Kata Dokter Gigi tentang Efek Mengunyah Permen Karet pada Kulit Anda

 

MENGUNYAH permen karet  adalah cara yang pasti untuk menyegarkan napas Anda, tetapi hal itu  bisa memiliki efek buruk yang serius pada kulit kita. Kebanyakan orang, bahkan tidak menyadarinya tentang efek ini.

Dua dokter gigi selebriti telah mengeluarkan peringatan tentang permen karet biasa dan dampaknya dapat menimpa pada wajah kita.

Seperti Imogen Bexfield, Pendiri dan Direktur Medis di White Swan Aesthetics, menjelaskan, mengunyah permen karet dapat menyebabkan garis-garis, rahang yang tampak squarer (kuadratik alias persegi) dan bahkan pasti dan pasti akan menggerogoti gigi Anda.

“Ekspresi wajah yang berulang seperti tersenyum, menyipitkan mata, atau mengerutkan dahi meninggalkan bekas pada kulit Anda dari waktu ke waktu dan mengunyah permen karet secara berlebihan dapat berdampak pada garis-garis halus ini – terutama pada dan di sekitar area bibir atas yang dapat berkontribusi pada keriput,” katanya.

“Mengunyah permen karet juga meningkatkan aktivitas otot yang dapat menyebabkan garis rahang (masseter) membengkak. Tampilan ‘persegi-rahang’ yang sering kita lihat biasanya adalah hasil dari otot masseter yang terlalu berkembang; otot-otot yang melekat di sudut rahangmu dan mengendalikan kunyahanmu. ”

Dr Uchenna berpendapat bahwa kita harus benar-benar mengunyah permen karet selama tidak lebih dari 10 menit (oops).

“Permen karet sangat membantu menetralisir efek asam dan gula dengan merangsang air liur. Namun, ini hanya selama Anda mengunyah untuk rasa, selama sekitar 10 menit, dan kemudian meludahkannya. Jika tidak, Anda mengatur retakan dan keripik mikro, yang mengumpulkan noda yang tampak menua. Juga, seiring berjalannya waktu, ketika chip gigi terlepas, gigi menjadi lebih pendek. Semakin pendek gigi depan Anda, semakin tua penampilan Anda! “

Pada akhirnya, penuaan benar-benar normal dan alami.  Jika Anda tidak memiliki keraguan tentang hal itu (dan Anda tidak boleh melakukannya), maka teruslah mengunyah.***

Temuan, Vaksinasi Tanpa Jarum Suntik

VAKSINASI yang identik dengan jarum suntik, bakal berakhir. Hal ini tentu kabar menggembirakan bagi ibu-ibu di negara berkembang seperti di Indonesia, yang kadang merasakan  kerepoten tatkala mengantar anak ke dokter atau Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) untuk mendapatkan vaksin.

Serius, vaksin tanpa jarum suntik?  Betul. Inilah kabar baik dari dunia kedokteran yang memungkinkan pemberian vaksin tanpa jarum suntik. Ini menjadi asa terbesar dalam dunia medis tentu saja.

Dengan vaksin tanpa jarum suntik ini, berarti akan mempermudah masyarakat untuk mendapatkan vaksin. Ibaratnya, untuk divaksin semudah minum obat sakit kepala. Hal ini juga akan mempermudah masyarakat yang tinggal di daerah terpencil, karena mereka dapat “divaksin” tanpa harus ada kehadiran dokter atau perawat.

Vaksin tanpa   jarum suntik jelas merupakan “revolusi” besar yang bisa mengubah dunia menjadi lebih sehat. Membuka peluang anak-anak berumur panjang, karena vaksin yang melindungi mereka.

Masyarakat mengenal umumnya vaksinasi selama ini dilakukan dengan  jarum suntik. Ada pengecualian untuk vaksinasi polio, yang dilakukan dengan meneteskan vaksin di mulut anak. Tetapi, era jarum suntik dalam vaksinasi akan berubah dengan melalui  kapsul mucojet. Dengan alat ini, vaksinasi diberikan melalui mulut. Caranya, dengan  menyemprotkan vaksin yang  melewati sel-sel kulit dan lendir. Jadi,  tak perlu lagi jarum suntik dalam vaksinasi.

Peneliti dari Universitas California di Berkeley, Niren Murthy menjelaskan, dalam metode baru itu, obat akan disemprotkan dari pil dengan kecepatan yang tinggi. Degan cara itu, maka dengan cepat vaksin akan masuk ke sel-sel epithelial kemudian lanjut melewati  lapisan lendir. Cara demikian memungkinkan masyarakat memperoleh vaksin dari dokter  untuk dibawa pulang.

Cara ini akan mempermudah vaksinasi bagi orang-orang yang tidak atau enggan pergi ke dokter. Ini karena vaksinasi tidak lagi memerlukan kehadiran tenaga medis: dokter, perawat atau bidan.

Dorian Liepmann, peneliti kolega Murthy menjelaskan, metode ini akan sangat membantu untuk pelaksanaan vaksinasi di daerah pedalaman. Langkah ini juga menjadi jalan keluar bagi orang tua yang mengkhawatirkan anaknya mendapatkan begitu banyak vaksin pada waktu bersamaan. Dengan demikian, orang tua bahkan bisa  mengatur kapan  vaksin-vaksin bisa diberikan kepada anaknya, mengingat pemberiannya bisa dilakukan  di rumah, tidak perlu harus  di klinik.

Memang, penelitian ini masih dalam tahap awal, namun sukses diujicobakan pada kelinci. Penelitian ini tengah dalam ucicoba pada mamalia yang lebih besar.***

Langkah Enjoy Merawat Bayi (2)

PADA tulisan sebelumnya, Jayakartanews.com sudah memberikan beberapa hal yang penting agar pasangan yang baru mendapatkan bayi, dapat enjoy dalam merawat si buah hati. Masih ada beberapa hal yang perlu disampaikan, bagaimana merawat bayi yang baru lahir.

Hal utama yang perlu diperhatikan adalah menjaga kebersihan dan keamanan bayi.  Jagalah kebersihan tangan Anda saat akan menggendong  atau memegang si kecil.  Ingatlah untuk mencuci tangan sebelum Anda melakukan kontak dengan bayi, agar mereka terhindar dari paparan kuman. Saat menggendong bayi, berhati-hatilah terutama menjaga bagian leher dan kepala, supaya bayi tidak terkirir (kecengklak: Jawa) jika salah posisi.

Hindari mengguncang-guncangkan bayi saat membangunkan dia, karena berpotensi menjadi penyebab pendarahan di otak. Hindari juga menggoyang-goyangkan  bayi di lutut (pangkuan), karena  berbahaya.

Jangan lupa mandikan bayi, setidaknya dua kali dalam sepekan. Jika  tali pusat  belum copot, dianjurkan memandikan dengan menggunakan spons. Gunakan sabun dan shampo khusus untuk bayi, karena kulit bayi masih sensitif.

Gantilah popok secara teratur. Jika menggunakan popok instan (pempes), jangan lalai menganti popok jika bayi sudah pipis. Sekalipun bayi masih nyaman, karena tidak terganggu “basah”, memakaikan kelamaan lama setelah dipipisi, kurang bijak. Ini akan membuat kulit bayi ruam atau gatal.  Bayi yang sejak lahir terpaksa mengkonsumsi  susu formula, biasanya  lebih sering pipis ketimbang mereka yang  diberi ASI.

Jika bayi buang air besar, bersihkan dengan baik. Kotoran bayi yang baru lahir berupa mekonium berwarna hitam. Biasanya berasal dari lendir, cairan ketuban, dan segala hal yang ditelan bayi saat dalam kandungan.

Berilah ASI atau susu secara teratur. Pada umumnya,  bayi minum susu (ASI) sehari antara 8-15 kali. Jika menyusui dengan ASI, berikanlah ASI secara bergantian antara kanan dan kiri, sehingga Anda nyaman.  Berikan ASI sesering mungkin, jangan tunggu bayi menangis.

Demikian beberapa hal yang perlu diperhatikan ibu muda, ketika merawat bayi yang baru lahir. Semoga bermanfaat.

Jangan lupa ya di-share, kalau artikel ini memang bermanfaat untuk Anda dan para ibu lain. ***

 

Artikel terkait: Langkah Enjoy Merawat Bayi (1)

Langkah Enjoy Merawat Bayi

KEBAHAGIAAN tak terkirakan manakala pasangan suami istri mendapatkan hadiah terbesar dalam hidup mereka: kelahiran bayi. Pasangan suami-istri merasakan kebahagiaan tak terkirakan, saat tahu si istri mengandung dan lebih-lebih ketika bayi telah lahir.

Pada saat yang sama, muncul persoalan mengenai bagaimana merawat makluk baru yang kini menjadi bagian hidup dari pasutri tersebut. Pertanyaan seperti bagaimana merawat bayi, karena sebagai keluarga baru mereka sama sekali belum punya pengalaman. Semua keluarga baru, mengalami hal ini, termasuk orang tua pasutri tersebut pada masa lalu pun menghadapi hal serupa.

Beruntung bagi pasutri yang dapat pendampingan dari orang tua mereka, kerena bisa mendapatkan “pelatihan” mengenai banyak hal tentang mengurus bayi. Latihan pertama adalah “begadang”, karena orok yang baru lahir acap menangis, teritama kalau ngompol, atau lapar minta asi atau susu formula bagi ibu yang mengalami masalah ASI.  Untuk bayi yang mengompol, gangguan tak nyaman karena “basah” sekarang sudah dapat diatasi dengan memakaikan popok pempes. Tentu saja, perlu tambahan anggaran untuk ini.

Inilah beberapa hal  yang perlu diperhatikan dalam merawat bayi yang baru lahir:

Jagalah fisik Anda dan pasangan saat “berjaga” dan hindari mengkonsumsi kafein (kopi) untuk mengusir kantuk. Hendaknya tetap  makan makanan yang sehat, minum yang cukup, dan  tetaplah bisa menghirup udara segar.

Supaya bugar, bagi ibunda, hendaknya tidur berbarengan dengan waktu tidur si bayi.  Bergantianlah dengan pasangan, misalnya  bergantian posisi pada malam, ketika bisa dilakukan.

Jangan khawatir atau takut anda tidak mampu mengurus  dan merawat bayi. Apabila dilakukan bersama, niscaya rasa cemas dapat dibuang.  Berusahalah melakukan semua aktivitas dengan gembira, dan jangan sungkan-sungkan ajak bayi Anda tertawa, seperti saat mengganti popok atau memandikan bayi.

Sementara waktu tundalah pekerjaan lain yang selama ini Anda kerjakan sebelum bayi lahir. Membersihkan rumah dan mencuci baju,  bisa dikerjakan lain waktu, supaya Anda dan pasangan tidak kelelahan saat merawat bayi yang baru lahir.

Keluar rumah, jangan mengurung diri. Bawalah bayi keluar rumah, boleh jadi kalau ia rewel karena menginginkan udara segar di luar.

Apabila dirasa Anda sudah kewalahan atau kerepotan, mintalah bantuan kepada ahlinya.  Anda bisa minta tolong orang tua atau mertua, paraji atau bidan/dokter untuk mendapatkan tips dalam merawat bayi. ***

(bersambung)