Parfi Awards 2020 Pilih 4 Film Terbaik

JAYAKARTA NEWS— Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) telah memilih 4 film Indonesia terbaik sepanjang diproduksi tahun 2019. Keempat film tersebut meliputi berbagai genre, yaitu drama, komedi, horor dan laga : ‘6, 9 Detik'(drama), ‘Imperfect : Karier, Cinta dan Timbangan’ (komedi), ‘Perempuan Tanah Jahanam’ (horor) dan ‘Gundala’ (laga).

“Karena pandemi Covid-19 masih terjadi, kami selenggarakan acara nominasi ini sangat sederhana, terbatas dan secara virtual. Ini demi mematuhi protokol kesehatan,” ujar Firman Nurjaya selaku Ketua Penyelenggara Parfi Awards 2020 kepada penulis baru-baru ini.

Adapun Dewan Juri Parfi Awards 2020 adalah Wina Armada Sukardi (Ketua), Yatti Surachman (Sekretaris) dan 4 anggota lainnya yaitu Afrizal Anoda, Hardo Sukoyo Arturo Gunapriatna dan Rudy Soedjarwo.

Sebanyak 25 judul film Indonesia telah dinilai dewan juri. DPP Parfi juga mengumumkan untuk kategori lain, yaitu sutradara : Lola Amaria untuk film dram (‘6, 9 Detik’), Ernest Prakasa film komedi (‘Imperfect : Karier, Cinta dan Timbangan’) dan Joko Anwar film horor dan laga (‘Perempuan Tanah Jahanam’ dan ‘Gundala’). Juri Prize : Aris Susanti Rahayu sebagai pendatang baru terbaik dan pemeran anak-anak terbaik (‘6, 9 Detik’). Aktor yang dinilai telah mengharumkan nama baik Indonesia di luar negeri : Iko Uwais. Ketua DPP Parfi, Soultan Saladin menambahkan, Parfi Awards 2020 akan digelar di Bali tahun 2021. (pik)

Penistaan Bendera Merah Putih yang Ditimpa Logo Parfi dan Yafi Dilaporkan ke Polisi

JAYAKARTA NEWS— – Mantan Ketua Dewan Pembina DPO Parfi, Sandec Sahetapy melaporkan ke Polda Metro Jaya, atas terjadinya penistaan terhadap lambang negara, Selasa (24/11). Yang terlapor ada dua pihak yaitu Parfi (Persatuan Artis Film Indonesia) dan Yafi (Yayasan Artis Fillm Indonesia).

“Saya resah dan prihatin karena mengecilkan soal besar yang menyangkut lambang negara kita. Masa bendera merah putih ditimpa logo Parfi dan logo Yafi,” ujar Sandec. Dikatakannya, dalam hal ini ada aturan dan Undang Undangnya. Peristiwa penistaan bendera merah putih tersebut terjadi sewaktu acara pelantikan Pengurus Parfi periode 2020-2025 di Gedung Tribrata, Jaksel yang dihadiri sekitar 200 anggota Parfi. “Sebelum dibawa ke atas panggung, saya kaget melihat bendera merah putih ditimpa logo organisasi artis film. Sebaiknya ini dipisah. Dan diperbaiki. Bendera merah putih sendiri, bendera atau pataka Parfi dan bendera Yafi sendiri. Tapi Ketum Parfi, Alicia Djohar cuek saja. Ini bukan masalah besar, alasan dia,” jelas Sandec.

Sebagai warganegara Indonesia, bendera merah putih sangat sakral bagi bangsa Indonesia. Ketua Humas Parfi, Every Joe mengaku khilaf atas terjadinya peristiwa ini. “Saya sudah mengingatkan pengurus Parfi yang baru agar berhati-hati membuat acara. Tapi pas pelantikan, terjadi. Saya benar-benar enggak tahu. Seharusnya hal ini bisa dirapatkan sebelum dipublikasikan,” sesal Evry Joe. Dengan terjadinya peristiwa ini, menjadi pelajaran bagi ormas mana pun, tidak hanya Parfi dan Yafi.

Dalam UU RI No 24 tahun 2009 tentang, Bendera, Bahasa dan Lambang Negara dan Lambang Kebangsaan. Bagian ke 4 pasal 24 ayat d ada larangan mencetak, menyulam dan menulis huruf, angka, gambar atau tanda lain dan memasang lencana atau benda apa pun pada Bendera Negara.(pik)

Soultan Saladin: Kongres Parfi di Maharaja Cacat Hukum

JAYAKARTA NEWS— Saladin Syah alias Soultan Saladin, 70 tahun, Pj Ketum Parfi hasil Kongres Parfi di Lombok, 2016 melontarkan kritik keras terhadap hasil Kongres Parfi di Hotel Maharaja, Jakarta, 10 Maret 2020 cacat hukum, tak legitimasi dan tak penuhi aturan. “Karena belum penuhi syarat, hasilnya enggak sah,” kata Soultan kepada penulis.

Hasil Kongres Parfi di Hotel Maharaja, Jakarta menghasilkan kandidat Alicia Djohar sebagai Ketum Parfi terpilih periode 2020-2025. Soultan sebagai pejabat mandataris Ketum Parfi yang menggantikan Aa Gatot Brajamusti (diciduk polisi karena kedapatan mengadakan pesta narkoba di kamar hotelnya di Mataram) merasa diberi wewenang penuh untuk ‘menyelamatkan’ Parfi.

“Siapapun yang terpilih, enggak masalah. Tapi Kongresnya harus dengan tata cara yang baik dan benar,” ungkap Soultan yang mengawali debutnya sebagai pemeran pembantu di film ‘Pengantin Remaja’ tahun 1971.

Soultan yang mengaku sebagai aktor senior selama ini cukup mengalah. “Saya sudah sepuh dan lelah mengurus hal-hal begini. Tapi jiwa saya memberontak, ini kurang pas dan terlalu gegabah. Setiap Kongres ada aturannya. Dalam sisa kehidupan saya, saya akan memperjuangkan organisasi profesi artis tertua Parfi yang diwariskan pendahulu pelaku seni film,” imbuh Soultan.

Dengan kata lain, Parfi itu bukan organisasi sembarangan dan ada aturan-aturannya, ada AD dan ARTnya. “Saya ngomong begini karena saya cinta Parfi. Syukur-syukur dalam Kongres Parfi yang akan kami gelar di tahun 2021 bisa terpilih Ketum dari artis milenial dan pintar mengelola organisasi,” lanjut Soultan yang menambahkan tak berseberangan dengan kubu Alicia Djohar, asal mereka mengikuti aturan main.

Sedangkan Sekjen Parfi yang baru diangkat, M Firdaus Oiwobo, SH merasa prihatin melihat kekisruhan yang melanda Parfi belakangan ini. “Ini ironis, penuh kontroversi. Enggak semulus cerita dalam film-filmnya,” keluh Firdaus. Makanya, Firdaus terpanggil untuk membenahi Parfi. “Saya enggak berharap banyak. Doa saya, semoga Parfi bisa lebih maju lagi,” ucapnya.

Sebagai seorang sarjana hukum, Firdaus melihat Parfi saat ini sudah terbelah jadi dua kubu. “Secara perdata, Alicia Djohar sudah mengingkari aturan yang ada di Parfi, padahal kepengurusannya belum dilantik,” imbuhnya.

Bagaimana agar Parfi kompak menjadi satu ? “Turunkan ego masing-masing antar-kubu. Biarkanlah pemerintah yang putuskan, mana Pengurus Parfi yang legal dan yang ilegal. Kami bersama bang Soultan akan berkirim nota berisi opsi keberatan kepada pemerintah c q Kementerian Hukum dan HAM,” tandas Firdaus tegas.

Alhasil, baik Soultan maupun Firdaus ingin agar keributan yang melanda Parfi bisa diselesaikan secara hukum. Dan semoga tak ada lagi Parfi tandingan, Parfi liar atau Parfi yang tak terlegitimasi. (pik)

Seleksi Film Indonesia untuk Oscar 2021 Dimulai

JAYAKARTA NEWS— Meski masih delapan bulan ke depan, yaitu 25 April 2021, Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) sudah sibuk mempersiapkan 1 film Indonesia yang akan dikirim ke ajang Oscar alias Academy Award ke-93. Sebagaimana sebelumnya, PPFI telah resmi ditunjuk sebagai perwakilan Indonesia yang mengirimkan film Indonesia ke ajang festival film Oscar di Amerika.

Baru-baru ini, telah dibentuk Komite Seleksi Oscar RI yang bertugas memilih film Indonesia yang akan diikutkan ke ajang tersebut. Kamis (10/9/2020) telah digelar rapat perdana secara daring. Dan sineas Garin Nugroho telah ditetapkan sebagai ketua serta Titien Wattimena sebagai Sekretaris Komite Seleksi.

Terpilih 13 insan film sebagai Komite Seleksi yang akan mengikuti Oscar untuk kategori International Feature Film Awards (dulu best foreign language film awards). Terdiri atas profesional dan pengamat film, ke-13 anggota Komite Seleksi Oscar Indonesia adalah Alim Sudio, Tya Subiakto, Benny Setiawan, Widyawati, Chand Parwez Servia, Yudi Datau, Deddy Mizwar, Zairin Zain, Garin Nugroho, Hanung Bramantyo, Ilham Bintang, Sentot Sahid dan Titien Wattimena.

Proses penilaian akan dilakukan 11 sampai 23 September 2020. Anggota Komite Seleksi harus memilih 3 sampai 5 film pilihan. Hasilnya akan diumumkan 23 September sebagai penutupan akhir untuk film pilihan Komite Seleksi 2020 sebagai film unggulan. Dan negara diluar Amerika harus mengirimkan 1 film sebagai wakil resmi.

“Prosedur pemilihan dikembalikan pada etika profesional masing-masing anggota dalam menilai dan memilih film yang akan dikirim ke ajang Oscar di Amerika,” kata Garin Nugroho sembari ditambahkan, film tersebut telah tayang selama minimal 7 hari di bioskop, 1 Oktober 2019 sd Desember 2020. (pik)

PARFI Pecah (Lagi), Kantor Parfi Dikunci

JAYAKARTA NEWS—Bukan Persatuan Artis Film (Parfi) namanya, kalau tidak pecah. Ribut dan ribut lagi. Sejak Ratno Timur mengetuai PB Parfi 3 periode, selalu terjadi keributan. Saat itu terjadi kepengurusan kembar, Ratno Timur di satu kubu dan Dicky Zulkarnain di kubu lain.

Di era Sys NS, ribut juga dan diajukan ke pengadilan. Juga di era Eva Rosdiana Dewi dan Jenny Rachman, terjadi saling gugat. Kemudian, terpilih Aa Gatot Brajamusti sebagai Ketum Parfi, ribut lagi. Malah Gatot dicokok polisi karena pengguna narkoba sewaktu Kongres Parfi di Lombok, 2016.

Setelah lama vakum, digelar Kongres Parfi ke-16 di Hotel Maharaja, Jakarta, awal Maret 2020 lalu. Terpilihlah Alicia Djohar sebagai Ketum Parfi. Baru beberapa minggu terbentuk kepengurusan Parfi untuk 5 tahun mendatang, Sekjen Parfi Mutiara Sani dan tiga pengurus Parfi lain mundur.

Kini, Parfi digoyang lagi dan kembali ke titik nol. Soultan Saladin, yang mengaku sebagai Ketum Parfi dalam Kongres Parfi di Lombok 2016, menantang Alicia Djohar untuk bersama membentuk Sekber Parfi. “Saya membawa mandat dari Aa Gatot sebagai Ketum Parfi yang sah. Dan kepengurusan Parfi saya sudah disahkan oleh Menkumham, Yasonna Laoly.
Okelah, kalau Alicia Djohar mengaku Ketum Parfi hasil Kongres 2020 di Jakarta. Ayo kita bersatu dan lupakan perbedaan untuk membentuk Sekber Parfi,” ujar Soultan kepada penulis.

Namun, upayanya ini ditolak dan menemui jalan buntu. Ketika bersama Sandec Sahetapy, Salmar Koto dan Mack Prabu akan ke Sekretariat Parfi di lantai 4 Gedung PPHUI, Kuningan, kantor Parfi tutup. Semua kepengurusan Parfi versi Alicia Djohar tidak ada yang datang.

“Saya datang baik-baik, guna bersilaturahmi. Bukan sebagai tamu,” timpal Soultan. “Kami berempat enggak akan mengganggu. Tapi responsnya negatif. Kantor Parfi ditutup,” imbuh Soultan kecewa.

Sandec Sahetapy yang loyal memfasilitasi dan mendanai Kongres Parfi 2020 juga heran dengan sikap Alicia Djohar dan pengurus lain. “Soal Parfi belum selesai. Ayo kita maju dan menjadi pengurus yang lebik baik,” papar Sandec sembari menambahkan, kepengurusan Parfi versi Alicia Djohar belum ada pelantikan.

Dari kubu Alicia Djohar tampil Evry Joe selaku Ketua Humas Parfi. “Enggak ada aturan dan AD/ARTnya tentang pembentukan Sekber Parfi. Dan pembentukan Sekber Parfi itu melanggar konstitusi Parfi,” kelit Evry Joe.

Alhasil, sudah beberapa hari ini, aparat polisi dari sektor Setiabudi, Kuningan tampak berjaga-jaga sekitar Gedung PPHUI. Sampai tulisan ini diturunkan, belum ada tanggapan dari kubu Parfi 56 pimpinan Marcella Zalianty yang anggotanya mayoritas artis-artis muda. Memang, keputusan Kongres di tangan anggota. Quo vadis, Parfi! (pik)

MPR Ajak Parfi Sosialisasikan 4 Pilar Kebangsaan

JAYAKARTA NEWS—  Artis film itu penggemarnya banyak dan dikenal sampai ke pelosok kampung yang terpencil. Karena itulah, artis  sebagai juru bicara yang efektif diajak menyosialisasikan 4 Pilar Kebangsaan yaitu NKRI, UUD 1945, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Demikian kata Ketua MPR, Bambang Soesatyo ketika menerima delegasi Parfi di ruang kerjanya.

Hadir Ketum Parfi Alicia Djohar, Sekjen Gusti Randa, Bendahara Evie Singh, Ketua Bidang Pendidikan Dedi Setiadi, Ketua Bidang Humas Evry Joe dan Ketua Dewan Kehormatan Kusumo.

“Saya mengajak artis film agar menjadi agen dan jubir MPR guna menanamkan nilai-nilai kebangsaan yaitu 4 Pilar Kebangsaan,” kata Bamsoet, panggilan akrab Bambang Soesatyo.

Dikatakannya, calon anggota Parfi harus kenal dan menerapkan 4 Pilar. “Artis film bukan sekedar pekerja seni. Tapi bisa menjadi role model bagi masyarakat khususnya di daerah untuk membuat kegiatan yang bermanfaat bagi anak bangsa dalam pembentukan karakter nilai-nilai kehidupan, seperti workshop seni peran guna membangkitkan rasa solidaritas dan gotong royong kebangsaan agar kita makin kuat,” papar Bamsoet yang menambahkan nantinya antara Parfi dan MPR bisa bekerjasama membuat konten video dalam bentuk apa saja.

“Sebagaimana kita  tahu, film sangat efektif sebagai alat propaganda. Amerika buat Rambo dan Korsel bikin Crash Landing on You. Ini untuk menumbuhkembangkan rasa nasionalisme. Sineas Indonesia juga bikin Sang Kiai, Sang Pencerah, 3 Srikandi dan Garuda Didadaku. Kerjasama ini akan menstimulus lahirnya film-film yang menggugah kesadaran publik untuk lebih menyintai Indonesia,” pungkas Bamsoet. (pik)

Parfi dan 43 Komunitas Pekerja Seni Terima Sembako dari Kemensos

JAYAKARTA NEWS— Mensos Juliani P Batubara memberikan bantuan sembako dari Presiden Joko Widodo kepada 43 komunitas pekerja seni. Penyerahan bantuan secara simbolis di Gedung PPHUI ini berkaitan dengan pandemi C19.

“Saya sangat bahagia bisa membantu para pekerja seni karena biasanya saya yang dibahagiakan oleh seniman (film, televisi, teater, musik dll) sebagai hiburan yang bisa mengurangi rasa stres. Dan yang lebih penting, Negara harus membantu rakyatnya dalam situasi seperti ini,” kata Mensos.

Aktor senior Deddy Mizwar mewakili Komunitas C’Nior mengatakan, bansos ini sebagai bentuk penghargaan kepada insan seni. “Negara peduli seniman itu sudah wajar,” ujar Deddy Mizwar.

Aktris mantan pemain film cilik  Yessy Gusman mengungkapkan, bantuan ini sangat berarti mengingat akibat dari bencana C19 banyak pekerja seni yang tak bisa berkarya dan berhenti bekerja.

Alicia Djohar selaku Ketum Parfi menyambut baik upaya Mensos terhadap pekerja seni dan bantuan ini enggak berhenti satu kali saja tetapi bisa berkelanjutan kepada seniman lain dimanapun.

Hadir puluhan pekerja seni di Gedung PPHUI dan memang terbanyak dari bidang film, diantaranya Yatty Octavia, Niniek L Karim, Ratna Riantiarno, Aty Cancer, Emmi Fibri, Dwi Yan, Pong Hardjatmo, Ricky Hosada, Hanna Wijaya, Linda Sulaiman, Yetty Loren, Teguh Yulianto, Evie Singh, Adhityawarman, Maya Damayanti, Annisa Queen, Rio Bwok dll. (pik)

Parfi Peduli Bagikan Sembako ke 50 Anggota yang Menganggur

JAYAKARTA NEWS— Pengurus Besar (PB) Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) membagikan 50 paket sembako kepada 50 anggotanya yang tak mampu, yang menganggur dan yang hilang jobnya akibat pandemi virus Corona.

Hadir di ruang Parfi Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI), Kuningan, Jakarta Pusat antara lain Alicia Djohar (Ketum Parfi), Pong Harjatmo (Ketum DPO Parfi), Deddy Setiadi (Anggota DPO Parfi), Ricky Hosada (Anggota DPO Parfi), Evie Susanto (Ketua Kesejahteraan) dan lain-lain.

“Hari ini akan dibagikan kepada anggota sebanyak 50 sembako berupa 10 kg beras, minyak goreng, gula pasir, kecap, mie instan, mukena dan 10 masker,” ujar Alicia Djohar yang mengenakan masker.

“Yang lain nanti menyusul. Ini sedang didata Pong Harjatmo,” imbuh Alicia yang terpilih sebagai Ketum Parfi periode 2020-2025 di Hotel Maharaja, Jakpus, 10 Maret 2020 yang lalu.

Pembagian sembako kepada anggota adalah pertemuan pertama antara Pengurus Parfi dengan anggotanya pasca Kongres Parfi. “Karena adanya keterbatasan, enggak semua Pengurus diundang. Ini saja jaga jarak. Sebenarnya, kami kangen dan rindu bertemu dengan anggota Parfi yang lain, tapi adanya PSBB, yah..kami pasrah. Pasti di hari lain  kita bertemu dengan jumlah anggota lebih besar lagi,” janji Alicia Djohar. (pik)

Alicia Djohar Gagal Rangkul Soultan Saladin

JAYAKARTA NEWS— Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) periode 2020-2025 hasil Kongres Parfi ke 16 di Jakarta, Alicia Djohar mengumumkan kepengurusan Parfi yang baru. Ia mengumumkan di Gedung PPHUI, Jakarta, baru-baru ini didampingi Ketua DPO Parfi, Pong Hardjatmo, anggota DPO Ricky Hosada, Wakil Bendahara Umum Parfi Evie Singh dan anggota Kehormatan Aspar Paturusi.

Beberapa hari sebelum pengumuman, terdengar kabar Alicia Djohar mengontak Soultan Saladin, kubu Parfi lain yang akan menggelar Kongres Parfi di Lombok. Alicia menjanjikan kursi Sekjen untuk Soultan Saladin.

Namun, Saladin menolak karena dalam kepengurusan Parfi versi Alicia, Saladin tak setuju dengan masuknya orang-orang non-Parfi di kepengurusan Alicia.

Alicia menghargai sikap dan keputusan Saladin, dan ia masih meminta agar  Angel Ibrahim (calon Sekjen Parfi versi Saladin) untuk duduk sebagai Sekjen.  Saladin menyilakan, namun sampai batas waktu yang ditentukan, ternyata Angel tidak menjawab. Akhirnya Alicia menunjuk Mutiara Sani sebagai Sekjen.

Alicia Djohar dan Pong Hardjatmo–foto dsp

Dalam pidato singkat yang berjalan beberapa menit, Alicia berjanji akan membawa Parfi menjadi lebih baik, dan terhormat. “Meski ini adalah hak prerogatif Ketum, namun kepengurusan ini terbebas dari intervensi siapa pun dan atau atas nama apa pun,” cetus Alicia yang ibu 3 anak ini.

“Dengan mengucapkan Bismillah, saya akan mengajak Parfi sebagai ‘rumah kita’ bagi aktor dan aktris film Indonesia,” imbuh Alicia. Kepengurusan Parfi versi Alicia periode 2020-2025 ini tampak gemuk, dengan menggandeng 40 an anggota Parfi aktif.

Ketua Umum :  Alicia Djohar, Wakil Ketum : Paramita Rusady, Sekjen : Mutiara Sani, Wakil Sekjen : Sham L Fin, Bendahara Umum : Evie Singh, Ketua Bidang I : Gusti Randa, SH, Ketua Bidang 2 : Aditya Gumay, Ketua Bidang 3 : Hana Wijaya, SH. Dan lain-lain. (pik)

Menkumham Yasonna Laoly: Parfi harus Islah dan Bersatu

JAYAKARTA NEWS— Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Yasonna Laoly menerima kunjungan Pengurus DPP Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) dibawah pimpinan Plt Ketum Parfi, Soultan Saladin, belum lama berselang.

Menkumham didampingi Direktur Perdata Daulat Silitonga  dan Komisioner Lembaga Manajemen Kolektif Nasional Yurod Saleh, SH beserta stafnya. Sedangkan dari DPP Parfi ikut juga Sekjen Dr. Kun Norachadjat, MBA, Waketum drs Ahmad Rizal, Bendahara Umum Ayu BW, Ketua 1 Dolly Martin, Ketua DPO Ronald Reinaldo dan Waketum DPO Yus Santo.

Dalam kesempatan itu, Pengurus Parfi menyerahkan berkas yang berisi susunan pengurus DPP Parfi dan naskah islah antara DPP Parfi pimpinam

Parfi Soultan Saladin  dan Ketua DPO Parfi Febryan Aditya. “Sesuai keinginan Menkumham agar terjadi islah antara 2 kubu Parfi maka DPP Parfi yang dipimpinnya telah melakukan islah dengan DPP Parfi Kuningan. Namun karena terjadi kasus hukum yang menjerat Febryan Aditya, secara sepihak, DPO dan sejumlah anggota Parfi telah memecat Febryan dan mengangkat Piet Pagau.”

“Kemudian tak beberapa lama Piet Pagau mundur maka kami dari DPP Parfi berencana menggelar Kongres pada bulan Maret 2020. Dan kami akan menjalankan roda organisasi bersama, tetapi ada sekelompok orang yang melakukan tindakan sepihak,” beber Soultan Saladin.

Menkumham mengaku telah mendengar kemelut  yang melanda Parfi. “Bagaimana bisa maju jika ribut terus. Bersatulah demi kebaikan bersama. Kalau sudah islah, tinggal buat permohonan untuk dapat pengesahan dari Kemenkumham,” urai Menkumham mengangguk.

Ditekankan juga, saat ini, hak-hak artis dan kreator film perlu dijaga dan dilindungi sesuai AD dan ART Parfi. “Insan-insan musik sudah mendaftar ciptaannya ke sini, sedang dari insan film belum. Di Inggris, semua karya film sudah didaftarkan. Karena itu, saya mengimbau orang film segera mendaftarkan karyanya,” pinta Menkumham. (pik)