Soraya Haque Melawan Lupa

 Soraya Haque Melawan Lupa

soraya haque–sumber instagram soraya haque

soraya haque–sumber instagram soraya haque

Siapa orang tidak pernah lupa? Pasti setiap orang pernah lupa sesuatu entah itu hal besar ataupun kecil. Sesekali lupa adalah hal yang biasa. Namun kalau terlalu sering lupa, itulah yang harus dipertanyakan atau dicurigai sebagai tanda adanya sesuatu. Lupa, kata Soraya Haque, mantan artis yang kini banyak berkecimpung di bidang kesehatan dan human resources, menandakan ketikdakfokusan. Ini dalam konteks lupa biasa-biasa atau sesekali lupa.

“Namanya manusia ya tidak luput dari lupa. Itu manusiawi. Yang saya maksud adalah sesekali lupa, bukan dalam konteks penyakit lupa serius seperti pikun ataupun demensia,” ujar Aya, begitu namanya akrab disapa.

“Lupa itu kelemahan manusia ketika ia tidak sedang fokus. Misalnya, menaruh barang di suatu tempat, tapi pikirannya sedang tidak di situ alias pikiran kemana-mana, maka tak heran dia akan lupa. Jadi intinya, manusia lupa karena tidak fokus. Coba kalau dia fokus, pasti tidak akan lupa,” tegas Aya yang sedang menempuh pendidikan doktoral jurusan Hukum Kehakiman.

Dulu, kata mantan pragawati papan atas era ’80-an ini, dia pun kerap lupa karena tidak fokus. “Yang paling saya ingat itu, dulu, saya beberapa kali lupa jam undangan. Jadi saya dapat undangan pernikahan, saya kurang perhatian pada jam acara, hanya ingat tanggal dan tempat acara. “

soraya haque–sumber instagram soraya haque

“Jadi pernah suatu kali saya dan Eki (Eki Soekarno-suaminya-red) datang ke undangan pernikahan. Sampai di sana, saya dan Eki kebingungan, pasalnya, nama pasangan yang menikah berbeda. Saya perhatikan, kok, yang dipelaminan saya nggak kenal. Saya langsung feeling, wah ini pasti saya salah. Ternyata acara pernikahan yang saya mau datangi sudah lewat, dan acara yang ini adalah pemakai gedung setelahnya,” tutur Aya sambil tertawa.

Terkait salah acara ini, tambah Aya, sudah tiga kali terjadi. “Biasanya kalau sudah begini Eki tahu ini pasti ‘kerjaan’ saya…hahahaha,” ucapnya.  Kejadian-kejadian itu menyadarkan dirinya bahwa jika kita tidak fokus tentang sesuatu, pasti akan mudah lupa. Maka sejak itu, ucapnya, dia pun berupaya untuk fokus tentang apapun juga.

“Untuk bisa fokus terhadap segala sesuatu tidak datang begitu saja. Itu perlu dilatih. Lihat saja tubuh kita jika ingin memiliki tubuh yang sehat selain menjalani pola hidup sehat, kita juga perlu melakukan olah tubuh atau olah raga. Begitupun otak. Jika ingin daya ingat kita tetap baik, memori kita tidak menurun, ya harus rajin dilatih, olah pikiran.”

“Saya ingat suatu ketika pernah membaca artikel seorang menyelesaikan program doktoralnya diusia 79 tahun. Bayangkan, diusia seperti itu, dia masih mampu menyelesaikan pendidikan doktoral. Padahal menempuh program doktor tidak mudah,” papar Aya yang pernah mendapat award dari Helen Keller Fondation karena aktivitasnya memproduseri dan menjadi presenter acara ‘Ibu, Bayi dan Balita’.

Seperti halnya tubuh, lanjut ibu tiga anak ini lebih jauh, otak pun harus diolah terus menerus. Caranya bermacam-macam, lewat bacaan, menganalisa sesuatu, diskusi-diskusi, dll yang intinya merangsang otak untuk berpikir. Kalau otak jarang dirangsang maka yang terjadi adalah penurunan memori.

“Ada kecenderungan orang semakin bertambah usia, semakin merasa tua, dia menjadi malas berpikir. Kalau disuruh mikir maka jawabnya,” Ah udah tua ngapain mikir susah-susah.’ Padahal berpikir, menganalisa adalah salah satu bentuk atau cara merangsang otak,” tuturnya.

Beruntung, dirinya tidak punya pandangan seperti itu. Di usianya yang 52 tahun dia tidak mengalami penurunan memori karena aktif melakukan olah otak. Apalagi saat ini dia tengah menyelesaikan program doktoral yang cukup berat dalam prosesnya. “Setidaknya saya harus rajin membaca banyak jurnal, melakukan analisa-analisa. Saya juga harus membaca setidaknya 50 buku, juga diskusi-diskusi. Dengan itu semua otak mendapat rangsangan untuk terus bekerja,” jelas Aya.***tkh

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.