Obat Lambung Ranitidin Ditarik, Ini Daftar Obat Penggantinya

Ilustrasi–sumber foto thestar.com.my

JAYAKARTA NEWS— Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) merilis sejumlah obat tukak lambung dan tukak usus selain sediaan farmasi yang mengandung Ranitidin.

Dari laman resmi BPOM yang diakses di Jakarta, Selasa (15/10/2019), menyebut obat dengan Ranitidin saat ini ditarik secara sementara karena diduga mengandung cemaran N-Nitrosodimethylamine (NDMA) yang memicu kanker (karsinogenik).

Sebelumnya, Kepala BPOM Penny Lukito juga menyarankan agar masyarakat berkonsultasi dengan dokter soal obat tukak lambung dan tukak usus selain yang mengandung Ranitidin. Terdapat 67 merk obat yang menggunakan materi generik Ranitidin.

Penny mengatakan penarikan distribusi dan peredaran obat ber-Ranitidin dilakukan untuk alasan keamanan. Selama masa penarikan sementara, dilakukan pengujian laboratorium meneliti cemaran NDMA terhadap Ranitidin.

Adapun daftar obat pengganti itu di antaranya sebagai berikut:

Sediaan obat minum atau oral 1. Antasida yang terdiri dari Alumunium hydroxide/ Magnesium hydroxide/simethicone dalam bentuk sediaan tablet kunyah dan suspensi. 2. Penghambat Pompa Proton (kapsul lepas tunda lansoprazol, kapsul lepas tunda omeprazol, tablet salut enterik Pantoprazole, tablet salut enterik Esomeprazol dan tablet salut enterik Natrium Rabeprazole). 3. Antagonis Reseptor-H2 (tablet dan tablet salut Simetidin serta tablet salut selaput Famotidin. 4. Sitoprotektif (tablet Sukralfat) 5. Analog Prostaglandin (tablet salut selaput Rebamipid)

Sediaan injeksi 1. Penghambat Pompa Proton (serbuk injeksi Esomeprazol, serbuk injeksi Lansoprazol, serbuk injeksi Omeprazol dan serbuk injeksi Pantoprazol).***/jpp/ebn

Kerokan

Ilustrasi lukisan orang sedang kerokan. (foto: https://www.fimela.com)

Jayakarta News – Anda pernah kerokan? Tubuh dibalur minyak lalu dikerok menggunakan uang logam. Kalau panggung sudah bergaris meriah-hitam, kerokan berhenti. Badan pun segar kembali.

Saya mengenal kerokan sejak masih kanak-kanak. Adik-adik saya waktu masih bayi pun sering dikerok. Bedanya, ngeroknya pakai potongan bawang merah dan minyak telon.

Kalau untuk orang-orang yang sudah lebih “kebal” pengeroknya uang logam. Makin kecil diameter mata uangnya makin sakit rasanya. Minyaknya juga beda. Minyak kelapa (bukan sawit), minyak kayu putih, bahkan minyak tanah (kerosin) pun digunakan. Dengan komposisi campuran tertentu.

Zaman masih kecil, saya paling takut dengan Mbah Reki kalau sudah mengeluarkan uang “kethib”, sebutan di desa untuk nominal “sen”. Uangnya berukuran kecil. Kalau dipakai ngerok punggung dijamin na gus bombai.

Apalagi Mbah Reki terkenal dukun kerok “rajatega”. Anehnya justru Mbah Reki yang sukses menjalankan profesi sebagai dukun kerok sampai akhir hayatnya.

Sudah dua minggu ini badan saya  demam. Saya tahu. Saya perlu kerokan. Tapi waktunya tidak pernah cocok.

Akhirnya kian hari kian parah. Puncaknya kemarin. Sepulang dari Sipirok, Tapanuli Selatan. Saya rasa ini pengaruh makan durian yang berlebihan.

Malam itu saya sudah hampir tidur. Eh, Abu Giffar menelepon. Mau bertemu di hotel Torsibohi, hotel terbaik di Tapanuli Selatan, tempat saya menginap. “Saya meluncur dengan Yunus Nasution, bawa durian dan lamang,” katanya sembari kirim foto.

Padahal malam itu kami baru pulang dari Pesantren Darul Mursyid. Minum bergegas-gelas kopi dan ber butir-butir durian.

Giffar dan Yunus ini dua sahabat dunia maya. Bertahan-tahun hanya ngobrol di Facebook. Baru ketemu fisik tahun lalu. Sejak itu setiap kali saya ke Sipirok, keduanya pasti hadir. Pun malam itu. Membawa sangat banyak durian dan lamang.

Malam makin larut. Hujan mulai turun. Dinginnya…. brrrrrr….. tapi saya kegerahan. Bahkan malam itu saya tidur di sofa ruang tamu tanpa selimut. Saking gerahnya.

Masalah itu datang saat subuh. Usai mandi dan salat, badan tiba-tiba menggigil. Di luar cottage, hujan bertambah deras.

Saya menebak-nebak, apa yang terjadi pada diri saya. Kesimpulannya: durian. Jumlah yang dimakan terlalu banyak. Akibatnya badan merasa kepanasan. Sementara suhu udara kamar sangat dingin.

Ya sudah. Sambil terus menggigil saya mulai berkemas. Sambil berdoa semoga bandara tidak ditutup lagi. Saya perlu obat: harus dikeroki istri. (joko intarto)

Diskusi Kesehatan: Mewujudkan Puskemas Berkualitas Dalam Menerima Peserta BPJS

Ilustrasi–foto liputan6 com

JAYAKARTA NEWS—Di era jaminan kesehatan nasional (JKN) pelayanan kesehatan tak lagi terpusat di rumah sakit atau fasilitas kesehatan (faskes) tingkat lanjutan, namun pelayanan kesehatan harus dilakukan secara berjenjang sesuai kebutuhan medisnya. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi peserta BPJS Kesehatan.

Jadi, memiliki BPJS saja tanpa tahu mengimplementasikannya, ternyata bisa bahaya. Pasalnya, dalam implementasi sistem kesehatan nasional prinsip managed care diberlakukan, di mana terdapat 4 (empat) pilar, Promotif, Preventif, Kuratif dan Rehabilitatif.

Prinsip ini akan memberlakukan pelayanan kesehatan akan difokuskan di Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP)/Faskes Primer seperti di Puskesmas, klinik atau dokter prakter perseorangan yang akan menjadi gerbang utama peserta BPJS Kesehatan dalam mengakses pelayanan kesehatan.

Untuk itu kualitas faskes primer ini harus dijaga, mengingat efek dari implementasi Jaminan Kesehatan nasional ke depan, bakal mengakibatkan naiknya permintaan (demand) masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan karena kepastian jaminan sudah didapatkan.

Jika FKTP/faskes primer tidak diperkuat, masyarakat akan mengakses faskes tingkat lanjutan sehingga akan terjadi kembali fenomena rumah sakit sebagai puskesmas raksasa.

Untuk itu, Yayasan Anak Bangsa Merajut Harapan yang dipimpin M. Kurnia Dwijayanto menggelar Diskusi penyamaan visi dan misi kemitraan Pemerintah dan Swasta di bidang Faskes Primer ini guna mewujudkan Puskemas berkualitas dalam menerima peserta BPJS guna merujuknya ke tingkat pelayanan selanjutnya.

Diskusi ini diadakan pada, Kamis, 19 September 2019 pukul 08.30 – 17.00 WIB di Ciputra Artpreneur, Lotte Shopping Avenue Jakarta. Program Heartprenueur Festival 2019 ini adalah inisiasi inovatif Yayasan Anak Bangsa Merajut Harapan, dibawah arahan Ketua Yayasan, M. Kurnia Dwijayanto. Rangkaian acara diskusi ini sebenarnya telah dimulai sejak 13 September lalu dan akan berakhir pada 21 September 2019.

Acara ini diisi dengan berbagai kegiatan seminar dan lokakarya kesehatan guna mempromosi dan memobilisasikan informasi edukatif seputar kesehatan yang tidak biasa, jarang dikupas, bahkan tabu di masyarakat, hingga menjadi informasi edukatif yang interaktif.

Program Heartpreneur Festival 2019 didukung oleh Klinik Angsamerah yang juga sponsor utama acara ini, serta Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI, Persatuan Dokter Umum Indonesia (PDUI), Persatuan Dokter Indonesia Bersatu (PDIB), UNAIDS serta  Clinton Health Access Initiative. ***/ks

Ini Penjelasan BMKG tentang Buruknya Kualitas Udara Jakarta

Ilustrasi—Kualitas udara buruk di Jakarta—gambar tvone youtube

JAYAKARTA NEWS— Belakangan ini pemberitaan tentang buruknya kualitas udara Jakarta sedang marak. Berikut ini penjelasan BMKG lewat rilis yang disampaikan  Nasrullah, Plh Deputi Bidang Klimatologi BMKG. Disebutkan, pemantauan konsentrasi partikulat polutan PM10 oleh BMKG sepanjang bulan Juni hingga Juli menunjukkan peningkatan konsentrasi sering melampaui nilai ambang batasnya (NAB) sejak tanggal 20 Juni hingga sekarang.

Nilai Ambang Batas (NAB) adalah batas konsentrasi partikel polusi udara yang diperbolehkan berada dalam udara yang kita hirup. NAB harian PM10 adalah 150 µg/m3 dan 50 µg/m3 untuk tahunan.

KOnsentrasi debu polutan meningkat drastis di antaranya disebabkan beban tinggi transportasi—gambar medcom id

Pada jam-jam tertentu, konsentrasi partikel polusi udara terukur di BMKG dapat melonjak sesuai dengan kadar polutan yang ada di udara. Nilai kadar atau konsentrasinya bahkan melewati 180 µg/m3 yaitu terjadi pada tanggal 20, 24, 25, 27, dan 28 Juni 2019, serta 14 dan 25 Juli 2019.

Berdasarkan data deret rata – rata harian debu partikulat PM10, secara umum periode 10 hari (dasarian) terakhir bulan Juni menunjukkan konsentrasi debu polutan yang lebih tinggi daripada kondisi bulan Juli kali ini.

Meningkatnya konsentrasi PM10 secara umum terjadi pada pagi hari sekitar pukul 07.00 – 09.00 WIB. Pada waktu-waktu ini konsentrasi debu polutan dimungkinkan meningkat drastis dikarenakan beban tinggi transportasi berkaitan dengan waktu berangkat kerja, sekaligus secara meteorologis bersamaan dengan waktu dimana dapat terjadi peristiwa inversi suhu pada atmosfer perkotaan.

Selain itu, data BMKG menunjukkan kualitas udara memang biasanya memburuk saat musim kemarau. Hal ini dikarenakan ketiadaan hujan dapat mengurangi pengendapan (pencucian) polutan di udara oleh proses rain washing.

Kepada masyarakat disarankan menggunakan masker— gambar tvone youtube

Pada hari-hari yang sudah lama tidak terjadi hujan, udara yang stagnan, cuaca cerah, adanya lapisan inversi suhu, atau kecepatan angin yang rendah memungkinkan polusi udara tetap mengapung di udara suatu wilayah dan mengakibatkan peningkatan konsentrasi polutan yang tinggi.

Penampakannya dapat dilihat dari kondisi udara yang kabur hasil reaksi kimia antara udara dengan kontaminan. Terlebih lagi pada saat ini masih terus berlangsung pekerjaan konstruksi pembangunan tol atas, jalur LRT, dan pengerjaan trotoar. Hal ini tentu akan menghasilkan debu partikel polutan dan menurunkan kualitas udara pada saat-saat tertentu.

Untuk diketahui, Juni – Juli adalah bulan menuju puncak musim kemarau bagi Jakarta. Data klimatologis rata – rata harian debu partikulat polutan 5 tahun kurun waktu 2014 – 2018 menunjukkan bahwa bulan Juni hingga Agustus merupakan waktu-waktu dimana konsentrasi partikulat polutan lebih tinggi dibandingkan bulan lainnya.***/ebn

Maksimal 6 Cangkir Kopi per-Hari, Lebih dari Itu Waspadalah Jantung Anda!

Ilustrasi picture—sumber simplyhealthyfamily.org

JAYAKARTA NEWS— Metin Avkiran, Direktur Medis Asosiasi di British Heart Foundation mengatakan dalam siaran pers-nya, ada beberapa penelitian yang bertentangan mengatakan hal-hal berbeda tentang kopi.  “Mungkin sulit untuk menyaring apa yang harus kita percayai dan apa yang tidak seharusnya kita miliki,” ujar Metin Avkiran sebagaimana dilansir smithsonianmag.com.

“Penelitian ini diharapkan akan menempatkan beberapa laporan media dalam perspektif, karena mengesampingkan salah satu efek merusak kopi yang potensial pada arteri kita,” tambahnya.

Sementara Elio Riboli, Ketua Epidemiologi dan Pencegahan Kanker di School of Public Health, Imperial College London, yang telah mempelajari dampak kopi terhadap kematian, mengatakan kepada Kashmira Gander di Newsweek, studi terbaru ini mengguncang temuannya.

“Ini membawa kabar baik bagi peminum kopi, dan elemen ilmiah lebih lanjut yang mendukung temuan kami sebelumnya bahwa kopi, jauh dari ‘buruk bagi kesehatan’ justru sebaliknya bermanfaat.”

Tetapi apakah minum 25 gelas per hari bermanfaat?

Para peneliti studi tidak akan melangkah sejauh itu – meskipun tampaknya tidak mempromosikan kekakuan arteri, Fung mengatakan mereka ingin menganalisis kesehatan peminum kopi berat untuk menyarankan batas atas konsumsi.

Faktanya, penelitian lain yang dirilis bulan lalu menunjukkan bahwa, dalam jangka panjang, enam cangkir kopi per hari adalah batas teratas. Para peneliti dari University of South Australia menemukan, jika lebih dari itu (kadar kafein 6 cangkir kopi), akan  meningkatkan kadar tekanan darah yang mengarah pada lonjakan potensi penyakit kardiovaskular.

David DiSalvo di Forbes melaporkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir penelitian telah menemukan bahwa minum kopi  dikaitkan dengan kematian yang lebih rendah, jantung  yang lebih sehat, perlindungan terhadap diabetes dan demensia serta peningkatan memori. Ini juga terkait dengan dampak negatif seperti mulas yang memburuk, peningkatan keinginan gula, kecemasan dan insomnia.***ebn

Penelitian Terbaru: Minum 25 Gelas se-Hari Aman untuk Jantung

Ilustrasi picture–sumber aarp.org

JAYAKARTA NEWS— Minum kopi kerap menjadi kontroversi. Ada yang menyebut minum kopi baik bagi kesehatan asalkan tidak berlebih, tapi ada juga yang berpandangan negatif tentang kopi.

Yang umum kita dengar adalah minum kopi asalkan tidak lebih dari dua gelas perhari, tidak akan berdampak negatif bagi kesehatan. Tapi tahukah anda bahwa sering minum kopi bahkan sampai 25 gelas se-hari tetap aman bagi arteri dan jantung?

Bagi para pencinta kopi, minuman istimewa ini dirasakan nyaman dan membantu rasa optimis menghadapi hidup, namun yang berpandangan negatif menganggap kopi dapat merusak kesehatan mereka. Orang khawatir rutin minum kopi yang mengandung kafein, bakal mengeraskan  arteri dan berisiko pada jantung.

Mengutip dari smithsonianmag.com, hasil penelitian terbaru dari sebuah universitas di London, Inggris, menyebutkan, sedikit minum kopi ataupun banyak bahkan sampai 25 gelas, tidak berdampak pada arteri.

Hasil penelitian yang menghebohkan itu datang dari Queen Mary University of London. Penelitian yang sebagian dananya berasal dari British Heart Foundation, mengamati kesehatan arteri dan pola konsumsi kopi pada 8.412 orang lebih.

Setiap peserta dikategorikan ke dalam satu dari tiga kelompok: mereka yang minum kurang dari satu cangkir per hari, mereka yang memiliki satu hingga tiga gelas dan mereka yang minum empat hingga 25 gelas setiap hari. Sedang yang  minum lebih dari 25 gelas per hari dikeluarkan dari penelitian, karena kemungkinan mereka terlalu gelisah untuk diperiksa. Para peserta semua menjalani pemindaian MRI dari jantung mereka dan tes gelombang pulsa infra merah, yang memeriksa kekakuan arteri.

Studi sebelumnya tampaknya menunjukkan bahwa minum kopi dikaitkan dengan pengerasan pembuluh darah, suatu kondisi yang menyebabkan stres pada jantung dan dapat menyebabkan peningkatan risiko serangan jantung dan stroke.

Namun, setelah mengoreksi faktor-faktor lain seperti merokok, konsumsi alkohol, tinggi badan, berat badan, diet, jenis kelamin, etnis dan tekanan darah, para peneliti menemukan bahwa konsumsi kopi tampaknya tidak mempengaruhi kesehatan arteri.

Penelitian ini dipresentasikan di British Cardiovascular Society Conference.

Apa yang kami temukan adalah bahwa minum lebih dari tiga cangkir kopi sehari tidak secara signifikan meningkatkan kekakuan pembuluh darah dibandingkan dengan orang yang minum satu cangkir atau kurang sehari.

Kenneth Fung, yang memimpin analisis data untuk penelitian ini, mengatakan kepada Amy Woodyatt di CNN, “Pesan utama yang ingin disampaikan adalah bahwa kopi dapat dinikmati sebagai bagian dari gaya hidup sehat, dan pecinta kopi dapat diyakinkan dengan hasil ini dalam hal hasil kekakuan pembuluh darah.”

Namun begitu kata Fung, pihaknya tidak menyarankan minum kopi sampai 25 gelas.” Pada intinya  kamu mengonsumsi kopi sesuai rekomendasi. Soal risiko pembuluh darah kamu mengeras tidak berbeda dengan orang yang hanya minum secangkir kopi dalam sehari,” ujarnya.

Dalam studi kelompok dengan konsumsi kopi paling tinggi rata-rata bisa menghabiskan lima cangkir kopi dalam sehari.

Penelitian baru ini pada akhirnya tidak menentukan apakah minum kopi adalah kebiasaan bersih atau tidak bersih yang sehat, hal ini setidaknya bisa membantu menghilangkan kekhawatiran kardiovaskular yang satu ini. ***ebn

Sutopo Beri Tips Ani SBY Cara Kurangi Efek Kemoterapi

Ani SBY–foto instagram

JAYAKARTA NEWS—Bagi penderita kanker, salah satu masa terberatnya adalah saat menjalani kemoterapi. Bukan hanya rasa sakit yang dirasakan, tapi berbagai hal yang tidak mengenakan lainnya. Yang pasti di masa itu stamina tubuh drop, nafsu makan turun, belum lagi rasa mual dan muntah, dll. Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data,  Informasi dan Humas BNPB Pusat mengalami masa-masa sulit itu.

“Menjalani kemoterapi pasti membuat stamina tubuh drop, nafsu makan turun, Hb darah turun, rasa mual, muntah, rambut rontok, dan tubuh rasanya tidak nyaman dan menyakitkan. Apalagi ditambah masih harus minum obat-obatan,” tulis Sutopo di instagramnya yang ditujukan kepada Ani SBY yang sedang menjalani pengobatan penyakit kanker yang dideritanya di Singapura.

Disatu sisi, katanya, tubuh kita harus tetap sehat karena harus menjalani kemoterapi berikutnya per 3 minggu sekali. “Saya juga pernah mengalami hal itu saat kemoterapi. Para survivor kanker pun juga merasakan hal yang sama seperti itu,” ujar Sutopo.

Sebagai sesama penderita kanker, Sutopo yang terkena kanker paru stadiun lanjut, berusaha menguatkan istri mantan Presiden RI itu. Lewat tulisannya di instagram dia juga mengungkapkan apa-apa yang dilakukannya guna mengurangi efek kemoterapi.

Menurut Sutopo, untuk mengurangi efek kemoterapi itu, perbanyak minum jus buah naga, bit dan buah lainnya. “Minum air putih yang banyak untuk melarutkan cairan kemo di tubuh. Makan ikan gabus atau yang protein tinggi. Minum penambah nafsu makan. Coba untuk meditasi untuk menenangkan hati,” tambahnya.

Dia berharap Ani Yudhoyono tetap semangat menjalani rangkaian pengobatannya, sabar serta ikhlas. “Ibu tidak sendirian. Kami survivor kanker selalu mendoakan ibu. Kita sama-sama saling menguatkan. Semoga Ibu cepat sembuh dan bisa berkumpul kembali dengan keluarga. Semangat ya Bu Ani SBY,” tutup Sutopo.***ebn

Orangtua vs Gorilla: Bagaimana Adiksi Mengalahkan Keluarga (Bag 2)

Foto merdeka com

Oleh: Joyce Djaelani Gordon

JAYAKARTA NEWS—Memang banyak orangtua yang tidak memahami drugs atau narkoba secara umum, apalagi mengenal narkoba sintetik yang marak saat ini. Sebagian orangtua yang dulu pernah bandel sekalipun, tidak memahami drugs jenis baru yang mengancam putra-putrinya. Alkohol, ganja mereka mungkin tahu … tetapi Sinthe? Apa itu?

Namun tidak tahu, bukan berarti drugs ini tidak bisa merenggut kesehatan jiwa anaknya, secara permanen. Dan sayangnya, itu yang sering terjadi.

Atau, orangtua yang tahu bahwa anaknya pakai shabu, dengan gaya milenial mungkin mengatakan “papa dulu juga pakai ganja. Kamu kalau coba-coba ganja saja nggak apalah.” Tidak disadari oleh ayah gaya milenial ini bahwa ganja jaman baheula tidak sama dengan ganja milenial karena ganja yang saat ini sudah merupakan hibrida yang bisa 3 atau 5 kali lebih kuat dari ganja kering di jaman baheula.

Banyak mereka yang membawa anak-anaknya ke tempat dokter, pemulihan atau rehabilitasi. Sebagian akan mengatakan, “Tolong rawat anak saya. Saya menginginkan dia sekolah lagi”. Hanya untuk menemukan, bahwa rawat jalan tetap memungkinkan mereka memakai dan memakai lagi. Obat dokter pun dicampur dengan drugs jalanan. Perilaku anak tidak berubah samasekali. Disupervisi sekalipun, betapa orangtua tidak tahu ketika anak melipir ke WC ketika di mall di bawah supervisi orangtuanya hanya untuk mengambil ‘pesanan’ lewat SMS.

Polda Jabar beberapa waktu lalu berhasil menggagalkan peredaran narkoba jenis tembakau gorilla yang dijual online—foto patrolicyber com

Mereka pun dibawa ke perawatan inap atau rehabilitasi. Namun, tak jarang orangtua takut-takut membawa mereka masuk rehabilitasi. Di antaranya adalah ketakutan bahwa si anak akan membenci mereka seumur hidup. Atau, mereka berharap orang lain tidak akan pernah tahu, sehingga si anak bisa sesewaktu ditarik karena ‘nenek dari luar kota mau berkunjung, dan nanti kalau tahu cucu kesayangannya masuk rehabilitasi, bisa-bisa dia serangan jantung atau karena ada ‘lebaran’ atau ‘natal’ dan takut keluarga besar akan tahu anak mereka masuk pemulihan.

Atau, orangtua bertanya kepada anaknya yang bermasalah dengan drugs, apakah dia mau masuk rehabilitasi, dan mengikuti kemauan anaknya. Meski ketika si anak ditanya, ia berada dalam kondisi mabuk. Ini bisa diumpamakan menghadapi keluarga yang anggota keluarganya menolak operasi usus buntu.

Suara siapa yang harus didengarkan? Pasien atau si dokter bedah? Sayangnya, orangtua yang tidak memahami kerap menganggap lebih tahu anaknya dan takut dibenci anaknya. Operasi usus buntu pun gagal karena anak pun dibawa pulang. Anda sudah tahu akibatnya, tentu. Ini pun kerap yang terjadi pada pecandu.

Overdosis, kematian akibat kecelakaan di bawah pengaruh drugs, melakukan tindakan mematikan saat di bawah pengaruh drugs, kecelakaan yang melumpuhkan, atau kerusakan otak permanen yang menyebabkan ketidakwarasan permanen.

Kalaupun masuk ke rehabilitasi, kerap orangtua tidak punya waktu untuk mendalami urusan penyakit anaknya. Seolah meletakkan mobil di bengkel, berharap keluar bengkel, si mobil langsung sempurna. Padahal, mobil dengan kelemahan tertentu, akan mempunyai kelemahan di titik yang sama berulangkali karena supirnya juga kan tidak berubah.

Dan keluarga, perlu banyak mempelajari jurus-jurus pamungkas merawat mobil sementara mobil berada di bengkel dan setelah pulang, untuk menghindari kerusakan yang sama. Begitu juga ketika mereka memasukkan anak mereka di dalam pemulihan. Mereka perlu belajar, agar dapat memastikan anak mereka bertahan bersih dan berkembang ke arah yang lebih baik. 

Seringkali orangtua menanyakan hal yang wajar sebetulnya. Anak saya pasti sembuh tidak? Atau, anak saya bisa sembuh atau tidak? Ini adalah pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Apakah sembuh diindikasikan oleh, hasil test negatif semata? Hm, itu mudah. Kunci di kamar, dan seminggu kemudian pun hasil test akan pasti dijamin negatif. Namun tidak seperti itu maksudnya, bukan?

Atau, apakah setelah upaya rehabilitasi atau pemulihan, anak itu akan sembuh dalam arti, ia tidak ingin pakai lagi, tegar mengatasi masalah hidup, berubahnya kepribadian, cara berpikir, teman-teman, sifat, dan lain-lainnya? 

Dan apakah, masa entah sebulan, tiga bulan, enam bulan atau setahun di rehabilitasi bisa mengubah anak yang tidak tegar menjadi mendadak tegar mengatakan tidak, bila sementara keluarga juga ewuh pakewuh, takut, merasa bersalah, dan ujung-ujungnya sulit mengatakan tidak kepada anaknya yang mungkin manja dan selalu memperoleh semua yang dimintanya tanpa harus bekerja keras?

Mampukah program apapun menganulir gemblengan keluarga selama belasan tahun dalam waktu singkat. Sementara ketika pulang, semua pelajaran diisolir, terlupa, dan keluarga kembali ke cara-cara sebelumnya?

Dan bila seseorang didiagnosa dengan penyakit diabetes, adakah istilah ‘sembuh’ sebetulnya? Bukankah penyakit kronis, sebagaimana halnya adiksi, hanya bisa dikendalikan, bukan disembuhkan? Sebagaimana orang dengan diabetes, dia tidak akan pernah dinyatakan ‘sembuh’ dari diabetes?

Begitu pula dengan kondisi darah tinggi. Dan bisakah kita mengatakan seseorang sembuh bila ia harus memakai obat seumur hidup? Tentu tidak. Penyakitnya dikendalikan oleh obat dan perubahan gaya hidup. Begitu juga halnya dengan adiksi.

Namun tidak ada orang yang betul merasa sehat bila setiap hari ia harus minum obat. Karena ini juga selalu menjadi pengingat bahwa kondisinya fatal bila berhenti minum obat, dan bahwa ia ‘sakit’. Dan obat, kerap pun menjadi racun yang mengakibatkan kerusakan lain bila dicampur-campur, tidak diawasi dan tidak berhati-hati.

Orangtua yang lainnya, menganggap bahwa bila mengawinkan anaknya, maka anaknya akan menjadi orang yang bertanggung jawab. Padahal, bila mengurus diri sendiri masih sulit, apakah bisa diharapkan mengurusi anak orang? Seringkali perceraian terjadi, kekerasan di dalam rumah tangga, atau justru suami istri bersama-sama memakai drugs. Cucu, akhirnya diurus oleh orangtua mereka dan mereka tetap harus membiayai rumah tangga anak.

HAMBAT PERTUMBUHAN MENTAL

Orangtua juga kerap tidak menyadari, selama anak memakai drugs apapun, pertumbuhan mental mereka terhambat. Seseorang yang memakai drugs dari usia 15 tahun, akan tetap bersikap seperti anak usia 15 tahun di usianya yang ke 25 bila tidak berhenti menggunakan drugs hingga di usia 25 tahun.

Masuk ke perawatan, panti rehabilitasi, harus membantu mengejar ketertinggalan perkembangan mental dan emosional anak yang berusia 25 tahun ini yang masih mempunyai sifat dan emosi anak usia 15 atau 16 tahun. Kehilangan waktu 10 tahun dalam masa perkembangan, tidak bisa dikejar dalam waktu sebulan, tiga bulan, enam bulan. Karena bukankah jarak antara titik A ke titik B, sama dengan jarak antara titik B ke titik A?

Sore ini seorang ibu berkonsultasi untuk memulihkan anaknya yang kecanduan gorilla, dan berharap, anaknya bisa sembuh. Menjelaskan ini tidaklah mudah karena struktur pemahaman orangtua akan adiksi belum ada.

Yang pasti ancaman kerusakan otak permanen pada anaknya akibat pemakaian Sinte tidak bisa dibayangkannya. Ancaman anak masuk penjara tidak dibayangkannya, kecelakaan di bawah pengaruh drugs dan alkohol tidak menakutkannya …… karena bukankah itu baru gambaran resiko?

Namun ia lebih bisa membayangkan kemarahan anaknya bila dimasukkan ke perawatan apapun. Dan pada itu, dia takut …..

Begitulah adiksi menang dan menang lagi ….***SELESAI

Orangtua Vs Gorilla: Bagaimana Adiksi Mengalahkan Keluarga (Bag 1)

Ilustrasi–foto istimewa

Oleh: Joyce Djaelani Gordon

JAYAKARTA NEWS— Bayangkan saja cerita keluarga yang kita namakan saja Bapak dan Ibu Dirga. Banyak anggota keluarga Dirga, paman/tante dan teman-teman keluarga Dirga sebetulnya sudah melihat gejala masalah drugs ini pada anak Bapak dan Ibu Dirga, si Dino. Tapi mereka diam.

Mereka diam karena takut salah bila menyampaikan kecurigaan mereka ini kepada Bapak atau ibu Dirga. Mereka menghargai persahabatan, juga tak ingin dianggap ‘kepo’ atau ikut ngerusuhi urusan dalam negeri keluarga Dirga dan membuat marah.

Teman-teman anak Bapak/Ibu Dirga sebenarnya sudah sangat ingin menyampaikan kepada Bapak/Ibu Dirga, tapi takut diterima secara salah. Mereka juga tidak mau disemprot oleh Bapak dan Ibu Dirga. Budaya tidak enakan ini seringkali menjadi masalah juga. Mereka hanya bisa berharap orangtua Si Dino tahu perilaku anaknya. Namun sebagian lainnya berpikir, mana mungkin sih orangtua Si Dino tidak tahu prilaku anaknya. Pasti, mereka melindungi kerusakan anaknya dari orang lain dan hanya berlagak bodoh.

Ujung-ujungnya, Si Dino masuk rumah sakit. Masuk RS, karena kejang-kejang sehingga terjadi  kecelakaan bermotor. Dan ganja sintetik adalah penyebabnya di baliknya. Bayangkan betapa kagetnya orangtua ketika diberitahu teman-teman anaknya bahwa anaknya memakai ganja sintetik atau Sinte alias Gorilla. Ujungnya, marah juga kepada semua teman-temannya itu.

Bapak/Ibu Dirga tidak pernah tahu urusan drugs. Mereka tidak pernah mencoba narkoba apapun. Tidak terbayang oleh mereka bahwa anak mereka akan bermasalah dengan drugs. Bukankah mereka sudah memberikan segalanya? Bukankah mereka sudah melindungi anak mereka? Bukankah mereka sudah bekerja keras memastikan bahwa semua kebutuhan anak terpenuhi? Dan, sejuta ‘bukankah’ yang lain.

Menengok ke belakang, mereka mulai melihat, itukah mengapa nilai-nilai sekolahnya mulai turun? Itukah mengapa ia jarang mau makan di rumah bersama keluarga? Itukah mengapa ia pergi dengan teman-temannya dengan dalih belajar bersama? Itukah mengapa barang-barang pemberian orangtua satu per satu hilang? Itukah mengapa ia selalu bokek dan minta uang?

Itukah mengapa ia kadang kurang ajar? Itukah mengapa ia banyak menuntut? Itukah mengapa jawaban terhadap SMS orangtuanya selalu aneh dan tak menjawab pertanyaan dengan langsung? Itukah mengapa kebanyakan teman-teman lamanya tak pernah muncul ke rumah lagi? Itukah mengapa kalau di rumah ia selalu menghindari keluarga? Itukah mengapa ia lebih sering di kamar, kalau di rumah dan menghindari orangtuanya? Dan beribu ‘itukah mengapa’ lainnya. 

Ini adalah kisah fiktif, mencampur kisah dari beberapa keluarga, beberapa pecandu, beberapa kisah, namun satu penyebab ….. drugs!

MENGENAI KAUM MUDA

Kebanyakan pecandu menggunakan narkoba pada masa remaja, sekitar usia SMP atau SMA. Bermula dari mencoba miras dan ganja, mereka yang kecanduan berlanjut ke zat lain yang lebih keras, seperti heroin (putaw) atau methampethamine (shabu). Di tahun 2019 ini, beberapa pusat perawatan narkoba mulai melihat peningkatan anak-anak di bawah 20 tahun yang sudah kecanduan. Membuat miris.

Obat daftar ‘G’ dijual bebas secara online—gambar istimewa

Saat ini gorilla atau ganja sintetik marak. Kebanyakan anak yang terkena adalah anak-anak di bawah 20 tahun. Mereka bisa mencari online, dapat kiriman dari belanja online. Obat-obatan yang entah asli atau tidak, bahkan termasuk obat yang di bawah pengawasan bisa dibeli dengan penamaan yang dirubah sedikit atau dijual sebagai herbal. Pengawasan longgar, namun masyarakat umum kerap tidak pernah tahu harus melapor kemana soal pelanggaran ini.

Simak juga kisah Rino, pemuda berusia 16 tahun yang sudah mengkonsumsi ganja dan beragam pil dokter untuk dikonsumsi bersama miras sejak ia berusia 13-14 tahun. Orangtua awalnya membawanya ke dokter ketika ia mengaku memakai ganja. Karena itu, ia diberikan obat oleh dokter untuk rawat jalan.

Namun, bukan berhenti, ia malah menyalahgunakan obat dokter, dan mencampurnya dengan miras dan ganja. Terakhir, ketahuan menggunakan shabu dan tertangkap polisi. Ia dimasukkan ke rehabilitasi.

Sumber informasi Rino tentang narkoba, hanyalah dari teman-temannya. Ia mengaku atau berdalih bahwa ia tidak nyaman menolak dorongan teman-temannya untuk menggunakan. Awalnya ia tidak suka, namun pemakaian kedua ia mulai menikmatinya.

Tetapi itu sama seperti mengaku ketabrak sekali tidak enak, namun sengaja menabrakkan diri kedua kalinya. Dalam waktu mingguan, ia sudah menjadi pemakai rutin dan akhirnya kecanduan dan meningkat ke pemakaian narkoba lainnya.

Mungkin, bila ia mendengar informasi pencegahan sebelum ia mencobanya, ia akan lebih terlindung. Kalau saja di sekolahnya ia memperoleh informasi yang mumpuni mengenai bahaya narkoba, dan strategi untuk menolaknya, ia mungkin bisa terhindar dari narkoba.

Klise memang. Namun usia remaja memang merupakan masa terpenting dalam hidup, namun kerap bukan masa dimana semua informasi sudah dikuasai dan tersedia. Padahal, narkoba merusak semua masa depannya bila tidak berhati-hati.

Doni ( 40 tahun), masuk rehabilitasi kembali karena menggunakan shabu. Dia sudah berulangkali masuk rehabilitasi dan sudah berulangkali pakai-berhenti narkoba. Ia menggunakan sejak saat masih usia 18 tahun, ketika ia masuk kuliah.

Jauh dari orangtua. Orangtua tidak tahu kalau anaknya ternyata tidak menyelesaikan kuliahnya. Si anak mengaku sudah menyandang gelar sarjana. Belakangan, orangtua Doni menemukan kalau ternyata anaknya sudah lama tidak kuliah. Bahkan sejak tingkat kedua, ia tidak pernah masuk kuliah sama sekali. Sementara, orangtuanya selama ini rajin membayar kuliahan ke Doni dan memenuhi semua permintaannya yang terkait dengan kuliahnya.

Bayangkan kekagetan kedua orangtuanya saat itu. Namun Doni hanyalah satu dari sekian banyak ‘cerita’ soal pecandu. Pada usianya yang memasuki 40 tahun, kedua orangtua masih terus menyokongnya. Doni tidak pernah berhasil bekerja lama. Pada usianya yang ke 40 tahun ini, ia masih banyak bermain, seperti layaknya anak usia 18 tahun. ***

Kimia Farma Rogoh Rp 1,36 T untuk Akuisisi Phapros

JAYAKARTA NEWS – PT Kimia Farma (Persero) Tbk (Kimia Farma) mengakuisisi 68% saham PT Phapros Tbk (Phapros), anak perusahaan PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) (RNI), sebagai langkah strategis untuk menguatkan sinergi perusahaan-perusahaan BUMN.

Akuisisi tersebut ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Jual Beli (Sales & Purchase Agreement) Saham. Dengan langkah akuisisi tersebut, kedua perusahaan pelat merah itu, siap bersinergi untuk mendorong pertumbuhan industri farmasi di tanah air. Targetnya adalah, mengoptimalkan akses layanan dan produk kesehatan (healthcare) yang bermutu tinggi dan terhangkau masyarakat.

“Akuisisi Phapros oleh Kimia Farma merupakan wujud dari sinergi BUMN untuk meningkatkan portofolio produk dari Kimia Farma dan Phapros serta nantinya akan mendorong terciptanya efisiensi,” kata Deputi Bidang Usaha Industri Agro dan Farmasi Kementerian BUMN RI, Wahyu Kuncoro, Rabu (27/3/2019).

Pemerintah berharap, bergabungnya Phapros dengan Kimia Farma akan banyak membawa sejumlah manfaat bagi masyarakat dan negara.

Menurut Wahyu, langkah strategis akan memperluas akses layanan kesehatan dan produk farmasi dalam mendukung program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk rakyat Indonesia.

Sinergi kedua BUMN itu juga akan menciptakan efisiensi biaya operasional dan distribusi barang, meningkatkan diversifikasi portofolio produk, serta memperkuat jaringan produksi.

Direktur Utama Kimia Farma Honesti Basyir mengatakan, sebagai salah satu ujung tombak industri healthcare yang dimiliki negara, perusahaannya komit untuk memajukan industri farmasi demi terwujudnya kesehatan masyarakat yang berkualitas.

“Semoga dengan bergabungnya Phapros dengan Kimia Farma dapat memperkuat dan memperluas layanan kesehatan kepada masyarakat,” ujar Honesti.

“Ini menjadi salah satu momentum bersejarah bagi RNI dalam mendukung penuh sinergi BUMN. Sebagai agen pembangunan negara, kami turut mendorong tercapainya cita–cita pemerintah termasuk dalam percepatan pengembangan industri farmasi dan alat kesehatan,“ kata Direktur Utama RNI, B. Didik Prasetyo.

Bagi RNI, aksi korporasi ini bagian dari upaya mempercepat agenda transformasi RNI melalui pengembangan bisnis baru, untuk fokus memperkuat lini bisnis eksisting yang menjadi prioritas, diantaranya distribusi, perdagangan dan properti.

Dengan akuisisi ini, Kimia Farma memiliki saham mayoritas Phapros sebanyak 476.901.860 saham, yang merupakan 56,77% saham yang dimiliki oleh RNI dengan nilai akuisisi sebesar Rp1,36 triliun.***