Pentingnya Bermain Bersama Anak

ISU tentang anak selalu menarik untuk dibahas, betapa pentingnya mengembalikan peran orangtua untuk bermain bersama anak. Sebab bermain adalah dunia anak-anak. Dengan bermain akan mengoptimalkan tumbuh kembang anak.

Peran orangtua saat ini banyak yang digantikan dengan gadget dan orangtua dengan sadarnya mengenalkan telepon genggam kepada anak sebelum waktunya. Sekarang ini begitu mudahnya menemukan anak-anak yang sedang asyik bermain dengan ponselnya. Anak lebih memilih bermain dengan telepon genggamnya misalnya bermain game saking asyiknya anak jadi lebih senang bermain sendiri dibanding bermain dengan saudara sekandung ataupun orangtua mereka.

Anak bisa mengunduh permainan yang bersifat kekerasan seperti game perkelahian dan game perang yang berdarah-darah. Alhasil bermain yang seharusnya bertujuan mendidik malah mengajarkan sikap agresif yang akhirnya banyak keluhan dari para orangtua mengenai sikap anak-anak mereka yang kasar dan kecanduan gadget.

Kondisi tersebut semakin parah dengan jarangnya orangtua yang bermain dengan anak mereka di karenakan keterbatasan waktu atau bahkan bingung mau bermain apa. Masalah lainnya banyak orangtua yang mengira main harus memakai “Toys” atau alat bermain yang dibeli di toko yang harganya mahal padahal sebenarnya kita bisa mengajak anak bermain dengan kertas, batu hingga rumput pun bisa, anak tidak harus main dengan arahan dan aturan tertentu. Apa pun yang ada di sekeliling kita bisa menjadi permainan yang menarik semisalnya menaikkan anak di punggung seperti kuda kudaan.

Masalah waktu sebenarnya bisa diatur semisal pulang kantor ayah dapat bermain lempar bola dan permainan sederhana lainnya yang dulu pernah dilakukan saat kecil juga bisa di ajarkan ke anak. Terbukti permainan zaman dulu memang menyenangkan masa itu justru lebih menstimulasi motorik.

Anak dibiarkan bermain di tanah dan air anak juga bisa berlari, melompat dan melempar dengan bebas anak bisa merasakan aktifitas bermain yang melibatkan fisik. Sebelumnya orangtua perlu mengetahui tahapan perkembangan fitrah bermain yang pertama adalah manipulative play biasa terjadi sejak bayi anak mengekplorasi apa yang ada di sekitarnya dengan memegang, menjilat,  dan melempar yang kedua functional play bermain sesuai dengan fungsinya pada usia dua tahun ke atas cara bermainnya bola ditendang.

Ada lagi yang namanya symbolic play yaitu permainan anak dengan usia yang semakin meningkat mulai menjadikan mainan sebagai simbol contohnya mainan pesawat-pesawatan yang dibuat menjadi “UFO”. Sebagai orangtua tidak perlu bingung main apa saja bersama anak, main saja tanpa aturan yang penting sama sama gembira bahagia lepas dan enjoy.

Bermain menjadi penting karena banyak manfaatnya. Salah satunya membangun kedekatan antara orangtua dan anak. Dari situ orangtua bisa mengindentifikasi masalah anak karena tidak ada kata terlambat untuk mulai mengajak anak bermain. ***

Mona Ratuliu: Ini Dia 3 Cara Mengenalkan Sex Education Pada Anak

mona ratuliu dan putri bungsunya nala–foto kapanlagi.com

Mona Ratuliu jarang tampil di dunia hiburan namun bukan berarti Mona Ratuliu hanya diam di rumah. Wanita cantik yang kini telah dikaruniai  tiga orang anak ini justru memiliki banyak kesibukan. Selain sebagai ibu rumah tangga, ternyata artis yang melejit namanya lewat penampilannya dalam sinetron ‘Pelangi di Matamu’, aktif memberikan seminar-seminar parenting di berbagai tempat, juga mengelola website monaratuliu.com yang isinya tentang ‘ilmu’ parenting yang sesuai dengan apa yang telah dijalaninya.

Nah, bagi para orangtua, khususnya para ibu yang ingin tahu tentang pola pengasuhan anak, mungkin ada baiknya berkunjung ke web tersebut.

Salah satu tulisan yang diangkat Mona dalam web ‘ParenThink’ adalah ‘Cara Mengenalkan Sex Education pada Anak’. Menurut Mona, di zaman dimana informasi terbuka lebar seperti saat ini, banyak orang tua yang semakin khawatir dengan keamanan anak-anaknya.

Terutama mengenai pelecehan seksual yang belakangan terkuak ternyata bisa terjadi di mana saja, mulai dari lingkungan sekolah, sampai sekitar rumah yang kita anggap aman pun ternyata nggak menjamin keamanan anak-anak kita. Maka, orang tua harus mulai terbuka pikirannya untuk memberikan sex education kepada anaknya. Tapi, dimulai dari mana?

class parenthink mona ratuliu–foto instagram mona

Berikut ini kutipan dari web monaratuliu.com:

  1. Mulailah dari belajar kepemilikan

Sadarkan anak-anak bahwa tubuhnya adalah miliknya. Dalam membantu aktivitas sehari-hari, orang lain mungkin bisa saja menyentuh bagian tubuhnya. Tapi ajarkan anak untuk meminta orang lain meminta izin terlebih dahulu untuk melakukannya. Caranya adalah, orang tua perlu membiasakan meminta izin terlebih dahulu sebelum membuka baju, celana, atau diapers si kecil saat membantu memandikannya. Biasakan sedini mungkin. Agar si kecil merasa risih ketika ada orang dewasa lain yang memegang bagian tubuhnya tanpa izin.

  1. Jangan paksa anak untuk beramah tamah dengan orang dewasa secara instan

Banyak orang tua berharap anaknya langsung bisa tersenyum, mencium tangan, bahkan mencium pipi ketika bertemu dengan kerabat orang tuanya. Sementara sikap defensif biasanya merupakan reaksi pertama mereka ketika bertemu orang asing yang baru ditemui.

Sikap defensif ini sendiri sebenarnya adalah sikap waspada ketika seseorang bertemu dengan orang yang belum pernah dikenalnya. Boleh saja bertanya kepada si kecil apakah ia mau mencium tangan atau sekedar menyapa om atau tante yang baru ditemuinya. Tapi, jangan dipaksa dengan alasan harus bersikap sopan dengan orang dewasa, karena memang nyatanya nggak semua orang dewasa layak diperlakukan dengan sopan dan santun.

Biarkan si kecil mengenal orang dewasa di sekitarnya secara perlahan, karena ketika ia sudah merasa nyaman, dengan sendirinya si kecil akan mendekat dan beramah-tamah dengan orang-orang di sekitarnya. Mengingat pelecehan seksual yang kian marak, hal ini perlu dilakukan agar sikap waspada terhadap orang asing tetap tumbuh di jiwa si kecil.

  1. Mengenalkan semua bagian tubuh seperti panca indera dan fungsinya

Saya dan anak-anak di rumah sering melakukan latihan-latihan berdasarkan kasus dan dilakukan sambil bermain peran. Misalnya, bunda jadi orang dewasa yang mau membuka pakaiannya tanpa izin. Sambil kita memperhatikan sikap apa yang ditunjukkan si kecil apabila hal itu terjadi. Di situ kita bisa melakukan berbagai koreksi agar si kecil tau yang harus dilakukan saat hal itu terjadi. Ajarkan juga untuk berteriak “tolong” sekeras-kerasnya apabila ada orang dewasa yang melakukan pemaksaan.***

 

link sumber: http://monaratuliu.com/index.php/parents/274-ini-dia-3-cara-mengenalkan-sex-education-pada-anak

Langkah Enjoy Merawat Bayi (2)

PADA tulisan sebelumnya, Jayakartanews.com sudah memberikan beberapa hal yang penting agar pasangan yang baru mendapatkan bayi, dapat enjoy dalam merawat si buah hati. Masih ada beberapa hal yang perlu disampaikan, bagaimana merawat bayi yang baru lahir.

Hal utama yang perlu diperhatikan adalah menjaga kebersihan dan keamanan bayi.  Jagalah kebersihan tangan Anda saat akan menggendong  atau memegang si kecil.  Ingatlah untuk mencuci tangan sebelum Anda melakukan kontak dengan bayi, agar mereka terhindar dari paparan kuman. Saat menggendong bayi, berhati-hatilah terutama menjaga bagian leher dan kepala, supaya bayi tidak terkirir (kecengklak: Jawa) jika salah posisi.

Hindari mengguncang-guncangkan bayi saat membangunkan dia, karena berpotensi menjadi penyebab pendarahan di otak. Hindari juga menggoyang-goyangkan  bayi di lutut (pangkuan), karena  berbahaya.

Jangan lupa mandikan bayi, setidaknya dua kali dalam sepekan. Jika  tali pusat  belum copot, dianjurkan memandikan dengan menggunakan spons. Gunakan sabun dan shampo khusus untuk bayi, karena kulit bayi masih sensitif.

Gantilah popok secara teratur. Jika menggunakan popok instan (pempes), jangan lalai menganti popok jika bayi sudah pipis. Sekalipun bayi masih nyaman, karena tidak terganggu “basah”, memakaikan kelamaan lama setelah dipipisi, kurang bijak. Ini akan membuat kulit bayi ruam atau gatal.  Bayi yang sejak lahir terpaksa mengkonsumsi  susu formula, biasanya  lebih sering pipis ketimbang mereka yang  diberi ASI.

Jika bayi buang air besar, bersihkan dengan baik. Kotoran bayi yang baru lahir berupa mekonium berwarna hitam. Biasanya berasal dari lendir, cairan ketuban, dan segala hal yang ditelan bayi saat dalam kandungan.

Berilah ASI atau susu secara teratur. Pada umumnya,  bayi minum susu (ASI) sehari antara 8-15 kali. Jika menyusui dengan ASI, berikanlah ASI secara bergantian antara kanan dan kiri, sehingga Anda nyaman.  Berikan ASI sesering mungkin, jangan tunggu bayi menangis.

Demikian beberapa hal yang perlu diperhatikan ibu muda, ketika merawat bayi yang baru lahir. Semoga bermanfaat.

Jangan lupa ya di-share, kalau artikel ini memang bermanfaat untuk Anda dan para ibu lain. ***

 

Artikel terkait: Langkah Enjoy Merawat Bayi (1)