“Resonansi” Pameran Seni Rupa di Sancaya Art Space

Sejumlah perupa menggelar karya di bulan Februari 2026. Tiga momentum hari besar menjadi “cantelan” sekaligus. Masing-masing: Valentine’s Day tanggal 14 Februari, Hari Raya Imlek 17 Februari, dan Ramadhan 1447 Hijriyah atau 2026 Masehi.

Pameran seni rupa bertajuk Resonansi, berlangsung di Sancaya Art Space, Mall Belevue, Jl. Merawan, Pangkalan Jati, Cinere, Kota Depok. Tak kurang 14 seniman berpartisipasi dalam pameran yang dibuka untuk umum 14 – 24 Februari 2026.

Berikut nama-nama pelukis yang terlibat: Ambar Pranasmara, Ary Kurniawan, Bambang Harnawa, Celena Aline Setioko, Erika Enda Ginting, Eivi Desiyanti, Hardanisa Kumaratri, Heri PE, Hery Sudiono, Ludvwina Riestanti, Sohieb Toyaroja, Vincent Prijadi Purwono, Yayas Syahdu, dan Yusup Dilogo.

Karya Ambar Pranaswara.
Karya Ary Kurniawan.

Di dunia yang kian terkotak-kotak secara digital dan terfragmentasi secara ideologis, kegiatan budaya seperti ini berupaya menemukan kembali benang-benang tak kasat mata yang menjalin kita. Pameran ini menghadirkan sekelompok perupa yang yang karya-karyanya berfungsi sebagai jembatan antara yang personal dan yang universal, antara yang fisik dan yang metafisik.

Menemukan “titik temu” sering kali dianggap sebagai sebuah kompromi-sebuah titik tengah yang dicapai melalui negosiasi. Namun, koleksi ini mengajukan definisi yang berbeda: bahwa titik temu adalah realitas mendasar yang sudah kita huni, namun sering kali gagal kita disadari.

la adalah cahaya yang sama yang menerpa trotoar, beban duka kolektif, geometri universal rumah, dan ritme alam semesta yang terus berulang.

Mungkin dalam pendekatan lain, adalah pencarian resonansi. Resonansi dimaknai sebagai gema, getaran yang tidak berhenti pada suatu sumber, tetapi menjalar, saling mempengaruhi dan menemukan ruangnya di dalam diri dan orang lain. Resonansi hadir sebagai cinta, perasaan yang lahir dari satu hati, lalu bergetar di hati yang lain. Cinta adalah pantulan emosi dan empati, perhatian dan keterhubungan yang terus hidup.

Karya Bambang Hernawa
Karya Celena Aline Setioko

Resonansi adalah harapan dan keberuntungan, energi baru yangbdibangkitkan melalui ritual, warna, symbol dan kebersamaan. Gema kolektif tentang pembaruan, doa dan optimisme diwariskan lintas generasi seperti semangat yang dibawa dalam menekuni Ramadhan bagi muslim dan hari baru dalam perayaan imlek, sebagai medium getar kesadaran kolektif, antara perasaan personal dan makna budaya. Antara cinta intim dan harapan yang komunal.

Pameran ini tidak memaksa makna tunggal, melainkan memberi ruang agar setiap pengunjung menangkap getaran yang berbeda. Sebuah resonansi rasa, ingatan dan harapan yang terus berlanjut di luar ruang pameran. (MAHMUD ELQADRIE)

Karya Erika Enda Ginting.
Karya Eivi Desiyanti.
Karya Hardanisa Kumaratri.
Karya Heri PE.
Karya Hery Sudiono.
Karya Lidwina Riestanti.
Karya Sohieb Toyaroja.
Karya Vincent Prijadi Purwono.
Karya Yayas Syahdu.
Karya Yusup Dilogo.

Fragment Kini Hingga Esok

Frigidanto Agung

Tulisan ini menjadi bagian dari katalog pameran lukisan tunggal “Borobudur” The Way of Life oleh Sohieb Toyaroja. Pameran berlangsung di Tugu Kunstkring Paleis, Menteng, Jakarta Pusat hingga akhir Agustus 2025.

***

Eksplorasi visual merupakan kerja menyeluruh dari tahapan sebelum kerja melukis dilakukan. Bagian terpenting dari proses pencarian gagasan adalah keterlibatan pemikiran. Keseluruhan proses tersebut kemudian melahirkan ‘jiwa’ dalam lukisan.

Apa yang terjadi dalam pencarian gagasan sebelum melukis? Pilihan dan pilahan visual yang hendak dituang di atas kanvas. Sohieb Toyaroja melakukan proses memilih dan memilah visual saat menemukan konsep melukis.

Menampakkan jiwa “ketok” (terlihat) dalam ranah visual, terutama lukisan, membutuhkan keutuhan tinggi terhadap obyek lukisan yang sudah ada. Totalitas Sohieb tampak di sini. Gambar yang muncul di atas kanvas terlihat estetis.  Di situlah perjuangan menampakkan estetika. Pendalaman konsep menandakan jiwa “kethok” yang merasuk dalam jiwa si pelukis. Sohieb mempunyai ketajaman dalam membentuk visual dari lukisan yang dibuatnya agar tampak berjiwa. Demikianlah yang terlihat dalam gelar karya kali ini.

***

Acap kali, pemindahan visual (foto) ke bentuk lukisan, disepelekan, alih-alih “copy paste”. Dalam konteks objek visual situs bersejarah sebesar Candi Borobudur, sikap meremehkan proses pendalaman dan penjiwaan adalah sikap yang “sembrono”.

Seorang Sohieb harus melarutkan emosi dan imaji pada abad ke-8, saat raja Samaratungga dari dinasti Syailendra membangun candi, yang hingga hari ini tercatat sebagai candi Buddha terbesar di dunia. Sohieb bahkan membenamkan diri pada banyak literasi tentang Borobudur. Termasuk “ngangsu kaweruh” kepada peneliti, jurnalis, akademisi, tokoh Buddha, demi memperdalam –sekaligus mempertajam—visinya tentang objek yang hendak dilukis.

Saat ia memindahkan objek visual berupa relief candi, jiwanya telah terpenuhi landasan filosofis dan historis. Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu, lengkap dengan relief dekoratif simbolis dan relief naratif yang menceritakan kisah-kisah keagamaan Buddha.

Karakter Buddha, 120cm x 270cm, Oil on Canvas, 2025

Kerja belum selesai sampai di situ. Sohieb, pelukis kelahiran Kediri, Jawa Timur, menggugah karyanya yang penuh konsep itu dengan penekanan pada bidang tertentu. Karya-karya yang terpajang pada pameran ini memuat keseluruhan tentang bagaimana proses Sohieb memindahkan gambar, proses mimesis, yang melahirkan impresi berbeda. Karya-karya yang menunjukkan kedalaman penjiwaan seorang pelukis.

Melalui warna, hitam, putih dan sedikit kecoklatan, Sohieb bermain tentang sudut pandang itu. Seperti yang terlihat dalam gambar yang terlukis dalam bidang kanvasnya. Melihat beberapa lukisannya tampak sudut pandang yang disorot Sohieb menunjukkan ketajaman batinnya. Anda boleh menyebutnya sebagai “point of interest”, tetapi saya lebih senang menyebutnya sebagai “soul” atau jiwa lukisan.

Pada beberapa karya, “jiwa” tadi termanifestasi ke dalam pewarnaan yang lebih terang di objek tertentu dalam relief.

Hal ini menunjukan bahwa apa yang dibuat Sohieb bukan peniruan semata, tetapi konseptualisasi terhadap apa yang dikehendaki terhadap gambar atau foto yang dia temukan.

Sohieb Toyaroja

Pada beberapa karya, “jiwa” tadi termanifestasi ke dalam pewarnaan yang lebih terang di objek tertentu dalam relief. Hal ini menunjukan bahwa apa yang dibuat Sohieb bukan peniruan semata, tetapi konseptualisasi terhadap apa yang dikehendaki terhadap gambar atau foto yang dia temukan.

Sohieb menawarkan estetika pada gambar dengan cerdas. Bisa jadi, pengamatan sekilas pandang, akan membuat audiens gagal menemukan “jiwa” dalam karya Sohieb.

Simpul yang menarik dari konsep-konsep lukisan Sohieb adalah “mata kamera” yang digunakan Sohieb untuk mempertajam gambar. Sesungguhnya keterampilan menggunakan pisau palet yang dikuasainya memperjelas gurat-gurat lukisan yang diinginkan.

Sohieb berusaha membuat komunikasi visual lebih mudah dimengerti tanpa harus mempertanyakan subyek lukisan. Sohieb mencoba menarik kedalaman jiwa gambar ke dalam bidang lukisnya, sehingga muncul jiwa “ketok” tanpa harus mengubah gambar atau foto yang ditemukan sebagai sumber literatur yang hendak dia sampaikan sebagai keutuhan konsepnya.

Jakarta, Mei 2025
Frigidanto Agung,
Kurator dan Penulis Seni Rupa

“Menemukan” Kembali Borobudur

Oleh Pahrur Dalimunthe, DNT Lawyers

Catatan Redaksi
Berikut adalah tulisan Pahrur Dalimunthe yang didedikasikan untuk pelukis Sohieb Toyaroja. Sejak 12 Juli 2025, Sohieb memamerkan sembilan karya relief Borobudur di Tugu Kunstkring Paleis, Menteng, Jakarta Pusat. Pamerran akan berlangsung hingga 12 Agustus 2025.

***

Perkenalan saya dengan Sohieb bermula sejak 10 tahun yang lalu. Kali pertama melihat lukisannya, saya tahu bahwa Sohieb adalah seorang seniman luar biasa. Lukisan itu tidak hanya sekedar sapuan kuas pada sebidang kanvas, melainkan sebuah ‘ruang’ kehidupan yang diciptakan oleh Sohieb yang mengundang saya untuk masuk lebih dalam dan menggali gagasannya.

Sebagai seorang lawyer yang tak mampu berbicara banyak tentang teknik melukis, saya beranggapan bahwa lukisan Sohieb yang sederhana, justru menampilkan subjek dan materi yang kompleks serta jauh dari kesan sederhana. Ada ruh dan jiwa yang hidup dalam semua bentuk dan warna-warna yang ditampilkan oleh Sohieb. Ada kedalaman narasi yang berbicara tentang spiritualitas, harapan, dan konsistensi yang khas dari seorang Sohieb yang mampu tertangkap dan dipahami tiap audiens walau tanpa kata-kata.

Hal itulah yang selalu membuat saya tertegun dan merenung tiap kali datang untuk menikmati deretan karya lukisnya. Tak ayal beberapa karya besar Sohieb pun akhirnya menempati beberapa ruang di kantor saya, DNT Lawyers. Bukan sebagai pajangan karya seni, melainkan sebagai sebuah konektor yang mengingatkan saya tentang begitu dekatnya profesi sebagai praktisi hukum dengan seni yang saling berinteraksi dalam membentuk budaya hukum dengan menampilkan sikap menaati, menentang, dan berpartisipasi dalam penengakan hukum.

Kiri: Lukisan Pahrur Dalimunthe karya Sohieb Toyaroja (kanan).

Maka ketika Sohieb mengajak saya untuk terlibat dalam pameran “Borobudur: The Way of Life” ini, saya tak memiliki keraguan sedikit pun untuk mendukungnya.

Bagi kebanyakan orang, Borobudur terpandang sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia dengan menyandang gelar candi Buddha terbesar di dunia. Barangkali Borobudur masih menjadi sekedar simbol kejayaan dan keagungan masa lalu. Meski tak diragukan bahwa ia juga adalah mahakarya dari kebijaksanaan Indonesia kuno.

Dibangun pada kisaran 824 Masehi, Borobudur adalah magnum opus ayah dan putri kesayangannya, Maharaja Samaratungga dan Putri Mahkota Pramodhawardhani yang berasal dari dinasti Syailendra dan memimpin Mataram kuno sebagai Kerajaan Budha terbesar di Pulau Jawa.

Sempat terabaikan sejak abad ke-10 Masehi dan baru ditemukan kembali oleh Sir Thomas Stamford Raffles di abad ke-19 Masehi, Borobudur “hilang” selama hampir 900 tahun di bawah timbunan abu vulkanik dan lebatnya hutan belantara. Upaya mengembalikan kejayaan Borobudur dimulai di abad ke-20 oleh para arkeolog Belanda.

Meski enggan mengakui, masyarakat Indonesia berhutang jasa besar pada bangsa penjajah yang telah menginisiasi revitalisasi Borobudur setelah diabaikan ratusan tahun oleh warga lokal yang justru menganggap bangunan megah itu sebagai sebuah timbunan batu kuno semata.

Belajar dari eskavasi Borobudur dan penggalian situs-situs besar lainnya seperti Trowulan, situs-situs purbakala kerap diabaikan, tidak dipedulikan, bahkan dianggap tidak memiliki signifikansi apapun dalam kehidupan sehari-hari. Tak jarang banyak pihak justru menganggap keberadaan situs bersejarah tersebut sebagai penghalang kemajuan modern.

“Samodra Raksa”, salah satu karya masterpiece yang dipamerkan.

Ketika situs-situs tersebut telah dipugar dan direvitalisasi, situs tersebut kerap difungsikan sebagai sekedar tempat wisata, wahana yang dianggap dapat mengundang pemasukan ekonomi dengan mendatangkan turis-turis yang berhasrat melihat reruntuhan dan bangunan bersejarah. Di era media sosial, mengunjungi situs bersejarah sering dipandang sebagai pencarian tempat pemotretan eksotik dan estetik untuk mempercantik laman postingan agar tampak instagramable.

Banyak yang lupa, situs-situs ini menyimpan pelajaran dan kearifan yang lama hilang dan terlupakan. Kearifan dan pengetahuan yang justru sangat dibutuhkan manusia modern dalam menjalani kehidupan yang serba tak pasti di tengah pesatnya perubahan dunia akibat perubahan geopolitik dan perkembangan teknologi.

Lewat pameran ini, Sohieb ingin “menemukan” kembali Borobudur yang luput dari pandangan awam. Borobudur bukan sekedar tentang menceritakan relief Ramayana yang menjadi sorotan lantaran epos ini merupakan yang paling umum dikenal. Borobudur bukan pula sekedar bangunan berundak-undak dikelilingi stupa berbentuk mandala nan megah.

Terlalu banyak sudut-sudut relief Borobudur yang belum terjamah, yang mengguratkan cerita tentang kehidupan yang jarang atau bahkan belum diketahui. Cerita-cerita tersebut masih menjadi enigma.

Oleh karenanya, Sohieb menampilkan seklumit pengetahuan dan misteri tersebut dalam setiap guratan lukisannya. Ada “penemuan” baru yang terkuak tentang Borobudur yang menjadi sumber kebijaksanaan dan pengetahuan.

Maka dari itu kepada yang ingin mempelajari kebijaksanaan hidup Borobudur, selamat menikmati pameran ini. Selamat menyelami rahasia tersembunyi Borobudur yang berhasil diungkap oleh Sohieb.

Selamat menemukan kembali Borobudur. (*)

Guratan Palet Sohieb Toyaroja Berikan Ruh pada Relief Borobudur

Pameran tunggal lukisan merupakan presentasi seni yang leluasa untuk memperkenalkan pelukis dan lukisannya kepada publik. Peluang terbuka yang memberi manfaat bagi seniman, khususnya pelukis, memperkenalkan konsep karya yang dikerjakan selama masa di studio. Pameran Tunggal Sohieb Toyaroja 12 Juli – 12 Agustus 2025 menggugah pandangan hidup yang diambil dari konsep relief Candi Borobudur.

Lukisan relief-relief yang disajikan dalam ruang pamer ini telah dipilah oleh pelukis untuk menjabarkan pengertian tentang hakikat hidup dan kehidupan. Termasuk tantangan hidup dan filosofi hidup. Sebuah penjabaran yang memperlihatkan kekuatan melihat kehidupan ini dari berbagai sisi.

Sohieb memperjelas filosofi hidup melalui lukisannya yang berjumlah 9 keping kanvas pada pameran tunggalnya kali ini. Semua relief yang dilukis memperlihatkan hakikat bahwa hidup dengan narasi yang matang menjadi pelajaran mendalam untuk hidup berkelanjutan.

Sohieb mempunyai ketrampilan menggerakan palet, dalam teknik lukisnya yang sangat spesifik. Kekuatan pada teknik memberinya kelebihan pada keseluruhan subyek yang dia pilih. Sohieb seperti merentangkan jalan pikirannya melalui sisi ketrampilan menggunakan pisau palet lukisnya. Kelebihan inilah yang menimbulkan karya mempunyai kelebihan, nampak berjiwa, hingga sering kali butuh waktu berlama-lama untuk melihat deretan karya lukisnya.

Sohieb sedang melukis.

Menurut Pahrur Dalimunthe, pemrakarsa pameran kali ini, lukisan Sohieb yang sederhana, justru menampilkan subyek dan materi yang kompleks serta jauh dari kesan sederhana. Ada ruh dan jiwa yang hidup dalam semua bentuk dan warna-warna yang ditampilkan Sohieb. 

“Sohieb menampilkan sekelumit pengetahuan dan misteri tersebut dalam setiap guratan lukisannya. Ada ‘penemuan’ baru yang terkuak tentang Borobudur yang menjadi sumber kebijaksanaan dan pengetahuan,” ungkap Pahrur Dalimunthe, DNT Lawyers, yang juga menjadi salah satu kolektor lukisan Sohieb. 

Berbicara mengenai lukisan pada mulanya, sama dengan mempersepsikan pikiran.  Lukisan dengan warna sesungguhnya adalah hantaran pemikiran yang terlihat selayang pandang. Sebelum muncul lukisan, atau dibuatnya lukisan yang berbasis pada pemikiran pelukis, gagasan tentang lukisan diciptakan melalui pencarian terlebih dahulu.

“Ada garis dalam lukisan itu, yang -menurut pemandangan saya- hanya dimiliki oleh sosok “citralekha”. Garis itu -sehebat apapun kemampuan seorang pelukis meniru gambar- tidak mungkin digoreskan oleh seorang yang tidak “kenal betul” cerita pada citraloka Borobudur,” tegas Wendri Wanhar, Penulis dan Budayawan, dalam tulisan pengantar pameran.

Pameran Tunggal Sohieb Toyaroja

Judul: Borobudur, The Way Of Life

Tempat: Tugu KuntsKring Paleis, Jl Teuku Umar 1, Menteng, Jakarta

Pembukaan Pameran: 11 Juli 2025, Pukul: 19.30 WIB

Pelaksanaan Pameran: 12 Juli- 12 Agustus 2025

Pameran dibuka jam 11.00 – 20.00 WIB

Pameran Seni Rupa We are Still Artists After Pandemic

Waktu: 19 April -10 Mei 2022
Tempat: Bellevue Art Space
Cinere Bellevue Mall
Jl Merawan, Pangkalan Jati. Cinere, Depok

JAYAKARTA NEWS – Melalui pameran ini, sebagai cara untuk memperlihatkan kreativitas sekaligus pernyataan bahwa seniman tetap seniman setelah pandemi, juga seniman masih bekerja di kala pandemi, mewujudkan karya dalam berbagai keterdesakan pribadi. Bahkan mendapat isolasi atau kondisi tertentu. Tetapi berkarya tetap, sebagai proses menghidupkan nilai seni tetap dijalankan.

Mereka menjadikan konstruksi estetis sebagai cara mengungkap tentang warna sebagai ekspresi dalam lukisannya, yang didukung dengan garis. Seperti ekspresi warna pada lukisan: Andra Semesta, Arkantoro, Donald Saluling, Jeffrey Sumampouw, Nurdin Yusuf, dan Sohieb Toyaroja, mewakili bagaimana warna sebagai bagian dari fragmentasi karya.

Bahkan warna yang mendasari bagaimana bentuk-bentuk muncul dalam idiom yang dikerjakan dengan bantuan digital seperti fotografi Ve Dhanito. Kekuatan warna hitam merupakan kekuatan keseluruhan dari cara melihat bentuk yang tersembunyi dalam bahan lentikueler.

Sedangkan seniman-seniman lain terlihat mengadaptasi bagaimana bentuk menjadi sesuatu yang fragmentatif dengan ilia komprehensif dari lukisan yang mereka ciptakan. Kekuatan bentuk menjadi keseluruhan dari karya yang mereka ciptakan. Penyajian ekspresi bentuk yang ditorehkan: Bambang Asrini Wijanarko, Zamrud Satya Negara, Seno Purwanto, Pongky Hary Purnomo, Rindy Atmoko,Saiful Bahri, MS. Untung, Nasya Patrini, Ulil Gama, Hagung Sihag, Afriani, Aidil Usman, Chandra Maulana, Jerry Thunggaltirta, Kana Fuddy Prakoso.

Lain lagi dengan ekspresi yang menampilkan dimensi ala Irawan Karseno dan patung Lenny Ratnasari, apa yang mereka sajikan justru mengambil representasi nyata dari bentuk yang ada dalam pandangan sekejap mata. Lenny lebih memperlihatkan fabric industrial yang dikerjakan dengan resin. Memperlihatkan pangannya nyata dalam bahwa bentuk menjadi kekuatan ekspresif yang meruang.

“Estetika merupakan gubahan personal yang dapat disajikan dalam kenyataan secara luas. Melalui karya seni sebagai representasi dari estitika, memperlihatkan bagaimana pernyataan dapat dilantunkan bersama dalam ruang terbatas,” pungkas Frigidanto Agung, kurator pameran. (pr)

“Semar Ngruwat Jagad”, Ruwatan dan Pameran Lukisan Sohieb Toyaroja

Pertama dan satu-satunya, pameran lukisan diawali ritual ruwatan. Itu terjadi Rabu, 26 Mei 2021 pada pameran tunggal lukisan karya Sohieb Toyaroja.

Sohieb menggelar pameran dengan tema “Semar Ngruwat Jagad”. Ritual ruwatan dilaksanakan sebelum acara pembukaan pameran, yang dipimpin tokoh spiritual sekaligus pembimbing ritual ruwatan, Sumaryaly.

Pameran yang dihadiri Ketua MPR RI, Bambang Susatyo, Ketua Pemuda Pancasila, Japto S Soerjosoemarmo, sejumlah Duta Besar Negara Sahabat, Dr Raditya Jati (dari BNPB), serta para undangan. Sebelum acara dimulai, panitia melakukan swab antigen terhadap seluruh hadirin.

Pameran dan Ruwatan “Semar”

Pelukis Sohieb Toyaroja melakukan terobosan yang berbeda dari kebanyakan pelukis papan atas Indonesia. Sambil menggelar pameran tunggal, ia mengusung tema “Semar Ngruwat Jagad”. Pameran digelar di dua kota: Jakarta dan Yogyakarta.

Pameran di Jakarta dilangsungkan di Gallery Kunstkring, Menteng, 25 Mei 2021. Sedangkan pameran di Yogya berlangsung di Jogja Gallery, Rabu 2 Juni 2021. Pameran di Jakarta, didahului dengan ritual ruwatan, secara lengkap. Kesan magis dan spiritual terasa kental.

Hajat yang dipanjatkan adalah agar bangsa kita lepas dari pageblug Covid-19.

Sohieb, Semar, dan Ruwatan

JAYAKARTA NEWS – Jogja Galeri (JG) mulai Rabu (2/6) hingga Selasa (8/6) menjadi saksi bisu kehadiran Semar. Gedung tua di belahan Alun-alun Utara Yogyakarta itu tokoh Punokawan itu digambarkan sedang meruwat jagad. 

Meruwat adalah tradisi Jawa. Ruwatan acapkali dilakukan untuk membuang sial, mengusir apes, menyingkirkan petaka, atau melenyapkan nestapa. Pascaruwatan, diharapkan lahir sosok-sosok baru juga lingkungan yang bersih dari rupa-rupa gangguan.

Adalah perupa Sohieb Toyaroja yang berjasa melahirkan tokoh pewayangan ini ke atas puluhan kanvas. Ia mencomot tema “Semar Ngruwat Jagad” dalam rangka memamerkan karya lukis yang ia rampungkan sepanjang tahun 2021 ini.

Bobby Aryanto, penasihat pameran “Semar Ngruwat Jagad” di Jogja Gallery, bersama pelukis Sohieb Toyaroja. (foto: tika)

“Bagi saya Semar itu artistik dan ia tokoh panutan dalam mitologi Jawa,” tutur Sohieb, demikian ia akrab disapa, saat mengemukakan alasan di balik ketertarikannya mendaulat dedengkot Punokawan ini menjadi obyek lukisannya.

Begitu memasuki ruang pamer di JG, mata pengunjung langsung berhadapan dengan lukisan yang besarnya seakan-akan sebelas duabelas dibanding luas tembok. “Murwokolo” judulnya, 460 cm x 260 cm ukurannya.

Lukisan berlatar belakang batang-batang pohon berjajar rapat tanpa daun dan rupa-rupa binatang ini menampilkan Semar yang sedang menjalankan ritual Ruwatan. Ia duduk semedi persis patung Budha di puncak Borobudur. Tepat di hadapannya ada tumpeng lengkap dengan ubo rampe dan kepala kerbau dengan sepasang tanduk panjang. Di pojok kiri bawah Hanoman, si kera putih, duduk bersila mengikuti detik-detik ritual Ruwatan Murwokolo yang sedang dijalankan Semar.

Ada yang unik pada penampilan Semar. Dewa yang merakyat itu tidak berkostum serius dengan pernak-pernik khas tokoh pewayangan. Ia juga menanggalkan kain motif kotak-kotak hitam putih mirip papan catur yang biasa melingkari bokongnya yang super gendut. Ia tampil bertelanjang dada dengan semacam sarung polos menutupi pingang sampai kaki.

Beginilah Sohieb, ia merekam, mengingat, meramu dan akhirnya menampilkan tokoh Semar yang santai dan jauh dari kesan formal.  Tak hanya Murwokolo, nyaris di semua lukisan karyanya itu, Semar tampil informal, santai, modern dan milenial. 

Kepala Dinas Pariwisata DIY, Ir. Singgih Raharjo, SH., M. Ed menerima lukisan “potret diri” dari Sohieb Toyaroja, usah membuka pameran di Jogja Gallery, 2 Juni 2021. (foto: tika)

Pada Lukisan “Semar Sebagai Superman” misalnya, tokoh sentral Punokawan ini ia bidik sedang terbang dengan sayap lebar berwarna merah persis tokoh rekaan Jerry Siegel yang dipopulerkan oleh DC Comics itu. Jauh di ketinggian angkasa raya Semar seperti mengirimkan energi untuk melindungi seluruh permukaan bumi. Demikian pula lukisan-lukisan lainnya. Sohieb menampilkan Semar yang seperti sedang mendaraskan doa-doa bagi keselamatan semesta.  

Rupanya, sosok Semar yang abnormal dengan tubuh pendek, wajah tebal, perut buncit dan bokong besar itu itu sangat berarti bagi kehidupan Sohieb. Pelukis yang lahir di Kediri tahun 1968 itu mengaku bahwa Semar adalah figur teladan. “Sosok Semar menyimpan keutamaan sikap dan laku serta keluhuran budi pekerti sebagai tuntunan dalam menjalani kehidupan, baik kehidupan keseharian maupun kehidupan berkesenian,” paparnya.    

Karena itulah, dalam karya lukisnya, Sohieb mencomot Semar sebagai tokoh yang ia pasrahi untuk meruwat jagad tatkala bumi diuji oleh rupa-rupa tragedi. “Saya merasa kondisi kita dan dunia sedang dalam keadaan sakit baik secara fisik maupun secara spritual dan dalam kondisi tersebut, ngeruwat merupakan salah satu ikhtiar atau upaya yang perlu dilakukan,” jelas pemilik Galih Art Studio di Cinere, Depok, Jawa Barat ini. 

Sohieb berpesan bahwa Semar yang menjadi tokoh lukisannya itu hanyalah sarana atau medium.  Ruwatan atau pembersihan yang sesungguhnya tetap berpulang pada pribadi masing-masing.  Caranya, menurut Sohieb, dengan introspeksi diri kemudian memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan. “Selanjutnya jadilah Semar bagi diri sendiri dan ruwatlah jagad secara bersama-sama,” pungkas Sohieb. (Ernaningtyas)

Berfoto di depan karya masterpiece berjudul “Murwokolo”. Dari kiri: Suwarno Wisetrotomo (kurator pameran), Bobby Aryanto (penasihat pameran), dr Oei Hong Djien (OHD Museum, Magelang), Singgih Raharjo (Kepala Dinas Pariwisata DIY), Sohieb Toyaroja (pelukis), Roso Daras dan Scholastika Sastranegara (koordinator pelaksana pameran/Arthemis). (foto: tika)

Bamsoet Buka Pameran Lukisan ‘Semar Ngruwat Jagad’

JAYAKARTA NEWS – Ketua MPR RI Bambang Soesatyo membuka pameran lukisan ‘Semar Ngruwat Jagad’ karya Sohieb Toyaroja. Eksistensi Sohieb Toyaroja sebagai seniman lukis beraliran realis-ekspresif Indonesia ditegaskan dengan ciri guratan full palet pada media kanvas, yang menyiratkan pesan mendalam dan muatan spiritual yang kental.

“Karya-karya yang dipamerkan Sohieb Toyaroja dalam pameran ini adalah penegasan atas konsistensi dan kesetiaannya untuk memotret realita sosial dalam perspektif spiritualitas. Karya-karya lukisan yang dipamerkan adalah manifestasi dari ekspresi seni dan aktualisasi ide dan gagasan Sohieb Toyaroja dalam memandang dunia,” ujar Bamsoet di Restoran Galeri Kunstkring, Menteng, Jakarta, Rabu (26/5/21).

Turut hadir antara lain Duta Besar Kerajaan Belanda H.E. Mr. Lambertus Christian Grijns, Ketua Majelis Pimpinan Nasional Pemuda Pancasila KPH. Japto Soelistyo Soerjosoemarno, serta Koordinator Pameran dari Arthemis Galeri Indonesia Scholastika Sastranegara.

Ketua DPR RI ke-20 ini menjelaskan, pameran lukisan ‘Semar Ngruwat Jagad’ semakin melengkapi kesuksesan beberapa pameran Sohieb Toyaroja sebelumnya. Antara lain The Name of Flowers (2010), Spiritual Journey (2016), 72 Tokoh dan 7 Presiden (2017), dan Ke-Diri (2018). Suksesnya penyelenggaraan beberapa pameran lukisan tersebut membuktikan bahwa karya Sohieb Toyaroja tidak sekedar diakui, tetapi juga mendapatkan apresiasi dan tempat istimewa di hati penikmat seni.

Bambang Soesatyo memberi sambutan usai gelar tradisi Ruwatan di halaman Kunstkring Paleis, Menteng, Jakarta Pusat sebagai pembuka acara Pameran Lukisan Tunggal karya Sohioeb Toyaroja. (ist)

“Sebagaimana pada pameran bertajuk Ke-Diri, sosok Semar juga diangkat sebagai tokoh sentral pada pameran ‘Semar Ngruwat Jagad’. Dalam budaya Jawa, Semar dikenal sebagai sosok yang sangat kompleks dan multitafsir. Ia adalah representasi rakyat kecil yang mengabdikan diri dan menjadi pengasuh pimpinan negara. Di saat yang sama, secara hakikat ia adalah representasi dewa yang membumi dan berwujud manusia,” jelas Bamsoet.

Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) ini menerangkan, meskipun Semar adalah sosok yang multitafsir, namun kehadirannya selalu merujuk pada satu muara, yaitu keluhuran budi pekerti dan jatidiri. Dalam dunia pewayangan, ketokohan Semar selalu menjadi faktor kunci dalam menghadirkan solusi atas berbagai krisis dan persoalan. Dengan keluhuran budi dan kemuliaan karakternya, tokoh Semar senantiasa mampu memahami yang tersirat dibalik yang tersurat, serta peka membaca tanda-tanda zaman.

“Merujuk pada makna filosofi tokoh Semar tersebut, tema pameran lukisan ‘Semar Ngruwat Jagad’ ini menjadi relevan dengan kondisi yang kita hadapi saat ini, di saat kita dihadapkan pada pandemi Covid-19 yang telah menjadi wabah global yang berdampak pada segenap aspek kehidupan  7,7 miliar manusia penduduk dunia yang mengakibatkan 270an juta jiwa positif covid-19 dan menewaskan hampir 4 juta jiwa di seluruh dunia per Mei 2021 ini,” terang Bamsoet.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menambahkan, ritual ruwatan yang pada hakikatnya adalah munajat dan doa kepada Tuhan Yang maha Esa, lahir dari kesadaran bahwa ‘ada yang harus diperbaiki’. Maka pameran lukisan ini akan menjadi stimulus bagi segenap pemangku kepentingan, untuk mempertajam kepekaan spiritualitas batin masing-masing, dan memperbaiki apa yang seharusnya diperbaiki.

Dari kiri, Scholastika Sastranegara (koordinator pameran), Roso Daras (penasihat pameran), KRMT Japto S. Soerjosoemarmo, Bambang Soesatyo, Sohieb Toyaroja (pelukis), dan Ki Sumaryaly (pembimbing spiritual ruwatan). (ist)

“Pameran ini akan memberikan kesan mendalam bagi siapapun yang menikmatinya. Sekaligus memberikan kesempatan bagi penikmat seni lukis untuk secara leluasa mengeksplorasi kekhasan identitas karya-karya Sohieb,” tandas Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini menuturkan, mendeskripsikan sebuah karya lukis ke dalam bahasa verbal, bisa jadi tidak cukup mewakili sepenuhnya pesan yang disampaikan oleh bahasa visual. Dalam konsepsi ini, kedalaman makna lukisan terasa lebih komunikatif dalam menyampaikan pesan, dibandingkan deskripsi verbal yang memiliki keterbatasan rujukan.

“Memaknai dan mengapresiasi karya lukis pun demikian, sebuah lukisan akan menghadirkan beragam pemaknaan di benak kita, tergantung dari cara pandang kita masing-masing. Meskipun dapat dimaknai dengan berbagai persepsi dan asumsi, pada hakekatnya karya seni dilahirkan untuk satu tujuan, yaitu menyajikan kesan mendalam bagi penikmatnya,” pungkas Bamsoet. (PR)

Tujuh Kebijakan Semar

Oleh Bambang Asrini Widjanarko

 

DALAM filosofi orang-orang Jawa konsep utama manusia hidup adalah memahami diri. Dengan menghayati dirinya sendiri, diharapkan manifestasinya adalah lelaku penghormatan kepada sang liyan. Yakni, memuliakan sesama manusia, alam, dan seluruh isinya.

Manusia Jawa kemudian dituntut untuk menjadi manusia yang reflektif. Menjadi pemimpin dirinya sendiri sekaligus selalu eling dan waspada agar terhindar dari malapetaka; yang selanjutnya berpasrah kembali pada-Nya: Sangkan Paraning Dumadi.

Tema pameran solo Sohieb Toyaroja adalah manusia yang mematut ke dalam dirinya: Ke-Diri. Sosok Semar kemudian menjadi rujukan penting, bagaimana seseorang harus mencari kesejatian, dalam kosmologi besar maupun kecil. Semar adalah tauladan ideal sebagai manusia yang memiliki nilai-nilai illahiah. Semar dalam pandangan yang sama disebut Gusti Allah yang Katon, Tuhan yang terlihat atau manusia adikodrati. Dalam beberapa peradaban dunia konsep seperti ini disebut Ubermanch (Jerman), dan kita mengenalnya di keyakinan Islam dengan konsep Insan Kamil.

Pameran Solo Pelukis Sohieb Toyaroja dengan demikian mengeksplorasi sosok manusia unggul berjuluk Semar. Perwujudan dari Dewata Ismaya dalam diongeng Mahabharata versi Jawa (bukan India) yang menjadi penasihat anak-anak Prabu Pandu; Pandawa. Semar menjadi abdi sekaligus penasihat keluarga Pandawa.

Kemudian muncul pertanyaan, kenapa justru kebaikan wajib didampingi, dinasihati? Bukankah keluarga Kurawa yang jelas-jelas wakil dari si angkara murka? Konsep Jawa yang unik memberi pesan, justru yang menampak baik seringkali lebih sulit diraba. Kejahatan yang telanjang jelas-jelas terlihat. Acapkali kejahatan menyaru dalam kebaikan, Semar hadir mengingatkan,

Sohieb mempresentasikan berbagai ajaran Semar dengan membawanya dalam konteks kekinian dalam tujuh lukisan-lukisannya. Yang menarik Sohieb tak harus menarasikan Semar-Semar hari ini yang sakral, merenung, dan sublim. Semar dihadirkan dengan cara yang bahkan kontradiktif dan saling bertolak belakang dalam pemahaman logika benar-salah.

Ia samar-samar bertutur dengan pesan-pesan yang mengendap. Semar di tujuh lukisan disimbolkan melalui peristiwa, kronik, tuturan yang transenden dari titisan Batara Ismaya itu menjadi satiris, reflektif, bahkan komikal. Karena Semar lebih dekat karakternya dengan masyarakat kecil, wong cilik. Ia digambarkan seperti dalam manusia-manusia keseharian yang lemah namun tabah, kuat, usil serta tak lupa membawa pasemon, sindiran halus khas orang Jawa.

Sohieb menciptakan Semar untuk direnungkan, ditertawakan sampai sesekali mengolok-olok drinya sendiri. Olok-olok atau pasemon itu sebenarnya sebuah sindiran tajam tentang para pamong, pemimpin atau orang-orang yang berkuasa yang lupa amanahnya.

Panggilan utama untuk eling, mengaca pada dirinya sendiri, jangan terlalu jumawa terhadap segala hal, yang di Jawa disebut sebagai ngumangsani daripada rumongso.

***

TENTANG TUJUH LUKISAN

Lukisan pertama berjuluk Highway to Heaven, yang menggambarkan sang Semar bertelanjang diri menuju cahaya di langit melewati jalan setapak dengan bayang-bayang gelap di belakangnya. Atmosfer lukisan beraura muram. Ada kotak kecil berwarna oranye, dengan teks flight recorder, do not open. Sohieb ingin berteka-teki, sekaligus menafsir konsep paling sulit pun paling esensial di Jawa, Sangkan Paraning Dumadi yang dihubungkan pada ilustrasi black box di dunia penerbangan.

Semar sebagai manusia yang linuwih sangat menyadari eksistensi dirinya di dunia hanya sebentar, bagi para pejalan jauh yang istirah meneguk minum usai itu melanjutkan perjalanannya ke sang Khaliq. Kotak oranye adalah representasi kerahasiaan, sesuatu yang disembunyikan, namun ia ada dan layak ditinggal, atau diungkap kelak secara tuntas? Apakah itu harta, keluarga bahkan jabatan-jabatan mentereng yang sempat disandang dan membawa beban kembali padaNya?

Lukisan ke-2 adalah tujuh panel lukisan yang satu dan lainnya berkesinambungan. Lukisan berjudul Semar Evolution dengan narasi sebuah transformasi dari konstruksi bertubuh wayang kulit menjadi manusia. Panel demi panel dalam lukisan berubah secara dimensional dari perspektif pipih menjadi menubuh seperti manusia dengan atribut yang merujuk pada profesi dan peran yang disandang seperti: ulama, pegawai negeri, hakim, polisi/TNI sampai pengusaha dengan simbol-simbol yang tertera.

Ada satire pahit dan kejenakaan terlihat bersama, sebelum Semar benar-benar menjadi “manusia paripurna”. Yakni, upaya Semar dengan identitas pengusaha (bersimbol Semar memakai dasi warna merah) menyogok uang pada sang Semar sejati di panel ketujuh.

Semar yang telah utuh menjadi manusia menasihati Semar lainnya dalam gestur tangan dan ekspresi muka. Kita segera mengingat isu-isu suap dan korupsi di Tanah Air; dan Sohieb membawa kita soal itu dengan mengaitkan tentang konsep evolusi menusia berikhwal dari kera (Darwinisme), sebelum mencapai bentuknya yang paling ideal: Homo Sapiens. Manusia utuh yang bernalar dan bernurani.

Lukisan ke-3, Semar meminjam dalam konteksnya dengan sejarah seni rupa serta mengapropriasi lukisan fenomenal Basoeki Abdullah, Pertempuran Gatotkaca dan Antasena (1933). Sebagai pelukis potret dan figur-figur yang realis pada masa lalunya, Sohieb tergelitik untuk meminjam imej tersebut dari pendahulunya. Yang diplesetkan imejnya dengan judul Pertempuran Semar versus Togog.

Dalam dongeng, Semar perwujudan dari Batara Ismaya dan Togog dari Batara Antaga saling berebut menelan gunung Mahameru. Untuk membuktikan siapa paling sakti di antara mereka dalam sebuah sayembara. Mereka, terutama Semar, masih dinarasikan para dewa di kahyangan yang belum sepenuhnya lepas dari ego, ingin memenangkan dirinya mengalahkan liyan. Semar seperti menjadi tauladan bahwa masa lalunya tdak lepas dari sifat-sifat kemanusiaan: kerakusan terhadap kekuasaan atau tafsir lain tentang kompetisi sengit hari ini antar manusia yang mengancam kelangsungan eksistensi semesta.

Lukisan ke-4 judulnya Mbegegeg Ugeg-ugeg: Flowing and Flying. Lukisan itu menggambarkan Semar-semar bertelanjang dada dalam tiga panel lukisan. Dalam konsepsi Jawa, pengertian itu adalah upaya manusia yang tak diam saja, bekerja dan berbuat, jika mendapatkan rezeki selayaknya menerima dengan ikhlas.

Semar-semar telanjang adalah perwujudan manusia-manusia yang bersiap untuk sebuah lari marathon. Sebuah aktivitas yang melelahkan dengan persiapan jasmani dan fisik prima yang mengantar pada keyakinan untuk terus berbuat. Bertindak dan bekerja, dan tidak berorientasi pada hasil namun dalam proses. Kita mengenalnya dalam konsep air yang terus mengalir sementara benak terbang dalam harapan terbaik di masa depan.

Lukisan ke-5, yang dekat dengan konsep vox populi vox dei, yakni suara rakyat adalah suara Tuhan. Dengan judul Game of Throne, lukisan Sohieb menerjemahkan kekuasaan yang diwujudkan oleh sebuah kursi ada di ujung jari telunjuk sang Semar. Uniknya, posisi Semar tampak sangat relaks, yang digambarkan sedang merebahkan diri di sebuah balai-balai. Seakan ia abai pada sekelilingnya dengan tangan kiri menyedot sebotol susu. Semar adalah kanak-kanak, apa adanya, jujur, sekaligus naif.

Dengan karakter itu, Semar sungguh tak ada ambisi untuk melengserkan kekuasaan, berpesan bahwa mereka yang berambisi menjadi pemimpin hendaklah mendengar dan memahami suara wong cilik. Bukan janji-janji dalam kampanye politik kemudian dikhianati. Rakyat yang bermanifestasi menjadi Semar akan dengan mudah melengserkan kekuasaan seseorang jka ia mau. Tuhan dan Rakyat menyebadan dalam sosok Semar dalam versi lukisan ini.

Di lukisan ke-6, Semar melanglang buana ke angkasa. Dalam judul Semar’s Universe, Sohieb ingin mengeksplorasi tafsir tentang konsep Jawa: Jagat besar dan kecil dalam diri manusia. Seperti juga dalam Islam pada tassawuf, manusia sejatinya adalah pancaran energi Tuhan, sebuah proses emanasi dengna para penghuni langit. Mengejawantah dalam diri manusia yang memahami jagat kecilnya yang adalah perwujudan juga kosmos besar.

Sel-sel dlaam tubuh, proses berkehidupan dalam perspektif ilmu biologi sejalan dengan hukum-hukum alam semesta. Kematian sebuah bintang, sebuah tata surya, sepaham dengan sirnanya atau matinya sel-sel dalam tubuh manusia, semuanya ada awal dan akhir. Tentunya dengan merujuk kaidah-kaidah tertentu dalam ilmu pengetahuan dan kalam illahiah di kitab-kitab suci. Demikian pula karakter-karakter yang imanen dalam diri kemanusiaan kita. Gambaran semar yang “terjun bebas” dari daratan bulan ke atau sebaliknya menjadi king maker. Ia hanya bertutur jelas bahwa baginya kekuasaan adalah sesuatu yang remeh-temeh. Ekspresi mukanya tersenyum menikmati, ia ingin bumi, sengaja hendak mengawasi hidup di sana dalam waktu sama berefleksi di dalam dirinya sendiri.

Lukisan ke-7, dengan judul United Color of Semar, lukisan-lukisan Sohieb berpendar-pendar warnanya dengan latar belakang kotak-kotak berisi sosok dari Che Guevara, Bung Karno, sampaii komedian Rowan Atkinson. Di sana terpapar samar-samar ada sosok “sesat” Hitler sampai legenda bandit Al Capone selain tokoh-tokoh mulia seperti Budha, Theresa, dan Sidarta Gautama denggan figur kepala di arca candi sampai ikon pornografi Jepang, Miyabi.

Semar dalam lukisan ini, seperti biasa, berlagak cuek, bergestur semaunya, jenaka, sampai membuat gerakan skipping, seakan Semar berbisik, “segala apa yang manusia perbuat di dunia, seringkali tak memberi makna hakiki. Mereka seperti bidak dan pion-pion di permainan catur”.

Semar beralih rupa menjadi dzat yang melampaui segala, yang digambarkan di latar belakang lukisan. Dari tokoh sesat, mulia, komedian, bahkan bintang porno adalah sebentuk permainan belaka; dari beragamnya polah dan tingkah manusia di jagat fana. Semar melampuai identitas-identitas dalam asumsi pikiran manusia: keyakinan reliji, etnisitas, ideologi, atribut-atribut dan jabatan-jabatan serta semua kemajemukan yang bersandar atas nama-nama itu.

Segala yang melekat dalam diri kembali ke asal. Kekosongan berhulu pada keketiadaan yang berarti kekekalan. Hidup sejatinya bermuatan mati. Semar di lukisan ini menyampaikan ujaran yang cukup mengena bahwa ia adalah manusia sekaligus sosok berenergi transenden, tak pernah terpikat seuatu yang dianggap paling besar maupun hal yang paling sepele dalam perspektif hidup manusia. Ia senyatanya di atas warna-warna terang, gelap, abu-abu, dan lain-lain.

Semata Semar hidup sejengkal di dunia, kemudian sirna menjemput kesejatian dalam perjalanan menuju ke kematian.

***

SOSOK SEMAR SENI KONTEMPORER

Lukisan dan karya-karya Sohieb dengan menggali ide-ide dasar akar lokalitas adalah keniscayaan. Sebab, seni rupa kontemporer hari ini mengapresiasi datangnya era yang sejak 30-tahun terakhir dengan sebutan Glocali: Global sekaligus Local. Sejarah seni Barat dan eksistensi estetika Barat, dengan cara pemahaman dan penyampaiannya pada publik telah lama menghegemoni kesadaran seni sejagat lambat laun berubah.

Kita mengingat seniman China seperti Ai Wei-Wei atau Anish Kapoor dari India sebagai misal. Yang mengeksplorasi elemen-elemen tertentu kultural Timur. Demikian juga, tatkala seniman dunia dari Thailand Rikrit Tiravanija yang mengusung seni dengan estetika relasi: seni yang terhubung dengan orang banyak. Yang sejatinya, bukanlah jenis karakter demikian adalah berakar dari seni rakyat, dalam konteks tradisi dahulu di teritori Timur?

Pada waktu yang sama, seniman Indonesia dengan seni kontemporer yang paling diapresiasi oleh dunia internasional adalah Heri Dono yang terilhami Wayang Jawa dan Komik. Maka, idiom-idiom Semar, sebagai subject matter dari pelukis-pelukis kita adalah sudah menjadi kelumrahan atau sebagai kekuatan baru usainya generasi seniman yang lebih senior di Indonesia seperit Heri Dono.

Tentu saja Sohieb bukanlah Heri Dono, ia tdak hendak menyalin siapa saja yang menggali ide-ide dasar kultur kita yang demikian majemuk. Sohieb dengan caranya sendiri, lahir dari Kediri, sebuah kota kecil di Jawa Timur yang membuka kesadaran baru. Dari kota itu, tentang sosok manusia Semar, yang Sohieb membawanya terhubung dengan konsep besar bahwa sudah waktunya kita berkaca dalam diri.

Sohieb ingin memberi sumbangsih pada keindonesiaan kita, melampaui sebuah teritori kota kuno bernama Kediri, yang terus hari demi hari tumbuh bertambah besar dan semoga memberi dampak pula dalam peta besar seni rupa Indonesia yang kita cintai bersama.

*) Bambang Asrini Widjanarko, Kurator


Pameran diselenggarakan di Galeri Kunskring Paleis, Jl Teuku Umar 1, Jakarta tanggal 29 April- 29 Mei 2018.