JAYAKARTA NEWS – Ibu adalah semesta pertama manusia. Ibu adalah sosok yang pertama kali bersentuhan dengan kita, bahkan sejak kita masih dikandungnya.
Ketika sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW bertanya kepada Sang Nabi, siapa orang pertama yang harus dihormati, maka Nabi menjawab : Ibumu. Yang kedua, wahai sang Nabi. “Ibumu’, jawab Nabi. Dan yang ketiga ? “Ibumu,” jawab Nabi sekali lagi.
Nyata sudah, ibu adalah segalanya. Ibu adalah inti dari kelahiran umat manusia. Ada pepatah mengatakan, bahwa Surga terletak di telapak kaki Ibu.
Lalu, bagi orang Baduy, Ibu – atau dipanggil dalam bahasa Sunda : Ambu – adalah dunia kecil sekaligus dunia besar di bawah naungan semesta.
Film perdana produksi SkyTree Pictures yang disutradarai Farid Dermawan (pertama kali juga jadi sutradara film bioskop) ini mengisahkan tentang Ambu Misnah (Widyawati) yang ditinggalkan anak perempuan satu-satunya, Fatma (Laudya Cynthia Bella), pergi dari rumah mereka di Baduy, demi cintanya kepada pemuda Jakarta, Nico (Baim Wong).
Fatma kemudian memiliki anak bernama Nona (Lutesha). Hingga di suatu hari yang biasa, Fatma membawa Nona pulang kembali ke Baduy ke haribaan Ambu Misnah.
Ini dilakukan setelah usaha kateringnya bangkrut dan rumahnya dijual.Selain itu, pernikahannya dengan Nico juga di ujung tanduk, Nico marah-marah dan memukul Fatma jika Fatma kehabisan uang. Upaya kembali ke Ambu adalah semesta pertamanya.
Apakah Fatma diterima kembali di masyarakat Baduy yang kukuh memegang adat dan tradisi budayanya ?
Ada penolakan. Ada amarah. Ada luka.
Namun, di sisi lain, ada juga harapan. Ada juga kebahagiaan yang berusaha keras untuk jadi pemenang.
Cerita yang skenarionya ditulis oleh Titien Wattimena ini tak sekedar menawarkan cerita yang penuh dengan kedalaman rasa. Gambaran ketegaran seorang ibu terhadap anaknya dan konflik batin dalam menghadapi yang terjadi antargenerasi diangkat dalam cerita berlatar belakang kebudayaan Baduy.
Ambu adalah keindahan cinta kasih yang sekaligus sebuah kegetiran cinta platonis. Kita bisa ‘membaca’ falsafah di film ini bahwa ibu tak hanya berhenti jadi semesta pertama. Ia terus ada dan siap menjadi semesta terakhir kita.
Di film drama yang penuh kepahitan dan kebahagiaan di ending ini hampir seluruhnya mengambil lokasi di kegelapan. Tak ada listrik. Tak ada telepon genggam. Dan tak ada kompor atau gas. Semua serba alam dan semua dikembalikan ke alam.
Memasak air dan menggoreng ikan di dapur yang sangat tradisional alami yaitu dengann kayu bakar. Mandi di sungai atau airnya ditampung di bak mandi yang masih sederhana.
Mengapa memilih Baduy ?
“Kami sengaja memilih Baduy sebagai lokasi syuting selama 32 hari karena kecantikan dan kesederhanaan alamnya. Keelokan dan kelapangan hati perempuan Baduy tercitrakan lewat tiga karakter di film ini, yaitu Misnah, Fatma dan Nona,” jawab Titien Wattimena.
Dari awal hingga akhir, penuh tangis penyesalan, pemaafan dan sekaligus kebahagiaan yang divisualisasikan lewat persatuan tiga perempuan dalam satu keluarga Baduy. Widayawati sebagai Misnah bermain sangat natural, wajar dan tak ada tandingnya.
Mimik dan gesture ketika melihat kembali putrinya yang telah kabur dari adat Baduy, pertama dia marah dan galak. Untuk kemudian, setelah berminggu-minggu Fatma dan Nona tinggal di rumah Misnah, hati Misnah semakin cair dan lumer.
Diam-diam ia menangis dalam gelap ketika melihat Fatma terkena kanker payudara stadium terakhir. Melihat cucu pertamanya, Nona, Misnah pun semakin menyayanginya.
Titien Wattimena yang juga bertindak selaku produser mengaku Ambu adalah film Indonesia pertama yang mengambil latar belakang budaya Baduy, bahkan syutingnya pun dilakukan di Baduy.
Di sisi lain, Yudhi Datau sebagai penata kamera boleh dipujikan, Keelokan alam Baduy yang masih murni berhasil diangkat ke layar lebar. Yudhi Datau boleh dikata lihai mengambil gambar dengan ciamik dan menawarkan sudut pengambil gambar yang istimewa serta memanjakan mata. Sebuah wilayah yang jarang terjamah, penuh kesederhanaan dan kepolosan dalam kehidupan sehari-harinya serta ditambah lagi dengan kemegahan alam Baduy yang memukau.
Penata musik Andi Rianto juga tepat mengisi setiap adegan gambar yang berkejaran santun di depan mata kita. Ia pandai memasukkan unsur musik Baduy dengan instrumen musiknya yang khas yang jarang kita temui di pergelaran musik panggung.
Yang mengejutkan adalah penampilan Widyawati yang menyanyikan lagu tema di film ini. Hampir puluhan tahun Widyawati tidak tampil di dunia musik – terakhir bersama saudara-saudaranya di Trio Visca – mendadak sontak unjuk diri di film ini. Sebuah gimmick atau promosi ?
Penata artistik oleh Alan Sebastian patut juga diketengahkan. Dia berhasil membuat hampir semua pemain yang non-Baduy yang notabene dari Jakarta bermain cemerlang dan bernas. Pakaian adat yang dikenakan enak dilihat.
Bahkan, Widyawati dan Fatma terlihat berjalan kaki tanpa sepatu atau sendal di bebatuan jalan Baduy. Beberapa masyarakat Baduy yang masih polos dan innocent juga disyut kesehariannya, dari menenun, beternak ayam dan sapi atau berjualan ikan dan sayuran di pasar.
Ambu adalah film yang ceritanya bisa mengaduk emosi dan perasaan. Plot lurus dan mudah diikuti. Namun, di saat kemarahan meluap, diselipkan bumbu humor. Enditha Wibisono sebagai perempuan Baduy asli bernama Hapsa dengan vokal nan melengking dan rias wajah yang lucu sangat mewarnai fi;lm ini.
Happy ending. Tiga perempuan Baduy tidur bersama di atas kasur yang sederhana : Misnah, Fatma dan Nona. Misnah ikhlas melepas kepergian puterinya yang telah kembali keharibaannya akibat penyakit kanker payudara ganas (juga, Fatma setelah 40 hari di Baduy, diupacarai kembali secara adat Baduy dan diterima kembali sebagai warga Baduy) yang menyerang tubuhnya yang ringkih dan kurus.
Namun, takdir Sang Penguasa tak bisa ditolak. Fatma tutup usia dipeluk Misnah dan anak tunggalnya, Nona yang menangisi kepergian ibu kandungnya. Wasiat Fatma agar Ambu Misnah menerima kembali kehadiran cucunya, Nona yang telah berusia 16 tahun telah digenapi.
Sebuah penyelesaian yang memikat. Namun, mencuat pertanyaan, jadikah Nona menikah dengan pria Baduy bernama Jaya (Andri Mashadi) dan meneruskan sebagai Ambu berikutnya ?
Film yang penuh kearifan lokal ini sekali lagi menyuguhkan cerita yang jujur dan sinergi akting para pemainnya terjalin natural. Dan khusus untuk sutradara Farid Dermawan. (Ipik Tanoyo)
JAYAKARTA NEWS – Untuk menyambut Ramadan dan Idul Fitri 1440 H, Telkomsel melalui aplikasi video streaming MAXstream meluncurkan serial drama religi bertajuk ‘Negeri 5 Menara’.
Untuk memproduksi serial ini, Telkomsel bekerjasama dengan Melon Indonesia dan rumah produksi E-Motion.
Serial yang dikemas dalam 30 episode mulai tayang perdana per episodenya setiap hari selama bulan Ramadan pada tanggal 6 Mei 2019 dan akan berakhir tanggal 5 Juni 2019 pada pukul 17.00 WIB.
“Negeri 5 Menara’ adalah karya sutradara Reka Wijaya (‘Bajaj Bajuri’) dan produser Avesina Soebli (‘Laskar Pelangi’, ‘Garuda di Dadaku’). Melalui serial ini, penonton diajak untuk merefleksikan tujuan hidup dan tetap menempuh semangat tabah mengejar mimpi (Man Jadda Wa Jada).
Serial ini dibintangi oleh Prilly Latuconsina, Ajil Ditto, Chand Kelvin, Jennifer Coppen, Doni Damara, Farandika, Damara Finch, Difa Riansyah, Naufal Azhar, Aeif Alfiansyah, Fay Nabila, Ariyo Wahab, David Khalid, Zaskia Adya Mecca, Tasman Taher dan Mario Irwinsyah.
“Serial ini sangat inspiratif yang dibungkus dengan konsep interaktif. Kami sangat antusias menghadirkan konten bertema religi dalam MAXStream Original.
Strategi kami untuk mengangkat konten lokal sesuai dengan visi kami untuk menjadi pengembang ekosistem digital di Indonesia melalui MAXStream sebagai bagian dari layanan digital lifestyle experience,” kata Head of Digital Lifestyle Telkomsel, Crispin Tristram dalam acara peluncuran serial ‘Negeri 5 Menara’ di Gedung Telkom Hope, Jakarta, belum lama ini.
Direktur PT Melon Indonesia, Dedi Suherman mengemukakan rasa bangganya dalam peluncuran serial ini.
“Kami memilih buku novel ‘Negeri 5 Menara’ karya Ahmad Fuadi untuk diadaptasi karena memiliki pesan yang religius dan sesuai dengan momen Ramadan dan Idul Fitri.
Selain itu, pesan moral dalam cerita ini sangat relevan dalam masyarakat lintas generasi. Proyek ini merupakan upaya baru Melon untuk berekspansi dari musik digital ke konten video digital,” ujar Dedi Suherman.
Sedangkan produser Avesina Soebli memaparkan bahwa mengadapsi buku best seller merupakan tantangan tersendiri.
Selain menjadi best seller, buku ini pernah menjadi film box office (ketika difilmkan pertama kali sekitar 10 tahun silam) di Indonesia. Melihat animo publik yang menggemari serial ini, kami ingin menggali lagi kisah-kisah di luar cerita novel dan film,” kata Avesina Soebli.
Kisahnya mengikuti alur perjalanan Alif dan lima sahabat masa kecilnya yang membentuk pertemanan di pesantren dan berjanji dibawah menara masjid pesantren, suatu hari nanti ketika mereka sudah dewasa, mereka akan bertemu kembali di Trafalgar Square, London-Inggris.
Tatkala beranjak dewasa, Alif yang tengah menuntut ilmu di Amerika, datang ke Inggris untuk memenuhi janji dengan teman-teman alumni pondok pesantren,
Tak dinyana usaha keenam sahabat ini untjuk merealisasikan janjinya ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Cerita bergulir ke masa sebelumnya, Alif masuk ke pondok pesantren karena mengikuti kemauan ibunya yang ingin Alif seperti Buya Hamka.
Dalam kegalauan sekolah di pesantren, Alif menemukan kata-kata dari Ustadz Salman ‘Man Jadda Wa Jada’, siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses. Ibarat mantra, keenam sahabat ini berusaha keras untuk menggapai impian mereka. (pik)
JAYAKARTA NEWS – Film “Kucumbu Tubuh Indahku” –yang diusung dalam Festival Film Venice dengan judul “Memories of My Body”, memberi gambaran, bahwa sebuah karya seni yang di kancah global mendapat pujian, di tanah air nasibnya bisa bertolak belakang.
Benar, dalam Festival Film Vanice untuk seksi Horizon, film garapan Sutradara Garin Nugroho –nama yang tidak asing lagi di festival film yang amat diperhitungkan di dunia dan digelar di Prancis itu– dengan meraih predikat terbaik untuk kategori tersebut, benar-benar tidak beruntung di tanah “kelahirannya.
Film yang mengangkat sisi gelap [tragedi] “budaya” Indonesia di masa lalu, “lengger lanang”, di mana-mana mendapat reaksi penolakan. Sempat diputar di bioskop, akhirnya film ini tidak bisa lagi tayang, karena mendapat penolakan dari kelompok-kelompok muslim di tanah air. Mereka juga menyerukan agar daerah-daerah lain juga melarang film tersebut. Kelompo tersebut menilai, film ini “menyimpang secara seksual” dan mempromosikan “nilai-nilai LGBT.”
Film ini menggambarkan kisah seorang pemuda dari kelompok tari yang menampilkan Lengger Lanang, tarian rakyat dari Jawa Tengah yang biasanya dipertunjukkan berpasangan, dimana laki-laki sering mengambil peran laki-laki dan perempuan.
Hal ini didasarkan pada kisah nyata Rianto, seorang penari yang dilecehkan ketika masih anak-anak, mengeksplorasi maskulinitas dan femininitas ketika tumbuh dewasa, dan mengalami pengalaman traumatis, diskriminasi dan kekerasan. Rianto sendiri berperan sebagai penari saat dewasa dan menceritakan film tersebut.
Film ini mendapat apresiasi di bagian Horizon Festival Film Venice, di mana ia memenangkan hadiah untuk film terbaik. Film ini juga dinominasikan untuk memperoleh hadiah Queer Lion. Penghargaannya juga termasuk Montgolfiere d’Or untuk film terbaik di Festival des 3 Continents di Perancis dan Cultural Diversity Award di Asia Pacific Screen Awards. Dalam kemitraan dengan APA, film ini juga diputar untuk UNESCO di Paris, pada bulan Desember lalu.
Tetapi pada kenyataannya, film ini mengalami masalah di tanah airnya, setelah dirilis pada tanggal 18 April 2019. Setelah diberi label “17+” oleh Lembaga Sensor Film (LSF), film ini diedarkan oleh produser Fourcolours Films.
Harus diakui, hingga kini Indonesia baru memiliki sangat sedikit distributor independen. Artinya, produsen film di sini biasanya menanggung risiko lebih besar apabila mengandalkan dirinya untuk mengedarkan film, melepaskan diri dari agen.
Dalam waktu kurang dari sepekan, film ini dilarang oleh para pejabat lokal di daerah-daerah, di antaranya Depok, Palembang, Riau dll. Kalangan muslim meminta agar Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa untuk menolak film ini.
Arovah Windiani, juru MUI, mengatakan bahwa, dari perspektif moral, film “tidak boleh ada di luar sana.” Yang lain mengatakan mereka telah mengajukan banding ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), yang mengatur Industri TV, tetapi tidak memiliki otoritas atas rilis film bioskop, untuk juga melarang film ini.
Sekalipun hanya sedikit orang yang sudah menonton film itu, tetapisebuah petisi online telah beredar yang menyerukan film “Kucumbu Tubuh Indahku” untuk dilarang. Film besutan Harin Nugroho ini dikecam, tidak terkecuali sang sutradaranya, yang dinilai karyanya sebagai “bahaya bagi kaum muda.”
Pada hari Senin lalu, MUI menuntut LSF mengubah sertifikasi film menjadi 21+, dan merekomendasikan agar Nugroho mengedit kembali film tersebut agar maknanya kurang ambigu.
Namun Garin Nugroho menolak untuk merevisi film dan mengatakan, bahwa dia menentang “pengadilan massa.” Dia pun telah menjadi “tuan rumah” diskusi publik tentang filmnya di pusat-pusat seni di seluruh negeri.
Dengan pemutaran yang dilarang di lima provinsi, film ini sekarang diputar di hanya tiga layar di negeri terpadat keempat di dunia ini.
Komite Sutradara Film Indonesia telah mengeluarkan pernyataan yang mendukung Garin Nugroho, dan mengutip sembilan contoh lain di mana penentangan dengan dalih agama yang muncul secara online, telah berdampak pada film-film Indonesia.
Organisasi itu mengatakan bahwa tekanan semacam itu berlawanan dengan program pendidikan pemerintah, dan menyarankan agar para pejabat dan masyarakat menonton film sebelum bertindak melawan mereka.
Ironisnya, mungkin saja Lengger Lanang, sebagai bentuk tariannya, tamoaknya telah disalahpahami. Padahal, namanya tersebut diyakini merupakan kontraksi dari frasa “elinga ngger,” [ingatlah nak], yang merupakan saran berbahasa Jawa yang harus diperhatikan atau diingat.
Hal itu sebelumnya telah ditafsirkan sebagai pesan moral untuk mengingat Tuhan, dan melakukan perbuatan baik untuk orang lain. Sumber lain mengatakan bahwa secara historis Lengger sebenarnya digunakan untuk mempromosikan Islam di Indonesia.
Interpretasi itu tidak cocok dengan iklim saat ini di Indonesia. Pemilihan presiden dan pemilihan umum bulan lalu, sebagian besar isu yang dijual atas dasar agama.
“Ini adalah dilema Indonesia hari ini,” kata produser Ifa Isfansyah. Indonesia terbagi antara Sufi dan Wahhabi [pemeluk agama Islamnya. Menurut] Wahhabi, semuanya harus mengikuti budaya Arab, menolak mayoritas tradisi Indonesia dan pengaruh seni dan tari Hindu dan Budha, yang juga merupakan tradisi lokal kita. ”
JAYAKARTA NEWS – Penyanyi senior Titiek Puspa, yang tahun ini berusia 82 tahun, akan tampil bersama anak-anak dalam program ‘Hey Tayo’ di Teater Garuda, TMII, Jaksel, 3 Mei 2019 mendatang.
Dalam acara ultah ke 5 stasiun televisi RTV itu, selain
‘eyang’ Titiek Puspa, artis-artis terkenal lainnya juga akan unjuk kebolehan.
Mereka diantaranya adalah keluarga Nola
dan puteri-puterinya, Naura dan Neona, keluarga Enda Ungu dan puterinya, Zara
Leola, Ada Band, Marion Jola, Pak Tarno, Maisha Kenna, Wlliam Steve, Viria
Rici, DJ Codox, Bublleman, Choir JKCC,
Mpok Alpha, Qemil, Chico, Khadijah, Muzakki bersama Dwi Andika, Onad dan Novi.
‘Hey Tayo’ akan mengusung konsep drama musikal yang
menghadirkan talenta anak-anak Indonesia berbakat dan berkolaborasi dengan ikon
program terkenal RTV yaitu Tayo dan kawan-kawan.
“Saya senang tampil bersama anak-anak berbakat. Mereka
cukup jeli dan cepat menangkap apa yang diperintahkan sutradara drama musikal
ini. Mereka selain lihai berakting di panggung, juga terasah di bidang seni
suara. Makanya, saya bangga bisa bernyanyi dan menari bersama anak-anak,”
kata Titiek Puspa kepada penulis.
Nama Titiek Puspa memang terkenal sebagai pelopor Operet
Lebaran bersama Persatuan Penyanyi Ibukota (Papiko) di TVRI di tahun 70-an dan
80-an. Bahkan, beberapa kali Titiek Puspa juga unjuk kebolehan di layar bioskop
dalam film musikal bersama penyanyi anak-anak seperti ‘Bawang Merah Bawang
Putih’, ‘Minah Gadis Dusun’, ‘Dibalik Cahaya Gemerlapan 1’ dan ‘Dibalik Cahaya
Gemerlapan 2’ dll.
Ketika ditanya, berapa lagu yang akan dinyanyikannya dan
judulnya apa saja, lagu lama atau lagu baru, Titiek Puspa yang masih centil ini
merahasiakannya. “Nanti spoiler, nanti dilihat saja deh…,” canda
Titiek Puspa yang pernah meroket namanya lewat lagu ‘Cinta’, ‘Si Hitam’, ‘Kupu
Kupu Malam’, ‘Ayo ke Bank’, ‘Semau Gue’ dan sederet lagu lainnya.
Dalam menyambut Ramadan 1440 H, RTV juga telah menyiapkan
sederet program andalan untuk keluarga Indonesia.
“Pada bulan yang baik ini, kami ingin memberi suasana
yang mendukung bagi mayoritas umat Islam yang ada di Indonesia untuk
menjalankan ibadah puasa,” ujar Direktur Utama RTV, Artine S Utomo.
Beberapa program acara bernafaskan Islami mulai drama series
religi Ramadan, Talent Search Religi, Animasi spesial Ramadan dan Liputan arus
mudik yang akan mengajak pemirsa lebih khusyuk dalam menjalankan ibadah puasa.
(pik)
JAYAKARTA NEWS – Globetrotter Lab untuk kali pertama akan menggelar Asia Africa Film Festival (AAFF) yang dijadwalkan pada 24-28 April 2019 di Silver Screen (Queen’s Head), Jakarta.
AAFF adalah salah bentuk dedikasi Globetrotter Lab dalam membangun serta menawarkan perspektif alternatif dari Asia dan Afrika.
Tak banyak yang menyadari bahwa kedua benua ini memiliki banyak kesamaan dan terhubung secara kultural dan historis. Melalui AAFF ini, penyelenggara ingin menyoroti kesamaan-kesamaan tersebut melalui film.
Tujuannya adalah untuk memicu percakapan di antara kedua benua, sekaligus merayakan para pelaku film dan sutradara yang telah menciptakan karya-karya yang mewakili emosi dan keadaan sosial di Asia dan Afrika.
Diharapkan penggambaran demi penggambaran budaya yang tertuang dari film-film AAFF dapat mengubah cara kita memahami, melihat dan berpikir tentang dunia.
AAFF akan menampilkan serangkaian film panjang (feature), film pendek, dan film dokumenter dari 11 Negara di Asia dan Afrika, di antaranya dari Tanzania, Nigeria, Ghana, Mesir, Mali, Indonesia, India, Palestina, Filipina, Jepang dan Cina). (ipik)
JAYAKARTA NEWS – Setelah sukses membintangi dua film thriller yaitu ‘Setan Jawa’ (Garin Nugroho) dan ‘Pengabdi Setan’, aktris Asmara Abigail (27 tahun), lolos seleksi untuk produksi film ‘Sekte’ karya sutradara William Chandra.
“Ini film horor lagi…ya enggak apa, dapatnya horor terus. Mungkin bakat dan karir saya memang di genre horor,” kata Asmara Abigail. Sekalipun lagi-lagi kembali dapat peran di film horor, Asmara mengungkapkan, bahwa dirinya tetap selektif dalam memilih peran.
“Sekte’ adalah film yang benar-benar menantang saya untuk memberikan lebih dari apa yang saya punya,” katanya.
“Energi yang kita semua curahkan untuk film ini sangat kuat dan penuh dengan kerja keras,” ujarnya menambahkan.
Dalam hal mengapa Asmara tertarik dan menerima peran di film Sekte, dia menjelaskan, “Saya perhatikan jalan ceritanya logis, karakter masuk akal dan skenario bagus. Enggak ada yang asal-asalan,” ujarnya.
Produksinya profesional, dimana semua unsur promosi serta iklan penayangan yang tepat, adalah kunci ideal di zaman now, katanya.
‘Sekte’ mengusung kisah seorang perempuan muda bernama Lia yang hilang ingatan dan terbangun di sebuah rumah besar yang terisolasi dari dunia luar. Namun, pelan-pelan Lia mulai menyadari ada yang aneh dengan mereka. Orang-orang tersebut bukanlah orang biasa, melainkan sekelompok sekte sesat.
Siapakah kelompok ini sebenarnya ? Dan apa yang mereka lakukan kepada perempuan tersebut ?
Selain Asmara Abigail, juga ikut bermain Derby Romero dan Rizky Nazar. Derby Romero bertindak juga sebagai produser dan Rizky Nazar sebagai produser eksekutif.
Derby Romero (mantan bintang cilik dalam film ‘Petualangan Sherina’) mengaku cukup bangga dengan hasil akhir prosesing film ‘Sekte’ yang akan main 2 Mei mendatang. “Kita adalah generasi muda yang mau mencoba berkarya dan memberi sesuatu yang fresh. New wave of film makers,” papar Derby Romero. (pik)
JAYAKARTA NEWS –
Menjelang puasa Ramadan, banyak judul
film Nasional beredar. Satu diantaranya adalah produksi SAS Films bertajuk
‘Arwah Noni Belanda’ (Story of Helen Van Stolch 1834) yang disutradarai Agus H.
Mawardy.
Film bergenre drama
horor ini, menempatkan Sarjono Sutrisno
(‘The Raid’) sebagai produser eksekutif, dan
dibintangi oleh Sarah Wijayanto, Milena Tunguz, Ferdian Ariyadi, Nayla
D, Purnama, Willem Y.K. Bevers, C. Rene A. Ferdinand dan seabreg pemain lain.
Mengangkat kisah
Helen, puteri Jacob Van Stolch yang memiliki perkebunan teh yang cukup
luas.
Kisah Helen muncul
tatkala Sarah Astari, penulis novel yang sedang menggarap cerita horor
diberikan fasilitas rumah demi mendukung proses penulisannya. Tetapi, alih-alih
mempercepat, selama tinggal di rumah tersebut keluarga Sarah terus menerus
diteror oleh Helen.
“Ini kisah nyata.
Helen memang pernah hidup di abad 18. Saya pernah diceritakan oleh seorang
paranormal dan paranormal ini berhasil berdialog dengan arwah Helen. Ini yang
membuat saya makin semangat untuk bermain demi film ini,” ungkap Sarah
Wijayanto.
Cerita ditulis oleh
King Javed, sedang penata artistik ditangani Gafer RVJ.
Penata kamera
dipercayakan kepada Dimas Kris Batara yang piawai ‘menembak’ momen-momen
penting dan adegan-adegan menyeramkan di rumah kuno.
Penata rias dan busana
oleh Nurnang Ningsih Hasbullah juga lihai menyulap wajah cantik Sarah Wijayanto
menjadi wajah yang tidak ramah dan selalu ketakutan dihantui dan dikejar arwah
Helen.
Bagaimana kisah
selanjutnya? Apakah yang melatari kemarahan Helen dan mengapa ia melampiaskannya ke keluarga
Sarah? (pik)
Tulisan dibawah ini merupakan terjemahan dari tulisan Emilia
Clarke (newyorker.com),bintang televisi “Game of Thrones” yang berjuang mempertahankan
hidupnya. Diterjemahkan karena memberi inspirasi kuat bagi kita untuk terus
maju melakukan kebaikan apapun kondisi kita.
JAYAKARTA – Ketika impian masa kecil saya merebak mulai jadi kenyataan, mendadak saya hanpir-hampir kehilangan kesadaran dan bahkan hidup saya. Saya tidak pernah menceritakannya dan sekarang sudah saatnya diungkapkan.
Dimulai pada
awal tahun 2011. Saya baru saja menyelesaikan pengambilan gambar musim pertama
“Game of Thrones”, serial baru HBO berdasarkan novel George R.R. Martin yang
berjudul “ A Song of Ice and Fire”. Meski tanpa pengalaman profesional apapun,
saya diberi peran Daenery Tagarven, yang juga dikenal sebagai Khaleesi dari
‘Great Grass Sea’, Ibu dari Dragonstone, Penghancur Rantai (perbudakan), dan
Ibu Naga. Sebagai seorang puteri muda, Daenery ‘dijual’ sebagai pengantin untuk
kepala suku Dothraki, bernama Khal Drogo. Cerita ini panjang sekali — delapan
musim (dari 2011 – 2018) — tapi pada pokoknya bisa dikatakan dia naik status
dan kekuasaannya. Dia jadi tokoh yang memiliki kekuasaan dan kekayaan besar.
Beberapa waktu setelah penayangan film televisi ini, banyak remaja putri mulai
memakai wig berwarna perak dan mengenakan jubah ala Daenerys Targaryen dalam
perayaan Halloween.
Pencipta
serial TV ini, David Bernioff dan D.B. Weiss, menyatakan karakter saya adalah
campuran antara Napoleon, Joan of Arc, dan Lawrence of Arabia. Namun beberapa
minggu setelah selesai pengambilan gambar musim pertama — kendati ada
kemeriahan publikasi film dan pemutaran perdananya — saya sama sekali tidak
merasa bersemangat sebagai sang penakluk. Saya justru sangat takut. Ketakutan
akan perhatian, ketakutan akan hal-hal yang saya tidak mengerti, ketakutan akan
bagaimana caranya terlihat percaya diri, seperti yang diharapkan dari para
pencipta “Throne”. Saya merasa, dalam segala hal, terekspos. Pada episode
pertama, saya tampil tanpa selembar benang ditubuh, dan sejak saat itu setiap
kali bertemu wartawan, saya selalu ditanya pertanyaan yang sama “Anda memainkan
peran seorang perempuan yang sangat kuat dan tapi tetap saja anda membuka
pakaian anda. Kenapa?” Dalam benak saya, saya menjawab, “Berapa banyak
laki-laki harus saya bunuh untuk membuktikan diri saya.”
Untuk
mengurangi stres, saya berolah raga dengan bantuan pelatih. Sekarang, saya
adalah aktris televisi dan aktris biasanya melakukan hal ini. Kami
berolah-raga. Pada pagi hari 11 Februari 2011, saya sedang mengenakan pakaian
di ruang ganti senam (Gym) di Crouch End, London Utara. Mendadak, saya mulai
mengalami sakit kepala berat. Saya benar-benar lelah, sampai-sampai saya susah
payah mengenakan sepatu olah raga saya. Ketika mulai berolah raga, saya harus
memaksakan diri melakukan beberapa
gerakan olah raga.
Kemudian,
pelatih saya menempatkan saya pada posisi terlentang dan saya langsung merasa
ada seperti ikatan kuat menekan otak saya. Saya mencoba tidak mempedulikan rasa
sakit itu dan tetap berusaha melakukan gerakan olah raga, tapi kemudian saya
sudah tidak bisa bergerak. Saya bilang kepada pelatih, saya harus istirahat.
Entah begaimana, hampir – hampir merangkak, saya sampai di ruang ganti. Saya ke
toilet, jatuh berlutut, dan sangat kesakitan. Sementara rasa sakit — seperti
seakan-akan ditembak, ditusuk, sakit terus-menerus — makin lama semakin
memburuk. Pada satu titik, saya tahu apa yang terjadi; otak saya mengalami
kerusakan.
Untuk beberapa
saat, saya coba menahan rasa sakit dan rasa gamang. Saya katakan kepada diri
saya,”Saya tidak akan lumpuh.” Saya menggerakkan jari tangan dan kaki untuk
memastikannya. Dan untuk memastikan ingatan tetap ada, saya mencoba mengingat, beberapa diantaranya,
kalimat – kalimat dari “Game of Thrones”.
Saya mendengar
suara perempuan dari pintu sebelah, menanyakan apakah saya baik-baik saja.
Tidak, saya sakit. Dia datang dan menolong saya dan menidurkan saya menyamping,
posisi untuk memulihkan diri. Kemudian, dalam sekejab, jadi ribut dan kabur.
Saya ingat saya mendengar suara sirene, ambulan; saya mendengar suara-suara,
seseorang berkata denyut jantung saya lemah. Saya dibaringkan dengan
terburu-buru. Seseorang menemukan telepon saya dan menelepon orang tua saya,
yang tinggal di Oxfordshire, dan mereka diberitahu saya ada di IGD Rumah Sakit
Whitington.
Kabut
ketidak-sadaran menggantung diatas saya. Sejak dari ambulan, saya dibaringkan
di brankar dan didorong melewati gang-gang, yang berbau disinfektan, dan
suara-suara orang yang sedang kuatir. Karena tidak ada seorangpun tahu apa yang
salah di tubuh saya, para dokter dan perawat tidak bisa memberi saya obat
apapun untuk mengurangi rasa sakit ini.
Akhirnya, saya
dirujuk untuk pemindaian otak atau MRI. Diagnosa dilakukan dengan cepat dan
pasti; subarachnoid hemorrhage (SAH), stroke berat yang mengancam jiwa,
disebabkan oleh perdarahan disekeliling otak. Saya menderita aneurisma
(pembengkakan pembuluh darah di otak) yang sudah pecah. Belakangan, saya
mengetahui sepertiga pasien SAH
(aneurisma) meninggal setelah pembuluh darahnya pecah. Bagi pasien yang
selamat, diperlukan perawatan khusus untuk menutup aneurisma karena ada resiko
tinggi kemungkinan pecah kembali pembuluh darahnya. Jika saya ingin tetap hidup
dan menghindari serangan kedua, saya harus segera dioperasi. Dan bahkan setelah
itu, tetap tidak ada jaminan.
Saya dilarikan
ambulan ke Rumah Sakit Nasional Neurologi dan Neurosurgery, bangunan indah
dengan bata merah di London tengah. Saat itu sudah malam. Ibu saya tertidur di
bangku rumah sakit dan saya mengalami tidur ayam (tidur dan bangun) dan
dipengaruhi obat-obatan, rasa sakit, dan terus-menerus mengalami mimpi buruk.
Saya masih
ingat, saya diminta menandatangani formulir operasi. Operasi Otak? Saya sedang sangat sibuk (kerja) — saya tidak punya
waktu untuk operasi otak. Tetapi akhirnya, saya menenangkan diri dan
menandatangani formulir itu. Beberapa saat kemudian, saya tidak sadarkan diri.
Selama tiga jam berikutnya, dokter bedah memperbaiki otak saya. Dan ini
bukanlah operasi yang terakhir, dan juga bukan yang paling buruk. Saya baru
berumur dua puluh empat tahun.
Saya besar di
Oxford dan jarang sekali memikirkan soal kesehatan. Seluruh pikiran saya
terpusat pada akting. Ayah saya bekerja sebagai penata musik. Dia mengerjakan
(musik) pementasan teater “West Side Story” dan “Chicago” di West End. Ibu saya
adalah seorang pengusaha, wakil direktur marketing perusahaan konsultan global
manajemen. Kami bukan orang kaya, tapi kakak dan saya bersekolah di sekolah
swasta. Orang tua kami, menghendaki yang terbaik untuk kami, dan berjuang keras membayar uang sekolah (yang
sangat mahal).
Saya tidak
terlalu ingat kapan saya memutuskan untuk menjadi aktris. Saya sempat diberitahu
mungkin pada usia tiga atau empat tahun. Ketika itu, saya mengunjungi teater
bersama ayah. Saya sangat tertarik dengan hingar-bingar kehidupan dibelakang
panggung teater; gosip, peralatan panggung, kostum, dan semua orang
berbisik-bisik dan terlihat selalu terburu-buru, serta tempatnya gelap temaran
Pada usia tiga tahun, ayah saya mengajak untuk menonton pementasan teater
berjudul “Show Boat”. Meski biasanya saya cerewet, sepanjang pertunjukan saya
bisa duduk diam dan tenang selama lebih dari dua jam. Ketika layar tertutup,
saya berdiri dan bertepuk tangan dengan semangat.
Saya, saat
isu, benar-benar sangat tertarik. Di rumah, saya memutar rekaman VHS
(pementasan teater) berjudul “My Fair Lady” berulang-ulang sampai sampai
pitanya kusut. Saya rasa cerita Pygmalion menjadi pertanda bagi saya tentang
bagaimana — dengan latihan yang cukup dan sutradara yang bagus — anda bisa jadi ‘orang lain’. Saya merasa ayah
tidak senang ketika saya menyatakan saya ingin jadi aktris. Dia tahu kehidupan
para aktor dan dimatanya mereka itu orang sakit mental dan pengangguran belaka.
Di sekolah
saya, di Oxford, Sekolah Squirrel, adalah sekolah yang ideal, teratur, dan
manis. Ketika saya berusia lima tahun, saya mendapat peran utama pada sebuah pementasan sekolah. Ketika saya masuk
panggung dan seharusnya berbicara (sesuai skrip), mendadak saya lupa semuanya.
Saya cuma berdiri kaku, ditengah panggung, diam. Di deretan terdepan penonton,
para guru mencoba membantu dengan suara berbisik kata-kata yang seharusnya saya
ucapkan. Tapi saya cuma berdiri dengan sangat tenang dan tanpa rasa takut.
Kondisi (tenang) inilah yang saya bawa disepanjang karir saya. Saat ini, saya
bisa berjalan di ‘karpet merah’ dengan ribuan kamera mengambil gambar dan saya
tetap tenang. Tentu saja, jika menempatkan saya di meja pesta makan malam
bersama enam orang akan jadi hal berbeda.
Dengan
berlalunya waktu, saya semakin baik dalam berakting. Bahkan saya bisa mengingat
kalimat yang harus dikatakan. Tapi saya bukanlah orang yang sangat berbakat.
Ketika saya berumur sepuluh tahun, ayah saya mengajak saya mengikuti audisi di
West End untuk (yang akan mementaskan) karya Neil Simnon, ‘The Goodbye Girl’.
Ketika saya masuk kedalam, barulah saya sadar setiap anak perempuan, yang
mengikuti audisi, menyanyikan lagu dari (grup band) ‘Cats’. Lagu yang saya bisa
bawakan hanyalah lagu rakyat Inggris, “Donkey Riding’. Setelah mereka mendengarkan,
dengan sabar, seseorang bertanya,”Bagaimana kalau (lagunya) lebih kontemporer?”
Sayapun menyanyikan lagu (grup) Spice Girl berjudul ‘Wannabe”. Ayah saya
langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Saya tidak berhasil dalam
audisi ini, dan saya pikir itu adalah berkah. Ayah saya mengatakan, “Akan
terasa berat untuk membaca apa saja, yang buruk, mengenai kamu, di surat kabar
(mengenai ulasan pementasan teater tersebut)”.
Namun saya
tetap maju. Pada produksi pementasan di sekolah, saya berperan sebagai Anita di
cerita ‘West Side’, sebagai Abigail di ‘The Crucible’, dan jadi salah satu
penyihir di ‘Macbeth’, “Voila in Twelfth Night”. Setelah masuk SMA, saya tidak
main teater selama setahun. Saat itu, saya bekerja sebagai pelayan dan melancong
ke Asia. Kemudian, saya mengambil kelas drama di Drama Centre London untuk
mendapat gelar sarjana (B.A). Sebagai aktor pemula, kami belajar semua hal, mulai
dari “The Cherry Orchard” sampai “The Wire”. Saya tidak mendapat peran sebagai
perempuan biasa. Biasanya, peran itu jatuh ketangan perempuan yang tinggi,
kurus, dan berambut pirang. Saya memperoleh peran sebagai seorang ibu Yahudi
dalam pementasan “Awake and Sing!”. Kalau bisa, anda perlu sempatkan mendengar
aksen Bronx saya.
Setelah lulus,
saya berjanji kepada diri sendiri; selama satu tahun ini, saya hanya akan
mengambil peran (akting) yang berarti. Saya membayar sewa (apartemen) dengan
bekerja di pub, call center, dan museum dan mengatakan kepada orang-orang
“lorong itu disebelah kanan”. Dari detik akhirnya jadi berhari-hari. Tapi saya
bersungguh-sungguh; satu tahun tanpa pementasan buruk dan tidak (terima) main
yang tidak berkualitas.
Pada
musim panas 2010, agen saya menelepon ada audisi di London untuk serial baru
HBO. Pengambilan gambar pertama “Game of Thrones” berlangsung buruk dan mereka
ingin mengganti pemain, diantaranya peran Daenerys. Disebutkan peran itu menggambarkan
perempuan, seakan bukan berasal dunia, berambut pirang dan misterius. Saya
pendek dan berambut gelap, sangat Inggris. Apapun. Untuk mempersiapkan diri,
saya mempelajari dua kalimat aneh untuk dua pengambilan gambar, satu di Episode
4, pada adegan kakak saya memukul saya. Dan satu di Episode 10, saat saya
berjalan memasuki api dan selamat tanpa luka apapun.
Saat itu, saya
pikir saya sehat-sehat saja. Saya kadang-kadang pusing sedikit karena saya
sering terkena darah rendah dan detak jantung juga rendah. Sesekali, saya
merasa melayang dan pingsan. Saat saya masih berusia 14 tahun, saya kena migran
sehingga saya terpaksa tetap berbaring di tempat tidur selama beberapa hari.
Selain itu, saya juga pernah pingsan pada saat pementasan drama di sekolah. Tapi
semua ini kelihatannya bisa ditangani, sebagai bagian dari stres aktris dan
kehidupan pada umumnya. Sekarang, saya pikir pengalaman itu mungkin sebenarnya
peringatan dini atas apa yang akan terjadi.
Saya membaca
“Game of Thrones” di studio kecil di Soho. Empat hari kemudian, saya ditelepon.
Tampaknya audisi itu bukanlah bencana. Saya diminta terbang ke Los Angeles dan membaca seluruh skrip dalam waktu tiga
minggu dan bertemu Benioff dan Weiss serta para pejabat jaringan (HBO). Saya
mulai bekerja secara intensif sebagai persiapan. Mereka menerbangkan saya di
kelas bisnis. Dan saya mencuri semua bungkus teh, yang disediakan gratis, di
ruang publik di pesawat. Pada saat audisi, saya mencoba untuk tidak melihat
aktris lain — tinggi, pirang, kurus, dan cantik — yang sedang berjalan
masuk. Saya membacakan dua adegan di auditorium, yang gelap, kepada produser
dan pejabat (HBO). Setelah selesai, saya langsung berkata,”Apa saya bisa
melakukan hal lainnya.”
David Beniof
berkata, “Kamu bisa menari.” Saya coba tidak mengecewakan, saya menari ‘funky
chiken’ dan robot. Ketika memikirkannya, saya sebenarnya bisa menghancurkannya
(audisi). Saya bukan penari yang bagus.
Ketika saya
meninggalkan auditorium, mereka berlari kepada saya dan mengatakan, “Selamat,
tuan puteri!” Saya mendapat peran itu.
Saya langsung
susah bernapas. Saya kembali ke hotel, beberapa orang mengundang saya untuk
menghadiri pesta di atap hotel. “Saya pikir, cukuplah!”. Saya memilih pergi ke
kamar saya, makan Oreo, dan menonton “Friends” (serial televisi), dan menelepon
semua orang yang saya kenal.
Operasi
pertama disebut sebagai ‘invasiv minimal’, yang artinya mereka tidak membuka
tengkorak saya. Namun, mereka menggunakan sebuah tehnik yang disebut
endovascular coiling, dokter bedah memasukkan kabel ke pembuluh darat arteri,
di perut; kabel itu masuk ke atas, mengelilingi jantung, dan ke otak, dimana
mereka menutup aneurisma.
Operasi
berlangsung selama tiga jam. Ketika saya
bangun, rasa sakit langsung menerjang tidak tertahankan. Ada selang masuk ke
tenggorokan dan saya merasa tenggorokan kering dan mual. Setelah empat hari,
mereka mengeluarkan saya dari ICU dan mengatakan perjuangan berat adalah
menembus waktu dua minggu (setelah operasi). Jika saya lolos dengan komplikasi
minimal, maka kesempatan sembuh akan sangat besar.
Satu malam,
setelah lewat dua minggu itu, seorang suster membangunkan saya dan, sebagai
latihan kognitif, dia bertanya,”Siapa namamu?”. Nama lengkap saya adalah Emilia
Isobel Euphemia Rose Clarke.Tetapi saya tidak mengingatnya. Dari mulut saya
keluar suara-suara tidak jelas dan ini membuat saya panik. Saya belum pernah
mengalami rasa takut sebesar saat itu — rasanya sudah mau mati. Saya tidak
bisa melihat kehidupan saya kedepan dan rasanya tidak lagi pantas untuk
dijalani. Saya seorang aktris; saya harus mengingat skrip. Sekarang, saya
bahkan tidak bisa mengingat nama sendiri.
Saya menderita
sebuah kondisi disebut aphasia, akibat trauma pada otak. Bahkan saat saya
mengeluarkan suara-suara tidak jelas, ibu memperlihatkan kebaikan luar biasa
dan tidak memperdulikannya serta terus meyakinkan saya bahwa saya akan sembuh.
Tapi saya tahu saya terkapar. Pada saat-saat terburuk, saya ingin menyerah.
Bahkan saya katakakan kepada staf medis untuk membiarkan saya mati. Pekerjaan
saya — impian disepanjang hidup saya — berpusat pada bahasa, pada
komunikasi. Tanpa itu, hidup saya tidak berarti apa-apa.
Saya dikirim
kembali masuk ICU, setelah sekitar semiggu, kondisi aphasia hilang. Saya bisa
kembali berbicara. Saya tahu nama saya — seluruh lima kata itu. Namun saya
juga sadar ada orang-orang disekitar saya yang tidak berhasil keluar dari ICU
(meninggal). Saya terus ingat betapa beruntungnya saya. Sebulan setelah masuk
rumah sakit, saya keluar, merindukan udara segar dan mandi. Saya juga punya
janji wawancara dengan pers. Dalam beberapa minggu, saya kembali ke lokasi
syuting “Game of Thrones”.
Saya kembali
kepada pekerjaan saya, namun ketika masih di rumah sakit, saya diberitahu
mempunyai aneurisma lain, yang kecil, di bagian lain otak dan bisa pecah setiap saat.
Para dokter menjelaskan, itu cuma kecil saja dan mungkin tetap tidak berubah
dan tidak akan memburuk seumur hidup. Kami hanya perlu secara hati-hati
memeriksanya (secara teratur). Namun pemulihan (dari operasi) membutuhkan waktu
panjang. Masih terasa rasa sakit dan obat morfin membantu menguranginya. Saya
memberitahu ‘boss’ “Thrones” mengenai kondisi saya, tapi saya tidak mau jadi
bahan diskusi publik serta dianalisa segala. The show must go on!
Bahkan sebelum
kita memulai pengambilan gambar Musim 2, saya merasa sangat ragu-ragu (akan
kondisi kesehatan). Saya sering merasa lelah, sangat lemah, bahkan saya merasa
akan segera meninggal. Saya tinggal di hotel, di London, selama tur publikasi,
saya tidak bisa berpikir dengan jelas, saya tidak bisa ikut terus bergerak atau
menarik napas, apalagi mencoba bersikap manis. Saya meminum morfin sebelum
wawancara (dengan pers). Rasa sakit terus terasa, dan merasa sangat lelah, yang
belum pernah saya alami sebelumnya — semua dikali sejuta kali. Dan harus
diakui, saya tetaplah aktris. (Majalah) Vanity memberi saya pekerjaan. Saya
terlalu lama memikirkan bagaimana saya harus tampil. Seakan-akan ini semua
belum cukup, Kepala saya seakan-akan terkena pukulan setiap kali saya mencoba
naik taksi.
Reaksi
(publik) terhadap Musim 1, tentu saja, luar biasa, kendati saya tahu sangat
sedikit mengenai bagaimana mereka menentukan rangking. Ketika seorang teman
berteriak,”Kamu No 1 di IMDb!” Saya berkata,”Apa itu IMDb?”
Pada hari
pertama pengambilan gambar untuk Musim 2, di kota Dubrovnik, saya terus
mengatakan kepada diri saya sendiri,”Saya baik-baik saja, saya baru berumur dua
puluhan, saya baik.” Saya bekerja sepenuh hati. Tapi baru hari pertama selesai,
saya hampir-hampir tidak mampu kembali ke hotel yang akhirnya saya pingsan
karena kelelahan.
Di lokasi
syuting, saya tidak kehilangan konsentrasi, kendati saya berjuang untuk itu.
Musim 2 merupakan yang paling buruk buat saya. Saya tidak tahu apa yang
dilakukan Daenery. Jika saya benar-benar jujur, setiap menit setiap hari, saya
pikir saya akan segera mati.
Pada tahun
2013, setelah menyelesaikan Musim 3, saya mengambil pekerjaan di Broadway,
memainkan peran sebagai Holly Golightly. Latihan berlangsung sangat baik, tapi
dengan cepat sudah sangat jelas pertunjukan ini tidak akan berhasil. Pementasan
teater ini hanya berlangsung selama dua bulan saja.
Ketika saya
masih di New York, untuk main pada pementasan teater itu, dan hanya tinggal
lima hari sebelum asuransi SAG berakhir, saya pergi (ke rumah sakit) untuk scan
otak — yang sekarang saya harus lakukan secara berkala. Pertumbuhan (aneurisma) sudah
membesar dua kali lipat dan dokter mengatakan, kita harus mengatasinya. Saya
dijanjikan (oleh dokter) operasiny akan sederhana, lebih mudah dari sebelumnya.
Beberapa waktu kemudian, saya berada di sebuah kamar bagus di rumah sakit
Manhattan. Orang tua saya hadir. “Sampai ketemu dua jam lagi,” kata ibu, dan
sayapun dibawa keruang operasi, perjalanan
lewat pembuluh darah arteri (fermoral artery) ke otak. Gak masalah.
Ternyata ada
masalah. Ketika mereka membangunkan saya, saya langsung berteriak kesakitan.
Operasi gagal. Saya mengalami perdarahan hebat dan dokter dengan terus terang
mengatakan kesempatan hidup saya sangat kecil jika saya tidak dioperasi lagi.
Kali ini, mereka harus punya akses langsung ke otak, dengan cara lama —
membuka tulang tengkorak saya. Saya pun langsung dioperasi.
Masa pemulihan
berjalan jauh lebih menyakitkan daripada operasi pertama. Saya melihatnya
seperti saya sedang berperang dalam pertempuran yang lebih mengerikan daripada
pengalaman Daenerys (tokoh yang diperankannya di Thrones). Saya keluar dari
ruang operasi dengan pipa keluar dari kepala saya. Sebagian dari tulang
tengkorak telah diganti dengan besi titanium. Sekarang ini, anda bisa melihat
goresan bekas luka yang memanjang dari bagian atas kepala sampai kuping saya.
Bekasi luka ini, tadinya saya tidak tahu
bahwa goresan ini akan tidak kelihatan. Tapi tetap terlihat (kalau
diperhatikan), selain itu ada kekuatiran terus menerus akan kehilangan
kesadaran atau indera. Apakah (tidak bisa) konsentrasi? Kenangan? Penglihatan
peripheral (sisi kiri dan kanan mata)? Sekarang saya bisa katakan kepada
teman-teman bahwa (operasi itu) telah melenyapkan selera, yang baik, atas pria.
Namun, tentu saja, saat itu pernyataan ini tidak kelihatan lucu.
Saya tinggal
selama satu bulan di rumah sakit, dan pada saat-saat tertentu, saya sempat
hilang harapan. Saya tidak bisa berhadapan dengan orang dan menatap matanya.
Saya merasa sangat takut, serangan panik. Saya dibesarkan dengan ajaran untuk
tidak pernah mengatakan,”Ini tidak adil”. Saya diajarkan untuk mengingat ada
orang lain yang kondisinya lebih buruk dari kita. Tapi mengalami pengalaman
ini, untuk kedua kalinya, seluruh harapan menciut. Saya merasa saya berada di ruang kecil saja.
Terus terang, saya sekarang ini sukar mengingat pengalaman besat ini secara
rinci. Pikiran saya menolak semuanya. Tapi saya benar-benar ingat saya
diyakinkan akan tetap hidup. Dan terlebih lagi, saya yakin bahwa berita
mengenai sakitnya saya akan diketahui orang. Dan benar — untuk beberapa saat
kemudian. Enam minggu setelah operasi, majalah National Enquirer menulisnya
dalam artikel pendek. Seorang wartawan bertanya kepada saya mengenai hal itu
dan saya membantahnya.
Tapi sekarang,
setelah selama bertahun-tahun diam, saya menceritakan kepada anda kebenarannya.
Percayalah kepada saya; saya tahu saya tidaklah terlalu unik, tidak sendirian.
Banyak sekali orang yang menderita lebih buruk dan tidak mendapat perawatan
seperti yang saya – sangat beruntung – dapatkan.
Beberapa
minggu setelah operasi kedua, saya pergi dengan beberapa pemeran lain (di
Thrones) ke acara Comic-Con di San Diego. Para pengemar (fans) di Comic-Con
adalah pengemar berat; anda tidak ingin mengecewakan mereka. Ribuan orang
berkumpul dan ketika kami sedang bersiap menerima pertanyaan, saya dihantam
sakit kepala luar biasa. Langsung muncul semua rasa takut, yang sudah saya
alami sebelumnya. Saya pikir, inilah waktunya (untuk meninggal). Sudah
waktunya; saya sudah berhasil menghindari kematian dua kali dan sekarang dia
menghampiri saya. Ketika saya berjalan keluar panggung, agen publikasi saya
melihat saya dan bertanya apa ada yang salah. Saya katakan kepadanya, tapi dia
membalas ada wartawan dari MTV sedang menunggu untuk wawancara. Saya pikir,
jika saya mengiyakan, maka itu seperti wawancara langsung di televisi.
Tapi saya
bertahan. Saya bertahan terhadap MTV dan yang lainnya. Bertahun-tahun kemudian,
setelah operasi kedua, saya benar-benar sembuh total diluar semua harapan
paling tinggi sekalipun. Saya sekarang sudah seratus persen. Diluar kerja saya
sebagai aktris, saya memutuskan akan mengabdikan diri saya untuk pekerjaan
amal. Saya, bersama-sama dengan mita di Inggris dan Amerika, mengembangkan apa
yang disebut sebagai “SameYou”, yang ditujukan untuk memberi layanan perawatan
bagi orang-orang yang sedang menjalani masa penyembuhan dari cedera otak dan
stroke. Saya merasa sangat berterima kasih, yang tak habis-habisnya, kepada ibu
dan kakak saya, kepada para dokter dan perawat, serta teman-teman. Setiap hari, saya merindukan ayah saya, yang
meninggal karena kanker tahun 2016 silam, dan saya merasa tetap kurang
menyatakan terima kasih kepadanya, yang selalu memegang tangan saya sampai
akhir.
Ada
kebahagiaan, dan lebih dari sekedar keberuntungan, ketika “Throne” berakhir.
Saya sangat senang melihat akhir dari cerita ini dan memulai apa saja yang akan
datang.
JAYAKARTA NEWS – Di zaman streaming video sekarang ini —pengalaman sepulang di rumah, lalu menyalakan televisi, dan mencoba mencari tayangan ulang secara acak untuk ditonton— bagi sebagian besar orang (apalagi generasi milenial) itu sudah menjadi masa lalu. Sudah usang.
Tapi, Netflix mungkin membawanya kembali.
Raksasa streaming ini tengah menguji tombol yang akan memungkinkan penggunanya untuk memutar episode acak televisi.
Pengujian, pertama kali ditemukan oleh blog Android Police dan kemudian dikonfirmasi oleh Netflix dalam sebuah pernyataan kepada The Hollywood Reporter, bahwa saat ini hanya berjalan untuk beberapa pengguna di aplikasi seluler Netflix untuk perangkat Android.
Tampaknya, Netflix secara teratur mencoba fitur-fitur baru dengan segmen kecil dari hampir 149 juta anggota globalnya yang tidak menjadi permanen.
“Kami sedang menguji kemampuan anggota untuk memainkan episode acak dari berbagai serial TV di aplikasi seluler Android,” kata juru bicara perusahaan itu.
“Tes ini biasanya bervariasi dalam jangka waktu dan wilayah, dan mungkin tidak menjadi permanen.”
Menurut laporan Android Police, tes Netflix mencakup fitur untuk “memainkan episode populer.”
Itu juga bereksperimen dengan tombol Episode Acak di bagian bawah video yang pada dasarnya akan memungkinkan pengguna untuk mengacak episode seri.
Sementara fitur acak mungkin tidak masuk akal untuk acara serial seperti The Crown atau The OA, itu bisa terbukti berguna untuk menonton program berlisensi katalog-belakang seperti The Office atau Friends, jenis acara yang berada dalam sindikasi berat di televisi linear.***
JAYAKARTA NEWS – Selama penampilannya di Late Show untuk membahas Festival Film Tribeca, aktor Hollywood Robert De Niro menyebut Presiden AS Donald Trump sebagai ‘pecundang total’ dan ‘dumbbell‘. Dia melanjutkan serangannya terhadap pemimpin AS dan kebijakan Trump yang dimulainya sejak masa kampanye Trump 2016.
Aktor Godfather (75), ini mengatakan, bahwa ia mencoba memberi Trump kesempatan, tetapi kecewa karena “orang ini telah membuktikan dirinya sebagai pecundang total.”
De Niro biasanya muncul di Saturday Night Live (SNL) untuk memberi kesan penasihat khusus – aktor terakhir memerankan Mueller pada episode 30 Maret SNL dan muncul di beberapa pembukaan dingin tahun lalu. Dalam sebuah wawancara Hollywood Reporter In Studio baru-baru ini, De Niro mengatakan bahwa penampilan di SNL terasa seperti “tugas sipil.”
Ketika Colbert bertanya mengapa dia merasa itu adalah “kewajiban sipil,” De Niro mengatakan tidak ada penjelasan selain apa yang dia katakan. “Aku tidak punya cara lain untuk mengatakannya … Itu adalah kewajiban sipilku untuk memainkan Mueller.” “Aku ragu Mueller melakukan kebaikan Mueller seperti kamu,” kata Colbert.
Bintang Hollywood itu, baru-baru ini mengubah perannya sebagai penasihat khusus Robert Mueller di SNL. Dia mencoba membaca ringkasan temuan laporan yang tidak menemukan bukti bahwa kampanye Trump berkonspirasi dengan Rusia untuk ikut campur dalam pemilihan presiden AS 2016.
Rusia telah berulang kali membantah klaim mengganggu sistem politik AS, dengan mengatakan bahwa tuduhan itu dibuat untuk alasan hilangnya pemilihan lawan Trump serta untuk mengalihkan perhatian publik dari contoh aktual penipuan dan korupsi pemilu.
Robert De Niro mengatakan, bahwa itu adalah “kewajiban sipil” untuk apa yang dimainkan Mueller. Dia menambahkan “Saya tidak tahu apakah itu mungkin, tapi saya terus mengatakan [jika mungkin] untuk memborgolnya dan membawanya [Trump] pergi dengan jumpsuit oranye. ”
Aktor ini kembali mengkritik Trump, ketika berbicara tentang peran gangster, dan menyebut presiden AS “seorang gangster wannabe di Gedung Putih.”
De Niro telah memenangkan dua Oscar selama karirnya perannya dalam film The Godfather Part II dan Raging Bull. Dia akan kembali ke genre gangster untuk The Irishman di Netflix, yang akan dirilis musim gugur ini dan akan menyatukannya kembali dengan sutradara Martin Scorsese.
“Bahkan gangster memiliki moral, mereka memiliki etika, mereka memiliki kode, dan Anda tahu, ketika Anda memberi seseorang kata Anda, yang Anda miliki hanyalah kata-kata Anda, terutama di dunia itu. Orang ini, dia bahkan tidak tahu apa artinya itu, “tambahnya.
“Bahkan gangster memiliki moral, mereka memiliki etika, mereka memiliki kode, dan Anda tahu, ketika Anda memberi seseorang kata Anda, yang Anda miliki hanyalah kata-kata Anda, terutama di dunia itu. Orang ini, dia bahkan tidak tahu apa artinya itu, ” kata De Niro menambahkan.
“Robert De Niro, seorang individu dengan IQ sangat rendah, telah menerima banyak tembakan ke kepala oleh para petinju sejati dalam film. Saya mengawasinya tadi malam dan benar-benar percaya dia mungkin ‘mabuk-mabukan.’ ”
“Saya kira dia tidak menyadari ekonomi adalah yang terbaik yang pernah ada dengan lapangan kerja berada pada titik tertinggi sepanjang masa, dan banyak perusahaan mengalir kembali ke negara kita. Bangunlah Punchy! ”
Ini bukan pertama kalinya aktor Hollywood itu menyerang presiden AS dengan kritikannya yang sangat tajam.
Sebelumnya pada Januari, De Niro membandingkan Trump dengan Adolf Hitler, mengklaim para diktator telah ‘terlihat lucu’ ketika mereka pertama kali berkuasa. Ditanya apakah Trump adalah seorang fasis, ia berkata:
“Saya kira itulah yang menyebabkannya. Jika dia memiliki jalannya sendiri, kita akan berakhir dalam keadaan yang sangat buruk di negara ini. “***