Film ‘Ambu’: Tentang Cinta Kasih dan Kegetiran

JAYAKARTA NEWS – Ibu adalah semesta pertama manusia. Ibu adalah sosok yang pertama kali bersentuhan dengan kita, bahkan sejak kita masih dikandungnya.

Ketika sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW bertanya kepada Sang Nabi, siapa orang pertama yang harus dihormati, maka Nabi menjawab : Ibumu. Yang kedua, wahai sang Nabi. “Ibumu’, jawab Nabi. Dan yang ketiga ? “Ibumu,” jawab Nabi sekali lagi.

Nyata sudah, ibu adalah segalanya. Ibu adalah inti dari kelahiran umat manusia. Ada pepatah mengatakan, bahwa Surga terletak di telapak kaki Ibu.

Lalu, bagi orang Baduy, Ibu – atau dipanggil dalam bahasa Sunda : Ambu – adalah dunia kecil sekaligus dunia besar di bawah naungan semesta.

Film perdana produksi SkyTree Pictures yang disutradarai Farid Dermawan (pertama kali juga jadi sutradara film bioskop) ini mengisahkan tentang Ambu Misnah (Widyawati) yang ditinggalkan anak perempuan satu-satunya, Fatma (Laudya Cynthia Bella), pergi dari rumah mereka di Baduy, demi cintanya kepada pemuda Jakarta, Nico (Baim Wong).

Fatma kemudian memiliki anak bernama Nona (Lutesha). Hingga di suatu hari yang biasa, Fatma membawa Nona pulang kembali ke Baduy ke haribaan Ambu Misnah.

Ini dilakukan setelah usaha kateringnya bangkrut dan rumahnya dijual.Selain itu, pernikahannya dengan Nico juga di ujung tanduk, Nico marah-marah dan memukul Fatma jika Fatma kehabisan uang. Upaya kembali ke Ambu adalah semesta pertamanya.

Apakah Fatma diterima kembali di masyarakat Baduy yang kukuh memegang adat dan tradisi budayanya ?

Ada penolakan. Ada amarah. Ada luka.

Namun, di sisi lain, ada juga harapan. Ada juga kebahagiaan yang berusaha keras untuk jadi pemenang.

Cerita yang skenarionya ditulis oleh Titien Wattimena ini tak sekedar menawarkan cerita yang penuh dengan kedalaman rasa. Gambaran ketegaran seorang ibu terhadap anaknya dan konflik batin dalam menghadapi yang terjadi antargenerasi diangkat dalam cerita berlatar belakang kebudayaan Baduy.

Ambu adalah keindahan cinta kasih yang sekaligus sebuah kegetiran cinta platonis. Kita bisa ‘membaca’ falsafah di film ini bahwa ibu tak hanya berhenti jadi semesta pertama. Ia terus ada dan siap menjadi semesta terakhir kita.

Di film drama yang penuh kepahitan dan kebahagiaan di ending ini hampir seluruhnya mengambil lokasi di kegelapan. Tak ada listrik. Tak ada telepon genggam. Dan tak ada kompor atau gas. Semua serba alam dan semua dikembalikan ke alam.

Memasak air dan menggoreng ikan di dapur yang sangat tradisional alami yaitu dengann kayu bakar. Mandi di sungai atau airnya ditampung di bak mandi yang masih sederhana.

Mengapa memilih Baduy ?

“Kami sengaja memilih Baduy sebagai lokasi syuting selama 32 hari karena kecantikan dan kesederhanaan alamnya. Keelokan dan kelapangan hati perempuan Baduy tercitrakan lewat tiga karakter di film ini, yaitu Misnah, Fatma dan Nona,” jawab Titien Wattimena.

Dari awal hingga akhir, penuh tangis penyesalan, pemaafan dan sekaligus kebahagiaan yang divisualisasikan lewat persatuan tiga perempuan dalam satu keluarga Baduy. Widayawati sebagai Misnah bermain sangat natural, wajar dan tak ada tandingnya.

Mimik dan gesture ketika melihat kembali putrinya yang telah kabur dari adat Baduy, pertama dia marah dan galak. Untuk kemudian, setelah berminggu-minggu Fatma dan Nona tinggal di rumah Misnah, hati Misnah semakin cair dan lumer.

Diam-diam ia menangis dalam gelap ketika melihat Fatma terkena kanker payudara stadium terakhir. Melihat cucu pertamanya, Nona, Misnah pun semakin menyayanginya.

Titien Wattimena yang juga bertindak selaku produser mengaku Ambu adalah film Indonesia pertama yang mengambil latar belakang budaya Baduy, bahkan syutingnya pun dilakukan di Baduy.

Di sisi lain, Yudhi Datau sebagai penata kamera boleh dipujikan, Keelokan alam Baduy yang masih murni berhasil diangkat ke layar lebar. Yudhi Datau boleh dikata lihai mengambil gambar dengan ciamik dan menawarkan sudut pengambil gambar yang istimewa serta memanjakan mata. Sebuah wilayah yang jarang terjamah, penuh kesederhanaan dan kepolosan dalam kehidupan sehari-harinya serta ditambah lagi dengan kemegahan alam Baduy yang memukau.

Penata musik Andi Rianto juga tepat mengisi setiap adegan gambar yang berkejaran santun di depan mata kita. Ia pandai memasukkan unsur musik Baduy dengan instrumen musiknya yang khas yang jarang kita temui di pergelaran musik panggung.

Yang mengejutkan adalah penampilan Widyawati yang menyanyikan lagu tema di film ini. Hampir puluhan tahun Widyawati tidak tampil di dunia musik – terakhir bersama saudara-saudaranya di Trio Visca – mendadak sontak unjuk diri di film ini. Sebuah gimmick atau promosi ?

Penata artistik oleh Alan Sebastian patut juga diketengahkan. Dia berhasil membuat hampir semua pemain yang non-Baduy yang notabene dari Jakarta bermain cemerlang dan bernas. Pakaian adat yang dikenakan enak dilihat.

Bahkan, Widyawati dan Fatma terlihat berjalan kaki tanpa sepatu atau sendal di bebatuan jalan Baduy. Beberapa masyarakat Baduy yang masih polos dan innocent juga disyut kesehariannya, dari menenun, beternak ayam dan sapi atau berjualan ikan dan sayuran di pasar.

Ambu adalah film yang ceritanya bisa mengaduk emosi dan perasaan. Plot lurus dan mudah diikuti. Namun, di saat kemarahan meluap, diselipkan bumbu humor. Enditha Wibisono sebagai perempuan Baduy asli bernama Hapsa dengan vokal nan melengking dan rias wajah yang lucu sangat mewarnai fi;lm ini.

Happy ending. Tiga perempuan Baduy tidur bersama di atas kasur yang sederhana : Misnah, Fatma dan Nona. Misnah ikhlas melepas kepergian puterinya yang telah kembali keharibaannya akibat penyakit kanker payudara ganas (juga, Fatma setelah 40 hari di Baduy, diupacarai kembali secara adat Baduy dan diterima kembali sebagai warga Baduy) yang menyerang tubuhnya yang ringkih dan kurus.

Namun, takdir Sang Penguasa tak bisa ditolak. Fatma tutup usia dipeluk Misnah dan anak tunggalnya, Nona yang menangisi kepergian ibu kandungnya. Wasiat Fatma agar Ambu Misnah menerima kembali kehadiran cucunya, Nona yang telah berusia 16 tahun telah digenapi.

Sebuah penyelesaian yang memikat. Namun, mencuat pertanyaan, jadikah Nona menikah dengan pria Baduy bernama Jaya (Andri Mashadi) dan meneruskan sebagai Ambu berikutnya ?

Film yang penuh kearifan lokal ini sekali lagi menyuguhkan cerita yang jujur dan sinergi akting para pemainnya terjalin natural. Dan khusus untuk sutradara Farid Dermawan. (Ipik Tanoyo)

MAXsteam Hadirkan Serial Ramadan ‘Negeri 5 Menara’


JAYAKARTA NEWS – Untuk menyambut Ramadan dan Idul Fitri 1440 H, Telkomsel melalui aplikasi video streaming MAXstream meluncurkan serial drama religi bertajuk ‘Negeri 5 Menara’.

Untuk memproduksi serial ini, Telkomsel bekerjasama dengan Melon Indonesia dan rumah produksi E-Motion.

Serial yang dikemas dalam 30 episode mulai tayang perdana per episodenya setiap hari selama bulan Ramadan pada tanggal 6 Mei 2019 dan akan berakhir tanggal 5 Juni 2019 pada pukul 17.00 WIB.

“Negeri 5 Menara’ adalah karya sutradara Reka Wijaya (‘Bajaj Bajuri’) dan produser Avesina Soebli (‘Laskar Pelangi’, ‘Garuda di Dadaku’). Melalui serial ini, penonton diajak untuk merefleksikan tujuan hidup dan tetap menempuh semangat tabah mengejar mimpi (Man Jadda Wa Jada).

Serial ini dibintangi oleh Prilly Latuconsina, Ajil Ditto, Chand Kelvin, Jennifer Coppen, Doni Damara, Farandika, Damara Finch, Difa Riansyah, Naufal Azhar, Aeif Alfiansyah, Fay Nabila, Ariyo Wahab, David Khalid, Zaskia Adya Mecca, Tasman Taher dan Mario Irwinsyah.

“Serial ini sangat inspiratif yang dibungkus dengan konsep interaktif. Kami sangat antusias menghadirkan konten bertema religi dalam MAXStream Original.

Strategi kami untuk mengangkat konten lokal sesuai dengan visi kami untuk menjadi pengembang ekosistem digital di Indonesia melalui MAXStream sebagai bagian dari layanan digital lifestyle experience,” kata Head of Digital Lifestyle Telkomsel, Crispin Tristram dalam acara peluncuran serial ‘Negeri 5 Menara’ di Gedung Telkom Hope, Jakarta, belum lama ini.

Direktur PT Melon Indonesia, Dedi Suherman mengemukakan rasa bangganya dalam peluncuran serial ini.

“Kami memilih buku novel ‘Negeri 5 Menara’ karya Ahmad Fuadi untuk diadaptasi karena memiliki pesan yang religius dan sesuai dengan momen Ramadan dan Idul Fitri.

Selain itu, pesan moral dalam cerita ini sangat relevan dalam masyarakat lintas generasi. Proyek ini merupakan upaya baru Melon untuk berekspansi dari musik digital ke konten video digital,” ujar Dedi Suherman.

Sedangkan produser Avesina Soebli memaparkan bahwa mengadapsi buku best seller merupakan tantangan tersendiri.

Selain menjadi best seller, buku ini pernah menjadi film box office (ketika difilmkan pertama kali sekitar 10 tahun silam) di Indonesia. Melihat animo publik yang menggemari serial ini, kami ingin menggali lagi kisah-kisah di luar cerita novel dan film,” kata Avesina Soebli.

Kisahnya mengikuti alur perjalanan Alif dan lima sahabat masa kecilnya yang membentuk pertemanan di pesantren dan berjanji dibawah menara masjid pesantren, suatu hari nanti ketika mereka sudah dewasa, mereka akan bertemu kembali di Trafalgar Square, London-Inggris.

Tatkala beranjak dewasa, Alif yang tengah menuntut ilmu di Amerika, datang ke Inggris untuk memenuhi janji dengan teman-teman alumni pondok pesantren,

Tak dinyana usaha keenam sahabat ini untjuk merealisasikan janjinya ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Cerita bergulir ke masa sebelumnya, Alif masuk ke pondok pesantren karena mengikuti kemauan ibunya yang ingin Alif seperti Buya Hamka.

Dalam kegalauan sekolah di pesantren, Alif menemukan kata-kata dari Ustadz Salman ‘Man Jadda Wa Jada’, siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses. Ibarat mantra, keenam sahabat ini berusaha keras untuk menggapai impian mereka. (pik)

Kucumbu Tubuh Indahku: Dipuji di Venice, Dicerca di Tanah Air

JAYAKARTA NEWS – Film “Kucumbu Tubuh Indahku” –yang diusung dalam Festival Film Venice dengan judul “Memories of My Body”, memberi gambaran, bahwa sebuah karya seni yang di kancah global mendapat pujian, di tanah air nasibnya bisa bertolak belakang.

Benar, dalam Festival Film Vanice untuk seksi Horizon, film garapan Sutradara Garin Nugroho –nama yang tidak asing lagi di festival film yang amat diperhitungkan di dunia dan digelar di Prancis itu– dengan meraih predikat terbaik untuk kategori tersebut, benar-benar tidak beruntung di tanah “kelahirannya.

Film yang mengangkat sisi gelap [tragedi] “budaya” Indonesia di masa lalu, “lengger lanang”, di mana-mana mendapat reaksi penolakan. Sempat diputar di bioskop, akhirnya film ini tidak bisa lagi tayang, karena mendapat penolakan dari kelompok-kelompok muslim di tanah air. Mereka juga menyerukan agar daerah-daerah lain juga melarang film tersebut. Kelompo tersebut menilai, film ini “menyimpang secara seksual” dan mempromosikan “nilai-nilai LGBT.”

Film ini menggambarkan kisah seorang pemuda dari kelompok tari yang menampilkan Lengger Lanang, tarian rakyat dari Jawa Tengah yang biasanya dipertunjukkan berpasangan, dimana laki-laki sering mengambil peran laki-laki dan perempuan.

Hal ini didasarkan pada kisah nyata Rianto, seorang penari yang dilecehkan ketika masih anak-anak, mengeksplorasi maskulinitas dan femininitas ketika tumbuh dewasa, dan mengalami pengalaman traumatis, diskriminasi dan kekerasan. Rianto sendiri berperan sebagai penari saat dewasa dan menceritakan film tersebut.

Film ini mendapat apresiasi di bagian Horizon Festival Film Venice, di mana ia memenangkan hadiah untuk film terbaik. Film ini juga dinominasikan untuk memperoleh hadiah Queer Lion. Penghargaannya juga termasuk Montgolfiere d’Or untuk film terbaik di Festival des 3 Continents di Perancis dan Cultural Diversity Award di Asia Pacific Screen Awards. Dalam kemitraan dengan APA, film ini juga diputar untuk UNESCO di Paris, pada bulan Desember lalu.

Tetapi pada kenyataannya, film ini mengalami masalah di tanah airnya, setelah dirilis pada tanggal 18 April 2019. Setelah diberi label “17+” oleh Lembaga Sensor Film (LSF), film ini diedarkan oleh produser Fourcolours Films.

Harus diakui, hingga kini Indonesia baru memiliki sangat sedikit distributor independen. Artinya, produsen film di sini biasanya menanggung risiko lebih besar apabila mengandalkan dirinya untuk mengedarkan film, melepaskan diri dari agen.

Dalam waktu kurang dari sepekan, film ini dilarang oleh para pejabat lokal di daerah-daerah, di antaranya Depok, Palembang, Riau dll. Kalangan muslim meminta agar Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa untuk menolak film ini.

Arovah Windiani, juru MUI, mengatakan bahwa, dari perspektif moral, film “tidak boleh ada di luar sana.” Yang lain mengatakan mereka telah mengajukan banding ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), yang mengatur Industri TV, tetapi tidak memiliki otoritas atas rilis film bioskop, untuk juga melarang film ini.

Sekalipun hanya sedikit orang yang sudah menonton film itu, tetapisebuah petisi online telah beredar yang menyerukan film “Kucumbu Tubuh Indahku” untuk dilarang. Film besutan Harin Nugroho ini dikecam, tidak terkecuali sang sutradaranya, yang dinilai karyanya sebagai “bahaya bagi kaum muda.”

Pada hari Senin lalu, MUI menuntut LSF mengubah sertifikasi film menjadi 21+, dan merekomendasikan agar Nugroho mengedit kembali film tersebut agar maknanya kurang ambigu.

Namun Garin Nugroho menolak untuk merevisi film dan mengatakan, bahwa dia menentang “pengadilan massa.” Dia pun telah menjadi “tuan rumah” diskusi publik tentang filmnya di pusat-pusat seni di seluruh negeri.

Dengan pemutaran yang dilarang di lima provinsi, film ini sekarang diputar di hanya tiga layar di negeri terpadat keempat di dunia ini.

Komite Sutradara Film Indonesia telah mengeluarkan pernyataan yang mendukung Garin Nugroho, dan mengutip sembilan contoh lain di mana penentangan dengan dalih agama yang muncul secara online, telah berdampak pada film-film Indonesia.

Organisasi itu mengatakan bahwa tekanan semacam itu berlawanan dengan program pendidikan pemerintah, dan menyarankan agar para pejabat dan masyarakat menonton film sebelum bertindak melawan mereka.

Ironisnya, mungkin saja Lengger Lanang, sebagai bentuk tariannya, tamoaknya telah disalahpahami. Padahal, namanya tersebut diyakini merupakan kontraksi dari frasa “elinga ngger,” [ingatlah nak], yang merupakan saran berbahasa Jawa yang harus diperhatikan atau diingat.

Hal itu sebelumnya telah ditafsirkan sebagai pesan moral untuk mengingat Tuhan, dan melakukan perbuatan baik untuk orang lain. Sumber lain mengatakan bahwa secara historis Lengger sebenarnya digunakan untuk mempromosikan Islam di Indonesia.

Interpretasi itu tidak cocok dengan iklim saat ini di Indonesia. Pemilihan presiden dan pemilihan umum bulan lalu, sebagian besar isu yang dijual atas dasar agama.

“Ini adalah dilema Indonesia hari ini,” kata produser Ifa Isfansyah. Indonesia terbagi antara Sufi dan Wahhabi [pemeluk agama Islamnya. Menurut] Wahhabi, semuanya harus mengikuti budaya Arab, menolak mayoritas tradisi Indonesia dan pengaruh seni dan tari Hindu dan Budha, yang juga merupakan tradisi lokal kita. ”

Titiek Puspa Unjuk Kebolehan bersama Anak Anak di ‘Hey Tayo’

JAYAKARTA NEWS –  Penyanyi  senior Titiek Puspa, yang tahun ini berusia 82 tahun, akan tampil bersama anak-anak dalam program ‘Hey Tayo’  di Teater Garuda, TMII, Jaksel, 3 Mei 2019 mendatang.

Dalam acara ultah ke 5 stasiun televisi RTV itu, selain ‘eyang’ Titiek Puspa, artis-artis terkenal lainnya juga akan unjuk kebolehan. Mereka  diantaranya adalah keluarga Nola dan puteri-puterinya, Naura dan Neona, keluarga Enda Ungu dan puterinya, Zara Leola, Ada Band, Marion Jola, Pak Tarno, Maisha Kenna, Wlliam Steve, Viria Rici, DJ Codox,  Bublleman, Choir JKCC, Mpok Alpha, Qemil, Chico, Khadijah, Muzakki bersama Dwi Andika, Onad dan Novi.

‘Hey Tayo’ akan mengusung konsep drama musikal yang menghadirkan talenta anak-anak Indonesia berbakat dan berkolaborasi dengan ikon program terkenal RTV yaitu Tayo dan kawan-kawan.

“Saya senang tampil bersama anak-anak berbakat. Mereka cukup jeli dan cepat menangkap apa yang diperintahkan sutradara drama musikal ini. Mereka selain lihai berakting di panggung, juga terasah di bidang seni suara. Makanya, saya bangga bisa bernyanyi dan menari bersama anak-anak,” kata Titiek Puspa kepada penulis.

Nama Titiek Puspa memang terkenal sebagai pelopor Operet Lebaran bersama Persatuan Penyanyi Ibukota (Papiko) di TVRI di tahun 70-an dan 80-an. Bahkan, beberapa kali Titiek Puspa juga unjuk kebolehan di layar bioskop dalam film musikal bersama penyanyi anak-anak seperti ‘Bawang Merah Bawang Putih’, ‘Minah Gadis Dusun’, ‘Dibalik Cahaya Gemerlapan 1’ dan ‘Dibalik Cahaya Gemerlapan 2’ dll.

Ketika ditanya, berapa lagu yang akan dinyanyikannya dan judulnya apa saja, lagu lama atau lagu baru, Titiek Puspa yang masih centil ini merahasiakannya. “Nanti spoiler, nanti dilihat saja deh…,” canda Titiek Puspa yang pernah meroket namanya lewat lagu ‘Cinta’, ‘Si Hitam’, ‘Kupu Kupu Malam’, ‘Ayo ke Bank’, ‘Semau Gue’ dan sederet lagu lainnya. 

Dalam menyambut Ramadan 1440 H, RTV juga telah menyiapkan sederet program andalan untuk keluarga Indonesia.

“Pada bulan yang baik ini, kami ingin memberi suasana yang mendukung bagi mayoritas umat Islam yang ada di Indonesia untuk menjalankan ibadah puasa,” ujar Direktur Utama RTV, Artine S Utomo.

Beberapa program acara bernafaskan Islami mulai drama series religi Ramadan, Talent Search Religi, Animasi spesial Ramadan dan Liputan arus mudik yang akan mengajak pemirsa lebih khusyuk dalam menjalankan ibadah puasa. (pik)

(pik)

Jakarta Gelar Festival Film Asia Afrika

JAYAKARTA NEWS – Globetrotter Lab untuk kali pertama akan menggelar Asia Africa Film Festival (AAFF) yang dijadwalkan pada 24-28 April 2019 di Silver Screen (Queen’s Head), Jakarta.

AAFF adalah salah bentuk dedikasi Globetrotter Lab dalam membangun serta menawarkan perspektif alternatif dari Asia dan Afrika.

Tak banyak yang menyadari bahwa kedua benua ini memiliki banyak kesamaan dan terhubung secara kultural dan historis. Melalui AAFF ini, penyelenggara ingin menyoroti kesamaan-kesamaan tersebut melalui film.

Tujuannya adalah untuk memicu percakapan di antara kedua benua, sekaligus merayakan para pelaku film dan sutradara yang telah menciptakan karya-karya yang mewakili emosi dan keadaan sosial di Asia dan Afrika.



Diharapkan penggambaran demi penggambaran budaya yang tertuang dari film-film AAFF dapat mengubah cara kita memahami, melihat dan berpikir tentang dunia.

AAFF akan menampilkan serangkaian film panjang (feature), film pendek, dan film dokumenter dari 11 Negara di Asia dan Afrika, di antaranya dari Tanzania, Nigeria, Ghana, Mesir, Mali, Indonesia, India, Palestina, Filipina, Jepang dan Cina). (ipik)

Asmara Abigail Lolos Seleksi di ‘Sekte’

JAYAKARTA NEWS – Setelah sukses membintangi dua film  thriller yaitu ‘Setan Jawa’ (Garin Nugroho) dan ‘Pengabdi Setan’, aktris Asmara Abigail (27 tahun), lolos seleksi untuk produksi  film ‘Sekte’ karya sutradara William Chandra.

“Ini film horor lagi…ya enggak apa, dapatnya horor terus. Mungkin bakat dan karir saya memang di genre horor,” kata  Asmara Abigail. Sekalipun lagi-lagi kembali dapat peran di film horor, Asmara mengungkapkan, bahwa dirinya  tetap selektif dalam memilih peran.

“Sekte’ adalah film yang benar-benar menantang saya untuk memberikan lebih dari apa yang saya punya,” katanya.

“Energi yang kita semua curahkan untuk film ini sangat kuat dan penuh dengan kerja keras,” ujarnya menambahkan.

Dalam hal mengapa Asmara tertarik dan menerima peran di film Sekte, dia menjelaskan, “Saya perhatikan jalan ceritanya logis, karakter masuk akal dan skenario bagus. Enggak ada yang asal-asalan,” ujarnya.

Produksinya profesional, dimana semua unsur promosi serta iklan penayangan yang tepat, adalah kunci ideal di zaman now, katanya.

‘Sekte’ mengusung kisah seorang perempuan muda bernama Lia yang hilang ingatan dan terbangun di sebuah rumah besar yang terisolasi dari dunia luar. Namun, pelan-pelan Lia mulai menyadari ada yang aneh dengan mereka. Orang-orang tersebut bukanlah orang biasa, melainkan sekelompok sekte sesat.

Siapakah kelompok ini sebenarnya ? Dan apa yang mereka lakukan kepada perempuan tersebut ?

Selain Asmara Abigail, juga ikut bermain Derby Romero dan Rizky Nazar. Derby Romero bertindak juga sebagai produser dan Rizky Nazar sebagai produser eksekutif.

Derby Romero (mantan bintang cilik dalam film ‘Petualangan Sherina’) mengaku cukup bangga dengan hasil akhir prosesing film ‘Sekte’ yang akan main 2 Mei mendatang. “Kita adalah generasi muda yang mau mencoba berkarya dan memberi sesuatu yang fresh. New wave of film makers,” papar Derby Romero.  (pik)

Arwah Noni Belanda, Film Horor Jelang Puasa

JAYAKARTA NEWS – Menjelang  puasa Ramadan, banyak judul film Nasional beredar. Satu diantaranya adalah produksi SAS Films bertajuk ‘Arwah Noni Belanda’ (Story of Helen Van Stolch 1834) yang disutradarai Agus H. Mawardy.

Film bergenre drama horor ini, menempatkan  Sarjono Sutrisno (‘The Raid’) sebagai produser eksekutif, dan  dibintangi oleh Sarah Wijayanto, Milena Tunguz, Ferdian Ariyadi, Nayla D, Purnama, Willem Y.K. Bevers, C. Rene A. Ferdinand dan seabreg pemain lain.

Mengangkat kisah Helen, puteri Jacob Van Stolch yang memiliki perkebunan teh yang cukup luas. 

Kisah Helen muncul tatkala Sarah Astari, penulis novel yang sedang menggarap cerita horor diberikan fasilitas rumah demi mendukung proses penulisannya. Tetapi, alih-alih mempercepat, selama tinggal di rumah tersebut keluarga Sarah terus menerus diteror oleh Helen.

“Ini kisah nyata. Helen memang pernah hidup di abad 18. Saya pernah diceritakan oleh seorang paranormal dan paranormal ini berhasil berdialog dengan arwah Helen. Ini yang membuat saya makin semangat untuk bermain demi film ini,” ungkap Sarah Wijayanto.

Cerita ditulis oleh King Javed, sedang penata artistik ditangani Gafer RVJ.

Penata kamera dipercayakan kepada Dimas Kris Batara yang piawai ‘menembak’ momen-momen penting dan adegan-adegan menyeramkan di rumah kuno.

Penata rias dan busana oleh Nurnang Ningsih Hasbullah juga lihai menyulap wajah cantik Sarah Wijayanto menjadi wajah yang tidak ramah dan selalu ketakutan dihantui dan dikejar arwah Helen.

Bagaimana kisah selanjutnya? Apakah yang melatari kemarahan Helen  dan mengapa ia melampiaskannya ke keluarga Sarah? (pik)

Emilia Clarke, bintang “Game of Thrones” yang Dua Kali Lolos Dari Kematian

Emilia Clarke

Oleh: Leo Patty

Tulisan dibawah ini merupakan terjemahan dari tulisan Emilia Clarke (newyorker.com),bintang televisi  “Game of Thrones” yang berjuang mempertahankan hidupnya. Diterjemahkan karena memberi inspirasi kuat bagi kita untuk terus maju melakukan kebaikan apapun kondisi kita.

JAYAKARTA – Ketika impian masa kecil saya merebak mulai jadi kenyataan, mendadak saya hanpir-hampir kehilangan kesadaran dan bahkan hidup saya. Saya tidak pernah menceritakannya dan sekarang sudah saatnya diungkapkan.

Dimulai pada awal tahun 2011. Saya baru saja menyelesaikan pengambilan gambar musim pertama “Game of Thrones”, serial baru HBO berdasarkan novel George R.R. Martin yang berjudul “ A Song of Ice and Fire”.  Meski tanpa pengalaman profesional apapun, saya diberi peran Daenery Tagarven, yang juga dikenal sebagai Khaleesi dari ‘Great Grass Sea’, Ibu dari Dragonstone, Penghancur Rantai (perbudakan), dan Ibu Naga. Sebagai seorang puteri muda, Daenery ‘dijual’ sebagai pengantin untuk kepala suku Dothraki, bernama Khal Drogo. Cerita ini panjang sekali — delapan musim (dari 2011 – 2018) — tapi pada pokoknya bisa dikatakan dia naik status dan kekuasaannya. Dia jadi tokoh yang memiliki kekuasaan dan kekayaan besar. Beberapa waktu setelah penayangan film televisi ini, banyak remaja putri mulai memakai wig berwarna perak dan mengenakan jubah ala Daenerys Targaryen dalam perayaan Halloween.

Pencipta serial TV ini, David Bernioff dan D.B. Weiss, menyatakan karakter saya adalah campuran antara Napoleon, Joan of Arc, dan Lawrence of Arabia. Namun beberapa minggu setelah selesai pengambilan gambar musim pertama — kendati ada kemeriahan publikasi film dan pemutaran perdananya — saya sama sekali tidak merasa bersemangat sebagai sang penakluk. Saya justru sangat takut. Ketakutan akan perhatian, ketakutan akan hal-hal yang saya tidak mengerti, ketakutan akan bagaimana caranya terlihat percaya diri, seperti yang diharapkan dari para pencipta “Throne”. Saya merasa, dalam segala hal, terekspos. Pada episode pertama, saya tampil tanpa selembar benang ditubuh, dan sejak saat itu setiap kali bertemu wartawan, saya selalu ditanya pertanyaan yang sama “Anda memainkan peran seorang perempuan yang sangat kuat dan tapi tetap saja anda membuka pakaian anda. Kenapa?” Dalam benak saya, saya menjawab, “Berapa banyak laki-laki harus saya bunuh untuk membuktikan diri saya.”

Untuk mengurangi stres, saya berolah raga dengan bantuan pelatih. Sekarang, saya adalah aktris televisi dan aktris biasanya melakukan hal ini. Kami berolah-raga. Pada pagi hari 11 Februari 2011, saya sedang mengenakan pakaian di ruang ganti senam (Gym) di Crouch End, London Utara. Mendadak, saya mulai mengalami sakit kepala berat. Saya benar-benar lelah, sampai-sampai saya susah payah mengenakan sepatu olah raga saya. Ketika mulai berolah raga, saya harus memaksakan diri  melakukan beberapa gerakan olah raga.

Kemudian, pelatih saya menempatkan saya pada posisi terlentang dan saya langsung merasa ada seperti ikatan kuat menekan otak saya. Saya mencoba tidak mempedulikan rasa sakit itu dan tetap berusaha melakukan gerakan olah raga, tapi kemudian saya sudah tidak bisa bergerak. Saya bilang kepada pelatih, saya harus istirahat. Entah begaimana, hampir – hampir merangkak, saya sampai di ruang ganti. Saya ke toilet, jatuh berlutut, dan sangat kesakitan. Sementara rasa sakit — seperti seakan-akan ditembak, ditusuk, sakit terus-menerus — makin lama semakin memburuk. Pada satu titik, saya tahu apa yang terjadi; otak saya mengalami kerusakan.

Untuk beberapa saat, saya coba menahan rasa sakit dan rasa gamang. Saya katakan kepada diri saya,”Saya tidak akan lumpuh.” Saya menggerakkan jari tangan dan kaki untuk memastikannya. Dan untuk memastikan ingatan tetap ada,  saya mencoba mengingat, beberapa diantaranya, kalimat – kalimat dari “Game of Thrones”.

Saya mendengar suara perempuan dari pintu sebelah, menanyakan apakah saya baik-baik saja. Tidak, saya sakit. Dia datang dan menolong saya dan menidurkan saya menyamping, posisi untuk memulihkan diri. Kemudian, dalam sekejab, jadi ribut dan kabur. Saya ingat saya mendengar suara sirene, ambulan; saya mendengar suara-suara, seseorang berkata denyut jantung saya lemah. Saya dibaringkan dengan terburu-buru. Seseorang menemukan telepon saya dan menelepon orang tua saya, yang tinggal di Oxfordshire, dan mereka diberitahu saya ada di IGD Rumah Sakit Whitington.

Kabut ketidak-sadaran menggantung diatas saya. Sejak dari ambulan, saya dibaringkan di brankar dan didorong melewati gang-gang, yang berbau disinfektan, dan suara-suara orang yang sedang kuatir. Karena tidak ada seorangpun tahu apa yang salah di tubuh saya, para dokter dan perawat tidak bisa memberi saya obat apapun untuk mengurangi rasa sakit ini.

Akhirnya, saya dirujuk untuk pemindaian otak atau MRI. Diagnosa dilakukan dengan cepat dan pasti; subarachnoid hemorrhage (SAH), stroke berat yang mengancam jiwa, disebabkan oleh perdarahan disekeliling otak. Saya menderita aneurisma (pembengkakan pembuluh darah di otak) yang sudah pecah. Belakangan, saya mengetahui  sepertiga pasien SAH (aneurisma) meninggal setelah pembuluh darahnya pecah. Bagi pasien yang selamat, diperlukan perawatan khusus untuk menutup aneurisma karena ada resiko tinggi kemungkinan pecah kembali pembuluh darahnya. Jika saya ingin tetap hidup dan menghindari serangan kedua, saya harus segera dioperasi. Dan bahkan setelah itu, tetap tidak ada jaminan.

Saya dilarikan ambulan ke Rumah Sakit Nasional Neurologi dan Neurosurgery, bangunan indah dengan bata merah di London tengah. Saat itu sudah malam. Ibu saya tertidur di bangku rumah sakit dan saya mengalami tidur ayam (tidur dan bangun) dan dipengaruhi obat-obatan, rasa sakit, dan terus-menerus mengalami mimpi buruk.

Saya masih ingat, saya diminta menandatangani formulir operasi. Operasi Otak? Saya sedang  sangat sibuk (kerja) — saya tidak punya waktu untuk operasi otak. Tetapi akhirnya, saya menenangkan diri dan menandatangani formulir itu. Beberapa saat kemudian, saya tidak sadarkan diri. Selama tiga jam berikutnya, dokter bedah memperbaiki otak saya. Dan ini bukanlah operasi yang terakhir, dan juga bukan yang paling buruk. Saya baru berumur dua puluh empat tahun.

Saya besar di Oxford dan jarang sekali memikirkan soal kesehatan. Seluruh pikiran saya terpusat pada akting. Ayah saya bekerja sebagai penata musik. Dia mengerjakan (musik) pementasan teater “West Side Story” dan “Chicago” di West End. Ibu saya adalah seorang pengusaha, wakil direktur marketing perusahaan konsultan global manajemen. Kami bukan orang kaya, tapi kakak dan saya bersekolah di sekolah swasta. Orang tua kami, menghendaki yang terbaik untuk kami,  dan berjuang keras membayar uang sekolah (yang sangat mahal).

Saya tidak terlalu ingat kapan saya memutuskan untuk menjadi aktris. Saya sempat diberitahu mungkin pada usia tiga atau empat tahun. Ketika itu, saya mengunjungi teater bersama ayah. Saya sangat tertarik dengan hingar-bingar kehidupan dibelakang panggung teater; gosip, peralatan panggung, kostum, dan semua orang berbisik-bisik dan terlihat selalu terburu-buru, serta tempatnya gelap temaran Pada usia tiga tahun, ayah saya mengajak untuk menonton pementasan teater berjudul “Show Boat”. Meski biasanya saya cerewet, sepanjang pertunjukan saya bisa duduk diam dan tenang selama lebih dari dua jam. Ketika layar tertutup, saya berdiri dan bertepuk tangan dengan semangat.

Saya, saat isu, benar-benar sangat tertarik. Di rumah, saya memutar rekaman VHS (pementasan teater) berjudul “My Fair Lady” berulang-ulang sampai sampai pitanya kusut. Saya rasa cerita Pygmalion menjadi pertanda bagi saya tentang bagaimana — dengan latihan yang cukup dan sutradara yang bagus —  anda bisa jadi ‘orang lain’. Saya merasa ayah tidak senang ketika saya menyatakan saya ingin jadi aktris. Dia tahu kehidupan para aktor dan dimatanya mereka itu orang sakit mental dan pengangguran belaka.

Di sekolah saya, di Oxford, Sekolah Squirrel, adalah sekolah yang ideal, teratur, dan manis. Ketika saya berusia lima tahun, saya mendapat peran utama pada  sebuah pementasan sekolah. Ketika saya masuk panggung dan seharusnya berbicara (sesuai skrip), mendadak saya lupa semuanya. Saya cuma berdiri kaku, ditengah panggung, diam. Di deretan terdepan penonton, para guru mencoba membantu dengan suara berbisik kata-kata yang seharusnya saya ucapkan. Tapi saya cuma berdiri dengan sangat tenang dan tanpa rasa takut. Kondisi (tenang) inilah yang saya bawa disepanjang karir saya. Saat ini, saya bisa berjalan di ‘karpet merah’ dengan ribuan kamera mengambil gambar dan saya tetap tenang. Tentu saja, jika menempatkan saya di meja pesta makan malam bersama enam orang akan jadi hal berbeda.

Dengan berlalunya waktu, saya semakin baik dalam berakting. Bahkan saya bisa mengingat kalimat yang harus dikatakan. Tapi saya bukanlah orang yang sangat berbakat. Ketika saya berumur sepuluh tahun, ayah saya mengajak saya mengikuti audisi di West End untuk (yang akan mementaskan) karya Neil Simnon, ‘The Goodbye Girl’. Ketika saya masuk kedalam, barulah saya sadar setiap anak perempuan, yang mengikuti audisi, menyanyikan lagu dari (grup band) ‘Cats’. Lagu yang saya bisa bawakan hanyalah lagu rakyat Inggris, “Donkey Riding’. Setelah mereka mendengarkan, dengan sabar, seseorang bertanya,”Bagaimana kalau (lagunya) lebih kontemporer?” Sayapun menyanyikan lagu (grup) Spice Girl berjudul ‘Wannabe”. Ayah saya langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Saya tidak berhasil dalam audisi ini, dan saya pikir itu adalah berkah. Ayah saya mengatakan, “Akan terasa berat untuk membaca apa saja, yang buruk, mengenai kamu, di surat kabar (mengenai ulasan pementasan teater tersebut)”.

Namun saya tetap maju. Pada produksi pementasan di sekolah, saya berperan sebagai Anita di cerita ‘West Side’, sebagai Abigail di ‘The Crucible’, dan jadi salah satu penyihir di ‘Macbeth’, “Voila in Twelfth Night”. Setelah masuk SMA, saya tidak main teater selama setahun. Saat itu, saya bekerja sebagai pelayan dan melancong ke Asia. Kemudian, saya mengambil kelas drama di Drama Centre London untuk mendapat gelar sarjana (B.A). Sebagai aktor pemula, kami belajar semua hal, mulai dari “The Cherry Orchard” sampai “The Wire”. Saya tidak mendapat peran sebagai perempuan biasa. Biasanya, peran itu jatuh ketangan perempuan yang tinggi, kurus, dan berambut pirang. Saya memperoleh peran sebagai seorang ibu Yahudi dalam pementasan “Awake and Sing!”. Kalau bisa, anda perlu sempatkan mendengar aksen Bronx saya.

Setelah lulus, saya berjanji kepada diri sendiri; selama satu tahun ini, saya hanya akan mengambil peran (akting) yang berarti. Saya membayar sewa (apartemen) dengan bekerja di pub, call center, dan museum dan mengatakan kepada orang-orang “lorong itu disebelah kanan”. Dari detik akhirnya jadi berhari-hari. Tapi saya bersungguh-sungguh; satu tahun tanpa pementasan buruk dan tidak (terima) main yang tidak berkualitas.

Pada musim panas 2010, agen saya menelepon ada audisi di London untuk serial baru HBO. Pengambilan gambar pertama “Game of Thrones” berlangsung buruk dan mereka ingin mengganti pemain, diantaranya peran Daenerys. Disebutkan peran itu menggambarkan perempuan, seakan bukan berasal dunia, berambut pirang dan misterius. Saya pendek dan berambut gelap, sangat Inggris. Apapun. Untuk mempersiapkan diri, saya mempelajari dua kalimat aneh untuk dua pengambilan gambar, satu di Episode 4, pada adegan kakak saya memukul saya. Dan satu di Episode 10, saat saya berjalan memasuki api dan selamat tanpa luka apapun.

Saat itu, saya pikir saya sehat-sehat saja. Saya kadang-kadang pusing sedikit karena saya sering terkena darah rendah dan detak jantung juga rendah. Sesekali, saya merasa melayang dan pingsan. Saat saya masih berusia 14 tahun, saya kena migran sehingga saya terpaksa tetap berbaring di tempat tidur selama beberapa hari. Selain itu, saya juga pernah pingsan pada saat pementasan drama di sekolah. Tapi semua ini kelihatannya bisa ditangani, sebagai bagian dari stres aktris dan kehidupan pada umumnya. Sekarang, saya pikir pengalaman itu mungkin sebenarnya peringatan dini atas apa yang akan terjadi.

Saya membaca “Game of Thrones” di studio kecil di Soho. Empat hari kemudian, saya ditelepon. Tampaknya audisi itu bukanlah bencana. Saya diminta terbang ke Los Angeles  dan membaca seluruh skrip dalam waktu tiga minggu dan bertemu Benioff dan Weiss serta para pejabat jaringan (HBO). Saya mulai bekerja secara intensif sebagai persiapan. Mereka menerbangkan saya di kelas bisnis. Dan saya mencuri semua bungkus teh, yang disediakan gratis, di ruang publik di pesawat. Pada saat audisi, saya mencoba untuk tidak melihat aktris lain — tinggi, pirang, kurus, dan cantik — yang sedang berjalan masuk. Saya membacakan dua adegan di auditorium, yang gelap, kepada produser dan pejabat (HBO). Setelah selesai, saya langsung berkata,”Apa saya bisa melakukan hal lainnya.”

David Beniof berkata, “Kamu bisa menari.” Saya coba tidak mengecewakan, saya menari ‘funky chiken’ dan robot. Ketika memikirkannya, saya sebenarnya bisa menghancurkannya (audisi). Saya bukan penari yang bagus.

Ketika saya meninggalkan auditorium, mereka berlari kepada saya dan mengatakan, “Selamat, tuan puteri!” Saya mendapat peran itu.

Saya langsung susah bernapas. Saya kembali ke hotel, beberapa orang mengundang saya untuk menghadiri pesta di atap hotel. “Saya pikir, cukuplah!”. Saya memilih pergi ke kamar saya, makan Oreo, dan menonton “Friends” (serial televisi), dan menelepon semua orang yang saya kenal.

Operasi pertama disebut sebagai ‘invasiv minimal’, yang artinya mereka tidak membuka tengkorak saya. Namun, mereka menggunakan sebuah tehnik yang disebut endovascular coiling, dokter bedah memasukkan kabel ke pembuluh darat arteri, di perut; kabel itu masuk ke atas, mengelilingi jantung, dan ke otak, dimana mereka menutup aneurisma.

Operasi berlangsung selama tiga jam.  Ketika saya bangun, rasa sakit langsung menerjang tidak tertahankan. Ada selang masuk ke tenggorokan dan saya merasa tenggorokan kering dan mual. Setelah empat hari, mereka mengeluarkan saya dari ICU dan mengatakan perjuangan berat adalah menembus waktu dua minggu (setelah operasi). Jika saya lolos dengan komplikasi minimal, maka kesempatan sembuh akan sangat besar.

Satu malam, setelah lewat dua minggu itu, seorang suster membangunkan saya dan, sebagai latihan kognitif, dia bertanya,”Siapa namamu?”. Nama lengkap saya adalah Emilia Isobel Euphemia Rose Clarke.Tetapi saya tidak mengingatnya. Dari mulut saya keluar suara-suara tidak jelas dan ini membuat saya panik. Saya belum pernah mengalami rasa takut sebesar saat itu — rasanya sudah mau mati. Saya tidak bisa melihat kehidupan saya kedepan dan rasanya tidak lagi pantas untuk dijalani. Saya seorang aktris; saya harus mengingat skrip. Sekarang, saya bahkan tidak bisa mengingat nama sendiri.

Saya menderita sebuah kondisi disebut aphasia, akibat trauma pada otak. Bahkan saat saya mengeluarkan suara-suara tidak jelas, ibu memperlihatkan kebaikan luar biasa dan tidak memperdulikannya serta terus meyakinkan saya bahwa saya akan sembuh. Tapi saya tahu saya terkapar. Pada saat-saat terburuk, saya ingin menyerah. Bahkan saya katakakan kepada staf medis untuk membiarkan saya mati. Pekerjaan saya — impian disepanjang hidup saya — berpusat pada bahasa, pada komunikasi. Tanpa itu, hidup saya tidak berarti apa-apa.

Saya dikirim kembali masuk ICU, setelah sekitar semiggu, kondisi aphasia hilang. Saya bisa kembali berbicara. Saya tahu nama saya — seluruh lima kata itu. Namun saya juga sadar ada orang-orang disekitar saya yang tidak berhasil keluar dari ICU (meninggal). Saya terus ingat betapa beruntungnya saya. Sebulan setelah masuk rumah sakit, saya keluar, merindukan udara segar dan mandi. Saya juga punya janji wawancara dengan pers. Dalam beberapa minggu, saya kembali ke lokasi syuting “Game of Thrones”.

Saya kembali kepada pekerjaan saya, namun ketika masih di rumah sakit, saya diberitahu mempunyai aneurisma lain, yang kecil, di bagian lain otak dan bisa pecah setiap saat. Para dokter menjelaskan, itu cuma kecil saja dan mungkin tetap tidak berubah dan tidak akan memburuk seumur hidup. Kami hanya perlu secara hati-hati memeriksanya (secara teratur). Namun pemulihan (dari operasi) membutuhkan waktu panjang. Masih terasa rasa sakit dan obat morfin membantu menguranginya. Saya memberitahu ‘boss’ “Thrones” mengenai kondisi saya, tapi saya tidak mau jadi bahan diskusi publik serta dianalisa segala. The show must go on!

Bahkan sebelum kita memulai pengambilan gambar Musim 2, saya merasa sangat ragu-ragu (akan kondisi kesehatan). Saya sering merasa lelah, sangat lemah, bahkan saya merasa akan segera meninggal. Saya tinggal di hotel, di London, selama tur publikasi, saya tidak bisa berpikir dengan jelas, saya tidak bisa ikut terus bergerak atau menarik napas, apalagi mencoba bersikap manis. Saya meminum morfin sebelum wawancara (dengan pers). Rasa sakit terus terasa, dan merasa sangat lelah, yang belum pernah saya alami sebelumnya — semua dikali sejuta kali. Dan harus diakui, saya tetaplah aktris. (Majalah) Vanity memberi saya pekerjaan. Saya terlalu lama memikirkan bagaimana saya harus tampil. Seakan-akan ini semua belum cukup, Kepala saya seakan-akan terkena pukulan setiap kali saya mencoba naik taksi.

Reaksi (publik) terhadap Musim 1, tentu saja, luar biasa, kendati saya tahu sangat sedikit mengenai bagaimana mereka menentukan rangking. Ketika seorang teman berteriak,”Kamu No 1 di IMDb!” Saya berkata,”Apa itu IMDb?”

Pada hari pertama pengambilan gambar untuk Musim 2, di kota Dubrovnik, saya terus mengatakan kepada diri saya sendiri,”Saya baik-baik saja, saya baru berumur dua puluhan, saya baik.” Saya bekerja sepenuh hati. Tapi baru hari pertama selesai, saya hampir-hampir tidak mampu kembali ke hotel yang akhirnya saya pingsan karena kelelahan.

Di lokasi syuting, saya tidak kehilangan konsentrasi, kendati saya berjuang untuk itu. Musim 2 merupakan yang paling buruk buat saya. Saya tidak tahu apa yang dilakukan Daenery. Jika saya benar-benar jujur, setiap menit setiap hari, saya pikir saya akan segera mati.

Pada tahun 2013, setelah menyelesaikan Musim 3, saya mengambil pekerjaan di Broadway, memainkan peran sebagai Holly Golightly. Latihan berlangsung sangat baik, tapi dengan cepat sudah sangat jelas pertunjukan ini tidak akan berhasil. Pementasan teater ini hanya berlangsung selama dua bulan saja.

Ketika saya masih di New York, untuk main pada pementasan teater itu, dan hanya tinggal lima hari sebelum asuransi SAG berakhir, saya pergi (ke rumah sakit) untuk scan otak — yang sekarang saya harus lakukan secara berkala. Pertumbuhan (aneurisma) sudah membesar dua kali lipat dan dokter mengatakan, kita harus mengatasinya. Saya dijanjikan (oleh dokter) operasiny akan sederhana, lebih mudah dari sebelumnya. Beberapa waktu kemudian, saya berada di sebuah kamar bagus di rumah sakit Manhattan. Orang tua saya hadir. “Sampai ketemu dua jam lagi,” kata ibu, dan sayapun dibawa keruang operasi, perjalanan  lewat pembuluh darah arteri (fermoral artery) ke otak. Gak masalah.

Ternyata ada masalah. Ketika mereka membangunkan saya, saya langsung berteriak kesakitan. Operasi gagal. Saya mengalami perdarahan hebat dan dokter dengan terus terang mengatakan kesempatan hidup saya sangat kecil jika saya tidak dioperasi lagi. Kali ini, mereka harus punya akses langsung ke otak, dengan cara lama — membuka tulang tengkorak saya. Saya pun langsung dioperasi.

Masa pemulihan berjalan jauh lebih menyakitkan daripada operasi pertama. Saya melihatnya seperti saya sedang berperang dalam pertempuran yang lebih mengerikan daripada pengalaman Daenerys (tokoh yang diperankannya di Thrones). Saya keluar dari ruang operasi dengan pipa keluar dari kepala saya. Sebagian dari tulang tengkorak telah diganti dengan besi titanium. Sekarang ini, anda bisa melihat goresan bekas luka yang memanjang dari bagian atas kepala sampai kuping saya. Bekasi luka ini,  tadinya saya tidak tahu bahwa goresan ini akan tidak kelihatan. Tapi tetap terlihat (kalau diperhatikan), selain itu ada kekuatiran terus menerus akan kehilangan kesadaran atau indera. Apakah (tidak bisa) konsentrasi? Kenangan? Penglihatan peripheral (sisi kiri dan kanan mata)? Sekarang saya bisa katakan kepada teman-teman bahwa (operasi itu) telah melenyapkan selera, yang baik, atas pria. Namun, tentu saja, saat itu pernyataan ini tidak kelihatan lucu.

Saya tinggal selama satu bulan di rumah sakit, dan pada saat-saat tertentu, saya sempat hilang harapan. Saya tidak bisa berhadapan dengan orang dan menatap matanya. Saya merasa sangat takut, serangan panik. Saya dibesarkan dengan ajaran untuk tidak pernah mengatakan,”Ini tidak adil”. Saya diajarkan untuk mengingat ada orang lain yang kondisinya lebih buruk dari kita. Tapi mengalami pengalaman ini, untuk kedua kalinya, seluruh harapan menciut.  Saya merasa saya berada di ruang kecil saja. Terus terang, saya sekarang ini sukar mengingat pengalaman besat ini secara rinci. Pikiran saya menolak semuanya. Tapi saya benar-benar ingat saya diyakinkan akan tetap hidup. Dan terlebih lagi, saya yakin bahwa berita mengenai sakitnya saya akan diketahui orang. Dan benar — untuk beberapa saat kemudian. Enam minggu setelah operasi, majalah National Enquirer menulisnya dalam artikel pendek. Seorang wartawan bertanya kepada saya mengenai hal itu dan saya membantahnya.

Tapi sekarang, setelah selama bertahun-tahun diam, saya menceritakan kepada anda kebenarannya. Percayalah kepada saya; saya tahu saya tidaklah terlalu unik, tidak sendirian. Banyak sekali orang yang menderita lebih buruk dan tidak mendapat perawatan seperti yang saya – sangat beruntung – dapatkan.

Beberapa minggu setelah operasi kedua, saya pergi dengan beberapa pemeran lain (di Thrones) ke acara Comic-Con di San Diego. Para pengemar (fans) di Comic-Con adalah pengemar berat; anda tidak ingin mengecewakan mereka. Ribuan orang berkumpul dan ketika kami sedang bersiap menerima pertanyaan, saya dihantam sakit kepala luar biasa. Langsung muncul semua rasa takut, yang sudah saya alami sebelumnya. Saya pikir, inilah waktunya (untuk meninggal). Sudah waktunya; saya sudah berhasil menghindari kematian dua kali dan sekarang dia menghampiri saya. Ketika saya berjalan keluar panggung, agen publikasi saya melihat saya dan bertanya apa ada yang salah. Saya katakan kepadanya, tapi dia membalas ada wartawan dari MTV sedang menunggu untuk wawancara. Saya pikir, jika saya mengiyakan, maka itu seperti wawancara langsung di televisi.

Tapi saya bertahan. Saya bertahan terhadap MTV dan yang lainnya. Bertahun-tahun kemudian, setelah operasi kedua, saya benar-benar sembuh total diluar semua harapan paling tinggi sekalipun. Saya sekarang sudah seratus persen. Diluar kerja saya sebagai aktris, saya memutuskan akan mengabdikan diri saya untuk pekerjaan amal. Saya, bersama-sama dengan mita di Inggris dan Amerika, mengembangkan apa yang disebut sebagai “SameYou”, yang ditujukan untuk memberi layanan perawatan bagi orang-orang yang sedang menjalani masa penyembuhan dari cedera otak dan stroke. Saya merasa sangat berterima kasih, yang tak habis-habisnya, kepada ibu dan kakak saya, kepada para dokter dan perawat, serta teman-teman. Setiap  hari, saya merindukan ayah saya, yang meninggal karena kanker tahun 2016 silam, dan saya merasa tetap kurang menyatakan terima kasih kepadanya, yang selalu memegang tangan saya sampai akhir.

Ada kebahagiaan, dan lebih dari sekedar keberuntungan, ketika “Throne” berakhir. Saya sangat senang melihat akhir dari cerita ini dan memulai apa saja yang akan datang.

Sumber: newyorker.com

Netflix Uji Fitur Shuffle untuk Acak Menonton TV

JAYAKARTA NEWS – Di zaman streaming video sekarang ini —pengalaman sepulang di rumah, lalu menyalakan televisi, dan mencoba mencari tayangan ulang secara acak untuk ditonton— bagi sebagian besar orang (apalagi generasi milenial) itu sudah menjadi masa lalu. Sudah usang.

Tapi, Netflix mungkin membawanya kembali.

Raksasa streaming ini tengah menguji tombol yang akan memungkinkan penggunanya untuk memutar episode acak televisi.

Pengujian, pertama kali ditemukan oleh blog Android Police dan kemudian dikonfirmasi oleh Netflix dalam sebuah pernyataan kepada The Hollywood Reporter, bahwa saat ini hanya berjalan untuk beberapa pengguna di aplikasi seluler Netflix untuk perangkat Android.

Tampaknya, Netflix secara teratur mencoba fitur-fitur baru dengan segmen kecil dari hampir 149 juta anggota globalnya yang tidak menjadi permanen.

“Kami sedang menguji kemampuan anggota untuk memainkan episode acak dari berbagai serial TV di aplikasi seluler Android,” kata juru bicara perusahaan itu.

“Tes ini biasanya bervariasi dalam jangka waktu dan wilayah, dan mungkin tidak menjadi permanen.”

Menurut laporan Android Police, tes Netflix mencakup fitur untuk “memainkan episode populer.”

Itu juga bereksperimen dengan tombol Episode Acak di bagian bawah video yang pada dasarnya akan memungkinkan pengguna untuk mengacak episode seri.

Sementara fitur acak mungkin tidak masuk akal untuk acara serial seperti The Crown atau The OA, itu bisa terbukti berguna untuk menonton program berlisensi katalog-belakang seperti The Office atau Friends, jenis acara yang berada dalam sindikasi berat di televisi linear.***

Robert De Niro Sebut Trump sebagai ‘Gang Wannabe Gangster ’ dan‘ Total Loser ’

JAYAKARTA NEWS – Selama penampilannya di Late Show untuk membahas Festival Film Tribeca, aktor Hollywood Robert De Niro menyebut Presiden AS Donald Trump sebagai ‘pecundang total’ dan ‘dumbbell‘. Dia melanjutkan serangannya terhadap pemimpin AS dan kebijakan Trump yang dimulainya sejak masa kampanye Trump 2016.

Aktor Godfather (75), ini mengatakan, bahwa ia mencoba memberi Trump kesempatan, tetapi kecewa karena “orang ini telah membuktikan dirinya sebagai pecundang total.”

De Niro biasanya muncul di Saturday Night Live (SNL) untuk memberi kesan penasihat khusus – aktor terakhir memerankan Mueller pada episode 30 Maret SNL dan muncul di beberapa pembukaan dingin tahun lalu. Dalam sebuah wawancara Hollywood Reporter In Studio baru-baru ini, De Niro mengatakan bahwa penampilan di SNL terasa seperti “tugas sipil.”

Ketika Colbert bertanya mengapa dia merasa itu adalah “kewajiban sipil,” De Niro mengatakan tidak ada penjelasan selain apa yang dia katakan. “Aku tidak punya cara lain untuk mengatakannya … Itu adalah kewajiban sipilku untuk memainkan Mueller.” “Aku ragu Mueller melakukan kebaikan Mueller seperti kamu,” kata Colbert.

Bintang Hollywood itu, baru-baru ini mengubah perannya sebagai penasihat khusus Robert Mueller di SNL. Dia mencoba membaca ringkasan temuan laporan yang tidak menemukan bukti bahwa kampanye Trump berkonspirasi dengan Rusia untuk ikut campur dalam pemilihan presiden AS 2016.

Rusia telah berulang kali membantah klaim mengganggu sistem politik AS, dengan mengatakan bahwa tuduhan itu dibuat untuk alasan hilangnya pemilihan lawan Trump serta untuk mengalihkan perhatian publik dari contoh aktual penipuan dan korupsi pemilu.

Robert De Niro mengatakan, bahwa itu adalah “kewajiban sipil” untuk apa yang dimainkan Mueller. Dia menambahkan “Saya tidak tahu apakah itu mungkin, tapi saya terus mengatakan [jika mungkin] untuk memborgolnya dan membawanya [Trump] pergi dengan jumpsuit oranye. ”

Aktor ini kembali mengkritik Trump, ketika berbicara tentang peran gangster, dan menyebut presiden AS “seorang gangster wannabe di Gedung Putih.”

De Niro telah memenangkan dua Oscar selama karirnya perannya dalam film The Godfather Part II dan Raging Bull. Dia akan kembali ke genre gangster untuk The Irishman di Netflix, yang akan dirilis musim gugur ini dan akan menyatukannya kembali dengan sutradara Martin Scorsese.

“Bahkan gangster memiliki moral, mereka memiliki etika, mereka memiliki kode, dan Anda tahu, ketika Anda memberi seseorang kata Anda, yang Anda miliki hanyalah kata-kata Anda, terutama di dunia itu. Orang ini, dia bahkan tidak tahu apa artinya itu, “tambahnya.

“Bahkan gangster memiliki moral, mereka memiliki etika, mereka memiliki kode, dan Anda tahu, ketika Anda memberi seseorang kata Anda, yang Anda miliki hanyalah kata-kata Anda, terutama di dunia itu. Orang ini, dia bahkan tidak tahu apa artinya itu, ” kata De Niro menambahkan.

“Robert De Niro, seorang individu dengan IQ sangat rendah, telah menerima banyak tembakan ke kepala oleh para petinju sejati dalam film. Saya mengawasinya tadi malam dan benar-benar percaya dia mungkin ‘mabuk-mabukan.’ ”

“Saya kira dia tidak menyadari ekonomi adalah yang terbaik yang pernah ada dengan lapangan kerja berada pada titik tertinggi sepanjang masa, dan banyak perusahaan mengalir kembali ke negara kita. Bangunlah Punchy! ”

Ini bukan pertama kalinya aktor Hollywood itu menyerang presiden AS dengan kritikannya yang sangat tajam.

Sebelumnya pada Januari, De Niro membandingkan Trump dengan Adolf Hitler, mengklaim para diktator telah ‘terlihat lucu’ ketika mereka pertama kali berkuasa. Ditanya apakah Trump adalah seorang fasis, ia berkata:

“Saya kira itulah yang menyebabkannya. Jika dia memiliki jalannya sendiri, kita akan berakhir dalam keadaan yang sangat buruk di negara ini. “***