JAYAKARTA NEWS – Mungkin banyak orang tidak mengetahui tentang kejadian bencana alam tanah longsor yang menimpa Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji di Kota Batu, Jawa Timur pada bulan Februari lalu.
Hingga saat ini masih ada 16 kepala keluarga, dengan jumlah 53 warga yang tertimpa musibah masih tinggal di pengungsian. Sambil menunggu selesai pembangunan tempat tinggal mereka untuk sementara sebelum ke dusun direlokasi ke wilayah lain.
Walaupun bencana alam ini sudah berjalan hampir 3 bulan yang lalu, namun hingga kini para korban becana yang telah berbulan-bulan berada di tenda pengungsian dengan falilitas alakadarnya masih tetap membutuhkan uluran tangan berupa bantuan.
Dengan situasi seperti itu, Indonesian Hotel General Manager (IHGM) Malang Raya di bawah koordinasi Ade Sudrajat, GM The 101 Malang OJ dan Rudy Rinanto Rachmat, GM Zam Zam Hotel & Confention, Batu tergerak untuk peduli bersama-sama dapat memberikan kontribusi, dengan menembus sulitnya akses menuju lokasi untuk menunjukan bahwa para korban tidak terlupakan begitu saja.
Tidak hanya sebatas bantuan, namun IHGM mengajak anak-anak di pengungsian bergembira dengan berbagai permainam dan hadiah. (foto: IHGM)
Bakti sosial IHGM Malang Raya yang dilaksanakan, pada hari Sabtu (24/4) menuai respon positif dari berbagai pengurus cabang se-Indonesia seperti IHGM DPC Jateng, IHGM DPC DKI dan tidak sedikit GM se-Indonesia yang mengirimkan sumbangannya atasnama pribadi.
Melalui komunikasi yang terjalin maka anggota IHGM Malang Raya yang berjumlah 32 pimpinan hotel diterima oleh para pemangku di daerah bencana seperti Pak Kades, BPBD, Babinsa dan Babinmas yang sedang berada di lokasi.
Dan Ratna Dwi Rachmawati selaku Ketua DPC menyampaikan bahwa, pada Bakti Sosial itu “Walaupun saat ini para pekerja perhotelan masih sangat terdampak, bahkan mungkin akan menjadi sektor usaha terakhir yang bangkit setelah pandemi, namun mereka masih tetap menyadari bahwa uluran tangan dari kami – IHGM masih banyak dibutuhkan oleh saudara kita (masyarakat) yang tertimpa musibah. Dan semoga pandemi Covid-19 ini segera berakhir,”. (*/Mons)
Saat diterima oleh perangkat desa, IHGM Malang Raya berdialog langsung dengan menampung berbagai keluh kesah para pengungsi. (foto: IHGM)
The Singhasari Resort & Convention, Kota Wisata Batu, Jawa Timur meraih penghargaan Trip Advisor lima tahun berturut-turut. Sebuah prestasi besar dan tertinggi bagi jasa perhotelan. Tak heran jika hotel yang terletak di kawasan sejuk Kota Wisata Batu ini memiliki pelanggan tetap.
Jayakarta News – The Shingashari Resort Hotel (TSR) merupakan hotel pertama bintang lima di Jawa Timur. Yang mana baru-baru ini hotel tersebut menerima penghargaan dari Tripadvisor, sekaligus dinobatkan dengan “Certificate of Excellence Hall of Fame Tripadvisor”.
Hotel yang telah menerima Certificate of Excellence dan Tripadvisor Travel Choice Awards selama 5 tahun secara berturut-turut sejak 2015 – 2019 ini banyak memiliki fasilitas, salah satunya yaitu Kutaraja Restaurant.
Berkesempatan beberapa hari lalu sebagai tamu di TSR, saat check in diberikan voucher breakfast untuk dua orang dan keesokan di pagi hari itu sekitar pukul 08.30 WIB kami menuju restaurant Kutaraja. Di depan, waitress menyapa para tamu,”Selamat pagi, maaf Bapak – Ibu dari kamar nomor berapa?” ujar salah seorang waitress.
Tampak pagi itu di restaurant Kutaraja menerapkan protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19 menuju adaptasi kehidupan baru, dengan ketat. Para tamu yang hendak masuk harus menggunakan masker, kemudian dicek suhu tubuh menggunakan thermal gun, lalu diwajibkan mencuci tangan dengan hand sanitizer yang sudah disediakan di atas meja waitress.
Kemudian terlihat tatanan serta suasana di restaurant juga di-setting sesuai protokol kesehatan, misalnya penempatan meja, kursi diberi jarak antara satu sama lain, khusus kursi di set up ada long table yang seharusnya bisa 8 orang menjadi hanya boleh untuk 4 orang. Ada beberapa kursi diberi tanda silang merah pertanda tidak boleh diduduki.
Waitress dan waiter terlihat semua menggunakan face shield, masker lagi, dan sarung tangan. Sebagai pekerja di bidang hospitality mereka telah memberikan yang terbaik buat tamu-tamu. Setiap tamu yang sudah menggambil menu pilihannya dipersilakan cari meja lalu peralatan seperti sendok garpu diantar dengan keadaan dibungkus rapi. Lalu ada yang keliling melihat minuman tamu jika sudah habis ditawari, apakah hendak ditambah?
Ketika tamu sudah siap makan, dengan cekatan waiter langsung meng-clear up peralatan di atas meja, seperti piring, sendok, garpu dan lainnya. Setelah itu waiter menyemprotkan disinfektan ke meja, kursi hingga bersih siap untuk digunakan oleh tamu berikutnya.
“Jadi bukan hanya pada saat tamu selesai makan saja, itu meja, kursi, lantai dan lainnya disemprot disinfektan, melainkan sebelum restaurant Kutaraja dibuka para waitress dan waiter sudah terlebih dahulu menyemprotkan disinfektan sesuai imbuan pemerintah untuk menerapkan protokol kesehatan,” jelas Rusmaidi Fetra, General Manager (GM) The Singhasari Resort & Convention kepada awak Jayakarta News pagi itu.
Untuk menu-menu juga membudayakan tradisional seperti minuman ada jamu, sedangkan makanan ada aneka bubur seperti sumsum, kacang hijau dan lainnya. Jadi benar-benar lezat rasanya. Dekorasi restaurant juga terlihat menarik tidak terlepas dengan sentuhan nilai-nilai budaya yang artistik lagi klasik.
Anda dapat melihat aneka menu makanan dan minuman, serta pelayanan restoran Kutaraja The Singhasari Resort & Convention, seperti di dalam tayangan video di bawah ini. (Monang Sitohang)
Jayakarta News – Era adaptasi kebiasaan baru (new normal), memberi peluang banyak sektor kembali beraktivitas. Termasuk jasa perhotelan. Satu di antaranya adalah resort bintang lima pertama di Jawa Timur, The Singhasari Resort, Kota Wisata Batu.
Sudah sejak awal Juni 2020, jasa perhotelan diperkenankan beroperasi dengan melaksanakan protokol kesehatan. The Singhasari Resort and Convention, resort dengan konsep perpaduan antara budaya Indonesia, tradisi, keindahan dan gaya hidup, itu, terbilang sangat ketat dan disiplin melaksanakan protokol kesehatan.
Setiap tamu yang datang, harus melewati alat deteksi suhu tubuh yang dihubungkan dengan gerbang pintu masuk tripod. Jika suhu tubuh di bawah ambang batas, maka sepasang pintu masuk tripod itu akan membuka secara otomatis. Sebaliknya, pintu tidak akan terbuka jika suhu di atas 37,5 derajat, plus tidak memakai masker.
“Kami tidak hanya memberi rasa nyaman, tetapi juga rasa aman terhadap ancaman terpapar Covid-19. Protokol kesehatan yang ketat ini, mungkin awalnya terasa kurang nyaman, tetapi akhirnya para tamu justru mengapresiasi ketatnya kami menjaga protokol kesehatan,” ujar Rusamaidi Fetra, General Manager The Singhasari Resort Batu, hari ini (30/7/2020).
Rusamaidi Fetra, General Manager The Singhasari Resort Batu, saat penghargaan penghargaan Indonesia Leading MICE Venue pada perhelatan 9th Annual Indonesia Travel and Tourism Awards 2018 di Jakarta. (foto: TSR)
Peraih penghargaan penghargaan Indonesia Leading MICE Venue pada perhelatan 9th Annual Indonesia Travel and Tourism Awards 2018 di Jakarta, itu menambahkan, sejak dibuka, para tamu mulai berdatangan. Terutama para pelanggan The Singhasari Resort. “Peak-nya Jumat dan Sabtu,” ujar lulusan Balai Pendidikan dan Latihan Pariwisata (BPLP) Medan yang kemudian berubah menjadi Akpar Medan, dan saat ini menjadi Politeknik Pariwisata Medan.
Ia juga mengimbau kepada Dinas Pariwisata dan para pelaku pariwisata untuk bersama-sama menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Program pentahelix itu mengharuskan semua pihak secara bergotong royong mengatasi masalah. Di sana ada unsur pemerintah, pengusaha, masyarakat/komunitas, pakar/akademisi, dan media.
Para tamu The Singhasari Resort, Kota WIsata Batu, tanpa kecuali, melewati protokol kesehatan sejak kedatangan, hingga kepulangna. (foto: TSR)
Aparat yang berwajib, diimbau untuk membantu Satuan Tugas Covid-19 mengendalikan Covid-19. “Maklumlah, masyarakat kita memang susah. Sebab, di kita tidak ada budaya antre. Jadi meminta masyarakat tidak berkerumun atau menjaga jarak, susahnya bukan main. Tapi mau-tidak-mau kan itu harus dilakukan. Itu jika kita tidak ingin penyebaran Covid-19 bisa lebih terkendali,” ujar Fetra yang telah malang-melintang di dunia hospitality luar negeri itu.
Terbiasa hidup dan berpola hidup masyarakat maju di negeri orang, membuat Fetra sangat peduli terhadap pelaksanaan protokol kesehatan di The Singhasari Resort. Tidak hanya pada saat melayani tamu datang, tetapi juga selama para tamu menginap.
Resort bintang lima yang terletak di Jl. Ir. Soekarno No. 120 Batu, ini memiliki fasilitas lengkap ditunjang kualitas pelayanan memuaskan. Free Shuttle to Batu Interest Point merupakan fasilitas yang disediakan resort ini. Selain itu, di sini juga tersedia fasilitas olahraga seperti Tennis and Basketball court, Minigolf dan Gym Center. “Yang ingin gowes, juga kami sediakan sepeda,” ujar Fetra.
Sedangkan, fasilitas hiburan keluarga yang bisa dinikmati antara lain Kids Club, Game Zone, Movie Theater, Swimming pool, Jaccuzi, Sauna, Biliard, Table Tennis, Flying Fox dan tentunya Fasilitas Spa dengan beranekaragam pilihan terapi tradisional. “Selain itu semua, kamilah pemilih convention hall terbesar di Jawa Timur. Convention hall kami mampu menampung hingga 5.000 orang. Untuk masa pandemi, menjadi separuhnya,” kata Fetra pula. (rr/monang)
The Singhasari Resort Convention Hall, terluas di Jawa Timur. Mampu menampung 5.000 orang (2.500 orang selama masa pandemi). (foto: TSR)
MUSEUM Angkut. Nama museum yang sekilas biasa-biasa saja. Faktanya, objek wisata yang terletak di Jl Terusan Sultan Agung Atas, Kota Wisata Batu, Jawa Timur itu, menjadi destinasi wisata favorit. Bisa jadi, karena setelah masuk museum, kita dibawa ke aneka zona yang menakjubkan.
Objek wisata yang termasuk grup Jatim Park itu, menyambut pengunjung dengan karakter robot Transformer dan Bumble Bee. Sangat mengesankan bagi pengunjung anak-anak. Jika anak-anak senang, maka orangtua mana yang tidak girang. Alhasil, tiket masuk Rp 90.000 di hari libur (Rp 60.000 di hari Senin – Kamis), menjadi tidak lagi terasa mahal.
Museum yang dibagi berdasa tema atau zonasi itu, menyajikan aneka jenis alat angkut, dari era purba hingga modern. Ruang pertama, berisi pesawat angkut, helikopter, aneka mobil tua, sepeda motor tua, sampai onthel klasik. Beberapa objek, asli, beberapa lainnya berbentuk miniatur.
Zona edukasi ada di lantai dua. Isinya, riwayat angkutan di Indonesia, dari masa ke masa. Di sudut lain, tampak kapal Titanic. Nah, zona selanjutnya, disebut Sunda Kelapa. Nama lain dari Jakarta tempo doeloe. Di zona ini, elemen angkut tertutup oleh dominasi VOC.
Nah, yang tak kalah menarik, adalah zona gangster world dan broad way street. Pengunjung dikenalkan dengan raja mafia Al Capone, suasana negeri Paman Sam dengan gedung-gedung pencakar langit yang kesohor, dan alat angkut pada zamannya. Di zona broad way street, terpampang sosok Marilyn Monroe. Entahlah, apakah Marilyn Monroe termasuk ragam alat angkut? He…he…he…..
Di museum yang sudah kesohor ke luar negeri ini, juga ditampilkan zona Eropa. Isinya, icon negara dan alat angkut negara tersebut, seperti Italia, Perancis, Jerman, Inggris, Spanyol, dan lain-lain. Bahkan, Istana Buckingham dengan Ratu Elizabeth tak ketinggalan. Beberapa jenis kendaraan yang terpajang, antara lain ada merek Austin, Mini Cooper, Roll Royce, Black Burn, Triumph, dll.
Kembali ke Amerika, terdapat zona kota judi Las Vegas dan Hollywood yang masyhur. Las Vegas digambarkan dengan aneka lampu warna-warni. Sementara di Hollywood kita bisa menyaksikan aneka jenis mobil yang digunakan pada film-film box office. Jadi, jangan heran kalau di sini, aneka jenis mobil James Bond juga tersedia.
Ada satu yang sangat menarik adalah wahana roket. Sayang, untuk bisa menikmati rasanya jadi astronaut, harus ikut antrean yang sangat-sangat panjang. Daripada berdiri pingsan, lebih baik ke Zona Apung, tempat aneka souvenir dan makanan tersedia. ***
AWALNYA berangkat dari dua rasa penasaran. Pertama, info banyak teman bahwa Kota Batu sangat recomended untuk berwisata bersama keluarga. Kedua, naik kereta api sekarang sangat mudah dan nyaman. Akhirnya, saya dan keluarga pun berwisata ke Kota Batu naik kereta api.
Pelajaran “jalan-jalan” mengajarkan hal penting: Persiapkan secara matang. Karena itu, satu demi satu langkah ke Batu pun dipersiapkan. Apalagi, ini bukan hanya perjalananku sendiri, tetapi juga bersama keluarga besar yang berjumlah 10 orang.
Booking tiket kereta api yang bisa dilakukan secara online, terbukti memang mudah. Kemudian untuk memilih tempat tinggal, kami prefer menyewa homestay daripada villa. Apalagi, pilihan homestay di Kota Batu ternyata sangat banyak. Dari banyaknya pilihan, kita bisa memilih yang sesuai.
Ketika hari H tiba, kami naik kereta api pukul 18.15, dan tiba di Stasiun Malang Kota pukul 10.05 WIB. Lumayan, lebih 15 jam perjalanan. Dari stasiun Malang, kami sewa kendaraan ke Kota Batu yang berjarak sekitar 18 km, dengan waktu tempuh kurang dari satu jam.
Homestay yang kami tuju, ternyata tidak jauh dari tempat wisata Jatim Pak-2, kurang lebih 10 menit pejalanan naik angkot yang melintas di depannya. Akan tetapi, hari pertama kami memilih untuk beristirahat. Keesokan harinya baru kami mengunjungi Jatim Park-2, tepatnya ke Secret Zoo, wahana terbaru grup Jatim Park.
Tiket masuk Secret Zoo adalah Rp 70.000 untuk hari Senin sampai Kamis, dan Rp 100.000 untuk Jumat sampai Minggu. Sedangkan untuk berkeliling area yang sangat luas, tersedia e-bike atau sepeda listrik bertarif Rp 100.000 untuk tiga jam.
Sekilas, koleksi binatang di sini lebih lengkap dibanding Taman Safari. Penataan kandang, penempatan binatang, juga lebih apik. Memasuki area Secret Zoo, kita disambung tikus raksasa.Binatang pengerat raksasa yang didatangkan dari Lousiana, Amerika Serikat ini, disebut nutria, atau dalam bahasa latin coypu.Berbeda dengan tikus biasa, maka nutria ini berkulit tebal. Bahkan kulit nutria banyak dijadikan tas dan jaket.
Tidak salah kalau pengelola Secret Zoo menempatkan binatang unik ini sebagai pembuka. Bayangan orang tentang hewan tikus yang menjengkelkan itu, langsung berubah menjadi kekaguman. Selain ukuran tubuhnya yang sebesar kucing dewasa, nutria ini juga ternyata mampu menyelam di air selama lima menit.
Selanjutnya, adalah deretan bintang kuskus, lemur, lalu kanguru.Jeda sejenak di food court, perjalanan jelajah Secret Zoo sampai ke area akuarium yang mirip Sea World. Lengkap dengan touch pool.
Lepas ikan-ikanan, kita masuk ke zona binatang buas. Tampak puma, leopart, macan kumbang, menyambut pengunjung dengan gerakan aktif. Menuju pintu keluar, kita akan melewati kandang monyet, orang utan, gorila, dan binatang perimata lain.
Tersedia juga area selfie dengan burung-burung cantik. Bagi yang mengajak serta anak-anak, juga tersedia fantasi land. Seorang penjaga mengatakan, kalau mau puas tidak cukup sekali datang. Hmm… benar juga. Rasanya perlu satu hari lagi menjelazah Secret Zoo. ***
MENGUNJUNGI Kota Wisata Batu, Jawa Timur, tidak afdol jika tidak mampir ke tempat wisata agro. Bahkan bisa menyesal seumur hidup. Karena tidak ingin mengalami nasib seperti itu, di sela-sela acara tugas ke Malang, saya menyempatkan diri berkunjung ke salah satu destinasi wisata argo populer di Jawa Timur dan seantero nusantara, yakni: Selecta Wisata Petik Apel, Kota Wisata Batu.
Di kawasan ini, hektaran kebun apel terhampar. Pengunjung dimanjakan dengan panorama pegunungan, perbukitan, dan tentu saja udara segar. Dan yang paling sensasional adalah pengunjung dapat memetik buah apel langsung dari kebun dengan cukup merogoh kocek per orang Rp 30 ribu. Bila beruntung, bahkan bisa lebih murah, Rp 25 ribu atau bahkan Rp 20 ribu.
Penulis, menikmati petik dan makan apel di kebun.
Dengan tarif masuk sebesar itu, pengunjung bukan saja boleh memetik apel dari tangkainya, juga boleh makan apel gratis sepuasnya. Saya sendiri hanya sanggup makan tiga buah apel. Tetapi, cerita Bebeh, dari kelompok tani di Kebon tersebut, ada pengunjung yang sanggup melumat setengah hingga sekilogram apel.
Apakah apel yang sudah kita petik boleh dibawa pulang? Oh, boleh saja. Tapi tidak gratis, melainkan harus bayar atau membeli. Bagi pengunjung yang petik langsung di kebun, harganya dibanderol secara pukul rata Rp 30 ribu per kilogram. Jika hanya membeli satu kilogram, harganya bervariasi antara Rp 20 ribu, Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu. Tergantung besar kecilnya apel.
Di sekitar kebun apel, sejumlah pedagang menjajakan segala jenis kripik dan minuman terbuat dari apel. Bagi anda yang berkunjung ke Malang, jangan lupa mampir ke Batu. Nikmati dan buktikan sensasi petik dan makan apel di kebun apel yang cukup banyak terdapat di kawasan wisata agro di Kota Wisata Batu, Jawa Timur. ***