JAYAKARTA NEWS – PT PLN (Persero) terus berinovasi untuk memberikan layanan terbaik kepada pengguna Electric Vehicle (EV).
Untuk itu, dihadirkan aplikasi PLN Mobile yang dapat mengakses lokasi Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) terdekat hanya dengan sentuhan jari.
Dengan fitur tersebut, pengguna mobil listrik tidak lagi khawatir saat bepergian jarak jauh seperti di momen liburan Natal 2023 dan Tahun Baru 2024 (Nataru) ini.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan, hadirnya aplikasi PLN Mobile ini tentu saja bertujuan untuk memudahkan para pelanggan PLN dan pengguna kendaraan listrik.
Terlebih lagi, menjelang persiapan mudik 2023 kali ini, PLN ingin memastikan masyarakat tidak kesulitan dalam mencari lokasi SPKLU terdekat.
“Kami sudah memastikan pada setiap rest area tersedia SPKLU dan dapat diakses dengan sangat mudah melalui aplikasi PLN Mobile.
“PLN akan terus mendorong ekosistem EV di Indonesia, salah satunya dengan memastikan infrastruktur untuk para pengguna EV tersedia dengan baik,” ujar Darmawan.
Darmawan berharap masyarakat tidak perlu khawatir untuk menggunakan kendaraan listrik sebagai pilihan akomodasi jarak jauh saat mudik.
Karena PLN akan terus berinovasi untuk menghadirkan fasilitas penunjang dalam mendukung pengembangan ekosistem kendaraan listrik di tanah air.
“PLN terus melakukan transformasi untuk meningkatkan pelayanan pelanggan.
“Salah satunya dengan fitur-fitur yang mendukung eksosistem kendaraan listrik ini,” kata Darmawan.
PLN juga membagikan langkah-langkah bagi para pengguna EV yang ingin mencari Lokasi SPKLU lewat aplikasi PLN Mobile, sebagai berikut :
1. Pastikan aplikasi PLN Mobile sudah terpasang pada smartphone yang bisa diunduh melalui PlayStore atau AppStore.
2. Buka aplikasi dan lakukan daftar/masuk akun, pastikan GPS Anda aktif saat menggunakan aplikasi PLN Mobile.
3. Pilih menu “Electric Vehicle” pada pojok kanan atas layar.
4. Kemudian pilih menu “SPKLU” di antara pilihan lain.
5. Lokasi SPKLU yang paling dekat dengan lokasi Anda akan terlihat, pilihan ini juga bisa di sesuaikan menggunakan Daftar atau Map.
Bukan hanya itu, aplikasi ini juga menyediakan petunjuk arah ke lokasi SPKLU.
Dengan demikian, pengguna mobil listrik akan semakin mudah menemukan keberadaan SPKLU.
Selain itu, pada masa Libur Nataru kali ini, PLN telah menyiagakan 624 unit EV Charger yang tersebar di 411 titik strategis di Indonesia.
Sebanyak 64 unit EV Charger pada 38 titik SPKLU juga tersedia di sepanjang ruas Tol Trans Sumatera – Jawa bagi pengendara kendaraan listrik yang akan melakukan mudik.***/mel
PROBOLINGGO, JAYAKARTA NEWS-Ada yang baru di kawasan wisata Gunung Bromo yakni jembatan kaca seruni spot. Diprediksi kedepan jembatan kaca ini menjadi ikon Gunung Bromo.
Spot wisata yang diyakini bakal menjadi primadona baru berupa jembatan yang membentang sepanjang 120 meter dan lebar 1,8 meter serta tinggi 80-100 meter ini bakal semakin memanjakan wisatawan untuk menikmati keindahan alam Gunung Bromo.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menikmati icon wisata baru itu, yang berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kab. Probolinggo, Rabu (15/2).
Setelah mencoba melintasi Jembatan Kaca yang membentang di atas jurang berkedalaman 80-100 meter tersebut, Gubernur Khofifah menyatakan rasa bangganya atas rampungnya Jembatan Kaca tersebut yang merupakan karya anak bangsa.
Saat ini, Jembatan Kaca tersebut tinggal menunggu proses finishing tepatnya di kaki pondasi di kedua ujung jembatan sehingga belum bisa dinikmati oleh wisatawan secara terbuka. Bahkan tampak beragam spot foto sudah disiapkan guna memanjakan wisatawan di jembatan tersebut nantinya.
“Jembatan Kaca ini merupakan karya putra putri anak bangsa yang dikomandani oleh Kementrian PUPR yang bisa tetap mempertahankan keindahan Gunung Bromo sekaligus tetap bisa mempertahankan daya dukung alam dan daya dukung lingkungan,” pujinya.
Khofifah berharap, dengan adanya Jembatan Kaca di TNBTS ini akan memberikan referensi sekaligus replikasi adanya Jembatan Kaca baru lainnya agar bisa dibangun dibanyak titik di Jatim. Seperti salah satunya di kawasan Tumpak Sewu yang menghubungkan Kab. Lumajang dan Malang dengan air terjun yang sangat eksotik.
Mantan Menteri Sosial itu optimistis, dengan beroperasinya Jembatan Kaca ini nantinya (diperkirakan Oktober 2023 rampung) akan memberikan daya tarik wisatawan untuk lebih lama tinggal dan berwisata di TNBTS.
“Kami berharap masyarakat bisa menginap dua malam ketika berwisata di Bromo. Selain sunrise, wisatawan juga bisa menikmati jembatan kaca di seruni poin,” ungkapnya.
Gubernur Khofifah mengatakan, Jembatan Kaca Seruni Point kuat menampung 100 orang sekaligus. Dimana, jembatan ini menghubungkan antara Kawasan wisata Seruni Point dengan shuttle area pemandangan Gunung Bromo, Gunung Batok dan Gunung Semeru.
Gubernur perempuan pertama di Jatim itu juga menceritakan, Jembatan Kaca ini berawal dari presentasi salah satu Dirjen dari Kementrian PUPR pada saat sertijab Bupati Malang tahun 2020 yang disiapkan adalah Jembatan Kaca TNBTS dari Kabupaten Malang. Kemudian, disampaikan juga kalau bisa juga ada Jembatan Kaca dari Tengger karena rata-rata wisatawan itu mengambil destinasi melalui Jalur Probolinggo.
“Allhamdulillah Jembatan Kaca ini disetujui kemudian saya mengkoordinasikan dengan Pak Menteri dan mengkoordinasikan dengan bupati. Bersyukur dari PUPR bukan hanya mengerjakan jembatan kaca namun yang fenomenal dikerjakan oleh putra-putri bangsa yang ingin menunjukkan hasil karyanya,” ungkapnya.
Sebagai informasi, Jembatan ini tergolong sebagai jembatan gantung pejalan kaki (suspended cable) yang memiliki sistem struktur lantai atau deck jembatan gantung berupa kaca pengaman berlapis atau laminated glass yang terdiri dari dua lembar kaca atau lebih.
Struktur jembatan ini dilengkapi double protection steel berupa baja galvanis yang dilapisi cat epoxy agar lebih tahan terhadap karat. Jembatan kaca ini menghadirkan wisata pemandangan alam dengan panduan atraksi adrenalin.
Pada kesempatan yang sama, sesepuh Masyarakat Tengger Kab. Probolinggo Supoyo mengungkapkan, keberadaan Jembatan Kaca Seruni Point ini akan memberikan dampak secara ekonomi dan peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar.
Nantinya, jika jembatan kaca seruni point sudah beroperasi diyakini akan meningkatkan kunjungan wisatawan dalam negeri maupun wisatawan mancanegara. Diprediksi jika nanti beroperasi sekitar 2.000 wisatawan akan memadati Bromo khususnya akses ke seruni point.
“Kita hitung saja, kalau ada 400 jeep yang naik ke seruni point dikalikan 5 orang wisatawan ada sekitar 2.000 wisatawan yang berkunjung. Belum ditambah wisatawan yang datang menggunakan kuda, ojek. Dampak ekonomi dan kesejahteraanya saya optimis akan meningkat dan saya yakin akan banyak berdiri homestay baru. Para PKL, dan pedagang bisa merasakan dampaknya,” tutupnya.
Sementara itu, usai meninjau Jembatan Kaca Seruni Point Bromo, Gubernur Khofifah menyempatkan diri menanam tanaman edelweiss Jenis A.Longifolia di halaman kantor TNBTS wilayah Probolinggo. Edelweiss ini sendiri merupakan budidaya yang dikembangkan oleh TNBTS bekerjasama dengan masyarakat sekitar Bromo. (poedji)
SURABAYA, JAYAKARTA NEWS— Prestasi membanggakan ditorehkan Desa Wisata Keris Aeng Tongtong Kabupaten Sumenep, Madura, di ajang nasional Anugerah Desa Wisata Indonesia 2022 besutan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Minggu (30/10).
Dalam ajang yang diikuti oleh 3.419 desa wisata dari 34 Provinsi di seluruh Indonesia tersebut Desa Aeng Tongtong Kabupaten Sumenep berhasil menyabet dua gelar luar biasa.
Pertama Desa Aeng Tongtong memecahkan Rekor MURI sebagai Desa dengan Empu Keris Terbanyak di dunia. Berikutnya, Desa Aeng Tong Tong juga dinobatkan sebagai Juara I ADWI 2022 Kategori Daya Tarik Pengunjung.
Atas prestasi membanggakan ini, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan apresiasi dan rasa syukurnya. Dikatakan Khofifah, capaian ini adalah buah dari keuletan dan kreativitas warga Desa Aeng Tongtong dalam melestarikan warisan budaya leluhur.
“Bangga bercampur bahagia mendapat kabar Desa Aeng Tongtong, Sumenep berhasil menyabet Juara 1 Kategori Daya Tarik Pengunjung pada Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022,” tegas Gubernur Khofifah, Kamis (3/11).
“Tidak berhenti disitu, Desa Wisata Keris Aeng Tongtong juga berhasil mendapatkan rekor MURI sebagai desa wisata dengan jumlah empu keris terbanyak di dunia. Ini menjadi prestasi membanggakan dari Kabupaten Sumenep,” lanjutnya.
Lebih lanjut dijelaskan Gubernur Khofifah, ada keunggulan hal yang menjadikan Desa Aeng Tongtong mampu memecahkan Rekor MURI sebagai Desa Dengan Empu Keris Terbanyak.
Pasalnya di Desa Aeng Tongtong, Sumenep, Madura, Jawa Timur ini terdapat 446 terdiri empu pembuat keris. Yang rincinya terdiri dari 440 empu laki-laki dan 6 empu perempuan.
Diketahui, Desa Wisata Keris Aeng Tongtong ini menjadi salah satu dari tiga desa wisata di Indonesia yang memecahkan Rekor MURI dalam ajang ADWI 2022.
Begitu juga selanjutnya untuk pretasi membanggakan Juara 1 Kategori Daya Tarik Pengunjung. Dikatakan Gubernur Khofifah, desa ini memiliki keunggulan berupaya daya tarik pelestarian budaya yang kuat. Juga memiliki keunikan yang belum tentu dimiliki desa wisata lain yaitu para pande atau empu pembuat keris.
Tidak hanya itu, di desa wisata satu ini juga mampu menyajikan Aktivitas Wisata untuk para wisatawan berupa proses ketika para pande mulai membuat keris. Dimana hasil keris dari desa Aeng Tongtong memiliki nilai kreativitas dan inovasi yang tinggi serta memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.
“Aktifitas pembuatan keris di Desa Aeng Tongtong tentunya tidak lepas dari peninggalan para leluhur yang dulunya juga seorang Empu pembuat keris. Sehingga sampai hari ini pun aktifitas pembuatan keris di Desa Aeng Tongtong tetap berlangsung dan sudah menjadi penghasilan atau mata pencaharian sebagian besar masyarakat di samping bercocok tanam dan lain-lain,” tandas Gubernur Khofifah.
Mantan Menteri Sosial ini menegaskan Warga Desa Aeng Tongtong selain banyak yang menjadi pengrajin atau pembuat keris, banyak pula yang menjadi pedagang keris di beberapa kota di pulau Jawa. Lantaran keunikan dan kekhasan produk kerisnya, pesanan keris pun datang silih berganti pada para empu atau pande keris Desa Aeng Tongtong.
Selain melayani pembeli yang menginginkan kerisnya sebagai koleksi, para empu juga melayani pembuatan untuk oleh-oleh dibawa pulang.
“Dan yang membanggakan, keris asal Desa Aeng Tong Tong Jawa Timur juga menjadi suvenir side event G20 yang diselenggarakan di Bali 26 – 28 Oktober 2022. Hal ini menjadi kesempatan emas mengantarkan Keris dari Aeng Tong Tong semakin dikenal dunia,” tandas Gubernur Khofifah.
Sebagai informasi Desa Wisata Keris Aeng Tongtong adalah salah satu di antara beberapa wilayah penghasil dan pembuat keris yang terdapat di pulau Madura. Secara geografis Desa Aeng Tong Tong termasuk wilayah dataran tinggi dan sebagian besar dataran rendah yakni berupa pegunungan dan perbukitan.
“Terima Kasih dan selamat kepada Desa Aeng Tongtong, semoga kabar baik ini membawa kebaikan dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat desa. Dan, yang paling utama warisan leluhur tetap terjaga dengan baik dan terus lestari. Bravo Sumenep!” pungkasnya. (poedji)
Jayakarta News – Sotis merupakan kain tenun asal Kupang, Nusa Tenggara Timur ( NTT). Kain tenun Sotis ini dibuat dari kapas lalu dipintal dengan penuh ketelatenan, sampai menjadi kain sotis yang bagus nan indah. Dari situlah asal nama Hotel Sotis Kemang, Jakarta Selatan. Hotel baru berbintang empat yang bercokol di Jalan Kemang Raya No. 4, Kemang, Jakarta Selatan.
Proses terbentuknya sotis menjadi inspirasi nama hotel yang
satu ini. Jika dilihat awal proses dibangunnya hotel tersebut sampai selesai,
kemudian bagaimana merawat bangunan dan menjalankan operasional hotel tersebut,
bisa dijadikan dasar motivasi dalam mengembangkannya. Filosofinya adalah
“proses tidak pernah mengingkari hasil”.
Sotis pun hadir melengkapi sejumlah hotel yang sudah ada di
kawasan ini, seperti Grand Kemang. “Jadi kita harus ulet, telaten, serta
bersungguh-sungguh dalam mengembangkan Hotel Sotis Kemang ini. Selain itu juga
butuh kesabaran yang tinggi hingga sampai menjadi bagus, manis hasilnya dan valuable,” ujar General Manager
Sotis Kemang, Vida Frans kepada Jayakarta
News.
Hotel Sotis Kemang baru berjalan sekitar empat bulan terhitung mulai grand opening pada 26 November 2019. Hotel ini tepat berada di Jalan Kemang Raya, selain menggunakan transportasi pribadi ada juga moda transportasi massal Trans Jakarta rute Ragunan – Blok M, yang tepat turun di depan hotel. Dan dari Lapangan Monas hanya 11 km.
“Di antara banyak hotel di kawasan Kemang, Hotel Sotis
Kemang hadir dengan konsep boutique.
Mulai dari taste, lalu nuansa boutique life style hotel juga
ditonjolkan. Sehingga kita ‘pede’, ada diantara hotel-hotel lainnya di sekitar
Kemang. Sebab, di Kemang belum ada hotel dengan konsep seperti Sotis. Kalaupun
ada boutique hotel di daerah sini,
tetapi hotel yang punya tema identik plus unik itu ya sotis hotel Kemang,”
ungkap Vida yang sudah memiliki pengalaman GM dari tahun 2014.
Vida Frans, General Manager Hotel Sotis Kemang, Jakarta Selatan. (foto: ist)
Setiap tamu dipastikan akan terkesan begitu tiba di Lobby Hotel
Sotis Kemang. Ada nuansa beda yang akan akan langsung bisa dirasakan. “Sudah
banyak para tamu yang bilang, ‘waduh cantik ya nuansa hotel ini’. Mereka
umumnya terkesan dengan ornamen-ornamen khas kain sotis, seperti di depan
dinding ada motif kain Sotis sebelah kanan dan kiri dinding,” ujar Vida.
Nuansa yang berbeda itulah yang mengesankan para tamu. Hotelnya
tidak begitu, tetapi kualifikasi bintang empat karena kelengkapan fasilitasnnya.
Hotel Sotis Kemang ini memiliki 74 kamar, yang terdiri dari empat type, yaitu
deluxe, premiere, junior sweet dan Sotis sweet. Untuk kamar deluxe ada dua
macam bed, twin dan double, TV juga WiFi.
Kategori premiere dengan deluxe bedanya pada fasilitas kamar mandi. Kamar deluxe menggunakan shower sedangkan premiere menggunakan bathtub. Sedangkan junior sweet luasnya tentu berbeda begitu juga ukurannya. Dan Sotis sweet kamarnya lebih luas dan lengkap dari ketiga type, bahkan dilengkapi fasilitas meja makan untuk berdua. Semua kamar dilengkapi TV 42 inci, 64 Chanel.
Begitu juga setiap kamar memiliki mini bar. Kebanyakan hotel
lain, mini bar di kamar itu jika dikonsumsi akan dikenakan pembayaran. Tetapi
Hotel Sotis Kemang ini memberikan free
kepada para tamu yang sudah check in.
Ada tujuh item isi mini barnya, tiga macam minuman dan empat macam snack. Jadi para
tidak perlu keluar kamar untuk sekadar mencari snack.
Selain itu, Hotel Sotis Kemang saat ini sedang memiliki
program promosi. “Seperti saya bilang, kita sedang create awareness, dan kita lagi nge-branding nama Sotis itu sendiri. Apalagi di area Kemang ini, dan di
Jakarta pada umumnya. Jadi kita membuat paket-paket eksklusif,” ujar Vida yang
16 tahun berpengalaman di bidang marketing.
Hotel Sotis Kemang memberikan kesempatan kepada tamu yang
akan check in, dapat stay 24 jam. Misalnya tamu dari luar
kota yang menggunakan flight malam dan
baru bisa check in pukul 22.00 WIB, maka
jam check out tamu tadi keesokan harinya juga pukul 22.00 WIB. Atau misalnya pagi-pagi
mau check in jam tujuh, maka check outnya keesokan paginya juga jam tujuh pagi.
Jadi tidak ada tambahan 50 persen dari tarif kamar untuk early check in.
Soup Tangkar Betawie dan Nasi Goreng Bakar, dua di antara tiga menu andalan Hotel Sotis Kemang Jakarta. (foto: monang sitohang)
Di bidang food and
beverage, Sotis Kemang juga menaruh perhatian yang besar. Khusus menu makan,
tersedia tiga menu favorit, antara lain Soup Tangkar Betawie, dari iga yang very-very tasty. Ada lagi menu nasi
goreng bakar. Nasi goreng dibungkus lagi dengan daun. Dan menu ketiga yang
menjadi andalan kami adalah Japanese sushi.
Vida menambahkan, semua unsur yang menjadi kelebihan Hotel Sotis Kemang sedang disosialisasikan melalui strategi branding. Targetnya, makin banyak dan makin banyak lagi masyarakat yang mengetahui Hotel Sotis Kemang dengan segala keunggulannya. “Hal lain yang kita jaga adalah konsistensi pelayanan. Prinsip hospitality yang prima menjadi unggulan yang harus diketahui sebanyak-banyaknya masyarakat Indonesia,” tekad Vida.
Tiga hal yang saya underline-kan kepada manajemen. Pertama
pelayanan prima. Kedua, cita rasa makanan yang membuat tamu terkesan karena
kenikmatannya. Ketiga, kebersihan. Tiga hal itu yang menjadi kunci sekaligus
jawaban, tamu akan datang kembali atau hanya bertamu sekali.
Di kesempatan yang sama Budi Alamsyah, Food and Beverage
Manager (FBM) Hotel Sotis Kemang mengatakan, dalam waktu dekat ini ada rencana mengadakan
gathering EO dan WO di pertengahan bulan Maret 2020. Selain itu pihaknya juga
akan membuat paket Promo Kampung Ramadhan di bulan Ramadhan mendatang. (Monang Sitohang)
Jangan bangun hotel bintang tiga. Di Banyuwangi. Apalagi bintang 2. Atau bintang 1. Lebih-lebih hotel kelas melati.
Bupati Banyuwangi tidak akan memberi ijin: Azwar Anas.
Bangun saja hotel bintang empat. Atau bintang lima. Atau bintang sembilan. Kalau ada.
Anas punya keinginan lain: mengembangkan home stay. Agar masyarakat umum ikut menikmati pariwisata. Yang lagi dikembangkan di sana.
Sejak bupati membangun bandara Banyuwangi top sekali. Ada penerbangan lang
Dahlan Iskan–foto instagram dahlan
sung dari Jakarta. Surabaya. Dan sebentar lagi dari Kuala Lumpur.
Malam itu saya bertemu Anas. Secara kebetulan. Di cafe uniknya pak Setiawan: kopi Osing. Setelah memberikan seminar. Di Universitas 17 Agustus Banyuwangi. Yang mulai maju. Setelah konflik internalnya selesai. Tuntas.
Di Cafe itu Anas lagi makan durian. Sambil mengamati layar laptop. Tampak asyik. Bersama tiga anak muda.
Anas lantas memperkenalkan siapa anak-anak muda itu. “Mereka ini lagi merancang warung aplikasi,” ujar Anas.
Selama ini Anas juga melarang jaringan Indomaret di Banyuwangi. Juga Alfamart. Juga mart-mart sejenis. Agar tidak membunuh warung tradisional.
Kini Anas lagi merintis kelanjutan dari larangan itu: membina kios-kios rakyat. Agar bisa memanfaatkan teknologi baru. Dalam satu jaringan Apps.
Anas sudah mempunyai program sejenis. Sudah berpengalaman. Ia anggap sukses. Ia bangga-banggakan. Itu tadi: home stay. Setelah hotel bintang 3 dilarang di Banyuwangi.
“Home stay di Banyuwangi kini sudah mewabah,” kata Anas.
“Itu karena teknologi”, tambahnya. “Sudah masuk jaringan bisnis online” . Misalnya
Traveloka. Dengan demikian mencari home stay sudah sama mudahnya dengan mencari kamar hotel.
Anas lantas mendemonstrasikannya. Seolah sedang mencari home stay. Lewat hand phone-nya. Banyak tanda merah di layar. Pertanda full booked.
Kini pemilik rumah di desa-desa bisa jadi pengusaha hotel. Satu atau dua kamar. Di pekarangan mereka. Yang alami. Misalnya di desa lereng gunung Ijen.
Pemda, kata Anas, memberikan pelatihan. Bagaimana model kamarnya. Tempat tidurnya. Toiletnya. Dan terutama: bagaimana cara tersenyum.
Bagaimana kalau tamu home stay itu orang asing?
Soal bahasa tentu masalah. Tapi ada pelatihan sederhana. Untuk bahasa Inggris. Yang terkait dengan keperluan kamar. Ada juga pemandu wisata. Yang bisa diminta.
“Turis asing itu justru tidak sulit. Sangat mandiri,” katanya.
Yang penting kita ramah. Bersih. Apa adanya.
Apalagi soal sarapan. Breakfast. Cukup kopi, telur ceplok dan roti. “Lebih sulit bikin rawon atau soto,” ujar Anas.
Saya jadi teringat Lijiang. Kota wisata di dekat pegunungan Shangrila. Di perbatasan Tibet. Yang terkenal itu. Hotel-hotelnya dalam bentuk home stay semua.
Hari itu saya mendadak ke Lijiang. Awal tahun tadi. Memanfaatkan waktu kosong satu hari.
Di antara jadwal yang padat di Kunming. Saya langsung ke bandara.
Cari pesawat ke Lijiang. Satu jam penerbangan.
Tiba di Lijiang tidak tahu harus ke mana. Saya ke pusat pelayanan turis. Di pojok jalan. Bagaimana cara ke Shangrila.
Sudah terlalu sore. Kabutnya tebal. Jalannya menanjak. Berliku. Tiga jam dengan mobil. Jalan tolnya masih sedang dibangun.
Disarankan bermalam dulu di Lijiang. Baru pagi-pagi ke Shangrila.
“Besok sore saya harus tiba kembali di Kunming,” kata saya.
Dia pun sibuk dengan HP-nya. Tidak tiap hari ada pesawat dari Shangrila.
“Bisa. Kebetulan besok ada penerbangan dari Shangrila langsung ke Kunming,” katanya.
“Tidak harus lewat Lijiang lagi,” tambahnya.
Saya merasa beruntung. Bisa sekaligus ke Lijiang dan Shangrila. Dalam satu harmal. Soal tiket hangus toh sudah biasa.
Saya pun minta dicarikan hotel di Lijiang. “Yang sekelas bintang empat,” kata saya. Khawatir. Dikira gak punya uang. Hanya karena bawaan saya tas kresek.
Dapat. Saya diminta menunggu jemputan.
Yang menjemput ternyata keren sekali. Anak muda. Seperti bintang film kungfu. Dengan mobil CRV putih. Masih baru.
Saya sempat ge-er. Jangan-jangan ini bos hotelnya sendiri.
Saya duduk di depan. Menghormatinya. Sambil agar bisa ngobrol.
“Apa nama hotelnya,” tanya saya.
“Dekat sekali,” jawabnya. “Tidak sampai 10 menit.”
Pembicaraan terhenti. HP-nya berdering. Ia sibuk dengan HP-nya.
Mobil memasuki perumahan. Komplek ini masih baru. Ada gerbang perumahannya. Khas Tiongkok.
Ia masih terus cang-cing-cung. Lewat HP-nya. Saat mobil berhenti di pinggir jalan. Di depan sebuah rumah. Rumah biasa. Rumah tangga.
Pantas saja. Ketika ditanya apa nama hotelnya dijawab “Dekat sekali”.
Saya mendapat kamar di lantai atas. Satu kamar. Yang dua kamar masih kosong.
Sebelum tidur saya turun ke lobi. Eh, ke ruang tamu. Tuan rumahnya lagi asyik.
Sopir tadi. Pemilik hotel beneran, ternyata.
Melihat saya turun, mereka langsung menyapa. “Ni hao,” kata mereka hampir serentak. Lantas menyilakan saya duduk. Untuk ikut ngrumpi. Sambil makan kwaci.
Saya dibikinkan teh. Tekonya ada di meja. Satu set dengan pemasak air. Kulit kwaci terus dilempar. Tuangan teh terus mengalir.
Saya yang banyak bertanya. Tentang home stay itu. Mereka bertanya hal-hal yang sederhana: apa bahasa di negara saya dan mengapa saya bisa berbahasa mandarin.
Obrolan pindah ke soal uang. Di Indonesia menggunakan uang apa.
Saya mengeluarkan tiga lembar rupiah. Dari dalam dompet. Yang 10.000-an. “Wow,” ucap wanita itu terbelalak. Sambil dua telapak tangannya menutup muka. “一万块钱,” teriaknya. Sambil menatap saya. Mengira saya orang kaya.
Di Tiongkok lembaran terbesar adalah 100. Melihat nol empat matanya hijau.
Saya kasihkan uang itu. Satu orang satu lembar. Mereka ramai-ramai menolak. “Tidak mau. Ini banyak sekali,” katanya.
Saya pun mengeluarkan uang sapu jagat: 100.000-an.
Kali ini mereka tidak kaget lagi. Justru tertawa ngakak. Saling tuding. Di antara mereka. Saling ejek.
Begitulah.
Saya permisi mau tidur. Satu bungkus kwaci diserahkan. Untuk saya bawa. Masih ditambah apel, jeruk dan apel-apelan sebesar bola bekel yang renyah itu. Satu kresek.
Tidak mungkin saya mengalami itu. Di hotel bintang empat sungguhan. ***
Kalau Anda berwisata di kota Moskow Rusia menggunakan moda transportasi umum, maka salah satu pilihan terbaik adalah kereta bawah tanah yang bernama Metro Moskow.
Mengapa memilih Metro Moskow? Karena lalu lintas Kota Moskow macetnya bukan main. Mirip-mirip Jakarta. Maklum saja, kota itu adalah Ibukota negara Federasi Rusia sekaligus sebagai pusat politik, ekonomi, budaya, dan sains. Tak heran kalau kota itu sibuk sekali. Khususnya pada pagi dan sore hari, yakni jam berangkat kerja dan jam pulang kerja selalu terjadi kemacetan lalu lintas di sejumlah ruas jalan utama kota Moskow.
Potret kemacetan lalu lintas di Moskow–foto id.rbth.com
Menurut data yang dilansir INRIX, sebuah perusahaan pengelola data lalu lintas, Moskow adalah kota nomor dua termacet di dunia, setelah Los Angeles, AS. Menurut laporan itu, seorang pengemudi di Moskow menghabiskan 91 jam dalam lalu lintas tahun lalu, atau sekitar 26% dari total waktu mengemudi. Pada jam sibuk, warga Moskow menghabiskan 34% dari waktu mereka terjebak dalam kemacetan.
Sebenarnya, berbagai upaya mengurangi kemacetan lalu lintas di kota Moskow sudah dilakukan. Namun belum membawa hasil yang diharapkan. Bisa jadi salah satu penyebabnya adalah karena para pengguna jalan belum siap berhenti mengendarai mobil dan menggunakan transportasi umum. Untuk diketahui jumlah penduduk kota Moskow adalah 12.380.664 jiwa yang merupakan campuran dari sekitar 130 bangsa.
Mengutip id.rbth.com, Setelah pecahnya Uni Soviet pada 1991, masyarakat Rusia mulai membeli mobil pribadi secara massal, yang berdampak yang sangat buruk pada arus lalu lintas. Kemacetan di Moskow saat ini sangat parah.
Kepala Pusat Kajian Transportasi di Perguruan Tinggi Ilmu Ekonomi Konstantin Trofimenko menjelaskan, selama 1992-2010 pemerintah Moskow berupaya memecahkan kepadatan lalu lintas dengan mengembangkan jaringan jalan.
Pada tahun 1990-an, Jalan Lingkar Moskow (MKAD) yang mengelilingi kota itu diperbesar dan Jalur Lingkar Transportasi Ketiga (TTK) pun dibangun. Namun ternyata, jumlah mobil terus melampaui laju pembangunan jalan baru. Masalah lalu lintas Moskow menjadi salah satu alasan mantan Walikota Moskow Yury Luzhkov mengundurkan diri.
Cantiknya Stasiun Metro Moskow–foto regent-holidays.co.uk
Dengan sekelumit paparan di atas bisa dibayangnya betapa macetnya kota tersebut. Karenanya wisatawan yang datang ke kota yang pernah menjadi ibukota Ketsaran Rusia, disarankan menggunakan kereta bawah tanah ‘Metro Moskow’ ketimbang terjebak kemacetan berjam-jam di jalan.
Layanan kereta Metro Moskow menghubungkan berbagai wilayah di Kota Moskow dengan sebagian besar rel ada di bawah tanah, kecuali jalur rel yang melewati Sungai Moskow dan Sungai Yauza. Ada 14 jalur kereta Metro Moskow, termasuk satu jalur melingkar sepanjang sekitar 20 kilometer yang menghubungkan semua jalur.
Stasiun Metro Moskow–fsumber foto tripadvisor.com
Sebagai wisatawan yang baru berkunjung ke Moskow dan akan menggunakan kereta Metro Moskow, memang agak mengalami kesulitan, terutama dalam berkomunikasi dengan masyarakat setempat, baik petugas kereta maupun masyarakat pengguna jasa kereta, karena hampir seluruhnya hanya menggunakan bahasa lokal, tidak berbahasa Inggris, sebagai bahasa internasional.
Sebagai orang baru pengguna jasa kereta Metro Moskow, terasa rumit, karena stasiunnya cukup banyak dan jalurnya juga cukup banyak yakni ada 14 jalur. Apalagi, petunjuk di stasiun-stasiun umumnya beraksara Rusia.
Menggunakan jasa kereta Metro Moskow harga tiketnya terhitung murah, yakni 55 ruble atau Rp12.650 dalam sekali perjalanan. Tiket kereta Metro Moskow ada tiket berlangganan dan ada tiket harian berbentuk kartu elektronik yang disentuhkan di pintu masuk menuju ke peron.
Kita tidak perlu menunggu terlalu lama di peron, karena dalam waktu beberapa menit kereta akan datang, pintu terbuka, penumpang turun dan naik, pintu tertutup, dan kereta berjalan lagi.
Stasiun kereta bawah tanah di Moskow meskipun berada di bawah tanah sekitar 30-40 meter, tapi tidak begitu terasa pengap karena dilengkapi kipas angin. Konstruksi bangunan dan interior juga tampak kokoh dan artistik. Ada dinding peron yang dihiasi gambar-gambar relief dan lukisan. Ada juga di peron yang dilengkapi oleh patung-patung tentara atau pejuang Rusia. Di peron stasiun juga bersih, tidak ada sampah, dan tidak ada pedagang kaki lima.***/ebn
Dahlan Iskan naik kereta bawah tanah di Pyongyang, Korea Utara. Karcisnya 5 Won atau senilai Rp75—foto istimewa
Oleh: Dahlan Iskan
Ini makan malam pertama saya di Korea Utara: bayar pakai Renminbi. Kembaliannya Dollar Amerika.
Memang bisa. Membayar dengan Renminbi dan Dollar. Tapi mata uang resmi untuk orang asing sebenarnya bukan itu. Euro.
Tidak ada tempat penukaran uang. Di bandara.
Semua serba cash. Tidak ada kartu kredit. Tidak ada pembayaran elektronik. Harus bawa uang banyak.
Restoran kelas menengah di Korea Utara, jauh dari kesan ndeso–foto istimewa
Dahlan Iskan ditemani redaktur Rakyat Merdeka Online (RMOL) Teguh Santosa, dalam lawatan jurnalistik di Pyong Yang, Korea Utara—foto istimewa
Malam itu saya pilih makan malam di luar hotel. Ingin tahu suasana kulinernya. Pilihannya sebuah restoran kelas menengah. Masakan Korea.
Saya pilih mi hitam panas. Yang diberi tiga lembar irisan daging tipis. Dan telur rebus separo. Dua teman Korea saya pilih nasi. Terbalik.
Restoran ini bersih sekali. Penataan meja kursinya juga rapi dan serasi. Di salah satu ruangannya seperti lagi ada pesta. Seperti reuni. Atau arisan. Nyanyi-nyanyi bersama. Tidak henti-hentinya.
Pakaian pelayannya juga sangat rapi. Serasi. Tidak norak. Juga tidak lusuh. Cuttingnya bagus. Bahannya juga baik. Bukan kain murahan.
Tidak mengesankan ini restoran di sebuah negara miskin. Jauh dari kesan ndeso. Bisa dibilang masuk kategori keren. Rasanya penampilan pelayan restoran kita pun kalah. Untuk sekelas itu.
Tidak pula terkesan ini sebuah restoran di negara komunis.
Dan harga makanan ini murah.
Makan berempat hanya sekitar Rp 200 ribu. Saya bayar dengan Renminbi. Satu lembar. Seratusan. Saya diminta menunggu uang kembalian.
Dia buka laci. Menyerahkan satu lembar kembalian. Ternyata lembaran Dollar Amerika. Satu Dollar.
Bayar 100 Renminbi. Dapat kembalian 1 Dollar.
Naik taksi juga pakai Renminbi. Bayar telepon pakai Renminbi.
Yang naik taksi hampir pasti orang asing. Terlihat cukup banyak turis.
Saya ketemu yang dari Rusia, Jerman, Taiwan, Hongkong, Singapura dan terutama Tiongkok.
Rakyat setempat naik kendaraan umum: tram listrik. Bayarnya pakai Won. Satu kali jalan hanya 5 Won. Itu tidak ada artinya sama sekali. Hanya sekitar Rp 75. Ulangi: tujuh puluh lima rupiah. Sekedar untuk terlihat rakyat juga bayar.
Di Pyongyang sudah ada kereta bawah tanah. Dua line. Karcisnya juga hanya 5 Won.
Saya ikut merasakan kereta bawah tanah itu. Tanpa tujuan. Ke lima stasiun. Lalu balik lagi.
Stasiunnya nyeni. Banyak ornamen. Juga lukisan perjuangan. Tidak ada iklan sama sekali. Kelihatan komunisnya.
Kereta yang pertama lewat. Terlihat kuno. Berisik. Bentuk gerbongnya sederhana. Kelihatan komunisnya.
Saya tidak boleh naik yang itu. Mereka ingin memamerkan gerbong yang baru. Satu menit kemudian kereta dimaksud datang. Gerbongnya baru. Terlihat beda. Desainnya lebih modern. Sedikit. Tidak semodern yang di Tiongkok. Atau Jepang.
Baliknya kami pakai kereta yang lama. Kecepatannya sama saja. Tempat duduknya juga sama-sama empuk. Bukan keras seperti umumnya MRT di negara lain.
Memamg terasa sekali. Kim Jong-Un mau mengubah Korea Utara. Hanya saja ia harus agak sabar. Menghadapi blokade ekonomi dunia. Yang dimotori Amerika.
Juga harus sabar. Menghadapi aliran keras di senior militernya. Yang ini Kim Jong-un sudah bisa mengatasinya. Toh sudah banyak yang pensiun juga. Tiga tahun terakhir.
Masyarakatnya juga kelihatan sudah siap berubah. Berbeda sekali kesan saya. Dibanding saat saya ke Uni Soviet. Di awal keterbukaannya. Juga berbeda dengan saat saya ke Tiongkok. Di awal keterbukaannya. Atau ke Jerman Timur menjelang penggabungannya.
Di Soviet dulu toko-toko komunisnya kosong. Tidak ada barang. Di Tashken malam-malam saya didatangi penjual uang gelap. Yang mengetok pintu kamar hotel. Lirih.
Di Tiongkok, saat itu, rakyatnya serba ketakutan. Saya beli sepeda kala itu. Saat mau pulang, sepeda itu saya berikan ke pelayan hotel. Ia menolak. Sangat ketakutan.
Demikian juga saat saya ke pasar. Beli buah. Pedagangnya ketakutan. Saat saya menyodorkan uang Yuan.
Ternyata mereka dilarang menerima yuan. Yuan untuk orang asing. Untuk rakyat biasa pakai uang Renminbi.
Di Pyongyang saya tidak merasakan rakyatnya dalam ketakutan. Wajah orang-orangnya bukan wajah ketakutan. Bukan wajah yang tegang.
Rasanya tidak akan lama lagi. Korut berubah total.***
Ketua Dewan Pimpinan Daerah Astindo (DPD Astindo) Sumut, Willy TM Sihombing dan pengurus lain saat jumpa pers di Hotel Grand Impression.
ASOSIASI Travel Agent Indonesia (Astindo) DPD Sumut menggelar acara famtrip asal Thailand guna memperkenalkan keindahan pariwisata Sumatera Utara. Acara dimulai pada 28 Agustus – 1 September 2018, dengan rute perjalanan mengunjungi Parapat, Pulau Samosir, Taman Simalem, Brastagi dan Medan.
Peserta famtrip ini selain 7 media televisi Thailand juga 14 travel agent outbound dari Bangkok dan 2 Asosiasi Travel Agent di Thailand yaitu Association of Thailand Travel Agent (ATTA), Thai Travel Agent Association (TTAA), Air Asia Indonesia dan Air Asia Thailand. Hal itu dikatakan Ketua Dewan Pimpinan Daerah Astindo (DPD Astindo) Sumut, Willy TM Sihombing di Hotel Grand Impression, Medan kepada awak media, Senin (28/8).
“Acara famtrip ini, cara kita mempromosikan potensi pariwisata secara langsung untuk melihat keindahaan alam, budaya Indonesia khususnya Sumatera utara kepada masyarakat Thailand melalui media televisi yang turut hadir dan mempertemukan para steakholder lokal dengan manca negara untuk membicarkan business to business sehingga terjalin kontak bisnis kedua belah pihak yang saling menguntungkan,” ujar Willy, didampingi Sekretaris Astindo Tengku Feria Aznita.
Di kesempatan sama Kepala Devisi Pemasaran Pariwisata Mancanegara Badan Pengembangan Otoritas Danau Toba (BPODT) Wahyu Dito mengatakan sangat berharap dapat mendukung teman-teman di industri pariwisata dengan terselengaranya famtrip ini, tentunya dapat meningkatkan atmosfer industri kepariwisataan yang baik, sehingga bisa meningkatkan kunjungan wisatawan terutama khususnya wisman dari Thailand ke kawasan Danau Toba.
“Dengan kegiatan ini saya berharap para pelaku industri pariwisata lebih kreatif dalam menampilkan atraksi atau pertunjukan pariwisata, serta membuat paket wisata yang nyaman untuk wisatawan dari Thailand sehingga mungkin bisa menghabiskan waktu 2 atau 3 malam di kawasan Danau Toba maupun di kawasan Utara Danau Toba Berastagi, atau di Selatan di Balige dan sekitarnya. Kalau flight dari bandara Silangit langsung ke Bangkok belum ada, yang baru ada dari Kuala Lumpur ke Silangit dan sebaliknya, jadi kalau Bangkok ke Silangit bisa transit melalui Kualanamu (KNO) menggunakan Wings Air,” jelasnya.
Kemudian Tengku Feria Aznita juga mengatakan selaku pelaku industri pariwisata berharap dapat selalu bersinergi dengan pemerintah untuk mengembangkan dan memajukkan destinasi wisata yang ada di Sumut. “Seperti hal kegiatan famtrip ini disponsori BODT, Dinas Pariwisata Pemerintahan Kabupaten Samosir, Thomas Ginting (Anggota DPRD Tanah Karo), Hotel Horison Sky Kualanamu, Hotel Danau Toba International Medan, Taman Simalem Resort, Hotel Sinabung Hills Brastagi, Restoran Kenanga Garden Medan, seluruh member ASTINDO DPD Sumatera Utara dan Komunitas Penggiat Pariwisata Indonesia (KOPPI),” pungkas Tengku Feria Aznita. (monang sitohang)
Rombongan Famtrip dari Thailand, saat tiba di Bandara Kuala Namu, Sumatera Utara.
KETIKA Lisa Messenger terbang ke Bali, ketika Lisa mengantri di gerbang pengamanan Bandara, dia memutuskan untuk segera mengkalkulasi berapa banyak penerbangan yang dia lakukan dalam beberapa tahun terakhir, termasuk perjalanan bisnis dan personalnya.
Ketika dia menambahkan tujuan – Amerika, Eropa, India, Selandia Baru belum lagi bandara di seluruh kota-kota Australia – dia bertanya-tanya apakah dirinya gila telah dan akan bepergian begitu banyak, sementara memperluas ia tengah majalah global dan, baru-baru ini, memutas bisnisnya dengan mengubah arah baru arah.
Padahal, dia sebenarnya dapat menghemat uang dan energi dengan tetap berada di rumah — dua sumber daya yang para pengusaha miliki terbatas. Namun, setelah 16 tahun berkecimpung dalam bisnis, ada satu kebenaran yang dia temukan — untuk memperluas, meningkatkan keterampilan, menjalin jaringan, dan benar-benar menjadi versi penuh dari diri Anda sendiri, terkadang perlu melangkah keluar dari zona nyaman Anda — dan negara Anda.
Berita bagus? Maskapai seperti Cathay Pacific, yang meluncurkan program Bisnis Plus tahun lalu, mempermudah waktu untuk menemukan waktu — dan anggaran — untuk memperluas keterbatasan Anda. Tergoda untuk menghabiskan halaman paspor Anda? Berikut ini manfaat traveling bagi para entrepreneur menurut Lisa Messenger:
Mendatangi Sumbernya
Baik Anda menghasilkan produk nyata atau Anda menawarkan layanan, mungkin ada satu elemen bisnis Anda yang tidak berbasis di negara Anda. Majalah Collective Hub dijual di 37 negara yang berbeda dan tidak ada yang lebih Lisa sukai selain berjalan ke toko di Amerika, melihat majalah yang dikelolanya itu dan menanyai pemilik toko tentang pembaca reguler majalahnya — siapa, kapan dan mengapa mereka membelinya! Lisa mengaku telah mendapat wawasan yang sangat berharga dengan cara ini. Perjalanan seperti ini menurut Lisa membawa hasil yang hebat untuk mengetahui jalur produksi Anda.
Treveling dengan Tujuan Jelas
Lisa mengaku, dalam beberapa hal dia sebenarnya lebih suka bepergian untuk bekerja. Tujuannya — untuk menjadi pengusaha bagi wirausaha — membuat dia merasa hidup. “Jadi mengapa saya tidak memasukkannya ke dalam liburan saya? Juga, ada bonus keuangan untuk memadukan pekerjaan dan nafsu berkelana.”
Perusahaan yang mendaftar ke program Bisnis Plus Cathay Pacific, mendapatkan lebih banyak nilai dari pengeluaran bisnis kolektif mereka, dengan membuka manfaat tambahan seperti diskon tiket, peningkatan kabin, dan bahkan voucher tunai.
Memperluas Teman dan Jaringan Anda
Bagaimana jaringan perusahaan yang dikelola Lisa berubah, sejak hari-hari ruang konferensi yang sesak dengan kursi yang tidak nyaman dan lampu fluorescent.
“Saya telah bertemu dengan kontak bisnis yang mengubah hidup dalam situasi yang tidak terduga ketika bepergian ke luar negeri, dari ashram di India, ke ruang kerja bersama di Los Angeles dan waktu saya melakukan tur ke markas besar Facebook di Silicon Valley (kegiatan yang menghasilkan peluang luar biasa). Terkadang ‘diri liburan Anda’ lebih bersedia untuk menempatkan diri di luar sana.”
Mengejar Unicorn
Alih-alih memecah Amerika, banyak pengusaha mengalihkan perhatian mereka ke Asia — dengan alasan yang bagus. Menurut penelitian oleh Startup Genome, jumlah unicorn teknologi di China telah meningkat dari 14 persen menjadi 35 persen sejak 2014, sementara jumlah unicorn Amerika telah turun. Ingin memecahkan pasar Cina? Carilah program akselerator lokal seperti Chinaccelerator — yang berbasis di Shanghai — yang membantu memperluas secara global startup Australia Chozun.
Tarik bakat teratas
Menurut penelitian, karyawan Gen Y dapat tertarik dengan fasilitas tempat kerja daripada gaji, dan ini termasuk potensi untuk perjalanan bisnis. Ingin mempertahankan dalang milenial? Program seperti Bisnis Plus memungkinkan pemilik bisnis dengan mudah memesan penerbangan untuk karyawan, menyederhanakan dan menyederhanakan pengelolaan perjalanan di satu portal.
Anda tidak perlu mengirim staf pada liburan pantai selama tiga minggu! Menurut penelitian, generasi millenial menyukai perjalanan singkat yang unik dan mereka senang untuk mencampur bisnis dan kesenangan.