KPU: Santunan Petugas KPPS yang Meninggal Rp36 Juta, Cacat Permanen Rp30,8 Juta

Ilustrasi—foto merdeka com

JAYAKARTA NEWS—Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati telah mengirimkan surat bernomor S-316/KMK.02/2019 kepada pimpinan Komisi Pemilihan Umum (KPU) terkait permintaan santuan bagi petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal dunia dan sakit selama dan sesudah melaksanakan tugasnya dalam penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu) Serentak 2019, tanggal 17 April lalu.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) KPU Arief Rahman Hakim menjelaskan, besaran santunan yang disetujui pemerintah melalui Menkeu bagi petugas KPPS yang meninggal dalam pelaksanaan Pemilu Serentak 2019 adalah Rp36 juta, cacat permanen Rp30,8 juta, luka berat Rp16,5 juta, dan luka sedang Rp8,250 juta. Demikian dikutip dari laman setkab.go.id

“Besaran santunan ini berlaku sejak bulan Januari untuk petugas ad hoc KPU hingga berakhirnya masa kerja sesuai Surat Keputusan pelantikan/pengangkatan yang bersangkutan,” tulis Sri Mulyani dalam surat tersebut.

Dalam surat tertanggal 25 April 2019 itu, Menkeu menekankan, agar pelaksanaan pemberian santunan ini tetap memperhatikan prinsip keadilan, kewajaran dan kepatutan, serta dengan memperhatikan ketersediaan pagu kegiatan berkenan.

“Agar seluruh proses dilakukan secara profesional, bersih dari korupsi, dan tidak ada konflik kepentingan, serta tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dan berpedoman pada ketentuan perundang-undangan yang berlaku,” tegas Sri Mulyani.

Sejauh ini berdasarkan data yang terhitung di KPU hingga Senin (29/4) pukul 08.00 WIB, total ada 2096 petugas KPPS dari 34 provinsi yang meninggal dan 2.151 orang sakit akibat kelelahan dalam melaksanakan tugasnya menyelenggarakan Pemilu Serentak. ***/ebn

Ini Tarif Baru Ojek Online per 1 Mei 2019

Ilustrasi–foto telset.id

JAYAKARTA NEWS— Bagi masyarakat yang kerap menggunakan ojek online, baik itu grab, gojek dan lainnya, jangan kaget kalau per 1 Mei 2019 mendatang, membayar lebih mahal dari biasanya. Pasalnya, per 1 Mei tarif baru ojek online resmi berlaku. Secara keseluruhan, tarif baru yang diberlakukan meningkat sekitar 10-20% dari tarif sebelumnya. Semua tarif itu dihitung net per kilometer.

Yang juga harus diingat bahwa tarif disesuaikan zonasi. Kementerian Perhubungan membagi tiga wilayah yakni; zona I meliputi Sumatera, Jawa dan Bali. Zona II meliputi Jabodetabek dan zona III meliputi, Kalimantan, Sulawesi, NTT, Maluku, Papua dan NTB.

Adapun tarif yang ditetapkan berdasarkan aturan adalah, tarif batas bawah untuk zona I Rp1.850 per km, zona II Rp2000 per km dan zona III Rp2.100 per km. Sedangkan batas atas yang diberlakukan untuk zona I Rp2.300 per km, zona II Rp2.500 per km dan zona III Rp2.600 per km.

Selain itu, Kemenhub juga mengatur tarif biaya jasa minimal atau flagfall. Yakni, zona I Rp7-10 ribu, zona II Rp8-10 ribu, zona III Rp7-10 ribu. Tarif ini berlaku untuk jarak minimal 4 km.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, pihaknya sudah melakukan sosialisasi ke dalam dan luar pulau Jawa. “Harapan saya aturan ini bisa diterima semua,” ujar Budi Karya di Jakarta, (26/4). ***/ebn

Petugas Pemilu yang Meninggal 119 Orang, Karding: Pileg dan Pilpres Sebaiknya Dipisah

Ilustrasi–perjuangan dua Polwan mendistribusikan surat suara Pemilu di Dusun Dermalang, Kecamatan Widang–foto tribunes com/tribunjatim com

JAYAKARTA NEWS—Data petugas Pemilu yang meninggal karena kelelahan pelaksanaan Pemilu Serentak bertambah. Berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum, jumlah korban yang meninggal 119 orang sedang yang sakit 548 orang.  “Total jumlah yang meninggal dunia dan sakit 667 orang, tersebar di 25 provinsi. Ini merupakan update terbaru hari ini,” ungkap Viryan Aziz, Komisioner KPU, Selasa (23/4).

Tinggi jumlah korban akibat kelelahan pelaksanaan Pemilu Serentak ini juga menjadi sorotan Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Abdul Kadir Karding. Seperti sejumlah tokoh lainnya, Karding pun mengusulkan agar pelaksanaan Pemilihan Legislatif  dan Pemilihan Presiden kembali dipisahkan seperti sebelum-sebelumnya.

“Saya melihat penggabungan pemilu legislatif dan pemilu presiden pada pemilu 2019, ada dampak buruknya,” kata Abdul Kadir Karding, ketika dihubungi melalui telepon selulernya di Jakarta, Selasa (23/4).

Menurunya, problem pada penggabungan Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden, memiliki dampak teknis dan dampak substansi.Terlalu banyaknya pilihan yang disodorkan kepada pemilih dalam waktu yang sama, sehingga diperlukan waktu yang lama untuk menghitung perolehan suara. “Kalau jumlah TPS sebenarnya sudah banyak, dan sudah diputuskan bahwa setiap TPS maksimal 300 DPT (daftar pemilih tetap),” katanya.

Problem yang lebih substansial, ujar politisi PKBini,  adalah penggabungan Pileg  dan Pilpres, menjadi kurang fokus. Contohnya, seorang caleg, kalau fokus mengkampanyekan dirinya, menjadi kurang mengkampanyekan partai dan capres-cawapres, demikian juga sebaliknya.***/ebn

Ada Naga Merah dan Naga Hijau di Gedung DPP PDI Perjuangan

Lukisan karya Nasirul hiasii ruang kerja BSPN (Badan Saksi Pemilu Nasional) Pusat–foto istimewa

JAYAKARTA NEWS— Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengajak wartawan melihat ruang kerja Badan Saksi Pemilu Nasional (BSPN) Pusat yang merupakan pusat komando yang menggerakkan 300 ribuan petugas yang mengumpulkan serta menginput data C1 dari TPS seluruh Indonesia ke 154.320 komputer.

Namun, mengawali keterangan persnya, Hasto tak langsung masuk ke substansi tapi dia menjelaskan sejumlah lukisan dan alat musik tradisional yang menghiasi gedung DPP PDIP.

Hasto memaparkan Kantor Partai sebagai tempat mengekspresikan seluruh kebudayaan nusantara. Tidak hanya gamelan, angklung, kulintang, namun juga berbagai koleksi lukisan ternama juga ditampilkan. Kesemuanya dalam semangat mewujudkan Indonesia yang berkepribadian dalam kebudayaan.

“Di sini sengaja kami duduk di belakang lukisan Saudara Nasirun yang menggambarkan bahwa politik itu penuh warna dan kebudayaan. Seluruh ekspresi ada di sini,” jelas Hasto.

Diapun menjelaskan bahwa di sisi lain gedung ada dua lukisan yang menggambarkan naga merah dan naga hijau dimana dulu zaman pemerintahan yang otoriter ada operasi naga merah dan naga hijau.

Lukisan naga merah dan naga hijau—foto istimewa

“Jadi seluruh lukisan di kedua gedung DPP PDIP penuh dengan pesan-pesan perjuangan, kemanusiaan, dan pesan politik yang membangun peradaban,” tambah Hasto.

Untuk diketahui, Nasirun, perupa kelahiran Cilacap, 1 Oktober 1965 pernah pameran tunggal di Yogyakarta, Solo dan Jakarta, dan telah berpartisipasi dalam berbagai pameran kelompok di Indonesia, Singapura dan Belanda.

Dijelaskannya, tidak hanya lukisan Nasirun yang dipamerkan saat malam penggalangan dana dukungan bagi Jokowi-KH Ma’ruf Amin, beberapa waktu lalu. “Kami juga memiliki lukisan Bung Karno karya Trubus, lukisan Garuda Pancasila yang begitu megah karya Srihady; Cut Nyak Dien; lukisan Lee Man Fong; juga aneka tenun nusantara. Ada juga karya Hendra, Widayat dan lain-lain,” jelas Hasto.

Foto istimewa

Hasto menambahkan PDIP memberi apresiasi terhadap perupa dan pegiat budaya. Oleh sebab itulah, banyak lukisan menghiasi dinding-dinding gedung DPP PDIP.

“Politik dan seni tak terpisahkan. PDIP memberi ruang dan apresiasi terhadap para seniman,” ujar Hasto.

Ditambahkan Hasto dengan menampillan berbagai lukisan, patung, kain tenun nusantara, dan alat musik tradisional di kantor DPP PDIP, maka PDI Perjuangan mengukuhkan Kantor Partai juga sebagai rumah budaya nusantara.

“Sebab berpolitik itu menyentuh rasa, penuh ekspresi kebudayaan, dan mengobarkan rasa cinta kepada tanah air,” pungkas Hasto.***/ebn

86 Petugas Pemilu Meninggal, Pemilu Serentak akan Dievaluasi

Ilustrasi–foto merdeka com

JAYAKARTA NEWS—Sebanyak 86 petugas Pemilu meninggal usai melaksanakan tugasnya menyelenggarakan Pemilu Serentak 17 April 2019. Tingginya angka ‘korban jiwa’ Pemilu Serentak ini menjadi sorotan banyak pihak yang menghendaki dilakukan evaluasi menyeluruh dan mendalam terkait pelaksanaan Pemilu ini. Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo telah setuju untuk melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan Pemilu yang telah meminta banyak korban jiwa itu.

“Setelah pengumuman KPU resmi, kemungkinan pemerintah baru akan membahas bersama dengan DPR. Saya kira ini harus dibahas dengan DPR baru,” ujar Tjahjo. Mendagri sendiri juga merasa prihatin dengan banyaknya petugas Pemilu yang meninggal akibat kelelahan dalam menjalankan tugasnya.

“Kami menunggu usulan dari Bawaslu dan KPU. Itu saja secara prinsip. Ya saya yakin pemerintah akan memberikan penghargaan tapi kalau soal anggaran itu biar nanti Bawaslu dulu fixnya berapa yang sakit, berapa yang gugur termasuk KPPS-nya termasuk para anggota Polri ya,” kata Mendagri kepada wartawan usai mengikuti Rapat Terbatas, di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (22/4) siang.

Ia meyakini, KPU sekarang tentu sudah membuat evaluasi. Kemendagri juga sudah membuat evaluasi yang menyangkut keputusan MK, keserentakan itu apakah harus hari, tanggal, jam, bulan yang sama. Yang kedua juga evaluasi di Kementerian dalam Negeri mengenai masa kampanye apakah harus sekian bulan, itu saja.

“Saya kira yang penting bagaimana membangun sebuah sistem pemilu yang demokratis tetapi yang lebih efektif, lebih efisien,” ujar Mendagri.

KASUS BUPATI MADINA

Terkait dengan permintaan pengunduran diri Bupati Mandailing Natal (Madina), Sumatra Utara, Dahlan Hasan Nasution karena kekalahan calon yang didukungnya, Mendagri Tjahjo Kumolo mengaku sudah menerima suratnya. Tetapi ia menilai surat tersebut salah alamat.

“Harusnya kalau seorang bupati ada keinginan mau mundur itu diajukan dulu ke DPRD kemudian hasilnya diserahkan kepada gubernur, baru gubernur menyerahkan kepada Mendagri. Itu saja,” kata Tjahjo.

Mendagri mengaku sudah melakukan koordinasi dengan Pemda Sumut terkait dengan permintaan pengunduran diri Bupati Madina itu. Ia berjanji akan memaggil Bupati Madina karena ini sebuah proses yang tidak lazim.

“Seorang bupati yang cukup berhasil di daerahnya kenapa hanya masalah politis pertimbangannya dia mundur. Itu saja. Kalau kami setujui nanti akan menjadi sebuah preseden,” terang Mendagri. ***/setkab/ebn

Pemilu Dituding Curang, Menko Polhukam: Ada Jalur Hukum

Menko Polhukam Wiranto seusai rapat kabinet terbatas, 22 April 2019—foto humas setkab

JAYAKARTA NEWS— Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto menegaskan, tidak masalah jika para pihak yang terlibat dalam kompetisi Pemilihan Umum (Pemilu) masing-masing saling mengklaim. Asal hal itu dilakukan dalam koridor hukum dan tidak mengganggu ketertiban umum.

“Komentar boleh saja ya, mengklaim boleh juga, tidak ada masalah. Tapi yang penting kita punya aturan ya punya aturan, punya undang-undang, baik yang menyangkut pemilu maupun yang menyangkut kehidupan kita sebagai bangsa. Itu negara hukum. Selama itu tidak melanggar hukum, selama itu dilakukan tidak mengganggu ketertiban masyarakat ya itu silakan saja,” kata Wiranto kepada wartawan usai mengikuti rapat terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (22/4) siang. Demikian dikutip dari laman setkab.go.id.

Wiranto mempersilakan masing-masing kontestan Pemilu membuat perhitungan, mengkalkulasi, membuat statement. Tetapi ia mengingatkan, jangan sampai keluar dari ranah itu, jangan keluar dari wilayah hukum pemilihan umum, undang-undangnya, peraturannya.

“Kalau keluar dari wilayah itu dan ternyata mengganggu ketertiban umum, mengganggu keamanan nasional akan berhadapan dengan penegak hukum. Aparat polisi, TNI dan sebagainya. Sudah jelas sekali kok ya, jelas sekali,” tegas Wiranto.

Terkait dengan tudingan adanya kecurangan masih, Menko Polhukam Wiranto mengatakan, kalau ada masalah-masalah seperti itu, termasuk ketidakpuasan, ada hukumnya, ada lembaganya yaitu Mahkamah Konstitusi.

“Saya kira semuanya sudah terjaga dengan bagus ya,” ujar Wiranto seraya mengingatkan, jangan sampai menabrak hukum yang sudah dipastikan ditentukan. Ia menegaskan, hukum adalah kesepakatan kolektif bangsa, jadi jangan sampai kesepakatan itu ditabrak, menimbulkan ketidakjelasan.

Soal isu kecurangan sendiri, Menko Polhukam Wiranto mengatakan, setiap pemilu, ya, pemilu 1999, 2004, 2009, 2014 selalu isunya kecurangan itu ada. Menurutnya ini, tidak masalah, dan akan diselesaikan lewat jalur hukum. “Ada, jalur-jalur itu ada. Tapi jangan diselesaikan sendiri, ya, jangan kemudian diselesaikan di lapangan. Itu namanya sudah menabrak undang-undang, menabrak undang-undang yang mengatur kemanan ketertiban masyarakat. Begitu…,” pungkas Wiranto .***/ebn

Jurdil2019.org Protes, Situsnya Diblokir Kominfo

Ilustrasi–istimewa

JAYAKARTA NEWS—Hiruk-pikuk Pilpres 2019 belum berakhir, seiring dengan bermunculannya masalah-masalah baru. Salah satu yang sekarang sedang ramai adalah kasus ‘ situs jurdil.org’ yang diblokir oleh Kominfo atas permintaan Bawaslu.

Lewat akun twitternya pengeloa situs jurdil.org menyatakan, pemblokiran tersebut sepihak dan tanpa pemberitahuan serta klarifikasi. “Kami Aktivis Alumni ITB Angkatan 1973 bersama professional IT dan Forum API, atas nama Jurdil2019 menginformasikan bahwa situs kami http://www.jurdil2019.org  telah diblokir secara sepihak tanpa pemberitahuan dan klarifikasi kepada kami”.

Keterangan yang diperoleh, Bawaslu sudah mencabut izin atau akreditasi lembaga pemantau pemilu Jurdil2019. Pencabutan izin ini dilakukan karena lembaga itu tidak menjalankan tugas sesuai dengan prinsip pemantauan. Lembaga survey tersebut mengajukan izin sebagai pemantau yang akan membuat aplikasi untuk pelaporan pelanggaran Pemilu. Namun, ternyata lembaga tersebut melanggar aturan dengan membuat dan mempublikasikan quick count yang berdasarkan aturan harus terdaftar di KPU.

BANTAHAN FORTUGA

Sebelumnya  Forum Tujuh Tiga (Fortuga) atau Forum Alumni ITB Angkatan 1973 menegaskan tidak pernah buat algoritma IT untuk quick Count dan real count hasil Pilpres 2019. Fortuga menghormati semua hasil perhitungan dan keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU).

”Fortuga sepenuhnya percaya dan menjunjung tinggi semua hasil keputusan perhitungan suara yang dilaksanakan oleh Komisi Pemilihan Umum. Dan, kami pasti memiliki kesabaran untuk menunggu hasil final perhitungan itu sesuai jadwal yang ditetapkan KPU, bulan Mei 2019,” ujar anggota Dewan Pembina Fortuga, Jusman Syafii Djamal dikutip Sabtu, (20/4/2019).

Klarifikasi itu ditulis Jusman yang juga mantan Menhub melalui akun facebook pribadinya. Jusman menyayangkan ulah pihak-pihak tertentu yang mengklaim Fortuga menciptakan aplikasi penghitungan suara Pilpres 2019.

”Kami tidak pernah membuat kegiatan bersama di Rumah Persahabatan Fortuga untuk secara teamwork atas nama Fortuga merancang bangun sebuah algoritma IT untuk quick count dan real count,” tegasnya.

Jusman menambahkan, Fortuga tidak pernah membuat software aplikasi untuk keperluan pemilu. Sebab Fortuga tidak memiliki otoritas akademis untuk memproduksi karya cipta semacam itu.

”Juga Fortuga menyadari bahwa kami tidak memiliki otoritas untuk menilai hasil hitungan KPU. Pemilu di Republik Indonesia telah memiliki mekanisme dan tatacara baku sesuai Undang Undang,” jelas Jusman yang juga alumni ITB 73 ini. ***/ebn

Siapa Pemenang Pilpres 2019, Ini Perhitungan Feng Shui-nya

Pakar Feng Shui, Gunadi Widjaja—foto cybertokoh

JAYAKARTA NEWS— Pelaksanaan Pemilihan umum serentak 2019  tinggal menghitung hari. Rabu 17 April 2019 mendatang, masyarakat akan memilih Presiden untuk periode 2019-2024 juga akan memilih para wakil rakyat yang duduk di DPD, DPRD dan DPR RI. Meskipun ada banyak pemilihan yang bakal digelar pada 17 April nanti, namun agaknya perhatian kebanyakan orang hanyalah kepada Pilpres yang menampilkan paslon Joko Widodo-Ma’aruf Amin (No Urut 01) dan Prabowo-Sandiaga Uno (02).

Sebagaimana diketahui, hasil-hasil survey terkait  Pilpres telah dipaparkan oleh banyak lembaga survey. Bahkan hari ini pun, ada dua lembaga survey yang menyampaikan hasil survey terbarunya. Secara umum boleh dikatakan hampir semua hasil  survey menempatkan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin di urutan teratas dengan selisih cukup signifikan dibanding pasangan Prabowo-Sandi.

Nah yang belum atau  mungkin jarang ada yang membuat adalah analisa berdasarkan Feng Shui. Siapakah yang paling unggul di antara dua pasangan ini dari ‘kaca mata’ feng shui. Apakah Jokowi-Amin atau Prabowo-Sandi? Siapa kah yang bakal ‘juara’ pada 17 April mendatang? Berikut ini hasil analisa pakar feng shui, Gunadi Widjaja. “Kesimpulan ini dengan merujuk berbagai materi, termasuk memperhitungkan shio dan unsur dari masing-masing calon,” ungkap pendiri Smart Astro ini.

Secara rinci dipaparkan  Gunadi, ada lima item yang ‘diteropongnya’ berdasarkan feng shui. CEO (pemimpin-Chef Excecutive Officer), operator (action), strategi, confidant (orang kepercayaan),  advisor (berbagai pendukung termasuk di  antaranya personil dan data intelijen).

Joko Widodo dan Ma’ruf Amin, papar Gunadi, berdasarkan perhitungan dan analisa, keduanya adalah pasangan yang cocok dan saling melengkapi. Secara kepemimpinan keduanya memiliki persentase yang tinggi, Jokowi 24% sedang Ma’ruf Amin 38%. Ma’ruf juga memilik persentase tinggi pada action yakni 49%. “Jadi Ma’ruf itu tidak banyak ngomong tapi dia banyak bekerja,” jelasnya. Namun, tambahnya, kalau berdasarkan perhitungan, Ma’ruf tidak banyak memiliki orang-orang kepercayaan. Dia juga minim data.

Nah, beberapa kekurangan Ma’ruf Amin ini ditutupi oleh Jokowi yang ahli starategi dan memiliki banyak orang berkemampuan bagus. Cuma kalau soal data, ujarnya, Jokowi pun terlihat kurang.

Yang menarik dari perhitungan ini, ternyata kelemahan Jokowi-Ma’ruf Amin ini tertutupi oleh hadirnya  Erick Thohir. Ketua Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf Amin ini memiliki banyak kelebihan yang membawa keuntungan bagi Jokowi-Ma’ruf Amin.

“Advisor Erick Tohir, cukup tinggi yakni mencapai 43%. Itu artinya, personil-personil pendukung serta berbagai data melimpah dimiliki Erick. Orang-orang yang mendukungnya pun memiliki kapasitas tinggi. Itu terlihat dari persentasenya mencapai 29%. Demikian halnya dengan actionnya yang mencapai 28%,” ungkapnya.

 Lalu bagaimana dengan Prabowo dan Sandiaga Uno?

Berdasarkan perhitungan, kekuatan Prabowo hanya pada confidant (orang kepercayaan) dan advisor. Sementara untuk kepemimpinan, strategi dan action, terlihat lemah. “Persentase CEO hanya 8%, strategi 0% dan operator 4%,” ucapnya. Namun pasangannya Sandiaga Uno, bisa menutupi beberapa kekurangan Prabowo.

Sandiaga memiliki kepemimpinan yang tinggi yakni mencapai 46%, strateginya juga bagus mencapai 23%. Namun dia memiliki kekurangan pada action, confidant bahkan advisor. “Actionnya hanya 14%, kepemilikan orang-orang kepercayaan juga tidak banyak hanya 18%. Namun untuk advisor, dia sama sekali tidak memiliki alias ‘Nol Persen’,” ucap Gunadi.

Seperti halnya Jokowi-Ma’ruf Amin beruntung memiliki Erick Thohir, maka Prabowo-Sandi pun beruntung memiliki Djoko Santosa sebagai Ketua Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi. Sebagai ‘CEO’ persentase Djoko cukup tinggi yakni 32%. Dia juga tergolong ahli strategi dengan persentase 28%. Terkait action, Djoko Santosa tak kalah, persentasenya mencapai 23%.  “Jadi memang profil Djoko Santosa cukup kuat,” tambahnya.

Lalu, papar Gunadi lebih jauh, bagaimana  peluang kedua kandidat berdasarkan hitungan feng shui. Menurut  Gunadi, tergantung dari kebutuhan bangsa Indonesia. “Silahkan dilihat, profil masing-masing calon berdasarkan lima unsur tadi. Dari diagram tersebut sudah bisa dilihat siapa yang lebih unggul. Yang terlihat adalah Jokowi handal dalam hal kepemimpinan, strategi dan memiliki banyak orang unggulan.  Sementara Prabowo, lemah dalam kepemimpinan, strategi dan action,” jelasnya.

Dikatakan Gunadi, apa yang diuraikannya adalah berdasarkan data-data dan perhitungan Feng Shui, bukan ramalan. Artinya ada perhitungan ilmiah yang dilakukan, jauh dari klenik. “Perhitungan ini sepenuhnya science, ilmu pengetahuan, bukan supranatura,” tegasnya.

Nah, dari angka-angka yang tampil itu juga terlihat adalah tantangan masing-masing kandidat apabila pada 17 April mendatang mereka terpilih sebagai Presiden-Wakil Presiden. “Jokowi misalnya, tantangannya apabila nanti terpilih sebagai Presiden, adalah pada bagaimana dia yang memiliki  SDM unggul menempatkan mereka secara tepat pada bidangnya. Artinya The right man and the right place. Bukan sekadar tepat, tapi mereka itu benar-benar menjalankan tugasnya dengan baik dalam mendukung pemerintahan Jokowi-Amin, serta mampu menjabarkan apa yang menjadi visi-misi dalam pemerintahan Jkw,” jelasnya.

Demikian juga Prabowo. Jika nanti Prabowo-Sandi keluar sebagai pemenang Pilpres, maka tantangan ke depan terlihat cukup berat. Di antaranya adalah masalah strategi, kepemimpinan dan action. “Prabowo-Sandi sebenarnya memiliki banyak SDM unggulan, juga memiliki banyak data inteligen plus personil hebat. Persoalannya bagaimana Prabowo dengan kepemimpinannya dapat memanage semuanya,” tutup Gunadi.***ebn

Hoax, Fitnah dan Manipulasi Kecurangan Jadi Senjata Makan Tuan

Sekretaris TKN Jokowi-KH Ma’ruf Amin, Hasto Kristiyanto—foto istimewa

JAYAKARTA NEWS-— Berbagai ancaman mengadakan people power, hoax  tujuh kontainer yang telah dicoblos, hoax bocoran penghitungan suara luar negeri, dan terakhir fitnah server KPU yang didesain untuk memenangkan paslon 01, hingga skenario surat suara yang sudah dicoblos, adalah satu kesatuan proyek untuk mendeligitimasi pemilu dan penyelenggara pemilu.

 “KPU dan Bawaslu dipilih secara demokratis oleh DPR dan saat itu Gerindra, PAN, dan PKS menjadi bagian koalisi yang ikut memimpin pemilihan itu. Lalu ketika berbagai sandiwara pemilu dijalankan, dan berbagai hoax dan fitnah diluncurkan hanya untuk menyerang Pak Jokowi, maka rakyat Indonesia justru berbalik arah, semakin memerkuat dukungan pada Pak Jokowi. Jadi semua jurus hitam yang dipakai menjadi senjata makan tuan,” tegas Hasto Kristiyanto, Sekjen PDI Perjuangan melalui rilis yang diterima redaksi.

Tim Prabowo-Sandi,  ujar Hasto, seharusnya paham, ketika aspek negatif seperti hoax dan fitnah digunakan, maka hal tersebut akan masuk kedalam perilaku, mental, dan cara bertindak yang negatif pula.

“Maka kita bayangkan mengapa Pak Prabowo semakin nampak emosional, dan dari tangannya mengalir energi negatif dengan gebrakan. Hal tersebut malah mengikis martabat Pak Prabowo sendiri. Demikian halnya sosok seperti Ratna Sarumpaet, Neno Warisman, Bahar Smith, Amien Rais, Fadli Zon dll. “

“Kesemuanya banyak menampilkan hal negatif yang sebangun dengan watak dan karakter hoax itu sendiri. Untuk itu, mari perangi hoax dan fitnah. Jurus Trump yang mendeligitmiasi penyelenggara pemilu agar banyak golput, tidak berlaku disini,” ucapnya.

Berbagai jurus hitam yang dijalankan untuk menyerang Pak Jokowi-KH Ma’ruf Amin,  tandasnya, akan berhadapan dengan Benteng Kultural, berupa niat baik, tenggang rasa, cinta damai, dan keharmonian. Watak dan karakter bangsa Indonesia itu membangun persaudaraan. “Jadi jangan kotori peradaban kita dengan hal-hal hitam yang merusak sistem nilai kemanusiaan kita,” katanya.

Karena itulah pilihan pendukung Jokowi-KH Ma’ruf Amin jelas. “Kawal jalan kemenangan. Rakyat terus hadir  membela pemimpin yang jujur, bekerja dan merakyat, meski  dikepung sejuta meriam hoax. Dukung langkah Presiden Jokowi untuk memimpin jalan rekonsiliasi, tebar kebaikan, kembangkan sikap persaudaraan, dan jaga persatuan bangsa,” ujar Hasto.***/ebn

“Jokowi-Ma’ruf Amin, Yes! Dua Periode”

Suasana kampanye akbar Jokiw-Ma’ruf Amin di GBK Senayan Jakarta, 13 April 2019–foto liputan6 com

JAYAKARTA NEWS—Ratusan ribu pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin tumpah-ruah memadati Gelora Bung Karno dan sekitarnya, Sabtu (13/4/2019) untuk mengikuti kampanye akbar Jokowi-Ma’ruf Amin yang bertajuk ‘Konser Putih Bersatu’.

Mereka datang bukan hanya dari Jabodetabek, tapi juga dari berbagai daerah di Indonesia. Yang menarik, banyak yang sudah datang dan ‘menduduki’ kompleks GBK sejak Jumat (12/4/2019). Umumnya mereka berasal dari luar Jakarta.

Suasana di luar GBK–foto istimewa

Alasan mereka datang lebih awal beragam, salah satunya adalah khawatir tidak dapat masuk ke dalam stadion GBK karena terlalu padat. Sayangnya, kekhawatiran mereka terbukti. Jadi, sekalipun datang lebih dulu, tetap saja tidak bisa berada di dalam stadion saat kampanye akbar digelar karena tidak kebagian tempat atau kondisi di dalam yang sudah penuh sesak.

“Kami datang sejak Jumat. Tadi kami sempat di dalam (stadion) saat acara belum dimulai. Tapi kemudian keluar sebentar untuk melihat-lihat kondisi, ehhh begitu mau masuk lagi, di dalam sudah membludak. Rupanya kami kelamaan di luar,” ungkap Mamat yang bersama teman-temannya dari Serang.

Akhirnya, meski setengah menyesal karena sempat keluar, terpaksa duduk bersama-sama dengan para pendukung lain di depan layar lebar yang memang disediakan bagi pendukung yang tidak bisa masuk ke stadion.

“Ya nggak apa-apa-apa. Mau bagaimana lagi. Tadinya ingin, siapa tahu rejeki bisa ketemu dan foto-foto dengan Jokowi,” ujarnya sambil tertawa. Meskipun begitu, Mamat mengaku tetap merasa senang dan sangat merasakan dukungan dan semangat dari seluruh rakyat Indonesia khususnya yang hadir di GBK, untuk Jokowi bisa memenangkan Pilpres kali ini.

“Kami sangat berharap Jokowi pimpin kembali Indonesia. Dua periode!” Ucap Mamat sambil mengancungkan jempolnya, yang disambul jempol juga oleh teman-temannya. “Jokowi-Amin Yes!” Seru mereka.***ebn