JAYAKARTA NEWS— Setelah 17 tahun berkecimpung dalam film drama dan sejarah, sineas Hanung Bramantyo akhirnya membikin film horor. Judulnya ‘Trinil’ (Balekno Gembungku yang artinya ‘Kembalikan Badanku’)
Perusahaan Dapur Film miliknya kali ini menggandeng Seven Skies Motion guna bekerjasama dalam pembuatan film ini. “Saya sengaja mengajak bintang-bintang muda di film yang penuh daya magis ini. Hanya seorang aktris senior yaitu Wulan Guritno yang ikut berperan,” jelas Hanung yang pernah meraih 2 piala Citra dalam FFI.
Kisahnya pasutri Rara dan Sutan siap menghadapi masa depannya pasca bulan madu. Rara mewarisi perkebunan teh yang luas di Jateng milik ayahnya, William Saunder, orang Belanda yang sangat mencintai Indonesia.
Sedangkan Sutan bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit.
Suatu hari, Rara bersedih karena diganggu dalam tidurnya. Sutan meminta bantuan pada Yusof, teman sekolahnya di Penang, Malaysia. Yusof kini lihai menangani kasus mistis.
Rara makin diteror malam-malam yang mulai mencekam.
Mendadak sontak selalu muncul sosok setan tanpa badan yang merintih. “Trinil, balekno gembungku (kembalikan badanku)”. Rara jelas terganggu dan tidak nyenyak tidur.
Film ini dipenuhi sebarisan pemeran muda yaitu Carmela van Der Kruk, Rangga Nattra, Tatian Amin (aktor Malaysia), Shalom Razade dan Wulan Guritno.
Rangga Nattra mengaku Hanung Bramantyo selalu menjaga karakter dirinya. “Mas Hanung selalu mengontrol dan mengingatkan aku selama syuting,” papar Rangga Nattra.
Sedangkan Shalom Rezada didapuk jadi Ayu muda. Dan Wulan Guritno menjadi Ayu dewasa. “Ayu ini terobsesi ingin menguasai segalanga,” ungkap Wulan Guritno.
Cerita ‘Trinil’ diangkat dari sandiwara radio 80-90an. Rintihan ‘balekno gembungku’ populer yang diucapkan oleh mbok Suminten yang menyaingi kharisma Nek Lampir dan Nini Pelet. (pik)
JAYAKARTA NEWS— Sepak bola adalah olahraga yang sangat diminati masyarakat. Setiap ada pertandingan bola – baik di tingkat nasional maupun di tingkat internasional – penonton dan pendukung fanatik berjubel.
Terinspirasi ketika nonton kompetisi bola di PON 2021 di Jayapura, pasutri artis Ari Sihasale dan Nia Sihasale Zulkarnaen membuat film berjudul ‘Indonesia dari Timur’ (IdT) yang akan diedarkan tahun 2024.
Dilihat dari film produksi Bhinneka Multi Media dan Alenia Pictures ini, sekelumit IdT berkisah tentang perjuangan atlet-atlet muda bola dari Papua.
Diangkat dari kisah nyata, film ini full mengambil lokasi di Wamena, Timika dan Jayapura (dengan stadion olahraganya yang megah) yang dibalut dalam nuansa elok alam Indonesia di Papua, Papua Tengah dan Papua Pegunungan.
“Film ini berkisah tentang semangat dan kebersamaan Indonesia lewat bola. Sepak bola adalah olahraga pemersatu bangsa yang dicinta seluruh rakyat Indonesia,” ujar Ari Sihasale yang pernah sukses membuat debutnya sebagai sutradara dalam film ‘Denias, Senandung di Atas Awan’.
Adegan film ‘Indonesia dari Timur’ (foto Alenia)
Setali tiga uang dengan Nia Sihasale Zulkarnaen selaku produser. “IdT adalah bukti cinta kami kepada Tanah Air Indonesia. Kitorang mampu mengobarkan api yang ‘menyala’ (bersinar) untuk generasi muda Indonesia,” ungkap Nia Sihasale yang diiyakan executive producer Helmalia Putri.
Sedangkan Co Producer Ahmad Syahrul Fadhil mengaku ihwal kehormatan dan kebanggaannya sehingga ia bisa mengekspose keindahan tanah Papua lewat bola.
“Ceritanya tentang kehangatan keluarga, kebersamaan dan kesetiaan yang menjadi unggulan masyarakat. Tentang percintaan kepada orang tua khususnya dengan ‘mama’ nya, cinta terhadap bola dan cinta terhadap merah putih,” tutur Ahmad Syahrul Fadhil. Sederet pemeran terkenal membintangi film ini, yaitu Ibnu Jamil (pilot senior Edu), Ari Sihasale (coach John), Donny Alamsyah (pemilik maskapai Simon), Marcellino Lefrand dan Dinda Ghania.
Tak kalah akting segudang bintang muda Papua : Yesaya Kogoya, Richardo Youwe, Yulianus Yual, Karel Fonataba dan Michael Twenty.
Kita berharap IdT mampu mengukir sejarah sebagai film olahraga bola yang bisa mengumpulkan ratusan ribu penonton di bioskop.
JAYAKARTA NEWS— Puisi karya Chalik Hamid, seorang eksil (orang buangan, orang terasing) di Albania ini sempat menggegerkan para insan penegak hak asasi. Chalik Hamid adalah anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), ormas onderbouw PKI dan Ketua PPI di Albania.
“Saya dikirim oleh Presiden Soekarno belajar sastra di Albania. Biar saya kini sudah jadi warganegara Belanda (pasca perang di Albania, dia pindah ke Belanda), tapi pikiran saya tetap ada di sana, Indonesia,” ujar Chalik Hamid yang hampir 30 tahun tak pernah pulang ke Indonesia.
“Ketika ibu dan ayah serta abang saya wafat, saya enggak boleh pulang ke Indonesia,” urai Chalik Hamid ketika diwawancarai oleh Lola Amaria (sutradara, produser) dalam film bertajuk ‘Eksil’ (The Exile) ketika diputar di XXI Epicentrum dalam upaya mengumpulkan donasi untuk Palestina, baru-baru ini.
Ada 10 eksil di Belanda, Jerman, Tiongkok, Cheko Slovakia, Swedia dan Albania yang jadi nara sumber film Eksil yang berdurasi 119 menit dan diklasifikasi untuk 13 tahun ke atas oleh LSF.
‘Eksil’ yang meraih Piala Citra sebagai film dokumenter terbaik di FFI 2023 ini mengangkat sejarah kelam bangsa Indonesia pasca meletusnya G 30 S di tahun 1965/1966.
“Saya harus cepat membuat film ini. Karena beberapa eksil ada yang sudah wafat dan sakit tua. Hampir 2 tahun lebih saya merampungkan Eksil yang dibantu Shalahuddin Siregar sebagai penyunting gambar,” cerita Lola Amaria.
Akhirnya, hanya beberapa tokoh yang berhasil diwawancarai Lola tentang kisah perjuangan dan sepak terjangnya selama mengembara dari satu negara ke negara lain.
Asahan Alham Aidit, Sarjio Mintardjo, I Gede Arka, Tom Ilyas dan Hartoni Ubes tercatat beberapa eksil yang sempat jadi nara sumber film ini.
“Bahkan, ada eksil yang curiga dan saya dituding agen intelijen Soeharto atau siapa lah. Tapi saya jelaskan bahwa saya hanya khusus membuat film tentang mereka dan film ini juga didukung organisasi Amnesty International Indonesia dan individu-individu pegiat hak asasi manusia,” beber Lola.
Dari hasil wawancara para eksil, kehidupan mereka benar-benar pahit berkepanjangan. Pasport dicabut, dan status warganegara hilang bahkan status kekerabatan dengan sanak saudara juga hilang.
“Bayangkan. Para eksil kerja serabutan di luar negeri di luar ahli dan keilmuannya. Mereka berjuang untuk hidup dengan pindah-pindah negara. Mereka terus diintimidasi dan ditakuti. Dicap komunis dan harus pro Orde Baru dan Soeharto. Padahal mereka enggak semua PKI. Mereka Soekarnois dan pendukung Soekarno. Para eksil ada yang tugas belajar dan dikirim oleh Soekarno ke luar negeri,” imbuh Lola lagi.
Lola Amaria yang didukung Usman Hamid selaku Direktur Amnesty International Indonesia mengaku prihatin dengan nasib para eksil pasca G 30 S akibat stigma komunis yang melekat dalam diri mereka.
“Negara bertanggung jawab minta maaf. Presiden Gus Dur sudah memulainya dan mengajak eksil pulang ke Indonesia. Cinta mereka kepada tanah air Indonesia enggak diragukan lagi,” kata Usman Hamid.
Lola Amaria sendiri mengungkapkan sejak SD, SMP sampai SMA hanya dicekoki film ‘Pemberontakan G 30 S/PKI’ yang jadi wajib tonton di masa Soeharto. “Saya penasaran dan akhirnya saya membuat versi lain yaitu film ‘Eksil’ ini,” papar Lola.
Bagaimana kalau film Eksil diprotes dan dituntut enggak boleh tayang karena persoalannya cukup peka ?
“Silakan. Ingat lho. Ini era reformasi. Keterbukaan harus diungkapkan, enggak boleh ditutupi terus,” jawab Lola tenang.
Bagi dirinya sebagai seorang sineas dan warganegara yang baik, dia terus memikul beban sejarah kelam pasca G 30 S.
“Ini sebuah karya saya dilihat dari perspektif berbeda,” tegas Lola Amaria. Klop. (pik)
JAYAKARTA NEWS— Setelah pentas di Museum Majapahit di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, kini Opera Majapahit ‘Gitarja’ menyapa khalayak seni di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Jakarta, Kamis (7/12/2023).\
Sewaktu gladi bersih di GKJ sehari sebelumnya, gelaran berdurasi 1, 5 jam ini berhasil memikat jurnalis.
“Saya tegaskan. Ini berkisah tentang Nusantara abad XIII. Ini enggak hanya menyangkut daerah dan etnis tertentu saja,” lontar Mia Johannes alias Mhyajo selaku sutradara, penulis dan penata artistik.
Pentas ini sekuel kedua. Dalam ‘Gayatri’ kisah pertamanya berbentuk trilogi namun setiap cerita berdiri sendiri-sendiri.
“Ada pertalian benang merah pada tajuk ‘Opera Majapahit’ yang berformat film, teater dan musik ini,” jelasnya.
Karya seni memang tidak baku. “Biar mengalir seperti air. Mungkin di tahun mendatang berupa instalasi kolase adegan dengan beberapa pelakon saja dan enggak di atas stage. Kita dinamis dan siap berubah,” tutur Mhyajo yang menguraikan ihwal Gitarja kali ini berformat opera sepenuhnya.
Gelaran ‘Gitarja’ di GKJ, Jakarta (foto Ibonk)
Pendukung utama dari Opera ini Kemendikbud Ristek yang juga menggandeng Nino Prabowo (narator), Franky Raden (penata musik dan Indonesian National Orchestra), Satya Cipta dan Betho (pesinden) plus 12 pelakon. Dibantu juga oleh Iwan Hutapea (penata cahaya) dan Kleting Titis Wicanti (penata kostum).
Berkisah tentang kekayaan dan kesakralan karakter wanita Nusantara. Sang Sri Tribhuwana adalah ibu Hayam Wuruk dan jembatan sejarah Nusantara yaitu Singhasari, Medang (Mataram kuno) yang bertumpu pada keturunan Rajasa.
Kenapa Anda mementaskan lakon kuno seperti Gitarja?
“Ini cerita serpihan sejarah Nusantara. Saya sengaja menggulirkan ke generasi penerus dan enggak melalui jalur pendidikan formal. Melalui jalur seni film, teater dan musik ini saya pikir lebih pas dan menghunjam,” timpal Mhyajo.
Bagi dirinya mementaskan gelaran ini seperti merawat (ibu) bhumi yang memberikan nafas kehidupan. (pik)
JAYAKARTA NEWS— Dulu kala, hidupnya serabutan. Enggak teratur. Miras ditenggak sampai mabuk. Narkoba apalagi. Buat sarapan pagi. Badannya penuh tatoo. Itulah Dadih Leo, mantan preman desa Mandalagiri, Kabupaten Tasikmalaya.
“Dulu saya pendosa. Lapendos (laki-laki penuh dosa). Hidupnya penuh genangan bir sampai mabuk. Pokoknya, saya ini ‘keraknya neraka’,” lontar Dadih Leo serius menceritakan masa lalunya yang kelam.
Kisah nyata mantan pendosa itu kini kita bisa nikmati lewat film doku drama bertajuk ‘Jawara Desa’ karya astrada Agni Tirta. Film ini difasilitasi Direktorat Jenderal Bina Pemerintahan Desa (Pemdes) Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia.
“Kita mengangkat kisah nyata tentang potensi desa. Seorang Kepala Desa (Kades) dari tahun 2019 yang akan habis masa tugasnya 2024 difilmkan.
“Film ini layak tonton. Dan terselip pesan film ini agar kita jangan menggebyah uyah (menggeneralisir) seseorang dari masa lalunya yang kelam,” terang Agni Tirta. Mata penonton harus dibuka.
“Jaga persatuan dan lawan keragu-raguan. Kita harus ingat bahwa nilai-nilai luhur adat masih berperan di era kiwari,” imbuh Agni Tirta.
Kita akan melihat dalam film doku drama ini tentang keindahan dan keelokan sawah, gunung dan rumah adatnya. “Seni tradisi seperti angklung dan wayang golek di desa Mandalagiri masih hidup dan dimainkan oleh anak-anak muda desa,” urai Agni Tirta.
Dadih Leo, mantan preman dan Suhajar Diantoro, Sekjen Kemendagri. (Foto Kiki)
Di era milenial, sudah selayaknya urbanisasi, modernisasi dan kemiskinan harus dilawan dan disingkirkan kalau kita ingin desa kita menjadi maju.
“Ini benalu-benalu yang dihadapi desa kini. Contoh Dadih Leo yang berhasil jadi Kades patut kita beri punten tinggi. Juga rekan sejawatnya, Del Fajri yang jadi pendamping desa juga dulu berhobi preman dan kerap berkelahi antar geng. Kini di zaman kiwari, mereka sudah insyaf dan aktif nembangun desanya,” ucap Suhajar Diantoro.
Memang, menonton film “Jawara Desa’ memberikan edukasi dan pembelajaran bagus buat generasi zaman now.
Mantan preman yang aktif melakukan perubahan dinamis dan kini jadi pemimpin gerakan di desa menjadi biopik di film ‘Jawara Desa’. Kita juga bisa melihat lebih jauh banyak anak muda dengan pergulatan batin dan karya nyatanya di desa lain (Padang Ganting di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat) seperti kisah nyata doku drama di film ini. (pik)
JAYAKARTA NEWS— Sesuai janjinya, musikus dan komposer Andi Rianto menghelat konser tunggalnya yang ke dua spesial dengan Magenta Orkestra di Istora Senayan, Minggu (3/12). Bertindak sebagai konduktur, kali ini Andi Rianto berdiri gagah – dan juga duduk memantulkan bunyi dan nada piano – memimpin Magenta Orkestra sebanyak 83 piece dan 40 anggota Paduan Suara The Sounds Choir.
“Malam ini saya suguhkan konser yang lebih megah, lebih apik dan lebih menghibur,” ujar Andi yang pernah menyabet piala Citra di FFI 2022 sebagai pencipta lagu tema terbaik.
Dikatakannya, kali ini dia menggandeng musisi dan vokalis dari banyak generasi dengan suara khas yang terpilih. “Enggak hanya musik, tapi saya juga unjuk diri yang harus memanjakan mata dan hati,” tuturnya lagi.
Malam itu, Istora Senayan dipadati sekitar 4000an khalayak yang tersihir dan terhanyut ikut bernyanyi dan bergoyang bareng.
Setelah lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan seluruh khalayak yang berdiri tertib, dimulailah perayaan gelaran musik spektakuler yang berwarna-warni indah dan saat pulang, diingat terus.
‘Mengejar Matahari’ yang biasa dilantunkan Ari Lasso didendangkan Kesya yang bersuara empuk dan merdu.
Biduan dan biduanita unjuk diri di konser “The Sound of Colors 2” (foto Okky Triansyah)
Disusul Ronny Parulian yang menggebrak nomor ‘Sepenuh Hati’ secara liat dan jantan. Suasana belum panas. Nuansa mulai hangat-hangat sedap tatkala Ronny berduet dengan Prinsa Mandagie menyajikan medley (lagu yang bersambungan) dari ‘Mengapa’, ‘Bintang Kehidupan’ (Nike Ardila) dan ‘Jarum Neraka’ (Nicky Astria).
Prinsa Mandagie masih menyenandungkan ‘Emosi Jiwa’ dengan vokal bersih dan improvisasi menawan. Sang bintang yang secara nonstop bernyanyi jelas Rossa. Beberapa nomor lagu yang kerap dibawakan Glenn Fredly dilantunkan Rossa nan menawan : ‘Sekali Ini Saja’, ‘Akhir Cerita Cinta’, ‘Cukup Sudah’ dan ‘Kasih Romantis’. Aplus menggemuruh usai Rossa tampil dan khalayak semua ikut bernyanyi.
Bintang lain yang menyuguhkan stage act memikat juga dibawakan oleh Judika. Biduan asal Batak ini membuat seluruh Istora ‘pecah’ ikut bersenandung ‘Aku yang Tersakiti’ dan ‘Jikalau Kau Cinta’.
Seorang biduan anyar bernama Nyoman Paul asal Bali tak kalah memukau. Pria tampan bekas atlet bola ini menggebrak lagu lawas milik Christian Bautista dari Filipina berjudul ‘The way you look at me’. Kemudian Nyoman Paul berduet bersama Rossa bertajuk ‘Kau Yang Kutunggu’. ‘Matur suksma’ ucap Nyoman Paul merendah. Kemudian ada sesi galau penuh canda. Raissa kali ini tampil dari tengah khalayak sembari bercanda. ‘Permisi. Permisi. Permisi’ tuturnya sopan.
“Kok enggak ada poster aku. Mas Andi Rianto sentimen nih…,” celetuk Raissa disambut tawa khalayak.
“Lho, kirain di Bandung…” jawab Andi cerdik. Geerrrrr lagi.
Dan terdengar vokal membahana nan menggelegar dari Raisa. ‘Bahasa Kalbu’ milik Titi DJ dan ‘Kali ke dua’ menggema malam itu.
Fabio Asher, Mario Ginanjar, Mahalini, Lyodra Ginting, Garda tak kalah aksi. Garda unjuk diri membawakan lagu berbahasa Jawa ‘Cublak Suweng’ duet dengan Prinsa Mandagie. Hampir tiga jam perhelatan musik pop ini mengisi Istora.
Tonggak pencapaian karier seorang Andi Rianto di ranah musik perlu kita garis bawahi. Teruslah berkarya di musik ! (pik)
JAYAKARTA NEWS— Potensi wisata pantai di Indonesia selalu menarik para wisatawan datang dan menikmatinya. Baik untuk berenang, sekadar berpanas-panas di tepi pantai maupun berselancar (surfing).
Indonesia memang menjanjikan sebagai negara bahari yang menjual aneka wisata pantai atau laut.
Pantai Tanjung Setia di Lampung tak kalah elok dan tak kalah menarik dikunjungi wisatawan untuk berselancar layaknya seperti di pantai Kuta atau Legian di Bali.
“Lampung memiliki pantai terbaik di dunia. Kita sedang mempromosikan pantai Tanjung Setia yang masih perawan dan bersih,” ujar Plh Dirjen Bina Pemdes Kemendagri, La Ode Ahmad Bolombo saat memperkenalkan film tentang Tanjung Setia yang dibuat oleh Regina Surbakti di hadapan jurnalis di Jakarta Theater, Jakarta, Sabtu (2/12/2023).
Regina Surbakti sebagai astrada Hanung Bramantyo memaparkan ketertarikannya bertraveling ke berbagai desa di Tanah Air sekaligus mempelajari budaya dan lingkungannya. “Aku dengan kru hampir tiga bulan melakukan interaksi dengan masyarakat desa Tanjung Setia dan memfilmkannya menjadi doku drama,” tutur Regina Surbakti.
Dia menambahkan, kegiatan masyarakat Tanjung Setia memberikan harapan yang layak bagi kemajuan desa dan daerahnya.
Selain di Lampung, Regina juga membuat doku drama di desa Akebay Maitara, Tidore, Maluku Utara. Potensi anak-anak muda di desa ini juga patut diketengahkan yang memajukan desa karena regulasi. “Kita perlu gerakan, semangat dan tekad insan-insan desa untuk memajukan daerahnya,” ucap La Ode Ahmad Bolombo.
Sesuai UU nomor 6 tentang desa dimana pembangunan desa memasuki babak baru mulai berdenyut menjadi desa dan daerah maju dan mandiri. Tak lagi menggantungkan bantuan Pemerintah. (pik)
JAYAKARTA NEWS— Banyak film bergenre horor. Tapi film ‘Malam Para Jahanam’ (MPJ) garapan sutradara Indra Gunawan ini berbeda.
“Saya ingin memberikan sajian horor dengan kemasan berbeda melalui sentuhan yang memiliki inspirasi dari peristiwa kelam bersejarah bangsa Indonesia,” ucap Indra Gunawan. Indra menambahkan, dalam penggarapan MPJ dirinya bersama para kru mengerahkan segala kerja keras guna menciptakan situasi yang penuh kengerian yang diakibatkan dari dendam dan rasa amarah.
“Ada banyak adegan berbahaya seperti bertarung dengan senjata, dengan kobaran api. Tanpa kerja sama yang baik oleh seluruh kru, tentu tak akan terjadi. Proses kreatif yang sangat menyenangkan,” kata Indra.
Para pemeran film ‘Malam Para Jahanam’/foto: starvision
MPJ mengangkat tema sejarah kelam Indonesia berlatar tahun 1965/66 yang mengisahkan sebuah desa yang dilanda dendam dan rasa amarah roh jahat setiap tahun selama tiga malam. Konflik Pemuda Rakyat yang berhaluan komunis dan kelompok ulama terjadi tiga malam paling berbahaya dimana makhluk halus merajalela yang menimbulkan kerusuhan pembunuhan penduduk desa.
“Diiringi lagu lawas ‘Tiga Malam’ oleh Lilis Suryani, MPJ lebih seram daripada film horor yang sekadar menampilkan hantu,” urai Indra.
Sedangkan produser Starvision, Chand Parwez Servia memaparkan ada konflik pecah yang brutal di tahun 65/66 dimana orang-orang desa yang komunis menjadi arwah penasaran. “Film ini menggambarkan sebuah perjalanan panjang dari sebuah warga desa dan kita enggak akan mengulangi perilaku dari sejarah kelam itu lagi,” tutur Parwez.
“Kita kini memasuki Tahun Politik 2023/2024 yang panas. Kita harus mawas diri dan kita enggak ingin mengulanginya lagi,” imbuh Parwez.
Aktris Aghniny Haque yang berperan sebagai Dira mengatakan pengalamannya bermain di film ini merupakan petualangan yang sangat mencekam penuh teror dan horor dengan adrenalin tinggi.
“Saya harus mempersiapkan fisik secara maksimal. Rasanya ini seperti film laga,” kata Aghniny.
Berkisah mengikuti kisah Rendi, ditemani Martin dan Siska yang mengantar jenazah kakeknya ke sebuah desa dan terjebak teror dendam MPJ. Mereka ditolong Marni dan Dira yang bercerita tentang konflik berdarah antara kelompok PR yang komunis dengan kelompok santri pimpinan Kiai Malik di tahun 1965.
Apakah mereka bisa melewati kutukan tiga malam jahanam nan mencekam ?
MPJ diramaikan segerbong pemeran seperti Harris Vriza, Aghniny Haque, Djenar Maesa Ayu, Daffa Wardhana, Teddy Syach, Amel Carla, Derry Oktami, Mang Saswi, Zoul Pandjoul, Vivi Inti, Zahra Raisa Shanum, Yudhi Kurniawan, Noel Kefas, Tri Sudarsono, Ichsan Zulkarnain dll. Kamis depan tanggal 7 Desember MPJ mulai menebar kutukan tiga malam di bioskop. Dan film ini diakurasi LSF untuk 17 tahun keatas. (pik)
JAYAKARTA NEWS— Ada sebuah kamar hotel tanpa nomor di Semarang yang seakan menjadi pintu ke dunia yang lebih misterius. Hotel berinisial S tersebut berada di lantai 3. Jika membuka pintu, bertemu dan melihat sosok wanita berambut putih, hidupnya tak akan selamat.
‘Telung dino, tengah wengi’ (tiga hari tengah malam), orang yang bertemu sosok wanita berambut putih akan mati, tubuhnya dikuliti sampai tengah malam.
Raina (Luna Maya) mendapat warisan hotel tua dari ayahnya. Warisan ini menyimpan rahasia dan misteri gelap. Banyak keganjilan. Teror tak kasat mata menghantui Raina. Nyawanya terancam akibat membuka pintu terlarang bersama adiknya, Fey (Bianca Hello).
Datang eks pacarnya, jurnalis Ardo (Christian Sugiono) yang berusaha melepas teka teki masa lalu yang tersembunyi.
“Di film ‘Panggonan Wingit’ yang disutradarai Guntur Soeharjanto ini, saya enggak lagi jadi hantu Sundel Bolong, tapi jadi pemeran utama,” kata Luna Maya.
Sutradara, produser dan pemeran ‘Panggonan Wingit’ (foto Yan)
Syuting sebulan pol di kota tua di Semarang dan juga di Bandung tapi berlatar Semarang. “Mencari lokasi di kota tua untuk mencocokkan flashback ke tahun 80an,” tutur Luna Maya yang kali ini beradu akting dengan aktor Christian Sugiono.
Produser Hitmaker Studio yang membuat film ini, Rocky Soraya mengakui akting apik Luna Maya. “Dia cepat bisa menangkap perintah sutradara, sehingga enggak usah retake berulang-ulang,” jelas Rocky Soraya.
Film yang dinisiasi untuk 13 tahun ke atas oleh LSF ini akan beredar di bioskop serentak, 30 November 2023.
Pemeran-pemeran lain ikut tampil menakuti penonton di ‘Panggonan Wingit’ antara lain Egi Fedly, Landung Simatupang, Oce Permatasari, Rafael Adwel, Budi Ros (Teater Koma) dan masih banyak lagi.
Saksikan saja adu akting Luna Maya dan Christian Sugiono yang terjebak di tempat keramat dan angker. (pik)
JAYAKARTA NEWS— Lima tahun aktris Aura Kasih istirahat total dari dunia film. Kini, Aura muncul lagi dalam film bertajuk ‘Rumah Iblis’ yang disutradarai Bambang Drias. Berperan sebagai Maya dan ibu dua anak, dia pindah dari kota ke sebuah rumah di tengah hutan.
“Hawanya enggak enak, selama syuting bikin bulu kuduk berdiri,” cerita Aura yang baru pertama bermain dalam film bergenre horor.
Sebuah sosok misterius selalu menghalangi kamera dan melihat layar monitor. “Itu siapa di situ yah,” teriak Bambang Drias saat mau take.
Dalam film ini, Aura beradu akting dengan Edward Akbar. “Kalau dibilang kaku, iyalah. Maklum, lima tahun prei dan saya hanya mengurus anak semata wayang,” urai Aura yang pernah ikut ajang Miss Indonesia 2007.
Apa kesan dan pesan selama syuting di hutan? “Kendala sih enggak ada. Pemeran lain banyak bantu. Lebih banyak ngobrol dan diskusi. Suasananya bersahabat. Dengan Edward Akbar saya cepat dapat chemistry,” jawab Aura.
Enggak takut syuting film horor ? “Ada sih takutnya. Ngeri di tengah hutan. Untung kita ramai bercanda. Syuting pas musim hujan. Pulang selalu pagi,”
Ada tawaran main film lagi?
“Ada. Horor lagi. Yang bukan horor juga”.
Memang, Aura Kasih masih punya aura dan kesempatan.
Dalam ‘Rumah Iblis’, Aura didampingi sederet pemeran seperti Whani Darmawan, Egi Fedly, Wanda Hamidah, Sarah Felicia dan Fauzan Evano. Tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 23 November 2023. (pik)