Ramadan Penuh Berkah: Acara Indosiar di Bulan Suci

JAYAKARTA NEWS— Beberapa hari lagi, awal bulan suci Ramadan 1445 H bagi umat Islam akan tiba. Salah satu stasiun televisi yang bersiap menyiapkan sederet program penuh berkah adalah Indosiar.

Sesuai tagline ‘Ramadan Penuh Berkah”, yang telah digaungkan 10 tahun terakhir, Indosiar kembali akan menghadirkan ‘Aksi Asia 2024’ di waktu sahur pukul 02.00 WIB. “Program ini ada pembaruan di setiap elemennya. Season kali ini merupakan season ke-4 Aksi Asia. Sedangkan secara keseluruhan, Aksi sudah berjalan selama 12 tahun,” tutur Direktur Programming Indosiar, Harsiwi Achmad.

Tahun ini, Thailand ikut berpartisipasi sebagai peserta baru yang berkompetisi bersama 5 negara Asia lainnya yaitu Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura dan Timor Leste. Masing-masing negara peserta akan mengirimkan empat orang perwakilannya untuk berkompetisi.

Akumulasi nilai yang diberikan oleh keenam jurin akan menentukan kelanjutan perjuangan ustaz/ustazah di kompetisi ini. Ramzi, Irfan Hakim, Gilang Dirga, Abdel, Lady Rara dan Mya Herry (dari Malaysia) akan memandu jalannya acara. Azis Gagap juga akan menjadi virus yang membuat Aksi Asia 2024 semakin seru.

Sementara program FTV ‘Pintu Berkah Spesial Ramadan’ akan hadir di sore hari yang dilanjutkan program ‘Shihab & Shihab’ (Quraish Shihab dan Najwa Shihab) yang berdialog tiap hari pukul 17.30 WIB yang akan menemani pemirsa menantikan waktu berbuka puasa. Kali ini akan membahas kosakata Islami yang kerap dipakai dalam kehidupan sehari-hari dan terkadang kita salah menggunakannya.

FTV ‘Pintu Berkah Spesial Ramadan’ ini diperankan oleh banyak pemain yaitu juara lulusan D’Academy dan Liga Dangdut Indonesia seperti Lady Rara, Melly Lee, Hari Putra, Selfi Yamma, Aulia, Indy Gunawan dll bersama aktor-aktor papan atas seperti Zaky Zimah, Haura Latifah, Ade Setiawan, Adi Irwandi, Zora Fidyanata, Oka Sugawa, Della Alena dan masih banyak lagi.

Kejutan spesial lainnya yang sangat dinanti adalah program favorit yaitu Mega Series ‘Magic5 New Saeson’ yang tayang pukul 18.00 WIB.

Sederet aktor top di antaranya Sridevi DA, Basmalah Gralind, Raden Rakha, Eby DA serta Afan DA ditemani aktor baru seperti Kiesha Alvaro, Habibi Hood, Gita Sinaga, Panji Saputra, Girindra Kara, Raja Nasution, Qubil dll.

“Pemilihan lokasi syuting yang baru juga menyajikan pemandangan alam yang memanjakan mata penggemarnya. Juga kita akan memperkenalkan lagu terbaru berjudul ‘Alhamdullilah’ karya Ryan Wiedaryanto dan Esti TP,” urai Harsiwi Achmad.

“Tema program ‘Ramadan Penuh Berkah’ menjadi pedoman bagi kami untuk terus berupaya menayangkan program-program sebagai tontonan, juga sekaligus tuntunan untuk pemirsa,” imbuh Harsiwi Achmad.

Pecinta sepak bola tanah air juga masih tetap dapat menyaksikan kompetisi sepak bola kasta tertinggi di Indonesia yakni ‘BRI Liga 1 2023/2024’ yang akan hadir di jam tayang utama Indosiar pukul 20.00 WIB selama bulan Ramadan.

Minggu, 10 Maret 2024, pukul 17.30 WIB ada siaran langsung ‘Sidang Isbat 1 Syawal 1445 H’. Ada juga segmen khusus ‘Ramadan Asyik’ dalam program ‘Fokus’ pukul 11.30 WIB setiap hari yang memberikan informasi seputar Ramadan, tempat ngabuburit hingga wisata religi. Jelang perayaan Idul Fitri 1445 H, akan hadir segemen khusus ‘Mudik Asyik’ dan siaran live ‘Salat Idul Fitri 1445 H’.

Mubarak Ramadan ! (pik)

Perjalanan Pembuktian Cinta: Film Religi untuk Ramadhan

JAYAKARTA NEWS— Menyongsong awal Ramadhan yang jatuh pada 10 Maret 2024, Lembaga Training Ilmu Ilmu Al Quran dan Hadist PPA Institute bekerjasama dengan FMM Studios merilis film bertema religi bertajuk ‘Perjalanan Pembuktian Cinta’ (PPC) yang akan beredar 7 Maret 2024.

Disutradarai M Amrul Ummami, PPC berdasar kisah nyata yang diangkat menjadi novel laris oleh Nusaibah Azzahra. “Kisahnya tentang kehidupan seorang wanita yang taat kepada Allah SWT dan berbakti pada orang tuanya,” beber M Amrul Ummami ihwal debut filmnya ini.

Keteguhan dan iman Fathia (Dea Annisa alias Dea Imut) diuji. Dia hanya bisa bersabar, ikhlas dan pasrah pada takdir.

Fathia terseret dalam pernikahan paksa dengan seorang pria yang sudah beristeri bernama Satya (Donny Damara). Padahal Fathia jatuh hati dan ingin menikah dengan Raehan (Teuku Ryan) yang bisa membawanya ke surga.

Namun, apa daya. Ayahnya memaksanya, sedangkan ibunya tidak setuju. Kandas sudah obsesi Fathia yang ingin melanjutkan belajar di Kairo, Mesir.

Dari pernikahan dengan Satya, Fathia hamil. Fathia mengalami ujian bertubi-tubi. Saat anaknya lahir, Satya wafat karena penyakit yang dideritanya. Toh, Fathia tetap pasrah dan ikhlas. Apakah ia telah jauh dari Tuhan ?

“Saya banyak belajar dari film ini. Seorang wanita yang sabar dan ikhlas. Fathia dikeluarkan dari ponpes karena melakukan poligami sembunyi-sembunyi. Isteri pertama suami saya yang bernama Helen pun menuduh saya telah melakukan perselingkuhan tanpa izin dari Helen. Meski secara agama, pernikahan saya dan Satya sah karena dihadiri orang tua pihak wanita dan ada saksi,” urai Dea Anissa.

Segendang sepenarian dengan Teuku Ryan. “Cinta di film ini milik Allah SWT. Meski dikhianati Fathia, Raehan tetap sayang dan percaya pada takdir yang akan mempertemukan kembali Raehan dan Fathia,” timpal Teuku Ryan yang baru pertama main film layar lebar.

PPC yang bakal menguras air mata penonton – terutama kaum wanita – ini juga dibintangi sederet pemeran terkenal seperti Yayu Unru, Elma Theana, Chand Kelvin, Vonny Anggraini, Putri Ayudia, Muzakki Ramdhan, Ananta Rispo dan Dzawin Nur. (pik)

Pasar Setan: Mitos Terkenal di Kalangan Pendaki Gunung

JAYAKARTA NEWS— Bagi para pendaki gunung di Indonesia, mitos Pasar Setan sangat populer.

“Kami mengambil inspirasi dari cerita nyata tentang mitos Pasar Setan dalam dunia pendakian gunung di Indonesia,” ujar sutradara Wisnu Surya Pratama dalam peluncuran film horor berjudul ‘Pasar Setan’ di Plasa Senayan, Jakarta, baru-baru ini.

Produksi IDN Pictures ini menggabungkan dengan karakter-karakter vlogger cerita horor yang sangat dikenal oleh penonton Generasi Z

“Ini pengalaman pertama saya menyutradarai film cerita panjang. Kesempatan bekerja dengan aktor-aktor muda yang potensial sangat istimewa bagi saya dalam menggarap karya film debut ini,” jelas Wisnu Surya.

Winston Utomo, CEO IDN Pictures mengaku sangat bangga bisa bekerja sama dengan para pemeran muda dalam film horor ini.

“Film adalah hasil kolaborasi . Kami yakin film ini akan memberikan hiburan segar dan memikat baik dari segi bentuk maupun cerita,” ungkap Winston Utomo. ‘Pasar Setan’ berkisah tentang Tamara dan tim vloggernya yang memutuskan untuk menjelajahi Pasar Setan, hutan terlarang yang telah menjadi legenda urban dan kisah horor lokal.

Namun, ketika mereka mendalami lebih dalam Pasar Setan, mereka menghadapi berbagai kengerian, di antaranya sulit keluar dari tempat itu serta ancaman dari Nyi Salimah.

Siapakah yang akan selamat keluar dari Pasar Setan dan siapakah yang akan terperangkap di sana selamanya ?

Film ini menampilkan Audi Marissa dalam peran come backnya setelah enam tahun absen dari layar lebar. Selain Audi, juga diperkuat Roy Sungkono, Michelle Tahalea, Kiki Narendra, Pangeran Lantang, Shindy Huang, Agni Pratistha dan pemeran lain.

Juga, pasangan suami isteri Roy Sungkono dan Michelle Tahalea bermain bersama untuk pertama kalinya dalam karakter yang berlawanan.

“Cerita dari film ini sangat menarik karena mengangkat kisah yang jarang dieksplorasi dan disajikan dalam cara yang segar dan berbeda. Juga, film ini membahas isu-isu sosial yang penting,” terang Audi Marissa. (pik)

Mendung Tanpo Udan: Film Komedi Full Berbahasa Jawa

JAYAKARTA NEWS— Seorang aktor harus ‘good looking’, ganteng dan cantik. Ini sebuah adagium klasik yang masih dipercaya oleh produser n sutradara film

Namun, sutradara baru Kris Budiman menjungkirbalikkan teori tersebut dalam debut filmnya bertajuk ‘Mendung Tanpo Udan’ (Mendung tanpa Udan). Dan yang didapuk sebagai pemeran utama prianya adalah Erik Estrada, aktor dan komedian yang berwajah biasa dan tidak terkenal.

“Saya ikhlas. Toh di film ini seorang aktor harus jago akting. Saya percaya naskah memilih karakter,” kata Erik Estrada meneteskan air mata usai menyaksikan gala premier ‘Mendung’ di Plasa Senayan, Jakarta.

‘Mendung’ memprioritaskan percakapan di antara tokohnya full berbahasa Jawa.
‘Syuting juga seluruhnya di Jogjakarta sebagai latar yang masih kental dengan budaya, adat istiadat unggah ungguh dan bahasa Jawa yang sangat dominan,” ungkap Kris Budiman.

Bagi Erik Estrada yang memang lahir dan besar di Jogjakarta, tak masalah. Tapi bagi Yunita Siregar sebagai pemeran utama wanita yang besar di Jakarta, harus belajar bahasa Jawa.
“Mendung yang saya perankan itu cewek cerdas yang ingin jadi wanita karier yang independen.

Drama komedi romantis yang relate dengan anak muda ini berkisah tentang persahabatan yang akhirnya menjadi intim antara Udan dan Mendung. ‘Witing tresno jalaran soko kulino’ benar-benar terjadi. Impian dan cinta.

“Sebagai komedian, di film ini saya menahan diri untuk berimprovisasi. Di film ini, situasi yang ditertawakan,” timpal Erik Estrada yang berperan sebagai Udan, mahasiswa semester akhir yang berobsesi menjadi pemusik ternama.

Kisah cinta orang ramai ini benar-benar lucu dan menghibur. Di setiap adegan, penonton selalu pecah tawa. Pemeran lain seperti Tommy Limm, Kerry Astina dan Aulia Deas juga mampu mengisi ruang kosong dan memanfaatkan celah secara lucu dan pas.

Berdurasi 110 menit, frasa mendung tanpo udan produksi Nant Entertainment diangkat dari lagu berbahasa Jawa ciptaan Kukuh Prasetya Kudamai. Di Jogja, Solo dan daerah yang bahasa utamanya Jawa, lirik lagu ini sangat populer setelah dilantunkan Ndarboy Genk dan Denny Caknan.

Dijadwalkan tayang 29 Februari 2024, film yang skenarionya ditulis atas kolaborasi keroyokan Tony C Sihombing, Gianluigi Christoikov, Kris Budiman dan Agit Romon ini sungguh enak ditonton dan alur ceritanya juga enggak ruwet.

Pemeran lain adalah Marcel Darwin dan Yati Pesek plus seabreg pemeran, talenta dan komika asal Jogja seperti Wijil, Bimacho, Alit Jabang Bayi, Gepeng Kesana Kesini dan Shaggy Dog.
Mendung tanpo udan, ketemu lan kelangan (bertemu dan kehilangan), kabeh kuwi sing diarani perjalanan.

Benar. Perjalanan cinta dan impian yang jadi kenyataan.
Wow ! (pik)

Dealova 2: Cerita Lawas Sentuhan Anyar

JAYAKARTA NEWS— Dealova adalah sebuah novel teenlit karya Dyan Nuranindya. Diangkat ke ranah film tahun 2005 berdasar skenario yang ditulis Hilman Hariwijaya. Kemudian nama Dealova dijadikan judul lagu oleh Opick tahun 2006 dan direkam dan dilantunkan oleh biduan Once Mekel.

Sutradara Ray Nayoan mendadak sontak merilis sekuel Dealova 2 menjadi film drama romantis dan tayang di bulan Februari 2024.

Menyimak kisahnya, produksi Flix Pictures ini tak beda jauh dari versi pertama yaitu berfokus kisah cinta segitiga diseputar atlet basket.

“Ini cerita lawas dengan sentuhan anyar. Enggak ada yang baru, hanya kini saya kemas dengan kekinian. Tokoh-tokohnya sama dan alur ceritanya yang menggugah emosi dikenal luas,” ujar Ray Nayoan.

Kisahnya tentang seorang siswi berhobi basket bernama Libby yang didekati dua cowok teman sekolahnya.

Jelang final kompetisi basket antar sekolah Libby terpaksa minta bantuan Tama untuk melatih dirinya dan teman-temannya. Tama adalah mantan atlet basket tapi sifatnya sangat ketus.
Pada saat yang sama Libby juga minta bantuan sama Abi, anak dari temab ibu Libby.

Obsesi ibu Libby ingin menutupi hobi basket putrinya. Dan Libby pun pura-pura menjadi anggota cheerleader (pemandu sorak).

Bagaimana kisah cinta segitiga ini berakhir ? Happy ending ? “Film ini sudah tayang di bioskop seluruh Indonesia. Kalau saya bocorkan ceritanya, nanti spoiler,” jelas Ray Nayoan.

Givina Lukita Dewi yang berperan sebagai Libby mengaku dia dituntut pandai bermain basket.
“Saya bisa main tapi enggak lihai. Saya hanya ingin deliver karakter Libby lebih dalam pada film versi reboot ini,” cerita Givina.

Sedangkan Pradikta Wicaksono (vokalis Yovie & The Nuno) yang didaulat menjadi Abi harus bisa berakting menjadi sosok yang jauh berbeda dengan dirinya. “Ada sisi lain dari Abi yang aku perankan,” ungkap Dikta Wicaksono.

Harris Vriza yang menjadi Tama melakukan seni peran yang santai.

“Tapi sebagai siswa yang pandai basket itu penyakitan. Pas melatih Libby dan teman-temannya, Tama kerap pingsan. Ini yang aku jaga agar aktingku seimbang,” urai Harris Vriza.
Bagi Anda yang ingin bernostalgia ihwal Dealova, menyaksikan Dealova 2 tak mengecewakan.
Masing-masing pemeran bermain pas sesuai porsinya.

“Tonton saja di bulan Februari ini,” timpal produser Heru Winanto. Hanya lagu tema berjudul Dealova kali ini tak disenandungkan Opick atau Once. Tapi secara keseluruhan, Dealova 2 di era kiwari ini cukup menghibur dan berkesan. (pik)

Sinden Gaib: Horor dari Kisah Nyata

JAYAKARTA NEWS— Trenggalek adalah sebuah Kabupaten di Jawa Timur. Kota penghasil gaplek ini berjarak sekitar 412 km dari Banyuwangi (9 jam lewat jalan darat).
Budaya dan kesenian Turonggo Yakso (semacam kuda lumping dj Jawa Tengah) sangat dikenal di Trenggalek.

Sutradara Faozan Rizal yang menyutradarai film bergenre horor bertajuk ‘Sinden Gaib’ ini memasukkan seni tari Turonggo Yakso.

Dikisahkan, Ayu dan Rara serta beberapa temannya tengah syuting film dokumenter tentang tari tersebut di Watu Kandang, Trenggalek. Salah seorang kawan Ayu mengambil batu keramat yang jadi lokasi film.

Sejak saat itu, Ayu didatangi sosok sinden dari jagat alam gaib, mbah Sarinten. Hingga kini Ayu harus hidup berdampingan dan bersemayam dengan sosok yang merasuki tubuhnya, mbah Sarinten.

Banyak paranormal diminta mengatasi gangguan itu, sampai melibatkan konten kreator supranatural. Namun, gangguan itu justru semakin menjadi-jadi. Kecerobohan yang berdampak melahirkan teror yang malah mengancam nyawa.

Momen syuting dipenuhi hal-hal mistis dan tak masuk akal. “Saya sempat terkejut saat saya ingin bicara sama Ayu, malah sosok mbah Sarinten yang hadir di tubuh Ayu,” cerita Faozan Rizal.

Produser Chand Parwez Servia dari Starvision mengungkapkan melalui film ini ingin menghadirkan kisah film horor yang diangkat dari kisah nyata.

“Ini bisa menjadi pembelajaran bagi penonton agar selalu menjaga tata krama ketika berkunjung ke suatu tempat baru sehingga hal-hal yang bisa memunculkan risiko bisa dihindari,” urai Chand Parwez Servia.

Dia percaya cerita-cerita yang memiliki nilai lokalitas kedaerahan juga punya relevansi bagi penonton luas lewat film horor.

“Film ini juga mengajarkan kita agar selalu menghormati yang menjadi kepercayaan lokal dan selalu berhati-hati dalam setiap kita bertindak,” imbuhnya.

“Sinden Gaib’ yang akan tayang 22 Februari 2024 ini dibintangi Sara Fajira, Riza Syah, Dimas Aditya, Naufal Samudra, Arla Ailani, Laras Sardi, Rizki Hanggono, Yeyen Lidya, Liek Suyanto, Yuyun Arfah dan Novita Hardini dll.

Sara Fajira yang juga seorang penyanyi ini menceritakan pengalamannya yang sangat kompleks.

“Selain berakting, aku juga harus menyinden dengan langgam Banyuwangi,” jelas Sara Fajira yang nemerankan Ayu yang harus membagi jiwanya dengan mbah Sarinten.

Sutradara Faozan Rizal yang juga penata kamera ini sangat detil dan cermat memindahkan kemistisan dan kekeramatan alam Trenggalek ke kameranya.

Ia bisa menyajikan panorama daerah yang elok dan permai tapi di adegan berikut penonton sudah dipenuhi kengerian.

Kerjasama yang lihai dengan penata musik Fajar Ahadi dan penata visual efek Heri Kuntoro menghasilan sesuatu yang mistis, kelam dan menakutkan. (pik)

Women from Rote Island: Korban Kekerasan Seksual di Sekitar Kita

JAYAKARTA NEWS— Korban kekerasan seksual ada di sekitar kita. “Enggak usah jauh-jauh. Bisa isteri, keponakan atau adik kita. Hati-hati. Bisa pelakunya kawan atau tetangga kita sendiri,” lontar sutradara Jeremias Nyangoen usai menyaksikan debut penyutradaraannya dalam pertunjukan gala film berjudul ‘Women from Rote island,” di XXI Epicentrum, Jakarta.

Produksi Bintang Cahaya Cinema dan Langit Terang Sinema ini berkisah tentang Orpa yang baru pulang menjadi TKW di Sabah, Malaysia.

Di kampung halamannya di Pulau Rote (NTT) ia mengidap trauma dan depresi. Setelah suaminya wafat ia mengalami perlakuan kurang senang dari lingkungan sekitar. Orpa dilecehkan secara seksual oleh seorang pria bejad setempat. Bahkan, anaknya bernama Martha juga mengalami nasib serupa.

“Saya menulis cerita ini berdasar kisah nyata,” cetus Jeremias Nyangoen yang pernah menulis skenario dan berperan sebagai aktor.

Korban-korban kekerasan seksual umumnya wanita yang masih direndahkan harkat, martabat dan emansipasinya karena budaya patriarki.

“Film ini saya buat tentang wanita. Tentang ibu. Saya punya ibu, anak dan keponakan juga cewek. Ini dilemanya,” terang Jeremias jujur. “One shoot long take,” timpalnya menanggapi pertanyaan wartawan ihwal banyaknya tembakan long shoot di film perdananya.
“Ini konsep saya. Dalam satu tembakan kamera mengisahkan satu efek, satu peristiwa,” imbuh Jeremias lagi.

Produser Rizka Shakira menjelaskan 2,5 % dari pendapatan penayangan film akan diperuntukkan untuk korban-korban wanita akibat kekerasan seksual. “Ini isu sensitif. Tapi kami insan film harus berani mengungkapkan peristiwa ini,” tegas Rizka Shakira yang membawa film ini ke FF Internasional di Busan, Korea Selatan dan beberapa FF lain.

Di dalam negeri, ‘Women from Rote Island’ juga mendapat apresiasi sebagai film terbaik di FFI di Jakarta 2023 (4 piala Citra), film terbaik di FF Tempo dan diputar di JAFF Netpac di Jogjakarta.

Beberapa pemeran lokal menghiasi keelokan film ini, duantaranya Irma Rihi, Linda Adoe, Sallum Ratu Ke, Van Jhoov, Willyam Wolfgang dan banyak lagi pemeran lain. Linda Adoe terpilih sebagai Orpa dalam tes pemeran.

“Saya lihat matanya selalu berair. Dia bekerja sebagai ASN (aparatur sipil negara) di Kupang. Pas jadi Orpa,” komentar Jeremias Nyangoen.

Diakurasi LSF untuk 17 tahun ke atas, film ini akan beredar di bioskop 22 Februari 2024 dan juga bakal ditayangkan di 6 negara jiran.

Sinematografer Joseph Christophorus Fofid secara apik sukses memindahkan keelokan dan keindahan panorama laut nan tenang dan keakraban kaum wanita di Rote ke kamera. Nilai tambah juga patut diberikan kepada Penata musik Leodet.

Irama musiknya begitu bergelora dinamis saat wanita Rote diperkosa dan dilecehkan. Pas tembakan kamera mengarah ke birunya laut nan tenang menghanyutkan, nada musik berubah menjadi kalem merasuk jiwa.

Tiada pemeran terkenal dan bintang dari Jakarta. Syuting di daerah terpencil di NTT dan jauh dari Ibukota RI, toh Women from Rote Island berhasil menyodok nurani kita : ini film terbaik !
Ini kisah kita. One shoot long take! (pik)

Ali Topan Dibuat Ulang di Era Kiwari

JAYAKARTA NEWS— Ali Topan adalah sosok anak muda rekaan novelis Teguh Esha. Dari novel kemudian dibuat film, disinetronkan dan kini kembali difilmkan.

Ali Topan di era kiwari karya sutradara Sidharta Tata yang beredar di bioskop 14 Februari 2024 bertepatan dengan hari Valentine dan hari pencoblosan Pemilu RI.

Berkisah tentang romansa dua anak muda yang menginginkan kebebasan di tengah kekangan keluarga dan tekanan yang menghantam mereka. “Ali Topan dan Anna Karenina adalah representasi nilai ‘rebel tapi responsible’ yang sangat lekat dengan jiwa dan spirit anak muda kiwari,” kata Sidharta Tata.

“Selain menyajikan drama, juga ada keseruan dari petualangan road trip Ali dan Anna. Kisah ini saya bungkus dengan musik underground guna menghidupkan Ali Topan dan skena-nya,” gedor Sidharta Tata.

Produksi Visinema Pictures bekerja sama dengan Legacy dan Kebon Studio ini diangkat dari novel laris ‘Ali Topan’ karya Teguh Esha yang populer di era 70an.

Cerita pun dikembangkan agar relevan dengan konteks anak muda masa kini dengan berbagai masalah yang dihadapi mereka.

Film ini dibintangi Jefri Nichol dan Lutesha. Juga Ari Sihasale (pemeran Ali Topan di sinetron), Onadio Leonardo, Reza Hilman, Omara Esteghlal, Anya Zen dan Axel Matthew Thomas.

” Di sini saya fokuskan anak muda bebas berpikir dan bebas bersuara. Bahkan bebas mengekspresikan musiknya di Warung Seni,” imbuh Sidharta Tata lagi.

Bisakah keberanian Ali Topan dan Anna Karenina mengalahkan semua orang yang yang menentang ? (pik)

Gandhi Fernando Come Back

JAYAKARTA NEWS— Sepuluh tahun vakum, aktor, produser dan penulis skenario Ferdinandus Gandhi Fernando Hasmana (34 tahun) kini kembali ke dunia film.

Film yang diproduserinya bertajuk ‘Lampir’ dan akan beredar 14 Februari 2024 bertepatan Hari Valentine dan Hari pencoblosan Pemilu. “Film ini terinspirasi dari cerita legenda Mak Lampir. Disutradarai Kenny Gulardi, ‘Lampir’ memang menyeramkan dan bikin merinding,” lontar Gandhi Fernando yang juga berperan sebagai aktor utama.

“Aku bangga banget. Karena Lampir berhasil aku rampungkan. Di film ini, aku banyak mengajak bintang baru seperti Rory Asyari, Jolene Marie, Hana Saraswati, Ravi Pestrani dan Gesya Shandy. Tapi aku juga menggaet pemeran senior yang lama enggak main, diantaranya Ardina Rasti, Ge Pamungkas dan Arthur Tobing,” beber Gandhi Fernando yang juga bekerja sebagai kreator konten.

Dengan Ardina Rasti dan pemeran lain, Gandhi bisa cepat chemistry.
Diceritakannya, ada pengalaman mistis yang dialaminya selama syuting di Depok dan Bogor.

“Dua kali syuting dengan Rory Asyari, mendadak sontak wallpaper yang semula ada di villa tercabut sendiri. Ini ketangkap kamera dan adegannya benar-benar bikin merinding. Percaya enggak percaya, ini aku alami di depan mata,” urai Gandhi yang berperan sebagai fotografer wedding.

Lebih lanjut, model blasteran India-Manado ini menerangkan kenapa ia tertarik memfilmkan Lampir.

“Tawanya sangat ikonik. Lampir itu punya dua wajah. Yang kiri berwajah muda-an dan yang kanan jadi nenek tua dan peot. Beruban dan berambut panjang. Ide ini terus berkecamuk di kepalaku selama puluhan tahun,” imbuh Gandhi lagi.

Sewaktu gala premier di 8 studio di CGV Grand Indonesia, banyak penonton berteriak ketakutan.

“Lampir siap memberi ketakutan dan meneror penonton. Dan LSF mengakurasi film ini untuk 17 tahun ke atas,” timpal Gandhi yang pernah meraih gelar Mr Supranatural di Bangka Belitung tahun 2018.

Murid Didi Petet dan Yayu Unru ini pernah menempuh pendidikan seni akting di New York Film Academy.

Merintis di dunia hiburan dengan membintangi puluhan film nasional diantaranya ‘Tuyul’, ‘Pizza Man’, ‘Midnight Show’, ‘Zodiac, Apa Bintangmu’, ‘Mantan’, ‘Mobil Bekas dan Kisah-kisah dalam Putaran’ dan yang membekas saat Gandhi Fernando dan Tara Basro di film ‘The Right One’ (syuting full di Bali dan dialog yang digunakan bahasa Inggris).

Sedangkan acara-acara TV yang pernah diperankan diantaranya ‘Pondok Pak Cus’, ‘Out of Control’, ‘School of the Dead’ dan lain-lain.

“Dari kecil aku ingin jadi aktor. Dan saat ini aku terus belajar, belajar dan belajar. Aku enggak pernah puas dengan satu peran yang aku mainkan. Jadi aku harus dan siap memerankan peran lain. Dari jadi sosok yang baik sampai peran antagonis,” papar Gandhi Fernando yang juga dipercaya sebagai Presiden International Male Pageants (IMP).

Apakah Lampir akan dibuat sekuel nya ?

“Besar kemungkinan, ya,” jawab Gandhi Fernando optimis.
Mainkan terus, Gandhi ! (pik)

Kado Terindah Milad 77 HMI: Biopic Lafran

JAYAKARTA NEWS— Peristiwa milad dirayakan setiap tahun. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) merayakan hari jadinya ke 77 di XXI Epicentrum Jakarta berupa kado terindah dengan meluncurkan biopic (biographic picture) bertajuk ‘Lafran Pane: Demi Waktu’.

“HMI adalah ormas tertua di Indonesia. Pendirian HMI tanggal 7 Februari 1947 di Jogjakarta bertujuan untuk meningkatkan pendidikan dan intelektualisme sebagai alat kemajuan bangsa di kalangan mahasiswa Islam di Indonesia,” kata Ir Akbar Tanjung yang menggagas film ‘Lafran’ (pendiri HMI).

“Tujuan pembuatan film ini guna melestarikan pengkaderan HMI agar lebih efektif lagi,” beber Akbar Tanjung yang pernah jadi Menpora di Kabinet Soeharto.

Hadir dalam acara milad selain Ir Akbar Tanjung, juga tokoh dan kader HMI seperti Iqbal Pane (putra almarhum Lafran Pane), Bagas Kurniawan (Ketua HMI) dan para sineas.

Dikatakannya, seni film yang merupakan alat dakwah dan promosi paling efektif harus diterima dan ditonton oleh kader HMI di seluruh Indonesia. “Bahkan, kita jadwalkan akan menggelar road show di 30 kota di Indonesia pasca Pemilu,” imbuh Akbar Tanjung.

Senada produser Avesina Soebli. “Film ini mengangkat kisah kehidupan pendiri HMI Lafran Pane dan meningkatkan spirit ke-Indonesiaan dan ke-Islaman para kader HMI dan masyarakat umum,” ungkap Avesina Soebli.

Film ini dikatakannya ditujukan untuk masyarakat muslim dan penonton Indonesia lintas agama yang berdemokrasi, berbangsa dan bernegara.

“HMI menjadi arus utama keIslaman yang terbuka, toleran, modern dan menghargai perbedaan pendapat,” urai Avesina Soebli yang menambahkan film ini akan ditayangkan bulan Mei setelah Lebaran 2024.

“Kami juga berencana melanjutkan sekuelnya sekitar pertentangan paham antara HMI dan PKI. Sebagai sineas, sejarah yang konstektual harus diangkat dan enggak boleh ditutup-tutupi,” tegasnya.

Film berlatar tahun 1940an ini mengisahkan perjalanan kehidupan masa muda Lafran Pane mengusir penjajah dari bumi Indonesia. Lafran pernah menjadi petinju jalanan dan aktifis.
Dimas Anggara bermain elok sebagai Lafran Pane.

“Saya baca tulisan-tulisan dan kisah heroiknya di banyak koran dan majalah. Juga saya berziarah dan berdoa di makam almarhum di Karangkajen, Jogjakarta,” kata Dimas Anggara didampingi pemeran lain seperti Ratna Riantiarno, Farandika, Nabil Lunggana, Lala Karmela, Rangga Nattra dan lain-lain. (pik)