Angkot Versus Online

DEMO sopir angkot atas kahadiran angkutan umum online di Kota Tangerang, kemarin, bikin kalang-kabut aparat keamanan setempat. Karena, dua kubu (kubu sopir angkot dan sopir angkutan umum online) saling serang. Tiga pengemudi ojek motor online dilarikan ke rumah sakit dan beberapa mobil angkot pun hancur.

Susana Kota Tangerang sangat mencekam. Hingga Kamis (9/3) siang, keributan belum reda. Di Kecamatan Karawaci, sebuah mobil penumpang online jenis Ertiga dihancurkan sopir angkot. Di pusat kota (depan stasiun kereta api) sebuah mobil bak terbuka diduga dikendarai pemilik angkutan umum online menghantam mobil angkot. Keributan pun terjadi disekitar Pasar Baru. Puluhan pengemudi motor online menghakimi sopir angkot.

Keributan dapat diatasi berkat kesigapan petugas Polres Metro Tangerang Kota dan Kodim 0506 Tangerang. Dari pantuan tadi malam, penumpang terlantar, karena baik angkot maupun jasa angkuta nonline enggan turun menarik penumpang.

Polres Metro Tangerang Kota dan Kodim 0506 Tangerang pun menurunkan sejumlah kendaraan untuk mengangkut para penumpang. Aroma dendam masih tercium di Kota Tangerang. “Kami memang sudah menandatangani kesepakatan damai dengan kelompok sopir angkot. Tapi dendam ini belum hilang,” ujar seorang pengojek online yang prihatin rekannya masih dirawat di rumah sakit. ***

Bogor Bersih Sampah 2020

BUPATI Bogor Nurhayanti mencanangkan Bogor Bersih Sampah 2020. Itu artinya tiga tahun lagi. Anda berpikir itu waktu yang lama? Tidak. Super cepat. Mengapa? Bogor yang kotor dan Bogor yang banyak sampah, sudah ada sejak puluhan tahun lalu.

Tak heran jika pencanangan Bogor Bersih Sampah 2020 di tepi Kali Ciliwung, Cisarua baru-baru ini, disambut baik banyak kalangan.

Rapat pembentukan FK Gambas berlangsung di Pos Bersih Desa Bendungan, Ciawi, dipandu penggiat Sampah Kali Cidepit Kota Bogor Awi Imam dan Atis Tardiana mewakili Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Bogor.

Rapat FK Gambas di pinggir kali bersih, penuh ikan emas dan nila.

Atis menyambut baik gagasan membentuk forum komunikasi lintas penggiat lingkungan Bogor Raya.  Alasannya, masalah sampah selama ini tidak pernah ditangani dengan sistematis dan tepat. Khususnya sampah yang biasanya berasal dari dataran tinggi atau hulu sungai, kemudian turun mengikuti arus air, dan mengakibatkan banjir.

Karena itu, koordinasi antar wilayah sangat penting. Dari Cianjur ke Kabupaten Bogor, masuk sampah ke Kota Bogor, terus melewati lagi wilayah Kabupaten Bogor, seterusnya menuju hilir melalui sungai-sungai yang ada di Kota Depok dan Jakarta.

Pemkab Bogor bersungguh-sungguh dengan program yang dicanangkannya. Untuk itu, ia baru-baru ini meninjau proyek percontohan kebersihan di Desa Bendungan, Ciawi. Di sana, Bupati dan rombongan Muspida melihat gerakan sadar bersih masyarakat di aliran Sungai Seseupan, Desa Bendungsari, yang memang tampak bersih.

Tak kurang dari 30 KK dari 97 kk yang ada, memanfaatkan aliran sungai yang bebas sampah ini dengan beternak ikan mas dan nila. “Masyarakat menikmati hasil produksi ikan dari sungai yang mereka jaga sendiri lingkungannya,” ujar Ketua Kelompok Peternak Ikan Bendungan Asri Ramah Budaya dan Lingkungan (Baraya) Ciawi, Irpah Satiri kepada Jayakarta News. ***

Bupati Bogor Nurhayanti saat meninjau kali bersih di Ciawi.

Maskot Naga di Teluk Naga

UNIK, acara Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), tetapi diwarnai pentas barongsai dan tarian naga. Itu terjadi awal pekan ini dalam hajat MTQ ke-47 Kabupaten Tangerang, yang dipusatkan di Kecamatan Teluk Naga. Acara itu sendiri dibuka Bupati Tangerang, Ahmed Zaki Iskandar.

Warga pesirir utara Kabupaten Tangerang antusias menyaksikan pawai ta’aruf pembukaan MTQ yang dimeriahkan barongsai dan tarian naga. “Kami sengaja menghadirkan maskot naga, sebagai ciri khas kawasan Teluk Naga,” ujar seorang panitia seraya menambahkan, “misi lain adalah, penyampaian pesan kerukunan umat beragama.”

Hebatnya, kendati pada hari itu matahari sangat terik, namun para pemain barongsai dan para penari naga maupun pembawa maskot naga emas,tidak terlihat letih. Sebaliknya, mereka tampak penuh semangat memainkan barongsai dan tarian naga. Sementara, di sudut lain ada sejumlah peserta pawai jatuh pingsan lantaran sengatan matahari. ***

Penantian Karpet Merah

KARPET merah sudah menanti di Kantor Gubernur Provinsi Banten. “Kendati belum terpasang, tetapi karpet merah itu sudah menanti Dr. H. Wahidin Halim, MSi sebagai gubernur baru hasil Pilkada Banten yang baru lalu,” ujar Siti Rabiah, SH, seorang pengamat hukum dari LBH Keadilan Jaya, Tangerang.

Menurutnya, sekalipun kubu Rano Karno sebagai calon gubernur yang kalah tengah malakukan upaya gugatan ke Mahkamah Konstitusi, Siti Rabiah mengatakan, itu langkah yang tak perlu. “Materi gugatan sangat lemah. Saya kira, MK juga memiliki koridor hukum yang jelas dalam mengadili gugatan sengketa Pilkada. Saya kira, gugatan kubu Rano Karno akan kandas,” katanya.

Seperti diketahui, lanjut pengamat itu, dari hasil rapat pleno perhitungan suara KPU Banten, pasangan nomor urut satu Wahidin Halim-Andika berhasil mengungguli pasangan nomor urut dua Rano Karno – Embay. Berdasar pleno rekapitulasi penghitungan suara KPU Banten, Wahidin Halim-Andika menang dengan selisih 1,9 persen suara, atau sekitar 87.000 suara.

Pengamat hukum itu mengingatkan, selisih 1,9 persen adalah fakta. Mungkin ada yang menganggap sebagai angka yang kecil, tetapi ada juga yang menganggap selisih yang besar. Namun pada hakikatnya, suara terbanyaklah yang akan ditentukan sebagai pemenang. Karena itu, Siti Rabiah berharap Rano Karno legowo. “Bersikaplah seperti negarawan, bukan seperti ‘bocah’ yang merengek minta ‘permen cap kemenangan’,” tegasnya.***

Bogor Sarat Rindu

DULU beda dengan sekarang. Bogor dulu, adalah kota hujan yang romantis. Sekarang, kota semrawut ketika hujan turun. Bogor dulu, kota hijau pertama di dunia. Sekarang, Bogor kota hijau, tapi hijau-hijau warna angkot.

Masih panjang deretan kontradiksi dulu dan sekarang. Misal, dulu Bogor jadi akses utama ke Puncak. Sekarang, tidak Bogor tidak Gadog, sama macetnya. Masih ada lagi. Dulu, Bogor dikenal dengan pepohonan tinggi nan menjulang. Sekarang, pohon-pohon kalah tinggi dengan bangunan mal dan apartemen.

Beruntung, Walikota Bogor Aria Bima tergolong yang merasakan perubahan Bogor dari waktu ke waktu. Karenanya, ia mencoba mengembalikan keasrian Bogor seperti sedia kala. Dimulai dengan mengatur arus angkot dengan memberlakukan banyak jalan satu arah.

Bukan hanya itu. Walikota Aria Bima juga mulai getol membangun taman. Gerakan cinta lingkungan terus digelorakan dan ditanamkan kepada setiap penduduk kota yang dulunya bernama Buitenzoorg itu.

Pada peringatan hari jadi Kota Bogor 3 Juni 2016, beragam rangkaian acara digelar untuk mencapai target penghijauan. Pemkot Bogor bersama elemen masyarakat, menggelar acara sedari yang berbasis kebudayaan hingga menghijaukan kota. Ada lomba mulung sampah (memungut sampah), dll.

Biar bagaimana pun, Bogor tetap menjadi kota idaman bagi yang mendamba kenyamanan hidup. Tak pelak, Bung Karno memilih kota ini untuk tinggal bersama Hartini, setiap akhir pekan. Wajar bila kemudian Presiden Jokowi mengajak Raja Salman singgah di Istana Bogor dan bukan ke Istana Merdeka.

Diakui atau tidak, kota ini sejak seabad silam, kerap dipilih para pelaku sejarah saat melakoni perjuangan hingga menghabiskan sisa hidupnya. Seperti misalnya penyair Asrul Sani (satu dari tiga serangkai [Chairil Anwar dan Rivai Apin]). Setengah dari hidupnya nyaris ia tuntaskan di Bogor, sampai kemudian ia menelurkan Naga Bonar yang legendaris itu.

Marah Rusli pun begitu. Sedari muda hingga ia menulis roman Siti Nurbaya yang fenomenal, Bogor adalah saksi bisunya. Pun dengan bapak pers Indonesia, RM Jokomono Tirto Adhi Suryo. Tirto dan Marah yang namanya melambung di Bogor, memilih berisitrahat selamanya di kota yang sarat rindu ini.

Dengan pembangunan banyak taman, semoga Bogor kembali menjadi kota yang hijau kembali. Semoga kebersihannya tetap terjaga dan kemacetan berkurang. Meski sejatinya, keanggunan sebuah kota tak melulu berkaitan dengan taman dan penghijauan. Malainkan keberadaban yang memanusiakan manusia. ***

Sunyaragi Mati Suri

EMPAT buah topeng khas Cirebon berukuran raksasa, tergeletak di antara tribun panggung Taman Gua Sunyaragi, Cirebon. Tidak satu pun yang tidak cacat. Mengelupas cat di sana, rompal di sisi yang sini, pendek kata tak terawat. Tak heran jika taman yang satu ini seperti mati suri.

Memasuki gerbang Taman Gua Sunyaragi, kesan janggal sudah muncul. Sebuah bangunan tinggu, berbahan beton dan besi, kokoh berdiri setengah melingkar. Sekilas, mirip bangunan stadion dari luar. “Bukan… ini tadinya untuk wisata kuliner. Pesan makan di bawah, makannya di tribun atas sambil memandangi taman Sunyarangi,” ujar seorang penjaga.

Konsepnya bagus. Niatnya baik. Gara-gara tidak ada sentuhan arsitektur yang paham seni dan budaya, jadilah bangunan itu kontras dengan nuansa batu alam di areal taman gua berukuran 15 hektare itu. Ditambah, sejak berdiri hingga kini, tak satu pun pedagang kuliner berjualan di situ. Alhasil, mangkrak.

Apalagi, keberadaan bangunan tadi, menutup pandangan pelalu-lintas di Jl Brigjen Dharsono, yang ramai. Sekalipun, sangat banyak mitos dan legenda menarik di Taman Gua Sunyaragi, tetap saja sulit menggaet wisatawan datang.

Bagaimana keadaan di dalam sana? Tidak lebih baik daripada keadaan di luar. Di belakang altar, yang biasa digunakan untuk pementasaan sendratari Cirebon, dipasang huruf warna-warni bertuliskan “GOA SUNYARAGI”. Guruf G warna merah, huruf O warna oranye, huruf A warna biru… amboi… sakit nian mata ini memandangnya.

Masuk lebih dalam ke area gua, makin blank, karena tidak ada bantuan pemandu. Sedikitnya ada sembilan gua di area Sunyaragi, dengan Gua Peteng sebagai pintu utama. Masih ada gua padang ati, gua lawa, gua pawon, dan lain sebagainya. Tanpa pemandu, pengunjung tidak akan mendapatkan informasi bersejarah apa pun. Persoalannya, pemandu adanya di pintu masuk. Untuk memakai jasanya, pengujung harus merogoh uang ekstra. Olala…. ***

Ahok di Mbah Priok

CAGAR  Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan. Bentuknya berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya. Mengapa? Karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan.

Apakah Makam Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad atau Mbah Priok memenuhi syarat sebagai Cagar Budaya? Jawabnya Ya. Beberapa waktu lalu, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok meresmikan makam Mbah Priok menjadi cagar budaya. Peresmian itu ditandai dengan penyerahan Surat Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta ke Habib Abdullah Sting Alaydrus, cucu Mbah Priok atau Habib Hasan bin Muhammad al Haddad, sebagai pengelola dan ahli waris Makam Mbah Priok.

Pada pidatonya, Ahok menyebut permasalahan makam Mbah Priok sudah selesai. “Saya merasa senang ada di sini. Saya tahu ini dulu masalah tanah, pernah Pemprov ada keributan, dan saya di luar sebagai gubernur,” kata Ahok di makam Mbah Priok.

Oleh karena itu, Gubernur DKI menegaskan masyarakat tak usah khawatir kawasan ini akan digusur atau disengketakan lagi. Sebab, makam ini sudah menjadi cagar budaya dan memiliki landasan hukum yang jelas. “Mbah Priok sebagai situs cagar budaya, jadi dilindungi Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2007,” ucap Ahok. Kawasan Makam Mbah Priok seluas 3,4 hektare tersebut, saat ini dalam proses pembuatan desain bangunan. Ia berharap, kawasan makam Mbah Priok bisa lebih tertata, sehingga akan lebih banyak lagi yang datang. ***

Sastra untuk Bangsa

PERAN bahasa dan sastra Indonesia melalui re-identifikasi kebinekaan bangsa menjadi hal yang menarik untuk menjadi salah satu solusi dalam permasalahan sosial saat ini. Keragaman bahasa daerah yang dimiliki Indonesia berperan besar dalam perkembangan dunia sastra Indonesia. Bahasa daerah dan nilai-nilai lokalitas pun mengambil andil besar dalam pengembangan bahasa Indonesia yang untuk merawat kebinekaan dan kebangsaan.

Pakar bahasa Bambang Kaswanti Purwa mengatakan, bahasa Indonesia berkembang sesuai dengan konteks lokalitas di daerah yang terdekat dengan masyarakat. Keragaman bahasa dan sastra daerah yang memperkaya bahasa dan sastra Indonesia merupakan perjalanan kultur yang terwujud dalam kebinekaan.

Bambang mencontohkan, tegur sapa budaya dalam merajut kebinekaan tercermin dalam salah satu puisi karya Chairil Anwar yang berjudul Cerita Buat Dien Tamaela. Chairil Anwar yang seorang sastrawan asal Minang, Sumatera Barat, menulis puisi dengan bahasa Maluku. “Puisi itu seperti sebuah perjalanan kultur Chairil Anwar,” ujarnya dalam acara Bincang-Bincang Kebangsaan di Gedung D Kemendikbud, Jakarta, baru-baru ini.

Terkait pembelajaran bahasa Indonesia dan sastra di sekolah, pakar sastra Suminto A. Sayuti mengatakan, anak-anak harus bisa membedakan berbahasa dengan bersastra. Siswa tidak hanya belajar tentang teori, melainkan juga bagaimana terjun langsung mendalami sastra dan menghasilkan karya sastra.

“Misalnya novel Ayat-Ayat Cinta karya Kang Habiburrahman El Shirazy. Di novel itu siswa bisa melihat adanya keragaman budaya Indonesia, adatnya, ada juga nilai-nilai lokalitas dan nasionalitas di situ. Jadi bukan lagi mengajarkan definisi novel adalah, atau plot adalah…,” katanya.

Untuk sistem pembelajaran di sekolah, Sayuti lalu memberikan saran agar pembelajaran berbahasa dan bersastra bisa fokus kepada tiga hal, yaitu membaca, menulis, dan mengapresiasi karya sastra. Dengan melakukan apresiasi sastra, siswa bisa mendalami keragaman budaya yang terkandung melalui kegiatan literasi.

Acara Bincang-Bincang Kebangsaan dalam Perspektif Kebahasaan dan Kesastraan mengambil tema “Merawat Kebinekaan Melalui Bahasa dan Sastra”. Dalam acara tersebut hadir juga pembicara lain, yaitu Habiburrahman El Shirazy (sastrawan/novelis), Tedy K Sumantri (wartawan, Forum Bahasa Media Massa), dan Puji Santosa (peneliti senior dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud). ***

Sensasi Honda CB500X

MASIH ingat Honda CB yang legendaris itu? Kini Astra Honda Motor (AHM) menawarkan motor CB yang berbeda, lebih keren dan canggih yakni Honda CB500X. Direktur Pemasaran AHM Margono Tanuwijaya mengungkapkan CB500X keseluruhan tampilannya adventure, mengusung teknologi terbaik dan menghadirkan rasa petualang sejati di setiap perjalanan. “Cocok buat turing,” ujar Margono.

CB500X terbaru semakin memperkaya gaya crossover pada wind screen dengan ukuran panjang, tangki bahan bakar besar untuk berkendara lebih jauh, lampu LED, adjustable spring preload pada bagian depan dan tuas rem yang dapat disesuaikan seperti keinginan pengendara. Honda CB500X ini mengusung mesin 500cc DOHC, menghasilkan power 39kW dan konsumsi BBM 26,8 km/liter (mode WMTC), serta menggunakan rangka baja diamond tube yang kokoh.

Kenyamanan berkendara pada model ini juga semakin baik dengan aplikasi tambahan adjustable spring preload pada bagian depan dan daya redam shock belakang yang lebih baik, serta peningkatan mekanisme perpindahan gigi yang semakin halus. Lampu LED pada headlight terlihat kecil tapi powerful. Tampilan CB500X mirip dengan big bike Honda lain dengan kapasitas mesin yang lebih besar seperti NC750X, VFR800X Crossrunner and VFR1200X Crosstourer.

Sementara tampilan dasbor dilengkapi speedometer digital, takometer digital, odometer, dual trip meter, jam, penunjuk isi bahan bakar digital dan konsumsi bahan bakar. HISS (Honda Intelligent Security System) terintegrasi dengan kunci kontak. Tersedia ruang di bawah kursi untuk penyimpanan dan pelat pengamanan disiapkan untuk mengamankan sisi bawah mesin dan pipa knalpot dari permukaan kasar. Honda CB500X ABS dipasarkan dengan harga OTR DKI Jakarta (on the road) Rp147.387.500, untuk 2 pilihan warna yakni Candy Rosy Red dan Pearl Horizon White. ***

Jusuf Kalla: Wah-wah-wah

DESTINASI pariwisata harus memiliki daya pukau yang kuat untuk menarik minat wisatawan. “Kalau mau pariwisata dihebatkan, bikinlah banyak ‘wah’, danaunya ‘wah’, volcano-nya ‘wah’, pemandangan indahnya ‘wah’. Jadi mesti banyak ‘wah’. Intinya begitu,” tegas Wakil Presiden Jusuf Kalla ketika memimpin rapat koordinasi Pembangunan Pariwisata Indonesia, di Jakarta, kemarin.

Daya pukau, lanjut Wapres, dapat dibuat dengan banyak hal, salah satunya adalah legenda. Dengan membaca legenda, turis tertarik untuk mendatangi objek wisata. Wapres mencontohkan, situs wisata yang sempat dikunjungi Wapres dalam lawatannya tahun lalu ke Lima, Peru, Machu Picchu, yang menawarkan legenda untuk memikat wisatawan. “Turis butuh legenda, ini masing-masing apa legendanya Toba, apa legendanya Borobudur,” ujar Wapres.

Arahan Wapres ini menanggapi paparan Menteri Pariwisata Arief Yahya, tentang progres program percepatan pembangunan pariwisata Indonesia di tiga destinasi prioritas dan hasil kerjasama penelitian dengan World Bank, termasuk tagline bagi destinasi pariwisata prioritas yang ditetapkan. Seperti diketahui, pemerintah telah menetapkan 10 destinasi pariwisata, dengan tiga destinasi pariwisata prioritas yaitu, Danau Toba, Mandalika-Lombok, dan Borobudur. “Danau Toba itu tagline-nya The World Super Volcano Geopark, masuk ke Lombok password-nya Best Halal Tourism, dan Borobudur Cultural Masterpiece,” ujar Arief.

Selanjutnya Wapres berpesan agar arti halal diperluas dan tidak hanya terbatas pada minuman alkohol dan makanan halal, tetapi juga mencakup hal-hal terkait kebersihan dan keramahan. Saat ini Jepang sangat gencar mempromosikan turis halal. Namun, dengan keunggulan yang dimiliki Jepang dalam hal kebersihan dan disiplin, masalah kebersihan akan menjadi tantangan besar bagi pariwisata Indonesia.  “Seindah apa pun kita, kalau tidak bersih tidak akan (bisa),” kata Wapres mengingatkan. ***