dan kehendak untuk menolong orang lain selama empat tahun. Para peneliti menemukan remaja yang berperilaku baik dan senang menolong orang lain memiliki rasa percaya-diri lebih baik. Dan mereka yang melakukan kebaikan kepada orang asing (bukan teman atau keluarga) cenderung meningkat rasa percaya-dirinya.

Ketika remaja secara teratur memberi kontribusi kepada isu yang lebih besar, mereka belajar berpikir melebihi dirinya sendiri. Pada akhirnya, hal ini akan membantu mereka untuk lebih positif, berdaya, dan memiliki tujuan hidup.

Ketika banyak remaja berjuang dengan kecemasan dan kesempurnaan, kita biasanya langsung terjun dan menyelesaikan masalah mereka, apapun perasaaan atau pandangan mereka. Namun pendekatan lebih baik adalah membangun kebiasaan mental dan kekuatan mereka sehingga mereka bisa menyambut kehidupan yang lebih berarti di masa depan.

Sumber informasi: mindful.org disadur dari tulisan Amy L. Eva

Pentingnya Bermain Bersama Anak

ISU tentang anak selalu menarik untuk dibahas, betapa pentingnya mengembalikan peran orangtua untuk bermain bersama anak. Sebab bermain adalah dunia anak-anak. Dengan bermain akan mengoptimalkan tumbuh kembang anak.

Peran orangtua saat ini banyak yang digantikan dengan gadget dan orangtua dengan sadarnya mengenalkan telepon genggam kepada anak sebelum waktunya. Sekarang ini begitu mudahnya menemukan anak-anak yang sedang asyik bermain dengan ponselnya. Anak lebih memilih bermain dengan telepon genggamnya misalnya bermain game saking asyiknya anak jadi lebih senang bermain sendiri dibanding bermain dengan saudara sekandung ataupun orangtua mereka.

Anak bisa mengunduh permainan yang bersifat kekerasan seperti game perkelahian dan game perang yang berdarah-darah. Alhasil bermain yang seharusnya bertujuan mendidik malah mengajarkan sikap agresif yang akhirnya banyak keluhan dari para orangtua mengenai sikap anak-anak mereka yang kasar dan kecanduan gadget.

Kondisi tersebut semakin parah dengan jarangnya orangtua yang bermain dengan anak mereka di karenakan keterbatasan waktu atau bahkan bingung mau bermain apa. Masalah lainnya banyak orangtua yang mengira main harus memakai “Toys” atau alat bermain yang dibeli di toko yang harganya mahal padahal sebenarnya kita bisa mengajak anak bermain dengan kertas, batu hingga rumput pun bisa, anak tidak harus main dengan arahan dan aturan tertentu. Apa pun yang ada di sekeliling kita bisa menjadi permainan yang menarik semisalnya menaikkan anak di punggung seperti kuda kudaan.

Masalah waktu sebenarnya bisa diatur semisal pulang kantor ayah dapat bermain lempar bola dan permainan sederhana lainnya yang dulu pernah dilakukan saat kecil juga bisa di ajarkan ke anak. Terbukti permainan zaman dulu memang menyenangkan masa itu justru lebih menstimulasi motorik.

Anak dibiarkan bermain di tanah dan air anak juga bisa berlari, melompat dan melempar dengan bebas anak bisa merasakan aktifitas bermain yang melibatkan fisik. Sebelumnya orangtua perlu mengetahui tahapan perkembangan fitrah bermain yang pertama adalah manipulative play biasa terjadi sejak bayi anak mengekplorasi apa yang ada di sekitarnya dengan memegang, menjilat,  dan melempar yang kedua functional play bermain sesuai dengan fungsinya pada usia dua tahun ke atas cara bermainnya bola ditendang.

Ada lagi yang namanya symbolic play yaitu permainan anak dengan usia yang semakin meningkat mulai menjadikan mainan sebagai simbol contohnya mainan pesawat-pesawatan yang dibuat menjadi “UFO”. Sebagai orangtua tidak perlu bingung main apa saja bersama anak, main saja tanpa aturan yang penting sama sama gembira bahagia lepas dan enjoy.

Bermain menjadi penting karena banyak manfaatnya. Salah satunya membangun kedekatan antara orangtua dan anak. Dari situ orangtua bisa mengindentifikasi masalah anak karena tidak ada kata terlambat untuk mulai mengajak anak bermain. ***

Yuk, Ajarkan Anak Belajar Dari Kesulitan

ilustrasi anak belajar kreatif–foto creativeqt.net

Menyayangi anak adalah hal yang wajar. Tetapi terlalu menyanyangi anak, sampai-sampai selalu menuruti segala keinginannya juga dapat berakibat buruk. Berikut ini adalah tips dari Monaratuliu, artis yang juga pengelola web ‘ParenThink’, tentang mengajarkan anak belajar dari kesulitan.

***

Hampir semua orang tua bahagia apabila melihat anaknya senang. Bahkan, sebagian besar dari mereka punya prinsip: “Aku nggak mau anakku susah kayak aku dulu.”, karena ingin anak-anaknya memiliki kehidupan yang jauh lebih baik. Kalau dulu waktu kecil pergi ke sekolah harus jalan kaki atau naik angkot, sekarang orang tua berusaha agar anak-anak pergi sekolah dengan nyaman naik kendaraan pribadi. Kalau dulu mau minta dibeliin mainan sama orang tua susah banget, sekarang kalau ada uang kenapa nggak kita beliin anak-anak mainan baru.

Wajar saja kalau orang tua ingin anak-anaknya hidup aman dan nyaman. Tapi, sebenarnya nggak papa juga lho kalau sesekali anak-anak menghadapi kesulitan atau merasa nggak nyaman. Karena disaat anak menghadapi kesulitan, ia akan belajar mencari solusi. Di saat anak merasa nggak nyaman juga begitu, ia akan mencari cara agar kembali nyaman.

Orang tua saya bukan tipe yang sering membelikan mainan, karena saat itu memang kondisi dan situasinya membuat mereka mau nggak mau melakukan hal itu. Tapi, kondisi ini membuat saya berpikir setiap hari agar tetap bermain menggunakan benda-benda di sekitar.

Saya ingat kakak saya setiap hari bermain drum menggunakan kaleng biskuit yang dipukul, sementara saya bermain origami menggunakan kertas koran, juga bermain sayur-sayuran menggunakan sampah masakan ibu saya. Hal ini mengasah kreativitas kami setiap hari. Saya juga ingat sering menyisihkan uang jajan untuk membeli mainan murah meriah yang dijual di sekitar sekolah demi mendapatkan mainan baru. Ternyata, kondisi ini yang membuat saya jadi kreatif dan juga belajar memanage keuangan saya demi mencari solusi dari masalah saya sendiri.

Berbeda dengan anak sekarang yang punya koleksi sepatu, saya ingat dulu hanya dibelikan sepatu baru saat naik kelas. Baju baru juga dibelikan ketika lebaran saja. Tapi, hal sesederhana ini membuat saya belajar bersabar karena harus menunggu dalam waktu yang cukup panjang apabila ingin mendapatkan yang saya inginkan. Belajar menunggu diperlukan agar anak menjadi tahu bahwa ada proses yang perlu dilalui untuk mendapatkan apa yang diinginkan, terutama untuk anak-anak yang hidup di era digital dengan perangkat serba canggih dan memudahkan. Hampir segala hal bisa didapatkan dengan mudah dan instan. Sehingga belajar menunggu dan melewati proses jadi barang langka untuk anak-anak sekarang.

Nah, ketika kita dengan mudah sering memberikan segala fasilitas yang anak minta tanpa membuat anak berusaha, ternyata kesempatan anak melalui situasi-situasi sulit yang membuatnya berpikir untuk mencari solusi pun hilang.  Jadi jangan takut ketika melihat anak menghadapi kesulitan. Biarkan anak punya waktu yang cukup untuk berpikir mencari solusinya sendiri. Walaupun kadang kasihan dan nggak tega melihatnya, tapi dari sebuah kesulitan mengandung materi belajar yang sangat berlimpah untuk anak-anak kita.***

sumber: http://monaratuliu.com/index.php/kids-health/271-yuk-ajarkan-anak-belajar-dari-kesulitan

Apa Sih Pengaruh Suka Menakut-nakuti Anak?

mona ratuliu memberi tips pola pengasuhan anak–foto kapanlagi.com

Sebagai orang tua pasti ingin punya anak yang patuh dan nurut terhadap perintah dan juga peraturan yang dibuat di rumah. Tapi, harapan memang kadang jauh dari kenyataan. Si Kecil yang lagi senang bereksplorasi dan asik bermain seringkali nggak dengar kalau dibilangin orang tua. Salah satu cara paling mudah dan sering dilakukan supaya anak nurut dengan apa yang diperintahkan orang tua adalah dengan menakut-nakutinya.

“Ayo makan! Kalau nggak mau makan nanti disuntik dokter, lho!”

“Kalau nakal begitu, nanti kamu ditangkep polisi, lho!”

“Main aja jauh-jauh sana! Biar diculik penjahat!”

“Kalau tidurnya kemaleman, nanti ditemenin hantu, lho! Itu lho, yang mukanya serem, rambutnya panjang, matanya melotot lagi! Hiiiii sereeeem! Ayo cepet tidur, yuk!”

Seringkali demi meringankan tugas sebagai orang tua, kita memakai jurus “menakut-nakuti” supaya anak cepat nurut dengan perintah kita dan segera melaksanakan apa yang kita mau. Capek juga dibantah terus sama anak-anak, kan? Tapi tau nggak sih Parents, kalau cara menakut-nakuti seperti ini ternyata berdampak buruk buat anak-anak. Memang sih, cara seperti ini sangat  instan dan efektif menghemat tenaga orang tua dalam mengasuh dan mendidik anak-anak. Tapi, ternyata dengan membuat anak sering merasa ketakutan, bisa menghambat tumbuh kembangnya, lho!

Anak-anak memang sering merasa takut, terutama ketika menghadapi pengalaman baru. Ini sebenarnya perlu dipelihara, karena ini merupakan insting melindungi diri dari bahaya. Lama kelaman ia akan belajar untuk mengelolanya, sehingga tetap terus berani bereksplorasi, berkreativitas, dan terus mencoba hal baru. Lewat sudut pandang ini kita bisa melihat bahwa sebenarnya tugas orang tua adalah memahami ketakutan anak-anak dan membantu mereka untuk mengatasinya, bukan sebaliknya.

Mengasuh dan mendidik anak dengan cara menakut-nakuti supaya nurut sama perintah kita justru membuat mereka menjadi penakut dan tidak percaya diri. Untuk apa menumbuhkan rasa takut pada anak untuk hal yang sebenarnya nggak perlu ia takuti? Perasaan takut yang berlebihan pada anak ternyata bisa membuatnya terus bergantung pada orang lain, juga membuatnya kesulitan berpikir secara rasional. Sehingga ini bisa membuat anak kesulitan dalam mengambil keputusan. Padahal, justru peran orang tua adalah sebaliknya. Sebagai orang tua, kita diharapkan bisa mendampingi dan menstimulasi anak agar suatu hari nanti ia bisa mengambil keputusan apapun dalam hidupnya secara mandiri dan nggak bergantung terus pada orang lain.

Anak memang masih dalam proses belajar. Sesungguhnya nggak ada cara instan dalam mengasuh dan mendidik anak. Merka butuh waktu lama dalam berproses dalam mengolah informasi yang kita berikan. Beri mereka waktu untuk melakukan kesalahan, menghadapi resiko, merasakan konsekuensi atas keputusannya. Memilih untuk berlari-lari walau kita sudah bilang hati-hati, merasakan sakitnya terjatuh, sesekali memiliki pengalaman kurang enak akan hidupnya. Karena hanya orang yang punya pengalaman melakukan kesalahan yang akhirnya tau kenapa harus berhati-hati. Ya, kan?

Nah, rasanya sekarang saatnya kita mulai berpikir apa prioritas kita sebagai orang tua? Mengambil jalan pintas yang memudahkan kita dalam mengasuh anak, atau mau repot sedikit agar anak berproses menjadi manusia yang lebih baik?***

sumber: http://monaratuliu.com/index.php/kids-health/270-apa-sih-pengaruh-suka-menakut-nakuti-anak

Mona Ratuliu: Ini Dia 3 Cara Mengenalkan Sex Education Pada Anak

mona ratuliu dan putri bungsunya nala–foto kapanlagi.com

Mona Ratuliu jarang tampil di dunia hiburan namun bukan berarti Mona Ratuliu hanya diam di rumah. Wanita cantik yang kini telah dikaruniai  tiga orang anak ini justru memiliki banyak kesibukan. Selain sebagai ibu rumah tangga, ternyata artis yang melejit namanya lewat penampilannya dalam sinetron ‘Pelangi di Matamu’, aktif memberikan seminar-seminar parenting di berbagai tempat, juga mengelola website monaratuliu.com yang isinya tentang ‘ilmu’ parenting yang sesuai dengan apa yang telah dijalaninya.

Nah, bagi para orangtua, khususnya para ibu yang ingin tahu tentang pola pengasuhan anak, mungkin ada baiknya berkunjung ke web tersebut.

Salah satu tulisan yang diangkat Mona dalam web ‘ParenThink’ adalah ‘Cara Mengenalkan Sex Education pada Anak’. Menurut Mona, di zaman dimana informasi terbuka lebar seperti saat ini, banyak orang tua yang semakin khawatir dengan keamanan anak-anaknya.

Terutama mengenai pelecehan seksual yang belakangan terkuak ternyata bisa terjadi di mana saja, mulai dari lingkungan sekolah, sampai sekitar rumah yang kita anggap aman pun ternyata nggak menjamin keamanan anak-anak kita. Maka, orang tua harus mulai terbuka pikirannya untuk memberikan sex education kepada anaknya. Tapi, dimulai dari mana?

class parenthink mona ratuliu–foto instagram mona

Berikut ini kutipan dari web monaratuliu.com:

  1. Mulailah dari belajar kepemilikan

Sadarkan anak-anak bahwa tubuhnya adalah miliknya. Dalam membantu aktivitas sehari-hari, orang lain mungkin bisa saja menyentuh bagian tubuhnya. Tapi ajarkan anak untuk meminta orang lain meminta izin terlebih dahulu untuk melakukannya. Caranya adalah, orang tua perlu membiasakan meminta izin terlebih dahulu sebelum membuka baju, celana, atau diapers si kecil saat membantu memandikannya. Biasakan sedini mungkin. Agar si kecil merasa risih ketika ada orang dewasa lain yang memegang bagian tubuhnya tanpa izin.

  1. Jangan paksa anak untuk beramah tamah dengan orang dewasa secara instan

Banyak orang tua berharap anaknya langsung bisa tersenyum, mencium tangan, bahkan mencium pipi ketika bertemu dengan kerabat orang tuanya. Sementara sikap defensif biasanya merupakan reaksi pertama mereka ketika bertemu orang asing yang baru ditemui.

Sikap defensif ini sendiri sebenarnya adalah sikap waspada ketika seseorang bertemu dengan orang yang belum pernah dikenalnya. Boleh saja bertanya kepada si kecil apakah ia mau mencium tangan atau sekedar menyapa om atau tante yang baru ditemuinya. Tapi, jangan dipaksa dengan alasan harus bersikap sopan dengan orang dewasa, karena memang nyatanya nggak semua orang dewasa layak diperlakukan dengan sopan dan santun.

Biarkan si kecil mengenal orang dewasa di sekitarnya secara perlahan, karena ketika ia sudah merasa nyaman, dengan sendirinya si kecil akan mendekat dan beramah-tamah dengan orang-orang di sekitarnya. Mengingat pelecehan seksual yang kian marak, hal ini perlu dilakukan agar sikap waspada terhadap orang asing tetap tumbuh di jiwa si kecil.

  1. Mengenalkan semua bagian tubuh seperti panca indera dan fungsinya

Saya dan anak-anak di rumah sering melakukan latihan-latihan berdasarkan kasus dan dilakukan sambil bermain peran. Misalnya, bunda jadi orang dewasa yang mau membuka pakaiannya tanpa izin. Sambil kita memperhatikan sikap apa yang ditunjukkan si kecil apabila hal itu terjadi. Di situ kita bisa melakukan berbagai koreksi agar si kecil tau yang harus dilakukan saat hal itu terjadi. Ajarkan juga untuk berteriak “tolong” sekeras-kerasnya apabila ada orang dewasa yang melakukan pemaksaan.***

 

link sumber: http://monaratuliu.com/index.php/parents/274-ini-dia-3-cara-mengenalkan-sex-education-pada-anak

Ajarkan Anak untuk “Rendah Hati” Sejak Dini

ANDA mungkin berpikir, kenapa dia bisa begitu? Saya memang ingin anak saya percaya diri, tetapi saya tidak mau kalau anak saya merasa menjadi orang yang paling hebat dari semua orang!! Yang perlu kita ketahui sebagai orangtua yaitu untuk menuruti keinginan anaknya dianjurkan untuk sering memujinya bahkan sewaktu dia melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dipuji itu demi mendisiplinkan dia.

Banyak yang percaya kalau anak merasa diperlakukan istimewa maka dia akan bertumbuh dengan harga diri yang baik. Buku Generation Me menganjurkan suatu “cara menanamkan harga diri seperti itu tidak menghasilkan anak yang bahagia dan berpikiran jernih tapi justru menjadikan anak itu sombong.”

Apabila anak selalu dipuji maka sewaktu dewasa dia tidak siap menghadapi kekecewaan, kritikan , atau berbuat salah. Karena telah di ajarkan untuk berfokus pada dirinya sendiri, anak itu sulit untuk membina hubungan yang bertahan lama. Akibatnya anak banyak yang cemas dan depresi.

Anak itu bisa mempunyai harga diri apabila dia bisa melakukan sesuatu dengan baik, bukan dia dipuji tanpa henti. Jadi rasa percaya diri saja tidak cukup anak itu harus juga belajar berlatih dan terus meningkatkan ketrampilannya dan anak juga harus peduli terhadap kebutuhan orang lain dan lingkungan nya, dibutuhkan kerendahan hati misalny  kalau anak ingin sesuatu tapi anda tidak sanggup membelikannya maka jelaskan kenapa pentingnya berhemat.

Begitu juga kalau rekreasi atau liburan anda ingin membatalkan Anda bisa jelaskan agar tidak timbul kecewa di hati buah hati Anda. Kekecewaan itu adalah bagian dari kehidupan maka persiapkan anak Anda untuk menghadapi tantangan yang akan dia hadapi saat dewasa bukan malah melindungi dia dari setiap kesulitan.

Apakah kita sebagai orangtua bisa mengajarkan anak agar rendah hati tanpa merusak harga dirinya? Anjurkan anak untuk selalu memberi dan jangan selalu meminta, caranya buatlah daftar orang/teman/sdr yang kira2 membutuhkan bantuan berupa moril ataupun materil dan kita libatkan anak untuk terjun langsung dalam membantu anak akan melihat bahwa ortu senang dan puas sewaktu membantu mereka.

Dengan begitu Anda mengajarkan anak Anda agar rendah hati dengan cara yang paling ampuh yaitu “teladan”. ***

Ajarkan Huruf dengan iPad

MENGINGAT anak usia dini mempunyai daya serap yang sangat tinggi, mereka sebenarnya hanya butuh melihat sebuah flash cards dalam waktu kurang dari 3 detik. Sebelum adanya iPad, orang tua lebih banyak menggunakan karton tebal berukuran besar bertuliskan kata-kata sederhana, ataupun poster ukuran A1 berisikan huruf A-Z dan gambar-gambar yang mengilustrasikan kata berawalan huruf A-Z.

Syukurlah Apple merilis iPad tiga tahun yang lalu. Dengan ukuran layar yang cukup besar dan interaksi yang intuitif, banyak anak usia dini mampu untuk mengoperasikan iPad secara mandiri. Bahkan dengan kemampuan animasi, audio, dan visual dari iPad, anak usia dini tidak hanya mampu mengenali bentuk huruf A-Z, melainkan juga mampu mengenali suara, baik nama huruf tersebut maupun suara pelafalannya.

Selain itu, karena kebanyakan pengembang apikasi pendidikan berusaha keras untuk membuat aplikasinya semenarik mungkin, anak usia dini pun tidak merasa kalau mereka sedang belajar sambil bermain.

Berikut adalah beberapa aplikasi flash cards terbaik yang dapat Anda gunakan untuk memperkenalkan huruf A-Z kepada anak Anda yang berusia dini:

Mini-U: Zoo Alphabet

Aplikasi ini tidak membatasi diri hanya pada 26 hewan, tapi lebih dari 38 hewan yang jadi pilihan. Aplikasi ini juga mempunyai berbagai interaksi dan animasi yang didesain secara unik untuk masing-masing hewan, sehingga anak Anda dapat belajar hal-hal lain selain huruf A-Z. Download Mini-U: ZOO Alphabet · Harga: 45000

The Lonely Beast ABC

Aplikasi ini mempunyai standar kualitas yang luar biasa. Pemilihan kosakata yang cukup luas, selera humor yang luar biasa, dan berbagai interaksi serta animasi yang didesain secara unik untuk masing-masing huruf. Semuanya itu membuat aplikasi ini salah satu aplikasi terbaik, sehingga bukan suatu hal yang aneh saat Apple memilihnya sebagai salah satu aplikasi yang disertakan dalam salah satu iklan TV mereka. Download The Lonely Beast ABC: Preschool Letters & Alphabet · Harga: 45000

Wee Alphas

Aplikasi ini mempunyai ilustrasi yang luar biasa, dan juga cara bermain yang unik, di mana huruf A-Z tersembunyi di dalam tubuh hewan yang diasosiasikan. Saat anak Anda menyelesaikan semua huruf A-Z, maka dia juga dapat melatih tulisan tangannya, karena aplikasi ini juga menawarkan latihan menulis sebagai aktivitas bonus. Download Wee Alphas · Harga: 45000

Fish School HD

Aplikasi ini merupakan aplikasi yang cukup lengkap. Tidak hanya mempunyai ikan-ikan yang bisa berbaris dan membentuk huruf A-Z, tapi aplikasi ini juga menawarkan flash cards buat angka 1-20, bentuk 2-dimensi, dan warna. Selain itu, aplikasi ini juga menawarkan lagu ABC yang dapat sangat membantu anak Anda untuk bernyanyi sambil belajar. Download Fish School HD – by Duck Duck Moose · Harga: Gratis

Faces iMake – ABC

Selain belajar mengenal huruf A-Z, aplikasi ini menawarkan sebuah aktivitas kreatif, di mana anak Anda berusaha menyusun kembali sebuah puzzle bergambar yang terkait dengan huruf yang sedang tampil. Download Faces iMake – Right Brain Creativity · Harga: 45000. (www.makemac.com)

Langkah Enjoy Merawat Bayi (2)

PADA tulisan sebelumnya, Jayakartanews.com sudah memberikan beberapa hal yang penting agar pasangan yang baru mendapatkan bayi, dapat enjoy dalam merawat si buah hati. Masih ada beberapa hal yang perlu disampaikan, bagaimana merawat bayi yang baru lahir.

Hal utama yang perlu diperhatikan adalah menjaga kebersihan dan keamanan bayi.  Jagalah kebersihan tangan Anda saat akan menggendong  atau memegang si kecil.  Ingatlah untuk mencuci tangan sebelum Anda melakukan kontak dengan bayi, agar mereka terhindar dari paparan kuman. Saat menggendong bayi, berhati-hatilah terutama menjaga bagian leher dan kepala, supaya bayi tidak terkirir (kecengklak: Jawa) jika salah posisi.

Hindari mengguncang-guncangkan bayi saat membangunkan dia, karena berpotensi menjadi penyebab pendarahan di otak. Hindari juga menggoyang-goyangkan  bayi di lutut (pangkuan), karena  berbahaya.

Jangan lupa mandikan bayi, setidaknya dua kali dalam sepekan. Jika  tali pusat  belum copot, dianjurkan memandikan dengan menggunakan spons. Gunakan sabun dan shampo khusus untuk bayi, karena kulit bayi masih sensitif.

Gantilah popok secara teratur. Jika menggunakan popok instan (pempes), jangan lalai menganti popok jika bayi sudah pipis. Sekalipun bayi masih nyaman, karena tidak terganggu “basah”, memakaikan kelamaan lama setelah dipipisi, kurang bijak. Ini akan membuat kulit bayi ruam atau gatal.  Bayi yang sejak lahir terpaksa mengkonsumsi  susu formula, biasanya  lebih sering pipis ketimbang mereka yang  diberi ASI.

Jika bayi buang air besar, bersihkan dengan baik. Kotoran bayi yang baru lahir berupa mekonium berwarna hitam. Biasanya berasal dari lendir, cairan ketuban, dan segala hal yang ditelan bayi saat dalam kandungan.

Berilah ASI atau susu secara teratur. Pada umumnya,  bayi minum susu (ASI) sehari antara 8-15 kali. Jika menyusui dengan ASI, berikanlah ASI secara bergantian antara kanan dan kiri, sehingga Anda nyaman.  Berikan ASI sesering mungkin, jangan tunggu bayi menangis.

Demikian beberapa hal yang perlu diperhatikan ibu muda, ketika merawat bayi yang baru lahir. Semoga bermanfaat.

Jangan lupa ya di-share, kalau artikel ini memang bermanfaat untuk Anda dan para ibu lain. ***

 

Artikel terkait: Langkah Enjoy Merawat Bayi (1)

Langkah Enjoy Merawat Bayi

KEBAHAGIAAN tak terkirakan manakala pasangan suami istri mendapatkan hadiah terbesar dalam hidup mereka: kelahiran bayi. Pasangan suami-istri merasakan kebahagiaan tak terkirakan, saat tahu si istri mengandung dan lebih-lebih ketika bayi telah lahir.

Pada saat yang sama, muncul persoalan mengenai bagaimana merawat makluk baru yang kini menjadi bagian hidup dari pasutri tersebut. Pertanyaan seperti bagaimana merawat bayi, karena sebagai keluarga baru mereka sama sekali belum punya pengalaman. Semua keluarga baru, mengalami hal ini, termasuk orang tua pasutri tersebut pada masa lalu pun menghadapi hal serupa.

Beruntung bagi pasutri yang dapat pendampingan dari orang tua mereka, kerena bisa mendapatkan “pelatihan” mengenai banyak hal tentang mengurus bayi. Latihan pertama adalah “begadang”, karena orok yang baru lahir acap menangis, teritama kalau ngompol, atau lapar minta asi atau susu formula bagi ibu yang mengalami masalah ASI.  Untuk bayi yang mengompol, gangguan tak nyaman karena “basah” sekarang sudah dapat diatasi dengan memakaikan popok pempes. Tentu saja, perlu tambahan anggaran untuk ini.

Inilah beberapa hal  yang perlu diperhatikan dalam merawat bayi yang baru lahir:

Jagalah fisik Anda dan pasangan saat “berjaga” dan hindari mengkonsumsi kafein (kopi) untuk mengusir kantuk. Hendaknya tetap  makan makanan yang sehat, minum yang cukup, dan  tetaplah bisa menghirup udara segar.

Supaya bugar, bagi ibunda, hendaknya tidur berbarengan dengan waktu tidur si bayi.  Bergantianlah dengan pasangan, misalnya  bergantian posisi pada malam, ketika bisa dilakukan.

Jangan khawatir atau takut anda tidak mampu mengurus  dan merawat bayi. Apabila dilakukan bersama, niscaya rasa cemas dapat dibuang.  Berusahalah melakukan semua aktivitas dengan gembira, dan jangan sungkan-sungkan ajak bayi Anda tertawa, seperti saat mengganti popok atau memandikan bayi.

Sementara waktu tundalah pekerjaan lain yang selama ini Anda kerjakan sebelum bayi lahir. Membersihkan rumah dan mencuci baju,  bisa dikerjakan lain waktu, supaya Anda dan pasangan tidak kelelahan saat merawat bayi yang baru lahir.

Keluar rumah, jangan mengurung diri. Bawalah bayi keluar rumah, boleh jadi kalau ia rewel karena menginginkan udara segar di luar.

Apabila dirasa Anda sudah kewalahan atau kerepotan, mintalah bantuan kepada ahlinya.  Anda bisa minta tolong orang tua atau mertua, paraji atau bidan/dokter untuk mendapatkan tips dalam merawat bayi. ***

(bersambung)

3-B: Bermain, Bernyanyi, Bercerita

INI adalah tips penting untuk buah hati kita. Ada tips yang perlu dicatat tentang bagaimana mengajari anak usia balita berdaya mencegah pelecehan seksual. Yang utama adalah mengajarkan jenis-jenis sentuhan. Itu hal yang kelihatan remeh tetapi sangat penting. Buat anak-anak menghargai tubuhnya. Ini tidak saja penting bagi anak, tapi juga penting bagi keluarga.

Sentuhan, bagi anak balita, ada yang bisa masuk kategori “boleh”, “membingungkan”, dan “tidak boleh”. Tiga jenis sentuhan itulah yang harus ditanamkan dan dikenalkan sejak dini. Pertama jenis sentuhan yang boleh. Bagian yang boleh di antaranya “menyentuh dari bahu ke atas atau dari lutut ke bawah. Tanamkan juga bahwa sentuhan yang dia dapat adalah sentuhan kasih sayang. Terakhir, teman atau sahabat sejenis boleh menyentuh.

Kategori berikutnya adalah jenis sentuhan yang membingungkan. Misalnya, menyentuh badan dimulai dari bahu sampai atas lutut. Kemudian menyentuh kasih sayang dan nafsu. Terakhir, keluarga yang boleh menyentuh.

Agar tidak membingungkan, maka perhatikan jenis sentuhan yang tidak boleh. Pertama, bila seseorang menyentuh bagian yang ditutup pakaian renang. Kemudian yang juga tidak boleh, menyentuh dan meraba paha, dada, dan bagian dekat kemaluan. Terkait hal-hal yang tidak boleh tadi, tanamkan bahwa hanya diri sendiri yang boleh menyentuh.

Nah, persoalannya kemudian adalah bagaimana cara melakukan sosialisasi itu kepada anak? Tiga tips, lakukan dengan 3B, yakni bermain, bernyanyi dan bercerita. ***