Pelukis Sohieb Toyaroja melakukan terobosan yang berbeda dari kebanyakan pelukis papan atas Indonesia. Sambil menggelar pameran tunggal, ia mengusung tema “Semar Ngruwat Jagad”. Pameran digelar di dua kota: Jakarta dan Yogyakarta.
Pameran di Jakarta dilangsungkan di Gallery Kunstkring, Menteng, 25 Mei 2021. Sedangkan pameran di Yogya berlangsung di Jogja Gallery, Rabu 2 Juni 2021. Pameran di Jakarta, didahului dengan ritual ruwatan, secara lengkap. Kesan magis dan spiritual terasa kental.
Hajat yang dipanjatkan adalah agar bangsa kita lepas dari pageblug Covid-19.
Kalau sudah sampai Surabaya, jangan lupa meluncur ke Bangkalan, Madura. Anda bisa menikmati jembatan Suramadu, lalu meluncur ke restoran Bebek Sinjay (asli) yang ada di Bangkalan. Dari pusat kota Surabaya, waktu tempuh rata-rata 60 menit. Tergantung situasi traffic. Percayalah, worth it. Sensasi sambal cobek, butir kelapa muda, dan tekstur bebek yang empuk, gurih, legit… dijamin akan terbawa sampai ke peraduan. Biarkan mimpi indah itu datang…..
Sejumlah anggota IPPAT dari berbagai wilayah Nusantara menggugat hasil kongres IPPAT VII yang berlangsung di Makassar.
Sejumlah besar anggota Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (IPPAT) dari berbagai wilayah provinsi Nusantara telah mengajukan perkara gugatan terhadap hasil kongres IPPAT ke-7 yang tahun ini telah berlangsung di Makassar, Sulawesi Selatan, dan telah berkeputusan mengangkat Ketua Umum baru yaitu Julius Purnawan.
Gugatan penolakan mereka telah digulirkan ke Pengadilan Negeri Jakarta Barat dengan agenda sidang perdana gugatan perkara pada 24 Oktober nanti.
Pasal penggugatan lebih kepada persoalan tata cara pengambilan keputusan dalam pelaksanaan kongres yang dinilai menyalahi aturan AD/ART sebagai pedoman utama program kerja ataupun melanggar ketentuan Pasal 14 ayat (5) Anggaran Dasar (Ad) Junto Pasal 17 ayat (16) Anggaran Rumah Tangga (ART).
Hasil penghitungan dan perolehan suara yang dimenangi Julius Purnawan yang mencederai aturan main serta melanggar kuorum anggota peserta kongres ikut menjadi pertimbangan untuk melakukan perlawanan hukum, karena dinilai memperkuat dugaan praktik kecurangan dalam kongres IPPAT 2018 yang dilakukan secara sistematis, terstruktur dan masif.
Tagor Simanjuntak SH, PPAT aal Bantul, DI Yogyakarta selanjutnya juga mengungkapkan, ada selisih jumlah suara yang mencapai ratusan saat giliran pencoblosan. Padahal, daftar pemilih tetap pada saat pembukaan kongres hanya berjumlah 3.787 peserta.
“Jauh dari kaidah-kaidah berdemokrasi,” ungkap lanjut Tagor Simanjuntak didampingi Alfon Kurnia Palma selaku Kuasa Hukum, mewakili para anggota IPPAT yang padahal sudah rela pulang pergi dari kota masing-masing ke Makassar dan menginap di hotel dengan ongkos sendiri. Namun realitasnya harus melihat kenyataan pahit ditengah-tengah organisasi besar seperti IPPAT.
“Kami datang tanpa menjagokan siapa-siapa. Tiga orang calon ketum lainnya yang meski kalah perolehan suara melawan Julius Purnawan juga kami gugat, karena melakukan pembiaran,” ungkap Yenny Evangeline Manoppo SH, PPAT asal Salatiga, Jawa Tengah.
“Kami tidak persoalkan siapa yang menang, tapi menyalahkan pelanggaran aturannya,” sungut Yenny, tidak bisa menyembunyikan kejengkelannya. (john js)