Puntung Kok Ditantang…

Kisah di Balik Rencana Pentas “Opera Ikan Asin” Teater Alam

YOGYAKARTA, JAYAKARTA NEWS – Pementasan “Opera Ikan Asin” oleh Teater Alam di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta, tinggal menunggu hari. Hari Selasa, tanggal 15 Agustus 2023 pukul 19.00 sudah banyak ditandai sebagai hari yang tak boleh dilewatkan.

Bahkan, gemanya sudah sampai Ibu Kota. Tak sedikit pecinta teater Jakarta menyatakan akan berangkat ke Jogja, menyaksikan pertunjukan teater yang memainkan naskah N. Riantiarno hasil adaptasi dari lakon The Threepenny Opera, karya Bertolt Brecht.

Eugen Berthold Friedrich Brecht, dikenal sebagai praktisi teater Jerman, penulis naskah, sekaligus sastrawan yang lahir di Augsburg, Jerman 10 Februari 1898, wafat di Berlin Timur 14 Agustus 1956. Kutipan menarik yang pernah diucapkannya adalah, “Seni bukanlah cermin yang digunakan untuk merefleksikan realitas, melainkan sebuah palu untuk membentuknya.”

Yang menarik dikulik adalah, apa alasan sutradara Puntung CM Pudjadi memilih lakon itu untuk memperingati 51 tahun Teater Alam. “Awalnya karena ada yang ‘menantang’…,” cetus Puntung, yang nyantrik di Teater Alam asuhan mendiang Azwar AN sejak akhir 1974, diajak sohibnya, Yoyok Coa Ong (alm).

Lhadalah… siapa gerangan yang berani “menantang” Puntung?

Diuber Pertanyaan

Ia pun mengisahkan peristiwa di sebuah seminar teater di Sonobudoyo Yogyakarta. Dirinya tampil sebagai salah satu narasumber mewakili dan atas nama Teater Alam.

Saat sesi tanya-jawab ada peserta bertanya, “Mengapa selama ini Teater Alam selalu mementaskan lakon klasik seperti Oedipus, Promoteus, dan lain-lain. Jarang sekali memainkan lakon sekarang, realis tapi booming.”

Puntung menangkis, lakon-lakon seharari-hari, dan naskah-naskah komedi sudah sering dipentaskan TA. Ia menyebut contoh “Obrok Owok-owok, Ebrek Ewek-wek” (Danarto), “Dokter Gadungan” (Moliere, terjemahan Asrul Sani), “Pinangan” (Anton P. Chekov), dan masih banyak lagi.

Si penanya ‘nguber’, “Tapi kenapa tidak menggarap naskah yang sekarang booming seperti karya Arifin C. Noer, N. Riantorno, dan lain-lain?”

Puntung yang juga aktif di Dewan Teater Yogyakarta (DTY) pun berkilah, “Bersama DTY saya beberapa kali menggarap karya Arifin C. Noer seperti ‘Tengul’, dan ‘Opera Kecoa” karya Riantoarno, serta beberapa naskah lain.”

Si penanya belum menyerah. Ia mendesak, “Yang saya tanya, kenapa Teater Alam tidak?”

Puntung pun menjawab, “Sekali waktu, Teater Alam akan garap naskah karya Arifin C Noer atau Nano Riantiarno.” Setelah jawaban itu, si penanya puas dan tidak mengejar Puntung lagi.

Terjawab sudah. Jadi pemilihan naskah Opera Ikan Asin lebih karena “tantangan”? “Ya, kurang lebih begitulah,” jawab Puntung.

Sajian yang Berbeda

Antara Arifin C Noer dan Riantiarno, Puntung kembali menimbang. Jika pilihannya jatuh pada naskah Arifin C Noer, dibutuhkan banyak pemain yang memiliki bekal akting cukup. “Dan itu sulit, karena banyak teman Teater Alam sudah pindah kemana-mana,” kata Puntung

Sementara, jika memilih naskah Riantiarno, relatif tidak butuh terlalu banyak pemain berkualifikasi “mahir akting”. Apalagi jika yang dipilih naskah jenis opera.

Ia bersama Ronny AN, Sekretaris Perkumpulan Teater Alam yang juga putra sulung mendiang Azwar AN itu pun memutuskan naskah Opera Ikan Asin. Kolosal, komedi, booming, melibatkan penyanyi, pemusik, penari, dan berjenis opera. Sebuah sajian yang berbeda dengan karya-karya Teater Alam sebelumnya.

Sebagai naskah komedi tetapi terbilang tua, Puntung menyikapinya secara proporsional. “Yang jelas, klasik atau modern esensinya harus bisa ‘ditonton’ dan bisa diikuti ceritanya. Dalam menyutradarai saya selalu sadar tugas membuat tontonan yang bisa dicerna berbagai kelas,” tuturnya.

Bertolt Brecht (foto: wikipedia)

Ia lalu mengutip prinsip Bertolt Brech. Bahwa sebagai sutradara, Brecht menyukai penonton yang tidak terikat atau diasingkan dari pertunjukan itu sendiri. Tujuannya agar menjaga emosi sehingga memungkinkan mereka melihat pertunjukan apa adanya. “Itu yang disebut ‘V-Effect’, atau ‘Verfremdungseffekt’, sebuah perkembangan baru dalam sejarah teater,” kata Puntung.

Pesan Moral

Alfian Syahmadan Siagian dalam “jurnalcikini.ikj.ac.id” menyebut konsep itu sebagai konsep “Brechtian”. Sebuah konsep yang menggagas bahwa seluruh apparatus pertunjukan, termasuk penonton dituntut untuk berjarak. Konsep inilah yang oleh masyarakat luas dikenal sebagai verfremdungseffekt.

Verfremdungseffekt sendiri dapat dimaknai sebagai keterasingan, keberjarakan, atau alienasi. Seluruh apparatus pertunjukan diharapkan “tidak terlibat” secara emosional dengan apa yang terjadi di atas panggung. Luaran yang diharapkan adalah penonton-penonton yang kritis yang akan merenungkan hasil tontonan mereka untuk kemudian menggagas sebuah perubahan sosial, politik, ekonomi dan budaya.

Benar. Naskah Opera Ikan Asin memang sarat pesan moral. Tentang keadilan dan ketidakadilan. Tentang ketimpangan sosial. Tentang dunia durjana yang berkelindan dengan praktik penegakan hukum yang semena-mena, dibumbui bisnis lendir dunia prostitusi berpacu dengan kemiskinan.

“Ini tontonan yang menarik. Dan yang pasti, pertunjukan Opera Ikan Asin akan jadi pembeda dengan pertunjukan-pertunjukan sebelumnya. Di sisi lain, inilah jawaban saya atas tantangan peminat teater yang menghendaki Teater Alam mementaskan naskah-naskah kekinian yang booming,” papar Puntung.

Lantas, bagaimana konsep pementasan yang ia usung? Apa yang membedakan dengan Opea Ikan Asin garapan Teater Koma (Riantiarno)? Lalu, apa yang menjadi daya tarik, sehingga penonton wajib nonton?

Puntung menjawab, “Itu sajalah, saya masih capek, kurang tidur dan siap-siap latihan sebentar lagi.” (rr)

Tiga Fragmen Drama di Satu Panggung Teater Alam

JAYAKARTA NEWS – Tiga fragmen drama menutup rangkaian ulang tahun ke-50 Teater Alam, Yogyakarta. Panggung Taman Budaya Yogyakarta, Kamis (17/11) malam menampilkan fragmen “Pusaran” (Streetcar Named Desire) karya Tennessee Williams, Oedipus (Sophocles), dan Montserrat (Emmanuel Robles).

Di luar tiga fragmen tersebut, panggung TBY juga menjadi ajang praktik pentas peserta Workshop Teater. Mereka menampilkan karya “Bondol”.

Disaksikan Yani Saptohudoyo, pematung Yusman, seniman, budayawan Yogyakarta dan masyarakat umum lainnya, sajian tiga fragmen tadi mendapat applaus meriah hadirin.

Fragmen Pusaran menampilkan permainan apik dari Ninit, Alexa, dan Vikii dengan penata busana Erlina Panca. Sutradara Prof Dr Yudiaryani, MA menggarapnya dengan segar. Drama semi-musikal ini pernah dimainkan Teater Alam berkolaborasi dengagn ISI Yogyakarta di Concert Hall Gedung Taman Budaya, Senin – Selasa, 22 – 23 Juli 2019.

Lalu Oedipus. Malam itu, tokoh Oedipus diperankan Eko Pamulihono. Nomor ini terbilang “lekat” dengan Teater Alam. Lakon ini sudah beberapa kali dimainkan.

Di tahun 1981, dipentaskan di Gedung Grha Dirgantara Yogyakarta dalam acara Syawalan PWI-SPS Yogyakarta, 24 Agustus. Tahun yang sama diusung ke Pasar Seni Jaya Ancol, pada 27-28 Agustus, dan pada 15 September dimainkan di Gedung Purnabudaya. Sutradara dari pertunjukan tersebut adalah Tertib Suratmo.

Lantas pada tahun 1986, lakon ini dipentaskan di beberapa kota dalam muhibah ke Malaysia, dengan sutradara Azwar AN. Tahun 1991, Oedipus juga dimainkan di Lampung.

Pada tahun 1999, Teater Alam secara mengejutkan mementaskan trilogi Oedipus dalam satu malam, yang berdurasi 10,5 jam di Purnabudaya, dengan sutradara Azwar AN. Pementasan terakhir Sabtu, 18 Januari 2020 di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta.

Ronny AN dan Meritz Hindra dalam fragmen “Montserrat”. (foto: rakhmat s)

Meritz Jadi Azwar

Fragmen ketiga, Montserrat, digarap apik oleh sutradara Meritz Hindra. Dibuka dengan penampilan Meritz yang uring-uringan karena para cantrik Teater Alam belum juga datang latihan. Datang Azis yang langsung disuruh menyapu tempat latihan. Muncul Dinar Saka, Jamilan, Ronny AN.

Menirukan gaya mendiang Azwar AN, aktor kawakan Meritz menyuruh para cantriknya untuk latihan Montserrat. Saat Ronny sudah duduk di kursi sebagai Montserrat, Dinar menyerukan “camera on” sambil berlari meninggalkan stage. Panggung black-out, lalu lighting menyala.

Meritz sebagai Kolonel Isquierdo. Berdialog dengan Kapten Zuazola (Jamilan) dan Kapten Antonanzas (Azis). Saat Isquerdo (Meritz) membujuk Montserrat (Ronny) untuk membuka rahasia persembunyian  Simon Bolivar, tiba-tiba saja Ronny lupa dialog dan minta bantuan Dinar Saka (astrada) untuk melihat contekan dialog dalam naskah. Fragmen Montserrat menjadi “gerr” dengan garapan ala latihan.

Fragmen “Pusaran”. (foto: rakhmat s)

Pak Bondol

Sajian terakhir adalah pentas teater hasil wokrshop tanggal 9 Oktober 2022. Tiga senior Teater Alam menjadi mentor pada workshop tersebut. Meritz Hindra memberi materi keaktoran, Puntung CM Pudjadi memberi materi penyutradaraan, dan Wahyana Giri MC memberi materi penulisan naskah teater.

Para peserta terdiri atas siswa-siswa dari sekolah-sekolah yang ada di kota Yogyakarta. Malam itu, mereka menampilkan drama pendek berjudul “Bondol”.

Dikisahkan, Pak Bondol, adalah seorang tukang tambal ban yang sedang bersantai di teras rumah. Mendadak ia disuruh istrinya ke pasar untuk membeli beras. Pak Bondol pun pergi ke pasar naik sepeda. Ia bersepeda dengan ugal-ugalan, sehingga mengganggu emak-emak di pinggir jalan, dan puncaknya menabrak seorang pedagang sayur dan membuat sayur sayur itu jatuh berceceran. Konflik pun terbangun antara penjual sayur dan Pak Bondol. Sebuah kisah komik yang menarik.

Sajian menarik ketiga fragmen dan satu lakon drama pendek tadi, menjadi lebih apik dengan penataan musik oleh Dr Memet Chairul Slamet. Pentolan kelompok musik etnik-kontemporer Gangsadewa ini pula yang selama ini menata musik pada tiga pementasan Teater Alam terakhir: Montserrat, Pusaran, dan Oedipus.

Selain itu, Bambang Nursinggih senior Teater Alam yang lain, setia menggawangi urusan kostum dan make up pemain. Pesannya selalu kepada para aktor-aktris adalah, “Setelah make up, dilarang merokok!”

Azwar AN Award

Pada malam puncak peringatan HUT ke-50 Teater Alam, juga dilangsungkan penganugerahan “Azwar AN Award” kepada empat tokoh Teater Alam yang memiliki loyalitas serta dedikasi dan jasa besar bagi kelangsungan hidup Teater Alam.

Award pertama, diberikan kepada Bambang Darto. Ia adalah Anggota teater Alam yang telah menunjukkan loyalitas dedikasi dan kerja keras mengembangkan Teater Alam hinggga akhir hayatnya.

Award kedua diberikan kepada Yono Gandem. Dia adalah anggota Teater Alam yang menunjukkan loyalitas tanpa batas. Di samping jasanya menjadi Ketua Teater Alam selama 25 tahun tanpa cela. Jejaknya bahkan diikuti oleh beberapa putranya yang menjadi anggota Teater Alam, mengikuti jejak sang ayah.

Award ketiga diberikan kepada Tertib Suratmo. Ia adalah salah satu pelatih, sutradara, sekaligus artistic Teater Alam yang memiliki loyalitas sangat besar. Bukan saya loyalitas persahabatan dengan Azwar AN, tetapi juga Teater Alam sebagai sebuah lembaga.

Dan award keempat, diberikan kepada Prof. Drs .H. Amri Yahya. Tokoh Lukis batik yang merupakan sahahabat Azwar AN sekaligus sahahabat Teater Alam. Amri Yahya merupakan salah satu Pembina dan Pengarah Teater Alam semasa hidupnya. Penghargaan diterimakan oleh Adwi Prasetyo putra Amri Yahya.

Azwar Tersenyum

Ketua Panitia Pelaksana HUT Teater Alam ke-50, Prof Dr Yudiaryani, MA dalam pidato di awal menyampaikan terima kasihnya kepada Dinas Kebudayaan Provinsi DIY, Paniradya Kaistimewan Yogyakarta, Museum Sonobudoyo, Taman Budaya Yogyakarta, dan para pihak yang telah memungkinkan acara berlangsung dengan baik.

“Arwah bang Azwar AN di atas sana, tersenyum melihat kiprah dan tekad kita melanjutkan semangatnya dalam melestarikan teater,” ujar Guru Besar Teater ISI Yogyakarta, itu.

Sementara itu, Ketua Komunitas Teater Alam, Erna Azmita, AN juga menyampaikan terima kasih yang sama. Sebelum menutup secara resmi rangkaian acara Ulang Tahun Emas Teater Alam, Nana –panggilan akrabnya—mengajak semua anggota Teater Alam tetap menunjung tinggi pesan mendiang papah Azwar, “Hidup-hidupilah teater, jangan mencari hidup dari teater.” (rr)

Tiga Pentolan Teater Beri Materi Workshop

JAYAKARTA NEWS – Pagi ini, Minggu (9/10), tiga pentolan Teater Alam Yogyakarta akan memberikan materi workshop teater. Mereka adalah Meritz Hindra, Puntung CM Pudjadi, dan Wahyana Giri MC. Workshop Teater ini adalah bagian dari rangkaian acara peringatan 50 Tahun Teater Alam (1972 – 2022).

Meritz Hindra

“Workshop teater hari ini menyajikan tiga materi menarik. Masing-masing, yakni keaktoran, penyutradaraan, dan penulisan naskah,” ujar Dinar Saka, penanggung jawab workshop, di Yogyakarta, hari ini (9/10).

Meritz Hindra, salah satu anggota Teater Alam angkatan awal (70-an), akan menyajikan materi “Keaktoran”. Sedangkan, Puntung CM Pudjadi, senior Teater Alam yang lain, berbagi ilmu tentang “Penyutradaraan”. Adapun materi “Penulisan Naskah”, diampu oleh Wahyana Giri, yang sarat prestasi di bidangnya.

Puntung CM Pudjadi

Dinar Saka menambahkan, panitia workshop awalnya membatasi jumlah peserta di angka 50 orang. Akan tetapi animo calon peserta ternyata sangat besar. “Akhirnya kami beri toleransi tambahan peserta, sehingga total menjadi 60,” ujar Dinar Setiawan, nama lengkapnya.

Anggota Teater Alam tahun 2000-an ini juga mengatakan, dibatasinya jumlah peserta antara lain karena pertimbangan “pementasan”. “Tidak bisa dibayangkan, kalau kami buka pendaftaran hingga ratusan peserta, bagaimana pengaturan pementasannya. Di samping itu, ada kekhawatiran, materi kurang terserap dengan baik jika peserta terlalu banyak,” katanya.

Workshop Komplet

Wahyana Giri MC

Menurut Dinar, workshop teater “50 Tahun Teater Alam” ini adalah paket workshop komplet. “Pemateri bukan hanya menyajikan teori, tetapi juga praktek pentas,” tambah Dinar. Karena itulah, workshop dibagi menjadi dua sesi besar. Yakni, sesi penyajian materi teknis dan sesi pembahasan pementasan.

Saat sesi teori, tiga materi diselenggarakan secara terpisah. Menurut Dinar, peserta dikelompokkan berdasarkan minat. “Jadi Gedung Societet, Taman Budaya Yogya tempat berlangsungnya workhsop, kami bagi menjadi tiga. Bagian lobby untuk materi penyutradaraan, bagian panggung untuk materi keaktoran, dan bagian taman untuk materi penulisan naskah,” paparnya.

Workshop dimulai pukul 09.00 WIB dan berakhir 16.45 WIB. “Peserta tidak dipungut biaya. Kami beri konsumsi, sertifikat, dan pengalaman pentas. Pentas hasil workshop akan dilakukan pada puncak acara peringatan 50 Tahun Teater Alam pada tanggal 17 November 2022.

Dinar Saka

Bukan hanya itu. Menurut Dinar, peserta workshop yang berkenan, bahkan bisa langsung menjadi anggota Teater Alam. “Jadi workshop ini adalah bagian dari pola regenerasi di tubuh Teater Alam,” ujar Dinar yang juga berprofesi sebagai guru. (rr)

Karya Emas Teater Alam

JAAKARTA NEWS – Menginjak usia emas, 50 tahun, bagi sebuah kelompok teater adalah prestasi besar. Menjadi lebih dramatis, justru usia itu dijelang dengan wafatnya sang pendiri: Azwar AN pada hari Senin, 27 Desember 2021. Dunia teater Tanah Air berduka.

“Sejarah teater modern di Tanah Air menggoreskan catatan, banyak kelompok teater tak lagi eksis ketika patronnya wafat. Kami menganggap itu bukan takdir, melainkan fenomena yang harus ditepis,” ujar Prof Hj Yudiaryani, MA, Ketua Panitia Peringatan 50 Tahun Teater Alam.

Prof Hj Yudiaryani, MA

Dalam siaran persnya, Prof Yudi bahkan mengutip salah satu wasiat mendiang Azwar AN. “Hidup-hidupilah teater, jangan pernah berpikir hidup dari teater”. Seperti diketahui, Teater Alam, didirikan Azwar AN pada 4 Januari 1972 di Yogyakarta. Itu terjadi seminggu setelah Azwar meninggalkan Bengkel Teater yang ia dirikan bersama Rendra.

Lima Karya

Memperingati 50 Tahun Teater Alam, Yudi menyebutkan lima aktivitas budaya yang sedia digelar. Keseluruhan kegiatan berlangsung dalam bentang waktu antara Oktober – November 2022. Pusat kegiatan di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Satu di antaranya, seminar teater, berlangsung di Museum Sono Budoyo, Yogyakarta. Lima kegiatan yang dimaksud adalah: Opening, Workshop, Publishing, Exhibition, dan Seminar.

Keseluruhan rangkaian kegiatan akan dimulai dengan acara pembukaan (Opening) pada tanggal 12 Oktober 2022 di halaman Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Acara dimulai pukul 12.45 WIB sampai selesai. Dalam kesempatan itu, akan ditampilkan pementasan Jathilan (Sekar Saraswati). Atraksi lain berupa Flashmob 1000 Sapu, dan Paduan Suara Gelora Bahana Patra (Ki Priyo Dwiarso, dkk). Acara ditutup dengan Pisungsung Donga (Bambang Nursinggih, dkk).

Sementara, workshop akan diisi beragam disiplin seni pertunjukan, mulai dari penulisan naskah, keaktoran, dan penyutradaraan. Sementara bidang publishing, antara lain menggarap penerbitan buku “50 Tahun Teater Alam Berkarya” dan “Antologi Puisi”.

Divisi Exhibition tak kalah menarik. Selain menampilkan pameran seni rupa (lukis, patung, instalasi), juga akan memamerkan kostum-kostum pilihan. Kostum yang pernah dipentaskan pada sejumlah repertoar Teater Alam sejak 1972. “Yang seru adalah event kuliner. Selain menyajikan aneka kuliner khas, juga tersedia pojok ‘seribu lotek’,” ujar Yudi. Ini mengingatkan pada “lotek Yu Ti”, menu sehari-hari cantrik Teater Alam ketika berrmarkas di Jl Sawojajar 25, Yogyakarta.

Kegiatan kelima adalah seminar teater. Tema seminar yang diangkat adalah “Reposisi Teater di Era Disrupsi”. “Sebuah tema yang sangat aktual. Kami tengah menunggu konfirmasi keynote speaker Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid,” tambahnya.

Terkait belum berakhirnya pandemi Covid-19, panitia peringatan 50 Tahun Teater Alam menerapkan protokol kesehatan, sesuai arahan Satgas Covid-19 Provinsi DI Yogyakarta. “Sejumlah kegiatan, selain dilaksanakan secara luring, juga daring. Selain itu, live streaming melalui YouTube,” ujar Yudiaryani. (rr)

Azwar AN Tersenyum di Atas Sana

JAYAKARTA NEWS – Bak ketiban sampur saat keluarga besar Teater Alam menunjuknya menjadi Pimpinan Produksi acara “100 Mantra Teater Alam untuk Azwar AN”. “Semula saya bayangkan ini acara sederhana untuk memperingati 100 hari wafatnya bang Azwar AN, tokoh teater sekaligus pendiri Teater Alam,” kata Nano Asmorodono di Yogyakarta, baru-baru ini.

Alhasil, sebagai Pimpro, Nano sempat merasakan tekanan yang hebat demi mengamati proses produksi yang kemudian makin besar dan kian akbar. “Magnet bang Azwar memang luar biasa. Jika bukan karena keterbatasan waktu, tentu akan lebih banyak lagi seniman yang ingin terlibat. Saya memaknai sebagai sebuah apresiasi sekaligus penghargaan kepada almarhum,” tambah Nano.

Nano sendiri mengaku sebagai “murid ragil” Azwar AN. Sebab, setelahnya, ia tidak melihat ada rekrutmen anggota baru. “Artinya, banyak senior lain di Teater Alam yang tentunya lebih kapabel menjadi pimpro. Tapi ibarat sampur, memang bisa jatuh ke siapa saja. Saya terima tugas ini dengan penuh rasa takzim, semoga bisa memberi yang terbaik untuk guru, sahabat, sekaligus bapakku, Azwar AN,” tambah Nano, yang selama ini banyak menggeluti seni budaya tradisi.

Ihwal persinggungannya dengan Teater Alam, Nano mengisahkan saat ia keliling DIY, Jawa Tengah, dan sebagian Jawa Barat mengikuti kethoprak tobong atau kethoprak keliling. Sepulang dari tour kethoprak tobong, Nano memutuskan bergabung ke Teater Alam. “Di Teater Alam saya digembleng sehingga mendapat banyak sekali pelajaran. Bukan saja dalam berteater dan berkesenian tetapi juga dalam melakoni kehidupan,” ujarnya.

Cara Azwar AN melatih cantrik-cantriknya juga tak luput dari perhatian Nano. “Disiplin, itu kata kuncinya. Implementasinya menjadi terlihat galak dan keras. Tapi muaranya adalah disiplin. Itu yang saya catat,” kata Nano.

Nano Asmorodono, Pimpinan Produksi “100 Mantra Teater Alam untuk Azwar AN”.

Upaya Azwar mendisiplinkan anggotanya, juga cukup unik. Setiap kesalahan, harus dibayar dengan melakoni hukuman. Ada yang disuruh menyapu, tidak hanya menyapu halaman rumah Azwar, tetapi menyapu lapangan tempat latihan. Kali lain, ada yang dihukum berlari keliling kampung, bahkan ada yang dihukum memanjat pohon, atau dihinggapi sendal terbang,” kenang Nano, sambil tertawa.

Pelajaran disiplin disertai hukuman-hukuman khas Azwar, kelak akan disadari sebagai sebuah pelajaran bagaimana kita menghargai waktu, menghargai orang lain, dan memahami pentingnya kerja sama.

Toh Nano juga menangkap sisi humanisme seorang Azwar yang sangat tinggi. Ia dinilai sebagai sosok pengayom bagi anak didiknya. Termasuk mengulurkan tangannya kepada anak didik yang kurang beruntung secara ekonomi. “Beliau tak ragu membantu, meski saya sendiri tahu kondisi ekonomi bang Azwar juga tidak berlebihan,” katanya seraya menambahkan, “saya kira semua cantriknya sepaham, dalam hal tertentu, hubungan dengan beliau pastilah serasa anak dan bapak.”

Dalam perjalanannya, Nano juga mengikuti perjalanan berkesenian Azwar AN, termasuk saat aktif menjadi Ketua PARFI (Persatuan Artis Film Indonesia) DIY. “Kebetulan waktu itu saya juga sebagai pengurus PARFI,” tambanya.

Di mata Nano, Azwar AN juga seorang seniman yang menaruh apresiasi tinggi terhadap seni tradisi. Antara lain dengan mengelola pertunjukan sendratari Ramayana di Purawisata. “Beliau juga mendorong saya menekuni seni tradisi. Bahkan meminta saya membentuk kethoprak untuk dikirim ke Festival Istiqlal di Jakarta. Saya kemudian mendirikan kethoprak Alam Budaya,” tutur Nano.

Kini, melalui “100 Mantra Teater Alam untuk Azwar AN” ia berharap para seniman Yogyakarta bersama anggota Teater Alam menampilkan performance secara maksimal. Ia berkepentingan untuk itu. “Kepentingan untuk membuat Bang Azwar tersenyum di atas sana,” pungkas Nano Asmorodono. (roso daras)

Wayang Milehnium dalam Instalasi Bambu Ki Mujar

“100 Mantra Teater Alam untuk Azwar AN”

***

JAYAKARTA NEWS – Acara “100 Mantra Teater Alam untuk Azwar AN”, bakal menjadi puncak budaya Yogyakarta tahun 2022. Sekitar 200 seniman lintas disiplin Yogya bakal ambil bagian pada moment yang digelar Kamis, 31 Maret 2022 di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta.

Satu di antara penampil adalah Ki Mujar Sangkerta. Ia dikenal sebagai budayawan dan seniman khususnya seni kriya dan perupa, kelahiran Jember yang berdomisili di Yogyakarta. Ki Mujar dan tim memberi aksen penting dalam gelar doa dan budaya tersebut, yakni melalui kreasi wayang milehnium wae mendiang Azwar AN dan Titiek Azwar, serta pengerjaan property seni instalasi 3 dimensi dari bambu tuk sebagai setting panggung acara “100 Mantra Teater Alam untuk Azwar AN”.

“Kami dedikaskan tenaga, waktu, dan pikiran demi tokoh panutan teater Yogyakarta, Azwar AN,” ujar Ki Mujar, ditemui di halaman Sicoetet, Yogyakarta saat tengah menggarap property seni instalasi 3 dimensi dari bambu tuk. Ia menambahkan, “untuk wayang milehnium wae dengan tokoh datuk Azwar AN dan istri tercinta Titiek Azwar, sudah selesai, bahkan sudah digunakan dalam latihan rutin.”

Wayang milehnium wae karakter Azwar AN dan Titiek Azwar. (foto: Teater Alam)

Ia menambahkan, wayang milehnium ia buat dari bahan plat logam aluminium dengan ukuran raksasa (100 x 200 cm). Ukuran yang besar, menjadikan wayang milehnium wae Azwar – Titiek kelihatan gagah, anggun, dan semakin hidup jika digetar-getarkan. “Ketika digetar-getarkan akan menimbulkan suara bunyi menggelegar seperti guntur. Pas dengan karakter datuk Azwar AN yang keras, lantang disiplin penuh daya pukau yang luar biasa,” ujar Ki Mujar.

Konsep pengerjaan wayang milehnium wae Azwar AN – Titiek, kata Ki Mujar, sederhana saja. Ia meniru foto-foto yang tersebar di internet. “Saya pilih karakter atau style Bang Azwar yang selalu mengenakan topi pet putih. Untuk kostumnya, saya modifikasi dengan kostum etnik Jawa Modern. Sedangkan tokoh mbak Titiek, saya pilih foto almarhumah yang paling cantik waktu beliau mengenakan kostum kebaya dengan renda yang unik, bersanggul besar khas Jawa. Kelihatan lebih anggun,” kata pendiri Institut Sangkerta Indonesia Yogyakarta itu.

Teknis pengerjaan wayang milehnium Azwar AN – Titiek, diakui Ki Mujar, tidak terlalu rumit. Selain ia terbiasa mengerjakan wayang milehnium wae dengan berbagai karakter, tokoh yang dibikin wayang pun sangat familiar. “Artinya, kalau bicara tingkat kesulitan, justru terletak pada kepopuleran tokoh Azwar AN dan Titiek Azwar. Tantangannya, karakter Azwar dan Titiek harus muncul dan mudah ditangkap khalayak,” ujar Ki Mujar.

Memulai penggarapan, Ki Mujar terlebih dahulu menggambar desain wajah foto tokoh di media logam aluminium. Setelah selesai, ia pertebal dengan cat ekspres. Setelah cat kering, lalu ditunging sisi pinggirnya. “Terakhir, pemberian gapit bambu untuk pegangan dan untuk menggerak-gerakkan wayang,” ujar Ki Mujar.

Pada pertunjukan memperingati 100 hari wafatnya almarhum Azwar AN, tanggal 31 Maret 2022 nanti, wayang milehnium wae hanya sebagai simbol atas keberadaan Azwar dan Titiek di tengah-tengah keluarga dan anak-cucu yang hadir. Mengartikan bahwa Azwar – Titiek senantiasa hadir dalam kehidupan keluarga tercinta. “Wayang karakter Azwar AN dan Gunungan dipegang oleh kedua cucu almarhum,” kata Ki Mujar.

Lalu, wayang milehnium wae Azwar-Titiek kembali muncul saat Emha Ainun Najib selesai memberi orasi kesan dan pesan tentang Azwar AN. Keseluruhan acara akan ditutup dengan adegan gerak visual gunungan yang diperagakan oleh Ki Mujar Sangkerta sendiri, diikuti wayang karakter Azwar AN – Titiek yang diperagakan oleh A’Syam Chandra dan Mai Intan Aprillia Banyu Langit. “Peragaan wayang akan menampilkan kesan gembira di tengah para hadirin,” kata Mujar.

Nah beralih ke posisi Ki Mujar sebagai tim artistik acara tanggal 31 Maret 2022. Ki Mujar dkk akan menampilkan set property yang unik, yakni seni instalasi 3 dimensi bambu tuk. Bentuk seni instalasi 3 dimensi bambu menurutnya, merupakan pilihan yang fleksibel dan ramah lingkungan serta selaras dengan nuansa Teater Alam yang alami.

Instalasi 3 dimensi bambu tuk sebagai bagian dari konsep setting panggung “100 Mantra Teater Alam untuk Azwar AN”, Kamis (31/3/2022) di Societet, Komplek Taman Budaya Yogyakarta (TBY). (foto: Teater Alam)

Dengan berbagai desain bentuk geometri (bulat, kerucut, persegi), Ki Mujar dkk bisa mengeksplorasi lebih leluasa bambu-bambu yang sudah dibelah menjadi beberapa bagian untuk mempermudah proses pembentukannya. “Dengan kelenturan bilah bambu yang masih basah, tim artistik dapat menciptakan berbagai bentuk tiga dimensi yang imajinatif, naif, dan sangat plastis penggarapannya,” ujar lelaki yang juga memiliki nama lain Mujar Mahasiswantoro.

Mujar mengaku sangat menikmati proses kreatif tanpa batas dalam berkarya. Kerangka-kerangka bambu tadi oleh Ki Mujar dkk sengaja dibiarkan telanjang, tanpa balutan kertas semen atau kertas koran, atau kertas-kertas lain. “Justru tujuannya agar karakter kerangka bambu menjadi lebih eksotik untuk dinikmati,” pungkas Ki Mujar.

Ditanya ihwal interaksinya dengan almarhum Azwar AN, Ku Mujar menjawab, sosok Azwar adalah sosok yang banyak menginspirasi kehidupannya. Sejak ia masih kuliah di STSRI “Asri” Gampingan, Yogyakarta (sekarang ISI Yogyakarta), Mujar sering menyaksikan Azwar AN melatih cantrik-cantrik Teater Alam di pendopo Timbul Busono. Kebetulan lokasinya di sebelah timur kampus STSRI “Asri” Gampingan (sekarang menjadi Jogja National Museum/JNM).

Ki Mujar tekun mengerjakan instalasi 3 dimensi bambu. (foto: Teater Alam)

“Jadi, dari dulu saya tahu, bagaimana beliau sangat disiplin dan keras dalam melatih dan mendidik cantrik-cantrik Teater Alam. Saya terkesan sekali dengtan suaranya yang sangat lantang dan tegas. Beliau juga sangat detail dalam melihat kesalahan. Sedikit saja ia melihat ada kesalahan, keluarlah kata-kata khas beliau…,” ujar Ki Mujar sambil tertawa.

Interaksi makin intens dengan Azwar AN saat Ki Mujar kost di sebelah rumah Amri Yaya, seorang maestro pelukis batik yang memiliki kekerabatan dekat dengan Azwar AN. Setiap Amri Yahya mengadakan pengajian keluarga, Azwar AN selalu hadir. “Kebetulan saya yang selalu menjadi penata dekor di pendopo Amri Yahya,” katanya.

Di kediaman Amri Yahya, Gampingan itu pula, Ki Mujar dan Azwar AN sering berdiskusi sambil bersenda-gurau. Di sela obrolan dan canda, Azwar acap menyelipkan nasihat, antara lain, jika ingin menjadi seorang seniman sukses, tekuni dengan sungguh-sungguh, jangan cepat menyerah atau mengeluh.

“Almarhum juga pernah berpesan kepada saya, hadapi setiap kesulitan yang ada di depanmu. Sebab, di balik kesulitan pasti ada mutiara hukmah di dalamnya,” kata Mujar, lulusan Kriya Logam STSRI “Asri” Yogyakarta itu.

Pesan lain, adalah agar ia senantiasa menjadi orang yang memberi manfaat bagi orang-orang dan kehidupan di sekitar. “Semua nasihat beliau, kemudian menjadi spirit sekaligus energi untuk melangkah maju dalam mengarungi kehidupan berkesenian dengan riang gembira dan semangat,” kata Ki Mujar Sangkerta. (roso daras)

Ada Cinta di Santo Xaverius

Azwar AN, Manusia Teater (4)

___

Tokoh teater Indonesia, Azwar AN wafat Senin dinihari (27/12/2021) pukul 01.40 di kediamannya, Wirokerten, Yogyakarta. Untuk mengenang sosok Azwar AN, Jayakarta News menurunkan serial tulisan autobiografi Azwar AN yang dikutip dari Buku Trilogi Teater Alam (Penyunting: Roso Daras, Prof Yudiaryani, Bambang JP – 2018).

___

JAYAKARTA NEWS – Sebagai manusia teater, aku bisa akting, bahkan sudah malang-melintang tampil di panggung lawak sejak tahun 1960-an, pentas teater pun berkali-kali. Mestinya saat itu aku sudah bisa dibilang “seleb”. Lantas apa hubungannya dengan “Cinta di Santo Xaverius”?

Ini memang soal cinta. Tapi jangan dikira kalau “seleb” itu banyak pacar. Jangan juga mengira, “seleb” ketika itu digandrungi wanita-wanita. Itu sama sekali tidak benar. Buktinya, aku tidak menemukan cinta di Yogyakarta.

Cinta pertamaku tertambat –atau bahkan tertinggal—di Lampung sana. Aku sebut saja namanya Mawar. Maklumlah, beliau masih hidup, dan tidak etis kalau aku sebut nama. Terlebih, endingnya putus. Mawar ini tinggal tak jauh dari rumahku. Terus terang, aku sudah naksir dia sejak SMP. Dan aku tahu, itu cinta monyet. Jangankan kok berpacaran, bisa memandangi saja senang bukan kepalang. Celakanya, Mawar sepertinya belum terpanah cinta hatinya.

Pendek kalimat, saat aku lulus SMP dan berangkat ke Yogya, maka cinta monyet itu pun kubawa serta. Untuk beberapa saat, bayangan Mawar masih terngiang-ngiang. Bayangan Mawar, seperti memanggil-manggilku pulang. Padahal, Mawar sendiri belum tentu merindukanku. Aku tahu itu.

Waktu terus bergulir, aku sekolah di Yogya. Mawar tetap di Lampung. Perlahan, kesibukanku berteater dan beraktivitas, ada kalanya bisa menutup bayang-bayang Mawar. Bisa jadi, Mawar sendiri tidak pernah merasakan apa-apa.

Tiba suatu hari, saat liburan tiba, aku pulang kampung. Yakinlah, Mawar bukan tujuan utamaku. Setidaknya ia nomor dua. Sebab, yang pertama adalah rindu orang tua, rindu kampung halaman. Yang ketiga, rindu kawan-kawan sepermainan.

Jika ada pepatah sekali dayung, dua-tiga terlampaui, mengapa tidak sekali pulang kampung, Mawar kujumpai? Jadi, kami bertemu dan bertegur sapa. Setelah itu, baru aku mulai berani menunjukkan hasratku. Kukira, Mawar pun mulai memperhatikan. Sungguh, proses pendekatan itu tidak mudah. Lebih mudah melawak, kukira. Berbait-bait puisi kusiapkan, tapi kelu lidah kurasa.

Saat musim libur berakhir, kami pun harus berpisah. Aku kembali ke Yogyakarta, dan Mawar tetap di kampung, menuntaskan SMP-nya. Setidaknya aku mulai berani menulis surat kepadanya. Entah di kepulangan yang keberapa, aku mulai dekat dengan Mawar. Setidaknya, aku merasa sudah seperti orang berpacaran. Sungguh aku lupa, apakah aku pernah menyatakan cinta kepadanya? Aku ragu, tapi mungkin pernah. Entah melalui surat, atau setidaknya melalui kata-kata bersayap.

Perjalanan cintaku sampai kepada sebuah kabar gembira, ketika Mawar mengatakan hendak melanjutkan pendidikan ke Jawa, tepatnya Magelang. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Mawar yang kucinta, akan lebih dekat adanya. Jarak Yogyakarta – Magelang yang hanya 44 kilometer sungguh dekat, dibanding jarak Yogyakarta – Tanjung Karang (Lampung) yang 753 kilometer!

Tahun ajaran baru kuterima kabar, Mawar sudah bersekolah di Sekolah Kepandaian Putri (SKP) Santo Xaverius, Magelang. Tanpa pikir panjang, saat ada waktu luang, segera aku berangkat ke Magelang. Senang bukan main, bisa jumpa Mawar, jauh dari kampung halaman. Rasa dekat, menjadi makin lekat.

Mawar kemudian memanggil temannya, dan memperkenalkan kepadaku dengan kalimat, “Kenalkan, ini Titiek… dari Teluk Betung.” Kami bersalaman, sambil berpikir, Teluk Betung artinya Tanjung Karang. Berarti pula, sama-sama dari Lampung. Nah, seputar itulah obrolan kami bertiga.

Benar-benar seperti cerita dalam sinetron picisan, cinta uang seketip…. Setelah pertemuan itu, Titiek teman Mawar kekasihku, seolah terus membuntutiku. Tatapan mata yang sayu tapi tajam, sungguh sulit dilukiskan, ada apa di balik sorot mata itu. Senyum tipis seperti dipaksakan, sungguh sebuah senyum misterius. Ada apa di balik senyum itu.

Baiklah… aku putar jarum jam sekencang-kencangnya sehingga segera tiba ke momen-momen apel selanjutnya. Tiada apel tanpa pertanyaan, “Titiek mana?” Dus, tiada apel, tanpa kehadiran Titiek di antara aku dan Mawar.

Begitulah apel-apel selanjutnya, Mawar tetap memanggil Titiek, saat aku bertanya, “Titiek mana?” Tapi seiring waktu, ada roman kurang enak di wajah Mawar. Cemburu kukira. Celakanya, aku pun tidak berusaha mati-matian untuk menepis rasa cemburu Mawar. Mawar ngambek.

Setan-gundul…. Mengapa aku justru merasa senang ketika Mawar ngambek? Jajalanak…. Mengapa aku menganggap ngambeknya Mawar sebagai peluang untuk mengenal lebih dekat Titiek?

Apel selanjutnya, aku langsung mencari Titiek. Itulah enaknya apel di asrama putri. Harus melapor, mencatatkan diri, dan menyebut penghuni asrama mana yang hendak dikunjungi.

Titiek keluar dengan wajah terheran-heran, demi melihat tidak ada Mawar di situ.

“Mana… Mawar?”

“Aku cuma mau ketemu kamu.”

Kukira itulah dialog pertama kami. Masih agak canggung, memang. Maklum, jika sebelumnya kami bertiga, obrolan bisa saling isi. Bahan obrolan pun lebih banyak. Manakala aku berdua Titiek, otak seperti beku, lidah kelu, tubuh kaku. Itukah yang disebut salah tingkah? Mungkin.

“Apel” pertamaku ke Titiek, memberi kesan yang dalam, meski sungguh tidak banyak hal yang kami percakapkan. Aku sebut apel dalam tanda kutip pun, karena aku belum resmi berpacaran dengan Titiek. Bagaimana mungkin aku berpacaran dengan duasekawan, yang sama-sekampung, dan sama-seasrama?

Persoalan dengan Mawar pun kuselesaikan pada kedatanganku ke Magelang selanjutnya. Dingin dia menjawab, “Saya sudah tahu.” Begitulah perjalanan cintaku dengan Mawar, kandas di bangsal Xaverius.

Apakah Mawar dan aku patah hati? Tidak. Hanya retak. Sebab memang tidak ada jalinan cinta yang begitu dalam. Tidak ada perjalanan cinta dengan pengembaraan yang jauh ke ujung dunia.

“Kabar duka” bagi Mawar, kusampaikan sebagai “kabar gembira” ke Titiek. Sejatinya ini sebuah pertaruhan, sebuah perjudian cinta. Pepatah “lebih baik satu burung di tangan daripada sepuluh burung di pohon” benar-benar tidak berlaku. Yang terjadi sesungguhnya, Mawar sudah kulepas, Titiek belum lagi kudapat.

Kabar gembira itu diterima Titiek dengan perasaan campur-aduk. Itu aku tahu setelahnya. Aku pun baru tahu setelah ia menerima cintaku, bahwa betapa sesungguhnya batinnya berperang untuk menerima cinta seorang Azwar AN.

Begini kisahnya. Kisah yang sudah melewati serentetan perjuangan keras meluluhkan hatinya. Titiek mengaku, saat pertama kali…. Aku ulangi…. Saat pertama kali bersalaman denganku, mendadak ada bisikan merasuk sukmanya, “Tiek… ini jodohmu.”

Ia menyangkal keras bisikan itu. Awalnya. Sebagai orang Teluk Betung, yang tinggal tak jauh dari kampungku, ia tahu dan mendengar semua cerita buruk tentangku. Cerita tentang kegemaranku berkelahi. Cerita tentang kebiasaanku memalak pedagang. Cerita-cerita yang sungguh membuat hati Titiek tegas menjawab bisikan itu dengan kata batin, “Tidak mungkin. Orangnya kecil dan terkenal karena kenakalannya. Mana mungkin dia jodohku. Salah apa aku harus berjodoh dengannya.”

Bisikan “Tik ini jodohmu” rupanya terus-menerus menerobos sukma Titiek, menerobos hati Titiek. Sementara itu, setiap apel, aku buka diriku seluas-luasnya. Maksud hati, agar ia bisa melihat lebih dalam diriku. Aku adalah pribadi yang telanjang di hadapannya. Tidak ada cerita apa pun tentang diriku yang tidak aku buka. Kukira, inilah jalan terbaik meyakinkannya, merebut cintanya. Aku tergila-gila padanya.

Aku tahu, Titiek pun mulai mencintaiku. Pandangan tentang diriku sudah berubah sama sekali. Ia bahkan tidak menolak ketika aku ajak menikah. Sekalipun, ia ragu, apakah akan diizinkan kedua orang tuanya.

Kembali cinta dihadang masa kecilku yang jalang. Saat hubunganku semakin serius, dan berpikir untuk meningkatkan status, ayah Titiek memupus. Alasannya satu: Nakal. Aku pun serasa mampus.

Titiek yang mencarikan solusi. Ia ajak aku menemui pakdenya, kaka dari ayah Titiek, yang tinggal di Purworejo. Ia seorang militer berpangkat kapten, waktu itu. Namanya Soepino Djunaidi. Kapten Pino, biasa dipanggil teman-teman kesatuannya.

Ketika ujian SKP usai, Titiek lulus, itu artinya pernikahan harus segera digelar. Bukankah setelah lulus ia harus meninggalkan asrama SKP Santo Xaverius Magelang? Aku bertekad, ia harus keluar dari sana sebagai istriku.

Tanggal ini kucatat betul, 4 Juli 1965, sebagai tanggal pernikahanku dengan Titiek Suharti. Pakde Kapten Pino yang menjadi wali nikah. Kami menikah di Magelang.

Usai menikah, aku boyong Titiek ke Yogya, ke rumah kontrakanku di Jalan Sawojajar Nomor 30, rumah milik pak Soma. Di situlah kontrakanku, sebelum nantinya aku pindah di Jl. Sawojajar Nomor 25, sekaligus menjadi markas sanggar Teater Alam, yang aku bentuk 4 Januari 1972, setelah aku keluar dari Bengkel Teater akhir Desember 1971.

Tiga tahu setelah menikah, setelah lahir anak pertama Moni (Azmakiyanto Ronny Amperawan AN lahir 1966) dan anak kedua Nana (Erna Azmita AN, lahir 1968) barulah aku mulai diterima di keluarga mertua. Aku telah membuktikan kerja kerasku, membuktikan aku menyayangi dan menjaga Titiek, dan yang lebih penting kukira, aku telah memberinya cucu-cucu yang lucu. ***

Keluarga Azwar AN. (foto: dok Teater Alam)

Hari-hari “Menggempur” Rendra

Azwar AN, Manusia Teater (3)

___

Tokoh teater Indonesia, Azwar AN wafat Senin dinihari (27/12/2021) pukul 01.40 di kediamannya, Wirokerten, Yogyakarta. Untuk mengenang sosok Azwar AN, Jayakarta News menurunkan serial tulisan autobiografi Azwar AN yang dikutip dari Buku Trilogi Teater Alam (Penyunting: Roso Daras, Prof Yudiaryani, Bambang JP – 2018).

___

JAYAKARTA NEWS – Inilah bagian yang bolehlah aku sebut sebagai tonggak. Tonggak hidup yang kebetulan bersamaan dengan kepulangan WS Rendra dari Amerika Serikat.

Saya ingat, tahunnya 1967. Aku mendengar, dia dramawan hebat. Sepulang dari Amerika Serikat, tentu membawa ilmu baru tentang teater modern. Singkatnya, saat itu aku melihat, Rendra adalah “dewa teater” Indonesia. Tokoh yang lain, bukan saja tidak ada inovasi, tetapi kurang gereget. Sedangkan aku, sangat geregetan untuk mendapatkan ilmu teater modern terbaru dari Paman Sam.

Aku datangi Rendra. Aku ajak dia bermain teater. Tapi dingin. Lebih dingin dari es kurasa. Baiklah, aku alihkan saja pembicaraan dengan hal-hal lain. Ia menanggapi, tetapi tidak terlalu antusias.

Esok harinya, aku datangi lagi. Rendra tetap diam.

Lusa aku datangi lagi, Rendra bergeming.

Hari setelah lusa aku pun datang lagi, Rendra tak beringsut.

Aku makin penasaran. Buatku, ini hanya soal waktu. Ya, soal waktu, kapan Rendra mau buka mulut. Kapan Rendra mau ngomong teater.

Sementara menunggu, aku telan alasan gosip yang mengatakan, sekembali dari Amerika, Rendra dilarang berteater oleh Sunarti, istrinya. Jika itu alasannya, ah… ini benar-benar soal waktu. Sebab, belum tentu Mbak Narti melarang. Siapa tahu Rendra yang menjanjikan tidak akan berteater lagi sekembali dari Amerika.

Sementara menunggu, aku telan juga rencana cengeng Rendra yang mengatakan hendak beralih dari teater ke melukis. Kali lain, mau menulis dongeng. Aku bahkan tidak menganggap penting ketika Rendra mulai melukis atau menulis. Sesekali bahkan aku ledek dan aku cela. Pendeknya, aku runtuhkan keputusan berhenti berteaternya.

Hampir tidak ada satu hari pun yang aku tidak datang ke rumah Rendra. Tiap hari. Aku bahkan tidak peduli kalau Rendra kesal atau bosan, muak sekalipun. Sepanjang hari-hari mengunjungi Rendra, aku “serang” terus keputusan dia. Aku “gempur” terus pertahanan dia.

Sesekali dengan serangan bernada memelas….

Sesekali menyerang dengan memohon….

Kali lain menyerang dengan mencela. Pokoknya semua jurus aku pakai. Percuma jadi orang pendek, pikirku……

Klimaks penantian pun tiba. Bodohnya, aku tidak mencatat hari, tanggal, bahkan jam, menit, dan detiknya. Tidak aku catat kata demi kata, saat untuk pertama kalinya sejak pulang dari Amerika, Rendra berbicara soal teater!

Hatiku bungah bukan kepalang. Antara percaya dan tidak. Ini soal memenangkan perang bung! Perang melawan keputusan seorang Rendra yang hendak beralih menjadi pelukis, melawan tekad kuat untuk mengurungkan keputusan itu. Bukan hanya mengurungkan, tetapi agar mau kembali berteater.

Inilah titik penting, di mana Rendra mau berteater. Antusias aku menanggapi omongannya (soal teater). Aku sudah siap menerima ilmu. Siap disuruh mengerjakan apa saja, sepanjang itu akan menambah pengetahuanku tentang teater paling mutakhir.

Ngglethek… orang Yogya bilang…. Ia hanya mengeluarkan semua piringan hitam yang ia bawa dari Amerika. Semua musik klasik dari para composer dunia. Sebut sajalah siapa yang ada di benak Anda, aku pastikan ada. Johan Sebastian Bach? Ada. Ludwig van Bethoven? Apalagi itu. Wolfgang Amadeus Mozart? Ada. Haydn, Bhrams, Schumann, Wagner…. Ada semua!

Lantas? Ia putar piringan hitam-piringan hitam itu. Pelan ia berkata, “Dengarkan dan hayati setiap alunan nada. Resapi. Masukkan ke pikiranmu.”

Itulah yang ia sebut sebagai metode berlatif teater secara modern. Secara lebih berkualitas. Esensinya, memberi tafsir atas berbagai macam imajinasi. “Coba, ikuti musik itu dengan gerakan,” kata Rendra.

Aku bingung. “Gerak! Iya…. Gerak! Gerakkan tubuhmu, tanganmu, kakimu, kepalamu…. Gerak! Ikuti musik itu,” kata Rendra.

Azwar AN dan Rendra, awal-awal pembentukan Bengkel Teater. (dok Teater Alam)

Mulailah aku bergerak. Awalnya aku pejamkan mata. Dengan mendisfungsikan salah satu indra, maka indra yang lain akan lebih tajam. Dengan mematikan fungsi melihat, aku harap fungsi pendengar lebih peka. Ditambah, tanpa melihat objek apa pun di sekitar, jadi lebih mudah fokus dan konsentrasi.

Di luar dugaan, Rendra senang dengan gerakanku. Kelak kami menyebutnya gerak indah. Makin suka dia dengan gerakanku, makin banyak ia menjejalkan alunan-alunan musik ke telingaku. Makin semangat dia memintaku mengeksplorasi gerakan.

Sesekali, aku seling dengan bercanda. Aku lakukan gerakan-gerakan lucu. Rendra tertawa terpingkal-pingkal. Bukan sekali-dua ia meminta aku mengulang gerakan-gerakan yang mengilik-ilik saraf tawanya.

Itulah keseluruhan proses awal lahirnya Bengkel Teater. Ya, kami berdua, aku dan Rendra mencapai kesepakatan mendirikan teater. Namanya Bengkel Teater. Filosofi nya ya seperti bengkel, untuk me-repair, mereparasi. Bedanya, yang hendak kami perbaiki adalah mental, jiwa, sense of creativity, kepribadian, yang bermuara menjadi manusia yang lebih berguna.

Di awal berdirinya, Bengkel Teater beranggotakan orang-orang yang sebelumnya sudah berteater. Jadi kebesaran Bengkel Teater dapat dikatakan tidak luput dari peran anggotanya yang sudah matang berteater di Yogyakarta. Hanya ada beberapa nama kala itu yang benar-benar bukan dari teater, melainkan dari SMKI dan SMSR, yakni Adhi Kurdhi, Tertib Suratmo, dan Untung Basuki.

Itu pun harus mengikuti proses magang latihan di Bengkel Teater kurang lebih enam bulan. Selama enam bulan, didiamkan saja sama Rendra. Hebatnya, meski enam bulan tidak disapa, mereka tidak pernah absen melihat latihan Bengkel Teater. Hal tersebut juga sebagai ujian kesetiaan dan mental orang-orang yang akan bergabung dengan Bengkel Teater.

Setelah sekian lama berproses, pentas pertama Bengkel Teater terjadi tahun 1968 lewat pementasan “Teater Mini Kata” Bip Bop. Peristiwa ini kemudian menuai banyak tanggapan, pro dan kontra. Ada yang bilang Rendra lebih pantas menjadi penghuni bangsal rehabilitasi rumah sakit jiwa.

Menarik pula komentar Fuad Hasan (yang kelak menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI) di  Kompas, Juni 1968: “Rendra ingin mendramatisasikan penghayatan konflik pada manusia di abad modern ini tanpa elaborasi intelektual yang sadar; ia telah berhasil mengonstantir konflik yang khas dalam abad modern ini yaitu individuasi versus massifi kasi, atau lebih mendesak lagi humanisasi versus dehumanisasi.”

Bengkel Teater lalu mementaskan Menunggu Godot yang juga baru pertama kalinya dipentaskan di Indonesia. Naskah karya Samuel Beckett itu diterjemahan Bakdi Soemanto lalu disunting oleh Rendra. Dalam proses ini pula Rendra mengajarkan metode membaca naskah (reading) yang berbeda dengan tradisi sebelumnya.

Semua aktor sebelum membaca naskah diminta membaca karya-karya sastra, baik puisi, cerpen, novel, untuk memperhalus irama, intonasi, dan rasa yang datang dari jiwa dalam metode yang diistilahkan sebagai “cara membaca” naskah drama. Ketika proses membaca dianggap belum selesai, janggan harap akan ada pementasan. Itulah mengapa pertunjukan Bengkel Teater selalu ditunggu-tunggu, antara lain karena proses yang sangat lama. Demikian seterusnya hingga pementasan-pementasan Oidipus Rex, Hamlet, Machbet, Qasidah al Barzanji, Modom-Modom, Menunggu Godot, dan Dunia Azwar.

Di paruh era 1970-an, setelah mendapat komentar dari Asrul Sani yang melihat pementasan Machbet dari Bengkel Teater yang hanya berkostum kain sarung sebagai pentas urakan, Rendra kemudian membuat pertemuan seniman se-Jawa di Parangtritis dengan menamakan acara tersebut “Pesta Kaum Urakan”, pada tahun 1971. Sebuah gerakan yang dianggap menyimpang saat itu, mengingat Yogyakarta selama ini dikenal sebagai zona kultural dan memiliki sopan santun tinggi, ternyata ada kelompok anak muda yang menyebut dirinya “kaum urakan”.

Dalam perkemahan itu selain melakukan pelatihan teater, kaum urakan melakukan interaksi dengan penduduk setempat. Sesungguhnya dari sini bisa dibaca, proses kreatif dalam teater tak hanya berujung pada sebuah pentas pertunjukan belaka, namun juga dalam kehidupan sehari-hari dengan masyarakat.

Satu hal dasar berteater yang diajarkan Bengkel adalah “Mini Kata”. Dalam permainan ini, sang aktor diuji bisa atau tidak berakting tanpa kata-kata sebagai dialog, namun puisi. Latihan kekompakan sebuah tim juga diajarkan melalui metode ini, yakni koor. Dengan koor kebersamaan dan kekompakan setiap aktor diuji.

Sesungguhnya “Mini Kata” adalah metode latihan teater, namun kemudian oleh Rendra dipanggungkan sebagai sebuah pertunjukan. Akhir tahun 1971, aku pamit dari Bengkel Teater setelah pementasan Dunia Azwar. Dua minggu kemudian saya mendirikan Teater Alam, tepatnya pada 4 Januari 1972.

Alasanku keluar dari Bengkel Teater dan mendirikan Teater Alam ialah di Yogyakarta terkesan hanya ada satu kelompok teater, yakni Bengkel Teater. Kelompok-kelompok yang sudah ada sebelumnya bubar dan anggota-anggotanya bergabung di Bengkel Teater. Itu kuanggap peristiwa yang tidak sehat dalam dunia teater. Untuk jangka panjang, tidak akan menguntungkan dunia perteateran di Yogyakarta. ***

Sekolah Dulu, Drama Kemudian

Azwar AN, Manusia Teater (2)

___

Tokoh teater Indonesia, Azwar AN wafat Senin dinihari (27/12/2021) pukul 01.40 di kediamannya, Wirokerten, Yogyakarta. Untuk mengenang sosok Azwar AN, Jayakarta News menurunkan serial tulisan autobiografi Azwar AN yang dikutip dari Buku Trilogi Teater Alam (Penyunting: Roso Daras, Prof Yudiaryani, Bambang JP – 2018).

___

JAYAKARTA NEWS – Bahwa aku sudah bermain teater di Tanjung Karang, benar. Bahwa aku sesekali juga tampil melawak secara profesional, tidak salah. Bahwa aku juga main perkusi di band Alunan Nada, itu juga fakta. Tapi kalau dikatakan aku ke Yogyakarta untuk seni, apalagi fokus ke teater, seratus persen keliru.

Memang, guru menyarankan aku melanjutkan sekolah ke Yogya. Tapi kalau aku terjemahkan, saran itu ibarat sekali dayung dua pulau terlampuai. Yogya, yang utama adalah kota pelajar. Juga kota budaya. Itu artinya, Yogya adalah kota penentuan terbaik.

Jika akhirnya memilih fokus ke pendidikan non seni, Yogya menyediakan banyak pilihan sekolah menengah hingga perguruan tinggi. Sebaliknya, jika mau ke seni, aku sudah berada di kota yang benar. Karena itu, selepas SMP Negeri I Tanjung Karang tahun 1962, tujuan utamaku ke Yogya. Tapi sungguh belum ada keputusan bulat. Ingat, usiaku baru belasan tahun. Maka yang ada di benakku adalah melanjutkan ke sekolah tingkat atas. Itu yang utama.

Jadilah aku siswa SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta. Bukan sekolah menengah musik, misalnya. Bukan juga sekolah kejuruan seni yang lain. Aku memilih SMA, karena memang masih berpikir kuliah. Kuliah apa? Nantilah dipikir sambil menyelesaikan SMA.

Memang, darah seni tak bisa hilang. Hasrat berkesenian tidak mungkin padam. Jadi, ketika sekolah sudah tertata, teman sudah punya, mulailah aku mencari informasi seputar teater di Yogya.

Tibalah aku ke markas Teater Muslim, pimpinan Mohammad Diponegoro. Makin betah saja aku dengan kota ini. Sekolah lancar, berkesenian pun tersalur. Bahkan, jauh lebih kondusif. Tidak lagi berpikir untuk berkelahi, atau main geng-gengan.

Selagi nyantrik di Teater Muslim, aku coba-coba mendirikan sanggar, Sanggar Sriwijaya. Nama yang memuliakan daerah kelahiran. Itu terjadi tahun 1964. Makin banyak bergaul dengan seniman teater kota Yogya, makin dangkal saja rasanya. Makin cetek rasanya ilmu berteaterku. Maka, muncul keinginan menimba ilmu formal teater. Kebetulan ada Asdrafi (Akademi Seni Drama dan Film). Di situ aku belajar teater dari guru-guru yang lebih baik.

Sejauh itu, tidak ada masalah dengan keseharianku di Yogya. Entah kalau perantau lain, tapi aku praktis tidak pernah mengalami persoalan. Mungkin karena aku berani, suka melucu, dan pintar cari uang.

Sampai lulus SMA, ada perasaan bimbang, antara menekuni seni atau menekuni ilmu serius. Jadilah aku mengikuti tes masuk Universitas Gadjah Mada Fakultas Ekonomi. Pengennya belajar akuntansi. Aku diterima, dan sempat kuliah. Kampus FE UGM waktu itu di Pagelaran Keraton Yogyakarta.

Hijrah Asdrafi

Jangan tanya soal hitung-menghitung sama orang berdarah Padang. Saya jagonya. Jadi sebenarnya kuliah akuntansi bukan hal sulit. Persoalannya, porsi kuliah dengan berteater nyaris sama besar. Lama-lama, saya berpikir tentang betapa bertolak belakangnya, dunia ekonomi dengan dunia seni drama. Sungguh, saya perlu bertafakur, merenung lama untuk memikirkan persoalan itu. Pilihannya memang kurang menguntungkan.

Bisa saja kuliah di UGM dan Asdrafi. Dengan demikian, bisa menggondol gelar Sarjana Ekonomi, dan siap memasuki pasar kerja pasca kuliah. Di sisi lain, tidak meninggalkan teater yang makin asyik.

Otak yang sekepal ini sunguh harus berkelahi menentukan pilihan yang sangat sulit. Bertahan kuliah di FE UGM, atau menekuni teater dan pindah Asdrafi. Membenturkan keduanya, hanya menambah berat kepala. Segelas-dua-gelas kopi, tidak cukup meredakan persoalan.

Persoalan baru tampak titik terang, manakala berhitung soal biaya. Kuliah di dua perguruan tinggi, tentu memerlukan biaya lebih banyak, dibanding kalau hanya kuliah di satu tempat. Jalan keluar lebih lebar, ketika aku merasakan geliat teater makin hari makin hangat.

Pendek kalimat, aku hijrah dari UGM ke Asdrafi yang berkampus di bilangan Sompilan, Ngasem. Astaga. Aku harus memekik. Antara marah, kesal, sekaligus sedih dan prihatin. Kondisi Asdrafi ternyata sangat memprihatinkan. Dibilang kampus, tapi lebih mirip gedung mangkrak. Sudah mangkrak, tak terawat pula.

Mangkrak, tak terawat, sepi pun! Tidak ada sama sekali kegiatan yang aku bayangkan, di mana di setiap sudut kampus tampak mahasiswa berlatih akting, berlatih vokal, berlatih gerak, berlatih apa saja yang terkait drama dan film. Aku melihat aura kematian Asdrafi, ditandai dengan gejala lesu darah akut.

Tapi entah mengapa, aku menikmati berada di kampus Asdrafi. Sepertinya memang aku dilahirkan untuk berada di situ. Karenanya, melihat kondisi memprihatinkan itu justru memacu untuk berbuat. Aku ingin menunjukkan bahwa Asdrafi eksis.

Aku melihat Asdrafi sebagai kampus yang tidak maju dan tidak punya sarana memadai. Mahasiswa ikut lesu, tak bergairah. Ini yang aku tentang. Aku justru terpacu lebih giat mencari uang untuk bisa mendanai aktivitas demi meramaikan kampus.

O ya, untuk tambahan penghasilan, sesekali aku menerima undangan melawak. Teman melawakku Suhud, Hermansyah, dan Dadang yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Orang-orang Sinting.

Semua uang yang aku dapat, sebagian besar aku gunakan untuk berteater. Di Asdrafi aku sudah punya Teater Sriwijaya. Kemudian aku dirikan lagi kelompok Teater Antasari. Sejumlah drama kami mainkan, antara lain Tuan Kondektur, Penggali Intan. Itu kami mainkan bersama Teater Ikasdrafi.

Nomor lain kami pentaskan lakon Mr. X, Jebakan Maut, Pantomim, dan Lawan Catur bersama Teater Sriwijaya. Bersama Teater Antasari, terlahir repertoar Alam Roh Kalimantan, Pangeran Antasari, Tuan Abdullah.

Tidak hanya itu. Bersama Teater PWI Yogyakarta, saya juga mementaskan Badai Asmara, dan Nao Tungga Magek Jabang. Sementara, aku juga tetap bergabung dengan Teater Muslim dan Teater Mahasiswa Islam (HMI) yang kemudian membawa saya keliling pulau Jawa. Amak Baldjun, Chaerul Umam, Syu’bah Asa merupakan nama-nama penggerak teater di Yogyakarta kala itu.

Dengan semua kegiatan tadi, Asdrafi lebih “berdarah”, lebih ada gaungnya. Lebih ada aktivitas di dalam kampus. Tak pelak, aku pun merasa at-home, bahkan home sweet home. Hidup dari panggung ke panggung telah membuat matang bukan saja sebagai pemain watak, tetapi juga sebagai sutradara, bahkan pelawak. Benar. Melawak jadi lebih banyak bahan. ***

Si Bengal Berdarah Tonil

Azwar AN, Manusia Teater (1)

Tokoh teater Indonesia, Azwar AN wafat Senin dinihari (27/12/2021) pukul 01.40 di kediamannya, Wirokerten, Yogyakarta. Untuk mengenang sosok Azwar AN, Jayakarta News menurunkan serial tulisan autobiografi Azwar AN yang dikutip dari Buku Trilogi Teater Alam (Penyunting: Roso Daras, Prof Yudiaryani, Bambang JP – 2018).

___

JAYAKARTA NEWS – Menurut orang tua, aku lahir disambut kokok ayam jago di pagi hari. Belakangan aku baru tahu, bayi yang lahir saat fajar menyingsing, konon sudah memiliki garis tangan tegas. Artinya, takdir hidup saya sudah ditentukan.

Jika akurat, maka tanggal lahirku 6 Agustus 1940. Maklumlah, orang dulu, terkadang abai dengan tanggal kelahiran anak. Kalaupun dicatat, bukan di kertas, tapi di tiang kayu menggunakan kapur. Jadi kalau pindahan rumah, atau kalau sudah lama, catatan itu bisa hilang. Setidaknya, selama ini orangorang terdekatku selalu mengucapkan selamat ulang tahun di tanggal itu.

Tempat kelahiranku Palembang, tapi, darah nenek moyangku dari Nagari Talu, Pasaman, Sumatera Barat. Ya, darah Minang. Bagi kami, merantau itu hal biasa. Demikian pula ayahku, Anwar Gelar Radjo Marah (alm) dan ibuku, Siti Aminah (alm).

Pada waktu itu, ayahku hanya sekolah HIS (Hollandsch-Inlandsche School), sekolah setingkat SD di zaman Belanda. Setidaknya, cukuplah untuk bekal berdagang kecil-kecilan. Cukup juga sebagai bekal merantau ke Tanjung Karang, Lampung.

Kedua orang tua Azwar AN: Anwar Gelar Radjo Marah (alm) dan Siti Aminah (alm). (foto: dok Teater Alam)

Nakal

Masih kata orang tua, kecilku dulu benar-benar bengal. Nakal. Badung. Aku akui. Entah turun dari mana, tapi yang kuingat, aku ini memang bocah nekad. Meski badan kecil, tapi kalau di luar rumah aku berani malak tukang dagang makanan. Tapi, yaaa…. Sebatas malak makanan.

Kenakalan lain, berkelahi. Rasanya, masa kecil tidak ada beban. Berkelahi itu jadi kudapan seharihari. Kalau gak berkelahi, badan pegal. Tapi ini cerita sungguh, hampir setiap berkelahi, selalu menang.

Tahu kenapa? Aku seperti dianugerahi tahan menerima rasa sakit. Jadi, walaupun lawan lebih besar tubuhnya, aku sama sekali tidak gentar. Gara-gara itu, satu-satu anak yang aku taklukkan kemudian jadi pengikut. Aku disegani, setengah ditakuti.

Meski begitu, di rumah, aku sungguh anak yang baik. Anak patuh. Bahkan kukira, ayah-ibuku tidak tahu kelakuanku di luar rumah. Kalau toh tahu, kukira tidak akan percaya. Kalau toh tahu dan percaya, entah bisa berbuat apa, karena ibuku melahirkan hampir tiap tahun. Sebagai anak pertama, aku punya adik kecil tiap tahun. Dan kelak, aku menjadi sulung dari sembilan bersaudara.

Menginjak usia sekitar 10 tahun, kira-kira setingkat kelas 5 SD, ayah sakit lumayan lama. Aku harus mengambil alih tugas ayah mencari nafkah. Pulang sekolah, berdagang. Kalau ayah jualan kelontong, maka aku memilih jualan telur ke warung-warung di Kampung Sawah, Tanjung Karang Timur. Dulu kampung, sekarang masuk Kota Bandar Lampung.

Aku pindah ke Kampung Sawah sejak umur tiga tahun dalam suasana agresi Jepang ke Indonesia. Daerah itu aku kenal betul. Jadi, tidak sulit buatku untuk menjajakan telur. Teringat pesan guru ngaji, jodoh-maut-rezeki Tuhan yang mengatur, kukira sudah kusadari sedari kecil. Selama ayah sakit, dapur ibu tidak sekalipun tidak ngebul.

Jualanku selalu habis. Bahkan dari hasil berjualan, selain bisa untuk makan, masih ada sisa untuk menambah jenis dagangan. Lalu, aku pergi ke toko obat. Aku borong obat-obatan yang sering dipakai orang bepergian, seperti minyak ayu putih, aspirin, dan balsam. Aku jualan obat-obatan di terminal Bandar Lampuung. Entah karena kasihan melihat anak kecil jualan, atau memang karena mereka memerlukan, yang pasti minyak kayu putih, aspirin, balsam laris.

Tidak sampai setahun, aku sudah bisa membuatkan warung semi permanen untuk berjualan kelontong. Bukan main senangnya ayah dan ibu ketika itu. Ketika persoalan “mencari nafkah” kembali ditangani ayah, aku kembali ke duniaku: Bermain dan berkelahi. Terkadang, berkelahi untuk sesuatu yang tidak jelas. Misalnya ada teman datang, mengadukan habis dipukuli anak kampung lain, maka segera aku datangi anak itu, dan aku selesaikan dengan berkelahi.

Aku masih ingat, ketika itu aku sudah punya geng. Namanya Crossboy Kampung Sawah. Selain bermain dan berkelahi, aku juga mulai main orkes kampung. Nadanya irama Melayu, mirip-mirip gambus. Di grup itu, aku main perkusi, atau kendang.

Dari orkes kampung, aku diajak bergabung di band Alunan Nada. Di Lampung, band itu cukup terkenal bahkan sering menerima job tanggapan, di kediaman-kediaman saudagar, atau instansi militer.

Jadi umur belum 12 tahun, aku sudah pintar cari duit. Makanya, bisa membantu orang tua mengongkosi sekolah (ketika itu) dua adik, Azimar AN dan Edward AN atau biasa dipanggil Buyung.

Pencinta Tonil

Balik ke soal takdir. Sungguh sulit dipercaya, jika melihat garis hidupku kini. Ternyata aku lahir dari keluarga pencinta sandiwara yang dulu disebut tonil. Istilah teater pertama saya dengar dari tetangga asal Bandung yang tinggal di depan rumah. Ia bercerita tentang teater yang berkembang di Jawa. Aku pun penasaran dan semakin tertarik mendalaminya.

Di masa Sekolah Rakyat kelas 5 tahun 1954 di Lampung aku sudah mendirikan kelompok tonil. Tapi aku tidak pakai nama tonil atau sandiwara. Aku sudah kasih nama teater, Teater Raden Intan. Tahun 1954 inilah debut awal aku memasuki dunia teater.

Naik kelas 6 SR mulai menyutradarai pementasan, merangkap publikasi, pemain, tukang dekor, dengan pemain empat orang, dan sukses menyedot perhatian penonton dengan naskah Pemetik Lada.

Sukses itu dilanjutkan dengan mementaskan naskah Ayahku Pulang, Terima Kasih Pujaanku yang sebagian digelar di Tanjung Karang. Justru pengalaman awal inilah yang membuat aku terus melangkahkan kaki ke dalam dunia seni peran dan teater.

Di SMP aku pentas teater beberapa kali, meski tanpa pembimbing. Pak Mul, guru Bahasa Indonesia di sekolah lantas menyarankan aku hijrah ke Yogyakarta dan memperdalam ilmu dengan belajar teater di Asdrafi.

Pada tahun 1958 aku pun melanjutkan sekolah di SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta. Melompati kelas 3 dengan masuk ke Asdrafi meski tetap sekolah SMA. Kusno Sujarwadi, Harimawan, Abudurrahman Nasution adalah nama-nama guru teaterku di Yogyakarta. Asdrafi pula yang mempertemukanku dengan Putu Wijaya dan Amak Baldjum, yang juga belajar bersama di Asdrafi.

Sejujurnya, pilihan keluar dari Lampung memang sudah terpatri sejak SD. Pikiranku sederhana, kalau bertahan di Kampung Sawah, kehidupanku tidak akan jauh dari berkelahi, dagang, main band. Bagaimana mau mengejar mimpi yang lebih tinggi?

Karenanya, lelepas SLTP aku bulat tekad merantau ke Yogyakarta untuk belajar. Tidak terlalu masalah dengan uang saku dan bekal ke Yogya. Bukankah di depan aku sudah ceritakan soal rezeki yang mengalir begitu lancar ke kantongku?

Guruku di Sekolah Rakyat VIII Tanjung Karang adalah yang pertama menyebut nama kota Yogya, sebagai kota yang ia sarankan tempatku melanjutkan sekolah. Alasan guru waktu itu, Yogya adalah kota seni dan budaya. Pusat budaya Indonesia. Sedangkan aku sejak kecil sudah menampakkan bakat dan minat pada seni. Ditambah, aktivitas berkesenianku sejak kecil, tidak satu pun yang dilarang orang tua.

Untuk urusan seni, orang tuaku sangat lunak. Mungkin karena mereka juga pecinta seni. Maka, kalau anak-anak lain sulit untuk bisa keluar rumah malam hari menonton tonil, bioskop, atau musik, maka tidak demikian dengan ayah-ibuku. Mereka tidak melarang apalagi memarahi kalau aku izin nonton gambar hidup.

Aktivitas berkesenian berlanjut hingga ke SMP. Lulus SMP Negeri 1 Tanjung Karang tahun 1962, aku terngiang saran guru SD dan juga guru SMP. Yogyakarta. Ke Yogya aku menuju. ***