JAYAKARTA NEWS—
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian bersama sejumlah pejabat terkait
mendampingi Presiden Joko Widodo untuk meninjau langsung pembersihan Bandara
Soekarno Hatta di Tangerang, Banten, pada Jumat (13/03/2020). Hal ini
sehubungan dengan langkah pemerintah untuk melihat kesiapan fasilitas umum
dalam mengantisipasi virus korona atau Covid-19.
Selain Mendagri, tampak turut mendampingi yakni Kepala BIN
Budi Gunawan, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kapolri Jenderal Idham
Azis, Menko Maritim Luhut Pandjaitan, Menteri BUMN Erick Tohir, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, dan
Kepala BNPB Doni Monardo.
Presiden Tinjau Pembersihan Bandara Soekarno-Hatta, Jumat (13/3/2020)–foto puspenkemendagri
“Baru saja tadi saya mengecek, mengontrol hal-hal apa
saja yang telah dilakukan baik di tempat-tempat publik seperti airport. Tadi
pagi kita menyisir Istiqlal dan sudah kita mulai dengan disinfektan. Kalau
airport, pelabuhan, dan stasiun saya kira Pemerintah sebetulnya sudah
melakukannya dari seminggu yang lalu, tapi saya ingin memastikan bahwa ini
dilakukan setiap hari,” kata Presiden.
Presiden juga meyakinkan masyarakat bahwa pemerintah terus
berupaya untuk melakukan penanganan secara serius terhadap virus yang kini
telah ditetapkan sebagai pandemi oleh WHO itu.
foto puspenkemendagri
“Saya sampaikan bahwa penanganan Covid-19 terus menjadi
perhatian kita. Memang ada yang saya sampaikan dan ada yang tidak, karena kita
tidak ingin menimbulkan keresahan dan kepanikan di tengah masyarakat. Kita
semuanya berusaha keras menangani dan mengatasinya,” terangnya.
Untuk itu, ia meminta masyarakat untuk tidak panik, tetap tenang,
di samping melakukan pola hidup sehat dan menjaga imunitas.
“Di saat yang bersamaan kita tidak ingin menciptakan
rasa panik, tidak ingin menciptakan keresahan di tengah masyarakat. Oleh sebab
itu, kita tetap harus tenang dan berupaya keras menghadapi tantangan ini,”
ujarnya.
Dalam kegiatannya tersebut Presiden meninjau sejumlah alat
dan tempat sterilisasi. Mulai dari alat pemindai suhu tubuh (Thermal Scan) yang
dipasang di sepanjang koridor bandara, maupun thermal gun yang dibawa oleh
sejumlah petugas Bandara. ***kemendagri/ebn
JAYAKARTA NEWS—
Kementerian Dalam Negeri melalui Kepala Pusat Penerangannya, meminta seluruh Pemerintah Daerah untuk
mengaktifkan Juru Bicara (Jubir) guna menjelaskan kepada masyarakat terkait isu
virus corona.
“Seluruh Pemda diharapkan mengaktifkan Jubir untuk
menjelaskan kepada publik dan pers terkait isu corona, jangan sampai terjadi
simpang siur,” kata Kepala Pusat Penerangan Kemendagri Bahtiar, Selasa
(03/03/2020), sebagaimana dikutip dari rilis Puspen Kemendagri.
Pengaktifan Jubir di Pemda dilakukan guna mencegah
kebohongan dan ketidakjelasan informasi di tengah masyarakat. “Hal tersebut
penting dilakukan untuk mencegah hoax atau ada kejelasan informasi publik
terkait wabah korona,” jelasnya.
Jubir Pemda juga diminta berkoordinasi dengan dinas
kesehatan maupun instansi terkait agar mampu memberikan pemahaman terkait
kesehatan maupun virus corona.
“Jubir tersebut harus terkoordinasi dengan Dinas
Kesehatan sebagai leading sektor dalam penanganan soal kesehatan termasuk
terkait wabah virus corona,” pungkasnya.
Penunjukan juru bicara di lingkungan Pemda juga didukung
dengan dikeluarkannya Surat Edaran nomor 480/3502/SJ kepada Gubernur dan
480/3503/SJ tanggal 6 Mei 2019 kepada Bupati/Walikota tentang Penunjukan Juru
Bicara di Lingkungan Pemerintah Daerah.***/ebn
JAYAKARTA NEWS—
Saat ini ada 9 anak buah kapal (ABK) Diamond Princess yang merupakan warga
negara Indonesia (WNI) positif Covid-19 dan ABK yang negatif Covid-19 masih
berada di dalam kapal. Nantinya, pasca penjemputan ABK tersebut akan
diobservasi selama 2 kali masa inkubasi atau 28 hari.
Demikian keterangan pers dari Biro Komunikasi dan Pelayanan
Masyarakat.
Keputusan inkubasi 28 hari itu berdasarkan beberapa
pertimbangan. Sesditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, dr.
Achmad Yurianto menjelaskan diputuskannya 28 hari masa observasi ditengarai
seiring terjadinya kasus positif Covid-19 terutama di Cina.
Selain itu adanya fakta bahwa
warga negara Amerika yang merupakan penumpang Kapal Diamond Princess semula
diperiksa hasilnya negatif Covid-19, menjadi positif Covid-19 setelah lebih
dari 21 hari.
“Artinya kita harus
berhati-hati setelah karantina 14 hari pertama. Ini yang membuat kita berpikir
bahwa seharusnya untuk ABK Diamond Princess harus dilakukan observasi
setidaknya 2×14 hari,” kata dr. Achmad.
Saat ini kapal tersebut masih
berlabuh di Pelabuhan Yokohama. Terkait proses penjemputan, Ia mengatakan bahwa
pada prinsipnya semua ABK akan dijemput namun masih perlu diplomasi antara
Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Jepang.
Evakuasi akan dilakukan dengan
menggunakan pesawat terbang, sehingga perlu pengaturan khusus soal pemindahan
WNI ABK dari Kapal Diamond Princess ke pesawat penjemput. Pasalnya, ABK yang
akan dievakuasi tidak mungkin menunggu di bandara seperti penumpang biasa. Para
ABK diharapkan secepatnya dapat berpindah dari kapal ke pesawat penjemputan.
“Ini yang akhirnya membutuhkan
penjadwalan ketat dan sampai saat ini kami masih belum mendapatkan kepastian
kapan akan berangkat untuk menjemput WNI ABK,” ucap dr. Achmad. ***/ebn
JAYAKARTA NEWS—Memasuki pekan ketiga Februari 2020, berarti
sudah satu bulan berlalu sejak pertama virus Covid-19 menjangkiti manusia. Para
ahli bekerja siang dan malam demi menemukan vaksin penangkal atau obat
penyembuh penyakit akibat virus itu.
Didera penyakit yang mengakibatkan suhu tubuh melonjak
hingga mencapai 39 derajat Celsius, seorang mahasiswa berusia 21 tahun di
Tiongkok sempat mengira dirinya sudah tiada. “Saya pikir, saya sedang mengetuk
pintu neraka,” katanya seperti dikutip dari
Mirror.
Namanya mahasiswa itu adalah Tiger Yee. Dia berasal dari
Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok, tempat pertama kali ditemukannya penyakit
akibat virus Covid-19, pada akhir Desember 2019. Wuhan merupakan sebuah kota
pelabuhan dengan 11 juta orang.
Pada 1 Januari 2020, Pasar Grosir Makanan Laut Huanan di
Kota Wuhan ditutup. Penyebabnya, beberapa pekerja di pasar itu diketahui
terjangkit virus tersebut.
Yee merupakan penyintas penyakit akibat virus mematikan itu.
Nyawanya selamat setelah mengkonsumsi kaletra, yakni obat yang biasa digunakan
untuk mengobati HIV.
Yee sembuh setelah sepanjang tiga pekan terpaksa menjalani
perawatan di rumah sakit dan rumah akibat terinfeksi virus Covid-19.
Foto dok pkk kemenkes
Ditengarai, sebagaimana dituturkan Yee, dikutip dari Express.co.uk, virus Covid-19 mulai
menembus pertahanan tubuhnya tatkala dia mengikuti kursus bahasa di sebuah
sekolah, pada awal Januari 2020. Sekolah itu lokasinya berdekatan
dengan pasar ikan Wuhan.
Pada pertengahan Januari, dalam kurun waktu inkubasi, Yee
mulai merasakan gejala terserang virus tersebut. Yang pertama dirasakannya
adalah sakit di bagian perut. Dan lantaran rasa sakit itu disertai dengan
gejala flu, maka dia pun mulai mengonsumsi obat flu.
Alih-alih sembuh, kian hari kondisi kesehatan Yee diketahui
makin menurun. Gejala sakit yang dirasakannya kian parah. Hingga sekira hari keempat
meringkuk di tempat tidur, ayah Yee mulai menyadari sesuatu yang serius tengah
menimpa anaknya itu.
“Ketika itu, tubuh saya demam lumayan tinggi. Tak hanya
itu, saya juga merasakan nyeri yang menyiksa setiap bagian tubuh saya. Saya
juga menderita batuk yang sangat parah, seperti orang yang akan mati,”
katanya.
Menyadari kondisi Yee sudah sangat buruk, keluarganya segera
melarikannya ke Rumah Sakit Tongji untuk mendapatkan perawatan. “Saya
takut ketika itu. Sebab, setiap dokter di rumah sakit itu mengenakan pakaian
aneh, seperti pelindung tubuh, yang belum pernah saya lihat sebelumnya,”
papar Yee.
Di rumah sakit itu, Yee menjelaskan, kemudian dirinya
diminta untuk menjalani pemeriksaan menggunakan CT scan. Hasilnya, Yee diduga
terinfeksi virus Covid-19. Persoalannya menjadi semakin serius karena
ditengarai, virus itu sudah menyebar ke paru-parunya.
Kendati dari hasil pemeriksaan itu kuat dugaan bahwa Yee
menderita penyakit akibat virus mutan tersebut, tim dokter di rumah sakit itu
menolak melakukan tes diagnostik terhadap Yee.
Alasan yang diperoleh pihak keluarga Yee ketika itu adalah
rumah sakit sedang kehabisan tes kit.
Menghadapi situasi serupa itu, Yee tidak memiliki pilihan
selain menjalani pengobatan secara mandiri di rumahnya. Sambil terus meminum
obat ala kadarnya yang dimilikinya. Hingga pada suatu malam, suhu tubuh Yee
melonjak hingga mencapai 39 derajat Celcius.
Merespons kondisi kesehatannya yang kian mengkhawatirkan,
Yee kembali dilarikan ke rumah sakit. Ketika itulah, dokter di rumah sakit tersebut
pun meresepkan “obat mujarab” yang kelak menyelamatkan nyawa Yee. Nama obah itu
adalah Kaletra. Obat itu biasa digunakan untuk mengobati para penderita HIV.
Selain diberi Kaletra, dokter di rumah sakit juga memberi
bekal Yee, cairan infus. Setelah menjalani perawatan selama sembilan
hari, Yee pun mulai merasakan kesembuhan menghampiri dirinya. Dan akhirnya,
pada 7 Februari 2020, Yee dinyatakan bersih dari virus Covid-19 yang
menyebabkan masalah kesehatannya selama lebih dari tiga minggu.
Yee sendiri merupakan satu diantara ribuan pasien yang dapat
dipulihkan dari virus corona. Berdasarkan data Pemerintah Provinsi Hubei, Senin
(17/2/2020) pagi, korban virus corona yang tewas sudah tembus 1.700 lebih jiwa.
Pemerintah Tiongkok juga melaporkan 1.933 kasus baru. Jadi
total pasien terinfeksi corona di seluruh dunia menjadi 70.400 orang.
salah satu kegiatan teman-teman kita dari Wuhan yang sedang dilakukan observasi kesehatannya oleh tim medis di Natuna–foto dok pkk kemenkes
Berlomba Menemukan
Selama hampir 1,5 bulan sejak virus jahanam itu
kedapatan menghantui warga dunia, beragam inovasi dilakukan demi bisa
melumpuhkannya. Sebagaimana ditegaskan Direktur Organisasi Kesehatan Dunia
(WHO) Tendros Adhanom Ghebreyesus, ilmu pengetahuan menjadi bagian yang sangat
penting dalam pengendalian wabah virus Covid-19.
Bertolak dari kesadaran itulah, WHO mengadakan forum
penelitian dan inovasi global demi memobilisasi aksi internasional
sebagai respons terhadap virus Covid-19.
“Memanfaatkan kekuatan sains sangat penting untuk
mengendalikan wabah ini,” kata Ghebreyesus, dikutip dari laman WHO.
WHO berperan menyatukan bidang ilmiah demi mengidentifikasi
dan mempercepat penelitian. Forum yang diadakan pada 11-12 Februari di Jenewa,
Swiss, diselenggarakan dengan kolaborasi bersama Global Research Collaboration
and Infectious Disease Preparedness (GLOPID-R). GLOPID-R merupakan jaringan
internasional yang memfasilitasi respons cepat dan efektif terhadap wabah
penyakit menular.
Forum itu mempertemukan banyak ahli, termasuk ilmuwan
terkemuka dari lembaga kesehatan masyarakat, kementerian kesehatan, dan
penyediaan dana dalam pengembangan vaksin Covid, terapi, dan diagnostik (ilmu
untuk menentukan jenis penyakit berdasarkan gejala).
Pertemuan itu juga membahas beberapa bidang penelitian,
termasuk mengidentifikasi sumber virus, sampel biologis, dan urutan genetik.
Memang tak seperti wabah sebelumnya yang dibutuhkan waktu
bertahun-tahun untuk mengembangkan vaksinnya, riset untuk mengatasi virus
Covid-19 sudah berlangsung beberapa jam sesudah virus itu dikenali. Pemerintah
Tiongkok telah menyebarkan kode genetiknya dengan cepat.
Perkembangan teknologi dan komitmen dari berbagai pemerintah
untuk mendanai riset soal penyakit baru membuat banyak fasilitas riset yang
bisa memulai pekerjaan mereka dengan kecepatan yang belum pernah ada
sebelumnya.
Di laboratorium Inovio di San Diego, misalnya, ilmuwan
menggunakan teknologi DNA baru untuk membuat potensi vaksin.
Vaksin yang diberi nama sementara “INO-4800 ” ini
rencananya akan diujicobakan kepada manusia pada musim panas tahun ini.
“Saat Tiongkok menyediakan rangkaian DNA virus ini, kami bisa memeriksanya
di komputer kami dan merancang vaksinnya dalam tiga jam,” kata Kate
Broderick, wakil presiden riset dan pengembangan di Inovio.
Kate menambahkan, “Mesin vaksin DNA kami ini baru
karena memakai rangkaian DNA dari virus untuk menyasar bagian khusus patogen
yang kami yakini akan direspons oleh tubuh manusia dengan cara terbaik. Lalu
kami pakai sel dari pasien sendiri untuk menjadi pabrik vaksin itu, memperkuat
mekanisme respons alamiah tubuh.”
Pengembangan virus ini didanai Coalition for Epidemic
Preparedness Innovations (CEPI), yang terdiri dari organisasi pemerintah dan
lembaga amal dari seluruh dunia.
Lembaga ini dibentuk setelah wabah Ebola di Afrika Barat,
menyediakan dana untuk mempercepat pengembangan vaksin bagi penyakit baru.
Dr Melanie Saville, Direktur Riset Vaksin di CEPI,
mengatakan, “Misinya adalah untuk memastikan bahwa wabah ini tidak lagi
jadi ancaman bagi manusia dan mengembangkan vaksin bagi penyakit menular yang
muncul.”
Sementara itu, University of Queensland sedang mengerjakan
vaksin “capit molekuler” yang disebut memungkinkan produksi vaksin
cepat dan terarah untuk melawan beberapa virus patogen sekaligus. Satu lagi
adalah Moderna Inc di Massachusetts yang bekerja sama dengan US National Institute
of Allergy and Infectious Diseases dan tengah mempercepat riset mereka.
WHO kini mengkoordinasikan upaya global pencarian vaksin
baru. Mereka menyatakan mengikuti perkembangan sejumlah lembaga riset, termasuk
tiga yang didukung oleh CEPI. Sekalipun upaya pengembangan vaksin ini
dipercepat, riset-riset ini masih dalam tahapan awal. WHO akan segera
memutuskan vaksin mana yang akan diuji coba kepada manusia dalam beberapa hari
ini.
Obat Antimalaria
Masih terkait upaya memberangus aksi virus itu, langkah maju
juga dilakukan para pakar Tiongkok. Mereka mengonfirmasi bahwa berdasarkan
hasil uji klinis, obat antimalaria, Chloroquine Phosphate, memiliki efek
penyembuhan tertentu pada penyakit akibat virus Covid-19.
Wakil Kepala Pusat Pengembangan Bioteknologi Nasional
Tiongkok Sun Yanrong, di bawah Kementerian Sains dan Teknologi, dalam
konferensi pers seperti dilansir kantor berita Xinhua, Selasa
(18/2/2020), menyebutkan bahwa para pakar “sepakat” mengusulkan agar
obat tersebut dimasukkan dalam versi baru panduan pengobatan Covid-19 dan
diterapkan dalam uji klinis yang lebih luas secepat mungkin.
Sun mengatakan, Chloroquine Phosphate yang telah digunakan sebagai obat antimalaria selama lebih dari 70 tahun, dipilih dari puluhan ribu obat yang telah ada setelah melewati beberapa putaran screening.
Menurut Sun, obat tersebut telah digunakan dalam uji klinis di lebih dari 10 rumah sakit di Beijing, serta di Provinsi Guangdong, Tiongkok Selatan dan Provinsi Hunan, Tiongkok Tengah, dan menunjukkan khasiat yang cukup baik. Kita tunggu saja hasil penemuan obat antivirus dari berbagai belahan dunia itu dan harapannya ampuh melawan penyakit mematikan tersebut.***sumber: indonesia.go.id/ebn
Penyelenggara Pos diharapkan melakukan identifikasi yang
dibutuhkan terhadap barang-barang kiriman pos, khususnya dari Tiongkok dan
Hongkong, serta negara-negara yang telah terdampak Novel Coronavirus. Dalam
kegiatan operasional, khususnya barang kiriman impor agar menerapkan Standar
Operasional Prosedur (SOP) dan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Demikian disampaikan Direktorat Pos Direktorat Jenderal
Penyelenggaraan Pos dan Informatika (Ditjen PPI) Kementerian Kominfo guna mengantisipasi
penyebaran Virus Corona atau Novel Coronavirus (Covid -19) melalui pengiriman
barang. Demikian dikutip dari siaran
pers yang disampaikan Ferdinandus Setu, Ptl Kepala Biro Humas Kementerian
Kominfo yang diterima redaksi, Sabtu, (15/02/2020).
Imbauan tersebut disampaikan kepada pimpinan Pos Indonesia,
DPP Asperindo serta para pimpinan atau penanggung jawab penyelenggaraan pos
berdasarkan Surat tertanggal 10 Februari 2020 yang ditandatangani oleh Direktur
Pos Ikhsan Baidirus.
“Imbauan tersebut berdasarkan tembusan bersama antara Dirjen
Penyelenggaraan Pos dan Informatika (PPI) Kementerian Kominfo, Dirjen Bea dan
Cukai Kementerian Keuangan, Kepala Badan Karantina serta Plt. Direktur
Pengendalian Pos dan Informatika”.
Selain itu, Direktorat Pos Kementerian Kominfo juga meminta
penyelenggara Pos untuk tidak melakukan pengiriman barang yang telah dilarang
berdasarkan kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementerian dan Lembaga-Lembaga
Pemerintah terkait dengan antisipasi penyebaran novel coronavirus.
Penyelenggara Pos juga dapat melaporkan kepada Badan
Karantina, Bea dan Cukai serta instansi Pemerintah lainnya yang berwenang
apabila ditemukenali potensi jenis risiko penularan melalui barang, terutama
jenis barang yang dapat menjadi media pembawa penyebaran novel coronavirus.
Kementerian Kominfo berharap, seluruh Penyelenggara Pos
untuk terus berpartisipasi aktif mencegah penyebaran Novel Coronavirus atau
Covid- 19 agar tidak masuk ke Indonesia, terutama melalui kiriman barang.***/ebn
JAYAKARTA NEWS—
Pemerintah menjamin pemulangan Warga Negara Indonesia (WNI) dari Wuhan, Cina,
yang kini dikarantina tidak membahayakan masyarakat di Natuna. Hal itu
diungkapkan Menkopolhukam Mahfud MD, yang juga didampingi Mendagri dan Menkes
saat menggelar konferensi pers usai melakukan pertemuan dengan Bupati Natuna di Kantor Kemenko Polhukam Jakarta, Selasa
(04/02/2020).
“Pemerintah menjamin bahwa penyelesaian pemulangan
warga negara Indonesia itu dilakukan dengan aturan, tidak membahayakan
masyarakat Natuna, dan sampai menjamin secara resmi. Bapak Menkes tadi
mengatakan, menjaminkan badannya untuk bertindak lebih dulu daripada menghadapi
risiko-risiko itu, jadi lebih tinggi dari sekadar menjamin,” kata
Menkopolhukam.
Menkopolhukam juga meminta masyarakat terutama di Natuna
untuk memperbaharui informasi dan tak mempercayai berita bohong yang dapat
memprovokasi.
Konferensi Pers dihadiri Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, Bupati Natuna dan Wakil Bupati Natuna, Ketua DPRD Natuna, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda Natuna–foto puspen kemendagri
“Diharapkan masyarakat, Pemda, dan tokoh-tokoh pemuda
di Natuna sering mengecek informasi ke pusat, ke posko-posko, dan lain
sebagainya, untuk tidak percaya pada berita bohong, hoaks, yang bisa
mendramatisir masalah yang sebenarnya tidak ada apa-apa,” ujarnya.
Ia juga mengaku adanya miskomunikasi yang terjadi dengan
Pemerintah Daerah Natuna diakibatkan karena perkembangannya yang dinamis dan
cepat.
“Memang terjadi semacam miskomunikasi, bukan
keterlambatan informasi, karena Pemerintah begitu mendapat green light (lampu
hijau) untuk memulangkan saudara-saudara kita WNI, langsung mengambil langkah
cepat mengambil tempat di Natuna yang dianggap tepat dan mudah, paling aman dan
melekat dengan instalasi militer untuk dilakukan sesuatu dengan tepat.”
“(Namun) timbul kesalahpahaman karena komunikasi dengan
Pemda dan rakyat Natuna agak terlambat, karena diikuti dengan semua media massa
bahwa perkembangannya dari menit ke menit, dan kita melakukan tindakan yang
tepat,” jelas Menkopolhukam.
Di samping itu, Pemerintah juga menjamin WNI yang
dipulangkan dari Wuhan dalam kondisi sehat, namun perlu dilakukan beberapa
tindakan sesuai standar internasional.
“Semua yang sekarang ada di Natuna yang dipulangkan
dari RRC itu dalam keadaan sehat, cuma untuk melakukan standar internasional
maka dilakukan hal seperti sekarang ini, dikarantina dulu, diperiksa setiap
hari, dengan catatan Menkes berada paling depan di bidang ini,” kata
Menkopolhukam.
Pihaknya juga berencana akan bertolak ke Natuna dalam waktu
dengan beberapa pejabat terkait. Selain meninjau langsung, kedatangan
Menkopolhukam juga dalam rangka berdoa meminta keselamatan bagi seluruh bangsa
Indonesia.
“Mudah-mudahan tidak berbenturan dengan rencana lain
yang tidak bisa diganti, saya tanggal 6 dengan beberapa pejabat terkait (akan)
datang ke Natuna untuk menghadiri istigosah, doa bersama, untuk memohon kepada
Tuhan untuk kebaikan bersama,” ujarnya.
Konferensi Pers juga turut dihadiri Menteri Dalam Negeri
Prof. H.M. Tito Karnavian, Ph.D., Menteri Kesehatan Dr. dr. Terawan Agus
Putranto, Sp. Rad. (K), Bupati Natuna dan Wakil Bupati Natuna, Ketua DPRD
Natuna, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda Natuna.***/ebn
JAYAKARTA NEWS–
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio
menegaskan perlunya langkah antisipatif semua pemangku kepentingan sektor
pariwisata di tanah air untuk mencegah masuknya virus corona ke Indonesia. Ia
mengatakan saat ini pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan tinggi untuk
mencegah wabah virus corona masuk ke Indonesia.
Hal itu disampaikan Menparekraf Wishnutama Kusubandio saat
Rapat Koordinasi terkait virus corona bersama Menteri Perhubungan Budi Karya
Sumadi dan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto di Kantor Kementerian
Perhubungan, Senin (27/1/2020).
Menurutnya, stakeholder
pariwisata termasuk asosiasi serta seluruh kepala Dinas Pariwisata Provinsi dan
Kabupaten/Kota diimbau untuk turut serta memantau arus kedatangan wisatawan
mancanegara di pintu masuk kedatangan negara, baik darat, laut, maupun udara di
daerahnya masing-masing.
“Bila menemukan wisatawan yang mengalami gejala-gejala
terinfeksi virus corona, antara lain mengeluh sakit, terganggunya saluran
pernapasan, pilek, batuk, sakit tenggorokan, sakit kepala, dan demam yang
berlangsung beberapa hari, wisatawan tersebut harus langsung dirujuk ke rumah
sakit terdekat,” jelasnya.
Terkait promosi wisata, Wishnutama mengatakan, Kemenparekraf
telah mengalihkan untuk sementara waktu aktivitas promosi dan pemasaran wisata
ke daerah-daerah yang tidak terdampak penyebaran virus corona.
“Kementerian Luar Negeri telah menerbitkan ‘travel advice’
atau imbauan perjalanan bagi WNI ke China, sedangkan untuk promosi kami alihkan
untuk pasar Wuhan, masih banyak market besar lainnya yang bisa kita ambil
seperti Amerika Serikat, Australia, Eropa, New Zealand, dan lainnya, tidak
hanya China,” katanya.
Kemenparekraf berharap keadaan segera pulih dan wabah dapat
ditangani sesigap mungkin sehingga tidak semakin meluas dan kekhawatiran
terkait penyebaran virus corona tidak menimbulkan keresahan bagi semua pihak.
“Mengimbau kepada agen perjalanan wisata agar memperhatikan
situasi dan imbauan pemerintah dalam penjualan paket wisata outbond ke China
maupun inbound China ke Indonesia,” katanya.
Sementara Menteri Pehubungan Budi Karya Sumadi menjelaskan,
Kemenhub telah menutup penerbangan dari dan menuju Wuhan, China, untuk
mengantisipasi penyebaran virus corona.
“Kita memang minta petugas di bandara dan pelabuhan untuk
melakukan kegiatan pemeriksaan yang lebih intensif tetapi harus disertai dengan
sikap profesional, humble, dan sopan santun,” katanya.
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto memastikan hingga
rilis ini disiarkan tidak ada WNA atau WNI di Indonesia yang terjangkit virus
yang berasal dari negera tirai bambu itu. Selain itu pemerintah juga sudah
menyediakan alat pendeteksi suhu tubuh di 135 pintu masuk di Indonesia dan
menunjuk sedikitnya 100 rumah sakit untuk bersiaga menangani penyebaran virus
corona.
“Sebanyak 243 WNI di pusat kejadiannya, di Hubei, Wuhan
dalam kondisi sehat. Yang terpenting, cara mencegahnya adalah menjaga imunitas
agar tetap tinggi. Selama imunitasnya baik, gerakan hidup sehat, pola hidup
dijaga, makan tepat waktu nantinya kondisi tubuh akan baik. Sehingga tidak
mudah terjangkit virus maupun penyakit,” katanya.(*/Monang Sitohang)
Jayakarta News – Lebih efektif namun efek samping negatifnya relatif lebih ringan dari targeted therapy, terutama kemoterapi.
Mata Tainah salah satu penyintas kanker berbinar, saat mengetahui ada pengobatan lain, selain pengobatan kanker yang pernah dijalaninya.
Apalagi, pengobatan kanker gaya baru yang dikenal dengan imunoterapi tersebut, dinyatakan memiliki damak penyembuhan lebih baik dan efek samping negatif yang lebih rendah atau ringan dibandingkan cara penyinaran yang telah dilakoninya.
Perempuan sepuh itu tampak menggerayutkan air muka sedih ketika menggambarkan efek pengobatan penyinaran untuk mengobati kaker yang mendera hidungnya. “Al Hamdulillah, sekarang lidah saya sudah bisa merasakan lagi makanan dan minuman. Di tengah-tengah proses penyinaran, bibir, leher bahkan bagian atas dada sakit, melepuh,” tuturnya memutar kembali kenangan pahit hidupnya, sambil duduk bersimpuh di kursi ruang tamunya belum lama ini.
Guru mengaji majelis taklim kaum ibu di wilayah Tanah Rendah, Kampung Bali, Jakarta Pusat yang akrab disapa Mbah Inah itu bagai musafir haus di gurun sahara,mengejar informasi imunoterapi yang terasa bak oase. “Dimana itu, Indonesia, Jakarta? Bagaimana bisa dapat obatnya? Mahal ya?” cecarnya.
Hingga kini, Mbah Inah masih terus bolak balik ke Rumah Sakit Dharmais, untuk mengontrol dan berkonsultasi dengan doker kanker yang menanganinya sejak pengobatan metode penyinaran tersebut. Selama ini, perempuan 60-an tahun itu menjalani pengobatan berdasarkan rujukan dan hasil labotarium. Hal itu bermula saat dokter di Rumah Sakit Pelni, Pertamburan, Jakarta merujuknya untuk memeriksakan sebagian potongan hasil operasi hidung yang dijalaninya ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Hasilnya, positif sel kanker dan harus segera diatasi. Hasil labotarium RSCM itu kembali dirujuk RS Pelni, ke Rumah Sakit Pusat Kanker Dharmais. Dokter Rumah Sakit Dharmais yang menanganinya menyatakan bahwa kanker yang diderita Mbah Inah sudah stadium 2 B. “Waktu itu perasaan saya sebetulnya campur aduk. Kaget, sedih, bingung lah pokoknya, pasrah, lillahi ta’ala,” ucapnya.
Awalnya, dia mengira daging tumbuh yang ada di rongga hidungnya hanya polip, itu pun berdasarkan diagnosa beberapa dokter yang memeriksanya saat beberapa kali berobat karena flu berat yang dideritanya. Sampai suatu hari Mbah merasa tidak nyaman dan sakit di bagian leher dekat tonjolan yang semula dikira bisul.
Di penghujung perbincangan Mbah Inah kembali menanyakan bentuk dan cara pengobatan dengan imunoterapi yang baru didengarnya. “Apa sama dengan kemo? Kata dokter kalo saya kemo harus siap-siap resiko rambut rontok, muntah-muntah, seram dengarnya saya ada sakit maag,” katanya.
Akses informasi dan komunikasi terkait pengobatan kanker dengan metode imunoterapi untuk masyarakat, khususnya penyintas dan keluarganya terasa masih jauh panggang dari api. Hal tersebut diperkuat pernyataan Ketua Umum Cancer Information and Support Center (CISC) Aryanthi Baramuli Putri, SH, MH. “Data kanker,masih minim atau sulit. Kita masih bekerjasama dengan pemerintah,” ucapnya dalam suatu diskusi di Hotel Grand Cemara, Jakarta, pada penghujung tahun 2019.
Penyintas yang telah berusaha bertahan dan berupaya sembuh total selama delapan tahun dari kanker payudara yang dideritanya ini, menyatakan shock ketika divonis mengidap kanker grade tiga. Kala itu, perasaannya campur aduk dan hanya bisa pasrah dalam kesedihan dan kebingungan. “Hingga kini saya masih prihatin. Kita kekurangan informasi, sangat kekuarangan informasi. Akses deteksi dini juga masih memprihatinkan,” tuturnya.
Tak hanya akses informasi dan komunikasi, lebih dalam dan lebih berdampak langsung bagi pengobatan serta penyembuhan para penyintas kanker, dari sisi biaya dan penyediaan obat imunoterapi kanker pun Indonesia masih memprihatinkan. Dokter Arif Riswahyudi Hanafi SpP(K) menyatakan bahwa Balai Pengobatan Obat dan Makanan (BPOM), baru mengeluarkan approval (periizinan) obat imunoterapi untuk dua jenis kanker, paru-paru dan payudara. Itu pun, dengan biaya puluhan juta dan salah satu penyebab tingginya harga obat itu karena pajak. “Kalau bisa ya obat-obatan bebas pajak lah, seperti di Penang, Malaysia, obat dan alat kesehatan tidak kena pajak,” ucap dokter Rumah Sakit Kanker Dharmais itu.
Kondisi tersebut menambah panjang daftar keprihatinan dan permasalahan akses pengobatan dan penyembuhan penyintas kanker di Indonesia. Sebelumnya, di Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi IX DPR dengan sejumlah stakeholders (pemangku kepentingan), 11 Maret 2019, menyepakati revisi Keputusan Menteri Kesehatan megenai penghapusan obat targeted therapy (terapi target) kanker kolorektal (usus besar), yakni bevacizumab dan setuksimab dari daftar program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Aru Wisaksono Sudoyo
Keputusan tersebut disambut reaksi keras Yayasan Kanker Indonesia (YKI). Ketua Umum YLKI Aru Wisaksono Sudoyo menyatakan bahwa pemerintah seharusnya mensosialisasikan dulu penghapus itu. Lalu, penghapusan itu direalisasikan secaara perlahan dan bertahap dan parsial, tidak serta merta alias mendadak supaya pasien tidak dirugikan.
Disamping itu, sambungnya, pemerintah khususnya pengelola JKN bekerjasama dengan asuransi swasta untuk penjaminan obat dan pengobatannya. “Mestinya dilakukan pelan-pelan. Jadi, pasien lama masih bisa menggunakan, lalu pasien yang baru diatur lagi syaratnya,” katanya.
Tanpa penghapusan obat kanker dengan metode targeted therapy tadi, obat dan pengobatan dengan imunoterapi menjadi harapan baru, tak hanya di Indonesia, tapi juga di dunia. “Lebih efektif dari kemoterapi, tapi efek samping relatif lebih ringan dari targeted therapy terutama kemoterapi. (Sayangnya) Obat imunoterapi belum terakses ke BPJS (Imunoterapi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial),” ucap dokter RS Darmais yang akrab disapa dr. Arif.
Dokter ahli paru-paru itu menjelaskan bahwa targeted therapy biasa atau idealnya diberikan kalau sudah ketahuan dimana akar kepala atau bosnya kanker yang menyerang tubuh pasien, baik berupa operasi pemotongan atau pengangkatan maupun penyinaran. Ketika akar atau kepala kanker tidak atau belum diketahui, sementara kanker sudah merajalela dan harus ada penanganan segera, maka diberilah tindakan kemoterapi. “Ibaratnya, Kepolisian atau KPK operasi penggerebekan atau penangkapan penjahat, targeted therapy, langsung ke tempat atau ruangan yang ada penjahatnya. Kemoterapi yang dibom satu asrama atau gedung, semuanya mati termasuk yang tak bermasalah,” kata dr. Arif menjelaskan.
Karena itu, lanjutnya, perlu biopsi (prosedur pengambilan sebagian kecil jaringan dari tubuh pasien untuk diperiksa menggunakan mikroskop), untuk mengetahui apa, siapa, dimana dan bagaimana bos sel kanker dan antek-anteknya. “Imunoterapi diberikan pada penyintas kanker stadium lanjut. Imunoterapi diberikan kalau belum ketahuan siapa bosnya dan baru diketahui antek-anteknya, PD-I1,” ujar dr. Arif.
Singkatnya, obat imunoterapi diberikan untuk membuat sel-sel antibody kembali lagi kemampuan deteksi dan kekuatan tempurnya melawan sel-sel dan zat-zat kanker. Layaknya imunisasi pada umumnya, membangun dan melatih kembali sel-sel tubuh pasien agar mampu melawan, membasmi dan bertahan dari serangan sel-sel kanker.
Sejauh ini, dua pengobatan itulah yang sudah dikenal dan digunakan secara umum di dunia. Sementara teknologi dan metode pengobatan CRISPR masih terus dikembangkan dan belum terakses di Indonesia.
Sementara itu, di awal tahun ini, tepatnya per 31 Januari 2019-berdasarkan data yang dipaparkan Kemenkes- penyintas kanker payudara saja sudah berada di angka 42,1 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 17 per 100.000 penduduk.
Rasanya, tinggal akses kepada Tuhan melalui doa. Semoga ada perubahan yang lebih baik, lebih terjangkau dan lebih maju. (atm)
JAYAKARTA NEWS— Negara-negara
Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) menyatakan ketertarikan untuk belajar dari
keberhasilan Indonesia dalam menyelenggarakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Hal tersebut disampaikan sejumlah negara antara lain
Malaysia, Brunei Darussalam, Uni Emirat Arab, Saudi Arabia, Maladewa dan
Somalia seusai Diskusi Panel mengenai Universal Health Coverage/UHC (Cakupan
Kesehatan Semesta) pada Konferensi Menteri Kesehatan (Menkes) OKI di Abu Dhabi,
tanggal 16 Desember 2020.
Para Menkes negara-negara tersebut menyampaikan langsung
kepada Menkes RI Letjen TNI (Purn) Terawan Agus Putranto dalam kesempatan
pertemuan bilateral di sela-sela Konferensi.
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto dalam diskusi panel tentang Universal Health Coverage ( Cakupan Kesehatan Semesta) pada Konferensi Menteri Kesehatan OKI di Abu Dhabi, 16 Desember 2019–foto istimewa/jpp
Menkes RI, dalam paparannya sebagai Panelis pada Diskusi
Panel UHC, telah menjelaskan keberhasilan Indonesia mengembangkan JKN sejak
tahun 2014. Meskipun ditegaskan bahwa UHC adalah cakupan pelayanan kesehatan
namun dari segi kepesertaan, JKN telah mencapai keberhasilan dengan peserta
mencapai 222 juta atau 83,5% dari total populasi Indonesia dan menurunkan Out
of Pay (OOP) dari 54,8% menjadi 31,8%.
Lebih lanjut Menkes RI menegaskan bahwa ”Pemerintah
Indonesia berkomitmen untuk terus meningkatkan pelaksanaan JKN untuk mencapai
UHC melalui peningkatan kepesertaan, peningkatan manajemen pengelolaan dan
kesinambungan.”
”Pemerintah Indonesia juga mengembangkan strategi-strategi
baru untuk mengatasi defisit keuangan yang dialami BPJS Kesehatan,” demikian
imbuh Menkes RI. Berbagai upaya tersebut antara lain memperkuat tata kelola dan
akuntabilitas anggaran, diversifikasi sumber anggaran JKN, termasuk dari
pilantropi dan yayasan amal, pengembangan insentif untuk intervensi kesehatan
yang efektif dan efisien serta mengembangkan strategi pendidikan dan regulasi
dan rekrutmen tenaga kesehatan khususnya untuk di daerah terluar, terpencil dan
tertinggal.
Menkes RI menyambut baik keinginan negara-negara OKI
tersebut dan menegaskan siap membantu untuk proses pembelajaran dimaksud.
Menkes RI mempersilakan negara-negara lain untuk menerapkan hal-hal yang baik
dan positif dari perkembangan JKN di Indonesia karena Pemerintah Indonesia
masih terus mereformasi penyelenggaraan JKN, khususnya dalam mengatasi defisit
keuangan BPJS.
Para Penelis yang mewakili negara-negara Palestina, Sudan,
Pakistan, Afghanistan dan Sudan secara umum menekankannya pentingnya pencapaian
UHC sebagai fondasi penting untuk tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
pada tahun 2030.
Para Panelis juga mendorong upaya peningkatan pelaksanaan
jaminan kesehatan nasional, penguatan pusat pelayanan kesehatan dasar serta
akses pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau. Para Panelis
mengapresiasi komitmen politik para Kepala Negara/Pemerintahan pada High-Level
Meeting on UHC Sidang Majelis Umum PBB bulan September 2019 untuk
meningkatkan kerja sama antar negara dan mitra internasional mendukung
suksesnya UHC.
Menkes RI bersama para Menkes negara-negara anggota OKI menghadiri Konferensi Menteri Kesehatan OKI yang diselenggarakan setiap 2 tahun sekali dan kali ini diselenggarakan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada tanggal 16-17 Desember 2019. Konferensi dihadiri 57 negara anggota OKI dan membahas tema ”Quality of Life”. ***jpp/kes/ebn
JAYAKARTA NEWS—
Indonesia menjadi role model mitigasi bencana di lingkungan negara-negara
ASEAN. Ini disebabkan kita memiliki standar manajemen penanggulangan bencana
atau mitigasi bencana yang diakui dunia internasional.
“Inilah yang mendorong negara-negara di lingkungan ASEAN,
termasuk Jepang, menghadiri pertemuan yang membahas kolaborasi penanggulangan
bencana khususnya di bidang kesehatan,” jelas Staf Ahli Bidang Desentralisasi
Kesehatan Kementerian Kesehatan dr. Pattiselano Robert Johan, MARS, kepada wartawan,
Selasa (26/11/2019), di Inna Grand Bali Beach Sanur.
Hal itu diutarakannya usai membuka forum “Project for
Strengthening on Dissaster Healt Management 2019.” Kegiatan yang dihadiri 10
negara ASEAN ditambah Jepang itu berlangsung Senin-Jumat (25-29/11/2019). Para
delegasi akan mengikuti simulasi penanggulangan bencana erupsi Gunung Agung di
Tanah Ampo, Karangasem, pada hari kedua besok.
“Dalam forum ini, semua negara ASEAN berbagi pengalaman,
baik dari mitigasi bencana maupun tanggap darurat terutama di bidang
kesehatan,” jelasnya.
Indonesia disebutkan termasuk dalam kategori wilayah dengan
frekuensi tinggi mengalamai bencana alam. Pusat Krisis Kementerian Kesehatan
mencatat ada 84 kejadian erupsi gunung berapi sejak 2010-2018. “Empat belas di
antaranya berdampak krisis kesehatan,” ungkap dr. Pattiselano.
Penanggulangan bencana sebelumnya lebih berorientasi tanggap
darurat. Namun, sekarang ini mitigasi bencana lebih diarahkan pada upaya
pengurangan risiko yang berintegrasi dengan program pembangunan.
Program kolaborasi dan simulasi yang dilakukan diharapkan
dr. Pattiselano akan mendorong manajemen pusat dan daerah makin memaksimalkan
kesiapan masyarakat, petugas kesehatan, relawan saat menghadapi bencana.
“Terutama dalam hal menangani bidang kesehatan akibat bencana yang
terjadi,” imbuhnya.
Sementara Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian
Kesehatan dr. Budi Silvana menambahkan, Indonesia ternyata diakui banyak negara
asing memiliki manajemen mitigasi bencana yang istimewa. Ada perbedaan manajemen
mitigasi bencana umumnya dengan negara lain.
“Keistimewaan manajemen mitigasi bencana kita ternyata
terletak pada kerja tim (team work). Ada berbagai instansi dan lembaga yang
terlibat, baik pemerintah, TNI, Polri, maupun komponen lain,” jelasnya.
Kolaborasi antarsesama negara ASEAN tersebut dipandu oleh
standard operational procedure (SOP) yang disebut sebagai One ASEAN One
Response. “Jika ada satu negara ASEAN mengalami bencana, tinggal minta bantuan
dari negara ASEAN lain. Bantuan secara cepat akan direspons. Bantuan bisa
berupa petugas kesehatan, obat-obatan, dan lain-lain,” kata dr. Budi
meyakinkan. (Syam Kelilauw)