Si Bengal Berdarah Tonil

 Si Bengal Berdarah Tonil

Azwar AN (tengah) bersama Moortri Purnomo (kiri) dan Rendra (kanan), awal-awal pembentukan Bengkel Teater. (dok. Teater Alam)

Azwar AN, Manusia Teater (1)

Tokoh teater Indonesia, Azwar AN wafat Senin dinihari (27/12/2021) pukul 01.40 di kediamannya, Wirokerten, Yogyakarta. Untuk mengenang sosok Azwar AN, Jayakarta News menurunkan serial tulisan autobiografi Azwar AN yang dikutip dari Buku Trilogi Teater Alam (Penyunting: Roso Daras, Prof Yudiaryani, Bambang JP – 2018).

___

JAYAKARTA NEWS – Menurut orang tua, aku lahir disambut kokok ayam jago di pagi hari. Belakangan aku baru tahu, bayi yang lahir saat fajar menyingsing, konon sudah memiliki garis tangan tegas. Artinya, takdir hidup saya sudah ditentukan.

Jika akurat, maka tanggal lahirku 6 Agustus 1940. Maklumlah, orang dulu, terkadang abai dengan tanggal kelahiran anak. Kalaupun dicatat, bukan di kertas, tapi di tiang kayu menggunakan kapur. Jadi kalau pindahan rumah, atau kalau sudah lama, catatan itu bisa hilang. Setidaknya, selama ini orangorang terdekatku selalu mengucapkan selamat ulang tahun di tanggal itu.

Tempat kelahiranku Palembang, tapi, darah nenek moyangku dari Nagari Talu, Pasaman, Sumatera Barat. Ya, darah Minang. Bagi kami, merantau itu hal biasa. Demikian pula ayahku, Anwar Gelar Radjo Marah (alm) dan ibuku, Siti Aminah (alm).

Pada waktu itu, ayahku hanya sekolah HIS (Hollandsch-Inlandsche School), sekolah setingkat SD di zaman Belanda. Setidaknya, cukuplah untuk bekal berdagang kecil-kecilan. Cukup juga sebagai bekal merantau ke Tanjung Karang, Lampung.

Kedua orang tua Azwar AN: Anwar Gelar Radjo Marah (alm) dan Siti Aminah (alm). (foto: dok Teater Alam)

Nakal

Masih kata orang tua, kecilku dulu benar-benar bengal. Nakal. Badung. Aku akui. Entah turun dari mana, tapi yang kuingat, aku ini memang bocah nekad. Meski badan kecil, tapi kalau di luar rumah aku berani malak tukang dagang makanan. Tapi, yaaa…. Sebatas malak makanan.

Kenakalan lain, berkelahi. Rasanya, masa kecil tidak ada beban. Berkelahi itu jadi kudapan seharihari. Kalau gak berkelahi, badan pegal. Tapi ini cerita sungguh, hampir setiap berkelahi, selalu menang.

Tahu kenapa? Aku seperti dianugerahi tahan menerima rasa sakit. Jadi, walaupun lawan lebih besar tubuhnya, aku sama sekali tidak gentar. Gara-gara itu, satu-satu anak yang aku taklukkan kemudian jadi pengikut. Aku disegani, setengah ditakuti.

Meski begitu, di rumah, aku sungguh anak yang baik. Anak patuh. Bahkan kukira, ayah-ibuku tidak tahu kelakuanku di luar rumah. Kalau toh tahu, kukira tidak akan percaya. Kalau toh tahu dan percaya, entah bisa berbuat apa, karena ibuku melahirkan hampir tiap tahun. Sebagai anak pertama, aku punya adik kecil tiap tahun. Dan kelak, aku menjadi sulung dari sembilan bersaudara.

Menginjak usia sekitar 10 tahun, kira-kira setingkat kelas 5 SD, ayah sakit lumayan lama. Aku harus mengambil alih tugas ayah mencari nafkah. Pulang sekolah, berdagang. Kalau ayah jualan kelontong, maka aku memilih jualan telur ke warung-warung di Kampung Sawah, Tanjung Karang Timur. Dulu kampung, sekarang masuk Kota Bandar Lampung.

Aku pindah ke Kampung Sawah sejak umur tiga tahun dalam suasana agresi Jepang ke Indonesia. Daerah itu aku kenal betul. Jadi, tidak sulit buatku untuk menjajakan telur. Teringat pesan guru ngaji, jodoh-maut-rezeki Tuhan yang mengatur, kukira sudah kusadari sedari kecil. Selama ayah sakit, dapur ibu tidak sekalipun tidak ngebul.

Jualanku selalu habis. Bahkan dari hasil berjualan, selain bisa untuk makan, masih ada sisa untuk menambah jenis dagangan. Lalu, aku pergi ke toko obat. Aku borong obat-obatan yang sering dipakai orang bepergian, seperti minyak ayu putih, aspirin, dan balsam. Aku jualan obat-obatan di terminal Bandar Lampuung. Entah karena kasihan melihat anak kecil jualan, atau memang karena mereka memerlukan, yang pasti minyak kayu putih, aspirin, balsam laris.

Tidak sampai setahun, aku sudah bisa membuatkan warung semi permanen untuk berjualan kelontong. Bukan main senangnya ayah dan ibu ketika itu. Ketika persoalan “mencari nafkah” kembali ditangani ayah, aku kembali ke duniaku: Bermain dan berkelahi. Terkadang, berkelahi untuk sesuatu yang tidak jelas. Misalnya ada teman datang, mengadukan habis dipukuli anak kampung lain, maka segera aku datangi anak itu, dan aku selesaikan dengan berkelahi.

Aku masih ingat, ketika itu aku sudah punya geng. Namanya Crossboy Kampung Sawah. Selain bermain dan berkelahi, aku juga mulai main orkes kampung. Nadanya irama Melayu, mirip-mirip gambus. Di grup itu, aku main perkusi, atau kendang.

Dari orkes kampung, aku diajak bergabung di band Alunan Nada. Di Lampung, band itu cukup terkenal bahkan sering menerima job tanggapan, di kediaman-kediaman saudagar, atau instansi militer.

Jadi umur belum 12 tahun, aku sudah pintar cari duit. Makanya, bisa membantu orang tua mengongkosi sekolah (ketika itu) dua adik, Azimar AN dan Edward AN atau biasa dipanggil Buyung.

Pencinta Tonil

Balik ke soal takdir. Sungguh sulit dipercaya, jika melihat garis hidupku kini. Ternyata aku lahir dari keluarga pencinta sandiwara yang dulu disebut tonil. Istilah teater pertama saya dengar dari tetangga asal Bandung yang tinggal di depan rumah. Ia bercerita tentang teater yang berkembang di Jawa. Aku pun penasaran dan semakin tertarik mendalaminya.

Di masa Sekolah Rakyat kelas 5 tahun 1954 di Lampung aku sudah mendirikan kelompok tonil. Tapi aku tidak pakai nama tonil atau sandiwara. Aku sudah kasih nama teater, Teater Raden Intan. Tahun 1954 inilah debut awal aku memasuki dunia teater.

Naik kelas 6 SR mulai menyutradarai pementasan, merangkap publikasi, pemain, tukang dekor, dengan pemain empat orang, dan sukses menyedot perhatian penonton dengan naskah Pemetik Lada.

Sukses itu dilanjutkan dengan mementaskan naskah Ayahku Pulang, Terima Kasih Pujaanku yang sebagian digelar di Tanjung Karang. Justru pengalaman awal inilah yang membuat aku terus melangkahkan kaki ke dalam dunia seni peran dan teater.

Di SMP aku pentas teater beberapa kali, meski tanpa pembimbing. Pak Mul, guru Bahasa Indonesia di sekolah lantas menyarankan aku hijrah ke Yogyakarta dan memperdalam ilmu dengan belajar teater di Asdrafi.

Pada tahun 1958 aku pun melanjutkan sekolah di SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta. Melompati kelas 3 dengan masuk ke Asdrafi meski tetap sekolah SMA. Kusno Sujarwadi, Harimawan, Abudurrahman Nasution adalah nama-nama guru teaterku di Yogyakarta. Asdrafi pula yang mempertemukanku dengan Putu Wijaya dan Amak Baldjum, yang juga belajar bersama di Asdrafi.

Sejujurnya, pilihan keluar dari Lampung memang sudah terpatri sejak SD. Pikiranku sederhana, kalau bertahan di Kampung Sawah, kehidupanku tidak akan jauh dari berkelahi, dagang, main band. Bagaimana mau mengejar mimpi yang lebih tinggi?

Karenanya, lelepas SLTP aku bulat tekad merantau ke Yogyakarta untuk belajar. Tidak terlalu masalah dengan uang saku dan bekal ke Yogya. Bukankah di depan aku sudah ceritakan soal rezeki yang mengalir begitu lancar ke kantongku?

Guruku di Sekolah Rakyat VIII Tanjung Karang adalah yang pertama menyebut nama kota Yogya, sebagai kota yang ia sarankan tempatku melanjutkan sekolah. Alasan guru waktu itu, Yogya adalah kota seni dan budaya. Pusat budaya Indonesia. Sedangkan aku sejak kecil sudah menampakkan bakat dan minat pada seni. Ditambah, aktivitas berkesenianku sejak kecil, tidak satu pun yang dilarang orang tua.

Untuk urusan seni, orang tuaku sangat lunak. Mungkin karena mereka juga pecinta seni. Maka, kalau anak-anak lain sulit untuk bisa keluar rumah malam hari menonton tonil, bioskop, atau musik, maka tidak demikian dengan ayah-ibuku. Mereka tidak melarang apalagi memarahi kalau aku izin nonton gambar hidup.

Aktivitas berkesenian berlanjut hingga ke SMP. Lulus SMP Negeri 1 Tanjung Karang tahun 1962, aku terngiang saran guru SD dan juga guru SMP. Yogyakarta. Ke Yogya aku menuju. ***

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *