Ratu Sihir: Horor Folklore tentang ‘Selawe’ di Bahu Kiri

JAYAKARTA NEWS— Mitos ‘bahu laweyan’ pada masyarakat Jawa sangat terkenal dan dipercaya akan membawa petaka.

Bahu laweyan kerap melekat di wanita Jawa dengan ciri-ciri tertentu di bahunya. Sebuah tanda berukuran sebesar 2 koin 25 rupiah (selawe) di bahu kiri.

“Ada yang percaya hal ini akan membawa sial. Pria yang akan menjadi suaminya bisa mati,” ujar sutradara Fajar Nugros yang merilis film horor supranatural terbarunya berjudul ‘Ratu Sihir’.

Diakuinya, ada prasangka yang sering dialami kaum wanita dalam kehidupan sehari-harinya.
“Dalam film ini dikisahkan kehidupan Mirah (Raihaanun) dan Puti (Clara Bernadeth), dua saudara tiri wanita yang dapat kutukan bahu laweyan,” jelas Fajar Nugros.

“Negara kita kaya cerita folklore (cerita rakyat) yang dikemas dengan penuturan universal,” tutur Winston Utomo dari IDN Pictutes.

Raihaanun langsung menerima tawaran film ini yang dipenuhi mitos budaya Jawa.

“Saya ingin mendalami karakter wanita Jawa yang terkadang diliputi misteri. Orang luar melihatnya sesuatu yang unik dan penuh kerahasiaan. Padahal didalam sendiri kita memandangnya biasa-biasa saja,” papar Raihaanun.

Selain Raihaanun dan Clara Bernadeth, ‘Ratu Sihir’ juga dibintangi Morgan Oey dan Aurra Kharisma.

Syuting full di Jogjakarta, daerah istimewa yang masih diliputi kabut misteri mitos dan dongeng yang bercampur dengan kejawen dan segala kepercayaan.
Sebuah sinematik dan cerita yang kuat baik dari sisi sejarah dan antropologi budaya. (pik)

Biopic ‘Lafran’: Pejuang Senyap dari Sipirok

JAYAKARTA NEWS— Biografi pejuang dan pahlawan nasional Lafran Pane akan diangkat ke layar lebar oleh Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) bekerjasama dengan Reborn Initiative. Macet dua tahun, biografi picture (biopic) tentang adik sastrawan kakak adik Sanusi Pane dan Armijn Pane ini akan beredar di bioskop tahun 2024.

“Dia pejuang senyap yang masa kecilnya di Sipirok. Memprioritaskan pendidikan dan intelektualitas sebagai alat kemajuan dan kemandirian bangsa,” ujar produser eksekutif DR Ir Akbar Tandjung saat peluncuran teaser dan poster di Jakarta, baru-baru ini.
Setali tiga uang dengan Avesina Soebli selaku produser.

“Lafran mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dengan tujuan mempertahankan dan meninggikan derajat rakyat Indonesia. Almarhum mengembangkan ajaran agama Islam (syiar Islam) serta menyelaraskan polarisasi nasionalisme (sekuler) dan Islam,” papar Avesina Soebli.
Lafran yang berprofesi sebagai guru dan seniman ini bukan sosok terkenal tapi pemikirannya luar biasa.

Sedangkan DR M Arief Rosyid Hasan yang juga produser eksekutif mengemukakan Lafran berasal dari suku Batak Angkola di Muara Sipongi, Mandailing, Natal. Kemudian menuntut ilmu di Jogjakarta sampai akhir hayatnya dan dimakamkan di Karangkajen, Jogjakarta.

“Demi Indonesia, aku lillahi ta’ala,” adalah kiat hidup Lafran yang dipegang teguh.
Diakui, novel dan film adalah bentuk media kreatif yang bisa menyebarluaskan spirit, roh dan perjuangan bangsa kepada generasi milenial.

“Ceritanya sangat menginspirasi. Ceritanya menggetarkan dan mengaduk-aduk jiwa dan perasaan kita,” jelas sutradara Faozan Rizal (film ‘Habibie dan Ainun’).

Tokoh yang menginisiasi berdirinya HMI ini diperankan oleh Dimas Anggara.
“Sosok, gesture dan gerak langkahnya mirip dengan Lafran Pane,” timpal Faozan Rizal.
Film ‘Lafran : Demi Waktu’ ini juga dimeriahkan oleh Mathias Muchus, Lala Karmela, Ratna Riantiarno dan Nabil Lunggana (sebagai Lafran kecil). Syuting di Medan dan Jogjakarta. (pik)

Ini Maharani Kahar Penyanyi Asli Lagu ‘Desember Kelabu’

JAYAKARTA NEWS— “Para sahabat pensiunan pasti sudah kenal dengan lagu Desember Kelabu, ya? Sekarang kita panggilkan penyanyi asli dari lagu Desember Kelabu,” kata Ellen, pembawa acara Pertemuan III Pendengar Radio Pensiunan, kali ini mengambil tempat di Kota Surabaya, Sabtu, 11 November 2023.

Para pensiunan yang hadir di Restoran Michael TJ kontan celangak-celinguk, seraya berbisik, Yuni Shara datang? Tapi semua terkejut heran yang maju ke tengah panggung bukan Yuni Shara tapi Maharani Kahar,  komandan dan penggagas acara Pertemuan Pendengar Radio Pensiunan di Surabaya tersebut.

Melihat suasana bingung, Ellen langsung menjelaskan, lagu Desember Kelabu pertama kali dinyanyikan tahun 1982 adalah oleh  Maharani Kahar. Sontak para pensiunan yang hadir, pria wanita menyerbu Maharani Kahar berfoto.

Suasana riuh rendah. Terutama yang nenek-nenek menyerbu panggung, memeluk, menempel sang penyanyi untuk berfoto ria.

Maharani tampak kewalahan tapi terus mendendangkan lagu Desember Kelabu. Sejenak yang sudah berhasil foto dengan Maharani mundur, tidak kembali ke bangku tetapi ikut menyanyi sambil goyang mengikuti irama lagu Desember Kelabu. Lucu.

“Saya itu selalu menyanyikan lagu Desember Kelabu. Bukan hanya di kamar mandi atau karaokean juga saat ada kesempatan nyanyi di acara-acara. Tapi baru hari ini saya tau kalau Maharani Kahar adalah penyanyi aslinya. Padahal tiap hari bercanda di whatsapp grup pendengar Radio Pensiunan dengan Maharani,” kata dokter penyakit dalam senior, Sugiyono, datang dari Depok Jawa Barat, juga ikut foto bersama dengan Maharani Kahar.

Maharani Kahar /foto: ekk

Sejatinya para pendengar Radio Pensiunan yang usianya mayoritas 60-75 tahun sudah mengenal lagu Desember Kelabu ketika muda dulu. Lagu ini diciptakan musisi legendaris A. Riyanto dan direkam Maharani Kahar tahun 1982 dam menjadi hit era itu.

Tapi Maharani kemudian tidak banyak tampil di publik karena sibuk dengan pekerjaanya sebagai karyawan Perusahaan Listrik Negara (PLN) Jawa Timur.

Kekosongan penyanyi aslinya ini kemudian diisi oleh Yuni Shara dengan membawakan lagu Desember Kelabu. Didukung media yang semakin mudah untuk meluas dan cepat menyebar di era modern membuat “daur ulang” lagu Desember Kelabu menjadi terkenal.

Yuni Shara pun menjadi dikenal sebagai penyanyi lagu Desember Kelabu.

Munculnya lagu Desember Kelabu lewat suara Yuni Shara tahun 1997 menyentuh alam bawah sadar mereka yang usianya sudah 40-50 tahun. Mereka kenal lagu itu, hapal lagu itu, tetapi tidak ingat lagi atau enggan mengingat, siapa penyanyi aslinya dulu ketika mereka remaja.

Maka yang melekat dalam pengenalan mereka kemudian adalah penyanyi saat ini, yaitu Yuni Shara. Ditambah setiap acara permintaan lagu Desember Kelabu dengan rujukan, lagunya Yuni Shara. Jadilah orang mengenal Desember Kelabu merupakan lagu Yuni Shara. Tidak salah tetapi tetapi kurang pas.

Karyawan PLN

Kemana  Maharani Kahar setelah populer menyanyikan lagu Desember Kelabu? Maharani mengaku dirinya kemudian bekerja di Perusahaan Listrik Negara (PLN). Agak kontras dengan predikatnya sebagai artis penyanyi mendengar kerjanya mengurus listrik.

“Saya terus menyanyi tetapi hanya hari libur seperti Sabtu atau Minggu. Kalau ada tawaran show saya sudah harus terbang Jumat sore. Jumat itu saya sudah kerja buru-buru takut telat pesawat terbang. Lama kelamaan tidak enak juga sama teman sejawat. Keluarga juga mulai membutuhkan perhatian. Jadi saya tampil menyanyi jika betul ada waktu. Lama kelamaan, ya, banyak kerja dan keluarga dibanding menyanyi secara komersial,” cerita Maharani Kahar, nenek dengan empat cucu.

Sebetulnya setelah sukses dengan Desember Kelabu tahun 1982 Maharani Kahar masih merekam satu album lagi tahun 1994, yaitu Malam Kelabu. Tetapi harus diakui lagu Malam Kelabu tidak sesukses lagu Desember Kelabu. Keduanya merupakan lagu balada yang menghanyutkan perasaan para pendengar lagu tersebut, siapapun yang mendendangkan.

Ramah & Lincah

Pertemuan Pendengar Radio Pensiunan di Surabaya merupakan bagian dari aktivitas Radio Pensiunan. Radio Pensiunan mulai mengudara tanggal 3 Januari 2023 ditujukan untuk mereka yang akan pensiun tetapi gelisah atau merasa khawatir menghadapi hari-hari pensiun.

Tidak lagi bekerja merupakan momok untuk banyak orang sehingga Radio Pensiunan merasa perlu memberi ruang diskusi kepada mereka. Dalam perjalanannya Radio Pensiunan lebih banyak didengar mereka yang sudah pensiun dan menjadi ajang ngobrol antara mereka. Kondisi tersebut membantu calon pensiunan yang mendengarkan Radio Pensiunan menjadi merasa tenang.

Maharani Kahar /foto: ekk

Radio Pensiunan sesuai segmennya memutar lagu-lagu saat mereka remaja, era 70-an sampai tahun 2000. Tujuannya adalah mengembalikan kenangan pendengar ketika para pensiunan masih penuh semangat sehingga tetap semangat saat ini.

Salah satu lagu yang diputar adalah Desember Kelabu, bukan suara Yuni Shara tetapi suara Maharani Kahar sebagai penyanyi asli. Seperti lagu lainnya di Radio Pensiunan berusaha memutarkan lagu lama dengan penyanyi asli sehingga nuansa nostalgia yang mendengarkan tercipta secara nyata.

Mendengar suaranya membawakan lagu Desember Kelabu terdengar di Radio Pensiunan Maharani langsung kontak studio Radio Pensiunan. Dengan riang Maharani menyampaikan, itu suaranya. Program Direktur Radio Pensiunan, Andri Herdiansyah yang mendapat pesan tersebut tidak menyiakan waktu langsung kontak balik, memastikan bahwa pengirim pesan tersebut adalah Maharani Kahar? Maka, pada awal-awal siaran Radio Pensiunan sudah muncul suara Maharani Kahar menyampaikan testimoni tentang Radio Pensiunan yang positif, menurutnya.

Selanjutnya, Maharani Kahar menjadi pendengar setia Radio Pensiunan yang, menurutnya, tidak pernah berhenti mendengarkan. Radio Pensiunan juga menjadikan tamu Maharani Kahar dalam acara Obrolan Pensiunan, berkisah bagaimana menjadi penyanyi masa lalu yang perjuangannya jauh berbeda dengan masa sekarang.

Berbagai kompetisi menyanyi harus dilalui bersaing dengan ketat adu kemampuan dalam teknik dan suara. Suatu hari  komposer besar A. Ryanto bersama penyanyi spesialis cover version, Johan Untung melihat Maharani sedang menyanyi dalam acara Telerama TVRI Surabaya. Melihat kemampuan Maharani menyanyi sontak A.Ryanto menawarinya rekaman di Jakarta yang tentu tidak ditolak. “Saya tinggal di kediaman Mas Kelik (panggilan akrab A. Ryanto) di Jakarta selama rekaman,” kata Maharani mengenang masa itu.

Ketika pendengar Radio Pensiunan kemudian membentuk komunitas Maharani tidak mau ketinggalan. Bahkan Maharani mengkomandani penyelenggaraan pertemuan pendengar Radio Pensiunan di Surabaya. Bersama sahabatnya, Wulan Retno Wigati, berjibaku mempersiapkan acara yang dihadiri pendengar dari Jabotabek, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Bali.

Kegiatan dari nyanyi, makan-makan, sampai tur ke hutan mangrove dirancang Maharani dan Wulan untuk pendengar Radio Pensiunan. Acara sejak pukul 09.00 sampai 20.00 diikuti semua pensiunan dengan penuh kegembiraan. Maharani menyambut, memandu mereka. dengan penuh keramahan dan terasa tidak ada jarak dengan semua peserta.

“Saya senang sekali hari ini. Persiapan yang melelahkan terbayar. Semua senang. Saya tidak merasa capek. Semoga semuanya sehat dan bisa berkumpul lagi bernyanyi bersama di usia senja,” kata Maharani yang baru beranjak pulang dari tempat acara pukul 21.30 setelah semua tamu pulang. Luar biasa! *** Eddy Koko

‘172 Days’: Perjalanan Hidayah Bisa Datang dari Cara Istimewa

JAYAKARTA NEWS— Perjalanan hidayah dalam hidup seseorang bisa datang dari cara yang istimewa. Termasuk seperti yang dialami dalam kisah Zira dan Amer (anak ustad Atifin Ilham).
Film bertajuk ‘172 Days’ garapan sutradara Hadrah Daeng Ratu bercerita tentang perjalanan hijrah gadis remaja bernama Nadzira Shafa atau akrab dipanggil Zira (19 tahun), seorang gadis yang berada di pergaulan yang salah dan jauh dari agama Islam, memutuskan untuk hijrah dan mulai memperbaiki diri.

Perjalanan hijrah Zira mempertemukannya dengan putra almarhum ustad Arifin Ilham bernama Amer Azzikra (20 tahun). Amer mengajak Zira untuk ta’ruf dan menikah. Meski masih ragu karena masa lalunya, Zira menerima lamaran Amer.

Pelan-pelan Amer membimbing Zira dengan lembut agar menjadi seorang muslimah yang baik. Zira merasa Amer adalah salah satu hadiah terbaik dari Allah SWT atas hijrahnya.
Ketika cinta mereka berdua semakin besar, ujian demi ujian pun datang dalam kehidupan mereka.

Amir jatuh sakit hingga akhirnya wafat.

Pernikahan yang didasari dengan niat ‘mencintai karena Allah’ membuat kita bisa lebih ikhlas menjalani segala takdir Allah.

“Karena semua hanya milik Allah dan akan kembali kepada Allah” kata Hadrah Daeng Ratu.
Produser StarVision yang memproduksi film ini, Chand Parwez Servia mengungkapkan melalui ‘172 Days’ ingin menghadirkan cerita yang terinspirasi dari kisah nyata dan berharap menjadi pembelajaran bagi penonton tentang arti ikhlas dari kisah cinta Amer dan Zira.

Pemeran Amer, Bryan Domani mengaku cukup gugup saat dirinya ditunjuk sebagai tokoh Amer.

“Semoga kisah ini juga bisa menjadi pembelajaran bukan saja untuk diriku tapi juga ke penonton,” kata Bryan Domani.

Yasmin Napper yang memerankan Zira bercerita saat membaca naskah, dia merasa tersentuh dan membuatnya jatuh hati. “Kisah perjalanan cinta Kak Amer dan Kak Zira ini memberiku pelajaran baru tentang kehidupan,” jelas Yasmin Napper.

Diangkat dari novel berjudul sama karya Nadzira Shafa, film ini juga dibintangi Yoriko Angeline, Amara Sophie, Abun Sungkar, Adhitya Putri, Ridwan Ghany, Cindy Fatikasari, Tengku Firmansyah, Meisya Siregar, Hamas Syahid, Oki Setiana Dewi, Messi Gusti, Alfie Affandy, Ully Herdi dan Nadzira Shafa

Begitulah takdir kehidupan. 172 hari yang indah untuk Zira. Dan berkesan sepanjang hidupnya. Menikah dengan Amer Azzikra, yang telah membuat Zira menjadi pribadi yang lebih baik.

Namun, Amer pergi terlalu cepat. Aku ikhlas, tapi aku rindu. (pik)

bank bjb Hadirkan Promo Menarik di Konser Now Playing Festival Iconic Momento 2023

BANDUNG, JAYAKARTA NEWS – bank bjb berkomitmen untuk terus mendukung perkembangan industri kreatif di dalam negeri, termasuk acara konser musik. Kali ini, bank bjb mendukung penuh acara konser Now Playing Festival Momento 2023 yang akan dilaksanakan pada tanggal 19 November 2023 di lapangan Pussenif Jalan Supratman No 60, Bandung.

Konser akan menghadirkan berbagai penyanyi papan atas antara lain D’Masiv, Fersa Besari, Kahitna, Mahalini, Nella Kharisma, Paradle Han, Project Pop, Tara Andini, Via Valen, Virgoun, Whisnu Santika dan masih banyak lagi.

Festival musik ini hadir dengan tema “homecoming” setelah menyelesaikan rangkaian tour skala kecil dengan 1 artis nasional dari Kota Cirebon-Fourtwnty, Cianjur-Vierratale, Subang – Fourtwnty, Garut-Vierratale, Tasikmalaya- Vierratale, Soreang – Vierratale, Bandung -Fourtwnty.

Pemimpin Divisi Corporate Secretary bank bjb Widi Hartoto menyampaikan, dukungan bank bjb dalam event tersebut juga dimaksudkan sebagai langkah strategis untuk memperluas brand awareness khususnya pada segmen generasi milenial dan generasi Z yang notabene sangat menggemari berbagai acara musik dan kolaborasi kreatif.

Selain konser, dalam acara Now Playing Festival Momento 2023 akan ada berbagai keseruan lain, seperti face painting, tarot reading, paint games, F&B, hingga photo spot iconic.

Widi menjelaskan, dalam konser kali ini, bank bjb menghadirkan berbagai benefit bagi festival goers yaitu beberapa program promo khusus untuk pengguna produk digital banking bank bjb diantaranya promo Diskon 50% dengan minimal transaksi Rp30.000, dengan maksimal diskon Rp15.000, untuk transaksi food and beverages di tenant area festival.

Nasabah bank bjb, juga akan mendapat fast track jalur masuk tanpa antri, dan bisa menikmati charging station selama 60 menit dengan berdonasi di QRIS Lembaga Donasi yang telah bekerjasama dengan bank bjb sejumlah Rp13.373.

“Bagi nasabah yang melakukan top up DigiCash Rp100.000 akan mendapatkan merchandise menarik dari bank bjb. Promo berlaku dengan menggunakan digital payment bank bjb, aplikasi DIGI dan DigiCash by bank bjb,” ucap Widi.

Disampaikan Widi, bank bjb senantiasa memanjakan nasabah khususnya para pengguna DIGI dan DigiCash by bank bjb.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk datang dan menikmati berbagai keseruan dan promo yang dihadirkan bank bjb di acara Now Playing Festival Iconic Hippie Momento dan.

“Segera download apliklasi DIGI dan DigiCash by bank bjb di Appstore atau Playstore untuk menikmati kemudahan berbagal fasilitas khusus dari bank bjb,” ucap Widi.***PR

‘Women from Rote Island’ Borong Piala Citra di FFI 2023

JAYAKARTA NEWS— Pertarungan antar insan perfilman telah diumumkan dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2023 yang dihelat di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Selasa (14/11).

Film yang belum tayang di bioskop (tapi sudah diputar di Busan FF) yang berjudul ‘Women from Rote Island’ (Perempuan Berkelamin Darah) berhasil menjadi jawara dengan menggaet 4 piala Citra : film cerita panjang terbaik, sutradara (Jeremias Nyangoen), penulis skenario asli (Jeremias Nyangoen) dan pengarah sinematografi terbaik (Joseph Christoforus Fofid).

Berkisah tentang kerasnya kehidupan yang kontras dengan keindahan alam dan sumber dayanya di Pulau Rote (NTT) dan kaum wanita dianggap sebagai gender kedua dibawah laki-laki dan selalu jadi korban perundungan dan kekerasan.

Film ini hampir semuanya dibintangi artis-artis lokal seperti Irma Rihi, Linda Adoe, Shallum Ratu dan Van Jhoov.

Sedangkan film ‘Budi Pekerti’ yang masuk 17 nominasi cukup puas bertengger dengan menggondol dua Citra yaitu pemeran utama wanita (Sha Ine Febriyanti) dan pemeran pendukung wanita (Prilly Latuconsina).

Para pemenang Citra di FFI 2023 (foto Kiki)

Di sisi lain, aktor utama terbaik diraih Reza Rahadian (‘Berbalas Kejam’) dan aktor pendukung dimenangkan Marthino Lio (‘The Big 4’).

Film dokumenter panjang : ‘Eksil’ (Lola Amaria), film animasi : ‘Trungtung’ (Bony Wirasmoro), film dokumenter pendek : ‘Evakuasi Mama Emola’ (Anggun Priambodo), film dokumenter pendek : ‘Wisisi Wit Meke’ (Bony Latif, Arif Budiman dan Harun Rumbara).

Penghargaan seumur hidup (lifetime achievement) diraih 2 orang : H Soleh Ruslani (sinematoprapher) dan Raam Punjabi (produser).

Raam Punjabi, peraih pengabdian seumur hidup (foto FFI)

Dari 22 kategori, diumumkan juga peraih penghargaan khusus kritik film Tanete Pong Masak, film pilihan penonton Lilik Sudjio, aktris pilihan penonton (penghargaan Dhalia) dan aktor pilihan penonton (penghargaan AN Alcaff).

Gelaran insan-insan film tahun ini mengusung tema ‘Citra’ yang bermakna bayangan atau imaji yang terinspirasi dari karya Usmar Ismail yang ditetapkan sebagai Bapak Perfilman Indonesia dan Pahlawan Nasional.

Nama Citra kemudian menjadi anugerah dan simbol supremasi film Indonesia sejak 1967.
Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek, Hilmar Farid mengemukakan penyelenggaraan FFI yang berada dibawah Kemendikbudristek menjadi mandat untuk terus memberikan dukungan kongkrit pada ekosistem kesenian dan kebudayaan khususnya ekosistem perfilman Indonesia.

Malam penghargaan Citra FFI 2023 dimeriahkan biduanita Rossa dan biduan Iwan Fals yang mengajak seluruh khalayak menyanyikan lagu ‘Bento’. (pik)

FFI 2023 Jadi Refleksi Para Sineas Indonesia untuk Terus Berkarya

SURABAYA-JAYAKARTA NEWS– Pengumuman penerima Piala Citra Festival Film Indonesia 2023 adalah momen yang sangat penting. Selain jadi puncak pelaksanaan FFI, ini juga ajang penghargaan film paling bergengsi di tanah air.

Hal ini disampaikan Aulia Afniar Rahmawati, S.I.Kom., M.Med.Kom., pemerhati film dari Stikosa AWS, Selasa (14/11).

“Pengumuman penerima Piala Citra ini akan menjadi momen untuk merayakan pencapaian para sineas Indonesia, baik di bidang film cerita panjang, film non cerita panjang, maupun kritik film. Penghargaan ini akan menjadi motivasi bagi para sineas untuk terus berkarya dan menghasilkan karya-karya terbaik,” jelas Aulia.

Disampaikan pula, pengumuman penerima Piala Citra ini juga akan menjadi ajang untuk mempromosikan film-film Indonesia yang berkualitas.

“Film-film yang berhasil meraih Piala Citra akan mendapatkan perhatian lebih dari masyarakat dan akan lebih mudah untuk didistribusikan dan dinikmati oleh masyarakat luas,” jelas Dosen Ilmu Komunikasi dan Public Relations di Stikosa AWS (Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya) ini.

Aulia mencatat, satu hal yang membuat FFI tahun ini jadi momen istimewa adalah tema yang diangkat, Citra. Menurut dia, ini seolah jadi penegas kembali keterkaitan FFI, Piala Citra, dan sejarah perfilman itu sendiri.

Tema Citra terinspirasi dari sajak karya Usmar Ismail, seorang tokoh perfilman Indonesia yang juga merupakan penggagas Festival Film Indonesia. Tema ini diharapkan dapat menjadi refleksi bagi para sineas Indonesia untuk terus berkarya dan menghasilkan karya-karya yang dapat menginspirasi masyarakat.

“Usmar Ismail merupakan tokoh yang memberi pengaruh besar pada perkembangan perfilman Indonesia. Ia juga sangat berjasa bagi perkembangan perfilman Indonesia. Ia dikenal sebagai Bapak Film Nasional karena peran besarnya dalam memajukan perfilman Indonesia,” kata Aulia.

Disampaikan pula, selain sebagai sutradara, Usmar Ismail juga aktif dalam berbagai kegiatan perfilman. Ia pernah menjabat sebagai ketua Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI), ketua Dewan Film Nasional, dan ketua Badan Sensor Film. Ia juga merupakan salah satu penggagas Festival Film Indonesia.

“Penguatan sosok Usmar Ismail, Piala Citra dan eksistensi FFI. Ini penghargaan dari hulu hingga ke hilir. Karena kontribusi Usmar Ismail dalam meletakkan dasar bagi perkembangan perfilman Indonesia terbukti membuka jalan bagi para sineas Indonesia untuk berkarya dan menghasilkan film-film berkualitas,” imbuhnya.

Aulia juga menambahkan, dalam beberapa tahun terakhir, perfilman Indonesia telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hal ini terlihat dari meningkatnya jumlah produksi film, kualitas film yang semakin baik, dan apresiasi masyarakat terhadap film Indonesia.

“FFI 2023 akan menjadi ajang untuk merayakan pencapaian ini dan menjadi motivasi bagi para sineas Indonesia untuk terus berkarya,” tegasnya.

FFI dan Regenerasi

Aulia, di kesempatan yang sama juga mengaku memberi perhatian lebih pada FFI 2023 karena ini potret regenerasi yang luar biasa. Ada generasi perfilman yang populer di tahun 1970-an hingga kini.

Menurutnya, regenerasi dalam perfilman Indonesia adalah hal yang sangat penting. Hal ini diperlukan untuk menjaga kesinambungan dan perkembangan perfilman Indonesia. Kehadiran para sineas muda menunjukkan bahwa perfilman Indonesia memiliki masa depan yang cerah. Mereka memiliki semangat dan kreativitas yang tinggi untuk menghasilkan film-film berkualitas. Selain itu, FFI 2023 juga menunjukkan bahwa para sineas senior masih aktif berkarya dan menghasilkan film-film berkualitas.

“Secara keseluruhan, saya yakin bahwa FFI 2023 akan menjadi ajang yang meriah dan inspiratif. FFI 2023 akan menjadi ajang untuk merayakan pencapaian para sineas Indonesia, menjadi motivasi bagi para sineas untuk terus berkarya, dan menjadi ajang untuk mempromosikan film-film Indonesia berkualitas,” harap Aulia.

Film dan Peradaban Manusia

Film adalah gambaran riil tentang peradaban masyarakat. “Saya ingat, dulu sempat bermunculan film dengan tema sensualitas dan seksualitas merajai bioskop. Lalu generasi film horor. Dan kini semakin beragam. Ini mewakili peradaban bangsa Indonesia,” kenang Aulia.

Ia menjelaskan, pada masa lalu, film Indonesia sempat didominasi oleh film-film dengan tema sensualitas dan seksualitas. Hal ini dapat diartikan sebagai cerminan dari peradaban masyarakat Indonesia yang sedang mengalami perubahan. Pada masa itu, masyarakat Indonesia mulai terbuka dengan nilai-nilai dan tren baru, termasuk nilai-nilai dan tren dari luar negeri. Bisa juga karena alasan lain, misal jalan pintas komersialisasi film.

“Kini, film Indonesia semakin beragam. Hal ini dapat diartikan sebagai cerminan dari peradaban masyarakat Indonesia yang semakin maju dan dinamis. Masyarakat Indonesia semakin terbuka dengan berbagai macam nilai-nilai dan tren, termasuk nilai-nilai dan tren dari luar negeri,” jelasnya.

Aulia kemudian memberikan beberapa contoh film Indonesia yang bisa jadi mewakili gambaran riil tentang peradaban masyarakat Indonesia pada saat itu.

Misal, film Darah dan Doa (1950), merupakan film pertama di Indonesia yang mengangkat tema perjuangan kemerdekaan. Film ini dapat diartikan sebagai cerminan dari semangat perjuangan bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaannya.

Lalu Tiga Dara (1956), film klasik Indonesia yang mengangkat tema keluarga. Film ini dapat diartikan sebagai cerminan dari nilai-nilai keluarga yang kuat dalam masyarakat Indonesia. Contoh lain film Pedjuang (1960), film perang Indonesia yang mengangkat tema perjuangan kemerdekaan. Film ini dapat diartikan sebagai cerminan dari semangat patriotisme dan nasionalisme bangsa Indonesia.

“Yang agak baru adalah Preman Pensiun (2019), drama komedi yang mengangkat tema kehidupan preman. Film ini dapat diartikan sebagai cerminan dari realitas kehidupan di masyarakat Indonesia. Kemudian Ngeri-Ngeri Sedap (2022), drama komedi yang mengangkat tema keluarga. Film ini dapat diartikan sebagai cerminan dari nilai-nilai keluarga yang kuat dalam masyarakat Indonesia,” jelas Aulia.

Industri Budaya yakni film adalah usaha hiburan bergerak dengan logika pasar, demikian pula industri perfilman di Indonesia. Di era ini industri film telah dikomodifikasikan melalui pertimbangan logika film ekonomi media. wujud inspirasi karya film Indonesia didominasi dalam perhitungan bisnis, yang terkesan dipaksakan.

“Realitas sosial, fakta dan tema pengangkatan cerita dari adaptasi novel , persaudaraan keluarga sehingga begitu populer, dan juga produsen film meremake ulang film jadul (jaman dulu) yang telah populer di eranya kemudian dibuat ulang dengan penyegaran cerita dan aktor baru namun tidak menghilangkan substansi dari ciri khas film awal. maka dengan demikian sebenarnya selera penonton itu dikonstruksi oleh industri film atau selera penonton datang dari penonton itu sendiri,” tutup Aulia. (poedji)

From Bali with Indonesian Cuisine

JAYAKARTA NEWS— Makanan dan budaya adalah dua hal penting yang harus diwariskan.
Itu kata Paduka Yang Mulia Presiden Soekarno. Konon Bung Karno (BK) pernah mendokumentasikan buku yang berisi 1500 resep masakan Nusantara (Indonesian Cuisine) yang lahir atas gagasan BK.

Nah, dari Pulau Dewata Bali mendadak sontak menyambar gagasan elok ini : membuat film yang diberi judul ‘Rahasia Rasa’ yang terinspirasi dari buku legendaris Mustikarasa.
Yang cepat menyambar adalah Anak Muda Jago dari Bali. Dan sutradaranya Hanung Bramantyo.

“Kami melalui perusahaan produksi film Anak Muda Jago harus menghadirkan rasa yang beda, rasa yang baru. Kami enggak mengikuti tren. Kami akan berusaha memproduksi film-film berkonsep fresh yang memberikan pengalaman baru buat penonton,” tutur Arsa Linggih selaku produser.

Di ‘Rahasia Rasa’, penonton akan diajak bertualang untuk mencari jilid yang hilang dari buku Mustikarasa.

“Film ini mengikuti perjalanan Ressa (Jerome Kurnia), seorang chef jenius yang sedang berusaha untuk memulihkan indra pengecapnya yang hilang dengan bantuan Tika (Nadya Arina), chef rumahan pewaris resep yang hilang dari buku Mustikarasa.

Tika mendapatkan buku tersebut dari keluarganya. Mbah Wangsa (Yati Surachman).
Seiring bergulirnya waktu, benih-benih cinta pun tumbuh diantara mereka berdua.
Namun, mereka akan menghadapi rintangan besar dari Broto (Slamet Rahardjo), konglomerat di dunia kuliner.

Dinamika hidup Ressa juga makin berat dengan dilema antara cinta dan karir pribadinya.
Selain dibintangi aktor dan aktris ternama, daya tarik film ini terletak pada gabungan pas antara intrik, aksi serta alur cerita maju mundur yang dilengkapi persaingan dunia kuliner yang mendebarkan.

‘Rahasia Rasa’ juga dibintangi Tio Pakusadewo, Ciccio Manassero dan masih banyak lagi. (pik)

Siap-siap! Sawung Jabo akan Hibur Masyarakat Surabaya 14 November

SURABAYA, JAYAKARTA NEWS – Komunitas Seduluran Semanggi Suroboyo (SSS) akan menggelar pertunjukan musik Sawung Jabo & Sirkus Barock di Gedung Cak Durasim, kompleks Taman Budaya Jawa Timur Jl. Genteng Kali 85 Surabaya pada Selasa(14/11/2023).

Ketua Panitia Cak Sjamsul Umur menjelaskan bahwa acara ini diberi tajuk “Kado Nggo Jabo” (Kado untuk Jabo).

“Sebagai seniman yang lahir dan besar di Surabaya yang lantas merantau di Jogjakarta, kemudian malang melintang di jagad kesenimanan –khususnya permusikan– antara lain pernah berguru dan berkiprah di Bengkel Teater Rendra, Swami dan Kantata Takwa serta sejumlah komunitas dan entitas lain, sudah selayaknya kalau kami mengadakan gelar musik yang dimotori Cak Jabo ini.

Sebagaimana aktivitas Jabo yang tiada henti di kanal musik yang lahir di kampung Ampel dan yang kini mukim di Sydney, Australia, tahun lalu Sawung Jabo menggebrak Jogja, dilanjut Bandung dan Bogor. “Dan tahun ini, giliran kotane awake dewe, rek. Kota kelahirane Jabo: Suroboyo!” kata Cak Sjamsul yang terkesan pendiam tapi nyatanya grapyak ini.

Pertunjukan Kado Gawe Jabo ini dibagi dua sesi. Sesi I dimulai pukul 18.00 menampilkan pemberi kado para seniman keluarga besar SSS, yaitu Djatu Parmawati, Desy Agustina, Utiek, Bambang Jon, Ndindy & Helen (teatrikal puisi-musik), Prof. Rubi Castuby Band, dan Asri Nugroho (teatrikal seni rupa).

Sedang Sawung Jabo & Sirkus Barock memulai pertunjukan pukul 19.15 hingga selesai acara diperkirakan sekitar pukul 22.00.

Para personel Sawung Jabo & Sirkus Barock: Sawung Jabo (gitar), Emanuel Hertoto (Toto Tewel) lead guitar, Ucok (violin), Denny (perkusi), Hasnan (cello), Bagus (keyboard), Joel (gitar), Tauhid (bas), dan Wasis (drum).

Kata Cak Sjamsul, pertunjukan ini gratis. “Bagi yang sudah kehabisan tiket, jangan kuatir. Bisa nonton via streaming,” ujarnya.

Komunitas Seduluran Semanggi Suroboyo aktif menggelar berbagai kegiatan budaya. Tahun 2022, menggelar dua aktivitas, yaitu orasi budaya Eros Djarot di Balai Budaya kompleks Balai Pemuda Surabaya, pada 12 Juli — dimana selain orasi budaya, juga disuguhkah lagu-lagu yang ditulis oleh budayawan ini, dibawakan penyanyi Djatu Parmawati, Desy Agustina, Dian Permana, Putri Ajeng dan sejumlah seniman musik pendukung lainnya.

Empat bulan kemudian, pada 25 November digelar di Wisma Jerman (dulu disebut Goethe Institute) diskusi dan pembacaan puisi kumpulan puisi “69 Cinta untuk Rayni” karya pewarta dan pengarang Noorca M. Massardi.

Acara tersebut didukung pembacaan puisi oleh seniman Jawa Timur: Wina Bojonegoro, Ndindy & Helen (teatrikal puisi-musik), Denting Kemuning, Heti Palestina Yunani, serta musikalisasi puisi oleh Bambang Jon, Arul Lamandau.

Tahun ini — 2023, SSS menggelar dua kegiatan budaya. Selain musik Sawung Jabo & Sirkus Barock, juga acara launching dan diskusi buku “Senja Keemasan Peter A. Rohi” yang ditulis jurnalis senior Amang Mawardi, bertempat di Balai Wartawan Surabaya pada 15 Juni 2023, dengan pembicara guru besar Unair Prof. Dr. Hotman Siahaan, Ketua PWI Jatim Lutfil Hakim, Henky Kurniadi Ketua SSS, dan Inyo Rohi salah satu putra jurnalis idealis Peter Apolinus Rohi yang sedang berada di Tanah Air. Inyo adalah staf KBRI Rusia di Moskow. Bertindak sebagai moderator adalah Toto Sonata wartawan dan penyair. (poedji)

Konser Emas 50 Tahun God Bless

JAYAKARTA NEWS— Euforia dan nostalgia pecah saat band rock legendaris God Bless merayakan konser Emas ’50 Tahun Berkarya’ di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (10/11/2023).
Diiringi Tohpati Orchestra yang dikawal 50 piece, God Bless tampil prima dan enerjik.

Meski usia lima personelnya sudah tak muda lagi rata-rrata di atas 70 tahun, tapi semangat ‘still going strong’.

Ahmad Albar alias Iyek (vokal), Ian Antono (gitar), Abadi Soesman (kibor), Fajar Satritama (drum) dan Donny Fatah (bas, pada 3 lagu pertama, digantikan additional player yaitu Arya Setyadi).

Ahmad Albar, vokalis (foto Barce)

Malam itu juga, God Bless menerima rekor penghargaan MURI (Museum Rekor Indonesia) sebagai band rock tertua yang masih eksis.

Dan digebraklah nomor pertama berjudul ‘Musisi’ lewat lengkingan vokal Iyek. Raungan musik cadas yang digaungkan Ian Antono pada gitar berdentam-dentam ditingkah gebukan ‘bedug londo’ Fajar Satritama.

Selama hampir dua jam – sementara diluar Istora turun hujan lebat – , God Bless melantunkan 18 lagu yang hampir seluruhnya dicomot dari album baru ‘Anthology’ – 50 tahun Anniversary.
Lagu ‘Huma di atas Bukit’ disusul ‘Senjata’ menggiring penonton di kelas Festival menggoyangkan kaki dan menggerakkan kepala serta mengayunkan tangan secara sopan dan hangat.

God Bless unjuk diri secara full band dan akustik. Saat nomor lagu ‘Semut Hitam’ didendangkan Iyek, semua khalayak ikut nyanyi bareng. Nyaris Istora pecah oleh ‘koor raksasa’ bareng antara khalayak dan personel God Bless.

Ian Antono, gitaris (foto Barce)

Lagu pamungkas adalah ‘Rumah Kita’ yang bernada slow rock lembut. ‘Rumah Kita Indonesia’ teriak Iyek kemudian disemprot dry ice dan kembang api dari atas panggung secara gemerlap.
Para biduan dan biduanita tak ketinggalan tampil gagah di tengah acara : Kaka Slank yang membawakan ‘Zakia’, sebuah nomor dangdut ciptaan Iyek dan Ian Antono.

Di lagu ini, 50 piece musisi Tohpati Orchestra diberi ruang agak lama. Kemudian disusul Tantri Kotak, Anggun Cipta Sasmi dan Nicky Astria yang menyuguhkan musik cadas nan gegap gempita.

Meski Donny Fatah, pemetik bas harus menenggak 21 macam obat jantung tiap hari, toh dia masih kuat tampil sembari duduk di atas panggung.

Setelah Bandung dan Jakarta, konser 50 tahun God Bless dijadwalkan bakal menggebrak kota lain di Jateng dan Jatim yang disponsori oleh Northstar Entertainment, Mata Elang Production pimpinan Akwang alias Gojin alias Hendra Lie dan Indofood.
God Bless You ! God Bless Indonesia ! (pik)