InStar Jadi Platform Medsos Selebriti

JAYAKARTA NEWS— InStar menggagas platform menarik dan khas untuk para selebritis di TikTok dengan tagline ‘be together be success’. InStar adalah Indonesian Star atau International Star yang hadir menjadi pengawal para tokoh dan selebriti sebagai platform sosial media seMilyar orang.

“Dan hal ini InStar juga dapat membantu profiling sesuai latar belakang mereka dan product profile untuk dimonotaise agar lebih income dan akun dapat berkembang dengan pesat,” ujar Shankar RS, produser yang menggagas InStar.

Setelah pemblokiran, saat ini, TikTok sudah menjadi aplikasi paling viral diseluruh dunia. Fenomena TikTok sudah merambah ke mana-mana. Dan bukan lagi platform joget-jogetan. “TikTok sudah jauh lebih dari itu semua. Sehingga rain income dari e-Commerce,” papar Shankar RS.

TikTok belakangan sudah meraih followers fantastis sebanyak 13 juta pengikut di Indonesia.
Bagi influencer saatnya harus punya support team dan manajemen yang baik. InStar hadir menggenapkan sebagai cuan yang akan mengalir deras.

“Kita akan support sebagai host yang baik dengan keyword atau konsep yang eyecatchy dengan gathering InStar termasuk memiliki virtual avatar,” imbuh Shankar RS.

Acara dihadiri CStar, SellerUp, Voxinema, Hollywood Action dan film School serta Ketum Parfi, Alicia Djohar, Sonny Tulung, Harry de Fretes (Lenong Rumpi), Ricky Hosada dan para TikTokers. Kemudian dilanjutkan dengan berbuka puasa bersama. (pik).

Abah Ma’ruf Amin Nasihati Raffi Ahmad, Ini Katanya ….

Raffi Ahmad dan keluarganya berkunjung ke kediaman KH Ma’ruf Amin (19/2/2019)–foto istimewa

Para artis kondang negeri ini ramai-ramai dukung Jokowi-Ma’ruf Amin. Kali ini Raffi Ahmad dan istrinya, Nagita Slavina datang mengunjungi KH  Ma’ruf Amin, Cawapres Paslon 01, di Rumah Situbondo, Menteng, Jakarta.  Bukan hanya bersama Nagita, tapi Raffi juga membawa sang buah hati, Rafathar.

Waktu Raffi dan keluarganya tiba, sebenarnya  Kiai Ma’ruf  baru saja tiba dari perjalanannya ke Serang, Banten. Namun, bersama sang istri Nyai Wury Estu Handayani, Abah Ma’ruf, sapaan akrabnya tetap menerima keluarga selebriti muda itu dengan baik. Bersama mereka, sang putri Siti Nur Azizah dan menantu Muh Rafsel Ali, yang merupakan karibnya Raffi, ikut menemani.

“Alhamdulillah hari ini silaturahmi ke kediaman Abah Kiai Ma’ruf Amin. Ini yang kedua kalinya buat aku. Tapi sama Nagita sama Rafathar baru pertama kali,” kata Raffi kepada wartawan.

Raffi benar-benar mamanfaatkan momen silaturahmi itu untuk membuat vlog. Kepada Abah, Raffi mengaku dititipi banyak pertanyaan oleh follower di akun media sosialnya. Dan diapun berniat membuat video berisi jawaban Abah.

foto instagram raffiahmadnagitaslavina

Ditengahi oleh tingkah lucu Rafathar dan Zaza, cucu Kiai Ma’ruf, Raffi bersama Nagita bergantian menyampaikan pertanyaan kepada Abah dan Nyai. Soal resep menjaga keutuhan rumah tangga, soal makanan, soal ibadah, dan lain-lain.

“Bikin vlog family tentang keluarga. Biar bermanfaat. Jadi tadi banyak nasihat Abah, nasihat Nyai tentang keluarga. Vlog untuk anak-anak muda, untuk keluarga- muda, suami istri,” ujarnya.

“Nah kita jadi interest karena Abah ternyata suka bola, hafal pemain bola juga,” ujar Raffi sambil tertawa.

Baginya, Kiai Ma’ruf adalah sosok yang sangat hangat. Orang tua itu sama sekali tidak kaku, tapi sekaligus sangat humble. “Ngobrol-ngobrol apa saja nyambung. Jadi aku banyak meminta nasihat,” imbuhnya.

Raffi mengaku, dirinya merasa Kiai Ma’ruf maupun Presiden Joko Widodo (Jokowi) pantas menjadi panutan. Dia mengaku pada seminggu yang lalu juga bersilaturahmi ke keluarga Jokowi. Topik yang dibahas juga sama. Yakni keluarga.

“Saya sama Nagita kan aktif di Youtube. Dan Kita bikin sosok yang menginspirasi, yang memang jadi panutan bagi kita semua,” ujar Raffi.

Kiai Ma’ruf sendiri mengaku sangat bahagia didatangi oleh pasangan muda seperti Raffi dan Nagita. Secara khusus, Kiai Ma’ruf menyebut nama Rafathar sebagai anak yang pintar.

Baik Abah maupun Nyai Wury Estu sama-sama mengaku Raffi dan Nagita sudah terasa seperti keluarga sendiri.

“Saya hari ini merasa bersyukur. Artinya keluarganya tambah lagi, silaturahminya tambah lagi. Jadi banyak keluarga,” kata Abah Ma’ruf.

Kiai Ma’ruf juga memuji Raffi dan Nagita yang dilihatnya melakukan sholat maghrib di kediamannya secara bersama-sama. Menurutnya, kebersamaan keduanya dalam beribadah adalah hal bagus. “Para artis, di tengah kesibukannya, sebaiknya tetap melakukan kegiatan ibadah,” imbuh Kiai Ma’ruf.

Dia berterima kasih kepada Raffi yang mau menjadi semacam saluran komunikasi antara dirinya dengan para fans di media sosial.***/ebn

Fan Bingbing

Fan Bingbing–foto learingenglish.voanews

Oleh: Dahlan Iskan

Fan Bingbing bisa cantik-cantik-galak di film X-Man. Tapi kini dia takhluk di depan petugas pajak. Bintang film cantiiiiiik-galaaaaak itu harus bayar denda. Berikut pokoknya. Nilainya mencapai box office: Rp 1,5 triliun!

Bayangkan! Bintang film harus bayar pajak Rp 1,5 triliun. Tepatnya  USD129 juta!

Kepala Fan Bingbing seperti terkena kungfu di tengkuknya yang merangsang itu!

Semua itu gara-gara satu postingan di medsos.

Yang dilayangkan bintang film juga. Atau tepatnya bintang TV. Anchor salah satu TV pemerintah di Beijing.

Namanya: Cui Yongyuan. Laki-laki. Umur 50 tahun.

Dalam postingan di Weibo itu Cui Yongyuan tidak menyebut nama Fan Bingbing. Tapi nadanya ke sana.

Postingan itu mengungkap kebiasaan di kalangan bintang film Tiongkok. Yang belakangan kian moncer. Kian banyak yang menembus Hollywood. Atau industri film Hongkong. Fan Bingbing salah satu success story. Honornya sudah di level A untuk bintang film Barat di Hollywood.

Semua itu berkat ekonomi Tiongkok yang kian berjaya. Daya beli masyarakatnya naik. Selera hiburannya juga lebih bervariasi. Film menjadi amat laris di Tiongkok. Termasuk film-film Hollywood.

Jenis film indoktrinasi sudah kurang laku. Dagangan komunisme sudah kalah dengan hedonisme. Termasuk yang disebarkan oleh Hollywood.

Kata anak saya: hampir semua film Hollywood kini melibatkan emosi Tiongkok. Bisa lewat salah satu bintangnya: bintang film Tiongkok. Bisa lewat lokasinya. Atau lewat sumber dananya.

Pasar film Tiongkok memang menggiurkan. Jumlah layar lebarnya mengalahkan seluruh layar lebar di Amerika. Box office kedua kini sudah diraih dari Renminbi. Diramalkan, dua tahun lagi, box office dunia sudah dari Negeri Panda.

Kalau jadi. Kalau Trump tidak ngamukan terus. Kalau Xi Jinping tidak memasukkan film Hollywood dalam tit-for-tat-nya. Dalam perang dagangnya. Atau perang benerannya.

Nama Fan Bingbing melejit menunggangi pasang naik film Hollywood itu. Penggemar Fan Bingbing bisa histeris: cantik. tinggi, langsing, matang, aktingnya bagus dan suka bantu kegiatan sosial.

Umurnya: 36 tahun. Lahir: Qingdao, provinsi Shandong. Kota pantai yang cantik. Satu jam penerbangan ke arah utara dari Shanghai.

Pasangan kumpul kebonya bintang film juga: Li Chen.

Fan Bingbing bintang film yang akademis. Dia lulusan akademi teater dan akademi film di Shanghai.

Setelah sukses, Fan Bingbing bikin studio sendiri. Di Suzhou. Kota tetangga Shanghai.

Pokoknya serba sukses. Sampai bulan Mei lalu. Ketika Cui Yongyuan memposting kebiasaan curang para bintang film:

menandatangani kontrak ‘Yin & Yang’.

Kontrak yang formal dan kontrak yang di bawah tangan. Nilainya jauh berbeda. Bumi dan ujung Burj Al Khalifa.

Ada kontrak yang formalnya USD 1,6 juta. Yang di bawah tangan USD 7,8 juta.

Heboh. Gempa. Tsunami. Jadi satu. Melanda bintang-bintang film Tiongkok. Menyapu industri film secara keseluruhannya.

Reaksi publik begitu ganasnya. Terutama dari mereka yang taat membayar pajak.

Ada yang mengaitkan dengan ideologi negara: bagaimana di sebuah negara komunis bisa seperti itu. Ada tokoh-tokoh yang hidup mewah secara melanggar hukum. Di tengah masyarakat miskin yang masih banyak.

Jadilah isu sensitif.

Pemerintah tidak bisa lagi tutup mata. Semua bintang film diperiksa.

Terungkaplah secara luas. Jenis kontrak ‘Yin & Yang’ ini.

Fan Bingbing tiba-tiba seperti lenyap ditelan gempa Palu. Tidak ada kabarnya. Tidak ada juga orangnya.

Dunia gosip menjadi sepi. Kehilangan obyeknya.

Eh, ternyata tidak begitu. Gosip justru membahana: di mana Fan Bingbing.

Akhirnya rumor yang paling dipercaya adalah ini: Fan Bingbing disekap. Hampir selama tiga bulan. Tanpa informasi apa pun.

Sampai minggu lalu.

Tiba-tiba Fan Bingbing muncul: minta maaf atas perbuatannya. Dan akan membayar semua kewajiban pajaknya. Termasuk bunganya: yang Rp 1,5 triliun itu.***

Pengalaman Tina Toon Lupa Lirik Saat Manggung

tina toon–foto kapalagicom

Tina Toon ternyata punya cara tersendiri untuk merawat otaknya agar tetap cemerlang. Di antaranya, kata Tina, rajin membaca, membuat analisa-analisa juga berdiskusi. “Caranya banyak di antaranya rajin membaca, rajin menganalisa sesuatu, berdiskusi, dll. Intinya adalah bagaimana agar otak aktif bekerja,” ujar mantan penyanyi cilik yang belum lama ini menyelesaikan S2-nya di bidang Hukum Perpajakan.

Menurut Tina dengan rajin ‘merawat’ otak membuat kita tidak pikun atau pelupa. Karena pelupa bukan saja milik orang tua tapi anak muda pun kalau tidak sering melatih otaknya akan menjadi pelupa.

“Aku bukan orang yang pelupa, malah aku termasuk orang yang punya daya ingat tajam. Namun sebagai manusia, ya ada dong sesekali jadi pelupa. Itu biasanya karena aku kurang fokus. Misalnya karena terlalu sibuk atau capai, membuat kurang fokus yang akhirnya jadi lupa sesuatu,” ungkap pemeran film ‘Cinta Dalam Kardus’, ini.

Meski bukan pelupa, namun Tina yang ngehits dengan lagu ‘Bolo-bolo’ di masa kanak-kanak, memiliki pbeberapa pengalaman terkait dengan lupa. “Sebenarnya yang namanya penyanyi ataupun artis peran, lupa lirik atau lupa dialog adalah hal yang biasa. Kalau artis peran, lupa dialog saat syuting sinetron atau film masih bisa diperbaiki, tapi kalau penyanyi lupa lirik saat show, itu bisa berakibat fatal jika tidak bisa mengatasinya”.

tina toon—foto kapanlagicom

“Aku pernah juga mengalami hal ini, ketika manggung (menyanyi) lupa lirik. Aku segera bikin improvisasi, misalnya dengan mengajak penonton bernyanyi, atau melakukan improvisasi lain. Itu sebagian trik yang biasa dilakukan saat kita (penyanyi) bermasalah di panggung. Yang penting kita tenang melakukannya sehingga penonton tak sadar kalau sebenarnya kita lupa lirik. Dengan begitu show kita tidak menjadi memalukan,” tutur Tina.

Pernah juga, lanjut Tina, karena terlalu sibuk dan capai dia melupakan sebuah acara. Meski akhirnya permasalahan itu dapat diselesaikan namun cukup berdampak. “Jadi waktu itu aku lupa nyatet jadwal, manajemen aku juga lupa. Kebetulan memang pada waktu itu kegiatan aku cukup padat. Akhirnya acara itu jadi terlupakan. Sempat bermasalah, namun akhirnya bisa diselesaikan. Cuma fatalnya mereka (penyelenggara) harus mencari talent lain untuk men-replace aku. Ya jadi berantakan,” tutur Tina. ***tkh

 

Soraya Haque Melawan Lupa

soraya haque–sumber instagram soraya haque

Siapa orang tidak pernah lupa? Pasti setiap orang pernah lupa sesuatu entah itu hal besar ataupun kecil. Sesekali lupa adalah hal yang biasa. Namun kalau terlalu sering lupa, itulah yang harus dipertanyakan atau dicurigai sebagai tanda adanya sesuatu. Lupa, kata Soraya Haque, mantan artis yang kini banyak berkecimpung di bidang kesehatan dan human resources, menandakan ketikdakfokusan. Ini dalam konteks lupa biasa-biasa atau sesekali lupa.

“Namanya manusia ya tidak luput dari lupa. Itu manusiawi. Yang saya maksud adalah sesekali lupa, bukan dalam konteks penyakit lupa serius seperti pikun ataupun demensia,” ujar Aya, begitu namanya akrab disapa.

“Lupa itu kelemahan manusia ketika ia tidak sedang fokus. Misalnya, menaruh barang di suatu tempat, tapi pikirannya sedang tidak di situ alias pikiran kemana-mana, maka tak heran dia akan lupa. Jadi intinya, manusia lupa karena tidak fokus. Coba kalau dia fokus, pasti tidak akan lupa,” tegas Aya yang sedang menempuh pendidikan doktoral jurusan Hukum Kehakiman.

Dulu, kata mantan pragawati papan atas era ’80-an ini, dia pun kerap lupa karena tidak fokus. “Yang paling saya ingat itu, dulu, saya beberapa kali lupa jam undangan. Jadi saya dapat undangan pernikahan, saya kurang perhatian pada jam acara, hanya ingat tanggal dan tempat acara. “

soraya haque–sumber instagram soraya haque

“Jadi pernah suatu kali saya dan Eki (Eki Soekarno-suaminya-red) datang ke undangan pernikahan. Sampai di sana, saya dan Eki kebingungan, pasalnya, nama pasangan yang menikah berbeda. Saya perhatikan, kok, yang dipelaminan saya nggak kenal. Saya langsung feeling, wah ini pasti saya salah. Ternyata acara pernikahan yang saya mau datangi sudah lewat, dan acara yang ini adalah pemakai gedung setelahnya,” tutur Aya sambil tertawa.

Terkait salah acara ini, tambah Aya, sudah tiga kali terjadi. “Biasanya kalau sudah begini Eki tahu ini pasti ‘kerjaan’ saya…hahahaha,” ucapnya.  Kejadian-kejadian itu menyadarkan dirinya bahwa jika kita tidak fokus tentang sesuatu, pasti akan mudah lupa. Maka sejak itu, ucapnya, dia pun berupaya untuk fokus tentang apapun juga.

“Untuk bisa fokus terhadap segala sesuatu tidak datang begitu saja. Itu perlu dilatih. Lihat saja tubuh kita jika ingin memiliki tubuh yang sehat selain menjalani pola hidup sehat, kita juga perlu melakukan olah tubuh atau olah raga. Begitupun otak. Jika ingin daya ingat kita tetap baik, memori kita tidak menurun, ya harus rajin dilatih, olah pikiran.”

“Saya ingat suatu ketika pernah membaca artikel seorang menyelesaikan program doktoralnya diusia 79 tahun. Bayangkan, diusia seperti itu, dia masih mampu menyelesaikan pendidikan doktoral. Padahal menempuh program doktor tidak mudah,” papar Aya yang pernah mendapat award dari Helen Keller Fondation karena aktivitasnya memproduseri dan menjadi presenter acara ‘Ibu, Bayi dan Balita’.

Seperti halnya tubuh, lanjut ibu tiga anak ini lebih jauh, otak pun harus diolah terus menerus. Caranya bermacam-macam, lewat bacaan, menganalisa sesuatu, diskusi-diskusi, dll yang intinya merangsang otak untuk berpikir. Kalau otak jarang dirangsang maka yang terjadi adalah penurunan memori.

“Ada kecenderungan orang semakin bertambah usia, semakin merasa tua, dia menjadi malas berpikir. Kalau disuruh mikir maka jawabnya,” Ah udah tua ngapain mikir susah-susah.’ Padahal berpikir, menganalisa adalah salah satu bentuk atau cara merangsang otak,” tuturnya.

Beruntung, dirinya tidak punya pandangan seperti itu. Di usianya yang 52 tahun dia tidak mengalami penurunan memori karena aktif melakukan olah otak. Apalagi saat ini dia tengah menyelesaikan program doktoral yang cukup berat dalam prosesnya. “Setidaknya saya harus rajin membaca banyak jurnal, melakukan analisa-analisa. Saya juga harus membaca setidaknya 50 buku, juga diskusi-diskusi. Dengan itu semua otak mendapat rangsangan untuk terus bekerja,” jelas Aya.***tkh