Aku Mandiri, Mampu Menjaga Diri Sendiri

ANAK adalah mutiara keluarga. Anak adalah amanah. Anak adalah masa depan. Anak adalah surga bagi orang tua. Masih banyak julukan untuk buah hati kita. Karena itu, tidak ada satu pun alasan bagi setiap orang tua untuk membiarkan anaknya celaka. Tidak satu pun orang tua yang menghendaki sang anak tertimpa musibah, apa pun bentuknya, termasuk fenomena pelecehan seksual terhadap anak.

Untuk itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melakukan berbagai sosialisasi kepada para orang tua. Salah satunya adalah brosur sosialiasi berjudul “Aku Mandiri, Mampu Menjaga Diri Sendiri”. Di brosur itu berisi mitigasi sosial anti kekerasan seksual pada anak.

Ada sejumlah tips untuk para orang tua untuk mencegah musibah pelecahan seksual pada anak. Di antaranya sebagai berikut:

  • Mandikan dan pakaikan baju anak sendiri. Ajarkan anak untuk mandi dan berpakaian sendiri saat usia 3 – 5 tahun.
  • Selalu periksa kondisi tubuh anak.
  • Jangan biarkan orang tak dikenal menyentuh anak anda.
  • Sering-sering ngobrol dan dengarkan anak.
  • Beri pakaian yang sopan.
  • Jangan suka memarahi dan menyalahkan anak.
  • Berkata baik dan lemah lembut.

Jika terjadi ancaman pelecehan, arahkan anak untuk:

  • Lari cepat ke tempat ramai
  • Teriak “tolooong-tolooong”
  • Bilang ke orang tua, guru atau orang dewasa di sekitarmu. ***

Anak TK di Damkar

JIKA pada umumnya pengenalan pencegahan kebakaran diberikan kepada pelajar yang telah mengerti seluk beluk kebakaran atau kepada masyarakat luas, kali ini Sudin Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Sektor VI Kembangan, memberikannya kepada siswa Taman Kanak-Kanak.

Sebanyak 52 siswa TK Syuhada Taman Aries, Meruya Utara, Kembangan, diperkenalkan tentang tugas anggota pemadam kebakaran sekaligus belajar soal pentingnya pencegahan dan cara mengatasi kebakaran.

Kepala Seksi Sektor VI, Kecamatan Kembangan, Sjukri Bahanan mengatakan, pihaknya memperkenalkan beberapa jenis alat pemadam serta fungsinya dalam menangani kebakaran kepada anak-anak. ”Sebelumnya pengenalan alat, kami memberikan edukasi dengan audio visual kepada anak-anak. Selanjutnya, mereka dikenalkan dengan peralatan serta fungsinya,” kata Sjukri, baru-baru ini.

Ditambahkan Sjukri, sementara ini memang lebih banyak siswa TK atau SD yang datang ke tempatnya untuk sosialisasi. Sebab, jika mereka yang mengunjungi sekolah, agak sulit karena keterbatasan lahan di sekolah. “Kami masih belum bisa jemput bola dalam sosialisasi karena keterbatasan lahan di sekolah. Mobil-mobil pemadam kebakaran berukuran besar dan sulit masuk halaman sekolah, “ucapnya.

Sosialisasi melalui cara belajar dan bermain ini, membuat senang siswa TK yang rata rata masih berusia sekitar lima atau enam tahun ini. “Saya senang, bisa bermain dan belajar. Tadi juga saya nonton video,” ucap Putriani, salah seorang siswi TK Syuhada Taman Aries. ***