Sinemaku Luncurkan Tiga Film Sekaligus

JAYAKARTA NEWS— Tahun baru 2024, film baru bagi Sinemaku. Rumah produksi yang baru lima tahun berdiri ini meluncurkan 3 film sekaligus.

Film horor ‘Temurun’ yang disutradarai Inarah Syafarina dan dibintangi Bryan Domani dan Yasamin Jasem, film drama komedi ‘Bolehkah Sekali Saja Ku Menangis’ sutradara Reka Wijaya (pemeran Prilly Latuconsina dan Dikta) serta film drama ‘Perayaan Mati Rasa’ sutradara Umay Shahab (pemeran Iqbaal Ramadhan yang juga produser kreatif dan Umay).

“Kami memiliki visi untuk memberikan kesempatan dan ruang bagi para talenta muda bisa berkarya dan berkolaborasi bersama,” kata Umay Shahab dalam acara peluncuran 3 film yang diberi tajuk ‘Sinemaku Day’ di Hall Gandaria City, Jakarta, baru-baru ini.

Umay Shahab dan Prilly Latuconsina adalah pendiri Sinemaku.

Gebrakan pertama adalah merilis 2 film panjang yang meraih box office. Dimulai ‘Kukira Kau Rumah’ (2022) yang menggaet lebih 2 juta penonton dan ‘Ketika Berhenti di Sini’ (2023) yang meraih lebih 1, 5 juta penonton.

Iqbaal Ramadhan mengaku senang bisa berkolaborasi dengan Umay Shahab yang sama-sama berkecimpung di dunia film. “Aku merasa ada hal lebih yang bisa aku kasih ke film ini. Selain sebagai pemeran, aku pun berinisiatif menawarkan diri sebagai produser. Ini adalah dunia yang tergolong baru. Di sini, aku mendapat banyak ilmu serta pengalaman yang tentunya enggak akan aku dapatkan saat di depan kamera,” kata Iqbaal.

Sedangkan Prilly Latuconsina memaparkan, ketiga judul film baru menjadi bukti komitmen dan keseriusan rumah produksi miliknya di industri perfilman. “Sekaligus bukti Sinemaku memiliki kekuatan promosi, marketing dan distribusi yang kuat dan terus berinovasi dengan menghadirkan keragaman genre dan cerita,” jelas Prilly Latuconsina.

Dikatakannya, Prilly akan berfokus di belakang layar. Menurutnya, pekerjaan ini sebagai produser dan CMO (chief marketing officer alias direktur pemasaran) sehingga ia harus meluangkan banyak waktu di belakang layar.

“Kami juga enggak menutup pintu kolaborasi, karena kami percaya karya akan semakin baik dengan kolaborasi. Salah satu visi kami adalah menjadi wadah untuk anak muda berkarya. Kami percaya mereka akan memberikan warna yang berbeda untuk Sinemaku,” demikian urai Prilly Latuconsina optimistis. (pik)

Film ‘Sehidup Semati’: Angkat Isu KDRT

JAYAKARTA NEWS— Apakah membicarakan isu perselingkuhan dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) tabu? Padahal isu tersebut sangat penting dengan kehidupan masyarakat Indonesia.

Diceritakan dalam film thriller ‘Sehidup Semati’ garapan sutradara Upi, Renata (Laura Basuki) dan Edwin (Ario Bayu) berjanji menikah sehidup semata di depan altar.

Namun, rumah tangga keduanya ternyata tak berjalan baik karena Edwin berlaku keras dan kerap memukul Renata. Dan sebagai isteri, Renata penurut dan tak boleh keluar rumah dalam arti jauh dari lingkungan luas.

Apa yang terjadi ?

Renata mengalami teror dari wanita tak dikenal. Selain itu, Edwin juga berselingkuh dengan wanita lain.

Ini bertolak belakang dengan perilaku Renata yang lemah lembut yang dibesarkan dari keluarga yang sangat religius. Renata selalu ingat pesan ibunya bahwa kodrat seorang isteri adalah mengabdi pada suami dan menjaga keutuhan rumah tangga.

Renata merasa harus memperjuangkan rumah tangganya. Adalah Asmara (Asmara Abigail), wanita seksi dan vulgar. Tetangga baru di sebelah unit apartemennya yang berusaha membantu Renata. Hingga akhirnya Renata tahu wanita cantik itu selingkuhan Edwin bernama Ana (Chantiq Schageri) yang dinyatakan menghilang.

Setelah itu Renata dibayangi dan diteror oleh keberadaan sosok Ana. Sikap Edwin pun semakin dingin dan menjauhinya. Di tengah segala macam hal aneh yang menerornya, tekad Renata hanyalah ingin menyelamatkan rumah tangganya.

Upi mengatakan film ini juga menyuarakan isu KDRT yang masih jadi persoalan bagi banyak masyarakat di Indonesia terutama wanita sebagai korbannya. “Kasus-kasus KDRT masih kerap diabaikan. Para korban harus berjuang sendiri ditambah tekanan moral tentang bagaimana seharusnya bersikap melayani suami dan menjaga keutuhan keluarga.

“Ide dasar cerita film ini lahir dari dogma-dogma atau ayat-ayat yang sering disalahtafsirkan dan disalahgunakan. Hal ini membuat posisi wanita/isteri menjadi sangat lemah dan rentan,” papar Upi.

Selain menyutradarai, Upi juga menulis skenarionya yang diselesaikan sejak 2010 atau sejak 13 tahun silam.

Chand Parwez Servia selaku produser menilai film Sehidup Semati menjadi lompatan baru agar industri film nasional maju dan berkembang. “Film ini terselip pesan yaitu untuk membangun hubungan pasutri harus saling mengerti,” ucap Chand Parwez Servia.

Pemeran utama Laura Basuki mengaku untuk pendalaman karakter ia harus menurunkan 5 kg berat badannya. “Agar saya dapat tulang-tulang di depan dan belakang serta tampak rapuh, kurus dan ringkih. Saya juga enggak boleh ngemil dan jajan,” timpal Laura Basuki yang meraih tiga piala Citra di FFI.

Sehidup Semati yang akan tayang 11 Januari 2024 ini juga dibintangi Maya Hasan, Lukman Sardi, Whani Darmawan, Ivanka Suwandi, Elly D Luthan, Verdi Solaiman, Patty Angelica Sandya dll. (pik)

Morgan Oey Pertama Disutradarai John De Rantau

JAYAKARTA NEWS— Aktor tampan Hadi Morgan Winata alias Morgan Oey tahun ini berkolaborasi dengan sutradara John De Rantau dalam film ‘Suami Yang Lain’. “Kesempatan yang ditunggu akhirnya datang juga. Dia sutradara favorit saya,” cetus Morgan yang mantan vokalis boyband ‘Sm#sh’ asal Bandung.

Morgan mengaku sangat mengagumi karya John De Rantau di antaranya ‘Wage’ (biopic Wage Rudolf Supratman) dan ‘Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi’.

Selain itu, Morgan juga baru sekali ini beradu akting dengan Acha Septriasa di film tersebut.
“Acha sangat profesional dan detil meriset karakter. Chemistry dengan Acha tercipta secara organik. Serasa enggak sedang berakting,” kata Morgan.

Morgan optimistis ‘Suami Yang Lain’ akan memberi warna lain bagi industri film nasional yang didominasi genre horor belakangan ini.

“Judul filmnya sangat menggoda dan bikin penasaran. Mengusung drama pasutri. Percikan konfliknya lebih dewasa dan dekat dengan masyarakat,” ucap Morgan.

Diungkapkan, proyek ‘Suami Yang Lain’ adalah mimpi yang jadi kenyataan. “Kisah perselingkuhan yang unik dibalut dengan plot yang menarik dan banyak menghadirkan kejutan bagi penonton Indonesia,” imbuhnya.

Mengisahkan Danan Dimitri (Morgan Oey) dan Olivia Sastranegara (Acha Septriasa), pasutri yang belum beroleh keturunan setelah bertahun-tahun menikah. Pernikahan mereka memasuki fase hambar dan membosankan.

Rumah tangga Danan-Olivia makin panas setelah keluarga mempertanyakan momongan.

Di puncak kekesalan, Olivia minta cerai. Konflik memuncak setelah Jordy Anwar (Omar Daniel) mewarnai rumah tangga Danan dan Olivia.

Sutradara John De Rantau menyebut alur cerita film ini sejatinya dekat dengan potret kehidupan masyarakat Indonesia. “Penonton akan dibawa untuk merasakan sedih dan ketegangan yang dialami para tokoh. Akhir cerita film ini pun enggak terduga. Ada plot twist di ujung cerita,” urai John De Rantau.

Selama ini, wanita selalu jadi korban dan selalu dipersalahkan: bagaimana kalau kini wanita yang berinisiatif seperti laki-laki, apa yang akan terjadi ?

“Sebuah story yang memberikan alternatif pemikiran terhadap dunia patriarkhi” timpal John De Rantau memberi tahu.

“Suami Yang Lain’ yang akan beredar 4 Januari 2024 ini juga diperkuat pemeran lain seperti Alex Abbad, Samuel Rizal dan Anya Geraldine. Skenario film ditulis Benni Setiawan. (pik)

PPHUI Gagas Berdirinya Museum Sinematek

JAYAKARTA NEWS— Seluruh khalayak yang memenuhi Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI), Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, berdiri takzim dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Ozy Syahputra yang populer diteriaki Si Manis Jembatan Ancol berdiri di depan memimpin.

Acara lalu dilanjutkan dengan penampilan Paramitha Rusady yang menggotong gitar akustik melantunkan beberapa lagu lawas seperti ‘Juwita Malam’, ‘Galih dan Ratna’ dan ‘Ibu’ yang dicomot dari nomor lagunya Iwan Fals. Mitha yang masih cantik sukses menggiring khalayak bareng mendendangkan lagu lawas tersebut.

Acara meriung bersama artis-artis jadul sore itu sangat meriah. Mereka yang lama tak berjumpa saling rangkulan, pelukan, salaman dan cipika cipiki.

Sederet artis jadul, produser, sutradara dan pegiat perfilman tampak hadir dengan pesona dan kharismanya. Ada Deddy Mizwar (Ketum PPFI), Sonny Pudjisasono, SH (Ketua YPPHUI), Djonny Syafruddin (Ketum GPBSI), Gunawan Pagaru (Ketum BPI), Akhlis Suryapati (Ketua Sinematek), Rudy Sanyoto, Toto Soegriwo dan insan film yang lain.

Sementara di area depan punggawa-punggawa Parfi duduk sebaris. Tampak Alicia Djohar (Ketum Parfi), Pong Hardjatmo, Harry De Fretes (penggagas Lenong Rumpi), Ully Sigar Rusady, Aty Cancer, Ozy Syahputra, Paramitha Rusady, Lely Sagita, Rency Milano, Yatty Octavia, Silvana Herman, Adi dan Iyut Bing Slamet, Robby Bo dan masih banyak lagi.

“Kita berkumpul di sini adalah dalam rangka soft launching Museum Sinematek Indonesia. Jujur, data penyimpanan seluloid dan bidang film kita saat ini sangat terbatas,” ucap Sonny Pudjisasono, SH menjelaskan maksud dan tujuan riungan artis.

Alasan kuat pendirian Museum Wandi Tutoroong selaku Deputi 4 Kepala Staf Kepresidenan (KSP) yang hadir mewakili Moeldoko menyambut baik pendirian Museum Sinematek.
“Pendirian Museum Sinematek untuk pengarsipan film dan pendataan serta pendokumentasian perfilman Indonesia. Dan ini bermanfaat demi pengembangan seni budaya bagi generasi muda Indonesia,” papar Wandi Tutoroong.

Sinematek adalah untuk meningkatkan peran dan fungsi Sinematek sebagai pusat semua kegiatan film dan pengarsipan sejarah film Indonesia agar tersimpan baik dan rapi.

“Kita nantinya akan mengundang ahli museum yang menerapkan manajemen modern sehingga pengarsipan film enggak berantakan. Kita juga akan mendata film-film apa saja yang bakal direstorasi di luar negeri agar kondisinya bisa lebih baik. Beberapa film koleksi kita memang keadaannya jelek, blaur dan suara enggak kedengaran lagi,” urai Djonny Syafruddin selaku Ketua Badan Pembina YPPHUI.

Sebagai inisiator pendirian Museum, Sonny Pudjisasono, SH menggarisbawahi Sinematek yang memiliki rentang sejarah film sejak tahun 1971 yang digagas pertama oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Kemudian, berdirilah Komplek Film tahun 1974. Dari sini berubah menjadi Yayasan Artis Film, Yayasan Citra dan terakhir sepakat menjadi Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI).

“Kita sejak lama mengelola secara mandiri dan enggak ada bantuan Pemerintah,” tegas Sonny Pudjisasono.

Walhasil, undangan diskusi dan ngumpul-ngumpul sesama artis agar bisa berjalan secara integral, dan bersatu dalam satu wadah.

Ya, Sinematek adalah tempat yang menyejarah di bidang film. Dan menjadi satu-satunya situs perfilman Indonesia. (pik)

Ardina Rasti Prihatin Penyanyi Anak Bawakan Lagu Dewasa

JAYAKARTA NEWS— Penyanyi dan aktris Ardina Rasti prihatin melihat banyaknya penyanyi anak membawakan lagu orang dewasa. “

Yang salah bukan anaknya. Tapi memang lagu anak sangat minim jumlahnya. Jadi anak juga jangan dipaksa produser mendendangkan lagu milik orang dewasa. Biarlah anak menikmati dunianya, dunia anak,” ujar Ardina Rasti dalam peluncuran album serial musik ‘Amo Baby’ di gerai Richeese Factory di Jakarta, baru-baru ini.

Pengalaman yang membuatnya sedih ketika Ardina diberitahu Maia Estianty
sebagai juri ajang pencarian bakat lomba menyanyi anak bahwa peserta anak hampir 70% membawakan lagu orang dewasa.

“Lagu saya berjudul ‘Kangen’ juga dilantunkan anak di lomba tersebut. Saya bangga dan sedih. Anak zaman kiwari jadi terkontaminasi lagu orang dewasa,” urai Ardina.

Di sisi lain, Ardina mengaku senang mendengarkan serial musik video animasi edukasi anak Indonesia yang merupakan kumpulan cerita pendidikan sederhana dalam kemasan lagu anak yang dinyanyikan secara Artificial Intellegence (AI).

Bagi Ardina yang memiliki dua anak berusia 5 dan 2,5 tahun ini merasa happy karena sebagai ibu bisa membimbing anak-anaknya.

“Misi album Amo Baby yang diproduksi G Studios yang menggaey Pro M dan Formula Pictures dan Richeese Factory yang menerbitkan DVD album ini bertujuan membimbing anak dalam pengalaman eksplorasi dan pembelajaran pertama anak dari abjad a b c sampai nama-nama hewan, warna hingga bentuk dapat membentuk pengetahuan mandiri yang tepat dan berguna,” jelas Ardina lagi.

Amo Baby berisi 10 musik video dengan judul ‘If you happy’, ‘Hello Hello’, ‘Drawing’, ‘Let’s Eat’, ‘Sharing’, ‘Wash your hands’, ‘Brush your teeth’ dan lagu-lagu lain yang bernilai edukasi dan bimbingan pengetahuan.

“Semoga akan lebih banyak lagi album anak seperti ini sehingga orang tua khususnya ibu enggak perlu khawatir lagi melihat perkembangan budaya dan etika belakangan ini,” harap Ardina.

Sedangkan pengamat film Yan Widjaja menyarankan agar album musik ini ada subtitle-nya dalam bahasa Indonesia. (pik)

Diana Krall Gelar Konser di Jakarta

JAYAKARTA NEWS— Untuk ketiga kalinya, biduanita jazz asal Kanada, Diana Krall akan menggelar konser tunggal di JIExpo Theater, Jakarta, 4 Mei 2024. Mengusung tajuk ‘Diana Krall Live in Jakarta 2024, selama dua jam Diana akan menyapa fans setianya di Indonesia.

“Penampilan Diana bisa jadi obat rindu dan nostalgia bagi fansnya yang kehabisan tiket sewaktu manggung di Prambanan Jazz Festival tahun 2018,” ujar founder Rajawali Indonesia, Anas Alimi kepada penulis di Jakarta, baru-baru ini.

Dikatakannya, dia merasa senang bisa mendatangkan lagi sosok penyanyi Gramny Award ini.
Sedangkan CEO Rajawali Indonesia, Tovic Raharja menuturkan akan ada kejutan dalam konser tunggal Diana nanti.

“Dengan konsep konser tunggal, agar bisa lebih intim,” jelas Tovic.

Ditanya, apakah Diana minta raiders yang aneh dan unik, Tovic menampiknya. “Dia sangat profesional dan elegan. Enggak mau yang aneh-aneh. Diana hanya minta disediakan satu grand piano di panggung dan dia membawa sendiri lima musisi personel instrumen jazz klasik,” ungkap Tovic.

“Seperti apa, lihat nanti. Biar lebih surprise,” cetus Tovic tersenyum.

Ihwal tiket spesial konser Diana Krall, bisa dibeli di Traveloka dengan 5 kategori : Bronze Rp 850.000. Silver Rp 1.500.000. Gold Rp 3.000.000. Platinum Rp 4.000.000. Diamond Ro 5.000.000 dan VIP Rp 15.000.000.

“Yang tiket VIP tinggal 1 buah. Artinya mendekati sold out,” imbuh Tovic.

Selama karirnya di ranah musik, Diana Krall adalah satu-satunya penyanyi jazz klasik yang berhasil merekam 8 album debut di tangga lagu Billboard dan menyabet 2 Grammy, 10 Juno Awards serta memperoleh 9 album Gold, 3 Platinum dan 7 Multi Platinum.

Yuk kita bareng menyenandungkan nomor lagunya yang berjudul ‘The Look of Love’ dan ‘How Deep is The Ocean’. Selamat datang kembali Diana Krall. Selamat datang Jazz. (pik)

‘Impian Seribu Pulau’

JAYAKARTA NEWS— Bagi Generasi Z yang berusia di bawah 20 tahun, mereka bisa melakukan langkah kecil yang berdampak besar secara integrasi dan kelanjutan dunia yang lebih baik.

Film ‘Impian Seribu Pulau (ISP)’ digarap pertama oleh sineas muda Naphtali Ivan. Diproduseri beberapa anak muda juga : Kevyn Augusta, Jennifer Oktivan dan Tim Soleha Sari dan Yayi Puspitasari.

Pemeran-pemerannya ada Karel Susanteo, Yohana Angeline, Asri Welas, Chicco Kurniawan dan Teuku Rifnu Wikana.

“Pertama disutradarai anak muda, saya rada heran bin takjub,” komentar Teuku Rifnu Wikana.
Benar, sudah saatnya anak muda berani mewujudkan mimpinya.

“Melalui film ini, kami melibatkan para pelaku usaha. Ya pengusaha, akademisi, media dan komunitas serta tentu saja Pemerintah,” kata Ivonny Zakaria, Ketua Koperasi Indonesia Berkarya (Kinarya Coop) dalam peluncuran film ISP di Auditorium Dwiwarna, Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas), Jakarta, baru-baru ini.

Dalam hal ini, melalui media film bisa mengedukasi masyarakat ihwal pentingnya lingkungan hidup dan mengajak semua orang untuk menyukseskan program ‘penanaman 5 juta bibit mangrove’ sebagai aksi nyata dimata change action secara integrasi.

“Mangrove adalah cermin kehidupan ketahanan dalam pasang surut dan keseimbangan dalam perentanan,” urai Ivonny Zakaria.

Karena itulah Kinarya Coop mengajak anak-anak muda dari Generasi Z berdonasi untuk menyelamatkan indonesia lewat mangrove.

“Yuk kita semua menyelamatkan lingkungan via mangrove,” ajak Ivonny Zakaria.
Dalam sambutannya lewat video, Menkop dan UKM Teten Masduki untuk mendukung program 1 tiket menuju 1 mangrove.

“Kita bisa melaksanakan 5 juta dalam 5 hari. Ini upaya merestorasi mangrove menjadi ekosistem lebih baik. Dan nantinya ‘cuan’ dari sini akan dikelola Koperasi (untuk penguatan ekonomi rakyat) selaku motor gerakan perubahan akan tampil di depan. Semua elemen bahu membahu dan bergotong royong menyukseskan program ini,” tutur Teten Masduki optimis.
Dalam kesempatan itu pula dilaksanakan ‘kick off’ produksi 552 series bertema kuliner dan budaya.

Kenapa harus nonton film ini ?

“Ini aksi nyata penerapan nilai Pancasila, pembangunan berkelanjutan dan Gerakan Nasional Revolusi Mental,” timpal Teten Masduki lagi.

Nantinya ISP tidak hanya ditayangkan di bioskop kota besar saja, tapi juga masyarakat Kepulauan Seribu (lokasi pembuatan film) perlu juga diajak nonton beramai-ramai di lingkungan RT, RW dan Balai Desa.

“Tidak cuma nonton film, tapi kamu juga bisa menuai kebaikan dan kebajikan lewat misi film ini,” demikian Teten Masduki berpesan. (pik)

Dimas Anggara Jadi Sutradara Film Bertema Fashion

JAYAKARTA NEWS— Dulu kala, sutradara Nurhadi Irawan pernah membuat film bertema fashion berjudul ‘Bulu Bulu Cenderawasih’ yang difasilitasi model dan peragawan Rahadian Yamin (almarhum).

Namun, kali ini aktor Dimas Anggara mengangkat tema fashion dengan berkolaborasi dengan 19 desainer ternama Indonesia dalam film ‘Outfit Of The Designer’ (OOTD).

“Ini adalah debut perdana saya selaku sutradara. Dan boleh dikatakan OOTD sebagai film Indonesia pertama tentang dunia fashion,” kata Dimas Anggara di Jakarta, baru-baru ini.

Dimas mengatakan cerita ‘OOTD’ dibalut dengan kisah drama percintaan dan pengkhianatan dan hubungan beracun (toxic relationship) yang cukup dekat dengan penonton muda kita.
“Tentu ini level yang berbeda lagi ketika biasanya saya berakting dan kini duduk di kursi sutradara dan mengarahkan para aktor guna menghidupkan ceritanya,” tutur Dimas.

Sebelumnya, dia sudah latihan dulu menyutradarai film pendek bertajuk ‘Jiwa’.
Film ‘OOTD’ dibintangi Jihane Almira, Rangga Nattra, Asmara Abigail, Givina Lukita Dewi, Jolene Marie, Derby Romero, Shelomita Diah, Indra Brasco dan Widyawati.

Adapun 19 desainer nasional yang membuat rancangan desain dan menciptakan karya yang unik di film ini adalah Chossy Latu, Auguste Soesastro, Didiet Maulana, Edward Hutabarat, Itang Yunasz, Denny Wirawan dan masih seabreg desainer lain.

Delly Malik selaku produser dari NIH Pictures mengungkapkan film ini bertujuan ingin mengangkat kekayaan dan keindahan desain fashion khas Indonesia.

“Karya-karya produk desainer kita sangat ramah lingkungan dan kita akan memperkenalkan ke dunia internasional,” urai Delly Malik yang berprofesi sebagai model di masa mudanya.

Film ini bersifat menghibur lewat mata yang melihat keindahan kain-kain alam Indonesia nan cantik. Juga menghibur lewat telinga dengan mendengarkan lagu-lagu hit dan familiar. Mulut kita juga akan diajak membayangkan enaknya makanan khas kita seperti bola ubi, seblak, rawon dan kopi. Hati penonton pun akan terhanyut dengan drama percintaan, toxic relationship dan pengkhianatan.

“Dalam hal ini, saya akan buat penuh ‘plot twist’ di sepanjang film yang akan menggiring penonton terhanyut dan tercengang,” tandas Dimas Anggara mantap.

Benar-benar Dimas Anggara ‘naik kelas’ dari profesi aktor ke sutradara. (pik)

‘Ambar’: Film Horor Dibalut Kisah Cinta dan Kasih Ibu

JAYAKARTA NEWS— Bayi ambar adalah bayi yang meninggal saat kelahirannya atau bayi yang wafat saat dalam kandungan.

“Film horor berjudul ‘Ambar’ mengangkat urban legend lokal karena ada misteri untuk dikupas,” ungkap sutradara Alif Fajrian yang memilih Yogyakarta dan Kuala Lumpur Malaysia sebagai tempat syuting.

Produksi MAF World Picture bersama Bianglala Entertainment ini mengemas cerita menjadi tak seperti film horor kebanyakan. “Karena film Ambar ini bercerita tentang kisah ibu dan anak. Tak hanya menegangkan saja, tapi juga menyentuh dan mengharu biru,” ujar Crystal Angelina selaku produser.

Sependapat dengan Viva Westi selaku Co Producer film ini. “Sutradara Alif Fajrian berani mengusung cerita yang tak umum untuk film horor. Di film ini enggak ada hardcore. ‘Plot twist’ nya yang ditulis Sekar Ayu Asnara makin enggak terduga,” papar Viva Westi.

Dikatakannya, ‘Ambar’ adalah kisah horor yang disampaikan dengan alur drama yang kuat dengan pesan yang ingin disampaikan pas.

“Film ini sangat agamis. Apa yang kamu tanam akan kamu ambil lagi. Ada nilai-nilai moralnya. Bukan horor yang menakuti, tapi juga mengajarkan sesuatu, karmanya akan seperti itu,” imbuh Viva Westi.

Film ‘Ambar’ menghadirkan Dimas Anggara, Jasmine Suraya (aktris Malaysia), Leony, Inggrid Widjanarko, Jenny Zhang, Amanda Tan dan pemeran cilik Mickey.

“Nantinya film ini juga tayang di Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam. Selain kita syuting di Kuala Lumpur, ‘Ambar’ bisa jadi nilai tambah dan daya tarik tersendiri untuk mengajak penonton ketiga negara ke bioskop,” papar Mohamed Nolizam, Co Producer film ini.
‘Ambar’ juga menggandeng para senior film maker Indonesia, yaitu Tio Pakusadewo (acting coach), Sekar Ayu Asmara (penulis skenario) dan beberapa sineas lain.

Dijadwalkan, film ‘Ambar’ akan tayang Agustus 2024 di bioskop Indonesia. (pik)

‘Siksa Neraka’: Biaya Visual Neraka Pakai CGI Sedot Rp5 Miliar

JAYAKARTA NEWS— Anggy Umbara ketika menyutradarai film ‘Siksa Neraka’ menggunakan imajinasinya. “Karena seorang pun tak ada yang tahu seperti apa neraka, saya memakai pendekatan-pendekatan Al Quran,” kata Anggy Umbara kepada penulis usai menggelar gala premier film terbarunya ‘Siksa Neraka’ yang akan tayang di bioskop 14 Desember 2023.

Anggy di film ini memberikan gambaran siksaan di neraka yang diperoleh para pendosa.
“Boleh dibilang ini lebih ke genre ‘slasher’ karena banyak adegan sadis. Penonton harus siap mental,” urai Anggy.

Namun, Anggy menekankan meski banyak adegan sadis yang berdarah-darah, toh ada pesan tersirat untuk penonton. “Di awal dan akhir film, saya selipkan ayat-ayat suci dari Al Quran. Ini lebih realistis,” imbuhnya.

Satu hal lagi, untuk visualisasi penggambaran penyiksaan di neraka dipakai Computer Generated Imagery (CGI) yang menyedot biaya Rp5 miliar.

“Ini terbanyak untuk biaya editing. Saya mau memberi sentuhan visual neraka secara detil. Oke, ini terapi kejut untuk penonton,” ujar Anggy sembari ditambahkan adegan para penghuni neraka dicemplungkan ke lautan lava yang panasnya bukan main.

“Bahkan, ada pendosa yang dibunuh dan disantap binatang beracun raksasa. Nah, bagi yang enggak kuat mental, enggak usah nonton. Visualisasi ini maksudnya agar manusia segera tobat berjamaah,” terang Anggy.

(foto Arul)

Buat Anggy sendiri, film ‘Siksa Neraka’ punya ikatan kuat. Saya pribadi membayangkan para pendosa yang punya kesalahan dan kejahatan di masa lalu,” papar Anggy.

Film ini berkisah tentang orang-orang yang mendapat balasan siksa di akhirat karena telah berperilaku buruk selama hidup di dunia.

Para pemeran di sini adalah Ratu Sofya, Nayla Purnama, Kiesha Alvaro, Rizky Fachrel, Slamet Rahardjo, Ario Wahab, Astri Nurdin dan masih banyak lagi. Film ini diadaptasi dari komik ‘Siksa Neraka’ karya M. B. Rahimsyah yang terbit tahun 1980an.

Nayla Purnama mengaku bersyukur bisa ikut membintangi film ini. “Saya takut melihat siksa di neraka. Makanya saya selalu berbuat kebajikan selagi di dunia,” kata Nayla Purnama.

Aktor senior Slamet Rahardjo sangat antusias melakukan syuting di Siksa Neraka. “Enggak ada manusia sempurna di film ini. Yang bisa luput dari dosa. Falsafah film ini menganjurkan agar kita selalu waspada,” ucap Slamet Rahardjo.

Ario Wahab yang didapuk jadi ustad muda berucap sebagai ayah dan orang tua enggak bisa total mendidik anak-anaknya.

“Di dalam rumah, anak-anak patuh dan manis. Di luar rumah, mereka berbuat nakal. Kita orangtuanya ikut bersalah,” ujar Ario Wahab yang selalu menahan emosi saat syuting adegan menggotong dan memakamkan tiga anaknya yang terseret air sungai. (pik)